PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Kita Harus Bicara (5)


__ADS_3

Satu Minggu, atau tujuh hari atau lebih tepatnya seratus enam puluh empat jam ... tidak berkomunikasi, tidak saling menyapa. Tapi tiba-tiba saja ia ada dihadapanmu berdiri dengan senyuman terindah. Walaupun lingkaran hitam di kedua matanya itu tergaris jelas, serta tulang pipi yang tinggi terkesan semakin tirus.


" Hai... tadi aku sudah ke kos_mu . Kata Rio ... ".


Tak perlu menunggu kelanjutan basa-basi dari gadis ini, Raka bergerak cepat merengkuh tubuh yang terlihat sedikit rapuh itu. Ardelia terperanjat, tapi dia sudah kini terperangkap dalam dekapan yang hangat dari Raka.


" Terimakasih .....". Serupa bisikan, tapi hanya itu yang dirasa tepat dan mampu diucapkan untuk mewakili seluruh perasaan yang membuncah.


Mengabaikan pandangan orang-orang yang lalu lalang di halaman parkir, serta suitan para rekan residensial_nya yang mulai bersahutan menggoda dengan jokes khas para dokter pria yang jomblo absolut. Raka benar-benar sudah tidak peduli dengan semua, menemukan kembali gadis ini.... seolah menggenggam seisi dunia.


" Aku malu ... bisa kau lepaskan ? ".


" Oh maaf.. ". Raka buru-buru melepaskan Ardelia dari dekapannya. Senyum pria itu sehangat pelukannya. " Kita pulang sekarang ... atau ikut dengan ku ..ke.. ".


" Ya ".


" Hei... aku belum mengatakan hendak kemana ", Raka tertawa.


" Ya ... aku tetap ikut ".


Dan tangan yang lembut itu kini sudah berada dalam genggamannya. Membawa keduanya berjalan perlahan melintasi jalan dibawah gugusan pohon Angsana yang berjajar menaungi dengan anggun.


" Sarah cerita .... katanya kau resign ". Raka membuka tanya saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.


" Iya ... kemarin sudah mengajukan surat pengunduran diri ".


" Kapan sampai di sini ? kenapa baru menemui ku? .... kenapa tidak menghubungi ku .... maaf ..".


" Maaf ... ".


Seperti saling menyadari kekeliruannya masing-masing, keduanya pun berlomba-lomba menyampaikan maaf. Lalu sama-sama saling terkikik menahan geli.


" Kita .... seperti dua anak kecil yang baru aja baikan setelah perang saudara yang begitu lama ".


" Begitu ya ? .. ha.. ha... ha.. aneh rasanya. Maaf aku tidak menghubungi belakangan ini .... takut mengganggu jadwal akhir residen mu ".


Raka tersenyum, alasan yang membuat hatinya tiba-tiba dipenuhi oleh bunga yang bermekaran dan mewangi.


' Lihat, kita hanya mampu tujuh hari bertahan dan itupun tidak genap '. Tapi Raka mengunci rapat mulutnya. ' Aku yakin kamu juga pasti rindu padaku '.


" Kok diem ... malah senyum-senyum sendiri ".


" He... he.. he... saking bahagianya. Sampai nggak bisa ngomong ". Raka bahkan tersipu. " Kalau ... ku ajak ngopi-ngopi diatas ... kemalaman nggak ? . Sarah marah-marah nggak ? ".


Yang dimaksud 'diatas' oleh Raka tentu saja daerah Kaliurang yang dingin. Tempat yang cocok untuk menikmati secangkir kopi dan sate kelinci yang legit.


" Boleh ... Kopi klothok ? ... hei mereka buka cuma sampai jam sebelas malam loh, biar kata long weekend ".


" Iya ya... ", Raka mengangguk-angguk sambil melirik jam digital. Yah ... sudah hampir jam sembilan malam. " Cari Rooftop Cafe aja ya... ".


Ardelia tertawa terbahak, karena akhirnya Raka mengubah haluan. Yang awalnya ingin naik ke daerah tinggi kini meluncur ke pusat kota.


" Aku ngikut saja laaah. Tapi nggak capek nih ? ... beneran ? ".


" Sedikit ... mau mijitin ? ". Raka sengaja menggoda Ardelia, menurutnya suasana diantara mereka kini sangat kaku.


" Sudah... sudah ... ngopi aja yuk ".


Dan kini giliran Raka yang tertawa terbahak-bahak. Ardelia menepuk-nepuk lengannya sambil tersenyum garing.


Mereka akhirnya sudah duduk di salah satu spot yang nyaman sambil menikmati suasana malam di kota gudeg itu dari lantai tujuh sebuah hotel. Hotel bintang empat yang menawarkan rooftop cafe & restauran, D'Skybar cafe namanya.


" Bulan depan, ehm... tujuh belas hari aku selesai residensial ".


Raka membuka percakapan sambil menikmati latte-nya. Sementara Ardelia tetap setia pada cappuccino diet kalori.


" Syukurlah ... akhirnya. Jadi ikut program relawan ? ".


" Kalau kau mengijinkan .... aku berangkat. Dua tahun dengan tim Korsel di Afrika ".


" Hei... ", Ardelia terkekeh. " Ngapain jauh-jauh? negaramu sendiri juga masih sangat butuh orang-orang seperti mu ".


" Oke' deal ". Secepat kilat Raka menyambar tangan Ardelia, menjabatnya dengan erat dan menggoyanngya penuh semangat. " Berarti satu tahun dengan dokter Lie* dan satu tahun dengan dokter Lo** .... terima kasih atas restumu ".


" Yang harus kau mintai restu itu Tante Hana dan Om Juna. Ngaco ahh kamu ".


" Oh tentu.... restu untuk melamarmu. Dan kau nona ... kau yang akan memintakan restu pada mereka untuk keinginan ku yang tadi ".

__ADS_1


" Ish !!! ". Ardelia berdecih dengan ekspresi yang sangat dirindukan Raka. Mengerutkan sudut bibirnya dan melirik tajam.


" Sudah dapat tempat yang cocok di ibukota ? ", tanya Raka lagi. Tapi Ardelia menggeleng perlahan.


" Loh ? ... lalu kenapa resign ? ".


" Mau nemenin mamah dan jadi kolomnis saja... ehm sebuah tabloid ibukota.... psikologi juga ".


Raka tersenyum, terlihat sangat bahagia. Tapi tidak demikian dengan Ardelia, yang diam-diam memilin jemarinya dengan gelisah.


" Silahkan ... pesannya mas, mba ". Seorang pelayan datang dengan sebuah nampan besar.


" Terimakasih ... ". Jawab Ardelia cepat. Ia tersenyum-senyum saja melihat hidangan pesanan Raka.... tenderloin steak, Risotto dan masih ditambah nachos. Pasti pemuda ini sangat lapar..


" Sandwich tuna itu saja sudah cukup ? ", tanya Raks yang keheranan melihat pesanannya.


" Aku sudah makan tadi sore ". Kilah Ardelia cepat.


" Aku..... ". Kemudian suara Ardelia terdengar ragu-ragu dan gadis itu sedikit menunduk.


" Kenapa? ... aku mendengarkan ... katakanlah ". Raka meyakinkan sambil memotong gumpalan daging berwarna coklat yang mengepulkan aroma sedap.


" Aku .... malam ini akan menginap disini. Besok pagi jam 10.50 .... mau menemaniku ? .... menginap disini ? ".


.......................


Sementara itu, Haidar ternganga tak percaya bahkan joystick yang dipegangnya pun terjatuh. Seperti dibungkam oleh kenyataan yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya. Ia kehilangan seluruh kemampuan kognitif dan verbal_nya.


" Bisa pegang rahasia ? ".


" Sejak kapan aku tidak berada dipihakmu kak ? ".


" Aku ... pacaran dengan Cinta, dan kami sepakat akan menikah ".


Begitulah kilasan beberapa detik lalu yang membuat seorang Haidar kini membeku. Ia menjadi linglung, seperti baru saja dihantam dengan Godam ... tepat di kepalanya.


" Kau ???..... prank!!!!!.... April mop ... hei ini bulan Mei ". Seru Haidar dengan ekspresi santuy tanpa batas, lebih mirip orang depresi.


" Itu yang sejujurnya ..... kami saling mencintai sejak lama ".


" When? .... how long? ... ", masih dengan nada tak percaya, Haidar menuntut penjelasan.


" Kau harus membantuku .... ". Pinta itu terdengar seperti putus asa dari bibir Namu.


" Iya... pasti .... pasti aku membantumu. Tapi.... ohhhh my..... sungguh tak pernah terpikirkan.... sungguh... sungguh .... ".


" Crazy??? .... kupikir juga begitu awalnya. Dan belasan tahun aku lari dari kenyataan itu. Mengingkari debaran yang kurasakan .... menutupi perasaan itu dengan rapat. Menderita selama bertahun-tahun .... ".


" Lalu? .... bagaimana kalian ... pada akhirnya saling tahu? ", cecar Haidar yang sudah berhasil mengendalikan rasa kaget yang kini dialihkan menjadi letupan rasa penasaran.


" Kau pasti tidak akan percaya dengan orang yang akhirnya menjadi penjembatan perasaan kami ".


" Who ?".


" Syailendra ..... ".


Haidar benar-benar merasa seperti mendapatkan double surprise yang keterlaluan dahsyatnya. Kisah yang cantik dengan sparkle-sparkle yang meletik-letik seperti petasan cabe.... haiiiiis..... yang awal tadi lebih tepatnya dentuman granat.


" Terus.... ada kejutan apalagi ?... kau belum menjawab pertanyaan ku .... When? ... How long? ".


" Saat kita di Seoul ... pernikahan Hyo Riin.... ". Dan Namu pun mulai bercerita.


Haidar mendengarkan tanpa menyela sedikitpun, ia terlongo ... sungguh merasa masih dikerjain, masih seperti mimpi, masih seperti skenario prank' untuk sebuah konten. Sementara Namu bercerita tentang semua kisah cinta itu dengan kesungguhan dan sorot mata yang begitu kentara..... pria yang tenggelam dalam cinta.


" Ini.... seperti kisah Om Juna dan Tante Hana ". Haidar bergumam disela cerita yang dituturkan Namu. " Lalu apa yang membuat mu begitu ragu... begitu berhati-hati .... kalian bisa menikah, dan itu tidak melanggar apapun ".


" Kau saja langsung syok mendengarnya. Bagaimana dengan papa ?..... dan Tante Hana ?. Belum lagi..... khalayak ramai yang tidak mengetahuinya sepenuhnya statusku ".


" Pertama kalinya aku melihat sisi kerdil, penakut, dan ...... rapuhnya kakakku ".


" Kakakmu ini juga manusia biasa 'Dar .... ".


" Tidak usah khawatir.... aku tetep ada dipihakmu kak. Kita harus segera bicara.... terutama dengan papa dan mama. He... he... he.... aku malah jadi kepikiran Raka. Ekspresi dia gimana ya? jika tahu semua ini .... ".


" Haaaaiishhh ....... sekejap saja kau sudah buat pembicaraan ini jadi menukik tajam seperti rooler coaster ".


Haidar kembali terkekeh melihat frustasi akut yang ditunjukkan oleh wajah dan gesture Namu.

__ADS_1


" Ternyata..... gadis yang kita bicarakan kemarin-kemarin itu mba Cinta. Hi... hi... hi.... tau' rasa lo' ... kelimpungan menahan hasrat ... hi... hi...hi.... ". Lihatlah betapa puasnya Haidar yang tak hentinya nyengir, membuat Namu semakin frustasi.


" Semoga di Jerman nanti lo' lebih kelimpungan menahan hasrat..... lebih galau dengan peliknya cinta mu .... ".


" Heiiii..... aku orang pertama yang mendukung hubungan cintamu ... kenapa kau sumpahin ???? .... ah dasar kakak nggak ada akhlak ".


Dan pukulan dengan sebuah bantal itupun mendarat telak di wajah Haidar. Tak terima dengan serangan tiba-tiba dari kakaknya, Haidar pun membalas dengan hal yang sama. Kemudian semuanya tertawa lepas bersama-sama.


" Jadi.... kau orang pertama yang ada di pihak kami ? ". Suara itu begitu tenang, namun seperti kilat yang merobek suasana antara Haidar dan Namu. Tanpa kedua orang pria itu sadari, Cinta sudah berdiri tak jauh dibelakang mereka dan memperhatikan kekonyolan itu. Entah sejak kapan.


" Cinta ... "


" Mba ... ". Seru Namu dan Haidar bersamaan.


" Itu artinya.... kau ku nobatkan sebagai ketua tim percepatan bersatunya Cinta Namu ".


Satu hal yang sungguh tidak pernah diduga akan terlontar begitu mulus dari bibir gadis cantik itu. Tidak pernah terpikir sama sekali baik oleh Haidar bahkan juga Namu. Lugas dan tegas, hingga akhirnya berhasil membuat Haidar benar-benar tertawa lepas.


" Aku ??..... ha.. ha.. ha... siaaaap !!!!! ku kawal kalian sampai halal ".


..................


Suasana di lift itu tiba-tiba saja menjadi lebih dingin seperti diselimuti kabut. Ah tidak... tidak hanya di lift saja, tapi sudah semenjak dari lobby dan meja resepsionis saat Raka melakukan reservasi dadakan.


Suara dentingan yang kemudian diikuti oleh terbukanya pintu dari benda mutakhir berbentuk kotak ini, seperti menyayat malam. Dengan gerakan yang sangat canggung, Raka berjalan keluar hampir bersisihan dengan Ardelia.


Bahkan pemuda itu mengumpat dalam hati.


' Common Raka.... bersikaplah biasa, kau sudah sering menginap dengan para gadis bukan??.... jangan sok suci '.


' Enyah'kan pikiran kotormu !!!!!!! dia berbeda, dia masa depan yang harus kau jaga. Jangan tolol !!!!! '


Dan perdebatan di hari Raka terus berlanjut hingga mereka berdua telah sampai di depan sebuah kamar. Raka tidak berani sedikit pun menoleh pada Ardelia, ia langsung fokus membuka akses dengan magnetic card. Bahkan Ardelia pun langsung melesat masuk, begitu kunci pintu kamar telah terbuka. Meninggalkan Raka di belakangnya yang kini berwajah linglung.... hidup segan matipun enggan.


" Kau biasanya langsung mandi'kan ? ..... silahkan duluan ".


" Ah .... iya... iya ". Raka pun nampak begitu tolol dan konyol.


Ia berjalan menuju kamar mandi setelah sebelumnya menyimpan tas kerjanya di dalam laci. Saat ia membalikkan badan, Ardelia mengulurkan sebuah jubah mandi yang masih tergantung rapi.


" Terima kasih .... ", dan tiba-tiba saja Raka berubah menjadi sosok yang sangat penurut.


Bagaimana keduanya akan melalui malam ini ?.


Wajah sang pria seperti sebuah pertempuran antara hasrat dan akal sehat Sementara sang wanita yang kini tengah menatap gemerlap cahaya kota di bawah sana..... ia pun seperti tengah menguatkan hatinya sendiri.


Cinta itu ....... terkadang memang selalu menempatkan mu pada posisi yang sulit. Seolah tak pernah cukup menguji kesungguhan dan ketulusan mu. Ah..... cinta.


....................


Author Corner......


* sumber: Wikipedia


dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV, yang bernama Tionghoa Lie Tek Bie(lahir di Padang, Sumatra Barat, 16 April 1946; umur 75 tahun) adalah seorang ahli kesehatan atau dokter ahli bedah Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri rumah sakit apung (floating hospital) swasta yang pertama di Indonesia. Di bawah Yayasan doctorSHARE, Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat di daerah miskin dan terpencil di Indonesia yang tidak terjangkau oleh pelayanan kesehatan secara reguler.7


Lie Agustinus DharmawanLahirLie Tek Bie


16 April 1946(umur 75)


 Padang, Sumatra BaratKebangsaan Indonesia


** sumber : suar.grid.ud


dr. Lo Siaw Ging seorang dokter lulusan Universitas Airlangga, Surabaya.


Lo lahir pada 16 Agustus 1934 di Magelang, Jawa Tengah dan menetap di Solo semenjak ia bekerja di klinik kesehatan milik Dr Oen, mentornya.


Satu yang menarik dari kehidupa Lo adalah dedikasinya yang sangat tinggi sebagai dokter dan tidak mau dibayar oleh pasiennya yang memang orang tak mampu.


Lo tidak pernah mematok tarif dan memberi pemeriksaan secara gratis bagi masyarakat kurang mampu yang datang ke rumah prakteknya.


Alamat rumah dan praktek nya di Jl.Jagalan dan di sana Lo membuka praktek.


Setiap kali ada yang membutuhkan jasa dan bantuannya, Lo tidak akan mau menerima bayaran. suar.grid.id


Keduanya adalah dokter-dokter berhati lembut, penuh kasih sayang serta ketulusan nyata yang luar biasa. Inspirasi banyak orang, tidak hanya dari kalangan sejawat, namun juga lintas profesi dan juga masyarakat luas. Mengabdi tiada henti dan selalu berusaha untuk memberi. Semoga akan ada lebih banyak lagi jiwa-jiwa muda yang mengikuti jejak beliau berdua. Mengabdi dan membangun negeri, dengan cinta setulus hati.

__ADS_1


__ADS_2