PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
In Your Eyes I See The Missing Piece of Peace (2)


__ADS_3

Mungkin Haidar sudah tidak mampu lagi untuk menahan diri, karena lapar ?. Ah tidak, tapi bisa jadi iya .... bagaimana sih ?. Yang jelas, belum ada sepuluh menit kereta itu mulai berjalan melaju membelah pagi yang masih berkabut karena sisa hujan semalam, pria itu langsung membuka kotak manis terbuat dari karton foog grade. Yang langsung menguarkan aroma khas dari bretzel  juga wangi harumnya  garlic berad. Heeem..... nice breakfast bro'.


Gigitan pertama dari roti berwarna kecoklatan itu telah berhasil mempertahankan senyumannya yang sedari dia memasuki gerbong kereta ini telah terkembang.  Bretzel  yang beraroma khas ini terasa sangat pas di lidahnya, belum lagi gralic bread polos tanpa pendamping apapun itu, entah mengapa terasa seperti  hidangan kelas atas dari restoran dengan bintang Michelin.


Pada dasarnya ia adalah si penikmat sejati makanan, tak pernah mengeluhkan apapun hidangan yang tersaji untuknya. ia selalu bisa menikmatinya. Tapi tambahan rasa bahagia di pagi ini, sungguh seperti penyedap dari sorga. Membuatnya menjadi melayang diantara gumpalan tipis awan putih yang mulai meliuk-liukan sinar mentari. Tentu saja dengan kembara angan yang sebenarnya terpusat pada satu nama .... Hanin Hanania, yang telah menghipnotisnya dengan kenikmatan pada indra perasa, dan melambungkan hatinya semakin tinggi. Ah.... pria yang sedang berbunga-bunga.


Ketika tiba-tiba .... 'dreeet'... dreeet'..., telepon selularnya bergetar. Dan menghempaskan sebagian dirinya kembali pada raga yang masih duduk di dalam kereta cepat.


" Assalamu'alaikum bang bro Haid .... sorry ganggu perjalanan mu nih. Ada hal penting yang akan ku sampaikan... berharap kau sudi mendengarnya ". Jelas suara Keanu itu terdengar bersungguh-sungguh, seolah pemuda itu mengetahui jika ia telah sangat menggangu kebahagian Haidar.


" Wa'alaikum salam ... awas kalau itu sesuatu yang tidak penting... awas !!!!!! ".


" Hwiiiiih ..... yang baru galau, kebaca banget sih bro ".


" To the point aja ! ".


" Waaah.... tepat dugaanku nih. 100 % ... ada hati lo' sama si cantik seputih neon itu ". Keanu tertawa di seberang sana, yang tentu saja membuat Haidar semakin kesal dan penasaran.


" Eh bang ' Key ... cepetan, ngomong yang jelas ".


" Okay .... kau lihat yang ku kirim padamu ya. Bahasa Jerman sih ... tapi garis besarnya, seorang kawan menceritakan padaku. Ini ... tentang si neon cantik itu ".


Haidar sesaat termenung, ia mencoba merangkai kepingan puzle informasi tentang Nania-nya.


" Apa maksud kalian ?, mengolok-olok ku ? "


" Tapi dia memang populer sih ... cuma nggak nyangka aja ... ".


" Iya ... kamu yang sabar ya Hanin. Emang Dave' nya aja yang .... ".


"  Aku .... aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dia "


" Dia .... dikhianati oleh kekasihnya ".


" Padahal kabarnya ... Hanin sampai berusaha keras untuk bisa menyusul kekasih itu ".


" Tunggu .... ini si David itu ? dan ... Hanin ditinggalkan karena dia sudah menikah ? ".


"  Iya ... dengan pasangan gay -nya ".


" Apa yang kau tahu Key ? ", akhirnya Haidar bertanya dengan nada sangat serius.


" Gadis itu... dan kekasih, ah' maksudku mantan kekasih yang meninggalkanya karena .... memilih pasangan gay-nya ". Terdengar Keanu sangat berhati-hati saat bertutur. Srolah dia bisa melihat kilatan tajam yang siap menyayat apapun di hadapanya dari sepasang mata Haidar.


" Ya .. aku tahu sedikit ", kata Haidar kemudian.


" Dia ... gadis baik, yang tersakiti. Kau mencintainya ? ".


" Maaf ... kurasa itu bukan urusanmu kawan ", suara Haidar terdengar enggan.


" I know .... tapi, mungkin ... suatu saat kau butuh saranku, aku siap membantumu kawan. Hanin itu... dia sangat baik, dan layak untuk mendapatkan yang sebaik dirimu juga ".


" Key... maaf, aku tidak bermaksud keras padamu. Aku .. aku hanya ....ah... bagaimana kau bisa tahu ? ".


" Apanya ? . Hanin ?... itu sempat menjadi berita besar di kota ini ".

__ADS_1


" Bu-bukan .... maksudku perasaanku pada Nania , Key ", Haidar terlihat gugup, bahkan semburat merah tiba-tiba menguasai wajah tampannya.


" Ha..ha..ha.. apa kau lupa pada seorang pemuda yang ku temui pertamakali di dalam pesawat. Dia bilang sedang mengejar cintanya .... tapi terlambat start, lalu patah hati.... ".


" Ya .. ku akui, betul... dan cukup !!!! tidak usah kau lanjutkan ", Haidar memotong dengan cepat. " Lalu apa  sebenarnya yang kau ingin'kan bang Key ? ". Dan Sepasang alis mata Haidar seolah bertaut, menandai kelebat tatapan yang bagai menyayat.  Seolah membelah isi hati Keanu dengan penuh kecurigaan , seandainya pria itu ada di hadapannya.


" Tidak ada untungnya buatku sih.... sebenarnya ", lalu terdengar suara nafas Keanu yang menjeda tutur katanya.  " Hanya ... agar kau tidak salah langkah saja.... if you are sure will be a remedy for her. Kau harus memahami betapa rumit situasi hatinya saat ini, Haidar ....".


" Ya, aku mendengarkan ", terdengar sedikit dingin.


" Mungkin aku sangat tidak sopan karena sudah terlalu ikut campur. Tapi ... setidaknya, aku memastikan tidak akan  menyesal karena tidak mengatakan hal ini sebelumnya. Jika kau seorang pria modern dengan pikiran seperti kebanyakan anak muda saat ini... may its not a big problem. Tapi aku melihatmu adalah seorang pemuda yang taat... berpegang teguh pada adat istiadat.... jangan sampai kau ... akan mengecewakan ... ah, maksudku... akan ada seorang gadis yang tambah terpuruk karena pada akhirnya kau tinggalkan ".


Setelah penjelasan berbelit dan panjang lebar itu, ternyata Haidar belum bisa menerjemahkannnya secara utuh. Terlihat ia semakin menautkan alisnya.


" What do you mean ? ", tanya Haidar dengan suara berat dan serak yang menggodam jiwa.


" Do you love her so much ? ... with all the consequences ".


" Yes ... I think ". Terdengar mantap, sediktpun tanpa nada keraguan yang menyelip seperti not yang terpeleset dari deret partitur nada sebuah lagu. Begitu sepasang mata yang biasanya begitu hangat dan ramah, kini tiba-tiba saja menjadi sedingin badai salju.


" Termasuk kehadiran seorang anak ? ".


Haidar termangu, terdiam begitu lama. Bahkan hingga Keanu mengucapakan sampai bertemu lagi beberapa saat sebelum mengakhiri panggilan itu. Dia seperti terjatuh dan terperosok dalam lubang hitam yang dalam. Begitu putus asa untuk terus mengapai-gapai, berusaha untuk tetap menjadi pria waras.


" Katakan pada Na'... ibu sudah merestuinya. Pulahnglah, ibu rindu padanya ... ibu tunggu dia dengan cinta ibu yang tak pernah berubah ".


Kalimat penuh kesedihan dengan tatapan cinta tak terhingga dari seorang ibu yang menitipakn harapan besar padanya. Harapan untuk bisa bertemu kembali dengan putri bungsunya. Bagaimana ia dapat melupakan hal itu ?. Jika saat itu ia memilih untuk mundur, demi mendenga bahwa Nania-nya relah memiliki seseoran..... saat ini dia sudah kembali pada tekad awalnya, ya ... membawa pulang hati Nania, tidak hanya untuk ibu gadis itu, tetapi juga untuknya. Tapi tiba-tiba ... ia harus terhempas oleh hantaman kenyataan yang begitu telak bersarang di ulu hatinya. Haidar terpaku lama, menatap kejauhan yang seolah berkejaran menjauhinya dari jendela kereta yang melaju cepat.


Keanu benar-benar hanya mengirimkan kepingan berita dari beberapa media, yang lebih mirip seperti kepinga puzzle. Tapi itu sudah sangat cukup membuat dada Haidar bergemuruh. Mencermati tajuk dengan huruf kapital, foto-foto yang tersamarkan, lalu cuilan informasi yang seperti sebuah tema kisah penuh luka.


Nona HN memilih untuk tidak melanjutkan laporannya pada kantor kepolisian kota Berlin. Dari seorang sumber yang juga adalah teman satu negara Nona HN, ia memilih memaafkan Mr. DPS karena mengingat kebaikan yang sudah diterimanya selama ini.


' Dan lagi, mereka adalah teman satu negara, dan nona HN yakin jika DPS hanya khilaf dibutakan oleh perasaan cintanya saja ', begitu dari sumber yang dimaksud............................


............... Merasa Tidak Adil, beberapa organisasi pemerhati perempuan, mengajukan petisi untuk tetap mempolisikan  pasangan sejenis DPS dan GR, atas usaha penipuan pada nona  HN . ...........................


............... Nona HN ternyata bukan satu-satunya wanita yang juga menjadi korban dari pasangan-pasangan Gay yang menginginkan anak. Satu persatu kasus serupa diangkat ke pengadilan ................


***Apa yang terhadi padamu Nania- ku ?. Bagaimana mereka menyakiti mu ?. Lalu dengan tubuh kecilmu.... bagaimana kau menyembunyikan luka itu ?. Bagaimana engkau melalui hari yang berat itu?. Apa yang bisa ku lakukan untukmu ?. ***


                                                                        .........................................


Ars Internasional Hospital, sebuah bangunan yang megah dengan arsitektur tak lekang waktu, dan gugusan pohon penuduh berjajar rapi dengan manis. Tapi suasana yang indah dan nyaman seperti itu, ternyata tak membuat hari seorang Ardelia merasakan tenang. Walaupun ia melangkah dengan begitu elegan dan gesture tubuh yang tampak sangat meyakinkan jika dia begitu siap. Tapi sebenarnya hati dan jantung nya sekarang berada dalam mode .... perang. Ya.. perang dengan ketakutan, kegelisahan dan berjuta pikiran  buruk yang berdengung-dengung memekakan gendang telinganya sendiri. Apa lagi saat ia mulai menghadap pada meja resepsionis dimana dua orang gadis cantik menyambutnya dengan hangat.


" Selamat siang ibu, ada yang bisa di bantu ? ", sapa salah seorangnya dengan ramah


" Saya ... ada janji dengan ibu dokter Hana ... ", sedikit gugup Ardelia berucap. Lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna silver, memperlihatkannya pada dua orang resepsionis itu.


" Oh baik bu ". Gadis resepsionis itu tersenyum melihat kartu VVIP member. " Sudah buat janji sebelumnya ? ".


" Maaf ... belum. Saya tidak akan berobat atau konsultasi ... tapi, saya... kolega beliau. Ardelia nama saya ".


" Baik bu, silahkan duduk sebentar... saya hubungi asisten ibu Hana terlebih dahulu ".


Ardelia mengangguk setuju, lalu berjalan kearah deretan sofa cantik yang sengaja di siapkan di bagian office room atau memang hanya khusus disediakan untuk para tamu VVIP itu. Ia dengan sedikit canggung duduk, dan mencoba untuk rileks sejenak.

__ADS_1


" Kenapa berubah pikiran ?. Mama tidak keberatan kok kalau hanya harus menundanya seminggu dua minggu ... apalagi... ini moment krusial juga untuk kalian berdua ", tanya Cinta saat ia memutuskan untuk bertemu dengan ibu Hana. Tentu saja untuk mengklarifikasi kehamilan dalam tanda petik, hasil rekaan Raka... argghhh!!!!.


" Nggak tahu ... tiba-tiba saja berubah pikiran saja. Tapi ... kalau aku datang sendirian, ngeganggu nggak ya, kalau mau ketemu di kantor.... di rumah sakit ? ".


"Ish  Ardel nih... ya nggak lah. Oh ya ... bawa ini ya ", dan Cinta punmengeluarkan sebuah  kartu berwarna silver. " Langsung ke kantor mama aja. Masuk dari pintu sebelah barat, jangan lewat pintu masuk biasa untuk berobat. Kalu bingung... tanya saja sekuriti di depan. Oh ya... menjelang jam makan siang saja datangnya ya ".


Akhirnya Ardelia pun benar-benar mengikuti saran dari Cinta. Memilih dua hari setelah kunjungan Cinta dan Namu, dimana diperkirakan pasien bu Hana tidak terlalu banyak. Dan juga berpesan pada Cinta untuk jangan memberitahu rencana kedatangannya dahulu pada sang ibu. Tapi kakak cantik itu sungguh baik hati, jam sembilan pagi tadi dia menelpon dan memastikan bahwa ibunya tidak akan kemana-mana sampai jam dua siang.


" Aman.... kejutan tetap terjaga kerahasiannya kok. Dan Target sudah terkunci sampai jam dua siang ", kata wanita cantik itu dengan sangat ceria.


" Ibu Ardelia ... ibu Ardelia ... ".


" Ah ya ..saya .. ". Ardelia sedikit tersentak, karena  gadis resepsionis  itu kini telah berdiri di dekatnya dengan senyum ramah.


" Asisten bu Hana sedang menuju kemari, ibu diminta menunggu sebentar ".


" Ya mba .. terimakasih, Saya tunggu disini ".


Ardelia kembali menunggu sambil menikmati tik-tok tik-tok detak waktu yang bergaung meresahkan. Ia mencoba untuk berkonsentrasi agar tetap pada moodnya, yang sudah dipersiapakan dari tadi malam. Bersiap menerima bagamanapun reaksi ibu dari Raka. Dengan konsekuensi yang mungkin.... akan membuatnya, terpuruk.


" Mba Ardelia ? " , seorang wanita yang mungkin seumuran dengannya dan berpakaian perawat datang menghampiri dengans senyuman yang sangat ramah.


" Ya ... saya ".


" Selamat datang mba ", wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. " Saya Syifa... mari, sudah di tunggu bu Hana di ruangan beliau ".


Ardelia berdiri menyambut jabat tangan itu, lalu perlahan mengikuti langkah wanita bernama Syifa ini yang berjalan menuju lift.


" Sudah lama menunggunya mba ? ", tanya Syifa ketika keduanya sudah berada di dalam lift.


" Ah tidak, baru saja kok. Saya malah nggak nyangka akan secepat ini .... maaf, pasti mengganggu bu Hana ya ? ".


" Tidak kok mba, bu Hana kebetulan juga sedang tidak banyak pasien yang harus di-visite hari ini ".


" Syukurlah ", Ardelia tersenyum dengan wajah menunjukan sedikit kelegaan.


Akhirnya Ardelia tiba di depan sebuah pintu dimana terpasang sebuah tulisan di depannya terbuat dari batang tembaga, terukir sangat indah  'dr. Hana Humaira Arsenio, Sp.A - DIREKTUR '. Syifa sang asisten mengetuk perlahan sebelum membukakan pintu untuknya.


" Silahkan mba ".


Ardelia merasakan hatinya menciut perlahan, walaupun masih disempatkan untuk melempar senyum pada Syifa. Perlahan ia masuk ke dalam ruangan yang cukup besar itu. Dan sepasang mata kucingnya yang cantik langsung menangkap sosok anggun, tersenyum langsung kepadanya. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada yang palsu, senyuman itu begitu hangat, wajah itupun bersinar bahagia, hingga sepasang mata yang berkaca-kaca itupunlangsung bisa tertangkap oleh pandangannya.


" Assalamu'alaikum.... selamat siang tante Hana ".


" Wa'alaikumsalam sayang ... terimakasih kau sudah mau menemui tante ".


Bukankah pelukan ini sangat hangat ?. Ardelia terpaku dan lidahnya pun menjadi kelu. Saat tante Hana menjauhkannya sedikit demi untuk bisa menatapnya, ia melihat ada setetes haru di mata wanita anggun ini.


" Nak... maafkan Raka ya ... tidak seharusnya kau diperlakukan seperti ini. Maafkan tante juga ya, tidak bisa mendidik Raka dengan baik ".


" Tante ... aku... ", dan Ardelia benar-benar tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


" Ayo duduk dulu sayang  ". Dengan cepat Hana menyusut air matanya, lalu membawa Ardelia duduk berdampingan di sofa. " Dia ... baik-baik saja ?. Apa kalian sudah jadi periksa ? ".


Hanya terdiam dengan perasaan tak menentu. Sepasang tangan itu begitu lembut, meyentuh pundaknya, membelai perutnya. Dan sepasang mata itu berbinar-binar, seolah keberadaan mahluk kecil itu begitu membahagiakannya. Tapi Ardelia merasa sangat .... bersedih... bersalah... dan juga tidak tega.

__ADS_1


' Ya Tuhan  Yang Maha Penyayang....  aku harus bagaimana ? '.


__ADS_2