PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Mengurai Masai, Menggenapi Janji (6)


__ADS_3

" Tidak banyak barang yang harus ku packing. Sejujurnya ..... aku merasa hal itu murni urusan kalian berdua ". Demikianlah Haidar terus berkelit menghindari ajakan Wisya untuk menemui Yulia malam ini .


" Aku malas harus menjadi perangkum adegan di kisah cinta yang sedang kalian jalani ", kilah Haidar lagi.


" Tapi aku butuh bantuan mu .... dan kau juga harus menegaskan .... perasaan mu pada Yulia ".


" Apa maksudmu ?!! jelas-jelas antara kami tidak ada perasaan apapun... ", Haidar terlihat mendelik sedikit kesal.


" Kau tidak berpikir bagaimana Yulia?? bagaimana kalau dia sebenarnya dari dulu lebih memilih mu ? ".


" Terus maksudmu ?? ... aku harus mengikuti maunya bagaimana seandainya dia memilihku ... ishh!!! kau pikir aku ini undian ? arisan ?". Kali ini Haidar benar-benar sewot.


" Ya.... bukan begitu juga sih, setidaknya .... kau juga ikut ambil peran dalam kekacauan ini .... ", Wisya terdengar memelankan suaranya, tapi ia terlihat resah.


" Hei !!!!!! .... aku sudah menyelesaikan tanggungjawab ku... semua kekacauan ini karena ketidakmampuan mu untuk jujur.... dan.... ".


" Aku tahu ", potong Wisya dengan cepat untuk kalimat Haidar yang mulai bermuatan emosi. " Tapi... aku berharap kau ada disana saat aku mengungkapkan semua ..... ".


" Jangan ulangi sifat pengecut mu ".


Baru saja Wisya hendak meloloskan kalimat protes dari mulutnya, ketika sesosok wanita menjelang paruh baya mendekat. Ia tersenyum pada awalnya, hingga kemudian terdengar tawa terkikiknya yang khas.


" Hi... hi... hi... pak dokter Wisya, jadi ke rumah Bu dokter nggak? ".


" Tuh! udah ditunggu Bu Kunti ", Haidar mendorong pundak Wisya.


" Kau tega ? ", wajah Wisya menjadi sedikit memelas.


" Sangat tega... harus tega, bergegaslah ". Dan Haidar pun mendekati Wisya serta mulai berbisik. " Kau mau kemalaman bersama cekikikan yang bisa mendatangkan ... hiiiiiiy .. ".


' Dug ' satu pukulan telak mendarat di pundak Haidar dan membuat pria itu terkekeh. Rasa nyerinya tidak seberapa, tapi ia sangat tidak bisa menahan tawa melihat wajah frustasi Wisya.


Dan semua berakhir di dalam mobil dengan celoteh dari bu Kunti yang bercerita dengan riang. Sayangnya topik yang dibahas kurang menyenangkan. Bagaimana tidak, cerita mengenai tempat-tempat angker dan aneka mitos di pulau ini mengalir dengan lancar dari mulut Bu Kunti. Membuat Wisya hanya mampu tersenyum kecut.


" Nah setelah belokan ini ada gerumbul pohon besar beringin... naaaah disitulah tempat mata airnya. Maju sedikit lagi ada gapura masuk kampung .... nanti rumah yang paling bagus, itulah rumah Bu dokter ".


Kali ini Bu Kunti tidak lagi menunjukkan tempat angker atau wingit. Wanita yang sebenarnya berpembawaaan ceria (hanya saja punya nama dan tawa yg horor.... heeem) itu terlihat lebih antusias dari Wisya.


" Saya seneng kalo' akhirnya Bu dokter bisa jadian sama pak dokter ... kasihan beliau ".


" Loh ... kenapa Bu ? ", Wisya keheranan.


" Lah iya... ku pikir pak dokter Haidar yang mau jadian ... awalnya. Eeealaaah..... malah nggak ada kemajuan. Yang suka dan ngejar-ngejar Bu dokter disini itu baaanyaaak....", kata Bu Kunti dengan gesture yang sangat hiperbola.


" Juragan Kasno... mendekati Bu dokter, pamer perahunya yang lusinan, supaya Bu Yulia kinthil.... terus anaknya pak lurah Pangat, Lurah Triyadi yang baru setahun jadi duda .... masih banyak lagi..... tapi mereka semua 'kan nggak sebanding dengan Bu dokter yang cantik dan pinter itu. Belum lagi...... ".


Bu Kunti terus saja melanjutkan ceritanya dan membuat Wisya mulai bisa tersenyum lebar. Walaupun ada sedikit rasa gundah mengiringi cemburu yang mulai menggeliat dan menambah beban rasa yang harus ditanggungnya.


" Sebenarnya ada rumah dinas di sebelah kantor, tapi Bu Yulia lebih memilih rumah kontrakan ini. Katanya sih biar bisa lebih menyatu dengan masyarakat. Pemiliknya orang baik dan ramah, namanya Bu Widodo... beliau termasuk orang terpandang disini. Putra putrinya sudah jadi orang besar semua di kota... ".


Bu Kunti tak henti bercerita, Wisya mendengarkan penuh semangat. Bahkan suara tawa cekikikan yang khas itu sudah tidak lagi membuat Wisya merinding.


" Nah, saya turun sini saja... ya.. ya ... depan itu".


Wisya menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dan terletak di pinggir jalan. Penerangan di halaman yang luas itu terlihat semarak, rupanya ada warung angkringan yang membuka gerainya di situ.


" Itu angkringan si sulung ku .... kalau sudah selesai urusannya, dan senggang... pak dokter silahkan mampir. Pak Haidar kalo pas libur juga lumayan sering nongkrong disitu "


" Ah ya Bu .... baik.... saya pasti akan mampir ".

__ADS_1


" Maju sedikit lagi... itu gapuranya sudah kelihatan. Hi.... hi... hi.... selamat berjuang pak, semoga berhasil ... hi... hi...hi....".


Wisya tersenyum membalas Bu Kunti yang nampak lebih bersemangat dari dirinya. Ia pun segera melajukan mobilnya kembali.


Rumah itu terdiri dari dua bangunan pokok dan terpisahkan oleh satu halaman besar. Seperti yang dituturkan Haidar, bangunan yang lebih kecil dan terlihat paling bagus diantara rumah-rumah lainnya. Serta lengkap deretan bunga anggrek yang tergantung mempercantik teras rumah.


Tak beberapa lama, Wisya sudah berdiri dan mengetuk pintu rumah. Tidak membutuhkan waktu yang lama, rupanya si pemilik rumah sudah menunggunya. Namun ada sedikit keterkejutan saat mengetahui hanya Wisya yang datang. Tatapan Yulia begitu kentara meminta penjelasan, karena ini tidak seperti yang mereka rencanakan.


" Haidar .... dia berubah pikiran dimenit terakhir. Katanya ....aku harus memulai pembicaraan ini ..... tanpa dirinya terlebih dahulu ".


Yulia terdiam sesaat, ia menatap Wisya dengan tatapan menyelidik. Seolah-olah berseru, ' ini bukan akal-akalan mu saja 'kan ? '.


" Kau bisa menelponnya ..... untuk meyakinkan ", Wisya dengan cepat berusaha meyakinkan.


" Tidak perlu.... ayo, kita tidak akan bicara disini ", Yulia bergegas mengunci pintu rumahnya.


Wisya hanya menurut saja pada wanita itu. Ia pun segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai berjalan sesuai arah yang ditunjukkan oleh Yulia. Hingga beberapa saat kemudian dua orang itu telah berada dipinggir pantai dan berjalan menikmati hembusan angin yang mulai dingin .


" Katakanlah ..... aku sudah memutuskan untuk mendengarkan ", Yulia mengawali pembicaraan. Ia menatap laut lepas yang terlihat kelam dengan sedikit cahaya bulan sabit.


" Ini tentang hari itu .... hari dimana menjadi awal..... aku kehilanganmu.... ".


" Hari dimana sesungguhnya .... aku yang kehilangan dan hancur ... ", seolah-olah Yulia tengah merevisi perkataan Wisya .


" Aku .... ini adalah sebuah kebenaran yang akan kusampaikan.... kejujuran yang tertunda. Yang seharusnya sudah dari dulu ku beritahukan padamu ...... sebelumnya aku minta, jangan kau sela..... biarkan ku menyelesaikan dahulu ".


Yulia tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Semilir angin yang berbaur dengan deru ombak seperti sebuah original soundtrack untuk Wisya yang kembali memulai sebuah kisah.


............


Wisya merasakan denyutan yang semakin meningkat tidak hanya di inti tubuhnya, tapi kepalanya pun ikut berdenyut. Tamparan yang cukup keras tadi dari Yulia membuatnya sedikit bisa kembali meraih tali kekang nalarnya. Tapi gadis itu kini terbaring tidak sadarkan diri akibat pukulan di tengkuk yang sengaja di lakukan Wisya untuk melumpuhkan.


Jika sebelumnya Yulia yang lebih tidak terkendali, sehingga ia merangsek mendekati Wisya dengan tatapannya yang berkabut. Lalu memaksa pria muda untuk memagut dan menciumnya lebih dalam. Saat keduanya sudah mulai terhanyut dan Wisya yang semula sedikit menahan dengan sisa kewarasannya, saat itulah Yulia menjerit. Sepertinya ia mulai mendapatkan sedikit kesadarannya kembali. Tapi terlambat, karena Wisya yang kini sudah mulai kehilangan akal sehatnya sudah tak mampu membendung hasratnya lagi.


Seperti itulah bagaimana Ikhwal tamparan keras itu mendarat di pipi Wisya, menciptakan sensasi panas dan perih. Dan entah dapat ide dari mana, Wisya lalu memutuskan melumpuhkan Yulia.


Kini Wisya terpaku menatap Yulia yang terbaring tidak sadarkan diri. Pakaiannya terbuka di sana-sini. Dan ini untuk pertama kalinya ia melihat rambut hitam yang lebat bergelombang, dia sangat cantik. Wisya menelan ludahnya, jakunnya naik turun. Begitu kentara ia kembali terjerumus oleh hasrat yang menggelegak.


Dengan kasar ia mengusap wajahnya sendiri, lalu menyelimuti tubuh gadis yang terbaring tak bergerak itu. Ketika ia akan menuju kamar mandi untuk memadamkan api gairah yang mulai berkobar di inti dirinya. Saat itulah sebuah nada dering memecah hening. Dan itu berulang-ulang hingga akhirnya senyap.


Sigap Wisya meraih benda yang menimbulkan suara itu. Telepon seluler itu bukan miliknya, itu adalah kepunyaan gadis yang kini tengah terbaring di atas ranjangnya. Ada belasan pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab, dan itu berasal dari satu nama yang sama. Membaca nama itu membuat hati Wisya meradang, ia pun dengan cepat membuka semua pesan itu. Membacanya dengan cepat dan semakin membuat hatinya meradang oleh rasa cemburu.


' Aku menunggumu di kafe Delima, apa urusanmu masih lama ? '


' Yulia, apa kau baik-baik saja? Kau dimana ? aku akan menjemputmu'


' Yulia... aku sudah di depan kos mu kau dimana ????'.


Tatapan Wisya menjadi nanar, beralih dari layar ponsel yang dipegangnya menuju tubuh diatas ranjang yang masih terbaring diam. Tadi dia dengan penuh rasa bersalah menyelimuti untuk menyembunyikan keindahan itu dari pandangannya yang menjilat liar. Tapi kini, ia membuka selubung itu dengan kasar dan membiarkan kedua matanya menelanjangi Yulia yang diam tidak berdaya, dan kedua tangannya pun kini turut andil mempercepat semua proses itu.


Tapi ia kembali termangu dalam keraguan sesaat, untuk kemudian dengan sadar menyentuh tubuh indah itu lebih intens. Menyusuri leher jenjang dan merasakan hangat serta harumnya kulit yang sedikit lembab. Meninggalkan jejak merah jingga untuk menandakan bahwa dialah yang pertama menyentuhnya. Wisya yang terbakar cemburu telah mematikan ketulusan di hatinya.


...........


Beralih pada kedua orang itu dalam dimensi waktu yang berbeda. Yulia menautkan kedua telapak tangannya yang gemetar, saat Wisya kembali menuturkan peristiwa malam itu. Ia sekuat tenaga bertahan, menggaungkan nasehat psikiater yang beberapa tahun ini rutin ditemuinya. Agar ia bertahan menghadapi sumber ketakutannya dan ia akan bisa bangkit sepenuhnya dari kisah mengerikan itu.


" Kau membawaku kemari hanya untuk menyayat hatiku lagi dengan semua kenangan buruk itu ? ".


" Apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi saat kau tidak sadarkan diri ? ", Wisya berbalik bertanya.

__ADS_1


Yulia masih dengan tatapan tajam menikam, kini menguliti Wisya dengan rasa penasaran yang tajam. Ada sebuah degupan berirama penuh harapan yang tiba-tiba saja menciptakan ritme tersendiri dari kalbunya. Wanita itu menggeleng perlahan.


" Aku tidak pernah merenggut mahkota mu .... aku tidak sanggup melakukannya. Lebih tepatnya ... keadaan saat mendukung ku ... untuk tetap bisa menjaga kehormatan mu ".


Mungkin itu hanya sebuah kalimat yang terucapkan dengan perlahan. Tapi sangat cukup menyengat Yulia. Ia menegakkan berdirinya, dan tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari pria berjambang dengan garis rahang yang sempurna.


" Bagaimana mungkin ? ... tubuh ku penuh dengan jejak kebrutalan mu ", Yulia setengah membentak. Ia bahkan memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.


" Semesta berpihak padamu .... aku yang sangat cemburu, memang pada saat itu hanya berpikir untuk mengelabui mu. Meninggalkan jejak percintaan di seluruh bagian intim tubuh mu. Dan saat aku melakukannya ..... Anelis tiba-tiba datang menyeruak ".


" Anelis ?? ".


" Kau ingat jus mangga yang kau habiskan itu ? ... ah ya aku hanya meminumnya setengah. Itu Anelis yang membawakan dan dia .... telah menaruh obat perangsang di dalamnya ".


Perkataan Wisya itu memutar memori dengan kecepatan dua kali lebih lambat, memberi kesempatan pada Yulia untuk lebih detail mengeja kembali semua ingatan itu.


" Apa yang kau lakukan sebelumnya pada ku..... ehm! .... kau yang terlebih dahulu memancing perasaan pria ku ... kau ingat ?... kau yang.... ".


" Tidak usah kau rinci.... ", Yulia buru-buru mencegah Wisya yang akan kembali mendeskripsikan awal kisah percintaan miris itu. " Aku ... mengingatnya ", kata Yulia kemudian dengan perasaan jijik yang begitu kentara


" Jadi sebenarnya Anelis menungu beberapa saat untuk kembali lagi. Memberikan waktu padaku untuk minum jus itu. Maka dia akan menemui ku lagi ...... pada saat aku sudah sangat terpengaruh oleh obat itu. Bisa kau bayangkan jika aku yang meminum habis seluruh jus itu....... tentu aku akan sangat brutal, dan tidak terkendali ... ".


" Kau bohong... !!!! "


" Demi Tuhan aku mengatakan yang sesungguhnya ".


Wisya menggeser berdirinya, mendekat pada Yulia, perlahan ia pun beringsut dan mengambil posisi dihadapan wanita itu. Kini dua orang itu berhadapan dan saling tatap.


" Aku licik... ya!, ku akui. Karena aku sangat cemburu dan benci pada Haidar. Membuat seluruh jejak percintaan di tubuh mu ...... sengaja ku lakukan agar kau tidak lari dariku ... dan meminta ku bertanggungjawab ".


" Tapi kau ..... kenapa kemudian kau menikah dengan Anelis ? ".


Wisya terperanjat, ternyata Yulia sudah mengetahui hal itu. Tapi sejurus kemudian ia tersenyum tipis. Bukankah apa yang sudah diketahui Yulia ini cukup mengurangi bebannya ?.


" Syukurlah kau sudah tahu ", tampak kelegaan menaungi wajah Wisya. " Pernikahan itu tanpa cinta dan di bawah ancaman ..... aku sudah bercerai dengannya. Hanya butuh waktu delapan bulan saja untuk melenyapkannya ".


" Ma-maksudmu .... melenyapkannya ? ", Yulia tergeragap. Sesuatu yang mengerikan terlintas dalam benaknya.


" Ha... ha.. ha... kau pikir aku pasti seorang pembunuh berdarah dingin ya ".


Pria yang kini semakin mendekat pada dirinya terlihat sedikit lebih rileks dari sebelumnya. Namun Yulia tetap waspada, ia bahkan segera menegakkan kembali berdirinya. Tapi tawa renyah pria ini membuatnya menjadi sedikit kesal.


" Bisa jadi !!! .... kau kan sangat licik dan culas. Jika kau tega menyiksaku dengan semua tipuan itu..... bagaimana kau tidak tega ?? .... untuk membunuh Anelis ??? ".


..............................


...Author Corner...


Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial


IG : @renitawei_


FB : Reni Yusnita


Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.


Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.


@renita_wei

__ADS_1


__ADS_2