
Ketika seoarang pria sudah bertekuk lutut dengan cintanya sendiri, maka ia tidaka kan merasa keberatan seandainya harus melakukan hal yang mustahil sekalipun. Bahkan tidak jarang, perulakunya ini bisa membuat kerepotan cintanya sendiri. Pun demikian dengan Haidar yang sepagi ini sibuk merayu Hanin agar mau menerima sopir dan kendaraan yang akan dikirimnya demi bisa mengantarkan kekasih hatinya itu.
" Apaan sih, enggak ah ", dan Hanin masih terang-terangan menolak dengan tegas. " Aku berangkat sendiri, pakai motor matic cantiknya mba Raya. Praktiss, hemat dan efisien ".
" Nanti kehujanan loh, kepanasan juga .. ".
" Tapi bisa mampir ke pasar dan tempat lain. Nggak ribet macet di jalanan. Bisa siyaaat ... siyyuuut ... meliuk-liuk indah di jalan ".
" Enakan juga pakai mobil ah, tinggal duduk manis aja. Sopirnya baik kok, kamu mintai tolong anter kemana aja juga siap ". Haidar masih tak berhenti berusaha merayu si cantik yang kini masih sibuk menngeringkan rambut basahnya sehabis mandi.
Ini adalah telpon ketiga setelah video call di subuh buta tadi. Pria tampan di seberang sana iru masih gigih berusaha agar gadis mungil itu mau memenuhi permintaannya. Tapi Hanin pun tetap teguh dengan pendiriannya.
" Jujur deh' mas, kamu khawatir kenapa sih ?, sampai sengeyel ini ".
" Masa kamu nggak tahu ".
" Enggak ", sambar Hanin seperti elang yang pada mangsanya.
" Haaiiis... aku nggak mau kalau si mantan kakak kelas mu yang sekarang jadi executive chef itu, naksir sayang ku ini. Paham !!!!! ".
" Ihs ... orang dia dah jadi suaminya temenku, dan baru punya bayi yang lagi lucu-lucunya ".
" Tapi dimana-mana pria itu sama saja neng cantik .... nggak bisa liat yang bening, apalagi yang mulus cantik kayak kamu ".
" Yeee... berarti mas juga dong. Kan' sama-sama pria, wek !!! ".
" Nggak lah, aku kan pria limited edition. Lagian punyaku nggak ada yang bisa menandingi kecantikan dan kebaikannya. Yang lain ... lewaat ".
" Ah masa ?! ", Hanin menggoda. " Itu yang seksi semampai, yang mepet terus dari Swiss sampai Berlin ?.... beneran nggak dilirik ? ".
" Ih, siapa ? ", Haidar pura-pura tidak paham. Padahal ia tahu betul siapa dan apa yang dimaksud oleh Nania nya itu. " Sebodo, yang penting aku nggak ... ! ".
" Beneran nih ... ", Hanin tak surut menggoda Haidar, kali ini sambil terkekeh-kekeh seolah sudah mendapat kartu As pria itu.
" Masa sih nggak percaya ? ".
" Mas sendiri juga over worry ".
Lalu keduanya sama-samam terdiam, seolah hanya saling mendengarakan deru nafas masing-masing. Mungkin sedang memilah dan memilih kata yang tepat untuk disampaikan, agar tidak memicu rasa cemas yang lain.
" Nania ... ".
" Ya ".
" Berikan aku kepercayaan untuk menjaga hati ini untukmu ".
Hanin tersenyum, ia membayangkan wajah tampan dengan garis rahang kokoh dan sepasang alis yang membingkai dengan tegas itu pasti saat ini sedang menatap jauh dengan sinar kelembutannya yang melenakan.
" Demikian juga dengan ku, Mas ".
Sepasang insan yang sedang kasmaran, seolah samudra luas yang membentang diantara benua bertembok tingginya gegunungan pun tak mampu menghalangi keduanya untuk bisa tetap saling menatap dan tersenyum mesra. Menitipkan rasa rindu yang menggebu melalui liukan gelombang magnetic, yang kemudian rela berakselerasi menjadi secepat cahaya demi menyampaikan rasa pada dua hati itu. Membuat Hanin seolah mampu menangkap dalam senyap, betapa gempitanya janji cinta seorang pria di seberang sana.
................................
__ADS_1
Ini adalah rangkain acara 'nujuh bulan' atau 'mitoni' yang digelar sangat eksklusif. Tentu saja, karena yang punya gawe adalah keluarga Arsenio yang bersatu. Setelah sebelumnya dirasa belum seperti yang diangankan saat menggelar acara pernikahan. Kali ini seperti sedang membayar ketidakpuasan. Acara adat Jawa untuk seorang wanita yang sedang hamil tujuh bulan ini digelar sangat lengkap, hikmat dan juga semarak.
Hari yang dipilih pun tidak meninggalkan filosofi kan ketentuan yang biasanya diperunakan.
Selain dilakukan pada siang atau malam hari, keluarga Mandala memilih hari Jumat hingga malam Sabtu dalam menggelar serangkaian acara tersebut. Meski demikan, raut wajah Cinta tetap nampak segar bersemangat menjalani aneka prosesi itu.
Hanin yang harus bertemu dengan manajer hotel dan restoran tempatnya akan bekeja nanti, datang bertepatan dengan acara sungkeman. Ia langsung mendekat pada sang ibu yang nampak sedikit sibuk mengecek berulang-ulang semua hidangan yang disuguhkan untuk acara siang itu.
" Maaf bu, bagaimana... aman ? "
" Huuuf ... eneng ini... bikin ibu jantungan. Yang nggak aman bu Mandala, tuh nanyain kamu terus. Kok bisa sih sampai setelat ini ? " .
" Maaf bu, ma...af... ya ". Hanin memeluk bundanya dengan banyak rasa bersalah yang bergelayut.
" Seluruh hidangan untuk nanti malam ? ". tanya bu Firman lagi pada putri bungsunya.
" Sudah siap, dalam perjalanan semua. Jadi seperti permintaan bu Orlin dan mba Cinta, sebelum maghrib semua sudah siap ".
" Syukurlah ... sana kamu temua bu Orlin dulu. Dari tadi kau dicari-cari ".
" Nanti aja kali ya bu. Tuh... baru sungkeman ".
" Sini ... ikut ibu kalau gitu' ".
Hanin sempat melirik kesebuah bangunan mirip gubug yang dihias indah dengan aneka bunga daan pernak-pernik khas Jawa. Disanalam mba Cinta yang terlihat bersinar cantik bersama suaminya, mas Namu yang mirip artis Korea Selatan itu sedang bersimpuh di hadapan kedua pasang orang tua mereka . Sementara suara pembawa acara yang menggunakan dua bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, nampak mengarahkan dan juga menceritakan prosesi yang sedang dilaksanakan.
Sungkeman
adalah tahap pertama dari serangkaian upacara mitoni. Sungkeman
ayah melakukan sungkeman kepada kedua orang tuanya.
" Sungkeman dilakukan untuk memohon doa restu agar kehamilan lancar dan bayi yang dikandung sehat. Juga untuk memohon maaf atas segala khilaf dan dosa yang pastinya pernah dilakukan seorang anak pada orang tuanya. Serta untuk menunjukan 'sembah bekti' dan penghormatan pada kedua orang tua ..... ".
" Sak lajengipun inggih puniko siraman..... Siraman adaalah tahap di mana calon bunda dimandikan. Siraman merupakan simbol pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Air siraman sendiri berasal dari 7 sumber........ *'diajeng Aurora Kanaya Cinta kalian keng garwa kinasih adimas Baskara Namu Perkasa'*..... ".
Hanya sebatas itu yang bisa didengar dengan jelas oleh Hanin, karena ia telah masuk ke serambi selatan rumag besar itu. Yang kini sudah diubah menjadi tempat menata menu pramanan. Beberapa orang pegawai catering milik ibunya masih terlihat sibuk wira-wiri sambil menenteng berbagai wadah aneka ukuran yang tentunya berisi makanan lezat sesuai pesanan keluarga Mandala.
" Hai ... kamu Hanin 'kan ? ".
Tiba-tiba seorang gadis berkulit putih dan bermata sedikit sipit, dengan tubuh semampai yang terlihat padat dan bugar berbalut skiny jeans hitam dengan atasan ungu pastel cantik, menghampiri sambil tersenyum ramah. Hanin membalas senyum itu, masih dengan gelayut pertanyaan di benaknya. Siapa si cantik ini ?, bagaimana bisa kenal dengannya ?.
" Iya, mba ini siapa ya ? ". Hanin pun balik bertanya.
" Waah .... akhirnya kita ketemu. Haidar mewanti-wantiku untuk segera menggelar pertemuan dengan mu ". Gadis itu tertawa riang, mempelihatkan barisan gigi putihnya dengan sedikit gingsul di sebelah kanan yang justru mempermanis. " Aku Ardelia ... ".
" Oooooh .... ". Kemudian Hanin membalas uluran tangan Ardelia dan menjabatnya dengan erat. " Mas Raka mana ? ", tanyanya kemudian
" Bentar lagi, tadi dia ada operasi jam satu. Paling ini sudah mulai meluncur ke mari. Operasinya kecil kok cuma pasang pen & skrup di calivicula
Hanin sebenarnya kurang memahami apa yang disampaikan oleh Ardelia ini. Tapi ia tahu pasti kalau raka adalah seorang dokter bedah tulang, jadi pasti itu adalah operasi tulang belulang yang pastinya cukup tidak merepotkan. Yang penting tersenyum dan manggut-manggut aja dulu ya say.
" Eh, aku ganggu nih ... pasti sedang sibuk ya, Nin ? ".
__ADS_1
" Nggak kok mba, cuma ngecek-ngecek aja bentar. Ini habis acara Siraman selesai lanjut pengajian dulu atau makan dulu ya ? ".
" Habis ini makan siang dulu baru lanjut pengajian sayang ... ", tiba-tiba sebuah suara berat menyeruak.
Seorang pria dengan rambut ikal yang lebat dan senyuman hangat datang menhampiri kedua wanita itu. Lalu memberikan kecupan ringan di kepala Ardelia dan balik menatap Hanin yang tercekat terperanjat melihat kemesraan itu.
" Hai Hanin ... sudah kenalan sama belahan jiwaku ya. Masih ingat aku 'kan ? ".
" Mas Raka ... ", Hanin akhirnya tersenyum .
" Kamu kok nggak berubah ya, tetep imut, putih, dan senyum-senyum aja kerjanya. Hati-hati loh ... kamu yang kayak gini akan sangat berbahaya kalau deket-deket si Haidar. Bisa di ....'auuum' ... ", sambil menirukan gerakan menerkam seekor macan.
" Ih !!... apaan sih. Hanin nya jadi takut 'ntar. Jangan didengerin sayang, duo kampret ini sama aja ... dasar !!! ". Tentu saja itu Ardelia yang langsung memberikan cubitan sayang pada lengan Raka.
Sementara ketiga orang itu kemudian terlihat asyik berbincang dan saling melempar canda, disela-sela kegiatan Hanin yang akhirnya terlihat lebih lega saat semua sudah terpastikan beres. Acara siraman pada mba Cinta, terus berlanjut. Kemudian mas Namu sang calon ayah melakukan tahapan selanjutnya, yaitu pecah telur. Telur yang digunakan adalah sebutir telur ayam kampung yang ditempelkan terlebih dahulu ke dahi dan perut calon ibu, lalu dipecahkan ke lantai. Prosesi ini bermaksud agar persalinan nantinya lancar.
Kemudian dilanjutakan dengan acara memutus janur atau lawe. Dalam prosesi ini, janur atau lawe diikatkan ke perut calon ibu lalu calon ayah akan memutus janur atau lawe tersebut. Sama seperti pecah telur, memutus janur atau lawe bertujuan agar persalinan berjalan lancar. Terlihat wajah mba Cinta dan mas Namu yang cerah ceria tak pernah lepas dari senyuman.
Hanin, Ardelia dan Raka melihat seluruh rangkaian acara itu dengan cukup jelas dari layar yang disediakan di sebelah barat tempat prasmanan. Sesekali Raka menggoda Ardelia, dengan mengajak gadis itu membayangkan seandainya mereka berdua yang ada di posisi Namu dan Cinta saat ini.
" Nania ... ", tiba-tiba suara bu Firman memanggil putrinya. " Bisa kemari sebentar '.
" Ya bu... eh' maaf, aku ke ibu dulu ya ". Hanin berpamitan sebentar pada Raka dan Ardelia yang mengangguk mempersilahkan. Lalu ia beranjak bangkit meninggalkan kedua sejoli itu.
" Cantik banget ya dia ", kata Ardelia. " Aku yang sesama cewek aja kagum betul .. ".
" Nggak ah !, cantik kan juga nona disamping ku ini ".
" Ini penilaian obyektif ... Hanin itu sangat cantik. Tapi tengkyuuuuh ... if I the only one most beautifull in your heart ".
" Absolutly beibeeh ... ", Raka terkekeh.
Sementara itu di layar putih yang cukup lebar itu, nampak sedang berlangsung prisesi Brojolan, di prosesi yang melibatkan kelapa gading muda yang diukir gambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Prosesi brojolan dimaksudkan agar bayi dapat lahir tanpa kesulitan. Lalu dilanjutkan Pecah kelapa. Prosesi ini adalah lanjutan dari prosesi sebelumnya. Calon ayah mengambil salah
satu kelapa tersebut dengan mata tertutup. Kelapa yang diambil lalu ditempatkan di area siraman, dan dipecahkan.
Hal ini dilakukan untuk memperkirakan jenis kelamin calon bayi. Walaupun dari hasil USG sudah diketahui bahwa ada dua bayi cantik yang kini sedang dikandung oleh Cinta. Tapi tetap saja, saat Namu ternyata mengambil kelapa gading berukir dewi Kamajaya dan berhasil memecahkan dengan golok tepat ditengah-tengah, seluruh hadirin bersorak riang.
Sementara itu Hanin yang kemudian segera membantu ibunya untuk menyiapkan satu meja lagi di ruang keluarga sudah tidak lagi bisa mengukuti seluruh prosesi lanjutannya. Rupanya, pak Mandal secara mendadak meminta disediakan satu lagi khusus untuk keluarga terdekat dan tamu yang juga sahabtanya yang akan datang sore nanti dari Semarang. Sepertinya sahabat dekat dan tamu khusus. Hanin tidak berminat mencari tahu akan hal ini, baginya memuaskan klien itulah yang terpenting.
" Untung kita sudah siap semua double-double .... biasanya sih akan selalu seperti ini. Tambahn mendadak ... ". Bu Firman yang cekatan memasang taplak meja tersenyum pada putrinya.
Sementara itu acara semakin semarak saat Cinta melakukan prosesi Ganti busana. Setelah
siraman dilakukan, calon ibu akan mengeringkan badan dan mengganti busana yang sebelumnya digunakan. Upacara ganti busana ini akan menggunakan 7 jenis kain yang melambangkan 7 bulan dan harapan bagi si bayi. Tujuh kain melambangkan itu adalah : Wahyu Tumurun ini memiliki tujuan agar si jabang bayi nantinya memiliki kedudukan yang baik,
Sidomukti yang melambangkan Kebahagiaan, Sidoluhur yang melambangkan Kemuliaan, Semen Rama yang melambangkan agar cinta kedua orang tua bertahan selamanya, Udan Iris yang dimaksudakan agar kehadiran si jabang bayi menyenangkan untuk orang di sekitarnya,
Cakar Ayam yang melambangkan Kemandirian dan yang terakhir adalah kain lurik bermotif Lasem yang bermakna Kesederhanaan.
Setelah selesai berganti dengan kain yang ke tujuh inilah, para hadirin kemudian berseru menjawab pertanyaan sang pembawa acara.
" Kados pundi bapak-bapak, ibu-ibu ? ... cocok ? " .
__ADS_1
" Cocooook ..... ".