
Dia berlari kecil saat keluar dari taksi yang membawanya ke rumah besar itu. Mantelnya sedikit basah oleh rinai-rinai hujan yang masih mengguyur. Angin dingin membelai pipinya yang putih bersih. Ia pun menggertakan giginya menahan rasa dingin yang mulai menusuk.
Dua orang gadis cantik beranjak remaja menyambutnya dengan penuh suka cita. Si kembar ceria itu menyongsong dan langsung mengambil alih dua kantong belanjaan yang sedari tadi sudah bergelayut manja di tangannya.
" Bunda .... kak Hanin sudah datang ", itu adalah suara Celia .
" Wah .... sudah belanja. Dapat semua Nin' ? ". Seorang wanita yang cantik dan anggun ikut menyongsong.
" Alhamdulillah Bu Arya ", sahutnya.
" Waduh... sampai mampir di dua tempat ya. Nih .... ", sambil mengangkat dua kantong belanja dengan dua logo berbeda itu.
" Ha.. ha.. ha... yang ada terasi cuma di Indomarket. Sambel terasi tanpa terasi .... nggak afdol dong ".
" Iya juga ya. Terima kasih banyak ya Hanin ".
" Bunda.... kita tidur bareng kak Hanin ya ", rengek Celine.
" Kak Hanin nya tidur di sebelah mana dong ?. Ranjang susun begitu ".
" Kita yang pindah kamar, bunda..... ", koor Celine dan Celia.
" Dengar sendiri ' kan Hanin. Tapi yang kasurnya gede ... 'kan udah dipake om Haid... ".
" Kan belum jadi buat tidur, kita pindahin aja kopernya ", sambar Celine dengan cerdas dan langsung mendapatkan anggukan penuh semangat dari kembarannya.
" Nanti protes lagi .... bau cowok, kaya' kamar bang Rama ".
" Nggak lah bunda, om Haid kan cuma nitip koer doang, belum sempat tidur ". Kali ini Celia yang beragument. Tentu saja membuat Sabrina, bunda mereka hanya mengangkat bahu tanda menyerah.
" Sepupuku datang dari Indonesia. Kau harus berkenalan dengannya. Cuma sehari di Berlin, langsung ke Heidelberg. Harusnya malam ini sudah datang..... agak nanti mungkin. Ayo Hanin... masuk, istirahat dulu ".
Hanin, si gadis mungil berkulit sebersih awan seputih pualam itu pun tersenyum dan melangkah masuk. Menyapa sang tuan rumah yang tidak lain adalah bapak duta besar yang tengah berbincang santai dengan putra sulungnya.
" Kak.... bikin klepon sama bakwan jagung ya ", pinta si sulung Rama dengan semangat.
" Siap ...... sudah masuk menu wajib itu ".
" Hore .... ", dan pemuda tanggung itupun bersorak gembira.
Awalnya ia berniat menyiapkan segala sesuatunya malam ini, baru akan beranjak untuk beristirahat. Tapi antusiasme Celine dan Celia tentu saja membuatnya harus mengganti jadwal. Kini ia duduk manis karena sedang dirias oleh dua gadis ini. Tertawa-tawa saat berfoto dengan menampilkan wajah full make up namun berpose konyol. Seperti sedang melakukan pesta piama saja, tapi dia pun sangat menyukai suasana ini. Seperti dirinya dulu, yang selalu begitu kompak dengan kakaknya. Dan kini ia harus berganti peran, menjadi seorang kakak.
" Kak Hanin, sudah pernah ketemu om ku ? ", tanya Celine tiba-tiba.
" Tentu saja belum ", sela Celia cepat. " Om Haid kan lama nggak kesini. Terakhir dulu pas eyang'uti sama mama baru buka toko baru di Dusseldorf..... Lima tahun yang lalu ".
" Oh iya ya..... eh, tapi kak Hanin harus kenalan sama om ku, dia ....ganteeeng banget loh. Tinggi ... kaya bule gitu. Dokter lagi .... pokoknya .... ". Dan Celine mengacungkan dua jempolnya.
" Wow .... ganteng gitu, pasti pacarnya cantik ya. Apalagi dokter .... waah, pasti banyak gadis pada berebut ".
" Nggak tau deh' .... tapi kata bunda, om Haid itu terlalu sibuk, jadi nggak sempat pacaran ".
Hanin tertawa dan mengacau poni Celine yang terlihat paling bersemangat menceritakan tentang om nya itu.
" Kak Hanin.... sudah nggak sama David ... eh ... om David 'kan ? ". Tiba-tiba suara Celine terdengar lebih lirih.
" Celine ", hardik Celia pada adik kembarnya.
" Maaf .... kak Hanin yang cantik dan baik ini .... terlalu.... ah, maksud ku .... hanya.... kak Hanin pantas dapat seseorang yang lebih baik .... maaf kak Hanin ".
" Its okay ..... terimakasih ya Celine ". Hanin justru memeluk gadis yang menatapnya dengan sorot mata yang tulus itu.
" Kakak ..... maaf, kami banyak mendengar.... dari bunda. Tapi kakak nggak perlu bersedih lagi ya .... ". Kali ini Celia ikut masuk dalam lingkaran pelukan hangat itu.
" Hei.... bukannya malam ini kita mau jadi Putri tidur ya? . Kok malah sedih-sedih begini sih ".
Dan sikembar itupun tertawa-tawa kemudian. Lalu tiga orang gadis itupun melanjutkan aktivitas mereka. Kini ketiganya telah berbaring berjajar dengan menggunakan masker. Sambil tetap saling berceloteh dan tertawa cekikikan, menceritakan lelucon dan juga kejadian-kejadian konyol. Terkadang juga dengan sedikit histeris dan antusias berlebihan saat mereka mulai bercerita tentang aktor-aktor tampan. Aduh..... dunia gadis banget. Tepat pukul sebelas malam Hanin mematikan lampu kamar, dan bersiap untuk terlelap.
................
__ADS_1
Ia lupa mematikan alarm pada telepon selularnya. Jam satu lewat tiga puluh menit, ia terbangun untuk mematikan alarm itu. Tapi kebiasaannya untuk bangun dinihari, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk keperluan masak di restoran, membuatnya tidak bisa segera kembali terlelap setelah menunaikan shalat malam.
Hanin memilih untuk turun ke dapur dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Tapi rupanya, Bu Dubes sudah membantunya. Ia melihat kangkung yang sudah dihilangkan akarnya dan sudah dicuci, jadi tinggal menyiangi saja. Aneka bumbu juga sudah dipersiapkan. Kini tinggal memarinasi ikan saja.
Saat ia sedang sibuk mencuci ikan kerapu yang di negara ini harganya selangit, tentu saja karena di ekspor dari Nusantara tercinta. Hanin merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya. Tiba-tiba saja ia merasakan bulu kuduknya sedikit meremang.
" Ehm ", terdengar suara berdehem
" Astaghfirullah .... ", Hanin menoleh dan terkejut. Walaupun bukan pemandangan yang mengerikan, tapi sosok yang tengah berdiri itu cukup membuat jantungnya seperti berhenti sesaat.
" Ma ... maaf, aku hanya ingin mengambil air minum saja ".
Pria itu tinggi menjulang dengan badannya yang kekar, wajahnya juga ..... tampan. Hanin menelan ludahnya sendiri untuk menghilangkan kegugupan. Ia pun lalu mencoba mengangguk dan tersenyum, membalas senyuman pria itu.
" Maaf ya .... aku mengejutkan mu ". Suara berat dan dalam itu terdengar penuh penyesalan.
" Ti-tidak apa-apa.... ah, ya silahkan ".
Pria itu tersenyum sambil melangkah mendekati meja tempat sebuah teko air tersedia. Suara kerucuk air yang dituangkan terdengar sesaat kemudian, disusul suara sebuah kursi yang ditarik perlahan. Hanin menoleh dan mendapati pria itu sedang duduk sambil meminum air dengan sangat nikmat.
Jakunnya terlihat naik turun saat cairan bening itu pastinya tengah mengalir menyegarkan kerongkongan pria itu. Hanin tersenyum, karena ia yakin kalau pria itu juga pasti bermaksud melakukan hal yang sama padanya. Terlihat dari sepasang mata yang tertarik memanjang, dan tulang pipi yang meninggi.
" Kerapu ? ", tanya pria itu saat Hanin mulai mengolesi gerombolan ikan dalam wadah besar dengan bumbu instan yang dibelinya tadi.
" Iya ".
" Kesukaan mas Arya itu ", kata pria itu lagi.
Hanin menjawabnya dengan anggukan dan senyuman sambil tetap melanjutkan pekerjaannya. Setelah memastikan semua bumbu merata, ia menutup wadah besar itu. Kemudian mencuci tangannya.
" Ada yang bisa kubantu ? Kau bekerja dinihari begini ".
" Ah.... tidak... tidak ... terimakasih. Ini sudah selesai kok ", tolak Hanin dengan gugup.
" Tapi tidak ada yang membantumu ... kau kerepotan sendiri ".
" Tidak apa-apa kok.... ini... hanya kebiasaan ku saja. Mempersiapkan semua bahan ... dini hari. Jadi ... aku bisa shalat subuh dengan tenang. Ini sudah selesai kok ".
" I-ini .... aku sudah selesai ... ". Hanin membersihkan tangannya kemudian mengelap sampai kering. Tapi saat ia berbalik, ia masih mendapati pria itu duduk disana seperti tengah menunggunya.
" Aku .... aku naik dulu... selamat malam ".
Ia sendiri pun tidak mengerti mengapa tatapan pria ini membuatnya begitu gugup. Pria ini pasti adik sepupu Bu Sabrina dan Pak Arya.... ah siapa tadi namanya, ia mendadak lupa. Tapi kenapa pria ini mengikuti langkahnya.
Common Hanin..... realistis-lah, ia tidak sedang mengikuti mu. Kamar yang kau tempati saat ini adalah kamarnya, tentu saja ia harus tinggal tepat di sebelah kamar mu. Kau menjadi segugup ini .... ada apa dengan mu. Aku hanya kaget saja !!!!!.... Hanin menyalak pada dirinya sendiri.
Ia berhenti tepat di depan kamarnya, menoleh sesaat pada pria yang kini berjalan melewatinya. Hingga keduanya berdiri sejajar, dan sama-sama memegang engsel pintu kamar masing-masing. Hanin menoleh, tersenyum dan sedikit mengangguk pada pria itu yang juga tengah tersenyum menatapnya.
Hingga kemudian, gendang telinganya menangkap sebaris kalimat lembut yang keluar beriringan dari senyuman hangat itu.
" Selamat malam... selamat tidur Nania .... ".
...................
Air matanya masih menetes satu demi satu, perlahan ia menyusutnya. Masih dengan terduduk dilantai dan bersandar pada pintu. Seorang gadis berkulit seputih pualam masih menangis dalam diam.
" Nania .... Nania.... Nania.... Nania .... ".
Suara-suara itu terus berdengung memanggil-mangilnya. Membuatnya semakin terisak oleh rasa rindu yang merisak. Ia pun menelungkupkan wajahnya diantara kedua lutut sambil terus memeluk dirinya yang berguncang. Ia tegugu dalam pilunya rasa rindu, juga rasa bersalah yang menampar-nampar.
Betapa ia sangat merindukan nama itu .... Nania, ia sangat ... sangat rindu. Dua wanita yang sangat dicintai... tapi juga dua hati yang telah disakitinya .... ibu dan kakaknya. Selalu memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
" Besok kalau anak mu laki-laki, kau berilah nama Aslan. Kan cocok banget tuh sama nama emaknya .... Narnia ... hilang 'N'. Nyambung tuh dek' ".
" Nania ... itu nama yang sudah lama disiapkan ayahmu. Narila dan Nania .... dua harta ibu yang paling berharga ".
Gadis itu adalah Hanin Hanania, yang kini masih menangis dalam gelap seorang diri. Ketika ia pada akhirnya bisa kembali menguasai diri, kini mentap wajahnya yang terlihat kuyu dan sembab. Lalu kembali membasuh mukanya dengan air hangat yang mengalir pelan. Kemudian kembali menatap ke dalam cermin.
Nania.... ia tersentak. Bagaimana pria itu bisa memanggilnya, bagaimana dia justru memanggil dengan nama itu. Semua orang memanggilnya Hanin, apalagi orang-orang disini. Bukankah pria itu ..... ah, pasti dia adalah sepupu Bu Sabrina. Tapi bagaimana dia mengenal Nania ? ... bukannya Hanin.
__ADS_1
Tunggu... pria itu.... dia sempat bertemu sebelumnya. Ya... ya... dia adalah pria yang datang bersama kak Audrey dan kak Dirga. Ya ... dia sudah bertemu sebelumnya. Tapi .... darimana ia mengenal Nania ?. Pria .... pemuda dari masa lalu. Dan dirinya kini terlalu lelah untuk mengingatnya.
Hanin memutuskan untuk kembali berbaring bersama si kembar, menarik selimut perlahan-lahan dan mencoba untuk memejamkan mata.
" Selamat malam... selamat tidur Nania .... ", walaupun suara itu terus berdengung-dengung.
Please ..... biarkan aku terlelap sebentar lagi saja. Pintanya setengah merutuki diri sendiri.
Sementara itu di kamar sebelah, Haidar tersenyum-senyum sambil menatap langit-langit kamar. Ia masih menikmati sensasi dari percikan rasa yang membuatnya seolah diterbangkan diantara mega. Gadis itu terlihat kebingungan, tapi senyumannya .... oh Tuhan, manis sekali.
Apakah kini dia mulai mengingat ku ? . Pertanyaan itu membuat Haidar kesulitan untuk bisa kembali segar terlelap.
Wajahku ini, apa sudah sangat berubah ya?. Masa dia sama sekali tidak mengingat ku ?.
Dan Haidar pun semakin tersiksa dengan pertanyaan-pertanyaan yang dibuatnya sendiri. Membuatnya semakin frustasi dan baru bisa kembali terlelap menjelang pukul empat.
Alamat bakal kesiangan kau mas .....
.................
Ia terbangun pukul enam pagi, dengan tergesa mengambil air wudhu dan segera menunaikan shalat subuh yang tentu saja sudah terlambat. Tapi .... ya sudahlah, biar kau tanggung sendiri ya Haidar semua akibatnya.
Tanpa mandi terlebih dahulu, Haidar memutuskan untuk segera keluar dari kamar. Tapi ia teringat sesuatu saat sepasang matanya menangkap bayangan koper besarnya. Ia pun menghampiri benda itu dan buru-buru mengambil sebuah kotak persegi yang terbungkus rapi dengan bubble warp. Ia lalu membawa keluar benda itu.
Saat ia sudah berada di luar kamar, rencananya mengalami sedikit perubahan. Tentu saja karena sasarannya kini sudah berada di depan sana, sedang berjalan menuruni tangga. Ia pun lalu mengikutinya perlahan.
Benar saja, persis seperti dugaannya. Sang sasaran yang tentu saja adalah si cantik secemerlang mutiara itu, kini melangkah menuju dapur besar. Di sana telah menunggu bu Karti yang telah setia membantu pekerjaan rumah tangga kakak sepupunya selama ini.
" Loh ... sudah bangun mas ? ", sapa Bu Karti.
Haidar tersenyum sambil mengangguk. Lalu ia duduk dengan santai di kursi mini pantry, tak jauh dari dapur besar itu.
" Kopi mas ? ", Bu Karti menawarkan.
" Ah tidak ... terimakasih, air putih hangat saja ", tolaknya dengan sopan. " Aku ambil sendiri saja ... ".
Tapi Haidar terlambat, karena tanpa diduga-duga..... segelas air putih hangat itu sudah selesai dituangkan oleh sang sasaran cantik itu. Tentu saja dia adalah Nania-nya.
" Terimakasih .... ". Haidar pun segera meraih gelas yang baru saja diletakkan di depannya. Sambil tersenyum ia segera menghabiskan separuh isi gelas itu.
" Ada sesuatu untuk mu Nania ".
Dan gadis yang sedang sibuk dengan food processor itu pun segera menoleh ke arahnya.
" Ini ... ", Haidar menyorongkan benda yang sejak tadi dibawanya.
Tanpa berkata-kata, Nania meraih benda di atas meja itu. Ia menatap Haidar cukup lama, seperti sedang mencari sesuatu. Saat Haidar mengangguk sambil tersenyum, ia pun tanpa ragu mulai mengoyak pelapis benda itu. Dengan tidak sabaran segera membuka isi kotak itu. Dan seketika sepasang mata indah yang entah mengapa menurut Haidar terlihat sedikit kuyu itu, kini membeliak sempurna begitu melihat isi kotak itu.
" Maaf ... aku baru bisa memberikannya, seharusnya sudah dari kemarin-kemarin .... ".
" Terimakasih ", potong Nania dengan suara sedikit bergetar.
" Bu Firman ... mba Narila .... mereka sangat merindukan mu ".
" Ya ... aku tahu ..... ".
Tapi Nania-nya yang cantik itu tak mampu menahan lagi. Bahunya berguncang karena lelehan air mata yang tidak tertahankan.
" Aku juga rindu mereka .... terimakasih ya ... maaf, aku .... sempat lupa padamu .... mas.... Haidar ".
.....................
Cukup .....
Cukup satu kata saat kau menyebut namaku
Tapi rasanya seperti mendapatkan selaksa pujian
Pasti karena aku terlalu bahagia
__ADS_1
Sangat bahagia karena Telah menemukan mu