
Berbagai pertanyaan silih berganti, berseliweran dalam benaknya. Masih pertanyaan senada, waaupun tak sama dan tak sebangun, tapi semua masih mengarah pada satu muara.
' Apakah kau tidak terburu-buru ? '
' Seyakin apa kau dengan keputusanmu ? '
' Benarkah itu cinta ? '
' Terkadang setitik cahaya itu bisa membuat bias, terlebih saat kau terlalu lama terpuruk dalam gelap '
' Mungkin itu hanya perasaan nyaman saja, bukan merindu atau sayang yang seharusnya. Bagaimana kau bisa begitu gegabah mendeskripsikannya ... jika itu cinta ? '
Hanin Hanania tetap konsisten memperlakukan adonan berliner bollen -nya, begitu juga berbagai pertanyaan yang terus mengusik benaknya. Ini adalah hari kelima semenjak cinta antara dirinya dan pria tampan bernama Haidar itu saling bertaut, disaksikan oleh kerabat dan para teman dekat. Sudah bukan rahasia lagi, bahkan kini seluruh teman-teman di tempatnya kerja juga tahu. Tidak butuh waktu satu minggu, hanya cukup beberapa jam saja sejak Keanu mengunggah video romantis itu jadi status WA nya. Marah, kesal, malu ? ... ya iyalah. Tapi dia bisa apa?.
" Ada salam khusus nggak buat ayang ? ", goda mba Cinta saat ia ikut serta mengantar sepasang pengantin itu di bandara. Ia hanya tersenyum kecil saja, sambil pura-pura sibuk. Demi untuk menutupi rasa gelisah dan malu yang terus bersemburat merona dipipinya.
" Jangan ganggu dong, maaf ya Hanin ". Untung saja bang Namu suaminya mba Cinta langsung ambil peran menyelamatkan.
" He..he..he.. habis gemes ngeliatnya. Nggak nyangka aja, si berandal itu takluknya sama si mungil yang putiiih... ini ". Cinta dengan serta merta merangkul pundak Nania. Seperti seorang kakak memperlakukan adik kecilnya. " Mau deh, nanti punya anak gadis kayak gini ".
" Katanya yang pertama, maunya laki-laki dulu ", Namu menimpali.
" Dua langsung juga nggak apa-apa ".
" Serius ? ". Namu menatap istrinya, seolah belum cukup, ia pun melepas kaca mata hitam yang ia kenakan. Seperti kurang percaya dengan koordinasi antara pendengaran dan pengelihatannya.
" He-eh ", tapi Cinta mengangguk penuh semangat tanpa melepaskan pelukannya dari Nania. " Sudah ada modal'kan ?, kulit putih dari bapaknya ".
Tentu saja selorohan itu bersambut tawa dari Namu dan Hanin Hanania.
" Jangan-jangan sudah mulai isi nih . Sukses dong bang Namu ".
" Iya ... buatan Indonesia rasa Jerman nih .. haha..haha.. ". Namu tergelak membalas perkataan Hanin, dan membuat sepasang mata gadis itu membulat.
" Mba Cinta ... selamat ya ", Hanin dengan serta-merta memberikan pelukan pada kakak cantik yang sejak tadi juga masih merangkul pundaknya masih.
" Ssstt ... jangan bilang-bilang dulu ya. Mau buat kejutan para calon eyang nih. Yang pertama tahu baru calon tantenya ini looh ". Dengan ceria Cinta mengucapakannya, begitu kentara rasa bahagia yang kini jadi penguasa hati wanita itu.
Nania tentu saja jadi merasa sangat tersanjung mendengar semua itu. Ia pun perlahan membelai perut kakak cantik yang masih sangat rata dan begitu ramping itu.
" Hai junior ... tumbuh sehat ya, baik-baik sama mamah kalian. Salam buat Indonesia ya ".
" Iya tante, salam buat om ku yang ganteng juga 'kan ".
Hanin tertawa lepas begitu Cinta menjawabnya dengan gaya seoarang bocah lucu yang menggemaskan. Tapi hal itu juga untuk mengaburkan suara jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih kencang. Pasti karena 'si om ganteng' nya baby mba Cinta dan Bang Namu ini. Hadeeeeh .....
" Kapan mau pulang ?. Bukankah sudah terlalu lama kau tidak menengok ibu mu ? ". Kali ini yang bertanya adalah Namu, terasa seperti seorang kakak yang sedang menelisik kerinduannya. Bahkan tatapan pria itu serupa bayangannya tentang seoarang pria yang menjadi saudaranya. Begini mungkin ya rasanya punya ayah atau punya kakak, gumam Hanin dalam lirih hatinya.
" Mama Orlin pasti juga sangat kangen padamu. Bisa dibayangkan senangnya beliau nanti saat bisa bertemu ".
" Pulanglah adek cantik , syukur-syukur saat keponakanmu lahir nanti kau sudah ada di tanah air ", dan Cinta pun menimpali penuh dengan semangat. " Si mas bro' ganteng itu pasti juga seneng banget, bisa cepet ketemu pujaan hatinya ... he..he..he.. ".
__ADS_1
Bukankah mereka semua terlalu baik untuk seseorang seperti dirinya ?. Keluarga besar Arsenio yang telah sejak kecil dikenalnya dengan baik, seluruh anggota keluarga itu memperlakukan dirinya, ibu dan juga saudarinya seperti keluarga sendiri. Bukan sekedar karena hutang budi dari ayahnya pada pak Mandala Aresenio. Karena jika ditelisik kebelakang, seharusnya sudah impas semua hutang masa lalu itu dengan apa yang diperbuat ayahnya. Tapi keluarga terpandang ini memang dikaruniai dengan berkah kesederhanaan dan kelembutan hati. Memangkas jarak yang begitu jauh tenang kedudukannya dan kedudukan Haidar sang putra mahkota. Membuatnya merasa nyaman dan diterima dengan ketulusan sejati.
Bahkan pria gagah itu pulalah yang telah berhasil membuatnya berpaling dari rasa sakit masa kelamnya. Mengembalikan rasa percaya dirinya yang sempat menguap, dan membuatnya kembali tersenyum dengan kebahagiaan tulus. Bukan karena latar belakang pria itu yang begitu sempurna, yang menjadi impian hampir setiap wanita. Bukan karena keadaan nyaris sempurna dari pria bernama Haidar Mandala Wirayudha, yang nama lengkap itu baru diingatnya beberapa hari yang lalu. Tapi bagaimana pria itu sangat bersahaja sejak dulu, sejak pertama kali dia mengenalnya.
Kakak laki-laki yang baik, yang tersenyum ramah setiap kali menyambut kedatangannya, yang diam-diam akan meberinya segenggam premen cokelat kesukaannya. Kakak laki-laki yang dengan suka rela mau menjadi pengantin laki-laki saat dirinya kecil didandani bak pengantin oleh Cinta dan Kirana kecil.
" Kau bilang mau jadi pengantin, kalau dengan Nania.. ayo !!! " .
Hanin Hanania tersenyum, terbayang jelas bagaimana Kirana yang berusia sebaya dengannya menyeret sang kakak untuk mau di dandanin dengan tuxedo dan berdampingan dengan dirinya kecil yang sibuk mengunyah kepingan cokelat. Ia kecil tidak peduli dengan semua hal itu, rasa manis cokelat yang adiktif itu membuatnya seolah mau melakukan apapun.
" Aku menyukaimu sejak dulu. Sejak kecil mungkin, tapi baru sadar setelah kau menghilang. Aku jadi rindu semangkuk mie godog buatanmu, atau churos con chocolate buatanmu, tapi sebenarnya aku rindu dirimu yang ceria dan penuh semangat. Aku rindu senyuman di wajah mu ".
Bodoh !!!, Nania seolah mengumpat dirinya sendiri yang tiba-tiba saja tersenyum dan juga menitikan air mata secara bersamaan, seperti orang gila. Tapi bukankah jatug cinta itu membuat batas antara waras dan gila itu menjadi begitu tipis ?.
" Minta petunjuk pada Sang Maha Kuasa, ber-istikharah lah ! yakin kan hatimu. Serahkanlah seluruh hidup dan matimu pada satu-satunya Dzat Yang Agung, jangan pikirkan apapun, maka kau akan melihat kebenaran sejatinya ".
Berliner bollen yang masih berupa adonan itu kini telah menjadi cukup kalis, dan Hanin pun mematikan alat pengaduknya. Menatap adonan beraroma ragi dan susu itu dengan yakin, seyakin keputusan yang akan diambilnya. Dengan satu hentakan, ia menyentak gumpalan adonan itu dengan senyuman cerah penuh kemenangan.
" Chef, kau ... sepertinya sudah berhasil lolos ujian hidup yang sulit ". Ammeer pemuda dari Turki itu menatap pada chef tersayangnya dengan pandangan heran.
" Kau benar, semoga ini keputusan tepat. Kau lanjutakan sisanya ya, aku akan menemui inu boss dulu ". Gadis berkulit seputih mutiara itu melepas celemek yang tadi dikenakannya, dan membuat kain berwarna coklat dengan aksen taburan merah strawberrry itu mendarat tepat di sandaran kursi. Sementara ia sendiri bergegas melewat Ameer yang masih terbengong-bengong tak mengerti dengan sikap impuls chef cantik kesayangannnya ini.
" Terserahlah, dasar !!! gadis yang sedang jatuh cinta ... heeeem ". Ameer hanya mengangkat bahunya saja. Membiarkan Nania yang berlalu dengan sedikit tergesa,
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Haidar baru saja akan masuk ke dalam kendaraan yang sudah siap matang hendak membawanya melaju menembus pagi, ketika munculah sosok Raka yang datang menghampiri. Masih dengan wajah sedikit kucel yang berbanding terbalik dengan senyumannya. Sebuah seringai yang sangat cukup membuat banyak gadis rela saling cakar untuk bisa mendapatkan hati si pemiliknya. Sesuatu yang sampai sekarang kurang bisa dipahami oleh Haidar tentang sepupunya ini. Apa bagusnya coba dari dokter tengil nan badung satu ini ?, begitu pikir Haidar.
" Kangen ya ?. Atau sirik lo' nggak bisa lagi nyium aroma iodin dan kawan-kawannya ", balas Raka untuk sapaan Haidar yang langsung memprovakasi jiwa tengilnya. " Gue baik kok, sini kupeluk.... nikmati aroma dan sensasinya..... ".
" Hiiiy, anjay lo'. Nggak ! nggak !... bau jigong juga. Lum mandi 'kan lo' ". Tentu saja Haidar berkelit, menghindar dengan cepat. Sementara Raka yang tak kalah sigap juga bergerak cepat memeluk sepupu tersayangnya itu.
Maka terjadilah pemandangan indah yang cukup membagongkan di pagi itu. Dimana Haidar mati-matian membuat jarak dengan Raka yang juga berusaha keras untuk tetap memberikan pelukan hangatnya. Tawa Raka berderai-derai sementara Haidar bersungut-sungut denga ditingkahi muka masamnya.
" Ada apa ?. Sepagi ini sudah bikin bad mood ". Tanya Haidar akhirnya setelah bisa terbebas dari Raka.
" Kangen elo lah, apa lagi ". Masih dengan setengah tawa penuh canda Raka menjawab. Tapi sepasang mata Haidar yang langsung melotot sempurna, akhirnya membuat Raka berhenti tertawa. " Okay, okay ... cuma tanya, siang ini ada waktu nggak boss ?. Aku butuh bicara agak lama dengan mu ".
" Tentang ? ".
" Pernikahan ku ".
" What ?. Kawin lo' ? ".
" Nikah Dar... nikah !. Kalo kawinnya sih gak bakal bilang-bilang elo bro... ".
" Ya itu pokoknya. Sudah yakin?. Kapan ? Konsepnya ? ". Dan Haidar kini mulai terlihat lebih agresif daripada Raka beberapa saat yang lalu.
" Coz of that , I need your advise bro ".
" Habis dzuhur, di tempat ikan bakar langganan. Untukku porsi jumbo, es kelapa muda utuh, plus ekstra sambal, lalapnya nggak usah pake kol goreng, leunca 'nya dibanyakin dan nggak pake lama. Deal ?! ".
__ADS_1
" Ya Allah 'Dar .... deal !!!!! ". Lengking Raka pada akhirnya setelah sesaat berpura-pura mengelus dada.
" Setengah satu aku dah sampai sana. Semua pesanan sudah harus ready pokoknya ".
" Iya, iya... ntar' ku tambahin kembang tujuh rupa buat pelengakap sajen lo' deh. Menyan ? butuh nggak ? ".
" Ha .. ha.. ha.. ha.. ". Tapi Haidar cukup menjawabnya dengan tawa saja. Pria muda itu buru-buru mesuk kedalam mobilnya. " Koq nggak telpon aja sih kalau cuma buat bikin janji gitu ? ", tanya Haidar sambil menyembulkan kepalanya dari jendela mobil yang dibukanya, sesaat sebelum berlalu.
" Eh dodol !!!!.... klo' hape elo aktif dari semalam.... nggak bakal gua sepagi ini sampai dimari ".
" Oh ... ups!!! ... ha..ha..ha.. sorrrrryyyyyyyy.... ".
Dan Haidar tertawa lepas sambil mulai melajukan kendaraan yang membawanya berlalu. Meninggalkan seorang Raka yang tak berhenti bersungut-sungut panjang. Dia baru ingat, semalam setelah melakukan ritual wajib setiap dua hari sekali, ya apalagi kalau bukan menelpon pujaan hatinya. Mulai dari lewat tengah malam hingga hampir satu jam, memintal rindu dan merayu gadis ayu di seberang benua sana dengan dalih membangunkan, biar ayang nggak telat kerjanya, yaelah !!! . Akhirnya ia sendiri yang menjadi terlalu ngantuk untuk sekedar me-recharge ponselnya.
Tapi hal itu adalah rutinitas paling menyenangkan di satu bulan terakhir ini. Bagaimana tawa malu-malu gadis di seberang sana terdengar setiap kali ia menggoda. Juga cara gadis itu menarik dan menghembuskan nafas, ia sudah mulai menghafalnya dengan baik. Sambil berbaring dan membayangkan betapa manisnya wajah polos tanpa riasan namun penuh dengan kilau kecantikan yang memukau itu. Hal-hal indah yang membuat Haidar selalu tertawa kecil sendirian, membuat oarang-orang disekitarnya menjadi mengerutkan kening dan menatap dengan sudut mata penuh rasa heran. Pria yang sedang jatuh cinta, bukankah tampak menggemaskan.
" Selamat pagi mas Haidar, wuuuih... pgi-pagi udah senyum-senyum aja nih ?. Abis ketiban bulan kayaknya ". Sapa itu adalah dari pak Sus, pria paruh baya yang menjadi lawan favoritnya untuk pertandingan catur, setiapkali ia datang ke kantor ayahnya sejak ia bocah dulu.
" Remek dong pak. Anggrek bulan aja ya ... wangi ". Haidar terkekeh sambil beranjak memasuki ruangannya yang pastinya baru saja dirapikan oleh pak Sus. " Oh ya, putranya jadi daftar di Yogya pak ? ".
" Iya mas, alhamdulilah sudah lolos malah ". Wajah pak Sus terlihat sumringah. " Tapi nggak masuk fakultasnya mas Haidar ".
" Loh ?, kenapa ? ".
Tapi pria paruh baya itu tertawa saja sambil sedikit menghela nafas. Namun tak butuh waktu lama, wajah yang mulai tak bisa menyembunyikan keriput itu sudah kembali terlihat cerah dan bersinar penuh rasa bangga. lalu menatap Haidar dengan penuh percaya diri.
" Cukup sekolah farmasi saja, biar adiknya juga kebagian bisa kuliah. Gitu katanya ".
" Oh gitu ya. Selamat ya pak kalau gitu. Oh ya, nanti kalu adek nya mau kuliah, dituruti aja maunya diman. Bapak bialng sama saya pokoknya ya. Harus bilang, jangan sampai nggak ".
" Wah, wah mas Haidar ini, saya nggak enak mas. Sudah terlalu banyak dibantu sama pak Mandala dan keluarga. Terima kasih banyak ". Pak Sus terlihat begitu sungkan dan berkaca-kaca, sambil berkali-kali membungkukkan badan.
" Anak muda yang mau kerja keras, berprestasi dan baik budi seperti anak-anaknya bapak, wajib mendapat dukungan maksimal. Pokoknya, nanti kabar-kabar ya pak ".
" Iya mas, iya .. pasti innsya allah. Terimakasih banyak, semoga mas Haidar yang baik dan ganteng ini lekas dapet jodoh yang juga sama baiknya, cantik sepadan ... biar nggak kalah sama mas Raka ".
" Hua.. ha..ha..ha... ", Haidar tak dapat menahan tawanya. " Amiiin ... amiin. Sudah dapat bocoran ya ".
" Dari dua hari yang lalu mas Raka kelimpungan nyariin mas, katanya mau rembug kawinan. Sudah heboh dia, kayaknya seneng banget ya bisa nyalip Haidar ".
" Biarin deh, kali ini dia menang. Yuk ah pak ". Haidar melambai pada pak Sus sebelum pada akhirnya benar-benar masuk ke dalam ruangannya.
Pak Sus nama lengkapnya Susmadi, seoarang clening service yang sudah menghabiskan masa muda hingga kini telah paruh baya mengabdi di kantor Ars Group. Dari seorang pemuda yang masih lugu, namun mempunyai sifat yang sangat menyenangkan terutama bagi Raka dan Haidar kecil dulu, hingga kini sudah menjadi seorang ayah dengan dua oranga anak yang beranjak dewasa. Haidar masih ingat, dulu ia dan Raka rela berapayah-payah pulang sekolah menuju kantor kedua orang tua mereka demi ketemu mas Sus. Sekedar untuk menagih janji layang-layang keren buatan pemuda itu. Lalu ketika mereka harus melarikan diri dari acara gathering yang sangat membosankan untuk para bocah tentunya, tujuan utama mereka adalah papan caturnya mas Sus, tentu saja.
Haidar tersenyum-senyum sendiri mengenang begitu banyak cerita indah saat kecil hingga remajanya dulu, Waktu bergulir seolah tak menghiraukan apapun, melibas semuanya tanpa ampun. Lihatlah bagaimana sang waktu telah membawa sang Don Juan Raka pada akhirnya benar-benar bertekuk lutut pada seorang Ardelia, sahabat jadi cinta. Dan dirinya yang kini sedang galau tingkat dewa juga memohon untuk waktu berputar lebih cepat, agar ia bisa segera bertemu kembali dengan separuh jiwanya yang kini berada jauh diseberang samudra dan benua itu.
Bagaimana aku akan bernafas dengan tetap mengeja namamu ?
Sepertinya tak perlu kurisaukan lagi
Karena telah kutemukan inti dirimu dalah setiap kepingan darah ku
__ADS_1