
Sore itu Haidar pulang bersama kakaknya, dia memang sengaja tidak membawa mobil sendiri tadi. Kini pemuda itu beralih duduk dibelakang kemudi, sementara Namu nampak santai menikmati sore di kursi sebelah. Masih tetap saling bercerita. Seolah stok bahan pembicaraan itu menumpuk berlusin-lusin sehingga mereka tidak kehabisan . Dari membicarakan bisnis dan perusahaan, keadaan politik negeri ini, kehidupan asmara mereka, juga cerita tentang keluarga. Hal yang selalu mereka bagi bersama bahagia dan juga sedih. Sungguh hubungan keluarga yang sangat manis.
Dari sini terlihat bagaimana kedua orang tua mereka berhasil menanamkan nilai-nilai kasih sayang. Membuat dua pria bersaudara yang hanya disatukan oleh rasa itu tak terpungkiri terlihat saling bergantung sama lain. Begitulah keberhasilan Orlin dan Mandala dalam mendidik putra-putrinya, bagaimana untuk bertanggungjawab, bagaimana memperlakukan sesama mahluk dan bagaimana menghargai cinta itu sendiri.
" Sekarang Om Teddy bagaimana ? .... aku dengar dari mama katanya mau berobat ke Jerman ".
" Om Teddy menolak .... dua hari yang lalu Hyoriin menelpon dan kondisinya makin membaik. Kemoterapi dan sederet pengobatan lain bisa dilakukan lagi karena kondisi yang makin sehat itu..... sepertinya sugesti untuk bisa melihat cucu membuat beliau menjadi lebih bersemangat melawan penyakitnya ".
" Waaaah..... syukurlah . Padahal ... menurut mu pernikahan Hyoriin dengan Lee itu hanya pernikahan pengganti awalnya ".
" Iya..... tapi siapa yang tahu bagaimana hati seorang manusia. Kalau Lee sih jelas, dia sangat mencintai Hyoriin sejak mereka remaja .... ".
" Dan Hyoriin ... ", Haidar menyela cepat. " Wanita yang baik ... tentu tidak akan mengingkari tugas utamanya sebagai seorang istri.... termasuk melayani suaminya ".
" Ya..... tapi menurut Lee... dia menunggu satu Minggu lebih untuk hak dan kewajiban itu... he..he..he... kau tahu ... aku orang pertama yang dikabarinya setelah ritual buka segel itu ", Namu terkekeh-kekeh. Ia teringat bagaimana pada suatu siang mendapatkan Lee menelponnya dengan suara yang sangat riang. Mengabarkan sesuatu hal yang membuat jiwa pria Namu bergolak dan secara otomatis langsung membayangkan sosok Cinta.
" Oh.... ternyata masih dapat yang bersegel .... eh' maaf .... secara itu Korsel begitu loh..... ", tukas Haidar.
" Ya ... menurut Lee sih begitu .... dan ia tidak mungkin bohong .... tidak melihat ekspresinya saja, aku bisa tahu betapa bahagianya dia .... seperti mendapat mahkota ".
" Syukurlah .... berarti om Teddy termasuk sukses menanamkan norma luhur pada putrinya ".
" Iya ya..... tapi sepertinya sekarang .... akan semakin sulit mendapatkan seorang wanita yang benar-benar masih seorang gadis. Kemajuan jaman yang tidak diiringi dengan terjaganya nilai luhur itu..... membuat beberapa gelintir wanita begitu abai dengan hal itu ".
" Tapi kak .... menurut ku itu juga bagaimana para pria saat ini juga tidak terlalu ambil pusing dengan virginitas ".
" Iya juga sih..... ".
" Kak ... ".
" Ya..... ".
" Kau sendiri bagaimana ? ..... sudah pernah merasakan hal itu ? .... maksud ku .... safe **** ... mungkin ? ".
Namu tersenyum ironis, ia melirik adiknya. " Bagaimana menurut mu ? ... kau sendiri ? " .
" Aku tidak tahu.... makanya aku bertanya ", Haidar berkelit dari boomerang pertanyaan Kakaknya.
" Banyak sekali jebakan untuk melakukan hal itu.... Alhamdulillah aku bisa menghindarinya. Tapi..... godaan terbesar sesungguhnya saat kita sudah mencintai seorang wanita. Terkadang ... kita sendirilah bahaya terbesar untuk wanita tercinta itu "
" Maksudnya .... kau nyaris ... merenggutnya dari calon kakak ipar itu ? ".
" Seandainya ..... dia tidak mempunyai kontrol dan pertahanan yang luar biasa.... pasti kami sudah melakukan dosa itu ".
" Waaaaah ... ", Haidar melongo menatap kakaknya tidak percaya.
Bagaimanapun Namu adalah seorang pria dewasa berusia dua puluh sembilan tahun, yang punya hasrat dan kebutuhan biologis. Tentu saja ruang, waktu dan suasana yang tepat menjadi kombinasi sempurna untuk membebaskan sang nafsu. Apalagi wanita yang dicintai kakaknya itu juga pasti tidak menolak manakala diajak untuk bersentuhan lebih intens. Hal itu tentu semakin menyeret lebih dekat keduanya ke pinggir jurang gelora asmara. Sungguh berbahaya..... desis Haidar.
" Hei !!!!!!! ..... tidak usah kau bayangkan ", Namu sedikit menghardik.
" He ... he... he... kalau begitu segera kau lamar dan kau nikahi dia. Daripada ..... seperti ini... setiap saat berhadapan dengan nafsumu sendiri ".
" Tidak semudah itu.... keluarganya .... ", Namu menggantungkan kalimatnya pada pancang keraguan.
" Anak sultan mana sih ?.... ayahnya pejabat tinggi negeri ini ? ... kenapa kau terlihat begitu tidak percaya diri ".
" Dia ....... lebih dari hal itu. Dia .... aaahh.... jangan paksa aku dong, susah mengatakannya ", jawab Namu dengan frustasi.
" Baiklah ...... kalau kau belum siap mengungkapkan si misterius tercinta itu. Padahal .... mungkin aku bisa sedikit membantu mu jika tahu siapa dia ", Haidar menyayangkan sikap kakaknya.
" Aku pasti akan segera butuh bantuan mu .... hei... kau bilang mau ke sop kaki kambing .... ". Namu berseru ketika mereka melewati warung tenda bertuliskan 'Sop Kambing - Pak Bendot'.
" Mama hari ini khusus bikin nasi liwet Solo dengan sambel goreng krecek dan ayam kampung .... kau mau melewatkannya ? ".
" Oh... ya hayuuuk... kau tidak bilang tadi. Darimana kau tahu ? ".
" Aku yang nganterin belanja tadi pagi-pagi.... kau sih joging ... biar seksi ya.... ". Haidar mengoda kakaknya sambil mengedipkan mata dengan jenaka.
" Joging itu biar sehat .... kalau jadi seksi itu bonus tambahan ", balas Namu dengan seringai tak kalah usil.
__ADS_1
" Kalau aku sih .... sudah seksi dari lahir ".
" Tetep saja .... six pack mu itu akan jadi one two pack kalau tidak kau jaga sendiri. Apalagi sekarang kau akan lebih banyak di rumah. Bisa tahan kau sama godaan masakan mama ? ".
" He... he... he... iya juga sih ya ", Haidar kembali nyengir. " Kak... ".
" Hemm... ".
" Kau heran tidak dengan papa ?. Dia setiap hari makan enak... olahraga juga nggak begitu kelihatan kapan, ... paling joging atau sepeda rutin di pagi hari... tapi usia enam puluh tahun kok badannya masih bagus ya ? ".
" Harusnya kau yang lebih tahu dek'... kau ini kan' dokter. Malah tanya aku ... gimana sih ".
" Iya sih... ada satu hal yang menjadi hipotesa ku ".
" Hem ... jangan bilang kalau papa minum obat atau ramuan diet ".
" Ish.... bukan 'lah... tapi ... ", Haidar sengaja menarik ulur kalimatnya hingga membuat Namu melotot saking penasarannya.
" Apa ?!!!! ... ", akhirnya Namu pun terlihat tidak sabaran.
" Mungkin karena mereka rajin melakukan 'nya' ". Dengan sengaja Haidar memberikan penekanan pada kata 'nya' seiring dengan seringai usil yang kian menjadi.
Dan kening Namu berkerut semakin menjadi. Ia menatap bingung pada adiknya yang masih asyik menyetir dengan tetap tersenyum-senyum tengil. Tahu 'kan mirip siapa senyum usil dan ketengilan Haidar, ya... menurun dari ayahnya sang bossmand. Walaupun ia mewarisi sepasang mata teduh ibunya, tapi kalau sudah urusan tengil dan usil, tentu saja gen Mr. Mandala terlalu kuat dan dominan untuk bisa dikalahkan.
" Apaan sih.... jangan bikin orang penasaran dong ", Namu mulai kesal dengan tingkah asiknya.
" Nya' itu.... ya ... melakukan rutin hubungan seksual dengan penuh cinta dan kasih sayang ".
" Pffft.... hua..ha..ha..ha.. parah lo' !!! adik setan !! .. anak kurang ajar !!! ".
" Loh ?!!!! ".
" Kampret mesum... bro' bisa-bisanya kau berpikir seperti itu ".
" Hei kak !!! .... ayah kita itu .... si pak boss yang ganteng itu, tidak dipungkiri ... berlibido tinggi. Dan mamah kita yang cantik dan lembut itu... waaah ... dia sih seorang bidadari ... pasti nggak akan menolak permintaan suaminya dong ... ".
Masih dengan sisa tawanya, Namu pun akhirnya mengangguk-angguk menyepakati hipotesa sang adik. Dalam keseharian kedua orangtuanya memang tidak pernah menutupi kemesraan. Semenjak mereka masih kanak-kanak hingga dewasa, pemandangan mesra dan penuh cinta yang ditujukan dari cara saling memperlakukan yang ditujukan oleh kedua orangtuanya adalah hal yang sudah sangat biasa. Sehingga jika keduanya sedang ada masalah dan saling menghindari akan langsung ketahuan. Papanya memang selalu mesra dan diimbangi oleh sikap mamanya yang sangat perhatian. Jadi apa yang dikatakan Haidar tadi ada benarnya juga.
" Juga keseksian seorang pria .... liat papa... masih terlihat menggemaskan ... pantatnya padat berisi ... ha... ha.. ha.. ".
Namu pun ikut tertawa mendengar penuturan Haidar. " Eh... ini para malaikat pasti gedeg' bener liat kita ya.... para anak kurang ajar "
" Biarin aja... Tuhan 'kan maha pemaaf ".
" Kak... kau berani tanya hal ini sama papa ? ", tanya Haidar tiba-tiba.
" Maksud lo' ??... aaah... nggak deh... cari mati. Bisa-bisa papa langsung menyeret ku ke KUA dan menikahkan ku dengan salah satu anak temennya. Anak ku begitu merana ... karena nggak laku-laku .... begitu pikirnya ". Namu dengan kocaknya bergidik, sementara Haidar semakin tergelak-gelak. " Kau berani memangnya ??? ".
" Ya berani lah ... ", penuh percaya diri Haidar mengucapkannya. " Aku akan memulai pembicaraan seperti ini.... Waah... sepertinya papahku yang ganteng ini punya bendungan hormon oksitosin. Tapi ngomonnya pas jangan ada mamah. Terus papah balik tanya ... hormon oksitosin? apaan itu. Nah... aku jawab: itu loooh salah satu hormon kebahagiaan. Selain Dopamin si hormon bahagia dan perasaan baik dengan sensasi yang menyenangkan . Juga Serotonin si hormon yang membantu mengatur suasana hati serta tidur, nafsu makan, pencernaan, kemampuan belajar, dan memori. Ada juga Oksitosin atau yang sering disebut hormon cinta. Dan kelihatan sekali loh pah... kalau si oksitosin ini baru saja membanjiri otak papa... he.. he.. he.. ".
" Bocah gendeng ... !!!! kira-kira ekspresi papa gimana ? ". Namu pun akhirnya tambah penasaran, dengan masih tertawa kecil nampak sekali ia penasaran dengan hipotesa adik jeniusnya ini.
" Sebelum papa melotot dan menikamku dengan tatapan setajam belati saljunya, aku akan bilang. Makanya papah tetep terlihat bugar dan awet muda.... rutin ya pah sekresi hormon oksitosinnya ?. Gitu .... ".
" Memang .... hormon oksitosin itu keluarnya kapan sih ? ".
Pertanyaan Namu yang begitu polos bagi seseorang yang berprofesi sebagai seorang dokter seperti Haidar, langsung membuat pemuda itu termangu kehabisan kata-kata. Ia menatap wajah kakaknya yang tampak begitu lugu. Lalu dengan gerakan lucu ia menepuk jidatnya sendiri.
" Alhamdulillah .... terberkatilah engkau wahai jejak ting-ting yang ganteng .... ".
" Hah ?!!!! ", Namu tambah terbengong-bengong mendapati ekspresi adiknya.
" Oksitosin akan membanjiri otakmu saat kau merasa percaya diri, berkuasa atas cinta, nikmat oleh sentuhan dan pelukan ..... saat kau terpuaskan dalam berhubungan intim .... orgasme beibeh .... ".
Dan Namu pun semakin terbengong-bengong. Sepertinya ia begitu takjub dengan tingginya derajat ketengilan sang adik. Dan sebuah tinju pun melayang tepat di pundak Haidar.
" Jangan-jangan .... otakmu itu sudah cukup sering terbanjiri oleh oksitosin ".
" Sssh ... aduuuh ", Haidar meringis lebih karena kaget saat menerima tinju itu. " Nggak laaah .... aku masih menjaga perkutut ini agar tetap originil.... murni terjaga hingga saatnya. Kau tahu.... aku bahkan belum pernah berciuman. Jadi ku ucapkan selamat .... karena kau sudah merasakannya ".
__ADS_1
" Terbebani tau' .... setelah merasakan kelembutan itu. Terkadang ingatan akan manisnya dan juga lembut serta wanginya datang menyeruak dengan tidak tau diri..... dan itu membangunkan perkutut tanpa kompromi. Bayangkan itu terjadi saat kau sedang memimpin rapat ..... ".
" Hah ?!!!! .... ha.. ha.. ha ", Haidar tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. " Aku tahu sekarang .... pasti gadis itu kerja di kantor kita .... ".
Deg! .. deg!.. deg! ... dan jantung Namu berdebar lebih kuat dengan ritme yang justru menurun. Ia segera membungkam mulutnya, takut spontan membuka petunjuk tentang cinta yang masih dirahasiakannya.
" Benar'kan kak.... hei.. ".
" Kan' aku sudah bilang tunggu .... aku akan memberitahu mu saat waktunya sudah tepat ".
Mobil yang dikendarai oleh Haidar tak terasa telah sampai tempat tujuan. Namu pun segera melompat turun, tentu saja untuk menghindari cecaran si adik tengil ini.
" Bro'.... remember.... keep it, just for Us ". Namu memperingatkan kembali adiknya.
" Amaaan.... tapi tentu saja dengan harga yang sepadan .. he... he... ".
Haidar terkekeh seraya melompat meraih pundak kakaknya yang telah terlebih dahulu melangkah meninggalkan garasi dan menuju rumah besar itu. Jika dua puluh tahun yang lalu Namu yang menggandeng tangannya, kini Haidar yang beberapa senti lebih tinggi tampak lebih luwes merangkulkan lengan di pundak kakaknya. Jika dulu Namu menggandengnya penuh dengan kehati-hatian karena ia sangat bertanggungjawab pada adik kecilnya. Kini Haidar merangkulnya dengan tawa usil menggoda. Yang tidak berubah hanya satu, keduanya tetap saling menyayangi. Karena kau adalah saudara ku tercinta, begitulah yang berdengung di hati mereka.
" Kau sudah telpon Raka ? ", tanya Namu.
" Sudah ... tapi sepertinya kesibukan sebagai residen bedah membuat tangannya kebas mengangkat telpon ku ".
" He... he... he... bisa jadi kau yang menelpon disaat yang salah . Saat dia sedang 'bermain' ". Namu tersenyum ironi penuh arti.
" Aku akan telpon lagi nanti ..... bocah itu... kapan insyafnya ".
...................
Sementara itu, berjarak ratusan kilometer dari tempat Namu dan Haidar membicarakan seorang pria. Di sebuah bangunan yang luas dan diramaikan dengan suara gedebag-gedebug, tampak seorang gadis berjalan dengan memperlihatkan wajahnya yang nampak kesal. Kekesalan itu ditujukan pada seorang pria muda yang tampak tak peduli dengan suara deringan nada panggil yang meraung-raung dari telepon selularnya.
" Hei.... itu ibu mu. Kenapa tidak kau angkat teleponnya dan bicara baik-baik ... ".
Tapi pria muda itu tetap tak bergeming. Satu-satunya yang tetap dilakukan adalah mengarahkan tinjunya secara konstan pada sansak yang tampak bergerak mengikuti irama pukulannya. Lelehan keringat yang membanjir menuruni leher, menciptakan keindahan yang maskulin. Tapi dia tetap tidak menginginkan seruan sahabatnya.
" Rakaaaaa !!!!! ..... Tante Hana menelpon berulang kali. Dan itu pasti penting ".
" Kenapa kau tidak bantu menjawab ? ".
Akhirnya Raka menghentikan aktivitasnya, mendekati gadis cantik yang menyodorkan telepon selular nya. Meraih benda itu, tapi hanya sebuah kamuflase. Ia meraih pergelangan tangan gadis ini dan membuatnya terperangkap dalam pelukannya.
" Lepaskan !!!! ", sentak gadis itu berusaha membebaskan diri.
" Kenapa ? ", dan Raka menyeringai dengan usil. Ia sangat menikmati menggoda satu-satunya wanita yang begitu acuh dengannya, Delia. " Wanita-wanita di luar sana mereka rela melakukan apapun untuk sekedar berkencan dengan ku ".
" Jangan samakan aku dengan mereka ..... wahai tuan playboy Narendra Raka Dipa ".
Gadis itu bernama Ardelia Asmara Sani, ia menahan dada pria dihadapannya dengan kedua tangannya yang terkepal. Pria yang sebenarnya tampan dan mempesona, tapi juga satu-satunya pria yang setengah mati di hindarinya.
" Kau .... harusnya bersyukur !!!!! ". Delia menyentakkan kedua kepalan tangannya. " Ada seorang ibu yang mengkhawatirkan mu .... Ada keluarga yang menanti kepulangan mu ".
Dan Raka menangkap kedua pergelangan tangan itu, membiarkan telepon selularnya jatuh ke lantai karena terlepas dari genggaman. Sementara ia semakin menarik gadis itu merapat ke dadanya dan menyelami kedua bola mata yang berkerjap dengan resah itu.
" Kau menginginkan keluarga yang seperti itu ?. Aku akan membuatkannya untuk mu ". Namun kalimat itu terdengar penuh ironis yang menyayat.
Aku menepi dari kenyataan
Berulang kali menoleh kebelakang
Seperti mencari jejak ku sendiri
Yang telah tertutupi oleh onak dan duri
Satu tanya yang selalu bergaung
Bagaimana nanti aku akan pulang
...🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛...
...Author Corner...
__ADS_1
Putri Anggrek Bulan..... temukan kisahnya di BIDADARI BIRU Very Spesial Episode yang akan terbit di tanggal 10-20 Mei. Sebagai hadiah untuk kerinduan para OrMan Lovers........ diperpanjang