
" Wisya.... kenapa kau mengingkari janji mu ? ".
Wisya menatap Yulia yang berdiri dihadapannya dengan tatapan sedikit berkabut karena ada sesudut air mata yang tertahan. Pemuda itu pun ikut terpaku, tapi hatinya menjeritkan kebingungan.
" Kenapa ? .... aku sudah mengatakan padamu... aku masih bisa membayar uang semesteran ku. Aku tidak mau berhutang pada mu ... kenapa kau tetap melakukannya ? ".
Sesungguhnya Wisya sangat kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan Yulia. Hingga gadis itu dengan sedikit kasar menjejalkan sebuah amplop putih panjang yang terlihat tebal.
" Aku sangat berterimakasih padamu ... tapi aku tidak bisa menerimanya .... aku kembalikan .. ".
" Yulia.... bu-bukan aku ... ".
" Kalau bukan kamu siap lagi ? ", suara Yulia terdengar mulai menyengit dan bergetar. " Hanya kamu yang sudah berniat membantu ku sejak awal... hanya kamu ... tapi tidak bisakah kau menghargai usaha ku ..... sedikit saja ?? ".
" Yulia .... ", Wisya menyentak gadis itu dengan mengguncang pundaknya. " Dengarkan' aku ... ".
" Yulia..... ", namun sebuah seruan telah terlebih dahulu mengalahkan suara Wisya. Dhini salah seorang teman dekat Yulia nampak sangat tergesa-gesa.
Gadis itu setengah berlari, dan tangannya memegang sebuah handphone. Yulia mengenali yang di bawa si gadis berkulit seputih pualam dengan jilbab birunya yang cantik itu adalah telepon seluler miliknya.
" Kau meninggalkannya.... maaf ada telpon dari ayahmu, maaf .... aku tadi menerimanya. Adik mu telpon..... ayahmu kritis ".
Yulia terbelalak tak percaya, ia pun segera menerima handphone miliknya. Kedua tangannya gemetar. Ketika benda itu kemudian berdering kencang, suasana dingin mencekam tiba-tiba menyelubungi seperti kubah es.
" Ha- halo.... ". Suara Yulia tergagap. Entah apa yang didengarnya dari alat komunikasi itu, tapi yang jelas hal tersebut membuat gadis itu terhuyung dan air matanya mulai berlompatan tak tertahankan.
" Innalilahi.... wa' inalillahi rojingun... ", suaranya bergetar. Seiring tubuhnya yang lemas dan tumbang dalam tangis yang menyesakkan.
Wisya dengan lengan kekarnya segera menangkap tubuh Yulia, menyangga pundak gadis itu dengan sigap. Lalu menuntunnya perlahan menuju ke sebuah kursi dan mendudukkan gadis itu disana. Masih dengan memeluk pundak Yulia, namun ia tidak dapat berkata-kata.
Gadis itu menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan, tapi isaknya tetap terdengar menyayat merobek nuansa. Dhini segera duduk di samping sahabatnya itu dan memberikan sebuah pelukan. Tanpa kata-kata, karena sepertinya tidak ada kalimat yang mampu membendung isak tangis Yulia.
Wisya pun mematung, namun nalarnya sebagai seorang pria yang memang dikaruniai sifat logis yang dominan, membuat pemuda itu bergerak cepat. Ia meraih teleponnya dan mulai menghubungi seseorang.
" Yul... ", Wisya setengah berjongkok diharapkan gadis itu dan menyentuh pundaknya. " Lima belas tiga puluh jadwal pesawat mu .... aku dan Dhini akan menemani mu. Ayo .... kita harus bergegas, hanya ada dua jam untuk bersiap. Kujemput di kos-kosan kalian... ".
" Wisya ....", Yulia dengan wajah bersimbah air mata, kebingungan
" Ayo kita harus bergegas... ", Dhini menuntun langkah sahabatnya.
" Tolong ya Dhin... ", pinta Wisya yang disambut oleh anggukan Dhini.
...............
Sore itu Haidar berjalan dengan sedikit riang, bahkan senyumnya mengembang sesekali. Dalam genggamannya terayun sebuah kantong plastik berisi berapa porsi nasi Padang. Ia memasuki ruang dokter co-*** dan menemukan beberapa orang teman satu kelompoknya.
" Loh ... Don, kok belum pulang ?".
" Aku bertukar dengan Wisya, dia mengantar Yulia ", jawab Dony.
" Kenapa Yulia ? ".
" Ayahnya meninggal ..... dan ketua kelompok kita itu sangat berbaik hati mengantarkan pulang ke Solo ". Terdengar sedikit sinis dari nada suara Anelis.
" Kau tidak usah begitu, toh Wisya takdirnya untuk mu. Santai non..... nggak usah baper ", Dony menimpali.
" Ayahnya meninggal ya.... innalilahi wa'inailaihi rojingun " . Haidar kemudian terpekur.
Ia meletakkan bungkusan berisi beberapa porsi nasi Padang dan Jus Alpukat, yang sedianya memang dibelikan untuk Yulia berbuka. Walaupun pada akhirnya dia juga membeli lebih banyak juga untuk dibagikan pada teman-teman lainnya.
" Apa ini ? buat kita-kita ? ", tanya Anelis.
" Ya... nasi Padang dan Jus Alpukat. Ambillah ...".
" Kita sudah pesan bento ... kau terlambat ", kata Dony menyela.
__ADS_1
" Oh... tidak mengapa, biar kuberikan buat ibu-ibu perawat saja ".
" Tapi aku mau satu ... ya ", Dony tampak nyengir. " Lambung ku kan' terdiri dari dua bilik .... kanan kiri ".
Haidar tersenyum geli dengan tingkah kawannya yang berbadan sedikit tambun ini. Ia pun lalu menurunkan dua kotak nasi Padang beserta jus alpukat nya. Lalu membawa sisanya menunju ruang perawat jaga. Kedatangannya disambut dengan senyuman dan candaan dari para ibu-ibu muda perawat jaga.
" Sering-sering ya mas dokter ganteng ... ", kata seorang ibu perawat yang terlihat sedang hamil.
" Moga-moga .... bisa ketularan punya anak ganteng dan pinter kayak mas Haidar ", selorohnya lagi sambil membelai perutnya yang membuncit.
Haidar tertawa kecil, kemudian berpamitan untuk shalat Maghrib dulu. Sepanjang jalan menuju masjid rumah sakit, pikirannya mengembara. Berseliweran dalam benaknya bagaimana berat beban yang harus disandang seorang kawan. Dia yang tanpa lelah mengejar cita-citanya, kini harus tertimpa kemalangan begitu besar. Walaupun gadis itu terlihat sangat kuat, tapi Haidar sungguh tak mampu melihatnya menangis. Dan pasti, kini Yulia tengah menangis.
Rasa bersalah kembali mencengkeram hatinya, meremas dengan kuat dan membuat nalurinya berteriak penuh penyesalan. Ia lalu tertunduk dalam doa yang panjang, dengan ketulusan yang mengalir membasahi jiwanya. Doa dari seorang pria untuk teman yang sangat dikaguminya. Haidar pun berbisik lirih penuh permohonan, ia memohon ampunan atas langkahnya yang telah salah. Ia tertunduk dalam hening menghiba pada Sang Maha Pencipta.
..................
Kedua orang itu sama-sama memandang laut lepas. Cerita masa lalu itu sedikit demi sedikit terkuak, seperti kepingan mata rantai yang mulai ditemukan dan disambungkan. Yulia dan Haidar saling bercerita melengkapi kisah-kisah mereka.
" Aku tidak mengerti apa yang terjadi diantara kalian berdua .... tapi aku merasa seperti pelanduk ditengah pertarungan sengit Singa dan Harimau ".
Yulia mengalihkan pandangannya pada Haidar, dan pemuda itu tetap menatap samudera luas yang terbentang. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.
" Apa kalian pernah saling jatuh cinta ? ", tanya itu terloloskan dari bibir Haidar .
" Dalam kondisi ku saat itu, apakah sempat aku jatuh cinta ? ".
" Tapi malam itu.... Wisya sangat cemburu dan dia meninjuku. Kami berkelahi ... ".
" Malam itu ? kapan ? ", Yulia sangat dipenuhi rasa ingin tahu.
" Malam .... terakhir kita praktek di kedokteran forensik. Malam saat aku menangkap mu yang berlari .... lalu... kemudian mengantarmu pulang ... ".
Sepasang mata mereka beradu, seperti memantik suatu ingatan. Yulia mulai menghubungkan kembali setiap milimeter tautan ingatannya.
" Kau memelukku ... menenangkan ku. Aku ingat itu. Dan untuk pertama kalinya kau mengetahui kos-kosan ku ", sambung Yulia dengan cepat.
" Ya.... dan Wisya mencegat mobil ku sekeluarnya dari gang tempat kost mu. Kami adu hantam dipinggir jalan ... dan dilerai oleh bapak-bapak satpam ".
Yulia berdecih, ia tersenyum miris mendengar cerita Haidar. Terungkap sudah asal muasal lebam di wajah kedua pemuda itu, serta perang dingin yang berlanjut kemudian.
" Itu buktinya kalau dia mencintai mu, makanya dia cemburu padaku ".
" Bukan seperti itu..... dia hanya sangat iri padamu. Dan menginginkan semua yang kau miliki. Dia itu licik .... sangat licik ... dan sangat jahat ".
" Tapi kalian sebelumnya sangat dekat dan akrab. Bagaimana bisa langsung berubahd begitu ? ".
" Karena aku disadarkan oleh kenyataan ..... itu sangat menyakitkan, tapi aku bersyukur. Aku tidak jatuh terlalu dalam oleh pesona palsunya ". Yulia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, hal itu tidak terlewatkan oleh sudut mata Haidar.
Walaupun ia merasa masih ada satu hal krusial yang ditutupi oleh Yulia, tapi Haidar memutuskan untuk tidak memaksakan menyelam terlalu dalam pada masa lalu wanita ini. Ekspresinya yang sedemikian rupa menahan rasa sakit dan juga benci, membuat Haidar memutuskan untuk menahan diri. Semua orang berhak punya rahasia, begitu bisik hati Haidar.
" Ayo kita pulang... persiapkan diri untuk kedatangan para pengadil kita besok ", dengan sengaja Haidar membuat penekanan pada kalimatnya dan membuat Yulia berdecih untuk kemudian tertawa dengan perasaan miris.
" Sudahlah.... ", Haidar tertawa juga sambil menendang pasir yang tidak berdosa. " Kita hadapi saja dengan senyuman ".
" Iya... iya . Ngomong-ngomong.... bagaimana kabarnya om mu itu ? ".
" Hah ? ", Haidar kebingungan dan menatap Yulia penuh tanda tanya.
" Itu loh... om-om yang kau suruh membayar uang kuliah ku ..... yang kepergok dan sempat kutuduh om mesum itu.... ".
" Oooh... Om Bramastya ..", Haidar terkekeh. Ia teringat saat orang kepercayaan Ayahnya ini pada akhirnya kepergok Yulia saat akan mengurus administrasi kuliah gadis ini untuk yang ketiga kalinya. Terjadi kesalahpahaman dan sempat diamankan oleh petugas keamanan.
" Demi menjaga rahasia anak bossnya sampai harus diamankan security. Kau ini sungguh keterlaluan .... ".
" He.. he.. he.. itulah totalitas para orang-orang kepercayaan ayahku. Sekarang om Brams sudah punya satu cucu laki-laki ".
__ADS_1
" Oh... syukurlah, sampaikan salamku padanya ya. Dan juga permohonan maaf ku .... atas tuduhan om-om cabul penghisap madu ".
" Hua.. ha.. ha.. ha.. iya... iya aku sampaikan nanti ... ha.. ha.. ha.. ", Haidar masih saja tertawa.
" Sak karepmu .... Ayo !!! katanya pulang dan bersiap untuk besok ".
Akhirnya Haidar pun memilih mengikuti Yulia yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil. Laut itu kembali ditinggalkan oleh dua anak manusia. Seperti seorang ibu yang baru saja mendengarkan cerita dan keluh kesah anak-anaknya, laut itupun dengan ombaknya membelai bibir pantai dengan lembut. Seolah tengah memberikan penghiburan dan menyemangati, semua akan baik-baik saja .... desis laut dengan suara ombaknya.
................
Malam itu di belahan bumi yang sama ada dua orang pria tengah termenung memikirkan satu orang yang sama, walaupun tempat mereka berpijak berbeda. Pria dengan sepasang mata yang tajam dan rahang maskulin yang mengeras karena tahanan perasaan yang sedang mendesak. Lalu seorang pria dengan sinar mata yang begitu lembut walaupun dalam balutan wajah tampan yang terlihat perkasa. Pikiran keduanya berkecamuk pada satu poros yang sama, pada satu wanita yang sama, tapi dengan latar belakang keinginan dan perasaan yang sedikit berbeda.
Dialah Wisya Damara yang berdiri mematung dengan sebatang sigaret disela jarinya. Sesekali ia menyesap batang dengan ujung menyala itu, menghirup asap putih kemudian mengepulkannya perlahan. Menatap jauh pada sebuah masa lalu yang membuatnya tersenyum, marah dan juga menangis. Masa lalu yang masih merajai hatinya dan menghantui hari-harinya. Seperti sebuah parasit yang hidup dari sari pati dirinya, membuat seorang Wisya menjadi gila karena obsesinya sendiri.
' Menemukan mu ditengah gempitanya dunia yang penuh kepalsuan adalah kebahagiaan terbesar untuk ku. Kau tahu Yulia.... aku sangat sering memimpikan senyummu, bahkan hingga saat ini. Hatiku terasa sakit ..... sakit sekali, mengingat semuanya tentang kita. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan mu ? ... padahal aku yang terlebih dahulu menemukan mu ... aku yang mendekati mu dulu. Apakah engkau juga sama silaunya dengan wanita-wanita itu sehingga lebih memilih seorang Haidar. Cih!!!..... tapi harusnya kau tetap datang mencari ku ..... meminta ku bertanggungjawab. Tapi kau begitu egois ...... kau .... ahhh!!!!! '.
Wisya menyunggar rambutnya dengan kasar, lalu kembali menghisap dalam-dalam batang sigaret di sela jarinya lalu kembali menghembuskan asap putih itu. Seperti tengah berusaha menyesap rasa sakit dan kemudian membuang-buangnya jauh-jauh.
' Aku akan mendapatkan mu !!!!! kau satu-satunya yang sangat kuinginkan di hidupku. Bukan Dia yang akan mendapatkanmu, tapi aku !!! ... bagaimanapun caranya '.
Tatapan matanya tajam menghunjam menembus malam. Serupa anak panah yang terlepas dari busur, dengan telak dan tepat menembus sasarannya. Wisya mengepalkan kedua tangannya, membulatkan tekad.
Sementara itu hanya berjarak beberapa kilometer dan hanya berbatas lautan sepanjang beberapa mil saja, seorang pria pun tengah termenung panjang. Ia menatap barisan foto masa lalu di layar laptopnya. Sesekali senyuman terkembang dari sudut bibirnya. Sebuah slide tentang masa penuh perjuangan dulu dan juga kilasan memori yang menyertai, terasa masih menghimpit dan menghantuinya dengan rasa bersalah yang begitu pekat.
Haidar menyentuhkan ujung jarinya pada sebuah wajah yang tergambar di layar dengan pendaran sinar kebiruan itu. Dari beberapa slide foto sebelumnya, senyuman ini nampak begitu penuh kesediaan. Sinar mata ceria dan penuh semangat itu nampak sangat memudar. Padahal seraut wajah itu nampak sangat manis sebenarnya. Haidar terus saja membandingkan dua foto wisuda itu. Saat kelulusan sebagai sarjana kedokteran dan saat sumpah profesi seorang dokter. Keduanya begitu kentara perbedaan sinar mata seorang Yulia.
Haidar tidak bisa memungkiri lagi di satu windu hidupnya ini semua seperti berporos pada satu nama dan peristiwa. Ia seperti dikejar-kejar rasa bersalah. Terkadang ada kerinduan yang dalam pada sebuah senyum manis itu. Hingga setahun lalu ia hampir setahun yang lalu ia berhasil menemukan kembali sosok Yulia. Haidar menyadari satu hal.
Bukan gadis ini yang perlu disembuhkan dari luka masa lalu, tapi justru dirinyalah yang harus segera diobati. Yulia telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan tangguh. Sepertinya ia telah berhasil berdamai seluruh kisah dulu yang pilu itu. Tapi Haidar masih bisa menemukan guratan luka yang dalam pada senyum manisnya. Dan iapun kembali bertekad untuk memenuhi janji yang masih tetap dipegangnya semenjak sewindu yang lalu.
***Padamu yang tersakiti aku telah mengikrarkan sebuah janji
Padamu yang terluka karena peperangan antar serakahnya hati
Aku masih tetap mematri tekad untuk menyembuhkannya
Rasa ini seperti sel ganas yang menggerogoti kehidupan ku setiap saat
Setiap engkau tersenyum, aku semakin terajam oleh rasa bersalah ku
Kau terlalu indah untuk terlukai, terlalu murni untuk tersakiti, terlalu baik untuk tercampakan
Kau adalah janji yang harus kutunaikan
...>>>>>>>>>>>©®***<<<<<<<<<<<...
Author Corner's :
Dear reader,
Sebelumnya terimakasih atas cinta dan dukungannya selama ini. Dari RINDUKU PADA SANG ELANG sebagai karya debut, lalu berlanjut BIDADARI BIRU sebagai karya kedua, hingga PH3K ini sebagai kelanjutan dari dua karya sebelumnya.
Membaca chating di group, menerima pesan cinta dan penyemangat kalian dikolom komentar sungguh menjadi super mood booster luar biasa. Terimakasih dalam menyampaikan kritik, saran dan juga komentar yang begitu santun dan membangun. Author sangat terharu ...... kalian sangat cerdas dan berhati lembut. Jangan berhenti melakukannya ya..... kalian lah mahaguru dan juga supporter fanatik ku, yang memacu semangat untuk terus berkarya.
Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial.
IG : @renitawei_
FB : Reni Yusnita
Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.
Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.
@renita_wei
__ADS_1