PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Rentang Biru (2)


__ADS_3

Tidak enak rasanya  jika harus menolak berkali-kali tawaran pak Haris yang memang sepertinya sudah dapat begitu banyak pesan dari sang boss besar. Menerima tawaran pria itu adalah bentuk dari rasa saling menghargai, Haidar pun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah pak Haris, yang ternyata ada Velinda juga di dalamnya. Semula Haidar memilih untuk duduk bersama sopir, dan mencegah gadis itu untuk berpindah tempat duduk. Tapi sepertinya ia kalah gesit dengan Velinda. Gadis itu tersenyum mempersilahkannya, dan Haidar membalas dengan ucapan terimaksih serta sedikit senyuman.


Detik berikutnya ia sudah sibuk berbincang Haris, yang lumayan menyenangkan juga sebagai seoang pria yang sebaya dengan papah nya. Rupanya pria ini sudah terlalu lama tinggal di Eropa dan sangat menerima budayanya dengan suka cita. Sehingga memilih tidak menikah, dan hidup bebas dengan pacar-pacarnya. Haidar tersenyum mencoba menyelami tanpa harus tenggelam. Sejujurnya hati kecilnya sungguh merasakan ironis yang dalam.


" Dari awal sudah kusampaikan pada mereka, jangan pernah berharap untuk sebuah ikatan yang menurutku ... hanya akan membebani satu sama lain. You know lah... hati orang itu begitu rentan akan perubahan. Kalau masih suka, ayo jalan ... kalau punya yang lain ya silahkan.... ".


Haidar yang sebenarnya sangat tidak sependapat, memilih mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil saja. Dia mau berkomentar apa juga  bingung, salah-salah nanti malah menyingung perasaan orang. Ya sudahlah, jadi pendengar yang baik saja tanpa perlu berpihak atau menyanggah. Lumayan ini dapat tumpangan gratis.


" Aku juga sempat heran... sangat heran malah, melihat pada akhirnya pak Mandala menikah, punya anak dan tak lagi terdengar skandal cintanya dengan para selebritis. Aku sempat beberpa kali bertemu bu Orlin, ya ... jadi paham akhirnya, wanita hebat yang bisa menaklukan ayahmu. Oh ya, kalau calon istri mu ?. Maaf ... kalau boleh tahu nih ".


" Oh... dia hanya gadis biasa, seorang teman lama ", jawab Haidar merendah.


" Untuk masuk menjadi keluarga Arsenio.... she is must be extraordinary people. Pasti dia sangat istimewa ".


Haidar tertawa saja, " Dia hanya gadis yang cukup sulit kutaklukan, yang berhasil membuatku jatuh cinta setengah mati ".


" Benar'kan ... tidak mungkin dia orang biasa ", kali ini Haris ikut tertawa.


Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di depan pintu masuk Zurich Zoo. Haidar turun dan membungkuk untuk kembali berterimakasih pada Haris. Ia sempat membukakan pintu untuk Velinda yang kembali berpindah tempat duduk.


" Terimaksih pak Haidar ".


" Sama-sama nona ", Haidar membalas dengan sopan.


................................


" Uncle, kenapa kau lama sekali ? ". Serbu Leisel begitu Haidar duduk bergabung dengan rombongan kecil yang sudah cukup lumayan lama menunggunya.


" Oh maaf sayang, tadi uncle harus kerja dulu ", sambil membelai rambut Leisel dengan gemas. " Sempat agak bingung nyari restourantnya ".


" Kan bisa telpon ..., lagian dari tadi di hubungi juga susah banget ", kali ini Keanu yang protes. " Ayo makan dulu lah, mumpung belum dingin makanannya ".


" Okay ... wouw grilled salmon, thank you ". Haidar mengerling seraya menoleh sekilas pada gadis di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Hanin Hanania nya.


" Heeeem ... ada kita disini juga, jangan cuma dianggurin ". Keanu sudah memulai aksinya.


" Sorry ... yang kelihatan indah cuma dia doang ".


Jawaban rasa bucin absolut yang kemudian menyulut ledakan tawa Keanu, sementara Sellma yang sedikit menebak-nebak pada akhirnya ikut terkekeh meski ia belum yakin benar apa translate versinya benara tau nggak. Tapi melihat cara Haidar mengerling, Hanin yang tersipu lalu Keanu yang bahagia membabi-buta dengan cengiran nakalnya... pasti benar lah terjemahan ngasalnya.


" Bang ... lo' telpon gue ? ", Keanu memperlihatkan HP nya yang memperlihatkan dering panggulan masuk dari nama kontak 'Bang Haid'.


" Hah ?!! ", Haidar buruburu mempercepat kunyahannya, langsung ditelan, dan berdiri menggerayangi dirinya sendiri, mencari sesuatu. " Kok bisa ?... eh HP gue nggak ada. Angkat, angkat ...buruan ".


" Hello ... ", Keanu menyapa dengan ragu. Tapi sejurus kemudian ia mulai berbicara dengan lancar, tentu saja karena orang yang menelponnya menggunakan bahasa asing yang paling dia kuasi, English.


" Oh ya, aku temannya. Dia sedang bersama kami sekarang. Oh .... okay, okay .. kami menunggu. Ya... ya, di zoo restourant .... baik, baik, terimakasih sebelumnya ". 


" Siapa ?, mau kesini ?, ketinggalan dimana ? ", Haidar mencecar dengan penuh penasaran.

__ADS_1


" Atu atu abaaang .... cewek, ya mau kesini, ketinggalan dimana lagi kalau bukan di mobil ", jawab Keanu runtut. " Ehm... ada yang mau kau jelaskan ?, sama Hanin tentunya ... ehm!!!! ", nah lo' si bang Key kumat lagi. " Cewek looooh ... ".


" Oh ... itu, dia salah satu karyawan magang, salah satu staff ahli ". 


" Cantik nggak ? ", pancing Keanu.


" Standar... cantik Hanin ku ". 


" Uhuk !! ", dan membuat Hanin terbatuk-batuk . Sellma buru-buru memberikan segelas air putih padanya. " Terimaksih .. ".


" Kalian para pria, jangan ganggu Hanin dulu, biarkan dia makan dengan tenang. Urus saja urusan kalian sendiri ", hardik Sellma yang sukses membuat Keanu dan Haidar seperti mendengking keki.


" Maaf ya sayang ". Haidar membelai lengan Hanin lembut, dan sungguh tak diduga siapapun yang ada di tempat itu. Hiadar tiba-tiba saja mencium kening Hanin dengan gerakan cepat dan sangat romantis.


Keanu terbelalak, Sellma tersenyum bahagia, Hanin tersipu dan makin tak bisa berkata-kata. Hanya Leisel yang melewatkan moment itu karena terlalu sibuk dengan balon Nemo-nya.


" Fix ini sih.....  ", Keanu tak lagi menyembunyikan tawanya.


" Apa lo' ... ".


Sayangnya kedatangan sosok anggun dengan langkah mantap yang mencerminkan betapa percaya dirinya dia, membuat Haidar tak bisa melanjutkan salakannya pada Keanu. Dia segera berdiri dan melambai pada sosok itu. Velinda datang dengan langkahnya yang seperti seorang model diatas run away. Membuat Keanu dan Sellma ikut memutar pandangan mengarah pada seseorang yang dituju Haidar.


" Ouw ouw ... ", provokasi si bang Key sambil berpandangan dengan Sellma.


" Maaf Velinda, aku jadi merepotkanmu. Mari, kita makan siang bersama ... ", sambut Haidar dengan sopan.


" Ku pesankan sekalian, kita makan siang bersama. Kami belum selesai kok ".


" Tidak, tidak.. terimaksih banyak pak. Saya ada janji siang ini, kebetulan tidak terlalu jauh tempatnya dari sini. Oh, ini telepon bapak ". 


" Terimakasih banyak ya ", Haidar menerima telepon genggamnya. " Oh perkenalkan , ini Velinda . Ini Hanin calon istriku, yang itu Keanu, Sellma dan si cantik Leil ".


Velinda tersenyum dan mengangguk pada semua orang yang ada di tempat itu. Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya ia benar-benar berpamitan. Bersalaman dengan semuanya dan kemudian melenggang pergi.


" Waduuuuh , yang mepet aja secantik itu. Hati-hati loh 'Nin ". 


" Tidak usah menyulut api ... tidak bikin gosip. Kau pikir Sellma akan suka melihat mata mu yang jelalatan seperti itu ? ",  hardik Haidar pada Keanu yang justru terkekeh-kekeh jahil.


" Aku sudah selesai makan mas. Sebaiknya kau juga segera menyelasikan makan siang mu ", kali ini Hanin berbicara dengan tegas. 


" Oh maaf... baik sayang ", tapi Haidar tetap berhasil membala dengan penuh keromantisan dan membuata Hanin kembali memilih diam karena dihinggapi rasa sungkan dan malu.


"Bahagianya kita ya Sellma, seolah sedang melihat kecemburuan seorang istri ... dan betapa sayangnya sang suami ", Keanu mengerling pada Sellma yang juga tersenyum-senyum.


" Semoga kalian tidak terlalu lama menunda ya ... segeralah menikah ", tukas Sellma kemudian. 


...........................


Keanu memandang kepergian Haidar yang merangkulkan lengannya di pinggang ramping Hanin. Ia bahagia melihat semua hal itu, tapi iri juga sih. Karean ia tidak bisa melakukanya pada Sellma, yang pasti tak mau menerima ajaknnya untuk jalan-jalan malam itu. Tentu saja karena Leisel sudah kelalahan sesiang dan sore tadi bermain di kebun biantang dan taman hiburan.

__ADS_1


Jadilah si abang sipit yang manis ini luntang-lantung menikamati suasana taman hotel sendirian. Tapi tiba-tiba sebuah panggilan dari telepon genggamnya membuat matanya berbinar seperti pendaran kembang api di lanit malam. Sellma meneleponnya.


" Uncle... uncle dimana ? . Leil mau tidur di temani uncle ... ".


Ya Tuhan, segala puji bagi Engkau Sang Maha Cinta. Terimaksih Tuhan ...... sorak Keanu penuh kemenangan.


Dan pria itu pun cukup menjawab dengan satu kata 'ya'. Lalu segera melesat masuk kembali ke dalam hotel, dengan tak sabar menunggu lift yang akan membawanya. Dan saat sampai di hadapan pintu kamar tempat dimana para pencuri hatinya berada, ia menarik nafas panjang sebelum menekan bell.


" Maaf .... ", *sepasang mata Sellma menyambutnya penuh rasa bersalah. Ia berdiri sambil menggendong Leil yang terisak perlahan.


" Aku mau uncle ... mau uncle ", rengek bocah itu.


" Ini uncle sayang ... ", dan Keanu mengambil alih bocah itu. Membawanya dalam pelukan lengannya yang kekar dan hangat, menyusut air mata yang masih tersisa, lalu membelai kepala Leisel dengan lembut.


Beberapa saat lalu hati Keanu terasa kosong, apalagi saat melihat kemesraan Haidar dan Hanin. Tapi kini semua kekosongan itu sudah terisi dengan hangatnya rasa bahagia yang menyemikan beraneka bunga di hatinya. Tangan kecil gadis itu memeluk lehenya dengan erat, seolah benar-benar tak mau jauh darinya.


" Uncle jangan pergi, sama Leil saja disini .. ya.. ", rengekan itu terdengar tulus.


" Ya sayang, uncle temani Leil di sini ".


" Uncle ... kata mamah, uncle akan marah kalau Liel panggil uncle ... papah. Leil jadi sedih ".


Keanu terdiam sesaat, ia mentap Sellma yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia menikam  Sellma dengan tatapan penuh rasa sesal. Dan peralahan menggeleng seolah sedang menyampaikan keberatannya pada wanita itu.


" Kau tahu... kali ini mama salah. Uncle mau sekali kok jadi papa Leil. nanti kita bujuk mama sama-sama ya ... " .


..................................


" Maaf ya ... ".


" Kenapa begitu ? ", tanya Hanin kebingungan.


" Maaf, karena sudah membuatmu di posisi yang sulit. Ya... menghadapi bombardir ledekan si bang Key' itu ".


Hanin tertawa kecil, ia membetulkan letak duduknya. Membuat Haidar segera merapat mendekat dan membuat lengan mereka tanpa sekat. Malam itu keduanya memilih sebuah film horor untuk ditonton. Tentu saja karena Haidar berharap akan ada yang melompat memeluknya saat si setan muncul mengagetkan.


" Ada rencana buat bikin skor imbang ? ", Haidar berbisik karena film sudah dimulai, dan tentu saja agar dia bisa mencuri wangi dari pipi Hanin. Dasar !!!!!


" Aku nggak punya otak kriminal kayak kalian. Mas atur ajalah ... aku ngikut ".


Haidar terkekeh sambil meraih jemari Hanin dan menautkan pada jemarinya. Mengangkatnya perlahan untuk mendekat pada bibirnya dan mengecupnya penuh kelembutan. Sekali, ia merasa mungkin sudah cukup. Namun ternyata insting prianya menuntun melakukannya lebih. Dan Haidar pun menghujani punggung tangan halus dan beraroma lembut itu dengan kecupannya yang perlahan memanas.


" Mas ... ", suara Hanin yang setengah berbisik memaksanya menjeda.


" Ya ... ".


" Bisa tidak... kita tidak membuat film sendiri ... "


Oh my Godness.............

__ADS_1


__ADS_2