
Hanya bertemu sebentar, merengkuhnya dengan hangat dan memberikan kecupan sesaat lebih lama di kening Ardelia. Berbisik mesra dan meyakinkan wanita tercinta itu bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu memintanya untuk bersabar, menunggu dirinya dua Minggu lagi
" Jangan terpancing apapun ... terutama Dracio. Trust me ... semua akan baik-baik saja. Jangan mengambil keputusan apapun, bicarakan semuanya dengan mba Cinta dan kak Namu. Mereka bersama kita.... jangan bersedih... I love you ".
Padahal dirinya sendiri yang sudah menangis menjerit-jerit dalam hati. Sementara Ardelia dalam rengkuhannya hanya terdiam, bahkan kedua tangan gadis itu terkulai di samping tubuhnya.
Saat Raka melepaskan pelukannya dan menjauhkan sedikit tubuh mereka, demi bisa melihat paras ayu Ardelia, yang didapatinya adalah dua buliran bening bergulir. Ardelia menangis, dan itu menjadi sesuatu yang sangat disesalinya.
" Kau sudah tahu ? ", tanya gadis itu pelan.
" Ya.... ".
" Jadi benar .... itu wangi mu ? ".
Ardelia tak melepaskan pandangannya, membuat Raka semakin merasakan nyata tersesat ditengah badai. Hatinya bergemuruh tak terjabarkan.
" Kau tahu ? ".
Ardelia hanya mengangguk lemah. Tapi semua itu cukup bagi Raka. Cukup memberitahu padanya dengan jelas, jika gadis ini sebenarnya telah sangat membuka hati padanya. Hingga wanginya, bisa terasa oleh Ardelia. Dan Raka tersenyum tipis, karena rasa bahagia itu tiba-tiba saja merekah.
" Aku pulang dulu ya. Ada yang harus kulakukan untuk menjegal Dracio. Besok pagi aku balik ke Semarang ... doakan agar semua berjalan lancar. Jangan takut ..... you're not alone ".
Lalu gadis itu mengangguk lemah, tapi sinar matanya menyorotkan kehangatan. Seolah-olah berbisik pada Raka..... ' aku percaya padamu dan aku menunggu mu '.
Semua hal itu membuat Raka terlihat begitu frustasi saat beranjak pergi dengan mengendarai mobil Haidar. Karena dia memang sengaja tidak membawa kendaraan sendiri.
Sementara sepupu yang juga berprofesi sama dengannya itu, nampak sangat menikmati crofel atau croissant wafel yang masih mengepul hangat menguarkan aroma manis gurih yang lezat.
" Balik lagi juga nggak pa-pa .... gwa' ikhlas koq bro'. Demi elo' .. ".
Walaupun terdengar begitu menggiurkan apa yang diusulkan Haidar, tapi jelas ! sepupu sableng ini sedang meledeknya.
" Ini crofel beneran delicioso deh... ikhlaaassss.... gwa' ngikut lo' bolak-balik ".
" Bukan saatnya bercanda ".
" Woooo... siapa yang bercanda ?. Ardelia butuh kau peluk dan kau cium lebih lama .... kau nggak liat bagaimana dia tadi... ".
" Ngomporin sekali lagi, gue tendang lo' keluar ", sambar Raka dengan cepat.
" Ya deh... gwa' makan crofel ini aja ", Haidar mencicit, mengkerut. Tapi sejurus kemudian kedua bola matanya melotot. " Enak aja !!!! .... ini gerobak gue lagi ".
Dan meledaklah tawa Raka.
" Kampret lo' ", maki Haidar sambil tersenyum-senyum. Paling tidak ia berhasil membuat sepupunya ini sedikit rileks bahkan hingga bisa tertawa lepas.
Keduanya tiba di sebuah rumah yang berhalaman lumayan luas. Beriringan dengan masuknya sebuah mobil berwarna hitam. Raka dan Haidar tahu betul siapa yang mengendarainya.
" Tepat waktu ", desis Haidar. " Kira-kira ..... sudah bocor belum ke Om Juna ya ? ".
" Entahlah .... mungkin. Ayo ".
Dan Haidar pun melompat turun mendahului Raka. Langsung disambut oleh sosok Bramastya yang menyambutnya dengan senyuman ramah.
" Weeh .... kau ikut juga ". Pria paruh baya itu menyongsong bersemangat. " Kira-kira kau nyusul kapan Dar ?. Kesalip Raka 'tuh ".
" He... he... ", Haidar nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. " Soon to be .... sudah dalam proses koq ".
" Halaaah!!!! ... kelamaan ngincer doang. Kalah cepat ditubruk orang duluan, baru tahu rasa ". Raka yang baru saja keluar dari mobil langsung menghampiri sambil menimpali.
" Mau ikutan gaya kakakmu Dar ?, tahaaaaan ngincernya ". Bramastya terkekeh-kekeh.
" Looh .... sudah tahu ya Om ? ", kali ini Raka yang menyela penasaran.
" Lah ini tadi .... sudah dapat restu dari Juna ".
__ADS_1
" Alhamdulillah ...... bentar lagi ada yang wisuda perjaka ". Spontan Haidar mengucap syukur..... dengan tengilnya.
" He... he... he... nggak nyangka ya. Jodohnya deket banget. Padahal orang tua mu sudah sangat uring-uringan ya Raka. Itulah hidup ...... seperti gambling Fortune Cookies. Oh ya .... ngomong-ngomong.... masih mau lanjut nih ? ".
" Iya Om ... maaf ". Buru-buru Raka mengiyakan.
" Okay .... ayo masuk dulu. Kalian pasti akan sangat terkejut dengan apa yang ku temukan. Dan semoga saja..... ini bisa membantu mu Raka ".
Raka menatap Haidar yang juga sedang menatap dirinya. Dua saudara sepupu itu saling melempar senyum. Lalu berjalan mengikuti langkah kaki Om Bramastya, sahabat dan juga orang kepercayaan para ayah mereka. Yang tentu saja tidak diragukan lagi kehebatannya dalam hal menyelidiki profil seseorang atau juga sebuah perusahaan. Walaupun usianya yang sudah mulai beranjak dari paruh baya, tapi pria itu tetap mengikuti perkembangan IT terbaru. Sang Begawan Teknologi Informatika, begitu julukan yang diberikan Haidar, tentu saja langsung disepakati oleh para saudara sepupunya.
.......................
Bagaimana ini ?. Padahal sebelumnya kau sudah begitu menguatkan hati untuk berbalik arah dan berlari meninggalkannya. Tapi saat dia datang menghampiri dan merengkuh mu .... kau hanya bisa terdiam. Bahkan kau menikmati harum dan hangatnya sepasang lengan serta dada bidang itu saat mendekapmu.
" Delia ... kau melamun terus dari tadi ". Suara lembut berikut tepukan di pundak, mengagetkannya.
" Oh... ", tapi dia hanya ber-oh pendek sambil menoleh sekilas.
" Kalau capek, istirahat saja. Kalau masih rindu .... telpon saja ".
" Ah mami ...". Dan Ardelia pun tersipu.
" Mami sangat suka dengan Raka. Bukan karena dia pangeran tampan dengan harta berlimpah. Tapi karena dia mau menerima kita apa adanya ".
Ardelia tersenyum mendengar penuturan itu. Jelas wanita ini sangat bersyukur mengetahui bagaimana putrinya ini telah dicintai oleh seorang pria.
" Paksaan papi mu dan juga ancaman Dracio .... tidak usah kau dengarkan. Mami sudah muak dengan mereka ".
Ardelia terkesiap, ia mengangkat wajahnya dan menatap sepasang mata sang bunda. Di kehangatan sepasang telaga bening itu, ia seolah-olah tersesat.
" Kau ... sudah cukup menahan diri. Kita... sudah cukup menerima untuk selalu disakiti. Sudah waktunya kau bahagia nak ".
Dia hanya mampu menatap menatap wanita yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya selama ini. Penuturan yang baru saja didengarnya itu, seharusnya bisa, membuat hatinya lebih lega. Tapi kini ia justru menatap tak percaya. Tapi wanita yang kini duduk di hadapannya ini justru tersenyum, menatapnya dengan lembut sambil membelai helaian rambut di kepalanya.
" Mam ...... apa yang tidak Ardel tahu selama ini ? ", hingga akhirnya ia mampu melontarkan tanya. Mewakili seluruh keterkejutan dan rasa penasarannya.
" Kau akan segera tahu nak. Tapi .... berjanjilah satu hal pada mami..... ".
" Ya... aku berjanji ". Dengan tergesa ia menegaskannya. Tentu saja membuat sang bunda tertawa seraya mencubit sayang hidung kecilnya yang menjulang.
" Berjanjilah untuk mendengarkan kata hatimu .... kau harus bahagia nak ".
Dan Ardelia pun menggenggam kedua telapak tangan wanita itu dengan lembut, mengangguk penuh keyakinan sambil tersenyum.
" Terima Raka dengan setulus dia menginginkan mu. Jangan pernah ragu untuk berjalan ke arahnya. Apapun yang akan menghadang .... kita hadapi bersama ".
" Mam ... tapi... aku.... ".
" Kau... mengira ibu mu ini benar-benar orang dengan gangguan jiwa ? ".
Ardelia tercekat, ia merasakan ada sesuatu yang besar dan mengganjal kerongkongannya. Saat ia berusaha menelan ludah, terasa sangat kering dan menyakitkan. Ia nyaris melompat mendengar penuturan itu.
" Kau pikir dokter Faizha .... benar-benar selalu memberikan obat untuk ibu mu ini ? ". Wanita ini tersenyum simpul. " Faizha .... dia sahabat ku sejak SMP. Tentu saja dia menolongku. Sandiwara ini .... hampir lima belas tahun. Lihatlah ..... seharusnya mami mu inilah yang dapat Oscar ".
" Aku ... aku ... masih tidak mengerti ", Ardelia masih terjebak dalam kebingungannya.
" Daripada mereka yang akan menjebloskan ku ke RS. Jiwa ..... lebih baik aku yang keluar dari rumah itu dengan membawa mu. Dan berpura-pura mengalami delusi. Mengecoh para benalu bodoh itu. Menunggu saat yang tepat untuk merebut semuanya kembali ".
" Mam ...... ".
Ardelia masih tetap ternganga tak percaya. Ia menatap lekat-lekat pada wanita di hadapannya. Gurat-gurat halus yang telah banyak bersemi di kedua sudut mata itu, seolah tak mampu menyembunyikan garis kecantikan yang ada. Ia sungguh tak menyangka, bahkan sampai detik ini masih menegaskan kembali apa yang sudah di dengarnya.
' Nak.... naluri seorang ibu itu begitu tajam ketika berurusan dengan keselamatan anak-anaknya. Dalam sekejap... seorang ibu dapat bertransformasi menjadi apa saja yang dibutuhkan anaknya....... '.
....................
__ADS_1
Ardelia menggigit-gigit bibirnya dengan gelisah. Sementara kedua tangannya dengan lincah memegang kendali atas kemudi mobil yang kini sedang di kendarainya. Mobil sejuta umat berwarna gelap keluaran empat atau lima tahun yang lalu. Yang membawanya menembus pagi, membelah suasana yang terlihat masih sedikit berembun dengan selapis kabut tipis sisa hujan semalam.
" Kau harus menegaskan pada Raka, katakan perasaan mu. Kasihan jika ujian akhirnya nanti tidak memuaskan karena dia kurang bisa berkonsentrasi ".
Ardelia menuruti nasehat ibunya, tapi sepertinya semesta tidak berpihak padanya semalam tadi. Handphone Raka tidak aktif, berulang kali dia menelponnya. Bahkan sampai pagi ini pun, pesan yang ia kirim belum di balas. Kemudian ia sangat mrnyesali kebodohannya yang tidak menyimpan nomor Cinta, kakaknya Raka.
Yang terngiang dalam benaknya adalah pagi ini Raka akan berangkat dengan penerbangan pertama. Sehingga iapun harus berpacu dengan sang waktu, sambil terus membuat kalkulasi waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa waktu masih bisa dikejarnya.
Pukul lima lewat dua puluh tujuh saat ini, ketika ia mulai memasuki gerbang kompleks perumahan kediaman Raka. Memory nya bekerja dengan daya tertinggi, mengingat kembali setiap sudut dan jalan yang harus dilalui. Terakhir berkunjung ke rumah pemuda ini, mungkin sekitar tiga tahun yang lalu. Perubahan yang sudah begitu banyak di sana-sini membuatnya semakin berfikir keras mengingat arah yang akan dituju.
Drrrrrrt.... drrrrt..... tiba-tiba saja telepon selular nya bergetar dan mengeluarkan suara khas jika ada panggilan masuk. Bola matanya membesar melihat nama yang tertera di layar pipih benda itu. Dengan satu gerakan cepat dan beruntun ia meraih wireless earphone, mengenakan di telinga kirinya lalu segera menjawab panggilan itu.
" Maaf ... aku mematikannya semalaman ".
" Kau dimana ? ", sambar Ardelia dengan kecepatan cahaya.
" Di rumah .... sudah mau berangkat. Kau ? ada apa ? ".
" Tunggu sebentar..... aku sedang berusaha menemukan rumah mu ".
" Kau ? ". Raka yang ada diseberang sana jelas sedang kebingungan saat ini.
" Oh ... ya aku tunggu. Kau masih ingat rumah ku kan?. Daisy Blok - B nomor 23 .... ".
" Ya... tunggu sebentar ". Tidak terdengar seperti permohonan, tapi setegas sebuah perintah. Namun saat ini Ardelia tidak ambil peduli.
Hingga akhirnya iapun familiar dengan sebuah rumah berpemandangan luas yang semarak dengan aneka kandang burung. Gerbang masuk yang dibuat menyerupai regol tradisional gerbang kerajaan, lengkap dengan sebuah pos satpam di depannya terasa sangat familiar.
" Ya mba ... selamat pagi ", sapa bapak-bapak sekuriti itu dengan ramah saat ia menurunkan kaca mobilnya.
" Maaf pak... ini benar rumahnya bapak Arjuna, putranya bernama Raka ".
" Betul.... ini mba Ardelia ", selidiki bapak itu.
" Betul pak ".
" Silahkan mba langsung saja.... mas Raka yang meminta ".
Ardelia mengangguk ramah, ia tak lagi menunda dengan memikirkan kecepatan Raka memberi tahu sekuriti di rumahnya ini. Segera ia membawa masuk kendaraan sejua umat yang dibawanya. Memilih memarkirkan si hitam itu di sisi terjauh dari tempat parkir yang sepertinya memang sudah dengan sengaja dibuat oleh si pemilik rumah ini. Lalu bergegas turun dan berjalan menyeberangi halaman yang cukup luas. Hingga akhirnya sampai di depan pintu depan rumah yang sudah dibuka lebar-lebar.
" Ardelia.... ", seru sebuah suara dari rumah itu. Nampak keluar sosok yang terlihat segar, bukan hanya karena habis mandi, tapi juga karena dagu yang licin bersih habis bersyukur.
" Aku berangkat dulu Pah. Tolong bilang pak Warto nggak jadi minta dianterin ".
Saat itulah Ardelia melihat kehadiran pria paruh baya berwajah lembut dengan kaca mata yang membuat wibawanya bertambah berkali lipat. Ia tersenyum seraya mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya dengan hormat.
" Waduh ... maafkan dia ya Delia. Jadi menyusahkan mu ".
Ardelia sesaat hanya bisa terdiam. Kalimat itu terasa begitu tulus, walaupun sangat sederhana. Belum lagi tatapan hangat dari pria paruh baya itu, sungguh membuat hatinya menghangat dan dipenuhi suara gemerinting yang sangat menenangkan.
" Tidak ... tidak apa-apa om Juna ". Akhirnya ia bisa membalas walaupun dengan sedikit terbata-bata.
" Terimakasih banyak Delia.... ". Dan telapak tangan yang lebar itu menyentuh pundaknya, lalu menepuk-nepuk lembut. " Tetap jaga kondisi ya.... jangan terlalu banyak berfikir. Harus tetep sehat ya ".
Walaupun ia sangat kebingungan, tapi yang terbaik adalah mengangguk mengiyakan. Sementara Raka yang terlihat tergesa buru-buru berpamitan dan langsung meraih kunci kontak kendaraan dari tangannya.
" Aku berangkat dulu pah ", pamit Rak.
" Saya permisi dulu Om "
" Ya .... hati-hati di jalan ". Seulas senyuman itu seperti sedang mengantarkan mereka berdua.
Dan Ardelia masih menyempatkan diri untuk kembali menoleh sambil tersenyum. Entah kenapa ia merasa sangat terharu dan bahagia dengan sikap pria paruh baya ini. Pasti beginilah rasanya disayangi oleh seorang ayah, gumam hati kecil Ardelia. Betapa beruntungnya mereka yang bisa merasakan kehangatan seperti ini.
Sebuah keluarga yang sempurna, dengan segala kekurangan yang menguntungkan. Sebuah keluarga yang penuh cinta, penuh dengan perasaan damai. Tempat terindah untuk pulang.
__ADS_1