PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Rentang Biru (4)


__ADS_3

Nama lengkapnya Bernadetha Olivia Sureswari, seorang wanita yang baru saja berusia enam puluh tahun beberapa bulan lagi. Seoarang wanita cantik yang sangat ramah, dan langsung memeluk Hanin seolah ia adalah kerabat jauh yang lama sudah tidak berjumpa. Rambut digelung rapi dengan makeup natural yang semakin menonjolkan kecantikannya.


" Geulis pisan. Kumaha Sunda, tos lami tidak pulang, jadi kangen .... ", sambil memeluk Hanin yang terkaget-kaget.


" Bagaimana bahasa Sunda ku ?, semoga benar ya. Eh ... kau bisa bahasa Perancis ? ". Tanya perempuan cantik itu ramah.


" Ya sedikit. Bagus nyonya,  bahasa Sunda anda sangat bagus, rasanya saya seperti sedang liburan di Cimahi di rumah kakek ", Hanin menjawabnya dengan bahasa Perancis yang sangat lancar, membuat sang nyonya tuan rumah itu tersenyum senang.


" Ibu ku juga orang Cimahi, beruntungnya aku ya. Siapa namamu geulis' ? ".


" Hanin Hanania, panggil saja Hanin atau Nania ... ", pinta Hanin dengan sopan.


" Oh okay Hanin, kau sudah dengar 'kan suamiku memanggilku Livi. Sepertinya juga paling pas untukku ya ".


" Nyonya Livi ... sangat cantik terdengar, seperti orangnya ". Hanin balas memluk wanita cantik itu. dalam hatinya tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang sekarang sudah mulai ketularan Haidar. Tapi memang perempuan ini sangat cantik, paras eloknya seperti tak termakan usia.


" Nah ini Adeline menantu pertamaku, ibunya  yang sedang berulang tahun sekarang .... si imut Balthis... hai sayang, ini ada aunti Hanin .. ".


Bocah imut berpipi bulat, dengan rambut kecokelatan yang tidak terlalu lebat itu tertawa-tawa ketika digelitik sayang oleh nenekya. Sementara Hanin berjabat tangan dengan wanita cantik berambut pirang yang sangat anggun semampai dengan lekuk laksana model kelas dunia. Dia pasti Adeline sang menantu keluarga Pouzas, sangat pantas memang untuk menjadi istri putra mahkota.


" Dia dari Indonesia, seperti nenek mu. Kita harus segera berlibur ke negeri tropis yang sangat indah itu. Kau juga harus ikut ya jagoan ... ".


" Saya sudah dua kali kesana mom, memang sangat hangat dan pendudiknya juga ramah-ramah. Tapi ide itu menarik sekali, nanti kita rencanakan ya ". Tak kalah bersemangat Adeline menyambut rencana sang mertua.


Tiba-tiba saja semua ketakutan Hanin menguap begitu saja, begitu merasakan hangat dan bersahabatnya sikap dari para anggota keluarga ini. Sekarang ia sangat tenang dan merasa lebih leluasa, tidak terbelenggu lagi oleh aneka pikiran buruk tentang sikap para keluarga sultan jika bertemu dengan orang biasa seperti dirinya. Ah, ini pasti berkat mulut manis si mas itu yang selalu memperkenalkannya sebagai calon istri. Padahal dirinya belum pernah mengkonfirmasikan kesediaan. Tapi, ya sudahlah. Untuk saat ini tak mengapa, toh dia sendiri juga yang diuntungkan.


Sementara itu Haidar yang kini sudah benar-benar fokus dengan pekerjaan, seperti larut dengan euforianya sendiri. Merasakan sesuatu yang baru dalam satu pencapaian, hampir sama rasanya seperti ketika ia selesai mengurai keganasan tumor yang melilit organ, memisahkannya, mengangkat dan membuang. Lalu ia menjahit sayatan yang telah dibuatnya dengan rapi dan sempurna. Ia ingat betul perasaan lega yang masih penuh rencana selanjutnya. Ya, sama seperti ketika akhirnya dirinya dan tuan Pouzas menandatangani perjanjian kerjasama ini.


Ia teringat Nania nya yang menghilang, tepatnya menyingkir untuk memberinya kesempatan berkonsentrasi penuh. Tidak perlu mengkhawatirkan gadis jelita itu, psti keluarga Pouzas memperlakukannya dengan sangat baik. Tentu saja, siapa sih yang tidak akan langsung jatuh sayang pada gadis si cantik dan selembut Hanin Hanania nya itu. Haidar tersenyum sendiri.


Jika menuruti kata hati, pasti ia akan melesat cepat mencari si cantik yang putih bersinar itu. Lalu menggenggam tangannya erat dan membawanya berlari untuk menghindari pandangan orang-orang yang mengenal mereka. Hingga dirinya dapat selalu menyentuh wajah selembut sutra yang telah begitu menguasai dunianya itu. Menghirup harum lembut yang melenakan jiwanya, dan menikamati semu malu yang menambah beribu kali indahnya sang dara. Tak mengapalah sekarang ia harus bersabar sedikit. Mengikuti tuan Pouzas yang begitu membanggakan koleksi mobol-mobil klasiknya.


" Kau juga suka mobil kalsik rupanya nona. Tidak kusangka ". Tuan Pouzas nampak bersemangat melihat antusiasme Velinda yang langsung meminta ijin untuk mencoba salah satunya.


" Papa ku yang menyenangi hobi ini. Aku hanya cukup dekat saja dengannya. Hingga memoriku ini telah cukup menyimpan banyak cerita dari papa.... yah, tentang mobil-mobil seperti ini ".


" Jarang ada wanita yang tertarik dengan hal seperti ini . Kau unik dan cantik, sayang. Semoga kau lekas diterima jadi karyawan tetap ya ... ha..ha..ha..ha.. ".


Bukankan itu sebuah pujian yang cukup bisa melambungkan dirinya ke atas awan. Velinda tersenyum saja. Tiba-tiba ia menemukan sebuah celah untuk bisa menunjukan aksinya yang pasti akan mempesona Haidar. Hatinya mulai tersenyum, dan bersiap melancarkan aksi.


" Apakah tuan selalu rutin mengajak mereka berkeliling ? ", yang dimaksud Velinda tentu saja deretan mobil-mobil tua yang unik dang mengkilap itu.

__ADS_1


" Tentu tidak selalu nona, hanya memanasi mesinnya saja. Ada petugas khusus untuk hal itu. Bagaimana, kau mau mencoba ? " .


" Benarkah, dengan senang hati ... ah tidak. Aku terlalu takut jika harus mencobanya seorang diri ". Velinda melirik Haidar, berharap pemuda itu memperhatikannya.


" Ha..ha..ha... ku pikir kau pemberani. Mari bersamaku ".


Yang diharapkan adalah oleh Velinda adalah Cadillac 352 keluaran tahun 1933 dengan lima tempat duduk itu bisa mendekatkannya dengan Haidar, bukannya kakek tua ini. Tapi ya sudah lah, toh si kakek ini juga adalah pemilik dari mobil tahun 1930-an yang telah didesain ulang, obil


bermesin V12 yang merupakan cerminan lengkap dari sebuah mobil mewah pada zamannya dengan lekuk asli dan kilauannya yang tak terkalahkan. Lumayan lah ... Cadillac 352 1933 ini bertenaga 135 hp dan torsi 386 newton meter. Bisa mencapai kecepatan tertinggi hingga 130 kilometer per jam. Hanya saja akan lebih sempurna jika yang di sebelahnya adalah si gagah itu.


Sementara itu Haidar justru melangkah pergi mengikuti ajakan putra semata wayang Pouzas, siapa lagi kalu bukan Andrean Oeri Pouzas. Seorang pria yang mungkin sebaya dengan Namu kakaknya. Siapa yang tidak mengenal seorang foto model kelas dunia yang lama tinggal di Paris, yang ternyata juga adalah seorang putra mahkota, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Nikolov di Zurich.


" Mungkin kita termasuk tipe anak pembangkang yang sudah sadar ya ? ", Andrean memulai pembicaraan, dan cukup membuat Haidar mengerutkan keningnya.


" Aku tahu kamu seorang dokter ahli bedah, dan kau pasti juga tahu kalau aku ini pensiunan model 'kan ? ".


" Ah itu, ya .. ha...ha..ha. Bukankah pada akhirnya kita dikalahkan oleh urusan hati ".


" Ya, itu kelemahan terbesar kita ".


" Yang seperti mereka itulah yang membuat kita lemah ". Dan Haidar mengarahkan pandangnnya pada dua sosok wanita yang kini sedang melangkah mendekat.


" Ya, pastinya. Mereka telah mengalahkan kita ... tanpa syarat ". Andrean mengulas senyum yang langsung menampakan lesung pipit di pipi kirinya.


Satu hal yang justru membuat Hanin sedikit tersipu.


" Sudah, baru saja. Mana Balthis ? ". Andrean membalas dengan mencium sekilas pipi wanita itu dan menanyakan keberadaan anak mereka.


" Dia kelelahan setelah bermain dengan tante barunya yang cantik ini ", Adeline melirik pada Hanin. " Ia tidur pulas sekarang. Biarlah .... justru aman untuk pesta sore nanti ".


Sikap mesra minus drama dari pasangan muda itu benar-benar tak lepas dari pandangan Haidar. Bahkan ia berangan-angan saat itu dirinya dan Hanin pasti juga akan bertambah mesra. Ia tersenyum, lalu meraih tanhan Hanin dan membawanya mendekat lebih rapat.


" Hei, kalian sudah saling kenal ?.  Ini Adeline, wanita yang paling sabar menghadapiku selama ini. Bahkan di saat seisi dunia memusuhiku . Dan kau , pasti kau juga wanita yang paling tahan dengan sikap pria itu 'kan ? ". Yang dimaksud Andrean tentu saja Haidar dan Hanin.


" Kenalkan, ini Hanin Hanania... satu-satunya wanita yang kucari, kurindu dan akhirnya ku temukan. Calon isriku ... satu-satunya ", dengan tawa kecil Haidar memperkenalkan Nania nya. " Ini Andrean, kau pasti sudah pernah melihat wajah itu 'kan ?. Bukannya dua tahun lalu kau pernah beberapa bulan tinggal di Paris ? ".


Hanin mengerutkan keningya, ia menatap Haidar sesaat lalu beralih pada pria yang masih memeluk Adeline dengan mesra. Rasanya wajah itu memang sangat familer, ia seperti sering melihat wajah pria itu. Tapi benarkah ?.


" Kau mirip ... ah, ya ... Andre Oeri si 'AO' itu ya. Ya ampuuun ... ", Hanin membelalakan matanya. " Bagaiman mungkin ... ". Hanin masih tetap tidak percaya.


" Mungkin saja !!. Inilah model gila yang arogan, tapi sangat tampan. Model kelas dunia yang tak punya penghasilan, habis semua untuk menutupi rahasia asal-usulnya ".

__ADS_1


" Tapi kau jatuh cinta padanya .. ", sela Andrean dengan cepat.


" Ya .. sayangnya begitu ". Lalu sebuah kecupan diberikan Adeline pada suaminya. " Untung saja aku tetap bisa waras menunggu mu .. ".


Seperti melihat drama romantis secara live, begitulah yang dirasakan Hanin. Melihat bagaimana pasangan itu sangat saling mencintai. Sinar asmara di kedua bola mata mereka seperti pijar kehidupan yang saling menguatkan. Mungkin setiap inti sel keduanya saling berseru ... aku membutuhkan mu.


" Khusus untuk kalian, wajib untuk hadir di acara pesta ulang tahun anak kami petang nanti ", pinta Andrean setengah memaksa.


" Wah, bagaimana sayang ?. Kita bisa ? ", Haidar balik menatap Hanin.


" Terserah mas saja ".


" Atau 'kah kalian sudah ada acara  lain ? ", selidik Andrean.


" Sebenarnya,     ", Haidar memutar bola matanya mengalihkan jawaban pertanyaan pada Hanin. Tapi wajah sedikit cemberut gadis itu menurutnya justru mempermanis  si cantik ini.


Dan kejahilan pria itu pun mulai menapaki level selanjutnya, " kami sedang menghabiskan waktu bersama ....... bla' bla' bla' bla' .... ".


Ya ampun embernya, begitu decih Hanin kesal. Tapi ia hanya bisa tersenyum malu dan sekali-kali mencubiti pinggang Haidar yang ramping padat. Sementara wajah Adeline terlihat berbinar malu-malu dan menyungggingkan senyuman penuh rasa suka seolah terbawa romansa yang diceritakan Haidar.


Sementara itu Andrean yang akhirnya juga ikut larut dalam romansa itu, berkali-kali menepuk-nepuk pundak Haidar. Dua pria yang digelayuti para wanita tersayangnya itu seolah saling mundukung satu sama lain kehidupan asmara mereka.


" Bagaiman bisa kau memikirkan ide tiga puluh hari kuntuman mawar. Waah ... aku benar-benar harus belajar banyak darimu ini ".


Dua sejoli itu seperti pasangan kupu-kupu yang menari dan bercengkerama di halaman penuh bunga. Berlingkup suasana sangat hangat beraroma asmara yang menggiurkan untuk selalu dihirup. Tapi tidak demikian dalam pandangan Velinda. Gadis itu mendengus, sebelum berjalan mendekat menghampiri. Dengan cepat mengubah mode wajahnya yang penuh iri dengki, menjadi semanis madu yang menggiurkan.


" Pak Haidar, apakah akan pulang sekarang ? ".


" Oh nona Linda. Boss mu akan menginap di sini. Kami menjamunya malam ini. Kau bisa pulang terlebih dahulu ".


Haidar mengangguk mengiyakan perkataan Andrean. Velinda sejenak tercekat, ia menelan ludahnya sendiri karena kerongkongannya terasa kering mendadak. Menyebalkan !!!!!.


" Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu tuan Andrean, nyonya. Saya pamit dulu pak Haidar, nona Hanin ", tapi Velinda tetap berkata ramah.


" Mas, bagaimana mungkin kita akan menginap disini ? ", bisik Hanin sepeninggalan Velinda. Tepatnya ketika Andrean dan istrinya menggiring mereka untuk masuk ke sebuah bangunan besar yang sedikit terpisah dari bangunan utama rumah keluarga Pouzas.


" Akan dianggap tidak sopan jika menolak undangan mereka. Tenang saja, Haidar yang ini sudah di-setek ke mode.... jinak ", balas Haidar sambil terkikik.


" Kau pikir aku percaya mas !!!!! ".


" Lah... tadi kau yang bilang, terserah mas ".

__ADS_1


Waduh...... salah ngomong berarti ya 'Nin. Kalaupun Haidar sudah on mode' jinak, tetap pasang mode tempur ya. Karena dewa angin timur pasti akan sangat mudah mengubah suasana hati pria itu menjadi lebih mencekam dirundung asmara. Hati-hati sayang ....


__ADS_2