
Kirana masih menumpuk buku-buku yang baru saja di belinya. Sebagian adalah buku bekas yang masih layak, tapi sebagian besar adalah buku-buku baru yang masih terbungkus plastik. Tidak seperti biasanya, kali ini ia bisa lebih banyak membeli buku-buku baru. Tepatnya bukan dia yang membelinya sih, tapi seorang pria yang kini sedang dengan nikmat menyantap bebek bakar dengan sambal terasi beraroma menggoda.
Warung makan yang cukup ramai tapi tidak mengurangi suasana menyenangkan yang ada, terletak tepat di seberang jalan dari sebuah tempat yang tadi disebut dengan destinasy gadis lajang. Syailendra memutuskan untuk mengajak makan malam Kirana, selain karena memang perutnya juga sudah cukup lapar. Juga karena ia merasa begitu tertarik dengan pembawaan gadis ini. Sungguh sangat di luar dugaannya.
" Oooh... jadi ini kegiatan dokter lajang yang manis ". Komentar itu langsung meluncur mulus dari bibir Syailendra ketika akhirnya ia mengetahui kemana tujuan Kirana.
Sebuah kios yang berada di area luar pasar terbesar di kota lumpia ini, yang masih benderang dengan lampu-lampu yang menyala terang. Tampak ada banyak pemiuda-pemudi yang asli mereka bertampang pelajar dan mahasiswa, tengah asyiik berseliweran diantara rak-rak penuh buku.
" Lengkap... murah.... dan bisa baca gratis ".
Syailendra tampak menganguk-angguk saja mendengarkan alasan yang disampaikan gadis itu. Tapi sejujurnya ia sangat kaget, karena tidak terlintas sama sekali bahwa tempat inilah yang dikatakan Kirana tadi sebagai 'menyalurkan hobi gadis lajang'. Syailendra tersenyum sendiri.
" Kenapa ? ", Kirana yang melihat hal tersebut melirik menyelidik. " Aneh ? ".
" Hebat !!!!... luar biasa. Pantes pinter ya ... hobinya baca buku terus, pasti nggak sempat pacaran ".
" Nggak mau pacaran... mau langsung nikah aja. Kata mama... enakan pacarannya pas udah nikah, aman ".
Pffft.... Syailendra tertawa dengan ditahan. Tapi ia sungguh merasa sangat dikejutkan dengan jawaban dari gadis yang notabene adalah gadis metropolis dan juga borjuis ini. Sepertinya ia tak terpengaruh dengan kegilaan jaman berkedok satu kata ... 'modern'. Salut.... angakt topi untuk adik cantik ini.
" Pasti banyak yang mau ya .... langsung nikahin Rana ".
" Nggak adalah ...", terdengar santai Kirana menjawabnya. " Langsung di tendang papa, belum-belum harus lolos skrening nya kak Namu sama kak Haidar dulu. Nggak benjut aja udah untung ".
" Oh ya ... ha.. ha.. ha.. ", Syailendra benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi.
" Bahagaia banget liah gadis jomblo merana ", Kirana berdecih dengan sudut matanya yang tajam menusuk.
" Nggak kok... cuman, kalau aku punya adik cantik kayak kamu .. pasti juga akan bersikap sama seperti mereka. He..he..he.. nggak rela lah kalau adik tersanyangnya dapat yang abal-abal ".
Kirana hanya mencibir saja, lalu mendekat kearah bapak-bapak setengah baya yang duduk di belakang meja kasir. Wajah bapak itu lansung tampak sumringah begitu melihat kehadiran gadis semampai yang manis ini. Bahkan ia berdiri menyambut Kirana.
" Sudah datang mba pesanannya... oh ya ada buku-buku baru untuk anak-anak... ini... ", bapak itu menyerahkan secarik kertas berisi deretan tulisan yang cukup panjang. " Ini karya bermutu dari para penulis debutan... kebanyakan pelajar dan mahasiswa ".
" Siiiip pak Andi.... masing-masing satu dulu ya ... baru bokek nih ". Dan bapak itu tertawa saja mendengar alasan Kirana.
" Tunggu sebentar ya ... saya ambilkan dulu ". Lalu bapak itu pun berlalu dan menghilang di balik sebuah pintu.
" Bisa kau jelaskan padaku ? ", pinta Syailendra.
" Oh ... itu... pesen buku-buku bekas, trus beli buku-buku cerita baru karangan pelajar dan mahasiswa... percetakan lokal sih, tapi isi nya ...... ", Kirana mengacungkan dua jempolnya. " Mereka calon penulis masa depan... yang harus di dukung ".
" Good . Terus ...buku sebanyak itu ", Syailendra menunjuk pak Andi yang datng bersama dua orang dibelakangnya dengan dua kardus bekas mie instan.
" Ya dibagi-bagiin dong ... di rumah singgah dan panti asuhan ".
Syailendra tersenyum semakin lebar, ia sungguh merasa hatinya begitu hangat dengan sikap gadis kecil ini. Kecil ? ... hei ... dia sudah dewasa dan sangat manis, bagaimana mungkin kau menyebutnya gadis kecil?. Tapi bagi hatinya, Kirana memang adik kecil yang manis.
Semua hal yang dilakukan adik kecil itu, pada akhirnya menyentuh sudut hatinya. Ia pun bersikeras melipatgandakan jumlah buku-buku yang dibeli. Lalu dengan penuh semangat membayar semua biayanya. Walaupun semlpat terjadi sesi tarik-ulur, toh tetapo ia yang memenangkannya.
" Jangan bikin aku malu dong ...... biarka aku juga ikut dapat pahala ya ", uajrnya saat itu.
Kini Kirana masih terlihat sibuk denga layar hand phone-nya ketika ia sudah asyik menikmati dua potong bebek bakar yang berkawan sambal rawit hijau. Seporsi ikan bakar pesanan gadis itu bakan belum tersentuh sama sekali. Kirana masih sibuk menelpon kakaknya.
" Iya kak... masa kamu sebagai sahabat beliau berdua malah nggak bisa datang sama sekali diacara pernikahannya. Gimana sih ... ". Terlihat Kirana bersungut-sungut. " Kan' kalau kak Haidar bisa datang .... sekalian loby dokter Yulia ... he..he..he... biar aku 'isip' nya bisa di puskesmas nya ".
Rupanya gadis ini sedang merayu sang kakak, pasti berkaitan dengan program internsipnya. Tapi sepertinya ia sedang kurang beruntung kali ini. terbukti ia tampak kesal dan mulai sedikit meninggikan suaranya.
" Kak Haidar .... ihh. Kenapa sih lo' .... kayak nggak nyaman ditelpon adiknya sendiri ". wajah manis itu terlihat bersungut-sungut. " Yah.... malah ditutup .... dasar, abang absurd !!!! ".
" Sudahlah .... makan dulu, nanti telpon lagi. Mungkin kakak mu itu baru sibuk ".
" Sibuk apaan .... malam minggu juga ".
" Nah ... ini... ini yang tidak diketahui oleh gadis jomblo macam Kirana... he..he..he.. ".
" Ya ampun ...", Kirana tersentak kaget. " Masa ya belum ada satu bulan di Jerman sudah dapat pacar ".
__ADS_1
" Ssstt.... makan dulu, nanti telpon lagi. Mungkin abang mu itu butuh merapikan sesuatu dulu. Keburu dingin nggak enak loh ".
Akhirnya bujukan Syailendra pun berhasil membuat gadis manis itu duduk dengan sedikit tenang dan mulai menikmati ikan bakar porsi besar dengan lelehan kecap dan karamelisasi yang menggiurkan. Sayangnya itu hanya berlaku untuk beberapa suapan saja, tiba-tiba sepasang mata cantik itu membulat sempurna.
" Ya ampuuuun.... kakak baru merapikan apa ?... aduuuh perasaanku nggak enak nih. Mas Alend! .... gimana nih ? ".
.............................
Haidar membukakan pintu untuk Nania-nya yang berlari kecil menyongsong.Satu tas belanjaan itu kini sudah teronggok manis di kursi penumpag belakang. Tapi saat hendak melajukan kembali kendaraannya untuk segera meninggalkan swalayan itu. Teleponnya kembali bergetar, meraung, menuntut perhatian. Kali ini bahkan panggilan video. Haidar menggaruk kepalanya dengan frustasi.
" Angkat saja mas .... nanti aku bantu menjelaskan ... ".
" Hah ?! ". Haidar menatap Hanin, ia terlihat kebingungan.
" Itu dari pacarmu 'kan mas .... tidak apa-apa, aku paham kok. Biar aku nanti yang menjelaskan ", kata Hanin lagi dengan sinar mata penuh keyakinan.
" Yakin ? ... ", kali ini Haidar yang menatap Hanin mencari kepastian. Dan saat Hanin kembali mengagguk tanpa ragu, telunjuk pria itupun langsung menggeser simbol tepon berwarna hijau .
Lalu nampaklah sosok canti yang sedang duduk, tampak sekilas aneka hidangan di hadapannya. Suasana latar belakang gadis itu adalah sebuah ruangan dengan banyak kelompok meja dan kursi yang sebagian besar telah terisi oleh orang-oran. Haidar langsung mengenali jika Kirana yang menelponnya kini sedang berada di sebuah rumah makan dengan konsep rumahan yang nyaman. Kalau sekarang mulai beranjak petang di Berlin, berarti di Semarang ..... sudah cukup malam. Ngapain anak gadis ini... sama siapa coba ?.
" Pasti sudah hampir jam sebelas malam... ngapain lo' masih ngelayab malam-malam. Anak gadis ... sama siapa lo' Ran ? ", Haidar langsung menghardik adiknya yang terlihat begitu terkejut.
" Hei kakak... harusnya gue yang nanya'... lo' baru ngapain, ditelepon kaku amat ... nyembunyiin sesuatu ya ?. Hayooo..... belum ada sebulan di Eropa udah mau salah pergaulan lo' ".
" Hei !!!.... bocah ngawur !!!... mau nyetir nih. Pulang cepet sana !!!..., ehh... sama siapa lo'..... pacar ?. Jangan coba-coba ya tanpa permisi dulu denganaku dan kak Namu ".
" Kakak apaan sih .... tuuh, tahu nggak tuh siapa ? . Yang jelas bukan pacar !!!!! ".
Kini nampak seorang pria dewasa yang sedang tertawa-tawa, di hadapannya terlihat piring berisi tulang-belulang sisa makan malam yang nampal lezat. Haidar sesaat terdiam, ia mengamati wajah pria yang sangat familiar itu. Senyuman yang terlihat membuat wajah dengan garis rahang tegas itu menjadi semakin nampak memikat. Garis wajah tidak seperti orang Asia pada umunya, bukankah orang sangat tampan.
" Loh ... loh... mas Alend ? ... bagaimana bisa dengan Q-run ? ".
" Halo Dar ... gimana Jerman ?. Adik mu aman kok dengan ku ", pria itu masih tertawa-tawa karena melihat wajah Haidar yang kebingungan.
" Tuuuuh..... kenal nggak ?. Dasar otak kotor ". Kini Haidar dengan sengaja menampakan sosok Hanin yang duduk di sebelahnya. " Ingat nggak lo'.... banyak dosa elo sama dia ".
" Eh ... siapa... siapa ya .. ", Kirana terlihat sedikit kebingungan.
Sementara itu Hanin terlihat begitu kaku dengan apa yang dilakukakan oleh Haidar. Tapi pemuda itu sedikit menyentuh jemarinya dan meyakinkan. " Kirana ... ingat 'kan ? ".
" Halo Kirana ... apa kabar ", akhirnya Hanin melambaikan tangan sambil menyapa Kirana dengan snyuman yang tersa sedikit kikuk.
" Ya ampun... ya .. ampun.... Nania... itu elo. Busyeeeeet.... cantik amat ..... Chelsea Islan sih lewat.... ya ampuun... kok bisa sih secantik ini. Kelamaan di Jerman pasti ya ".
Hanin tertawa mendengar seruan Kirana yang begitu antusias dengan keterkejutannya. Gadis manis langsing semampai yang dulu selalu berhasil membujuknya untuk didandani sedemikian rupa. Gadis yang kecil yang dulu selalu membagi mainan dengannya tanpa pikir panjang. Gadis yang selalu membuatnya iri, karena memiliki seorang ayah yang tampan dan baik itu. Lama sekali rasanya mereka tidak berjumpa.
" Rana bisa aja .... sudah jadi bu dokter ya sekarang ? ".
" Belum seratus persen kok .... eh, titip kakak gue ya. Jagain dia dari gangguan cewek-cewek yang nggak jelas ".
Tentu saja Hanin hanya biasa tertawa-tawa saja untuk membalas permintaan Kirana. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang. Ternyata sudah ada bebrapa mobil di belakang yang tertahan. Haidar segera memberikan telepon seluranya pada Hanin, sementara ia mulai melajuakn kendarannya.
" Ran ... udahan dulu ya, nanti deh kita obrolin. Baru keburu mau pulang nih ... anterin Nania ".
" Ya ... awas kalo' nggak telpon. Eh Nania... nanti bagi nomer kamu ya ".
" Okay Rana ".
" Udah dulu ya.... eh jagain abang gue'. Kalo' perlu buat elo aja ya. Bye ... ".
Yang terdengar kemudian adalah tawa Hanin ..... serasa aneh. Karena pasti celutukan Kirana tadi terdengar jelas oleh Haidar yang saat ini terlihat fokus dengan jalanan di hadapannya.
" Ini ... alamatnya ... tujuan kita ? ".
Hanin merasa sangat bersyukur karena Haidar tidak memperdulikan yang baru saja dikatakan adiknya. Dengan satu senyuman mengiringi, Hanin kemudian menyalakan sistem navigasi pada kendaraan itu. Mengeset sebuah alamat dan juga bahasa yang digunakan pada alat tersebut menjadi bahasa Inggris.
__ADS_1
" Kenapa tidak aku saja yang memberi aba-aba ? ", terdengar seperti nada protes dari Haidar.
" Bukankah lebih mudah begini. Aku jadi bisa melakukan hal lainnya ".
Haidar mengernyitkan keningnya, ia lalu sedikit menoleh menatap Nania-nya. Gadis itu nampak berlipat cantiknya saat menahan senyuman di ujung bibirnya.
" Memang .... hal lain apa yang akan kau lakukan sekarang ? ", tanya Haidar masih dengan kebingungan yang tidak berkurang kepekatannya.
" Ehm ..... meminta maaf ".
" Meminta maaf ? ", Haidar kemabli mencecar.
" Iya meminta maaf ..... karena salah sangka. Kupikir itu tadi telpon dari .... pacar nya mas Haidar ".
" Ohhh.... itu saja ... nggak minta maaf karena mencari cokelat terlalu lama juga ? ".
" Eh ... maksudnya ? ", kini Hanin yang kebingungan.
" Tadi sengaja cari cokelatnya dilama-lamain biar bisa ngasih kesempatan aku buat telpon 'kan ? .... dikiranya dari jadi pacar ku. Padahal tadi juga dari Kirana loh ".
" He... he... he... iya. Sorry ... ". Hanin terkekeh malu dan pipinya pun bersemu merah
" Aku kayaknya udah pernah bilang deh .... nggak punya pacar ".
" Oh .. ".
" Besok-besok jangan salah sangka lagi ya ". Dan Hanin mengangguk kuat-kuat menjawab pertanyaan Haidar.
" Nggak mau jadi penganggu saja ... ".
" Kan yang di sebelahmu ini singgle..... belum ada yang memiliki. Kalau Na' ? ".
Pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab olehnya, karena ia sanagt yakin pasti pria ini sudah mendapatkan cerita tentang dirinya.
" Sudah berniat untuk merenda cerita cinta yang baru ? ".
Tepat seperti dugaannya, pria ini sudah mengetahui semua cerita kelam itu.
" Sudah memilih untuk kembali bahagia ? ", tanya Haidar lagi.
" Aku ..... aku... belum berani. Masih ada tanggung jawab besar yang belum selesai ", jawaban Hanin sedikit lirih.
" Tentang Sellma dan Leisel ? ", tanya Haidar lagi.
" Mas sudah tahu juga ya rupanya ". Hanin tersenyum miris.
" Itu bukan sepenuhnya tanggung jawab mu. Tapi hatimu terlalu cantik seperti dirimu ..... tapi kau juga berhak bahagia ".
Bahkan pria ini belum genap satu bulan berada di negara ini, berada di langit yang sama dengannya. Tapi ia sudah begitu yakin menyatakan hak dirinya untuk mendapatkan kebahagiaan. Sesuatu hal yang tidak berani ia mimpikan lagi. Karena sakitnya saat jatuh dan terinjak, masih begitu nyeri dan perih.
" Nania.... "
" Ya .... ".
" Ijinkan aku .... untuk bisa ikut menyandang tanggung jawab itu ".
" Mas ? ".
" Nania ...beri kesempatan padaku ....untuk membantu mu .... "
Dan waktu pun berputar perlahan, seolah sedang mengaskan kembali apa yang tengah terjadi. Ketika Hanin Hanania mendapati bola mata bening serupa mutiara hitam itu, entah mengapa terasa begitu lembut menatapnya. Hingga sisi hatinya yang terluka perih itu kini merasakan dingin yang menenangkan. Dan ia terlena dalam tatapan penuh keindahan itu.
" Mas ........... ".
__ADS_1