PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merajut Pelangi Musim Gugur (4)


__ADS_3

Siang hari itu udara lembab yang penuh dengan uap air bersuhu hangat sangat membuat gerah. Padahal matahari tak dapat menembuskan sinarnya yang terik pada gumpalan-gumpalan mendung. Begitulah suhu di lintasan khatulistiwa saat musim penghujan. Apalagi di tengah kota besar sepert ini, yang begitu kekurangan tanaman hijau peneduh sebagai paru-paru alam. Efek rumah kaca akan lansung terasa dengan sangat jelas.


Raka berjalan dengan langkahnya yang panjang sambil membuka dua kancing kemejanya, menarik cepat dasi berwarna abu-abu dengan corak benang mengkilap itu, berharap mendapatkan sedikit rasa sejuk. Sambil ia terus berjalan dengan sesekali mengipaskan telapak tangannya. Pria itu bahkan berlari kecil supaya bisa sampai ditempat yang ditujunya.


Sesampainya di depan pintu sebuah bangunan klinik, ia mendorongnya perlahan. Dua orang wanita yang berjaga di belakang meja resepsionis biru-buru berdiri menyambutnya. Mengangguk dengan mengulas senyuman penuh keramahan.


" Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu ? ", sapa salah satunya senngan ramah.


" Mau ketemu dengan ibu Ardelia ". Jawab Raka masih dengan sedikit terengah.


" Oh, sudah bikin janji sebelumnya ?. Maaf .. dengan bapak siapa ya ? ".


Raka tersenyum keci, " Saya Raka mba ... calon suaminya bu Ardelia ".


" Oh .. maaf, maaf pak. Kalau begitu langsung saja. Di lantai dua, ada tulisannya di depan pintu kok. Maaf pak, kami tidak tahu ".


" Nggak pa-pa, kan emang belum kenal toh. Terima kasih ya mba ".


Di detik berikutnya, pria muda itu sudah menaiki tangga dengan langkah yang ringan. Suhu di dalam ruangan yang sejuk olehalat pendingin ruangan itu, rupanya telah membuat semangata Raka menjadi berlipat. Ia terlihat lebih bersemangat lagi saat menemukan ruangan  yang ia tuju.


" Selamat siang ibu.... bisa konsultasi sebentar ? ". Tanpa permisi terlebih dahulu, tanpa mengetuk pinyu ruangan juga, Raka langsung nyelonong dan mendapati Ardelia yang tengah duduk menekuri sebuah file.


" Hei !!! ", gadis manis yang kini mengenakan kaca mata itu terkaget-kaget. Ia jelas memprotes ulah Raka yang nampak tidak memperdulikan wajah cantik itu berubah menjadi kaget dan juga cemberut, tentu karena kaget. " Nggak sopan ah, nggak permisi dulu ".


Tapi Raka hanya terus melangkah tanpa memperdulikannya. Menghampiri Ardelia yang duduk sambil melepaskan kaca mata, lalu memeluk gadis itu dengan sangat lembut. Tidak memberikan ksesempatan pada Ardelia saat ia mulai mencium kening putih mulus itu dengan hangat.


" Sudah nggak tahan. Abang kangen sama neng manis ".


" Hiiy .. geli ah ".


" Loh ?!... kok geli ".


" Jauhan dikit dong,  Silahakan duduk pak, ada yang bisa dibantu ? ". Ardelia mendorong Raka yang tampakenggan melepaskannya. " Duduk !!! ", hardiknya.


" Weh, iya iya ... galak amat sih ". Raka akhirnya melepaskan pelukannya dari Ardelia, lalu beranjak duduk di hadapan gadis itu dengan berbatas meja.


" Kau yang membuat papi datang ke rumah pagi kemarin ya ? ".


" Iya dong, pertarungan pertama ... I won. Bersia untuk yang selanjutnya. Tapi ... benaran nih kita harus nunggu perceraian mereka ? ". Raka menatap Ardelia seolah mencari kepastian dari sesuatu yang diragukannya.


" Kau benar-benar ingin .... ehm, maksudku... di hari pernikahnmu justru malah kedua orang tuamu dalam kondisi sudah tidak bersama lagi ?. Itu .... ".


" Aneh, maksudmu ?. Kan' emang aku orang yang anti mainstream ".


" Delia..... ", Raka meraih jemari gadis yang duduk di hadapannya. "  Aku tahu kamu pasti punya alasan, hanya saja aku tidak tahu pasti alasan itu. Dan aku yakin pasti kau akan memberitahu ku ".


Ardelia tampak tersenyum, tapi terlihat sepasang mata gadis itu menerawang jauh.


" Kau tahu bagaimana mereka menikah ? ".


Raka menggeleng perlahan. " Kau bisa menceritakannya padaku ".


" Mami hanya seorang anak .... ".


" Dari istri kedua ?. Kau sudah pernah mengatakan itu ", sambar Raka dengan cepat.


" Ya, tapi nenek ku orang yang sangat mandiri, cerdas dan gigih. Hingga akhirnya semua usaha kerasnya itu bisa membuat keluarga papi menerima mereka. Bahkan mereka ... akhirnya justru mewariskan usaha, properti dan sebagian besar aset keluarga justru pada mami. Tentu saja ini yang memicu kecemburuan, iri hati dan juga dendam berkepanjangan ".


" Lalu, bagaiman papi dan mami mu menikah ? ".


" Itu adalah ... karma yang harus diterima ". Ardelia menatap wajah Raka, menyampaiakan kesedihannya. " Suatu hal yang aku juga baru tahu ... ".


.............................................


" Sita itu juga sangat sangat sakit hati, kau pun pasti juga demikian. Hanya saja ... kau lebih takut hidup terpuruk dalam kemiskinan. Aku .... semua kuncinya ada padaku sebenarnya. Seharusnya, aku bisa lebih tegas untuk menolakmu saat itu. Sehingga kita semua tidak perlu menderita seperti ini. Dan kau juga tidak perlu berbuat sangat jahat .... membuatku seolah-olah seperti orang gila ".


" Aku ... aku ... kehabisan akal Lupi. Maafkan aku ".


" Kita semua ini sebenarnya adalah pengecut yang berlindung dengan membohongi diri sendiri, alih-alih dengan mengatasnamakan kepentingan keluarga besar. Tapi ... kita lupa dengan perasaan hati ini ".


"  Palupi, kau masih mencintai Wisnu ? ".


" Sama sepertimu yang tetap mencintai Sita, bukan ? ".


" Lalu saat itu kenapa kau tetap menerima perjodohan ini ? ".

__ADS_1


" Sama seperti mu Danny... yang tetap menikahi ku waluapun Sita sudah mengandung anakmu ".


" Kita .... sama-sama egois dan serakah ya Lupi ? ".


" Kau yang lebih tamak. Aku ... hanya ... menuruti permintaan terakhir ayah ku ".


" Aku pun demikian Lupi... ".


" Tidak !!! .. aku tahu benar, tidak seratus persen begitu .... kau membuat Wisnu percaya... jika aku berkhianat padanya. Kau .... ".


" Maafkan aku Palupi .. ".


.........................................................


Raka masih menatap lekat-lekat pada Ardelia yang bertutur, kadangkala tersendat, kadangkala begitu mulus. Tapi ada beberapa titik air mata yang jatuh perlahan menuruni pipinya yang lembut. Raka menyentuh nya lembut, menghapus jejak tangis itu dengan jemarinya.


" Siapa Sita ? Siapa Wisnu ? ", tanya Raka dengan hati-hati.


" Sita ... itu tante Marshita, mamanya Dracio. Dan Wisnu ... itu adalah adiknya papi. Tapi aku juga belum pernah bertemu dengannya. Kata mami .... om Wisnu memilih pergi meninggalkan keluarga besarnya, dan pergi merantau entah kemana ".


" Tante Palupi ... dengan Om Wisnu itu, mereka saling cinta ? ".


" Sepertinya begitu. Aku tidak berani bertanya apapun pada mami. Kau tahu 'kan ... aku tidak mau mami tahu kalau aku menguping pembicaraan mereka berdua. Tapi lebih dari itu .... aku tidak mau membuat mami jadi sedih lagi. Karena hal ini adalah rahasia yang selama ini disembunyikan dariku ".


" So .... kita harus bagaiman sekarang ? ". Raka mengembangkan senyum nya, berusaha mengubah suasana sendu itu agar menjadi menghangat.


" Kapan kau akan melamar ku ? ".


" Weeeh .... secepatnya dong. Yang penting anda siap, tinggal bilang saja  maunya kapan ".


" Tapi nikahnya, tetep nunggu urusan papi-mami selesai ".


" I promise ", dan Raka membuat tanda 'V' dengan jari tengah dan jari telunjuknya. Lalu dengan kecepatan cahaya, segera membuat ujung lancip hidung Ardelia terjepit gemas oleh dua ibu jarinya itu.


" Iiihs .... ". Ardelia menepisnya cepat.


" Kita,   ", Raka menjeda kalimatnya dan menatap pada sepasang mata yang kini juga tengah menatapnya. Seperti sebuah rengkuhan yang membuat keduanya kemudian menyelam bersama dalam danau jiwa yang hangat. " Kita buatkan keluarga yang bahagia, hangat dan manis ... yang belum sempat dirasakan oleh mami mu ya ".


Ardelia tersenyum, bukankah hal itu terdengar sangat membahagiakan ?. Seoarng pria yang sejak dahulu secara perlahan-lahan menatapnya dengan lembut dan semakin lembut. Menyampaikan perasaan cinta dengan sangat halus. Mementahkan semua penyangkalannya, bukan hanya karena masa lalu penuh trauma yang pernah mereka lalui, tapi juga karena rasa takut dengan cinta yang semu.


Butuh waktu bertahun-tahun untuk seorang Ardelia terus menyangkal rasa sukanya. Begitu juga dengan Raka, yang butuh waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan dirinya sendiri jika yang dirasakannya adalah sebuah cinta yang tulus. Dengan segala pahit getir dan luka yang menghiasi perjalanan hidup mereka, bukankah cinta itu kini tersa begitu manis ?.


" Kau sudah tahu, babang tamvan itu menambah waktu liburannnya di Indo ". Keanu membuka pembicaraan ketika mereka mulai memasuki jalan tol.


Hanin menoleh dan menatap dengan pandangan menyelidik pada Keanu yang masih konsentrasi di belakang kemudi. Hari ini dengan penuh suka cita pemuda manis itu menawarkan diri untuk mengantarkan Sellma yang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tentu saja Hanin menerimanya dengan senang hati. Lebih prkatis dan efisien darpiada Sellma harus dijemput oleh keluarganya. Karena dari tempat tinnggal mereka ke pusat kota Berlin memakan waktu hampir dua jam.


" Oh .... jadi dia tidak pulang hari ini ya ? ".


" Tadi malam .... tengah malam dia menggangguku dengan telpon bisingnya. Eh, kalau pak dubes ? ".


" Hanya bu Sabrina yang akan tinggal lebih lama di Indo ... eh ternyata mas Haidar juga ".


" Kau sampai kapan tinggal di rumah beliau ? ".


" Besok aku sudah kembali ke flat ku ".


" Sudah rindu ? ". Jelas itu adalah pertanyaan yang penuh dengan nada menggoda dari Keanu. Tentu saja Hanin memilih diam atau pura-pura tidak mendengar. " Yang jelas... si babang itu udah kelimpungan, rindu berat sama elo. Nggak ada inisiatif nelpon duluan ? ... mau sampai kapan tarik ulur ?. Hei ... girl ... are you there... ".


" Apaan sih ", akhirnya Hanin merespon.


" Yeee... nggak usah gitu deh. Gue tahu semua kalee.... kalian itu sebenarnya pasangan yang pas, manis ... klik, unik ".


" Unik ? ", Hanin mengernyitkan kening, menatap Keanu dengan pandangan yang menyelidik.


" Unik lah ..... yang satu manis, mungil imut-imut kayak jari kelingking. Yang satunya lagi ... tinggi, gedhe, macho ... hati-hati loh' remek ntar, Nin ".


Keanu nampak berbinar dan tertawa-tawa riang, entah apa yang ada di benak pemuda itu. Tapi Hanin mau tidak mau akhirnya juga bergidig ngeri, ia merasa pikiran cowok absurd ini pun perlahan juga mempengaruhinya. Hiiiy ..... , ah apaan sih Hanin?.


Dirinya hanya sebatas ketiak pemuda itu, saat direngkuh ia langsung tenggelam di dada yang bidang dan lebar itu. Ketika pemuda itu melingkarkan kedua lengan melingkupi pinggangnya, ia pun langsung tenggelam dalam rengkuhan dan tidak berdaya. Common Hanin... what do you think ?.


" Yeee.... langsung merah padam macam tomat itu wajah ". Keanu tertawa-tawa menggoda. " Apa yang sudah dilakukan si tamvan itu padamu ?. Kalian udah jadian?, udah ciuman ? ... pasti udah ... he... he..he.. ".


" Bang Key ... apaan sih ".


" Siapa sih yang kuasa menolak pesona bang Haid itu. Minimal udah pelukan pasti ..... hughh ...aahgh .. ". Suara Keanu tibai-tiba termampatakan oleh sebuah anggur yang disumpalkan oleh Hanin.

__ADS_1


" Kunyah aja itu, maniiis..... ".


" Eh, Nin ... ", sambil mengunyah dan menelan anggur manis musim gugur. " Gue orang pertama yang paling setuju kalian jadian. Pasangan tersempurna abad ini ... adoooh ".  Kali ini tinju Hanin mendarat di pundak Keanu.


" Hei... bisa bicara dengan bahasa yang aku mengerti saja ? ". Suara Sellma dari kursi belakang. " Biar aku tidak berprasangka yang tidak-tidak pada kalian ".


" Oh ... maaf Sellma ", Hanin buru-buru meminta maaf.


" Sudah berapa lama kalian saling kenal ? ", tanya wanita itu kemudian.


" Sekitar ... tiga bulan, iya 'kan bang Key ? ".


" Yups ", Keanu mengangguk mengiyakan. " Maaf Sellma, apakah kami membangunkan mu ? ".


" Ah tidak, aku tidak tidur kok. Hanya memejamkan mata saja, rasanya dadaku mau pecah karena bahagia akn segera bertemu Leisel lagi. Jadi jalan ini terasa sangat panjang ".


" Aku bisa mengerti yang kau rasakan, walaupun tidak sepenuhnya. tapi rasa rindu pada keluarga tercinta itu pasti.... sangat menyiksa ya ", Hanin menimpali.


" Tapi malaikat kecil itu memang sangat manis, lembut dan .... sangat patut untuk dirindukan ".


" Hei.. ", tiba-tiba saja sepasang mata Sellma berbinar dan wanita itu menegakkan duduknya. " Kau tahu Leil -ku ?, kau memgenalnya ? ".


" Pada saat ulang tahun mu, pria ini ikut juga mengantar Leil jalan-jalan beli mainan ", sahut Hanin dengan cepat.


" Oh, benarkah ", terlihat wajah Sellma merona penuh kebahagiaan. " Terima kasih banyak kalau begitu. Rupanya Leil dikelilingi oleh begitu banyak orang - orang baik ya. Syukurlah .. ".


" Leisel .... siapapun akan langsung jatuh cinta dengan gadis kecil itu, Sellma. Dia persis seperti malaikat dengan sepasang mata blue marine' nya ", Keanu menimpali.


" Ah kau ini Key, kau membuatku semakin gelisah menahan rasa rindu ini ".


" Oh ya ... ha..ha..ha.. maaf kan aku. Tapi kita akan segera sampai, satu jam lagi Sellma.. bertahanlah ".


" Nggak usah ngebut bang Key !! ", tiba-tiba Hanin menghardik. " Kau 'kan belum hafal-hafal amat jalanan ini. Lebih baik cari aman, cari selamat ".


" Iya.. iya.. aku juga nggak mau kena konsekwensi berat dari bang Haidar kalau ada apa-apanya dengan kau nona ".


" Haidar ?, siapa dia ? ", tiba-tiba Sellma menyela dengan tanya yang membuat Keanu dan Hanin saling berpandangan.


" Oh itu, dia .. ". Tapi belum lagi Hanin mendeskripsikan tentang Haidar, Keanu dengan sangat cepat dan manuver seperti elang yang menukik langsung menyambar.


" Haidar itu pacarnya Hanin ".


" Ih !!!! ", protes Hanin.


" Ya .. paling tidak adalah kandidat terkuat calon penguasa hatinya gadis ini, nona Sellma ".


" Jangan dengarkan dia !!!!. Dia hanya teman kami dan kebetulan juga adik dari pak Dubes ", Hanin berusaha meralat informasi yang diberikan keanu pada Sellma.


" Kau harus mempercayaiku untuk hal ini nona Sellma. Kau juga harus tahu, setiap hari nona Hanin menerima kiriman mawar dari Haidar ".


" Oh ya ? ", sepasang mata Sellma kembali berbinar. " Woouw ... romantis sekali. Kau harus mengenalkannya padaku Hanin. Dan memang sudah waktunya kau untuk membuka lagi hatimu ".


" Ah Sellma... ", suara Hanin terdengar penuh kekecewaan. " Kenapa kau begitu percaya pada pria tak jelas yang baru saja kau kenal ini ? ".


Sellma tertawa mendengarnya, Hanin melenguh dengan kesal. Sementara itu Keanu dengan gaya 'iyey' nya mengepalkan tangan penuh rasa suka cita kemenangan.


" Heeiiii... tadi aku sempat berfikir kalau kalian ini malah sudah pacaran ".


" Hah ?!!! ", sentak Keanu dan Hanin bersamaan.


" Oh no Sellma. Aku ini hanya pengawal yang diminta untuk menjaga nona boss saat boss besar sedang berdinas luar. Ha.. ha..ha... ". Keanu menyangkal sambil tertawa terbahak-bahak.


" Yang jelas aku ikut senang mendengar semua ini Hanin ". Kata Sellma lagi.


" Ya.. ya.. sudah waktunya kita semua membuka lembaran cinta yang baru. Kau juga harus demikan Sellma ". Mungkin aku akan ikut melukiskan warna cinta yang hangat itu Sellma, bisik Keanu lirih dengan bahasa kalbunya.


\==================================


**Author Corner **


Othor yang suka ngilang .... hadiiiir !!!!!!!!!.


So sorry ..... bingits. Maksud hati nggak demikian, tapi pada akhirnya ya jadi demikian. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.


Mana Alend & Rana Lover's ? ......... haaaiiii.... on progres, siap-siap di bulan Februari tahun ini ya. Tunggu kisah mereka yang juga ditingkahi oleh kisah seru DLD (Duo Little Devil) dan Oppa kesayangan yang lagi butuh-butuhnya suplemen energi .... hi..hi..hi..hi... (kejar tayang---->>>>> harus segera ngasih cucu).

__ADS_1


Siap-siap di launching novel terbaru :  PRIA SETENGAH PURNAMA



__ADS_2