PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Sebuah Janji (5)


__ADS_3

Rectal suppositories..... dan ketujuh orang dokter co-*** itupun saling berpandangan. Lima lainnya kemudian terlihat memundurkan badan, seolah berusaha bersembunyi. Dua orang yang masih diam ditempatnya tidak lain hanyalah Yulia dan Haidar. Ibu perawat kepala bangsal itu menggeleng perlahan, sepertinya hal yang sudah biasa ditemui ketika ia menyampaikan Rectal suppositories.


" Okey ... seperti biasanya, hanya ada satu atau dua orang yang mau melakukan ini. Tapi bukan berarti kalian berlima bebas ... tetap ikut dan perhatikan. Tunggu giliran kalian ".


'Berlima' yang dimaksudkan oleh si ibu itu tentunya adalah Wisya, Dony, Anelis, Sarah dan Tiffany. Suppositoria adalah cara mengonsumsi obat dengan dimasukkan ke dalam lubang anus atau alat kelamin. Cara ini bisa dipakai sebagai alternatif bagi orang yang kesulitan menelan obat secara oral maupun memiliki fobia jarum suntik. Tentu saja Rectal suppositories adalah cara yang memasukkan obat lewat lubang anus. Sebagai dokter co-*** mau tidak mau mereka harus melakukan hal ini, beruntung saja keempatnya kini sudah terwakilkan oleh Haidar dan Yulia. Tapi tunggu saja giliran kalian.


" Dua pasien, semuanya pria. Silahkan membagi dua kelompok. Semuanya harus ikut melihat... silahkan ikuti saya dan pak Imran ".


Tanpa menunggu komando kedua, Wisya memegang pergelangan tangan Yulia. " Aku ikut kelompok mu ".


Akhirnya dua kelompok itu terbagi beranggotakan masing-masing, Yulia, Wisya dan Anelis. Sementara Haidar diikuti oleh Dony Sarah dan Tiffany. Haidar melirik sekilas pada Yulia yang ternyata juga sedang menoleh kearahnya. Keduanya lalu saling berbagi senyum, seperti sedang saling memberi selamat. Semua hal itu tidak lepas dari perhatian Wisya, dan ia mengepalkan kedua telapak tangannya erat seperti halnya rahangnya yang dikatupkan erat.


Kelompok Yulia, Wisya dan Anelis sudah bersiap dan sedang mendengarkan instruksi dari pak Imran. Seorang perawat senior yang terkenal sabar, telaten dan ramah.


" Jadi ... jangan langsung dilepaskan, tahan dulu dua - lima menit biar ujung obatnya hancur, baru dimasukkan lagi secara keseluruhan. Itu tidak akan menyakiti pasien. Paham ya ? ".


" Ya pak ", jawab keempat nya serempak. Lalu mereka berjalan mengikuti pak Imran menuju salah satu kamar perawatan.


Seorang pria yang terbaring diatas ranjang pasien, ia baru saja mengalami kecelakaan dan harus dilakukan reparasi pada tulang rahangnya, serta beberapa ruas tulang belakangnya. Dalam keadaan tidur tengkurap dengan ranjang khusus, karena memang demikian terapi yang yang harus dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka bekas operasinya.


Obat itu terbungkus oleh kemasan berwarna putih susu terbuat dari bahan plastik. Saat dibuka terlihat bentuknya persis seperti peluru dengan panjang sekitar dua sentimeter. Saat Yulia hendak mengenakan handscoon, dengan cepat Wisya menyambar dan merebut dari tangannya.


" Biar aku saja... ini seorang pria. Kalau ada yang wanita, akan kuberikan padamu ".


Yulia yang hendak memprotes tindakan Wisya akhirnya urung melaksanakannya. Kesungguhan pemuda ini membuat hatinya sedikit luluh. Semenjak meningkatnya nilai di semester tujuh lalu, Yulia bisa merasakan bagaimana pemuda ini terlihat lebih serius dan bersungguh-sungguh. Ia pun mengangguk seraya tersenyum.


Yang terjadi kemudian adalah semua memperhatikan dengan seksama bagaimana Wisya dengan dipandu oleh pak Imran melakukan Rectal suppositories. Tidak tampak perubahan pada ekspresi wajah Wisya mulai dari proses memasukkan obat berbentuk peluru itu, bahkan hingga saat ia harus menahan jarinya untuk tetap berada di lubang anus si pasien untuk beberapa saat.


Yulia memperhatikannya penuh antusias, berbeda dengan Anelis yang nampak menahan nafas dan juga rasa gelinya. Hingga keseluruhan proses itu berakhir dan Wisya pun sedang mencuci tangannya berulang kali. Saat itu mereka sudah keluar dari ruang perawatan pasien.


" Apa sarung tangan mu bocor ? ", Yulia menanyakannya dengan nada sedikit menggoda.


" Kau ini.... tentu saja tidak. Hanya ... hiiih, geli saja ".


" Kau yakin ? ", Yulia mencondongkan badannya dengan senyuman bermaksud menggoda. " Ini sudah tiga kali looh kau mencuci tangan mu ".


" Aku hanya menghilangkan rasa gelinya ", tampik Wisya.


" Benarkah ?!!! ", goda Yulia lagi. " Kau mungkin harus menciumnya ... biar lebih afdol. Jangan-jangan .... memang benar bocor ".


Dan pada detik berikutnya, satu tangan Wisya telah menahan dengan melingkar di pundak Yulia, dan satu tangan yang lain berada tepat menyentuh bibir dan hidung gadis itu.


" Niiih ... kau yang cium saja ... bagaimana ? ", Wisya tertawa.


Tentu saja Yulia sedikit berontak dengan perlakuan pemuda ini. Aroma lemon yang lembut memenuhi indra penciumannya, dan itu berasal dari jari-jari tangan Wisya yang kini seperti membekap mulut dan hidungnya.


" Iiih... ". Yulia buru-buru menyingkirkan tangan Wisya.

__ADS_1


" Rasakan... jangan menggoda ku lagi ", Wisya terkekeh, sementara satu lengannya masih melingkari pundak gadis manis itu.


Terlihat begitu manis semua adegan kedekatan dari dua orang ini. Dan mereka tidak menyadari jika ada beberapa pasang mata yang memperlihatkan. Jika sepasang mata Anelis melihat semua itu dengan tatapannya yang terbakar, yang lain sisanya hanya menyisakan tatapan penuh tanda tanya.


Waktu berlalu, dan kewajiban sebagai dokter co-*** itu tetap dijalani Yulia dengan penuh semangat. Ia bertekad untuk kembali merebut posisi terbaik yang kini dipegang oleh Haidar. Walaupun ayah dan ibunya mengatakan tidak mengapa, tapi ia tetap merasa sangat bersalah. Biaya satu semester itu adalah empat kali gaji utuh ayahnya, dan ia mencoba membantu sebisa yang ia mampu.


Kesibukannya tidak memungkinkan untuk bekerja part time di cafe atau restoran, satu-satunya yang bisa diandalkan adalah kemampuannya menulis sebuah cerita. Yulia pun mulai kembali giat menulis, tentu saja disela-sela kesibukannya menjadi dokter co-*** dan juga membuat laporan. Beruntung Tuhan begitu baik padanya, satu - dua cerpennya di muat, dan ia mendapatkan biaya hidup untuk sebulan dari cerpennya itu. Sehingga orang tuanya cukup mengumpulkan untuk biaya semesteran saja.


Bahkan saat ia mulai membuat sebuah cerita bersambung, karyanya itu juga mendapatkan apresiasi akan segera dimuat dalam sebuah tabloid wanita. Hanya saja setelah sepuluh episode dia baru akan mendapatkan transferan rewardnya, beruntung jumlah itu cukup besar. Untuk tiga puluh episode, dia akan mendapatkan cukup biaya untuk membayar tiga semester. Yulia mulai bisa mengatur ritme kerja dan juga kuliahnya, tapi dia tidak dapat mengendalikan gelombang berita tentang dirinya.


Di kalangan para dokter co-***, berhembus kabar bahwa dia membantu mengerjakan tugas teman-temannya demi bisa membayar uang semesteran. Dan dirinya tidak bisa membuat klarifikasi tentang berita itu. Seorang Yulia tidak ambil pusing, tidak ambil peduli. Ia tetap dengan kesibukannya, menikmati segala sesuatu yang terjadi tanpa mengeluh.


" Puasa hari ini ? ", sapa Haidar yang baru saja sampai di ruang istirahat para dokter co-***.


" Insyaallah ... ", jawab Yulia sambil tersenyum.


" Berbukalah ... ini untuk mu ".


Paket jus alpukat dan nasi kotak berisi masakan Jepang itu di taruh Haidar diatas mejanya. Yulia sedikit kaget, tapi ia buru-buru tersenyum.


" Ah.. jadi merepotkan mu. Terimakasih ya ... besok lagi tidak usah repot-repot begini ya ".


" Berbukalah ..... aku yang akan berjaga dulu ", dan Haidar pun keluar dari ruangan itu.


Yulia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Sekarang sudah ada dua set makan malam yang diterimanya. Satu dari Haidar yang kini tergeletak manis diatas meja, dan satu lagi di dalam lockernya. Dari Wisya yang dengan sengaja membelikan paket ayam goreng untuknya.


" He... he.... ", sambil nyengir Wisya memberikan sebuah bungkusan. " Untuk buka puasa nanti .... biar nggak usah repot-repot cari makan ".


Yulia melongo sesaat, tapi tatapan dan senyuman serta gerakan tangan Wisya yang menyodorkan tas plastik putih susu itu membuatnya segera tersadar dan menerima. Wisya pun tersenyum semakin lebar saat gadis itu mau menerima apa yang dibawanya.


" Aku pulang dulu ya. Selamat berbuka ..... dua jam lagi ", Wisya tersenyum manis sambil mengerling menggoda.


" Terimakasih .....Wisya ", dan Yulia pun tersenyum dengan rasa kaku yang masih menguasai hatinya.


Bagaimana rasanya menerima perhatian dari dua orang teman pria sekaligus. Tanpa tahu apa maksud dari semua yang mereka lakukan untuk mu. Lantas bagaimana rasanya mendapatkan gunjingan dari teman-teman wanita mu yang salah paham. Aaah.... Yulia benar-benar merasa begitu risih, tapi dia bisa apa. Memang aneh untuk seorang mahasiswa miskin yang berpenampilan sangat sederhana seperti dirinya, mampu merebut perhatian dari dua orang pria tampan yang memang cukup terkenal dengan segala kelebihannya itu.


" Aku hanya ingin membalas kebaikan mu yang memberikan les gratis untuk ku..... dan mamaku juga sangat mendukung. Ya... hanya sedikit, untuk membantu meringankan beban mu saja. Bukankah .... ayahmu masih sakit ".


" Tapi aku tidak bisa menerima ini Wisya..... maaf, aku mohon maaf ".


" Tapi itu dari mamaku .... ", Wisya masih berusaha agar Yulia mau menerima amplop putih itu.


" Bantuan mu yang lain.... ya!!, aku masih bisa menerima.... tapi tidak dengan yang ini. Tolonglah.... tolong sampaikan pada mamamu..... aku benar-benar tidak bisa menerima.... aku mohon maaf sekali ... ".


Sinar mata Yulia itu meluluhkan hati Wisya. Ia pun mengambil kembali amplop putih yang sejak tadi disodorkannya pada Yulia. Lalu dengan senyuman seraya menepuk-nepuk pundak gadis itu, Wisya pun mengangguk setuju.


" Baiklah .... tapi kau harus janji dua hal ", katanya kemudian.

__ADS_1


" Apa itu ? ", tanya Yulia cepat.


" Bantuan yang lain... kau harus tetap mau menerimanya dan juga tetap harus bersedia membantuku belajar... bagaimana? ", pinta Wisya dengan kesungguhan.


" Ya ... aku berjanji " .


Tapi janji Wisya sepertinya tidak berlaku, karena pada akhir semester saat Yulia pergi ke bagian tata usaha untuk melakukan pembayaran. Ia mendapati bahwa akun-nya sudah teregistrasi dan sudah melakukan pembayaran administras. Yulia sangat terkejut, dalam benaknya hanya ada muncul satu nama .... Wisya.


Sementara itu di sebuah ruangan yang nampak seperti ruang meeting, nampak Haidar yang baru saja selesai mempersiapkan bahan untuk rapat hari itu. Di sela kesibukannya ia harus tetap melakukan pekerjaan sebagai salah satu asisten pribadi sang ayah dan juga belajar bisnis. Meskipun demikian, pemuda itu tetap terlihat tampan dan segar. Sinar matanya yang teduh dan ramah sangat berbeda dengan sang ayah yang nampak begitu dingin dan tajam. Pemuda ini juga sangat murah senyum, kebalikan dari Mandala, ayahnya. Walaupun sebenarnya wajah keduanya sangatlah mirip.


" Haidar ... ", sebuah sapaan membuatnya menoleh.


Haidar tersenyum saat mendapati Bramastya salah satu orang kepercayaan ayahnya, yang juga sudah dianggap Om nya sendiri memasuki ruangan. Pria ini adalah teman baik ayahnya sejak mereka masih muda. Hubungan yang terjalin sudah sangat dekat, seperti sebuah hubungan keluarga. Sifat Bramastya yang lembut dan juga sangat pengertian membuat Haidar menjadi sangat dekat dengan pria paruh baya ini.


" Permintaan mu sudah Om penuhi. Bukti pembayaran juga sudah Om simpan "


" Terimakasih banyak Om.... terimakasih. Yang penting jangan sampai ada yang tahu ". Wajah Haidar berbinar-binar.


" Ya... sesuai yang kau minta . Tapi kalau boleh Om kasih saran.... kau harus tetap bilang sama mama mu tentang hal ini. Ya..... kalau dengan papa mu sih sepertinya tidak usah ".


" Ya Om ... rencananya juga begitu. Pasti aku akan bilang mama kok ".


" Baguslah kalau begitu ... ya walaupun itu uang tabungan mu sendiri, tapi orang tua mu harus tahu . Paling tidak mama mu laaaah... ".


" Iya Om .... pasti ".


Bramastya menepuk-nepuk pundak pemuda yang sudah dianggapnya seorang putranya sendiri, Haidar pun tersenyum. Saat itulah terdengar langkah dan percakapan beberapa orang di luar ruangan, yang pasti akan segera memasuki ruangan. Bramastya menyingkir dan sedikit menjauh dari Haidar sambil mengedipkan mata. Haidar tertawa kecil sesaat, lalu raut wajahnya berubah kembali menjadi serius terutama saat rombongan itu mulai memasuki ruangan.


Ada ayahnya sang pimpinan tertinggi, tuan Mandala Arsenio yang kemudian diikuti para jajaran eksekutif di perusahaan. Haidar menarik nafas panjang, rapat ini tidak akan sebentar, begitu gumamnya dalam hati. Dan ia pun langsung mengambil tempat duduk tepat di belakang ayahnya yang selalu terlihat tampan dan berwibawa. Bersiap untuk sesuatu yang tidak kau sukai Haidar.... semangat !!!!!!. Begitu serunya menyemangati dirinya sendiri.


Kali ini sepertinya Tuhan sedang sangat menyayanginya. Rapat itu hanya berlangsung tidak lebih dari satu jam. Itu artinya ada dua jam lebih waktu untuk beristirahat, sebelum ia berangkat ke rumah sakit tempat ia berpraktek sebagai dokter co-***. Dan ini adalah hari Kamis, berarti Yulia sedang berpuasa. Haidar pun berniat membelikan seporsi nasi Padang untuk gadis pintar, penuh semangat dan sangat manis yang sangat dikaguminya itu.


Pemuda itu pun tersenyum sendiri, sepertinya ada sedikit kelegaan yang menyusup kedalam hatinya. Seolah-olah ada beban yang mulai terhapus satu demi satu dari pundaknya. Dan itu membuatnya sedikit demi sedikit mulai tenang dan tidak dihantui rasa bersalah. Ya... beberapa semester lagi, ia hanya harus berusaha keras bertahan dan tetap membantu Yulia dengan sembunyi-sembunyi. Dan pada saatnya nanti ia akan terbebas dari beban rasa bersalah itu sehingga bisa kembali melihat kawannya itu tersenyum dengan lepas.


Saat itulah mungkin yang bisa dikatakan sebagai kemenangan yang sebenarnya. Memenangkan sesuatu tanpa mengalahkan orang lain. Tidak lagi merasa seperti pencuri yang merebut sesuatu yang berharga, apalagi yang berharga itu adalah kesempatan milik orang yang lebih membutuhkan. Haidar tersenyum, langkahnya bahkan terasa lebih ringan.


***Aku kagum dengan kelopak mu yang berwarna cerah, mungil dan menebarkan wangi


Engkau begitu kecil dan terlihat lemah


Tapi lihatlah, saat badai itu menerjang dan menumbangkan pepohonan besar


Kau hanya meliuk dan terebahkan sesaat, tapi segera bangkit kembali


Dan kelopak kuning mu yang mungil itu


Seperti emas dalam belaian mentari

__ADS_1


.......... (Bunga Rumput Liar - PH3K @renita_wei***)


__ADS_2