PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Bagaimana Dengan Cemburu (8)


__ADS_3

Duduk, berdiam diri, menatap tajam pada dua orang pria yang juga duduk berdiam diri tapi dengan sikap kikuk, Sikap Hanin ini membuat suasana seperti membekunya. Wajah cantik yang lebih sering terlihat manis menggemaskan, atau sendu menuntut belas kasihan... kali ini nampak garang menyeramkan. Setidaknya demikian yang dirasakan oleh Haidar dan David.


Tapi di sudut meja sana, disebuah tempat yang cukup nyaman untuk menyaksikan suatu peristiwa  menyenangkan... paling tidak itu yang dipikirkan si konyol Keanu yang kali ini telah menemukan teman sefrekwensi-nya... ya siapa lagi kalau bukan Ameer. Bahkan duo' absrurd itu dengan nikmat menyeruput jus jeruk sambil tak lepas mengawasi tiga orang di sana.


" Namaku Keanu .. kau masih ingat bukan ".


" Tentu saja, by the way aku Ameer... senang berkenalan denganmu. Kalau menurutmu ... akan dimenangkan oleh siapa ? ".


" Apa kau melihat ada kandidat pemenang lainnya selain si nona cantik itu, Mir ? ".


Dan Ameer pun terkekeh, disusul juga dengan Keanu. tapi kekehan pria Turki itu berakhir seketika saat sebuah lembaran menu yang terbuat dari karton tebal menggetok kepalanya. ' Bletak !!!'


"  Aku tidak menggajimu untuk menonton reality show romantis ... apalagi itu chef mu sendiri ", seorang wanita yang tampak sedang hamil mungkin enam bulan atu lebih datang dan menegur Ameer.


" Ah .. Nona Willow .... ini lebih dari sekedar reality show ", Ameer mulai berdalih. Ia bahkan kemudian menarikkan sebuah kursi dan memaksa perempuan dengan rambut coklat itu untuk duduk. " Ini Nona general manajer kami ... ".


Keanu mengangguk hormat sambil tersenyum pada perempuan yang di panggil Willow itu. " Saya Keanu ... teman pemain utama pria di sana ".


" Yang mana ? .. antagonis atau protagonis ? ". Bleeeh .... bahkan nona general manajer itupun kini telah ikut bergabung dengan duo absurd itu.


" Yang protagonis tentunya ", Ameer menyambar cepat. " Here we go....... kita nikmati adehan selanjutnya ".


Dan di sana, Hanin akhirnya mengendurkan sikapnya. Menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan dan mulai mendekat pada pinggir meja. Membuat jarak semakin dekat dengan dua orang pria yang masih bersikap kikuk.


" So ... siapa yang mau mnerangkan semua ini ? ", Hanin menawarkan.


" Dia memukulku terlebih dahulu ... padahal aku tidak mengenalnya ". David bersuara.


" Karena kau berniat jahat .. ", sambar Haidar dengan cepat.


" Kau menuduh sembarangan .. apa buktimu ? ", David menggeramkan suaranya pada Haidar.


" Kau residivis ... penjahat kambuhan .. ", Haidar mebalas dengan hal yang sama.


" Cukup !!! ", Hanin membentak dengan sedikit menggebrak  meja. Dua pria itu tersentak mundur, merapatakan punggung mereka selekat mungkin dengan sandaran kursi.


" Ini tentang apa ? ... tentang aku ? ... kalian pikir aku senang atau tersanjung dengan sikap kekanak-kanakan kalian ini ?. Memalukan !!!!!! ".


" Aku.. aku .. tidak niat sedikitpun .. seperti yang dituduhkannya, Hanin ". David kembali menggeram sambil melirik tajam pada Haidar.


" Aku hanya ... berjaga-jaga. Bukankah kau dulu ditipu olehnya ?. Pria licik ini .... yang tega .... ahhh !!!!... sudahlah. Iya aku salah ... ". Haidar menyunggar rambutnya dengan frustasi.


Pria dengan tinggi lebih dari seratus delapun centimeter itupun berdiri, yang lansung diikuti oleh David. Terlihat beda tinggi yang mungkin lebih dari lima centimeter. Tapi David tidak mau kalah, ia membusungkan dadanya bersikap mengintimidasi Haidar.


Hanin terlihat mulai panik, ia pun ikut berdiri. tapi yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaannya. Haidar tiba-tiba saja mengulurkan tangan kanannya pada David. walaupun tanpa senyum, dan tetap masih dengan sepasang mata yang berkilat tajam.


" Aku minta maaf telah meninju mu terlebih dahulu ... tapi aku yakin kau tahu kenapa. Aku benar-benar minta maaf.. dan kau juga sudah membalas pukulanku bukan? ... bukankah itu impas ? ".


" Ya .. ", David menjawab dengan cepat sambil meraih tangan Haidar. Memabalas jabat tangan itu dengan erat. tapi kemudian ia meringis dalam hati, karena pria ini ternyata me-remas telapak tangannya dengan kuat .... arghh sialan !!!. " Ku maafkan ... kita impas ". dan David pun membalas dengan hal yang sama.


" Bagi si lugu itu ... mereka terlihat sudah berbaikan, bukan ? ". yang berkomentar adalah Willow dan langsung di-iyakan dengan anggukan oleh Ameer dan Keanu.


" Tapi genderang perang sebenarnya baru saja ditabuh ". Dan Keanu serta Ameer pun kembali mengangguk cepat tanda sependapat dengan Willow.


" Menurut kalian ... apakah nona chef akan menjalin hubungan baru lagi dengan kekasih lamanya ? ", tanya Ameer tiba-tiba.


" Kita lihat saja nanti ... bukankah tadi mereka sempat berpelukan ? ". Keanu menimpali.


" Menurutku tidak ". Pendapat berbeda dari Willow membuat dua orang pria yang sedang mengamati berasamnay itu pun serempak menoleh kearah dirinya. " Ya ... kalian pikir ... semudah itu hati wanita berubah. Wanita jika sudah terluka dalam.... hanya bisa memaafkan saja, tapi tidak pernah bisa melupakan sakitnya ".


" Tapi tadi mereka berpelukan, nona Willow ".


" Betul.. dan mereka itu saling tersenyum tadi ", Keanu ikut menimpali perkataan Ameer.


" Hei ... kau ini teman siapa sih sebenarnya ? ", Willow berdecih sambil melirik sengit pada Keanu.


" Iya sih ... tapi aku hanya melihat berdasarkan kenyataan saja ", kilah Keanu


" Kalian para pria jarang menggunakan hati untuk memindai ... kita lihat saja nanti ". Willow mencelos.


Di sana Hanin tersenyum melihat jabat tangan yang erat itu. Walupun ia menangkap sesuatu yang aneh dari senyuman ah... cengir'an tepatnya, di sudut bibir kedua pria ini, tapi Hanin cukup puas dengan akhir yang melegakan ini.


" Okay .... sekarang kalian bisa pulang. Jangan menganggu ku lagi.  Pulang sekarang ... !!! ", tetap memerlukan sedikit gertakan rupanya.

__ADS_1


" Ya Hanin.... aku permisi dulu ... sampai ketemu lagi ", pamit David.


" Hei !.. siapa bilang aku mau menemui mu lagi ", salak Hanin.  " Hati-hati dijalan ... jangan lupa minum obatmu ".


David tertawa kecil, lalu melambai dan mulai melangkah keluar dari cafe itu. Tak lupa menyempatkan diri menyenggol lengan Haidar dengan sedikit keras sambil berlalu.


" Kau juga !!! ", salak Hanin pada Haidar yang terlihat cengar-cengir bahagia.


" A-aku .... aku memang akan segera pergi ke Heidelberg, tapi satu jam lagi. Dan sekarang ... aku lapar ' Na ".


Hanin menatap pria gagah menjulang ini dengan tatap sangat... sangat...sebal. Dasar gembul !! ... makinya dalam hati. Ia pun kemudian segera berlalu meninggalkan tempat itu. Tak menoleh lagi, bergegas menuju ke dapurnya. Karena sebentar lagi para pelanggan kelaparan pasti segera berdatangan. Cukuplah ngurusin Tom&Jerry nya ini tadi.... aarghhhh.


" Dan pertandingan kembali dimenangkan oleh .... nona chef ", Ameer terkekeh.


" Dan sekarang sudah waktunya kau bekerja Ameeeeeeeeer ...... ". Willow berdiri sambil menarik ujung telinga Ameer.


" Aw.. aw..aw ... baik nyonya boss ... tu-tunggu ada pelanggan disini. Tuan Keanu ... bukankah anda akan memesan ? ". Ameer terlihat kembali menemukan alasan tepat yang membuat Willow melepasakan capitan mautnya.


" Ha..ha..ha... ya..ya.. ", Keanu tak bisa lagi menahan tawa. " Aku pindah ke meja sana ya ... ". Pria itupun beranjak mengahmpiri Haidar, dengan Ameer yang cengar-cengir mengikutinya di belakang.


" Nona cantik kalau marah keren banget ya ... babang tampfan aja sampe' klepek-klepek ... he..he..he.. ". Tentu saja jurus andalan lansung dilancarakan oleh Keanu begitu berada di depan Haidar.


" Mau makan nggak lo' ... jadi nraktir 'kan ?. Mumpung pingin makan orang nih ? ".


" Hwiidiiih ... kanibal asmara .. haha...haha.. ada nggak ya menu cemburu dengan saous gemas sayang level sepuluh ? ", Keanu jelas sangat  menikamati dimana Haidar sedang berapi-api seperti ini.


"  Bisa kalian bicara dengan bahasa yang aku mengerti ?, please ... ". wajah Ameer terlihat sangat memelas.


" Ha..ha..ha..ha ... maaf ..lost in translation ya Meer ", kata Keanu dengan bahasa Jerman demi melihat wajah Ameer. " Sediakan untuk kami menu halal untuk mkan siang ... yang khusus dimasak oleh nona chef ya ".


" Siiiappp..... dua porsi tentunya ".


Keanu masih tertawa sambil mengacungkan dua ibu jarinya saja untuk memberikan jawaban, dan Ameer berbalik dengan langkah cerianya.


" Tapi..... mungkin aku kenyang ... ".


" Hei !!!!....  hanya dua jurus membuatmu kenyang ????... dasar lemah . tadi kenapa kau bilang lapar. Aiiihhh.... sunggul menyebalkan !!!!! ".  Keanu menggerutu panjang.


" Tikus  curut itu ... ngomong apa sama elo '?. Jadi lembek begini ".


" Dia bilang .... Hanin nya ... sudah mau menerimanya kembali ... apa adanya ... sudah memaafkannya ".


" Waaaah.... amazing ... "..


" Endas mu' ...amazing !!! ".


Keanu hanya terbengong karena tidak memahami umpatan Haidar. Dia hanya tahu jika pria di hadapannya ini sedang sangat frustasi.  Ia pun memutuskan untu duduk bersandar dan mengamati saja. Hingga dua porsi daging yang digiling dan dibentuk seperti silinder dengan aneka sayuran penghias itu haidar. Terlihat sangat memikat dan membuat selera makan Keanu meningkat tiga kali lipat. tapi tidak dengan Haidar yang hanya bersandar di kursi sambil bersedekap. Terlihat sesekali menyeruput jus buah dari gelasnya, tanpa menyentuh hidangan makan siang di hadapannya.


 


.....................................


Apa ini ?, tidak disentuh sama sekali. Tak berubah bentuk sedikitpun ?. Hanin memandang dengan sangat keheranan. Ia yang tadi diseret oleh Ameer dengan paksa, akhirnya terapku keheranan meliha pemandangan di hadapannya. Keanu duduk seorang diri dengan piring yang telah kosong, sementara Haidar sudah tidak ada lagi di tempat itu.


" Kemana dia ? ".


" Menghilang dari penatnya dunia ... dengan hati terluka ", sok puitis keanu menjawab.


" Kenapa sih dia ? ".


" Tentu saja .... khawatir ... tapi yang dikhawatirkan ... tidak peduli ".


" Bang Key ... kenapa sih ?... kalian berdua aneh sekali . Maksudku kalian semua ", Hanin mendelik kesal.


" Nin. kau tahu ... betapa paniknya seoarang Haidar saat kembali ke cafe ... tapi dia tidak menemukanmu disana. Betapa tegangnya wajah seorang dengan tubuh sebesar itu ... saat segala pikiran buruk tentang mu ... menggelayut di angannya. Kau tahu ... dia sangat mengkhawatirakan seorang yang sangat di sayang  ".


Hanin hanya terdiam, tapi otak dan hatinya berusaha menceran semua yang disampaikan Keanu. Dengan mata yang kosong menerawang, menatap jauh ke depan.


" Dia sekarang butuh sendiri .. biarlah .. ", kata Keanu pada akhirnya. " Bungkus saja Nin'... bisa buat ku makan malam ".


Hanin baru saja menyelesaikan packing untuk hidangan yang utuh itu. Ketika Ameer mendekat dengan sebuah saran yang cukup menghenyakkan.


" Kenapa tidak kau susul tuan Haidar ?. Masih ada waktu hingga keretanya berangkat .... dua puluh menit lagi ".

__ADS_1


" Aku ... harus bicara apa ? ". Hanin tergeragap bingung.


" Dia sama sekali tidak makan siang. Choco con Churros .... masih hangat.. ". Ameer tersenyum sambil mengulurkan sebuah kotak terbuat dari kertas tebal berwarna kecoklatan. Aroma wangi gurih seta manis itu masih bisa tercium  oleh hidung Hanin.


" Ayo susul tuan itu ... cepat !! ".


Hanin semula masih ragu menerima apa yang diberikan oleh Ameer. tapi hanya butuh kurang dari sepuluh detik untuknya berfikir cepat. Kini ia berlarian menuju Berlin Train Station, masih menggunakan apron dan baju chef-nya, menenteng kotak berisi churros dengan saos cokelat yang manis.  Menyibak kerumunan, sambil terus menyalahkan dirinya sendiri yang tak membawa telepon selulernya. Saat seoarang security menahannya, ia  pun memohon.


" Itu ... kakak ku ... aku hanya kan memberikan ini, bekal makan siangnya. Please ... ". Sebenarnya Hanin hanya mengarang, tapi ternyata ia benar-benar melihat sosok Hiadar yang menjulang itu.


" Mas ... mas .. Haidar ... ", ia pun berseru dengan lantang.


Haidar memutuskan untuk segera ke Stasiun, walaupun kereta masih sekitar empat puluh menit lagi. Berjalan dengan santai dari cafe tempat Nania-nya bekerja, berharap penat dan tegangnya sedikit berkurang. Udara dingin awal musim gugur itu perlahan membelai rahangnya yang masih terasa nyeri. Sialan !!!.... sakit juga, gumamnya.


" Dia mau menerimaku lagi .. itu haknya. Dan aku tidak pernah memaksa atau menipunya. Kurasa karena Hanin masih ... ".


" Pembohong !!!! ". Dan tinjunya pun melayang telak ke wajah David. Semua karena dia tak sanggup mendengarkan kata-kata selanjutnya dari pria itu.


Haidar terdiam dan berdiri lama, ia terpaku dengan dirinya yang terlihat menyedihkan itu. Hingga alarm di arlojinya dering mengingatkan, lima belas menit lagi keretanya berangkat. Satu tarikan nafas panjang pada akhirnya menguatkan langkahnya untuk terus maju. Ia mencoba tersenyum, walaupun lebih tepat seperti sedang menertawakan ironis yang melanda dirinya sendiri.


Ia masih menunggu, walaupun kereta yang akan membawanya ke Heidelberg sudah siap. Ia masih menunggu hingga ke menit-menit terakhir, sambi tetap mengatur nafas untuk meyakinkan dirinya sendiri ... semua akan baik-baik saja... semua akan baik-baik saja.. asalkan Nania-nya bahagia. Ketika sayup-sayup ia menangkap suara yang begitu dirindukan oleh seluruh sel dalam tubuhnya.


" Nania ... ", ia menoleh.


Gadis itu melambaikan tangan padanya, senyuman di wajah yang seputih mutiara itu sedikit terkembang. Sementara haidar masih termenung, menatap tak percaya. Tapi ketika gadis itu melambaikan satu tangan yang membawa sebuah kotak .... Haidar punmenjadi yakin. Itu adalah Nania-nya.


" Kau tidak memakan makan siang mu sama sekali ", gadis itu terlihat cemberut. Sementara Haidar masih terus bergerak mendekat.


Sembilan ... delapan ..., dia pun berhitung  mundur dalam hati.


" Apakah kau sedang  diet ? ... ".


Tujuh .. enam ...


" Apakah kau kehiangan selera makan .... "


Lima ... empat ...


" ... karena marah padaku ? ".


Tiga ... dua ...


" Kalau begitu .... aku minta maaf.. ".


Satu ...


" Ini .. untukmu ", dan Hanin pun menyodorkan kotak yang dibawanya.


Tapi Haidar dengan sangat cepat meraih tidak hanya kotak itu, berikut dengan lengan sang pembawa. Bertepatan dengan berakhirnya hitungan mundur ia lakukan.


" Mas ... maafkan aku ... sudah membuat mu khawatir ". Hanin tak menolak pelukan hangat itu. Ia terdiam membiarkan sosok gagah itu merengkuh tubuhnya. Mendekapnya dengan sangat erat, pasti pria ini benar-benar mengkhawatirkannya. Seharusnya ia tadi tidak bersikap keras pada pria ini. Pria yang sangat lembut dan paerhatian padanya.


" Nania...... ", suara Haidar terdengar serak dan sedikit lirih. Tapi Hnain bisa mendengarnya dengan sangat jelas, karena bisikan itu nyata di telinganya.


" Ya, mas ".


" Aku .... cemburu .... ".


 


Bukankah cinta itu juga terdiri dari satu rasa yang disebut dengan cemburu ?


Lalu bagaimana aku harus menerjemahkannya ?


Cemburu dan cintaku saling berbaur


***Tapi pandangan ku tentangmu tak mengabur ***


Lalu bagaimana dengan cemburuku ?


 


 

__ADS_1


__ADS_2