
Masih rahasia..... Raka mengulang kalimat yang disampaikan Haidar dalam hati. Pasti gadis itu sangat hebat hingga bisa menaklukkan sosok Namu yang kalem bahkan cenderung dingin terhadap wanita. Berbeda dengan Haidar yang lembut tapi keahliannya menolak wanita juga sudah tingkat dewa. Sepertinya sifat dan kemumpunian papa mereka sama sekali tidak menurun pada kedua putranya itu. Padahal menurut cerita papa dan mama nya, Om Mandala itu adalah playboy kelas kakap. Dengan mudah berganti pasangan, karena wanita cantik seperti ngengat yang mengelilingi cahaya terang bagi om nya itu.
" Heiiiii...... tidur Lo? ".
" Nggak lah, masih nunggu info selanjutnya. Masa nggak ada clue_nya sama sekali ", jawab Raka membalas Haidar yang sedikit sewot karena ketermenungannya
" Kayaknya siiih.... temen mba Cinta, orang kantor juga kelihatannya .... ".
" Wuuuuuaaah ..... seru nih. Jangan-jangan sebenernya dua orang itu sudah sering double date ".
" Bisa jadi ".
" Dar' .... tau yang namanya Syailendra ? ".
" Iya ... kenapa ? ".
" Beneran dijodohin sama mba Cinta ?", tanya Raka lagi.
" Berarti lima sekawan hampir ada yang lulus dooooong..... ", suara Haidar terdengar penuh semangat. " Kalau pak Syailendra siiiih aku lumayan kenal baik. Tapi baru ngeh' kalau beneran dijodohin sama mba Cinta.... mau dia emangnya ? ".
" Siapa ? ... mba Cinta nya. Kata mama sih, ini orang pertama yang nggak ditolak mentah-mateng, bahkan keduanya sempat dating di Seoul juga. Tapi apa pak Syailendra itu duda.... bener nggak sih ? ".
" Kemarin kakak sempat cerita dikit ... emang duda, katanya istri dan anaknya meninggal. Beberapa kali pernah ketemu langsung, terakhir kemarin pas donasi peralatan medis .... orangnya baik, terlihat dewasa juga siiih. Umurnya kayaknya mungkin terpaut beberapa tahun lebih tua dari kak Namu. Yang jelas ..... ganteng ... banget malah ".
" Kalau urusan paras siiiih .... good looking ya... laaah..... yang duda itu loh... mamah minta aku menyelidikinya. Parah !!! ".
" Tanya aja kak Namu, mereka berteman sejak masih kuliah di Inggris ".
" Kalau telpon kakak, tau-tau langsung nanya.... eh pak Syailendra itu duda kenapa ya kak ?.... berapa lama dia menduda? ... istrinya yang dulu kayak apa sih ?.... iiih aneh nggak ? ".
" Ha... ha..ha.. ", Haidar menertawakan gaya berbicara Raka yang lebay khas wanita tukang gosip. " Nggak lah... bilang aja dapat tugas dari cari info dari ibu ratu ".
" Ehhhhm.... mau membantu ku ? ".
" Ngapa ? ... nanyain ke kak Namu ???? bukan perkara susah nanya'nya ..... timing nya itu looooh yang asyusyaaaah.... kau tahu 'kan si Mr. Workaholic Perfecto itu ..... ".
" Nah itu lo' ngerti.... kenapa tugas ini terasa begitu berat ".
" Ha.... ha.... ha... ", tawa Haidar kembali meledak. " Halaaaah..... push dikit bolehlah semangat lo' .... sekali-kali bantu orang tua ... jadi anak berbakti gitu .... tobat ".
" Heeemmhhh ".
" Mana tau setelah ini lo' terus dapat berkah ... nemu gadis impian ... ".
" Yang benar-benar masih gadis .... amiiin ", sergah Raka cepat.
" Iya .... ha... ha... ha... aamiiin ". Haidar tetap mengaminkan walaupun masih dengan tawa tak henti. " Kasihan Don Juan kita.... belum pernah dapat yang segel_an ".
" Mana ada yang masih original bersegel mau di unboxing sih 'Dar.... hadeeeeh... pastilah wanita baik-baik yang masih utuh seperti itu tentu menjaga mahkotanya hingga malam pengantin nanti ... ".
" Masih ngarep dapat yang bermahkota juga nih ? ", Haidar menggoda dengan pertanyaan provokatif nya.
" 99 % pria di dunia .... Indonesia pada umumnya .... ya !! pasti !!! ... survey membuktikan ".
" Kapan lo' survey ? ". Selidik Haidar ditengah senyum gelinya
" Basic survey pada diri sendiri dan komunitas ".
" Parah ..... btw beneran nggak bisa balik Jakarta nih minggu ini ? ".
" Sorry 'Dar.... dua hari lagi harus ketemu mentor di Semarang. Persiapan seminar nasional niih ".
" Kalau gitu sempatin tengok Q_run ya ... kemarin habis telpon mama, sempat nangis-nangis juga ... dapat pasien ajaib dia ".
" Sesi kedokteran jiwa ? ".
" He 'eh...".
" Wa... ha... ha.. ha.... okey .. okey.... aku samperin nanti ".
" Jangan kaget.... Abang kesayangan kita nempatin dua bayangan besar di belakang Kirana ... buat jaga-jaga ".
Raka mengernyitkan keningnya sepersekian detik, mencoba memahami kalimat Haidar. Setelahnya ia tersenyum karena sudah memahami artinya.
" Tapi Rana nggak tahu loh .... kalau ada yang ngawal. Nggak usah bilang-bilang dia.... tahu 'kan kalau para wanita keluarga Arsenio punya kepala keras ..... jangan sampai mencederai kualitas kemandirian ... versi mereka ... hi.. hi.. hi ... ", Haidar terkikik.
" Iya ... iya ... iya .... paham. Eh ... tapi lo' bilang sama para bodyguard dong klo' aku kakaknya Q_run... bonyok ntar gue' mereka bikin dodol ".
" Pasti ' Ka ..... beneran ya tengokin Rana ".
" Siiiiiaaaap..... berarti kita deal dong .... ".
__ADS_1
" Hah ?!!! .... apanya ? ", Haidar kebingungan.
" Hadeeeeeeh..... ya deal tukeran tugas dooong. Cari info calon kakak ipar jadi tugasmu, jagain adek kecil aku punya tugas ".
" He.. he..he... boleh ... boleh ".
Dan setelah diawali dengan kekehan Haidar, akhirnya kesepakatan itupun legal bagi keduanya.
Baru saja Raka menutup komunikasinya dengan Haidar, bahkan ia pun belum sempat meletakkan handphonenya, benda itu kembali berdering dan bergetar. Sebuah nama yang muncul di layar membuat Raka tersenyum simpul.
" Halo... baru dua jam ... ", Raka melirik arloji yang dikenakannya sebentar. " Belum ada malah... satu jam empat puluh sembilan menit, sudah kangen 'neng ? ".
" Heeem.... tas ku ketinggalan di mobil mu. Kamu di kos-an nggak ? ". Suara gadis di seberang sana terdengar sedikit gusar.
" Yang mana ? bukannya tadi kau cangklong langsung ".
" Tote bag warna crem dengan corak floral print ... ada namaku ".
" Ooh... emang isinya apa ? ".
" Baju kotor ... buruan gih lihatin... ketinggalan di mobil nggak ?".
" Sabar ngapa'.... pake kolor dulu. Nggak rela'kan ? kalau keseksian ku bisa dinikmati banyak orang ... "
Suara berdecih diseberang sana membuat Raka seperti terlecut jiwa usil gokilnya untuk semakin menggoda. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah yang manis itu kini tengah bersungut-sungut kesal. Tapi bukan Raka namanya jika tidak mengambil kesempatan untuk mengusili Ardelia yang manis. Sambil menarik tali celana boxer hitamnya ia melanjutkan menggoda Ardelia.
" Eh ... kok diem... ngebayangin ya ... betapa seksinya akyu. V-call ya.... iiih pasti gemes deh ".
" Ngggak!!! udah sering lihat!!... buruan liatin deh, ada nggak ".
" Lah ini mau dilihatin ... malah nggak mau V-,call.... gimana sih ?". Raka masih tetap menggoda walaupun pada kenyataannya ia sambil berjalan menuju garasi.
" Sak karepmu 'jooo.... ".
" Sabar tow 'neeeem.. ", balas Raka.
Akhirnya ia pun menemukan tas yang dimaksud ada di kursi belakang mobilnya. Teronggok dengan pasrah diantara tumpukan buku dan juga kotak besar berisi phantom torso (alat peraga anatomi manusia) femur. Nama yang manis diukir dengan tinta berwarna emas di pojok atas tas itu, Ardelia Asmara Sani.
" Ketemu nih ... mau diambil apa diantar ? ".
" A-aku ambil saja ... sebentar lagi aku kesitu. Nggak kemana-mana 'kan ? ".
Raka tak perlu melihat langsung bagaimana ekspresi cemberutnya gadis di seberang sana. Karena ia telah hafal betul bibir tipis yang mengerucut diiringi lenguhan kesal dari si pemilik alis mata seperti camar yang sedang melayang. Ia tersenyum geli dan segera menutup telponnya. Lalu berjalan masuk, kembali kedalam kamar kosnya.
......................
Menunggu di dalam kamar yang ber-AC dengan ditemani alunan musik lembut, membuat Raka tak kuasa menahan kantuk. Ia pun jatuh terlelap dalam suasana yang nyaman. Ketika perutnya mulai mengalunkan orkestra alam tanda kelaparan, Raka pun terbangun.
Sekilas ia melirik sebuah jam digital yang terduduk manis diatas mejanya. Masih dengan sedikit sisa kantuk, ia menghitung waktu. Ternyata hampir satu jam ia terlelap. Dan ketika ia bangun dari kasurnya, sepasang matanya menangkap Tote bag warna crem dengan corak floral itu. Raka pun kembali mengernyitkan keningnya.
'A-aku ambil saja ... sebentar lagi aku kesitu. Nggak kemana-mana 'kan ? '. Padahal tadi Delia berkata seperti itu.
Akhirnya Raka memutuskan melapisi boxernya dengan celana cargo warna hitam, lalu meraih kunci mobilnya juga dompet yang berada bersisihan diatas meja. Sekalian keluar cari makan malam, sekalian antar tas milik Delia. Mangut lele pedas nagih di seberang jalan tak jauh dari gang tempat rumah kontrakan Delia dan teman program Pascasarjana -nya, itulah tujuan utama Raka.
Tidak sampai seperempat jam, Raka telah tiba di depan sebuah rumah dua lantai yang tidak terlalu besar. Ada lapangan parkir kecil di sebelahnya yang bisa memuat belasan mobil, tapi tidak sampai dua puluh. Ada dua buah mobil asing yang tidak dikenalnya keluar dari sana, ah..... itu pasti tamu para nona cantik penghuni rumah itu, demikian batin Raka.
Ia pun melangkah dengan mantap memasuki halaman kecil rumah itu. Lampu ruang tamu nampak dinyalakan semua, tanda memang baru saja ada yang bertandang. Ia pun mulai mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
" Assalamualaikum ... ".
" Wa'alaikusalam..... untung kau segera datang ". Seorang gadis seumuran Ardelia menyeruak dari dalam rumah dengan wajah khawatir .
Dia adalah Sarah salah satu penghuni rumah kontrakan ini, gadis yang sedang mengambil strata dua hukum. Biasanya gadis ini tenang dan paling bisa menguasai keadaan. Entah apa sebabnya kecemasan terlibat melibas ketenangannya kali ini.
" Ardelia masih di kamarnya..... Rita dan Seina sedang menemaninya .... ".
" Kenapa Delia ? ". Raka terlihat begitu bodoh karena kebingungan.
" Oh ya .... ", Sarah menepuk jidatnya. " Tadi .... papanya datang .... bersama ibu dan dua orang saudara tirinya yang ganjen sok kecakepan itu. Bahkan mereka membawa beberapa orang pengawal .... kau berpapasan dengan dua mobil tadi ? ".
Raka mengangguk, kini ia menatap Sarah dengan tuntutan penjelasan.'
" Delia dipaksa pulang .... untuk dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya. Aku tidak tahu detailnya .... tapi mak lampir dan dua kambing berlipstik itu... lalu menindas Delia... meneriakinya. Delia yang marah balas berteriak ..... malah dua kali di tampar papanya .... ".
" Breng... sek..... mana Delia ... aku masuk !! ".
Raka merangsek masuk tanpa menunggu ijin dari Sarah yang masih berdiri. Dan gadis itupun buru-buru menepi memberikan akses masuk untuk Raka. Lalu mengekori pemuda yang sepertinya sudah sangat paham harus menuju kemana .
" Delia..... ", langkah Raka melambat tatkala dari sudut matanya tertangkap bayangan Delia tengah duduk di sebuah ruangan.
Ia pun urung menuju ke kamar Delia yang tadi sempat menjadi tujuan langkahnya. Kini ia sedikit berbelok menuju ke sebuah ruangan yang biasa dijadikan tempat ngumpul dan menerima tamu para penghuni kontrakan itu, tapi bukan ruang tamu utama. Delia terlihat tengah duduk diapit Rita dan Seina.
__ADS_1
Sudut bibir gadis itu terlihat sedikit membekas oleh noda darah, pasti karena tamparan yang diceritakan Sarah tadi. Delia mengangkat wajahnya menatap Raka begitu menyadari kehadiran pria itu. Ia tersenyum ironis pada Raka, seolah sedang berkata : ' See.... nothin' gonna change from them' .
Raka menarik nafas panjang, mendekati Delia dan duduk di karpet tepat dihadapan gadis itu Menatapnya dengan perasaan berkecamuk tak menentu. Tidak ada air mata yang mengalir, tapi Raka tahu kesedihan dan amarah gadis ini begitu mendalam.
" Kita cari makan malam yuk .... ". Aaah..... ide gila, tapi itu yang terbaik saat ini yang bisa keluar dari mulutnya. " Rame-rame ...... ".
Ajakan Raka ini tentu saja menyulut tatapan protes dari tiga orang teman Delia. Bagaimana bisa ? bukankah seharusnya kau menghibur teman mu ini dulu....., kira-kira begitu tatapan protes Sarah, Rita dan Seina.
" Aku ganti baju dulu .... ". Tak di duga jawaban Delia justru berpihak pada Raka.
" Ini saja sudah cantik kok ... ". Sekilas Raka memperhatikan celena tiga perempat berwarna pink yang lembut serta atasan kaos santai yang cantik warna putih. Terlihat manis dan nyaman dikenakan gadis itu. Toh .... ini juga makan malam biasa, di warung tenda pinggir jalan.
" Ehm.... tmbah cardigan saja ", ralat Raka saat aset sempurna Delia tercetak melekuk menggairahkan.... aaah, harus disamarkan.
Delia yang sudah bangkit berdiri mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya.
" Kami tidak ikut .... ".
" Rit... ", protes Sarah yang juga diikuti oleh sikutan Seina pada gadis calon Master Hukum itu.
" Lihat ... yang bisa menghandle psikolog handal itu cuma pak dokter ini. Kita ??? ..... berdoa saja ".
" Tapi kau yakin bang ? ", Seina menatap Raka. Gadis ini dulu adalah adik tingkatnya di kedokteran umum, kini sama-sama sedang residensial, hanya saja Seina mengambilnya spesialis paru.
" Yaa... biarkan mengalir saja, jangan dipaksa. Beneran nih nggak mau ikut ? mangut lele loooh ".
" Aku masih ada tugas nih ... ", suara Rita terdengar sedikit aneh, rupanya Delia sudah nampak keluar dari kamarnya.
" Aku juga nggak ikut saja ya... mas Tio mau datang ", Seina nyengir.
" Ya aku juga... titip bungkus aja ya. Mau prepare buat besok Senin ", Sarah pun mengikuti dua temannya.
" Kalian ?..... tidak sedang sengaja cari-cari alasan 'kan ? ".
" Ayooo ... keburu para Ascaris lumbricoides pada demo ulang niiih ". Raka langsung merangkulkan lengannya ke pundak Ardelia. Membuat gadis itu sedikit terseok mengikuti langkah Raka yang menghelanya tiba-tiba.
" Daaa... hati-hati ya ".
" Bungkusin martabat telor ya bang .... ".
" Sekalian makan malam juga boleh ... ".
Raka tersenyum seraya mengacungkan jempolnya tanpa mengangkat lengan dari pundak Ardelia. Sementara trio macan berotak lumba-lumba di belakang sana, saat ini pasti sedang tersenyum meledak. Karena mereka bertiga adalah salah satu pemrakarsa terciptanya hubungan cinta antara dirinya dan Ardelia. Namun sayang, usaha tiga orang gadis cantik itu sampai saat ini sama sekali belum membuahkan hasil.
" Menurut kalian .... Delia sebenarnya cinta nggak sih sama Raka ? ", tanya Rita, sepeninggalan Raka dan Ardelia.
" Ya pasti .... terlihat jelas dong. Ardelia love Raka... yang harus ditanya itu ya Raka..... cinta nggak sama Delia ? . Atau jangan-jangan cuma penasaran nggak kunjung bisa menaklukkan nona cantik itu ". Kali ini Sarah yang berkomentar sambil membetulkan kacamata minusnya.
" Kalau menurutku siiiih..... emang dua-duanya bego ...... ".
Selorohan Seina disambut gelak tawa oleh kedua orang sahabatnya.
" Akut malah bego'nya.... empat tahun di sekolah yang sama... lanjut ketemu di kota gudeg sudah lebih dari dua tahun.... ngomong 'ai 'lav 'yu ..... gitu aja susah banget. Nanti klo' ada mahluk lain yang coba deketin salah satunya baru 'blingsatan, sewot tiadatara. Apa coba ? kalau bukan bego tingkat akut ".
" Sei.... mungkin... Delia ngeri sama hobi Raka yang suka gonta-ganti cewek itu ".
" Ish !!! .... sebenarnya nggak gitu juga sih mba ". Seina mencoba meluruskan pendapat Rita. " Bang Raka itu emang orangnya lembut dan manis .... makanya banyak cewek yang kebaperan sama dia. Kalau setahuku sih ... emang dia belum pernah resmi memproklamirkan hubungan spesialnya dengan cewek mana pun... ".
" Laaah ? ..... terus yang selama ini apa ? ", Sarah penasaran.
Tapi jawaban dari Seina hanya mengangkat kedua bahunya, entahlah.
Sementara itu, kedua insan yang kini sedang dibicarakan oleh tiga orang temannya ini memilih berjalan kaki perlahan menikmati malam yang damai. Menuju gang sebelah tempat warung tenda yang menjual mangut lele itu berada.
...""""""'''******""""""...
Author Corner ........
'Waduuuuh.... ngilang kemana Thor?... lama banget up nya.'
He... he... he.... (nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala ).
' Othor sehat 'kan ? '.
Alhamdulillah sehat, baik dan tidak kurang suatu apa. Hanya saja begitu sampai rumah sudah porak poranda nih badan. Jadi pas duduk ngadepin naskah langsung ....... hrooook... hroook... #pules 🙏🙏😂😂😂
Maaf 'kan ya...... moga2 badai penyakit ini segera berlalu.... dan dunia ini kembali sehat seperti sediakala.
Terimakasih atas, kritik membangun, saran dan ide cemerlangnya, doa dan juga cintanya bust othor' ...... semoga berbalas kebaikan berlipat ganda dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Tetep sehat, tetep semangat, positif thinking ... kita, cinta, sempurna, bisa!!!!!
__ADS_1