
Menyenangkan bukan mendengar segala sesuatu tentang seseorang yang kau rindu, langsung dari orang-orang terdekatnya. Melihat wajah-wajah mereka yang berbinar karena bias rasa rindu dan rasa sayang, sepertinya engkau berada dalam satu pusaran rasa yang sama. Bahkan kau seperti melihat kelebatnya dengan rambut ekor kuda yang manis.
Namu berkali-kali tersenyum kecil, sesekali ia juga tertawa berderai manakala Narila bercerita tentang betapa bersemangat dan lugu si adik kecilnya. Gadis yang masih menjadi topik pembicaraan adalah si cantik berkulit seputih pualam dengan sinar mata yang berbinar penuh semangat. Gadis mungil yang sangat menyukai anggrek bulan di taman milik mamanya.
" Tante Orlin ... boleh Nia minta anggrek yang ini ". Dan sepasang mata jernih yang itu menatap penuh permohonannya, begitu lucu seperti seorang anak kucing yang manis.
" Janji akan merawatnya dengan baik ".
" Ya Tante ... Nania janji. Anggrek yang ini cantik sekali, persis Tante Orlin ".
" Oouh... ini malah seperti Nania ... menurut Tante. Putih ... bersih.. terlihat berkilau dibawah sinar matahari ... persis Nania ....".
" Benarkah ??? ", dan sepasang mata jeli' itu berbinar dengan kerap malu yang manis. " Tapi Tante Lin itu sangaaat cantik ... dan baik ... seperti seluruh bunga ini ".
Aah....gadis kecil yang sangat istimewa. Disaat teman sebaya sibuk bermain boneka, ia justru lebih tertarik dengan koleksi tanaman anggrek di halaman samping. Ngobrol panjang lebar dengan mamanya tentang bagaimana cara menanam dan merawat bunga tropis itu.
" Kakak... Tante Orlin ada ? ", sapa remaja yang begitu manis dengan gaun selutut berpotongan sederhana berwarna hijau pastel.
Kedua tangannya memeluk sebuah kotak kardus yang terbuka dibagian atas. Dari sana menyembul kelopak berbentuk lingkaran tidak sempurna berwarna putih. Ia tersenyum memperlihatkan sebaris giginya yang putih bersih.
" Tante' ... lihat anggrekku juga sudah berbunga. Sudah kupencar-pencar juga. Ini yang paling cantik ... buat Tante. Oh ya ... ini yang menurut Nia paling cocok buat Tante .... Anggrek Dendrobium Bidadari Biru... cantik ya ".
" Aduuuh ... buat Tante nih ? ".
" Iya dooong .... hadiah spesial buat Tante 'Lin. Selamat ulang tahun ya Tante Bidadari Biru ... ".
Dan lihatlah betapa manisnya si gadis remaja itu bersikap pada mamanya. Yang pasti, ia sudah berhasil tidak hanya mencuri hati mamanya, tapi juga mencuri hatinya.
" Wah ....Tante Bidadari Biru ya... kalau gitu Nania putri anggrek bulan dong ".
Tepat !!... sempurna, ya ... gadis berkulit seputih pualam itu adalah jelmaan putri anggrek bulan.
" Setiap telpon, selalu menanyakan anak-anaknya... yaa... koleksi anggreknya. Dia benar-benar sayang dengan tanaman itu. Kalau koleksi anggrek bu Orlin pasti tambah banyak juga ya nak ... ".
" Iya sih... tapi sepertinya selalu kurang. Masih 'hunting terus tiada henti ".
" Namanya juga udah hobi yang mendarah daging, nggak bisa dilawan ".
Haidar tertawa mendengar selorohan Bu Firman. Ia teringat perdebatan yang selalu terjadi antara papa mamanya setiap kali akan memborong aneka tanaman itu. Yang pastinya akan selalu dimenangkan oleh sang mama.
" Memelihara tanaman itu ... bisa juga menjadi obat untuk jiwa yang terluka ". Kalimat Bu Firman terdengar sendu
Haidar menatap Bu Firman yang tiba-tiba terlihat sayu. Saat menyadari jika pemuda dihadapannya menatap dalam penuh rasa ingin tahu, perempuan setengah baya itu buru-buru tersenyum. Ia mengibaskan tangannya perlahan seolah-olah sedang mengusir bayangan buruk yang melintas.
" Ya... maksud ibu, menatap bunga dan dedaunan yang segar dan cantik ... pasti hati merasa lebih tenang bukan? ".
" Iya Bu , betul. Apalagi ditambah suara burung yang bersiul riang ya ", Haidar menambahkan.
" Ya... benar sekali ... ha.. ha.. ha... ".
Tapi tawa Bu Firman ditelinga Haidar terdengar sedikit sumbang. Ada luka dan perih yang sesaat terasa, walaupun sangat tipis dan samar. Hingga sebuah senyuman dari bibir wanita ini menyadarkannya tentang satu hal, ada yang telah terjadi dan itu menggoreskan luka. Tiba-tiba saja Haidar menjadi khawatir, ini pasti tentang putri anggrek bulannya.
" Mas Haidar mau berangkat kapan ke Jerman ?. Kalau nitip oleh-oleh buat Nania bisa ? ". Narila datang menghampiri dan terlihat sudah selesai dengan semua urusan dapur kantin.
" Bisa dong mba ... tiga-empat hari sebelum berangkat, aku kabari mba deh. Biar bisa siap-siap ".
" Wah ... jadi ngerepotin nih. Bener nggak pa-pa bawain sambel kacang ? ". Bu Firman menyela.
" Sambel kacang ini.... nggak se_kontainer ' kan Bu ? ".
" Nggak sih....tapi plus terasi dan ikan asin ".
" Ha... ha... ha... ", Haidar spontan tertawa. " Its okay ... nggak masalah " .
Dan senja itu Haidar pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Setelah sebelumnya terlebih dahulu dengan setengah memaksa mengantarkan Bu Firman pulang. Yang tentu saja membuat Narila merasa sedikit sungkan karena telah merepotkan.
" Woleeees mba... malam Minggu ini. Katanya mba juga keburu ditungguin anak-anak ".
" Justru karena malam Minggu .... mas Haidar nggak ngapel ? ".
" Ha... ha... ha... masih jomblo mba ". Haidar terbahak, garing asli.
" Laaah seganteng ini masih jomblo.... ada yang ditunggu pasti ini ". Ternyata Bu Firman pun bisa menggoda.
" Iya nih Bu.... doa'in ya ... moga-moga berjodoh ". Permintaan yang tulus dari Haidar. Seperti seorang ksatria yang melepaskan busurnya tepat di jantung sasaran.
" Iya ibu doa'kan... semoga berjodoh dengan gadis itu. Semoga segera didekatkan ... ".
" Aamiin.... ya robbal 'alamiin ".
Sangat tulus doa itu telantun, dan Haidar pun mengaminkan tidak hanya di bibirnya. Hatinya menyerukan dan menggemakan harapan yang sama. Ia tersenyum tipis, menyiratkan rasa percaya yang tiba-tiba membuncah hingga level tertinggi. Karena ia telah mendapatkan doa dari yang paling didengar doanya.... seorang ibu.
Seolah semesta dan segala isinya berpihak pada seorang Haidar yang kini dengan perasaan senang dan hati riang menembus senja yang mulai merayap. Senyuman tak pupus dari bibirnya, padahal lalulintas lumayan padat menghadang di depannya. Tapi ia terlihat sangat menikmati, menorehkan senyum sambil tetap memegang kendali pickup truck Navara nya.
" Drrtt... ", dan benda itu bergetar menandakan panggilan masuk.
" Halo Tante ... ", sapanya pada sang pemanggil.
__ADS_1
" Tante nyusul papa mama mu ke Lembang... kasih tau' mba mu ya. Handphone nya nggak aktif... tadi dia pamit mau ke rumah mu... goes dia ". Suara Hana, tantenya di seberang sana.
" Ini aku masih di jalan Tante... ya nanti aku sampaikan ".
" Ma'kasih ya Haidar ... udah dulu ya ".
Telepon itu berakhir bertepatan dengan suara adzan berkumandang bersahutan. Sementara di hadapan Haidar, kepadatan jalan seolah tak ada niat untuk terurai. Akhirnya pemuda itupun memutuskan untuk berbelok ke sebuah masjid yang berada di sisi jalan, tanpa ia harus menyeberang. Tentu saja menyegerakan ibadah shalat di waktu yang tersempit itu paling utama.
Masjid yang lumayan besar, bersih dan menyenangkan terutama dengan barisan anak-anak yang sepertinya berasal dari kampung-kampung dekat sini, dengan tekun melanjutkan mengaji setelah jamaah shalat Maghrib. Lingkungan yang menyenangkan, dan putri anggrek bulannya tumbuh serta besar di suasana yang seperti ini. Membayangkannya saja membuat Haidar tersenyum-senyum sendiri.
" Tante Lin... ayahku... orangnya bagaimana sih? bunda ceritanya sepotong-sepotong ..... ".
Suara manja gadis kecil yang punya hobi sama dengan mamanya itu terngiang-ngiang. Dua orang beda generasi itu, entah mengapa bisa begitu 'klik' saat ngobrol sambil merawat aneka anggrek. Membuat Haidar akhirnya terbiasa mencuri dengar pembicaraan mereka.
" Ada Om-om yang datang ke rumah .... tapi bunda nggak pernah mau menemui. Terus om-om nya marah-marah .... katanya .... bunda pemimpi... katanya ... bunda bodoh ".
Dan gadis kecil itu selalu bisa begitu terbuka dengan mama nya. Menceritakan ketakutannya, kekhawatirannya dan juga rasa cintanya yang sangat mendalam pada sang bunda.
" Tante .... aku mau sekolah jadi koki saja. Biarin juga orang ngomong apa... jadi koki 'kan juga bisa sukses ".
Begitulah remaja Nania bercerita pada mamanya. Dan setelah saat itu..... Haidar beberapa tahun tidak bertemu dengan gadis itu lagi. Kesibukannya yang sudah masuk di fakultas kedokteran umum, lalu dokter koas, dokter internship dan lanjut spesialis benar-benar telah membuatnya kehilangan gadis berkulit seputih pualam itu. Tapi sebentar lagi, ia akan bisa bertemu dengan si cantik itu. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Haidar tak mampu lagi menahan senyuman.
......................
" Tante dan Om nyusul papa mama ke Lembang. Kamu sendirian di rumah dong ".
" Tahu dari mana ? ".
" Nih.. Haidar WA . Hape' mu kenapa? ... Tante Hana telpon dari tadi nggak bisa ".
Cinta terperanjat, ia buru-buru melihat telepon selularnya. Melihat gambar pesawat terbang kecil di sudut atas layar benda itu, membuat gadis itu tertawa-tawa.
" Aku mode' pesawat ..... lupa ". Gara-gara Cinta menghindari telepon berulang dari salah satu teman kuliahnya dulu saat di Leiden University.
" Huuuh... gara-gara si Irwan pasti ".
Dan Cinta pun kembali tertawa begitu mendengar komentar Namu yang juga menunjukkan wajah cemburunya. Saat ini keduanya masih berada di dalam kendaraan yang dikemudikan Namu dan dalam perjalanan pulang.
" Yaaah.... giliran mama yang nggak aktif ", Cinta terlihat kecewa. " Aku chat aja deh ".
" Bilang sekalian kalau nginep di rumah ".
" Ish... nggak ah ".
" Laaah ... daripada di rumah sendirian. Mending di rumah ku ".
" Woo..... apa aku yang nginep di rumah mu aja ".
" Lebih nggak aman ... aku pulang aja, lagian ada bi Yani dan mang Tono juga kok ".
Belum sempat Namu mempertahankan argumentnya, teleponnya kembali bergetar. Ia pun segera menggunakan bluetooth wireless untuk menerima panggilan itu.
" Apa ?... oh .. ku speaker sebentar ".
" Mba Cinta ... udah telpon Tante ? ", suara Haidar terdengar disela suara gemerisik.
" Udah ...tapi nggak aktif. Tapi aku kirim pesan ke mama kok ".
" Mba ... nginep di rumah aja ".
Yes !!! Namu bersemangat dan mengepalkan tangan kirinya. Membuat Cinta tersenyum kecut.
" Daripada di rumah sendirian .... mending bertiga kita battle. Lama loooh... kita nggak bikin keok' Ji Chang Wook ..... he..he..he ".
Tentu saja yang disepadankan oleh Haidar dengan aktor Korea bersenyum manis itu adalah Namu. Kakakmu yang tanpa dia ketahui saat ini membuat gerakan-gerakan tanda ia sedang kegirangan. Melihat tingkah konyol itu, Cinta memukul pundak Namu.
" Minggu depan aku sudah berangkat ke Jerman loh mba.... momentum langka nih... ", kata Haidar lagi.
" Laah... katanya masih dua Minggu lagi ".
" Ada yang sudah rindu gebetan tuuuh... ", goda Namu.
" Hei... Anda sudah tahu rupanya ya. Anda itu jahat bapak .... kenapa tidak sejak awal memberitahuku kalau pujaan ku ada di Jerman ". Dan akhirnya Haidar pun sok telenovela.
" Hei anak muda... kau harus meluruskan niatmu!!!!... pergilah ke Jerman karena tugas yang kau emban... bukan semata-mata karena wanita yang kau sayang.... dan lagi dirimu tak pernah bertanya pada dirikuh ... ".
" Lebaaaaay..... dasar koplaks .... ha..ha..ha
. ". Dan Cinta pun terbahak-bahak mendengar percakapan konyol itu.
" Kau 'kan nggak pernah tanya .. adikku .......", kata Namu lagi.
" Halaaaah.... mba Cinta ".
" Ya .. ", jawab Cinta masih dengan sisa tawanya.
" Nginep ya... please ... mau curhat juga nih. Please .... ya... ya... ".
__ADS_1
Tanpa Haidar ketahui, Namu pun melakukan gerakan memohon dan juga menampilkan wajah memelas yang konyol.
" Iya deh.... ".
" Siiiiip.... Alhamdulillah .....asyeek....aku tunggu kalian berdua. Masih lama nggak ? ".
" Lima belas menit lagi paling ".
" Nggak usah mampir beli makan malam ... ada sop iga spesial nih ".
" Oke .. ".
Dan Haidar pun segera mengakhiri panggilannya setelah mendapatkan konfirmasi dari Cinta.
" Iyes ... iyes... ada yang mau nginep. Thanks God ". Namu masih dengan kekonyolannya menampilkan ekspresi girang yang garing.
" Lebay ".
" Biarin .... bahagia tingkat dewa nih. Ehm.... bobo' nya di kamar ku ya .. ".
" Nggak !!!! ".
" Busyeeet ... galak amat non ".
' Dug !!!! ', satu pukulan mendarat lagi di lengan Namu dan kini cukup membuat pria itu meringis.
..................
Ruang tengah rumah keluarga Mandala telah disulap dalam waktu sekejap menjadi arena bermain game yang cozy oleh Haidar. Setelah ketiganya selesai makan malam, permainan adu kelincahan jari memainkan joystick itupun dimulai.
Dan seperti biasa, Namu selalu tidak pernah jadi pemenang saat melawan dua orang ini. Membuat Haidar melakukan selebrasi yang nggak jelas... absurd abis. Dan Cinta hanya bisa ikut terbahak-bahak saja. Tapi akhirnya gadis itupun memilih mundur dari permainan.
" Nggak bosen gitu mbak ? ", tanya Haidar keheranan saat Cinta memilih hanya bermain beberapa babak saja dengan dirinya, dan kemudian bersiap menonton koleksi drama Korea milik Kirana.
" Yeee.... 'kan nggak tiap hari nontonnya. Lagian aku juga nggak jadi kolektor kayak Rana. Kakak kita yang buaaikk ini... selalu buat kita-kita lembur " .
" Loh ??? lah iya ...maksud ku.... udah tiap hari ketemu Ji Chang Wook... masa iya masih doyan nonton Lee Min Ho ".
" Hwiiidiiih... ada yang ke-ge'eran tuh di bilang Ji Chang Wook "
" Ssst... emang kita .... sebelas - dua belas setengah kok ". Balas Namu dengan cuek dan tetap fokus pada tokoh action figur yang dimainkannya. Dan akhirnya iapun berhasil telak memberikan satu tebasan yang membuat Haidar langsung lemas. " Iyeeees .... "
" Yaah..... kalah deh Nicholas Saputra ", kata Haidar dengan ekspresi kecewa.
" Hwiiidiiih.... ngakunya. Yang satu Ji Chang Wook yang satu Nicholas Saputra ", Cinta mencibir dengan tak mampu menyembunyikan senyum gelinya.
" Eh mbak .... aku belum jadi curhat loh ", seru Haidar saat Cinta sudah menaiki setengah anak tangga menuju lantai atas.
" Nyusul aja ke kamar Rana ...... ", balas Cinta setengah berseru .
" Apa setiap cewek mesti gitu ya.... hobi banget digombalin cerita drakor ? ".
Namu mengangkat kedua bahunya memberikan jawaban pada Haidar.
" Ayo lanjut ... mumpung lagi diatas angin nih ", kata Namu lagi dengan lebih bersemangat.
" Okey ... siapa takut. Eh kak... ".
" Heeem .. ". Namu masih tetep berkonsentrasi penuh dengan actio figur nya.
" Jangan-jangan mba Cinta alesan aja ... padahal mau nelpon si siapa itu.... Syailendra ? ".
' Glegh '..... dan kesalah pahaman itupun tak kunjung mereda. Apa tidak sebaiknya diluruskan mulai dari si adik ini. Bukankah dia adalah partner yang baik, saudara yang setia... sejak dulu. Mungkin ini saat yang tepat untuk mulai membuka sebuah kejujuran. Mungkin melalui adik ini juga bisa jadi sebuah jalan yang semakin mendekatkan. Hanya perlu satu keberanian ......
" Dar ..... ".
" Hem .... ".
" Bisa pegang rahasia ? ".
" Sejak kapan aku tidak berada dipihakmu kak ? ".
................
Author Corner .......
Q : 'Author nya bikin sebel deh ..... suka ngegantung jiwa penasaran para reader'
A : " Ya... itulah memang tugasnya othor' ... he.. he.. he.. ".
Q : 'Kok nggak tiap hari up' sih... kayak penulis lainnya gitu looooh'
A : " Maaf ..... othor menikmati proses writing-nya.... nggak sekedar kejar tayang. (Padahal dari sistem juga ngejar2 terus buat up' episode .... 😂😂😂😂 emang dasar othor 'ndableggh)
Q : ' Othor nggak konsisten .... suka gonta-ganti nama tokoh. Terus suka PHP deh ... '
A : " Othor juga manusia .... kadang lupa nama panjang dan nama panggilannya... (padahal sudah dibikin list, yang penting still on the track ya). PHP ? .....iya sih... biar real aja rasanya. Yang jelas no sad ending ya ....
__ADS_1
* Big Love .... always to my dear readers *