
Masih satu jam menjelang makan siang ketika Ardelia mendengar sebuah suara ketukan yang tidak biasa di pintu ruang kerja ibunya. Irama yang menyebalkan. Siapa sih yang usil begini ?. Dengan langkah gontai dia pun melangkah meraih knop pintu dan memutarnya perlahan.
" Halo... ". Sapa itu terdengar begitu percaya diri. Sosok bergaya trendy dengan sebaris gigi putih yang rapi menyunggingkan sebuah senyuman.
" Kau ....", Ardelia mengeraskan rahangnya menahan berjuta umpatan yang seolah ingin menerkam manusia dihadapannya ini. " Tidak bisa sopan sedikit apa? ".
" Hei... aku sudah sopan ya, kau saja yang terlalu lama merespon ".
Ardelia mendengus kesal, sesungguhnya ia sangat menyesal telah membuka pintu untuk mahluk satu ini. Pria yang mungkin umurnya hanya dua atau tiga tahun diatasnya, tetapi dengan tingkah kekanak-kanakan yang jauuuh dibawah manusia beradab pada umumnya.
" Lebih tidak sopan kau Delia, bagaimanapun aku ini kakakmu. Kapan kau pernah memanggil kakak padaku ? ".
' Dalam mimpi mu kau 'pun tidak akan pernah terjadi '. Decih Ardelia mewakili suara sinis yang hanya mampu dikeluarkannya dalam hati. Tapi sorot matanya tak memungkiri rasa benci yang begitu kental berbaur dengan darahnya.
" Ah sudahlah ", pria itu mengibaskan tangannya sambil tersenyum ringan. " Aku hanya ingin memasang saja ..... keputusanmu harus tepat kali ini. Kau pilih yang nomer dua atau yang nomer tiga ... tidak ada bedanya. Setidaknya kau masih bisa memilih. Jangan sampai kau hanya diam pasrah menerima .... yang penting kau bisa berbakti pada orang tua ".
Pria itu masih saja nyerocos, bahkan dengan santainya ia duduk di sofa tamu ruang manajer tanpa menunggu dipersilahkan. Mengangkat satu kaki dan menyimpangkannya diatas satu kaki lainnya, bergaya seolah-olah dia adalah sang pemilik tempat ini. Sungguh membuat Ardelia harus berusaha sekuat tenaga menahan kebuasannya untuk tidak mencabik-cabik pria ini.
" Sudah selesai ?!! ".
" Ya ... kenapa? kau ingin tambah ".
" Segera pulanglah .... kau tidak diterima disini ", kata Ardelia masih dengan mengepalkan kedua tangannya erat.
" Hoo.. ho.. ho.. ho... kau pikir aku butuh penerimaan mu. Dari dulu kau lah yang tidak bisa mengenyahkan ku. Tepatnya .... kau dan ibu mu ..... ".
" Cukup !!!! ", sentak Ardelia dengan lengkingan tajam. " Katakan apa mau mu ? ... mau kalian? ".
Pria itu adalah anak dari wanita yang paling dibencinya. Seorang wanita yang diam-diam sudah menjalani pernikahan tersembunyi dengan pria yang disebutnya ayah. Mereka datang di kehidupan keluarganya saat seluruh aset keluarga telah berganti nama pemilik menjadi milik sang ayah.
Persekongkolan yang rapi dan terencana selama bertahun-tahun, dari seorang pria dan sekretarisnya. Menikam seorang wanita ahli waris yang sah. Datang dengan pongah dan congkak, membawa dua anak mereka dari pernikahan yang .... entah bagaimana mendefinisikannya, mungkin hanya sah secara hukum, tapi hukum yang mana ? . Mereka menikah di sebuah negara bebas yang bahkan juga membebaskan perkawinan sejenis. Dan pernikahan itu tanpa seijin ibunya sebagai sebagai istri pertama dari Sultan Syahreza.
Mengingat bagaimana hari itu dirinya dan ibunya ditendang keluar dari rumah yang selama ini mereka tempati, rasanya mencakar wajah pria muda ini saja tidak cukup. Mungkin dengan mencabik-cabiknya saja baru bisa melampiaskan separuh dendamnya.
" Kau memang dijodohkan dengan Keanu ..... tapi kau harus tahu juga kalau Sakala juga berminat pada mu. Dan lagi ......Yessi .... sepertinya tertarik dengan Keanu. Jadi..... untuk kebaikan mu dan ibumu .... sebaiknya kau pikirkan lagi ya... ya.. ya.. ".
" Dracio tengik .... ini hidupku ... terserah aku. Selama inipun kami berdua .... bahkan tidak pernah secuil pun merasakan materi yang memang milik kami. Kalianlah para pencuri... jangan kau pikir bisa mengsncam ku ".
" Oh ... begitu... terserahlah ... tapi ingat, aku masih memegang kartu matimu ". Dan seringai menjijikkan itupun kembali tersungging. " Kau masih ingin hidup lebih lama bersama ibu mu 'kan ? ".
Vas bunga itu terbuat dari kaca, hanya dengan sekali lompatan ia pasti bisa meraihnya sekaligus memecahkan. Lalu masih dalam satu rangkaian gerakan, pasti akan bisa menusukkan ujung runcing itu pada tenggorokan si brengsek yang kini tertawa mengejeknya. Tapi Ardelia masih sangat waras dan ia masih dapat mengendalikan dirinya walaupun dengan rasa panas mendidih di dada yang begitu menyiksa.
" Bayangkan .... bagaimana seandainya ibumu yang lembut dan penyakitan itu tahu.... apa yang sudah dilakukan putrinya demi membela seorang pria.... hi.. hi.. hi... aku masih menyimpan foto-foto nya loh 'Del ".
Kalimat bernada provokasi itu seperti siraman bensin pada bara api. Membuat Ardelia benar-benar tak mampu meredam amarahnya lagi.
" Prang ... ".
Semua persis seperti dalam perhitungannya tadi. Hanya dalam hitungan detik, dalam kecepatan yang mematikan.... Ardelia telah berhasil mendekatkan kematian pada kerongkongan Dracio.
" Aku benar-benar tidak segan membunuh mu sekarang ... ".
Dan kalimat itu bukanlah sekedar gertakan lagi. Ujung runcing dari vas bunga yang terpecah itu, kini telah membuat segaris tipis di leher Dracio. Membuat pemuda itu meringis merasakan perih.
" Ka- kau gila .... ", akhirnya pemuda itu tergagap karena dihinggapi rasa takut.
" Sudah kubilang .... kau tidak diterima disini. Jangan harap bisa mengancamku ...", gertak Ardelia sambil sedikit membenamkan benda tajam dengan ujung runcing tak beraturan itu.
" Ka- kau... ", dan Dracio hanya bisa kembali tergagap.
" Pergi !!!!!... ". Satu sentakan kuat yang dilakukan Ardelia membuat Dracio terhempas kembali di sofa.
Wajah itu terlihat sedikit pucat, walaupun masih sempat mengumpat. Dracio segera berdiri dan mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan itu. Sementara Ardelia mengikutinya dengan tatapan menikam yang mengerikan.
" Blammm ". Suara pintu dibanting, kemudian hening.
Ardelia tertegun sesaat, namun dengan amarah masih menggelayut. Perlahan ia berjongkok dan memunguti pecahan kaca dari vas bunga itu. Jangan sampai mama melihat semua ini dan mencari tahu sebabnya. Sudah cukup banyak luka dan kesedihan yang menggerus wanita tercinta itu. Seorang gadis yang rela mengorbankan cinta sejatinya, seorang anak perempuan yang memilih disingkirkan dan seorang istri yang begitu tersakiti.
__ADS_1
" Aduh ! ".
Ujung runcing itu tak sengaja menyakiti jari tengah Ardelia. Pecahan kaca itu menorehkan luka yang terasa perih, namun luka dihatinya lebih perih lagi.
Gadis itupun kemudian tergugu dalam tangisnya yang sendu. Ia menatap cairan merah yang mengalir dari ujung jari telunjuknya. Tapi sesungguhnya ia tengah menatap ke dalam hatinya yang penuh dengan kobaran rasa benci, tidak berdaya, dan juga luka yang semakin menganga. Ardelia duduk bersimpuh, bahunya bergetar hebat dan ia larut dalam tangis yang menyayat. Tanpa suara, karena ia membekap mulutnya dengan erat. Namun tak mampu menutupi semesta yang mengerti tentang sedih itu.
" Ardelia ..... ". Suara itu terdengar berat, serak namun penuh kelembutan.
Ardelia buru-buru mengangkat wajahnya dan mendapati wajah tampan yang selama beberapa hari ini sempat dirindukannya. Ketika ia akan bangkit berdiri ....
" Hati-hati ... jangan bergerak, aku bersihkan dulu pecahannya ".
Ardelia hanya mampu mengangguk dan menurut saja. Ia mengikuti gerakan pemuda itu dengan tatapannya. Tak berapa lama kemudian seluruh pecahan dan serpihan itupun telah bersih. Lalu dengan berpegangan pada telapak tangan besar dan hangat yang terulur itu, Ardelia pun bangkit.
" Apakah kau libur ? .... kenapa mendadak bisa pulang ? .... jangan main-main ya Raka ..", cecar Ardelia sambil menyeka air matanya. Berharap Raka tidak melihat derasnya air mata itu meluncur, tapi percuma saja .... kini Raka malah ikut membantu menyusut air mata itu dengan punggung tangannya.
" Kau ini ... ", hanya kalimat itu yang meloncat dengan spontan dari bibir Raka bersamaan dengan sebuah senyuman kecil.
Dari bandara dengan tergesa menuju rumah gadis ini, dan tidak menemukan sosok yang dicarinya. Raka tidak kehilangan akal, ia pun bertanya pada satpam kompleks tempat tinggal Delia.
" Oh ....ibu Palupi dan putrinya sudah berangkat pagi tadi.. Kelihatannya ke cafe mereka. Mas sudah tahu alamatnya ? ". Bapak Satpam yang lebih cocok dipanggil mas itu sangat ramah dan bersahabat.
" Ah ya pak .... saya sudah tahu. Terimakasih banyak ya pak ".
" Ya den... oh ya barusan juga ada mas-mas sipit yang nyariin. Buruan den'.... saya sebel dengan sikapnya yang sombong ... hiiih!!! ".
Raka mengernyitkan keningnya melihat ekspresi geram security yang imut ini.
" Si ... sipit itu bilangnya siap? ... ehm ... apanya? saudaranya ? ", cecar Raka tak terbendung.
" Keluarga nya.... tapi kok beda banget sama neng Ardel ya. Yang ini kayaknya makanannya linggis... keras... kaku... nggak ada manis-manisnya ".
Kalimat itu sebenarnya cukup menggelitik jiwa kocak Raka. Namun ia tergesa dan ingin segera bertemu Ardelia, belum lagi rasa khawatir yang tiba-tiba menyeruak.
" Aduh .... ".
" Kenapa den ? ".
" Saya antara aja den' ... pake motor, lebih cepet ", si mas satpam itu menawarkan dengan cepat.
" Lah ?!! ... posnya ? ".
" Ada ujang Asep yang lagi molor ... hayuk den'... kasian neng Ardel nya ".
Entah mengapa Raka patuh saja mengikuti perkataan si mas satpam yang kemudian diketahui bernama Karnadi ini. Duduk diboncengan motor matic hitam metalik, yang mulai melaju meliuk menembus arus lalulintas yang padat.
" Bu Palupi itu orangnya baeeek' banget, suka bagi-bagi makanan dan minuman. Non Ardel juga.... wiiih .... udah cantik, ramah ... pokoknya best'lah pokoknya. Makanya... aneh'kan kalau ada saudaranya yang sombongnya kayak burung merak gitu... ".
Si mas Karnadi itu terus nyerocos dan itu sangat membantu meredam rasa khawatir Raka. Saudara .... laki-laki ... sipit , pikiran Raka tertuju pada satu nama yang sangat ingin dimusnahkannya dari bumi ini.
" Sudah sampai den' ...". Karnadi menghentikan motornya tepat di depan sebuah cafe.
" Nah ... tuh... tuh ... mobilnya ", Karnadi menunjuk sebuah mobil berwarna silver yang baru saja keluar dari halaman parkir.
Raka mengetatkan rahangnya, mengepal kedua tangannya dan tatapannya tajam menikam. Ardelia ...... ah, iya... ia harus segera menemui gadis itu.
" Den... ", sapaan Karnadi pun ikut membantu mengembalikan kesadarannya.
" Ya pak... terimakasih banyak ya atas bantuannya ". Raka pun kemudian menyelipkan beberapa lembar rupiah berwarna biru ke saku seragam putih Karnadi. " Buat beli bensin ya pak.... terimakasih banyak ".
" Den....Aden ....apa ini ... kebanyakan den ... ".
" Bagi sama temen bapak ". Dan Raka pun melesat memasuki cafe. Suara teriakan Karnadi masih terdengar jelas, mengucapkan terimakasih.
Begitulah, hingga akhirnya Raka kini mendapati Ardelia yang sedang menangis dengan jari yang terluka dan berdarah. Bahkan gadis itu tak menyadari kehadirannya.
" Biar ku obati dulu ".
__ADS_1
Raka mendudukkan Ardelia di sofa, tapi pria itu mendadak tersenyum dengan linglung. Sambil menggaruk-garuk kepalanya ia berkata, " kotak P3K dimana ? ".
" Heeem... nggak usah, cuma luka kecil saja kok ".
" Kalau infeksi bagaimana ? ".
" Ya deeeh... aku ambil sendiri saja, duduklah. Kau 'kan yang tamu di sini ".
Ardelia bangkit dari duduknya, dan mulai melangkah saat tiba-tiba sebuah tarikan di lengannya menghentikan.
" Aku bawa tissue anti septik ".
Lembaran putih itu terasa basah dan dingin saat menyentuh ujung jari telunjuknya. Ardelia terdiam, terpaku untuk kemudian terpana dengan apa yang dilakukan Raka.
Pemuda itu perlahan mengecup lembut ujung jarinya yang terluka. Kecupan yang dalam dan lama. Menciptakan gelanyar aneh yang tiba-tiba seperti sulur-sulur hidup, merayap perlahan dan menggetarkan hatinya.
Ardelia masih terkesima dan hanyut oleh perasaan yang tidak dimengertinya, tetapi satu gerakan Raka yang perlahan dan pasti, kini telah mengunci raga dan akal sehatnya.
Raka menarik Ardelia dengan lembut, membawa tubuh itu bersembunyi di dadanya. Rambut itu menguarkan wangi yang manis dan lembut, harum yang selalu membuat Raka bimbang dengan hatinya. Dan kini, ia bahkan bisa merasakan betapa hangatnya tubuh ini dalam dekapannya.
Raka kemudian menarik nafas panjang. Saat itulah ia merasakan Ardelia mulai sedikit berontak. Dengan kesadarannya, Raka mempererat dekapannya.
" Aku ..... sangat rindu padamu ". Bisiknya penuh kelembutan walaupun dengan suara yang serak karena menahan buncahan rasa.
" Ra... ka.... ". Ardelia merasakan tubuhnya seperti meleleh, ia seperti kehilangan seluruh tulang dan persendiannya.
Dada ini begitu bidang, keras tapi entah mengapa memberikan rasa nyaman. Belum.lagi aroma vanilla yang dibaurkan dengan aroma maskulin yang lembut dan segar, sungguh membuat Ardelia seperti seorang pemabuk yang mulai kehilangan kesadarannya. Ia pun kemudian membenamkan wajahnya begitu dalam di dada ini.
Entah mengapa rasa marah, cemas, sedih dan juga rasa takut yang tadi sempat mengambil alih seluruh relung hatinya .... kini tiba-tiba berubah menjadi hangat dan nyaman. Tak ada keinginannya sedikit pun untuk terlepas atau melepaskan diri dari dekapan ini. Kemudian dari rasa nyaman yang merajai itu, entah kenapa tiba-tiba saja ia menangis. Air matanya mengalir begitu saja.
" Aku juga rindu pada mu .... ". Tapi bukan hal itu yang sebenarnya ingin disampaikan Ardelia. Ia tidak mampunya memilih kalimat yang tepat untuk mewakili perasaannya. Hingga tangis lirihnya itu begitu panjang.
Raka kembali menggeram dalam diam, garis rahangnya mengeras. Sekelebat wajah Dracio yang masih nampak pucat, pecahan vas bunga yang terbuat dari kaca, Ardelia yang terluka kecil tapi dengan tangis yang tidak bisa diabaikan. Raka tidak berani berspekulasi menebak kejadian yang baru saja usai di tempat ini. Yang pasti, semua yang dilihatnya ini telah menarik level dendamnya pada si manusia turunan iblis itu.
Tapi kini ia harus menopang hati gadis yang sedang menyembunyikan tangis di dadanya ini. Ia harus menguatkan dan memberikan rasa aman, serta membiarkan gadis ini menangis sepuasnya.
" Aku ..... akan selalu ada untukmu ". Pada akhirnya Raka berhasil membisikkan satu kalimat yang menurutnya paling tepat.
" Bagaimana residensial mu ? ... kau bolos ya ? ".
Tidak terduga bukan ?, tapi itulah kalimat yang terloloskan dengan mulus dari mulut Ardelia. Membuat Raka tersenyum gemas pada gadis ini.
" Nggak 'laaah..... aku masih bisa menentukan dengan tepat skala prioritas dalam hidup ku ".
Kedua orang itu mulai bercakap-cakap seperti biasanya. Yang tidak biasa adalah posisi mereka saat ini. Raka masih tetap memeluk Ardelia yang tak juga mengangkat wajahnya dari dada Raka.
" Kalau memang demikian.... kenapa kemari ? ".
" Maksud mu ? ".
Balasan pertanyaan yang disampaikan Raka pada akhirnya membuat Ardelia mengangkat wajahnya. Raka dengan gerakan spontan yang tidak disadarinya, mengeratkan pelukannya pada Ardelia. Gadis itu pun nampak sedikit terkejut.
" Kalau kau prioritaskan residensial mu .... kenapa kemari ? ". Tanya Ardelia lagi, sambil menatap sepasang mata bemanik kelam yang.
terasa lembut mengalirkan kehangatan.
" Kata siapa .... ".
" Loh ..... ?!!!! ", Ardelia kebingungan.
" Aku sangat rindu padamu .... dan itu prioritas ku saat ini ".
Suara berat yang sedikit serak itu seolah mengalungkan syair lagu yang begitu merdu. Membuat Ardelia semakin tersihir oleh pesona pria yang kini tak bergeming, tetap menatapnya.
Pelangi itu melengkung dengan indah pada batas mayapada
Padahal gerimis masih merintik dengan cerita sedihnya
__ADS_1
Tapi memang pelangi itu tercipta dari rintik gerimis yang tak kunjung berlalu
Seperti sebuah syair lagu merdu yang tercipta karena siksaan rindu