
In your arms.....
I found a strength inside me
And in your eyes there's a light to guide me
I would be lost without you
And all that my heart could ever want has come true
So you could give me wings to fly
And catch me if I fall
Or pull the stars down from the sky
So I could wish on them all
But I couldn't ask for more
'Cause your love is the greatest gift of all
^^^**(Your Love - Jim Brickman)^^^
...............
" Yang di sebelah mu juga ganteng loh ".
" Hah .... ??". Ardelia tentu saja langsung menoleh dengan ekspresi kaget dan mulut yang membulat. Celutukan Raka yang membuatnya jadi demikian.
" Papa ku itu.... emaaang ganteng, baik dan juga lembut. Tapi menurutku sih.... tetep kerenan aku dua tingkat ". Dengan narsisnya Raka memuji diri sendiri.
" Kau tahu ?, papa itu terlalu lembek .... penurut banget sama mama. Harusnya 'kan yang bisa lebih mendominasi lagi .... ".
" Ooooh..... jadiiii nggak mau ya jadi pria yang nurut sama istri ??? ".
" Heh ?!!! ". Raka seperti tersengat ubur-ubur. " Bukan seratus persen begitu maksudnya. Iapun segera meralat, sebelum semuanya berubah menjadi seperti bola salju yang menggelinding.
" Papah itu selalu mengiyakan apapun perkataan mamah... ".
" Karena Tante Hana masih meminta hal yang wajar ", sambar Ardelia.
" Iya juga sih. Tapi .... ".
" Ya sudah!!! nggak ada tapi-tapi ", bahkan Ardelia terlihat sekali menyolot dengan keras.
" Jadi .... non Ardel pingin punya suami yang penurut... ", bukan Raka namanya jika tidak bisa segera mengubah pola permainan. Apalagi ini dengan gadis yang sudah membawa pergi separuh hatinya. Tentu saja ia akan segera mengubah warna, arah dan juga tempo permainan dan tujuannya jelas.... membuat pipi gadis itu bersemu merah.
" Yang setia .... ", kali ini dengan kerlingan mata menggoda. " Tentunya yang sayaaaaang sama non Ardel 'kan ? ".
Tiba-tiba saja Ardelia begitu menyesali kebodohannya yang begitu impulsif. Sekarang dirinya pasti akan menjadi bulan-bulanan Raka. Ia mengenal betul bagaimana pria ini jika sudah usil menggoda. Memilih diam.... ya, itulah yang terbaik saat ini. Sambil membuang pandangannya ke samping. Padahal hanya ada tembok beton panjang pembatas jalan bebas hambatan.
" Semua ada di Abang non.... janji 'deh... you will get more than your expectationyou will get more than your expectation ".
" Ish... apaan sih ", tentu saja Ardelia berdecih sebal jika sudah mati kutu seperti ini.
Kepiawaiannya sebagai seorang psikolog yang lebih mengkhususkan dirinya pada keilmuan psikologi klinis, tiba-tiba saja menguap sempurna. Seperti setetes air yang dipercikkan pada inti matahari, langsung hilang bahkan sebelum sampai menyentuh permukaan.
Jika sudah dihadapkan dengan betapa konyol dan usilnya pria ini. Ia langsung kehilangan kemampuannya merangkai kata yang biasanya sangat rapi tercipta saat sedang berusaha menggali informasi, atau bahkan sedang mengantisipasi sikap frontal para kliennya.
Gabungan salah satu ilmu terapan dalam bidang psikologi yang didalamnya terdapat konsep-konsep psiklogi abnormal, psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam asesmen dan intervensi ..... tiba-tiba saja menjadi seperti tak berbekas dalam ingatan Ardelia Padahal semua ini bisa memudahkan untuk memahami dan memberi bantuan bagi orang-orang yang sedang mengalami ganggua psikologis maupun yang abnormal. Tapi jika sudah bertemu seorang Raka ..... sudahlah menyerah saja.
Karena ini adalah seorang Raka, yang telah bertahun-tahun dikenalnya. Pria yang berandil begitu besar dalam menorehkan separuh dari kisah hidup yang sudah dijalaninya. Raka yang ia kenal begitu terbuka, namun menyimpan rapat sebuah luka. Raka yang menurut para gadis lain begitu brengsek** tapi ternyata sangat mampu menjaga dirinya. Raka yang urakan tapi sangat lembut dan sayang keluarga. Raka yang di hadapannya, hanyalah seorang pria bertopeng kaca.
Rakadipa .... yang telah membuatnya bertahun-tahun menjadi seorang pengingkar nurani. Tapi tak pernah bisa berhenti bermimpi. Hingga akhirnya kini ia memutuskan untuk menyerah dan dengan berani mulai menuruti kata hati.
" Aneh ya ? ".
" Hah ?? kenapa ? ", Ardelia tergeragap. Celutukan Raka membuatnya spontan menoleh.
Tapi pria itu dengan ekspresi datar tetap menatap lurus jalanan dihadapannya. Seolah-olah mengikari keberadaan seseorang yang duduk dan sedang menatapnya kini.
" Apanya yang aneh ? ", Ardelia benar-benar diliputi oleh rasa penasaran.
" Itu.... ", terdengar mengulur waktu.
Tentu saja, karena saat ini Raka sudah mulai memasuki parkiran bandara. Ia butuh konsentrasi tinggi, apalagi didepannya nampak beberapa mobil yang juga terlihat mengantri. Suasana khas di pagi hari saat akan menggunakan penerbangan pertama.
" Nona ini..... bengong aja masih tetep cantiiiiiiiik banget ". Raka mengucapkannya dengan ringan, bertepatan dengan mulai melancarnya kembali antrian di depan.
Apaan sih ... ish. Tapi kini Ardelia memilih mengatakannya dalam hati. Itu saja sudah cukup membuat kedua pipinya memanas dan kembali merona.
__ADS_1
Kau ini... apaan sih Ardel, ini bukan pertama kalinya seperti ini. Marahnya pada diri sendiri.
" Tambah cantik deh ... ".
" Raka.... ", jeritnya sambil memukul bahu pria di sebelahnya ini.
Maka meledaklah tawa Raka. Membahana memenuhi seisi ruang kendaraan yang kini sudah terparkir sempurna. Raka sepertinya benar-benar menikmati kesuksesan di pagi ini. Menggoda si cantik yang tersipu malu dengan bibir mungil mengerucutkan, dan jelas hal itu sangat membuatnya tergoda.
" Non Ardel ". Raka yang segera melepaskan sabuk pengaman, kini dengan cepat merangsek mendekatkan diri pada gadis ini. Terlihat wajahnya yang masih merona itu terkesiap kaget.
" Terimakasih sudah mau mengantarku .... tanpa aku meminta ".
Ardelia merasakan seperti ada puluhan ekor kuda yang sedang berderap melesat di dadanya. Hembusan nafas Raka terasa hangat menerpa wajah, dan terlihat jelas betapa senyuman itu begitu menawan. Tak nampak ekspresi sedang menggoda.
" Itu ... aku ... aku tidak mau mengantarkan mu. Sebenarnya ada yang ingin ku katakan. Dan aku datang .... karena kau sama sekali tidak bisa dihubungi.. ", suara Ardelia terdengar gugup. Dia bahkan semakin merapatkan dirinya pada kursi, bersandar dengan ekspresi tak menentu.
" Apapun itu...... terimakasih ".
Gerakan Raka sebenarnya normal saja dan ia pasti bisa menghindar. Tapi entah mengapa Ardelia lebih memilih memejamkan mata saja sambil menahan tubuh Raka yang mulai mendekat.
Raka tersenyum kecil melihat semua itu. Ia yang semula memang tak bisa menahan diri untuk menyentuhkan dirinya pada bibir indah itu, tiba-tiba saja seperti mendapatkan kendali kembali. Lalu mengalihkan sentuhannya pada helai-helai rambut yang nakal, kemudian merapikannya dengan menyelipkan di belakang telinga si cantik ini.
Ardelia tidak menyangka, hanya hal itu yang dilakukan Raka. Kecewa ???.... ah yang benar saja. Apa yang sebenarnya dia harapkan tadi ? Raka akan kembali memagut bibirnya dengan hangat dan lembut ? ya membuatnya setengah mati menahan jantung dan hatinya agar tidak melompat ke luar?. Ishhhh..... yang benar saja kau Ardelia.
" Lalu ?... ada apa ? ", suara Raka kali ini benar-benar menyeret kembali kesadarannya.
" Mama.... sudah tahu ".
Raka membulatkan kedua bola matanya sampai level maksimal. Mengekspresikan keterkejutan dan juga rasa ingin tahu yang besar.
" Semuanya .... yang sebenarnya sangat aku khawatirkan selama ini ".
" Lalu ? ", tanya Raka yang sebenarnya masih sedikit meraba-raba dengan dugaannya sendiri.
" Jadi... berangkatlah, konsentrasilah pada akhir masa residen dan ujiannya ..... aku ... aku akan baik-baik saja. Aku menunggumu ..... ".
Yang bisa dilakukan Raka kemudian adalah merengkuh tubuh gadis dihadapannya. Lalu dengan suara yang tercekat karena luapan bahagia, ia berkata dengan bibir yang nyaris menyentuh cuping telinga Ardelia.
" Terimakasih ..... bertahanlah. Kita berjuang bersama. Terimakasih ..... I Love You ".
.....................
Haidar baru saja masuk kedalam rumah pagi itu selepas ia berlari beberapa putaran mengelilingi taman di kompleks perumahannya, dan mendapati sang kakak yang sudah duduk manis di teras samping. Tentu saja lengkap dengan secangkir teh panas. Wajah putih bersih itu terlihat lebih bersinar dan tampak sekali sedang bahagia.
" Yups ", jawab Namu singkat sambil menyeruput tehnya.
" Udah ACC nih ? ", tanya Haidar lagi.
" Yo... iiiiii ".
" Tante Hana ? ".
" Ibu Ratu hanya akan setuju saja jika sang Raja sudah merestui ", terdengar ceria Namu mengucapkannya.
" He .... he.... he.... selamat ya. Bentar lagi nggak perjaka. Tahan nggak tuh sampai hari H ? ".
Ucapan selamat macam apa itu Haidar ??????. Tentu saja berbuah telak tinjuan yang mendarat di lengan kekarnya.
" Sontoloyo ", decih Namu.
" Nggak loyo koq. I'm strong ", Haidar tetap menggoda.
" Semoga anda cepet laku 'Man ... ".
" Aamiiiiin..... terimakasih kak ". Lalu dengan gaya gak jelas yang tentu saja membuat Namu bersungut-sungut, Haidar memberikan sebuah pelukan lebay melambai sok abege'.
" Selamat menikmati sisa-sisa hari perjakamuuuuu...... ".
Gaya dan nada bicara yang dibuat sama persis seperti salam terakhir yang diucapkan oleh kasir sebuah minimarket dominan di negeri ini begitu apik dibawakan oleh Haidar. Yang tentu saja maksudnya adalah menggoda habis-habisan sang Kakak.
" Dasar !!! .... buruan mandi sana ".
" Aduh !!"
Tentu saja Namu memilih untuk segera mengusir adiknya ini. Walaupun berhasil membuat Haidar segera melangkah masuk sebelum tendangannya mendarat di bokong penuh nan seksooy milik adiknya ini, tapi suara aduh telah keluar mendahului.
" Kampret ", desis Namu kesal. Sementara Haidar bersiul dan tertawa senang.
Menggoda kakak dan adiknya, jelas hal itu adalah kepiawaian si tengah seperti Haidar. Membuat kakaknya yang harus menerima wejangan dan juga interograsi dari kedua orangtuanya tentu saat terjadi suatu masalah yang berkaitan dirinya, sepertinya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Dan juga membuat adik kecilnya yang cantik menjerit-jerit kesal. Hal itu seperti menjadi mood boster
untuknya. Jika kemudian dia dikenal dengan sebutan si tengil..... sudah tahu'kan bagaimana hal itu bisa, terjadi ?.
__ADS_1
" Hari ini jadi ke rumah Bu Firman ? ".
" Oh ... nggak mah, katanya beliau yang mau ke kantor nanti siang. Sekalian ngechek stock ... gitu ".
" Oh ya udah, yang penting kamu nggak lupa ".
Haidar tersenyum seraya memeluk dan mencium pipi sang mama yang sedang sibuk membantu sarapan pagi.
" Wuuuuiiiiiihhhh...... pecel kecombrang nih. Tumben ada yang beginian ". Mata Haidar terlihat berbinar-binar.
" Buruan mandi ... di tunggu sarapan bareng ". Gerakan cepat Orlin menjauhkan piring berisi aneka sayuran rebus dan juga dua kuntum bunga sebesar setengah kepalan orang dewasa dari invansi putranya.
Tapi ia tidak dapat melindungi tahu goreng yang sudah terlanjur ditaruh di atas meja. Dengan cepat benda persegi berwarna cokelat keemasan itu mulus melesat ke dalam mulut Haidar. Tentu saja setelah menyerempet sambal pecel yang terhidang apik di dalam sebuah mangkok.
" Haidaaaar..... jorok ah, belum cuci tangan juga ". Tapi nasehat itu hanya berbuah ....
" I'm sorry mom.... looks so delicious, I'm so tempted ".
Setengah berlari Haidar mendaki tangga dan menghambur menuju kamarnya. Masih sambil menyelesaikan kunyahan atas benda gurih, hangat dan lembut yang terbuat dari olahan kedelai. Ia meraih telepon selulernya saat hendak duduk di tepi ranjang. Dan mulai memeriksa belasan chat yang masuk.
Ada dari mba Dewi sekretarisnya mba Cinta mengirim beberapa file yang dimintanya kemarin. Dari beberapa staff yang dimintai tolong beberapa hari yang lalu. Tapi paling ramai tentu saja dari group seangkatannya. Ada yang segera akan menikah sepertinya.
Haidar tersenyum-senyum membaca aneka chat absurd itu. Walaupun sebagian besar isinya adalah doa dan ucapan selamat.... tapi notif selanjutnya memang sungguh keterlaluan. Komentar menjurus yang memang bertujuan menggoda calon pengantin. Apalagi ini adalah seorang duda.... yaaa... siapa lagi kalau bukan Wisya dan Yulia.
' Gercep bro.... klo' duda sih mana tahan lama... nggak tahan lama-lama sendirian maksudnya @Weisya '. Tulis Haidar.
' Nongol juga lo' ... kirain sudah lupa klo' alumnus. Terlalu enak jadi boss 😁😁😁😁'. Seseorang membalas chat nya. Tertulis nama @mreneo atau dokter Reno.
' Takut diserobot elo' '. Kali ini yang membalas adalah Wisya sendiri.
Haidar meringis geli, ketika jemarinya mulai mengetikan beberapa kata... ada sebuah panggilan masuk.
" Halo Kiruuuuun..... ".
" Nggak be'canda deh. Gawat niiih ... ", suara manja dan kesal adiknya terdengar diseberang sana.
" He... he... he... Iya ... ada apa ?. Apanya yang gaswat ? ".
" Urusan kak Namu gimana ?. Ini Tante Hana nggak bisa di hubungi.... katanya mama mau kasih kabar juga. Ini malah adem ayem begini .... aku harus gimana nih ???? ".
Tanpa melihat langsung, Haidar sendiri sudah bisa membayangkan betapa uring-uringannya Kirana. Pasti bibir itu mengerucut panjang, sepasang alis matanya pun nyaris tertaut.
" Om Juna sudah ACC... eits, tapi jangan bilang apa-apa dulu ke Tante Hana. Biar Om Juna yang mem-pawangi ..... kau tahu 'kan kenapa ? ".
" Hlaaah .....aku terus gimana?. Berarti ini Tante Hana belum tahu ".
" Yups ... ".
" Iiih... kenapa nggak buru-buru dikasih tahu sih kak ? ". Suara Kirana terdengar mulai merajuk.
" Kan' udah dibilang tadi .... gimana sih ? ".
" Lah iya.... klo' Tante Hana belum tahu... berarti tugas untuk ku 'kan harus tetap dilaksanakan ".
" Tull ". Haidar menjawab cepat.
" Kaaak... ".
" Yaaaa .... ".
" Iiih... malu-maluin banget nggak sih, tiba-tiba datang ke rumah orang yang belum kita kenal .... terus bilang ... Halo sepupunya mba Cinta, di suruh silaturahmi ke sini. Ishhh.... ".
" Nggak gitu juga kale' dek ngomong nya ".
" Terus gimana .... orang pernah ketemu juga belum sama siapa itu ... Tante Raihan "
" Udah dek ... dua atau tiga kali ketemu. Kamu masih kecil dulu, terakhir pas kamu ..... SMP kayaknya ".
" Tau' ah lupa..... gimana nih ... batal aja ya ", Kirana kembali merengek.
" Jangan dong !!!!!!..... datang aja terus bilang, diminta mamah silaturahmi. Nggak usah bawa-bawa mba Cinta .... pasti beres ".
" Ngomong sih enak .... coba kakak jadi aku ".
" Hei..... jangan dibikin susah dulu. Jalani dengan ikhlas .... siapa tahu ini adalah salah satu jalan menuju berakhirnya masa jomblo mu ", Haidar setengah terkikik.
" Ngaco !!!!!!!! ".
" Iyalah .... mana tahu ada keponakan Tante Raihan yang high quality dan kebetulan jomblo juga..... waaaah.... rejeki nomplok tuh ".
" Ah mbuh lah ...... ". Kirana terdengar sangat kesal.
__ADS_1
" Santai ..... silaturahmi mendatangkan rejeki . Cemungud Kirun canciiiiik .... ".
..................