PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Relung (6)


__ADS_3

Dapat dipastikan, saat masih penuh gejolak muda dulu, mereka pasti para pemuda dengan semangat yang menggelegak. Walaupun kini rambut di atas kepala mereka sudah mulai menjadi abu-abu keperakan. Bisa dikatakan, delapan puluh persen sudah memutih dengan indahnya. Tapi semangat keempat orang itu tak terpungkiri.... masih menggebu.


Sesekali tawa dua orang yang bergabung dalam satu tim akan terdengar membahana, saat berhasil mengurangi dua orang lainnya di tim seberang. Ini bukanlah pertandingan sesungguhnya, tapi permainan untuk melepas penat dan untuk mempererat persahabatan mereka.


Yang berbadan paling tinggi besar itu tentu saja si om pemilik bengkel mobil yang paling terkenal karena kehandalan memodifikasi kuda besi canggih menjadi lebih spektakuler. Tentu saja dia adalah Ardanu, yang juga telah mengajarinya beberapa teknik drifting. Dan pastinya selalu membuat mama nya mengomel panjang pendek dengan khawatir.


Lalu yang paling kalem itu, tentu saja king of hacker yang selalu bisa diandalkan untuk urusan spionase. Seseorang yang lembut dengan tingkat kecerdasan dan kecerdikan yang mematikan. Om Bramastya nya tersayang, yang sering membelikan es krim dengan pot besar agar dirinya berhenti bertanya ini itu. Ha..ha..ha...


Yang paling tampan itu, absolutly .... his father. Pria yang menjadi kiblat hidupnya selama ini. Seorang kaisar dengan tatapan sedingin salju, namun berhati sehangat musim semi. Dan ribuan kali pencapaian yang telah diraihnya semata-mata agar ia sebanding dengan pria gagah penuh wibawa bernama Mandala itu.


Lalu yang terakhir, seorang pria yang terlihat tengah menertawakan ayahnya itu, dia adalah tujuan utamanya hari ini. Seorang ayah dari gadis yang paling dicintainya. Seorang paman berhati lembut yang juga sangat menyayangi dan disayanginya. Negosiator handal, direktur perencanaan yang sangat visioner, tapi begitu rendah hati. Dan juga seorang pria yang sangat setia.


Ia memilih duduk ditepi lapangan, menunggu permainan keempat sekawan itu berakhir. Sebenarnya dulu mereka adalah lima sekawan. Satu anggota lagi tentu saja orang yang sangat dikenalnya. Yang sekarang tinggal di negeri ginseng dan kebetulan menjadi suami dari adik ibu kandungnya. Om Theodorus atau yang biasa dipanggil Teddy. Berita terakhir yang diperoleh dari Lee suami dari sepupunya, om nya itu telah mau melanjutkan pengobatan untuk sakit kanker yang dideritanya. Semangat om nya itu bangkit lagi saat mengetahui akan segera menimang cucu pertama. Ah... semoga semua akan menjadi semakin baik kedepannya.


" Namu ..", sebuah seruan mengagetkannya.


" Ya om Brams ", jawabnya.


" Ada yang cari pak boss ? ", tanya Bramastya lagi.


" Nggak kok... santai aja. Ada perlu dikit nanti ... lanjut aja dulu om ".


Dari empat sekawan itu, yang paham dengan jelas apa maksud kedatangan dari Namu tentu saja hanya Mandala. Ketika akhirnya pertandingan tennis itu berakhir, pria itupun berbicara dengan kakak iparnya sedikit pelan.


" Dia datang untuk mu ".


" Hah ?! ". Arjuna terbengong sesaat. Ia menatap pada adik iparnya, berharap bisa sedikit meraba sebuah petunjuk.


Tapi Mandala membalas dengan mengangkat kedua bahunya.


" Penting ?, genting ? ... kenapa harus aku ?", Arjuna pun sukses dibuat penasaran.


" Yaaa.... tergantung .. ".


" Om Juna ", dan Namu menyela diantara keduanya. " Maaf..... bisa bicara sebentar dengan Om ? ".


" Me ?....why me ? ", Arjuna menunjuk dirinya sendiri.


" Karena papa juga tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Bisa kita bicara berdua saja Om ? ". Namu berbicara dengan sorot mata yang benar-benar serius.


" Okay... kita duduk di sana ? ". Arjuna menunjuk sebuah kursi panjang yang biasanya digunakan oleh para pemain. Dan Namu pun mengangguk, seraya mengikuti langkah om nya yang telah melaju.


" Good luck boy... ", bisik Mandala sambil menepuk bahu putranya itu.


" Thanks pah ".


Sementara kedua orang om-om yang lainnya memandang setiap delik peristiwa itu dengan kening berkerut penuh tanda tanya.


" Masalah apa yang membuat mu kalah dengan Juna ? ", cecar Bramastya tak sabaran.


" Iya nih. Apa faktor degeneratif mu telah melesat cepat hingga posisi mu tergantikan oleh Juna ", Ardanu menimpali dengan tak kalah seru.


" Aku akan berdosa jika membuka masalah ini pada dua orang rempong ubanan seperti kalian ".


Dan selorohan Mandala ini berbuah dua tinju yang mendarat telak di lengan kanan kirinya. Tapi justru membuatnya terkekeh.


" Ayoooo .... kita tunggu mereka diparkiran ". Mandala pun menyeret dua orang sahabatnya itu, cukup dengan sinar matanya saja.


Sementara itu Namu memberikan sebotol air mineral yang telah dibukakan tutupnya untuk Arjuna. Keduanya kemudian duduk bersebelahan. Arjuna tampak rileks menyelonjorkan kedua kakinya. Sungguh berbeda dengan Namu yang duduk tegak bersikap seperti seorang serdadu yang sedang menghadap sang jendral.


" So, what you want to talk about ? ", tanya Arjuna kemudian.


" Maaf Om Juna. Ini tentang ... Cinta ".


Dan Arjuna pun mengernyitkan keningnya, ia menoleh menatap keponakannya ini. Tidak seperti biasanya, pria muda yang selalu dikenalnya dengan kepribadian tenang, kalem namun tegas ini, kini terlihat begitu gelisah. Bahkan cuping hidungnya yang menjual itu terlihat mulai basah oleh keringat.


" Kenapa dia ? ". Arjuna masih tak melepaskan pandangan dari sosok keponakannya. Perlahan ada rasa khawatir yang merayap seperti sulur-sulur dingin mulai membelit hatinya.


Apa yang diketahui anak ini, sedangkan ia sendiri tidak mengerti hal itu. Apakah Cinta putri tercantiknya itu.... aaah, dan Arjuna berusaha tetap tenang sambil menepiskan semua bayangan buruk yang memperkeruh rasa was-was di hatinya.


" Jangan jodohkan Cinta dengan siapapun Om. Karena ....... ".


Dan Arjuna menunggu beberapa saat kelanjutan dari kalimat yang sepertinya tertahan di kerongkongan keponakannya ini. Sementara Namu tampak mengambil nafas dalam jeda yang dibuatnya sendiri.


" Karena .... aku mencintai nya Om ".


Arjuna masih menyangsikan apa yang didengarnya, tapi sepasang mata pria muda berkulit secercah pualam itu sama sekali tidak menyiratkan keraguan.


" Kami ..... saling mencintai ".

__ADS_1


Arjuna benar-benar tidak bisa berkata apapun. Seperti energi tumbukan yang dihasilkan dari jatuhnya meteor?, ah tidak ..... tidak seburuk itu. Tapi cukup membuatnya sedikit kesulitan mengambil nafas, tentu saja karena besarnya energi impuls yang dihasilkan.


" Maaf Om... maafkan Namu. Dulu Om pernah meminta agar Namu menjaga Cinta, melindunginya .... tapi ternyata.... aku tidak berdaya ... dengan hatiku ".


Dejavu ...... Arjuna seperti terlempar pada masa lalu. Ia mulai merasakan kembali bagaimana gejolak di dadanya saat berperang dengan kata hatinya sendiri. Dan kini, ia melihat hal yang sama pada pemuda ini.


" Sejak kapan ? ... kau menyadari perasaan mu ".


" Sejaak .... entahlah .... aku hanya sadar harus segera menjauh. Tapi .... itu tidak dapat menghapus nya ". Terdengar tanpa sedikitpun ada rasa penyesalan.


" Jadi study mu ke London itu... sebenarnya pelarian ? ".


Dan Namu mengangguk sebagai jawaban. " Tapi persaan itu justru semakin pekat ... aku ti6 berdaya ".


" Lalu Cinta ? ". Arjuna kembali menatap lebih dalam lagi pada sepasang mata Namu yang kini sepertinya nampak lebih terang. " Kapan kalian saling mengerti perasaan masing-masing ? ".


" Di Seoul .... kami akhirnya saling terbuka. Atas bantuan seorang teman .... ".


" Oh... Tuhan.... dan teman itu adalah Syailendra ? ". Arjuna tak perlu menunggu jawaban dari Namu, ia sudah keburu terbahak-bahak. Menertawakan dirinya sendiri dengan segala peristiwa yang kacau balau ini.


" Aku .... maksud ku, papa akan segera datang ... melamar Cinta. Tolong .... restui kami ".


" Ha... ha... ha... bagaimana ini ?... aku akan berbesanan dengan si tengil itu... ha.. ha.. ha.. seperti nya dia memang ujian terberat ku ... ha.. ha.. ha.. ".


Namu kebingungan harus bagaimana, ia tersenyum ... tapi sangat kaku. Sementara Arjuna masih terbahak-bahak hingga air matanya menggenang. Tapi kemudian laki-laki paruh baya itu menepuk-nepuk bahu pemuda di sebelahnya.


" Seperti melihat diriku sendiri dulu. Tak kusangka.... sungguh tak kusangka. Namu ... ".


" Ya Om ... ", jawab Namu dengan cepat.


" Katakan padaku .... bagaimana kau mencintai Cinta ".


Mencintai Cinta ....... adalah saat seluruh hidupku menjadi berotasi kepadanya.


Adalah saat dalam setiap hembusan nafasku pun selalu penuh dengan aroma hidupnya. Ketika tidak ada lagi tujuan hidupku selain mencintai Cinta


Mencintai Cinta ..... bagaimana seluruh impianku ku bangun berpondasi namanya.


Saat aku membuka mata, bahkan ketika memejamkan mata dan yang ada hanya seraut wajah lembutnya.


Ketika aku mengerti kami penuh cela, tapi kami akan saling menyempurnakan.


" Kata papa mu jadwalnya dipercepat ya ? ", suara tanya itu menyeruak. Seraut wajah lembut menyembul dari balik pintu. Sang mama akhirnya masuk ke dalam kamar tepat ketika ia selesai mengenakan boxer abu-abu.


" Iya Jumat ini ", jawabnya seraya mengenakan t-shirt putih sedikit lusuh tapi dengan tingkat kenyamanan maksimal.


" Rasanya mama masih kangen ... eh, sudah mau ditinggal lagi ".


Jika dulu saat ia masih kecil, dirinyalah yang selalu merajuk ketika sang mama harus ke luar kota atau ke luar negeri untuk menghadiri seminar, kini keadaan itu berubah. Wanita tersayang inilah yang kini nampak bersedih dengan menampilkan wajah yang tidak rela.


Dengan serta merta ia pun kemudian merengkuh tubuh mungil yang dulu selalu merengkuhnya saat dia ketakutan atau bersedih. Walaupun sekarang berganti posisi, tapi rasa hangat dan nyaman itu tidak berubah. Dan ia akan selalu merindukan aroma menenangkan ini


" Cuma dua bulan kok mah, nggak lama. Dan kehadiran mama sedang sangat dibutuhkan oleh Tante Hana ".


" Iya. Eh... sudah dapat kabar dari papa atau kakakmu ? ".


" Belum sih. Tapi aku yakin ... semua pasti berjalan lancar. Tidak ada alasan bagi Om Juna dan Tante Hana untuk menolak kak Namu ".


Haidar berkata-kata penuh dengan keyakinan, kemudian ia melepaskan pelukan mamanya. Lalu dua orang itu duduk bersebelahan di atas tempat tidur, melanjutkan percakapan mereka.


" Tapi sepertinya Tante mu itu pasti belum tahu. Tadi pagi ia baru terbang ke Manado dan besok sore baru pulang ".


" Apa Om Juna tidak langsung menelpon Tante Hana ? ".


" Kau seperti tidak tahu bagaimana Om dan Tante mu itu. Bukan gaya Om mu membicarakan masalah sensitif ini via telpon. Terlebih saat Tante mu itu harus pada konsentrasi tinggi .... jadi Narasumber. Dan masalah Raka sebelumnya .... aku yakin pasti sudah membuatnya uring-uringan ".


Haidar tersenyum kecut. Apa yang sedang dialami oleh keluarga om tantenya ini memang rumit. Dan semua itu sebenarnya bersumber dari tingkah polah Raka yang gegabah. Betapa inginnya ia menceritakan semua kebenaran yang sesungguhnya pada sang mama, tapi ia sudah terlanjur berjanji pada sepupunya itu.


" Please........ ", Raka memohon pada mereka bertiga tadi. " Aku yang akan mengungkapkan kebenarannya... aku akan jujur dan meminta maaf sama papa mama. Tolong bantu aku ya... ". Dirinya, dan dua orang kakaknya pun tak kuasa menolak permintaan itu.


" Jangan lupa kabari Bu Firman, kau berangkat lusa ". Suara mamanya menyentak kesadaran.


" Astaghfirullah ... aku lupa mah. Bisa minta nomor teleponnya Bu Firman ? ".


" Kau ini..... untung mama mengingatkan mu ".


" He.. he... he... sorrrrryyyy..... ".


Haidar kembali memeluk wanita tersayang di sampingnya. Tentu saja membuat Orlin tersenyum dengan hangat. Rasanya baru kemarin ia masih bisa mengangkat bocah itu tinggi-tinggi dan menggelitiki perutnya yang tambun. Tapi sekarang lihatlah, kini ia sudah menjelma menjadi seorang pemuda. Bahkan beberapa sentimeter lebih tinggi dari ayahnya.

__ADS_1


Mengingat bagaimana sikap manisnya dari dulu, sering membuat kedua kelopak mata Orlin menjadi menghangat. Rasanya seperti tidak rela melepas anak ini untuk kembali pergi menjauh. Belum genap satu bulan bisa kembali merasakan sikap manis sang putra, sebentar lagi sudah harus berpisah dengannya. Anak-anak itu sepertinya tumbuh dengan begitu pesat.


" Rencananya berapa lama di Jerman ? ".


" Aku cuma mengurus visa kunjungan satu bulan saja. Tapi mungkin bisa bertambah, tergantung bagaimana pak dan mas boss itu menilai pekerjaan ku ..... he..he..he ".


" Baik-baik disana ya, sampaikan salam kangen mama buat Tante Hayu. Jangan merepotkan mba Sabina juga, kalau bisa ..... bantu mereka jika ada kesulitan ".


Haidar mempererat pelukannya pada wanita mungil yang selalu menjadi nomor satu di hatinya ini. Nasehat yang serupa yang begitu sering di dengarnya. Tapi sangat adiktif untuknya. Ia menganggukkan kepalanya penuh semangat.


" Ada salam juga buat calon menantu ? ". Kali ini Haidar hanya bermaksud membuat mamanya untuk sedikit lebih bersemangat. Benar saja, wanita itu melepaskan diri dari pelukannya dan menatapnya dengan binaran mata yang lebih ceria.


" Aaah.... si cantik pecinta anggrek itu... ", Orlin menjadi lebih bersemangat. " Tentu saja ... katakan padanya, mama kangen dia "


Haidar tertawa lepas terlebih saat Orlin kemudian mencubit gemas pipinya. Sayangnya kehangatan itu terusik ketika sebuah panggilan masuk di telepon selulernya. Benda itu bergetar dan meraung meminta perhatian. Ia bukan segera bangkit dan berjalan menuju sebuah meja untuk meraih benda itu. Ia tersenyum saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


" Halo ... ya dek' ", sapanya.


" Kakak .... kamu dimana ? di rumah nggak ?... mama ada nggak ? ", suara gadis di seberang sana seperti seorang penyidik yang mencecar tersangka.


Haidar buru-buru mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video. Beberapa saat kemudian nampak seraut wajah manis memenuhi layar teleponnya.


" Tuh mamah ... ", dan Haidar kembali berjalan mendekati mamanya. " Gadis bontot mama.. ", seraya memberikan telepon selulernya.


" Assalamualaikum anak manis .... kenapa selalu lupa salamnya ".


" Wa'alaikumsalam mah... he..he..he ... maaf. Dari tadi aku telpon mama, eh ... nggak tahunya ... malah sama kakak ".


" Iriiiii ya non... ", tentu saja Haidar melakukannya sambil memeluk sang mama bermaksud menggoda sang adik.


" Nggak 'lah .... aku tetep yang tersayang ya 'kan mah ? ".


" Iya... ada apa, tumben telepon mama duluan ?. Biasanya nunggu mama dulu ".


" Ada maunya tuh pasti .. ", Haidar kembali menggoda.


" Ih .... orang cuma mau tanya-tanya aja sama mama kok. Kakak nih .... ".


Haidar tertawa-tawa, terlihat puas sekali pemuda itu jika sudah berhasil membuat adiknya bersungut-sungut manja.


" Mah, kalau menurut mama .... aku harus ngomong apa ke Tante Rayhan. Kemarin Tante Hana meminta ku berkunjung ke rumah beliau .... rencananya besok sore. Yah ... aku sempatnya ... ".


" Oh iya, kemarin mba Hana sempat bilang padaku juga. Rana manis bilang saja mau silaturahmi ... Tante Nilam orangnya baik dan ramah kok ", Orlin menjawab putri bungsunya. " Kenapa ? seperti bukan Kirana saja .... tiba-tiba kehilangan rasa percaya diri ".


" Ehm .... itu... tapi mama janji, nggak bilang dulu sama siapapun. Terutama kakak ... ", jelas kalimat terakhir dari Kirana membuat Haidar melongo dengan kocaknya.


" Hei .... what's wrong with me ? ", Haidar berseru protes.


" Kakak ember sejagad, please .... diem dulu. Mah... ".


" Ya .. ", Orlin mengangguk sambil terus menatap wajah putrinya di layar datar itu.


" Maksudnya Tante Hana mengutus ku berkunjung ke sana .... tentu saja untuk perjodohan mba Cinta. Tapi .... ", sesaat Kirana terlihat ragu-ragu. " Mamah .... tapi sebenarnya mba Cinta sudah mencintai orang lain ".


Kali ini Orlin dan Haidar yang saling berpandangan, kemudian saling melempar senyum kecil.


" Rana tahu darimana? mba Cinta cerita sama Rana ? ".


" Nggak sih .... pokoknya Rana tau' aja deh. Kalau menurut mama ... aku harus gimana nih ... telepon Tante Hana dari tadi juga nggak diangkat-angkat ".


" Tunggu saja... Tante Hana pasti segera telepon Rana nanti. Ngomong-ngomong Rana tahu nggak siapa orangnya ? ..... kekasih mba Cinta ".


" Ehm.... tapi mama jangan kaget ya, jangan bilang siapa-siapa dulu. Terutama kakak ember itu "


" Welehhh... kena lagi. Nggak percayaan amat sih dek ", Haidar masih tetap dengan ekspresi tengil menggoda.


" Rana tahu dari siapa ? ", tanya Orlin lembut.


" Hei ..... jangan-jangan sudah pada tahu juga ya ", tiba-tiba ekspresi gadis itu berubah.


" Tentu doooong ..... ", Haidar kembali menyabotase.


" Iiiihhhh...... curang .... kok aku selalu jadi yang paling terakhir sih ".


" Terima saja nasibmu .... derita lo' dek kecil. Ha..ha..ha... ".


" Aaah ... gitu deh..Sebel ih ".


Seandainya mereka bertiga ada pada satu ruang yang sama, pastilah kehebohan itu sudah semakin menjadi-jadi. Kirana ada bentuk sempurna dari adik kecil manis yang sangat menggemaskan, sementara Haidar adalah kakak yang seratus persen mewarisi sifat tengil dari ayahnya. Kolaborasi sempurna yang menceriakan suasana rumah ini.

__ADS_1


Orlin hanya bisa tersenyum-senyum saja menyaksikan bagaimana kelakuan dua putra-putri tersayangnya. Hatinya terasa sangat menghangat, seperti terselimuti mentari musim semi. Kebahagiaan seperti ini, sungguh sesuatu yang membuat kehidupannya semakin sempurna.


__ADS_2