
Wanita dengan tubuh tambun berlesung pipit nan manis itu tersenyum, meskipun wajahnya kini tertutup masker, tapi terlihat dari tarikan sudut matanya. Sudah biasa para pasangan muda yang hendak menikah ini menunjukan kemesraan seperti ini. Walaupun kadang ada juga yang saling abai, atau mungkin karena mereka masih merasa malu jika harus bersikap saling mesra. Tapi pemuda berparas sekelas dengan slebriti K-Pop ini, ia sangat natural dan tidak canggung bersikap begitu lembut dengan segala kemesraan yang begitu natural. Tentu saja sang gadis juga akan terbawa, tanpa ragu menyembunyikan wajah cantiknya, melibas rasa gugup yang sesaat tadi menguasai.
Rasa sakit itu tak seberapa saat jarum suntik panjang menembus pembuluh darah, tapi kegugupan dan rasa takut biasanya akan sedikit banyak menyulitkannya saat harus mengambil beberapa mililiter saja cairan kehidupan berwarna merah kehitaman itu. Wanita tambun yang ramah itu merasa sangat terbantu dengan apa yang dilakukan Namu. Sikap mesra dua sejoli ini mampu membawa suasana menjadi hangat penuh cinta. Ia bahkan jadi teringat dirinya sendiri beberapa tahun silam. Saat tubuhnya masih sedikit kecil, dan ia yang diolok-olok kawan seprofesinya karena takut jarum juga. Bagaimana kemudian seorang pria tersayang menggenngam erat tangannya, menenangkan dan berbisik .... 'tidak apa-apa, ada aku di sini'. Ouuuch .... ada juga ya masa manis seperti itu.
" Sudah mba Cinta, sudah selesai ". Kata si wanita itu dengan ramah sambil menutup tube' tempat ia menampung darah Cinta yang akan diperiksa. Ia tersenyum ketika Cinta nampak tersipu, dan melepaskan diri dari lengan kekar tempatnya bersembunyi tadi.
" Kalian teman sejak sekolah pasti ya ? ", tanya wanita itu.
" Sejak kecil malahan bu ", Namu dengan cepat menjawab. " Sudah kenal luar dalam... jatuh hati sama bandelnya juga galaknya. Ternyata takutnya sama jarum sekecil itu ".
Tawa wanita tambun itu terdengar memenuhi ruangan. Di susul kemudian dengan sebuah pekikan tertahan dari Namu yang mendapatkan satu serangan tak terduga dari Cinta. Satu jurus capit kepiting bucin bersarang telak di pinggang Namu. Terlihat Cinta tersipu malu dengan wajah merah padam, melepaskan diri dari lengan kekar tempatnya menyembunyikan wajah tadi.
" Eh .. harus mulai latihan adu kuat dengan jarum suntik. tadi bu bidan sudah cerita banyak tentang imunisasi tetanus atau ** untuk calon pengantin dan juga ibu hamil 'kan ? ".
Cinta dan Namu mengangguk bersamaan.
" Nah ... masih ada aneka pemeriksaan lagi untuk ibu hamil. Mba Cinta dan mas Namu nggak akan menunda kehamilan 'kan ? ".
Kali ini Namu dan Cinta kompak dan serempak menggeleng memberikan jawaban.
" He.. he.. he.. bagus, semoga nanti semua lancar ya. Sambil nunggu hasih Lab. HBsAG -nya ... bisa kembali ke bu bidan yang tadi ya ... silahkan ".,
" Ah ya bu ... iya terimakasih banyak ya. Maaf ... ibu siapa ya namanya .. kalu boleh tahu ?", kali ini Namu yang terlihat antusias bertanya.
" Panggil saja bu Izul .. ".
" Terimakasih banyak bu Izul.... kami permisi dulu sebentar ". Cinta mendahului kembali berpamitan, lalu segera melangkah keluar dari ruangan laboratorium itu. Bergegas menuju ruangan dimana bu bidan yang tadi sedang menunggu.
Harapan Cinta untuk bisa segera terbebas dari alat medis benama jarum atau spuit atau syringe berbentuk pompa piston sederhana itu tenyata jauh dari kenyataan. Begitu bertemu dengan bu bidan cantik tadi, ia justru kembali mendapatkan satu suntikan di lengan kirinya. Membuatnya harus mencengkeram lengan Namu sambil menutup mata, mengatupaknnya kuat-kuat.
" Sudah mba Cinta... sudah selesai ", ibu bidan Cantik itu tersenyum. Lalu dudik dan mulai menulis kan sesuatu pada dua lembar kertas putih. Kemudian mengambil kertas kwarto berwarna hijau, serupa piagam dan kembali menuliskan sesuatu.
" Nah ... ini surat pengantar untuk ke KUA dan ini adalah sertifikat telah melakukan ** Calon Pengantin. Untuk hasil HBsAG-nya ... lima atau tujuh hari lagi ya. Akan kami kirim via email atau whatapps ".
" Oh ... begitun... baik bu. Ini Kami berarti sudah selesai ya bu .. ",
" Iya Mas... minta cap legalitas dan nomer untuk surat dibagian administrasi. Sebelah kanan pitu masuk ynag tadi ya ".
" Iya bu ... terimakasih. Kami permisi dulu ". Dengan sedikit merangkul pundak Cinta, Namu mengangguk berpamitan. Lalu kedua orang itupun segera berjalan menuju tempat yang tadi ditunjukkan si ibu bidan.
" Sertifikat Kesehatan Calon Pengantin .... hemmm .. ". Cinta membaca selembar kertas itu begitu ia duduk di dalam mobil. Sementara di sebelahnya, Namu terlihat berkonsentrasi mengikuti aba-aba dari seorang petugas parkir yang cukup berumur.
" Waduh ... sebentar 'Gan, gede bener ini ... belum ada kembaliannya ", kata bapak petugas parkir saat menerima lembaran uang kertas berwarna merah agak mengkilap itu.
" Saya tukar dulu ya 'Gan ", Saat pria itu bersiap berlari masuk. Namu terlihat memberikan isyarat yang mencegah langkah petugas parkir itu. " Gimana dong ini juragan ... ".
" Kembalinya buat bapak sama keluarga ya ... buat jajan ".
" Wah ... beneran nih 'Gan ? ". Sepasang mata pria itu berbinar cerah, terlebih saat mendapati anggukan pasti dari pemuda tampan yang baru saja memberikan lembaran rejeki nomplok itu. " Terimaksih 'Gan... semoga sukses.... bahagia dunia akhirat ... ".
__ADS_1
" Aamiiiin.... terimaksih bapak ". Namu pun tertawa dengan perasaan ringam yang membuncah. " See.... doa tulus untuk kita sayang, dari mereka orang-orang yang sangat dekat Sang Pencipta. Hei..... kok masih cemberut saja ? ".
" Ini baru daftar mau nikah ... sudah dua kali di tusuk jarum. Bagaimana nanti .... ".
Namu sangat ingin melepaskan suara tawanya, tapi lihatlah wajah cantik dan manis yang bersungut-sungut kesal itu. Jika ia tertawa, maka kemarahan Cinta pasti tidak akan terbendung, bisa berhari-hari ngambeknya. Lalu ia membelai lembut kepala gadis di sebelahnya, menariknya perlahan dan memberinya kecupan hangat seperti beberapa saat lalu.
" Sakit banget ya ? ".
" Coba aja sendiri ". Masih dengan sedikit ketus Cinta menjawab.
" Weeeh ... bisa gitu dituker, yang dapat suntikan aku saja ?. Terus yang hamil juga aku ? ".
Cinta tidak menjawab, ia melempar pandangan lurus ke arah jalan raya. Ia sendiripun kebingungan saat harus menjawab pertanyaan itu. Tapi memang traumanya dengan jarum suntik itu sudah hampir sampai pada tahap keterlaluan. Dan semua itu karena 'Duo Little Devil' yang kini sudah resmi bersenjatakan jarum suntik. Siapa lagi kalu bukan Raka dan Haidar.
" Aku akan selalu disampingmu ... saat kau harus berhadapan dengan senjata imut itu ... jarum suntik ".
Cinta menoleh ke arah Namu yang baru saja selesai berucap, tak terlihat sedikitpun nada menggoda. Ia pun menelisik lebih dalam wajah pria disampingnya. Dan di dapati senyuman lembut yang menenangkan itu.
" Janji .... ?! ", tegas Cinta.
" Aku berjanji ... akan selalu menemanimu ... mengalahkan jarum suntik itu... inssyaallah ... ".
" Beneran loh ya .... harus selalu ada di sampingku, saat melawan para jarum suntik itu ".
" Tentu saja ... karena hanya akan ada satu jarum yang tidak perlu kau kalahkan... ".
" Hah ? ... apaan sih ? ". Cinta yang kebingungan semakin kebingungan karena Namu menyungingkan segaris senyuman yang sangat aneh.
Sesaat tadi Cinta membeku dalam gulungan kebingungan, namun saat serangkum sikap dan senyuman impulsif itu tersaji, mengertilah dia apa yang dimaksud oleh pria ini. Akhir-akhir ini, pria ini ... memiliki kadar mesum dalam otak yang sedikit meluber. Dan Cinta yang mengetahui maksud semua itu, kini terperangkap dalam sikap salah tingkah dan malu...... Ya ampun Namu ... kesambet setan gatel ya?. Lihatlah wajah yang kina begitu merona itu. Kau sukses membuat calon pengantin wanita semakin berdebar-debar... memikikrkan malam pertama.
" Masih tersipu malu ... padahal kita sama-sama sudah pernah mandi bersama... udah lihat semuanya ... duluuuu.... ".
" Iiih... berisik ah. Bisa kau menyetir saja ?!. Fokus ... nggak usah kemana-mana otaknya abaaaang .... ".
" Dua minggu lagi itu masih lama ya neng ?. He.. he..he.. ".
Ish.. Cinta berdecih, tentu saja wajahnya kini semakin semerah tomat. Berbanding terbalik dengan Namu yang terkekeh bahagia.
" Doakan semua lancar ya... termasuk malam pertama. 'Kan... sudah banyak event trainingnya .. ".
" Kak ..... iih... udah deh ", Cinta terlihat gemas dan sangat malu.
" Sejak kita kecil lagi ", tapi Namu malah makin menjadi.
" Malu ah ... udah dong abang... ". Dengan sangat lihai Cinta mencubiti lengan Namu, berharap pemuda itu berhenti menggoda. Tapi pria itu tertawa-tawa senang.
" Senyum ya ... jangan stres lagi. Kita hadapi ini semua bersama ". Akhirnya Namu menghentikan tawanya dan berbicara dengan lembut. Sekilas menatap wajah Cinta yang masih bersemu merah.
Ketika kendaraan mereka harus berhenti karena nyala lampu merah trafic light, Namu menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Meraih jemari Cinta dan membawanya mendekat, lalu menyentuh lembut dengan bibirnya. Memberikan sebuah kecupan hangat.
__ADS_1
Tanpa kata ... tapi getaran itu tersampaikan dengan selaksa rasa damai. Seperti sebuah telepati yang berbisik lembut di sisi hati Cinta. Menjanjikan kehangatan dan menepis segala ragu yang sesaat lalu bersenandung merdu. Menggantikannya dengan keyakinan, seperti kilauan bintang yang cemerlang di tatap mata yang tercinta.
..................................................................................
Semua perhitungan balas dendam itu sudah dirancang dengan sangat cantik. Bahkan membuahkan sebuah kerjasama yang manis dengan sang calon ibu mertua. Sebenarnya Ardelia menjadi sering menertawakan kebodohan dan ketakutannya selama ini. Ternyata keluarga Raka-nya bukanlah seperti keluarga bangsawan dan saudagar yang dikenalnya selama ini. They are not Crazy Rich like most, they are rich people with warm hearts. Hanya saja putra mereka yang kebetulan adalah pria yang kini telah berhasil mencuri hatinya, adalah pria bandel dengan segudang sikap impulsif yang sungguh membagongkan. Hadeeeeh ....
" Telpon mami nya Ardel nggak ? ". Tanya Hana yang saat itu. Mereka berdua baru saja mengunjungi florist langganan keluarga Arsenio untuk memesan dan memastikan bunga-bunga cantik special request Cinta di acara pernikahan nanti.
" Kayak nya nggak berani sih. Mami sempet gregetan juga waktu tahu manuver liciknya bang Raka... tapi ... ya... sekarang udah nggak marah lagi kok ".
" Waduh ... sempat marah juga ya ? ", Hana terbeliak kaget, membuat seorang pegawai toko bunga itu terkaget-kaget karena mengira ibu dokter cantik ini kurang berkenan dengan kuntum bunga yang ditawarkan padanya.
" Nggak terlalu sih... tapi ya kesel juga dong ... anak gadisnya dibilang udah hamil duluan ".
" Iya juga si, wajib marah malah harusnya. Oh ya ...udah telpon lagi belum dia ? ".
Ardelia menggeleng sambil tertawa-tawa kecil. Semenjak ia mengetahui kebohongan yang di buata Raka beberapa hari yang lalu, ia memutuskan untuk memtuskan komunikasi dengan pria itu. Bekerjasama dengan ibunya sendiri dan juga ibunya Raka. Hanya satu pesan yang dikirim pada pria itu .
' Mungkin sudah saatnya ku ucapkan selamat tinggal untukmu. Aku memilih patuh pada seorang ibu yang sakit hati karena anak gadisnya di fitnah hamil di luar nikah '.
Tentu saja setelah itu panggilan telepon dari Raka datang berubi-tubi, dan dengan sengaja Ardelia mengabaikannya. Dengan perhitungan yang matang karena sebelumnya ia sudah melakukan pembicaraan dengan Hana ibunya Raka mengenai episode balas dendam ini. Memastikan jika sudah tidak ada lagi sesi ujian dan sebagainya berbagai hal yang mengharuskan Raka berada pada mode konsentrasi tinggi. Bagaimanapun Ardelia tidak mau jika acara balas dendamnya ini akan menjatuhkan kualitas sang Raka sebagai dokter spesialis bedah tulang.
Hana yang mendengar hal ini secara langsung dari Ardelia, hanya terenyum-senyum saja tanda setuju. Hatinya benar-benar diliputi kebahagiaan karena dua orang putra-putrinya kini telah melabuhkan hati pada orang yang tepat. Setelah kekhawatiran dari seorang ibu yang kemudian berpasrah dalam setangkup doa yang dilangitkan tiap hari, akhirnya ia bisa tersenyum lega sekarang.
" Kira-kira ... siapa yang akan ditelpon si badung itu selain mami kamu, Namu dan Cinta ? ".
" Pastinya tante ... tapi... apa bener-bener akan tidak menghadiri wisuda spesialis nya ? ", Ardelia berusaha menelisik.
" Hanya salah satu dari kami .... mungkin. Teralalu mepet dengan acara nya Cinta. Tante harap kau yang datang ya... satu minggu sepertinya cukup untuk membuatnya jera berbuat nakal ".
Ardelia terdiam sesaat, ia menatap wanita yang masih sibuk di sampingnya ini dengan bersikap hati-hati.
" Tante .... sebenarnya, besok aku akan ke Semarang, mengahdiri resepsi pernikahan seorang kawan. Apa ... tidak kita akhiri saja hukumannya?. Maksudku ... aku akan mampir ke Jogja juga. Ehm... kebetulan yang menikah... juga temannya Raka dan Haidar saat kuliah dulu ? ".
" Oh ya ? siapa ya ? ", Hana terlihat antusias. " Nggak apa juga sih ... kamu baik banget ya ".
" Dokter Yulia dan dokter Wisya ... ".
" Oh ... hei ... itu anaknya dokter Dipta bukan ? wah .... sudah mau nikah lagi dia. Kok kamu kenal ? ".
" Lumayan berkawan baik dengan dokter Yulia, pernah satu tempat praktek di Yogya saat dia ambil internsip. Pernah satu tim di misi kemanusian juga. Nggak nyangka juga sih kalau ternyata kawannya Raka dan Haidar. Sepertinya dunia ini begitu sempit ya ".
Ardelia terkekeh begitu juga dengan Hana. Lalu keduany kembali sibuk memilih-milih aneka bunga yang terlihat segar mewangi. Seolah-olah menenggelamkan keduanya dalam taman yang indah. Hingga tidak menyadari sama sekali kehadiran sosok menjulang dengan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh melebat disekitar memenuhi dagu dan area leher diatas jakun, melingkar hingga kedekat telinga.Terlihat sangat tangguh dengan garis rahang yang kokoh, tapi bola mata itu sedikit sayu. Dan senyuman perlahan tersungging, memancarakan kelegaan yang luar biasa.
Dia adalah Raka yang tadi terbang dengan sayap kekhawatiran mengembang dan mengepak penuh gelisah, lalu berlari menderu membelah angin. Demi mendapati sosok gadis yang beberapa hari ini mengabaikannya. Dengan perasaan berkecamuk, rasa sesal yang dalam dan juga ketakutan luar biasa ia berangkat dari Yogyakarta dengan penerbangan pertama. Meliuncur cepat menuju rumah gadis itu, lalu bersimpuh meminta ampun. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan jelita ini. Di sini .... dengan tawa nya yang manis, yang sangat dirindukannya.
' Kau tahu? .... kehilanganmu membuatku bagai raga tanpa jiwa '
__ADS_1
Rasa syukur menyusup perlahan, lalu menguasai hatinya dan ia pun melangitkan pujian untuk Sang Maha Baik. Raka masih tetap berdiri tak beranjak dari tempatnya saat ini. Mengatur nafas yang memburu karena rindu, menyusuri jelita paras yang membuat hatinya kembali hidup. Lalu ia berseru dengan hatinya
' Aku disini merindukanmu .... apakah kau tak merasakannya ? '.