
Mengantarkan sepenuh raga yang lelah dalam peraduan, tapi separuh jiawanya melayang mengembara. Sungguh hari yang sangat melelahkan. Tapi tidak seberapa jika dibanding dengan hatinya yang lebih penat, terasa seperti dikejar-kejar oleh sesak. Padah ia tadi sudah berusaha menyegerkan diri dengan menggunakan air panas nyaman yang memijit seluruh ujung syaraf tubuhnya beberapa saat tadi. Walaupun cukup membantu untuk membuatnya segar kembali. Tapi seluruh kekusutan di otaknya, memenangkan dan meng-invansi jiwa dan hatinya.
Begitulah Namu yang gelisah diatas pembaringan, dengan begitu impulsif kemudian mengambil bantal dan membekap wajahnya sendiri. Lalu, aaarghhh.... dia beteriak keras. Cukup tak terdengar karena tertahan ketat oleh bantal yang menutup wajahnya. Melakukan hal aneh itu, berharap bisa sedikit melepasakan kekusutan dan kekacauan di hatinya.
" Benar-benar tidak mau rugi ya Pak Mandala ini. Keponakannya sendiri langsung diikat, untung saja dia hanya putra angkat ya... kalau bukan.. waaah pasti akan jadi gunjingan besar . Tapi ku akui... ha..ha..ha.. kalian memang sungguh pebisnis hebat dan handal, dalam segala hal tentunya ".
Walaupun hal itu disampaiakan dengan nada gurauan, tapi jika hampir disetiap saat .. akhir-akhir ini ia selalu mendengar hal senada, pada akhirnya juga mampu menyentuh sisi nyeri di hatinya. Hal semacam itu itidak hanya datang dari rekan-rekan bisnis, bahkan juga dari kolega, kerabat dan juga kawan-kawan bahkan juga para karyawan pun kini mulai bergunjing tentang hubungannya dengan Cinta. Semenjak rencana pernikahnnya dengan Cinta diputuskan dan berkembang menjasi hal yang sangat mendesak ... apalagi katalisatornya jika bukan ulah si dokter bengal calon adik ipar, ya tentu saja Raka yang badung. Entah bagaimana pemuda yang seharusnya sudah sangat piawai itu bisa kebobolan ... hadeeh. Persiapan pernikahan dirinya dan Cinta pun langsung digelar dengan marathon, fast mode... urgent, citto. Looh ? .... yang tek dung 'kan si Ardelia ?. Tentu saja karena tante Hana nya bersikeras Raka tidak boleh melangkahi kakaknya. Dan juga umur Cinta yang sudah sangat matang ... ehm, cenderung sudah masa kritis mengkhawatirkan jika menurut budaya sebagian besar rakyat negeri ini. Semua hal itu akhrinya menjadi sebuah cerita seperti bola salju yang bergulir semakin besar. Aaarghhh..... membuatnya frustasi, sungguh !!!!!!. Kenapa tidak bisa membiarkan kami menikah saja, tanpa nyinyiran ..... hei Namu!, inilah hidup.
" Dan itulah sebabnya kau selama ini sangat tidak peduli dengan putri ku ya ", dan nada-nada sejenis ini pun mulai menjadi hal yang sangat familiar di telinganya. Tentu saja beriringan dengan tatapan sinis dan mencemooh seperti penyamun wanita yang sedang sakit hati. Ya tentu saja dari para wanita crazy rich yang berputri sosialita gemerlap yang selama ini disodorkan dan diumpankan padanya. Tapi, hei... apa salahku nyonya ?, jika putri kalian itu sama sekali tidak membuatku tertarik. Toh, aku juga tidak pernah menjajnjikan apapun pada mereka.
" Abaikan saja, bukankah kau juga sudah memprediksi hal semacam ini sebelumnya ". Begitulah wanita cantik dan lembut itu menenangkannya, sang mama Orlin tersayang. Ibu angkat yang sangat dicintainya, karena hanya wanita inilah satu-satunya wanita di dunia yang dikenalnya sebagai ibu. " Kan anak mama ini memang exrtaordinary man ... tentu saja banyak yang kecewa karena gagal memiliki ".
" Hal ini baru permulaan nak. Aku sudah pernah menceritakan sebelumnya bukan ? ", begitulah Arjuna sang calon meretua dan juga Om nya menepuk bahunya saat melihat ia termenung. Kita adalah pria yang mempersunting seorang putri. Tidak bisa diingkari, hal seperti kasta dan kedudukan masih tetap disoroti. Dan mereka yang berada diluar pagarlah yang sangat memperdulikan hal ini. Sepertinya mereka sangat tidak nyaman dengan perbedaan kasta kita, tapi sangat nyaman untuk mempergunjingkan nya. Ha.. ha.. ha.. ha.. ini baru permulaan anak muda. Apa kau akan menyerah ? atau melibas ? ".
Oh no ... not both !!!!!, terlalu menguras energi sia-sia. Hanya saja tidak menyangka jika hal ini akan semakin menyesakan. Apa lagis udah ada media-media yang mulai mengendus ha ini sebagai berita empuk. Hal mengerikan yang paling di bencinya.
" Ya betul, saya memang akan segera menikah ". Sore kemarin saat beberapa wartawan media bisnis mulai mengganti arah wawancara.
" Benarkah dengan putri salah satu dewan direksi Ars Group, yang kebetulan juga adalah saudara sepupu anda pak ? ".
" Apakah pernikahan anggota keluarga seperti ini juga merupakan strategi untuk membangun dan mempertahankan bisnis ? ".
" Lalu bagaimana hubungan anda dengan nona Lola ? ".
Ya ampuuun..... Lola siapa lagi itu ?. Ini wartawan bisnis kenapa menjadi wartawan infotaiment sih.
" Maaf .... bukankah yang akan kita bahas adalah tentang rencana kerjasama perusahan kami ?. Kenapa jadi masalah pribadi yang ditanyakan ? ". Dan saat ia mengajukan keberatan ....
" Betul pak Namu ... tapi apa bapak tidak tahu jika berita patah hatinya Lola sang model dan juga pengacara itu saat inj sedang trending topic ? ". Si wartawan itu tetap berdalih. Dan langsung diikuti oleh cecaran pertanyaan senada dari kawan-kawan seprofesi mereka.
Menyebalkan !!!!!!....
" Lihat berita ini pak ", bahkan salah seorang dari mereka menyodorkan telepon selulernya.
...................Model sekaligus pengacara kondang Lola Astrid Malika, mabuk dan meracau karena patah hati. Ia merasa sangat dikhianati oleh seorang pria tersayangnya. Bersama beberapa model beken yang sibuk menghiburnya, ulah impulsif ini terekam kamera salah satu pengunjung bar. Dan nama pria itu sempat disebut dengan jelas ..... Namu.................
" Lihat videonya pak ". Tanpa menunggu lagi, si wartawan itu pun memutar sebauh video yang ter-koneksi dengan laman berita itu.
.........................." Gue kurang cantik apa coba? .... kurang pinter apa coba ? ". Seorang wanita cantik menawan berpakaian seksi yang memperlihatakan lekuk sempurna tubuh proporsional itu berdiri sempoyongan sambil meracau. " Buta kali ya ' si Namu itu .... ".
" Udahlah La... kayak nggak ada cowok laen aja. Gampang sih untuk elo' dapatin yang ganteng & tajir lagi ", salah seorang wanita cantik lainnya tampak menghibur.
__ADS_1
" Pasti kena pelet itu si Namu ... atau dipaksa dia, buat nikahin sepupunya sendiri ... Aaah... Namu Baskara Perkasa ... I hate you ... but I love you .... ". dan wanita itupun mulai menangis sesenggukan..........................
Tidak ada gunanya memang meladeni para kuli tinta infotaiment, beruntung saat itu para pengawal segera datang menyelamatkannya. Para bodyguard yang sebelumnya mentah-mentah ditolaknya. Bahkan sedikit menimbulkan perdebatan dengan Ardanu, salah seorang kepercayaan ayahnya.
" Seakarang kau mengerti bukan kenapa aku bersikeras memberimu pengawal pribadi ? ". Si om Danu itu tersenyum meledeknya, sepertinya pria yang juga sahabat ayahnya ini sudah tahu semua yang baru saja terjadi. " Ini baru permulaan anak muda ... ".
Ya ampun.... bagaimana bisa suma hal yang terjadi ini dibilang sebagai permulaan ?. Namu menghempas-hempaskan dirinya sendiri. Ketika kemudian sebuah panggilan masuk dengan nada khusus yang sangat dikenalnya tiba-tiba menyeruak, mengagetkan.
" Halo sayang ", sapanya segera setelah panggilan itu tersambung.
" Aku hanya berharap penjelasan saja .... Lola itu Astrid? tetangga baru yang belum ada satu tahun pindah ke kompleks kita 'kan ? ".
" Ehm .... spertinya ? ".
" Yang datang sok akrab di dapur rumah mu ? ". Jelas suara Cinta penuh dengan nada cemburu.
" Entahlah .... mungkin, aku lupa ".
" Dia gila ... tergila-gila padamu ? atau ..... kau pernah memberi harapan palsu padanya kak ? ", Sangat jelas jika Cinta sudah melihat berita itu, ia sedang cemburu kini.
" I don't care ... I don't know her.... and I Iove you ".
" Kak .... aku cemburu ". Suara Cinta terdengar sedikit serak, namu bisa membayangkan jika gadis itu pasti kini sedang dalam mode emosi dan uring-uringan.
" Heeem.... lalu apa yang harus kita lakukan ?. Kau akan diam saja ? ".
" Kata mama .... jangan pernah terpancing. Biarkan saja... janganladeni media ".
" Tapi .... ", terdengar suara Cinta yang bertambah kesal.
" Sayang .. ", Namu pun mulai membujuk. " Kita punya sesuatu yang lebih penting, yang lebih besar, yang lebih dari segalanya dibandingkan gosip murahan itu.... haruskah kita mengurusi hal remeh tidak berguna itu ? ".
Hembusan nafas dis seberang sana terdengar seperti tengah menapar-nampar sesuatu. Sesaat tidak ada jawaban dari Cinta, dan Namu pun membiarkan gadis pujaan hatinya itu untuk sesaat.
" Ingat saat-saat kita diombang-ambingkan oleh gelisah selama belasan tahun ?.... ingat saat kita tersiksa dalam cinta yang diam ?... ingat bagaimana lelahnya kita untuk ingakr dan berlari selama ini ..... apakah hal sepele sperti ini akan mengalahkan semua itu ? ".
Namu sendiri pun tak mengerti, bagaimana kalimat itu bisa tersusun begitu rapi dan mengalir lembut dari bibirnya. Seolah-olah ia dalam keadaan baik-baik saja, seolah-olah ia berubah menjadi seseorang yang sangat bijaksana.
" Kak.... I love you too... Love you so much ".
" Ya .... jangan pernah berhenti berdoa ya, semoga kita dapat melalui segala hal tetap dengan penuh cinta ". Namu pun tersenyum, seolah dia bisa menatap senyum Cinta -nya.
__ADS_1
.................................................................................
Gadis itu mengeratkan raincoat yang dikenakannya, sebelum melompat turun dari bus dan kemudian segera berlari menyeberang dan tergesa menuju pintu masuk sebuah rumah sakit. Dia lah Hanin Hanania yang kini sedang tersenyum ramah sambil mengangsurkan sebuah kotak pada dua orang perawat yang terlihat sumringah menerima.
" Kau selalu membawakan makanan enak untuk kami .... semoga itu tidak merepotkan mu ya ".
Hanin tertawa sambil tetap melanjutkan langkahnya, ah ... hanya beberapa potong sandwich saja, gumamnya. " Yang kalian lakukan untuk menolong ku .... itu baru luar biasa ".
Hampir satu tahun terakhir ini, dirinya sudah menjadi sangat akrab dengan tidak hanya ruangan pada bangunan rumah sakit ini, tapi juga dengan para dokter dan perawat yang ada di tempat ini. Sebuah tempat yang setiap seminggu sekali di kunjunginya, tempat dimana terdapat sebuah beban tanggung jawab wujud dari rasa terimakasih mendalamnya. Sebuah tempat yang kini menjadi tempat merawat seorang teman, yang telah bertaruh nyawa untuknya. Teman yang baru sesaat dikenalnya, tapi kelembutan dan ketulusan yang diterimanya sungguh seperti seseorang yang telah menjalin persahabatan bertahun-tahun.
" Namaku Sellma ... kau harus berhati-hati dengan Garret. Kau harus membuka matamu lebar-lebar ... kau jangan percaya sikap baiknya ... kau .... harusnya bisa merasakan kejanggalan dari hubungan mereka berdua ".
" Hei ... aku ini kekasih David, temannya Garret. Bukan kekasih Garret... sepertinya kau salah sangka nona ".
" Tidak !!!.... kau harus dengarkan aku . Kau terlalu lugu ... kau harus hati-hati ".
Dan pertemuannya malam itu dengan seorang wanita berambut coklat, berbulu mata panjang nan lentik namun menyiratkan pancaran kesedihan. Awalnya ia benar-benar hanya mengira kalau perempuan bernama Sellama itu hanya mengada-ada saja. Tapi belakangan ia memergoki sendiri bagaiman David atau Dave -nya bersama pria yang dikenalkan sebagai sahabat baik itu, tengah melakukan suatu hal yang kemudiam membuatnya merasa sangat mual, jijik !!!.
Hingga akhirnya ia pun mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang kini sedang berbaring dengan tenang, sementara sebuah layar monitor kecil tetap menyala disebelahnya. Berteman cairan infus yang menggantung berikut selang oksigen, Sellma nampak seperti sedang terlelap.
" Hai Sellma... ", ucapnya perlahan sambil menduduki sebuah kursi yang tadi sempat ditariknya mendekat. " Kau pasti tidak lupa ... empat hari lagi ulang tahun Liesel mu yang cantik. Ya ... Liel mu itu akan segera berusia tiga tahun. Kau tidak rindu padanya Sellma ? ".
Hanin tersenyum sambil menggenggam jemari kemerahan dan agak pucat itu. Ia berharap jika wanita ini akan meresponnya. Ia berharap jika wanita ini akan segera terlonjak bangun, lalu dengan ceria mengajaknya untuk bersiap menyelenggrakan pesta manis untuk bocah cantik anaknya. Tapi Hanin kembali menhela nafas panjas dan menelan kekecewaannya. Sesaat ... hanya sesaat, karena kemdian ia kembali terlihat bersemangat. Mengeluarkan sebuah album kecil berwarna coklat tanah denagn aksen hiasan dedaunan kering dan juga lonceng kecil.
" Lihat !!... kau masih ingat bayi mungil yang cantik ini ? ". Hanin membuka album itu dan memperlihatakan sebuah foto bayi dengan kostum anggel yang menawan.
" Dia sangat mirip dengan mu .... cantik sekali ya malaikat kecil ini ".
Hanin kembali membuka-buka album itu, sambil tetap berceloteh sendiri, menceritakan gambar yang sedang diperlihatkannya pada Sellma yang tetap diam tak bergerak. Hingga akhirnya seluruh halaman pada album itu telah dibuka dan dibolak-baliknya.
" Sellma.... aku akan mempertahankan mu sampai kapan pun... sampai kau sadar. Aku tidak peduli apa kata para dokter itu. Delapan bulan ?.... heem baru juga delapan bulan ya. Kau juga harus tetap berjuang untuk bangun Sellma... demi malaikat kecil mu ini ya. Kau tahu .... ia sudah bisa berseru memanggil nama mu ... Mommy ..mommy... setiap melihat fotomu. Kau rindu bukan ? ".
Hingga akhirnya Hanin menunduk dalam, menyeka air matanya yang mulai berajtuhan satu demi satu.
" Sellma .... aku akan mempertahankan mu . Kau juga harus membantu ku ya .... bangunlah, segerlah bangun. Aku sudah mulai kewalahan melawan mereka yang ingin melepas alat penopang hidup mu. Aku mohon Sellma ... demi Liel ... Liesel mu yang cantik ".
Tapi Sellma tetap diam, wanita itu hanya terlihat bernafas perlahan seperti mengikuti suara konstan dari monitor jantung yang terpasang.Menciptakan sebuah perasaan penuh rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Membuat Hanin kembali terisak dan menelungkupkan wajanya, sementara ia tetap tak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Sellla, yang tetap diam tak bergerak.
" Aku pulang dulu ya.... aku janji, ulang tahun Leil besok ... akan kubawa malaikat itu kemari. Tapi kau juga harus berjanji, kau akan segera bangun dan menggendongnya sendiri ".
__ADS_1
Kemudian Hanin menyeka sisa air matanya, lalu mulai bangkit berdiri dan melangkah perlahan menuju pintu keluar ruangan itu. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Sellma, ia menoleh sesaat pada raga yang masih terbaring tak sadarkan diri itu. Tersenyum penuh dengan kesedihan, lalu segera berlalu beranjak pergi. Dengan hati yang melangitkan doa-doa pada Yang Maha Kuasa.
Dan dalam getaran yang sangat lembut, gerakan yang tidak kentara, sepertinya doa itu segera terjawab. Jemari pucat dan kurus itu nampak bergerak perlahan untuk sesaat. Bahkan ada dua bulir air mata yang meleleh perlahan di pipi tirus itu. Sellma, ia pasti mengerti ... ia pasti mendengar.