
Suara panggilan untuk segera menunaikan ibadah shalat Isya mulai terdengar, adzan yang berkumandang hampir bersamaan. Terdengar jelas saat Raka keluar dari pintu pagar rumah Ardelia. Setelah sebelumnya ia berpamitan dan meminta maaf pada Palupi, ibunya Ardelia.
Dengan rasa kecewanya dan juga rasa bersalah, tentu saja karena sikap Ardelia, namun Raka hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembusnya berharap beban yang menghimpit jiwa ikut serta terbuang. Sementara gadis itu berjalan dengan tenang di depannya. Tidak memperdulikan sisa gerimis yang masih merintik kecil.
" Kita tunggu sebentar, Taxi online mu sedang menuju kemari .....atau kau ingin ku temani sedikit berjalan hingga gerbang kompleks ? ".
Raka mengernyitkan keningnya menanggapi pertanyaan Ardilla. Sejurus kemudian ia tersenyum sambil tetap berjalan, hingga akhirnya ia sudah mendahului Ardelia. Mencoba mengabaikan keberadaan gadis itu, dan gestur yang dibuatnya begitu kentara.
" Hei... baiklah .... ", akhirnya Ardelia menyerah. " Beri aku waktu .... ".
" Kita sedang berpacu dengan waktu ". Akhirnya Raka menoleh kebelakang. "Tapi tak mengapa.... aku akan selalu memberikan apa yang kau butuhkan ".
" Terimakasih ".
" Hanya itu ? ", Raka mengucapkannya, terdengar sedikit sumbang dengan nada kecewa.
" Kau ingin apa ? ", tanya Ardelia lagi.
" Bukankah kita sudah resmi sekarang ?. Pasangan kekasih ? ".
Ardelia menatap Raka yang kini tidak lagi memasang ekspresi kerasnya seperti sesaat tadi. Kemudian terlihat gadis itu mencoba membalas tanya itu dengan senyuman, yang terasa hanya sebagai pengalih perhatian.
" Aku juga tidak tahu kapan rasa itu mulai menguasai ku. Yang jelas, aku tak pernah ragu dengan perasaan ku sendiri padamu .... terutama saat sekarang ini. Aku sangat yakin, ini cinta Delia. Bukan rasa bertanggungjawab .... atau beban dari keterikatan masa lalu kita. Aku yakin ... sangat yakin ".
Dan Raka pun menatap Ardelia, keduanya kini terhenti dalam langkah dengan diam sesaat. Hingga kemudian sorot mata itu mulai meredup, Raka terlihat terselimuti oleh sedih.
" Tapi aku memang seorang yang brengsek dengan begitu banyak wanita yang berseliweran seperti ngengat terpikat cahaya .... tapi kau tahu pasti bukan apa sebabnya.... walaupun hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran ".
Ardelia tetap mengatupkan bibirnya, memenjarakan lidahnya. Gadis itu terdiam dengan gemuruh perasaan yang dari membuih perlahan membuncah. Ia hanya terus tetap bernafas dengan berhati-hati. Karena di titik seperti inilah, ia menjadi begitu lemah.
" Hanya Tuhan yang tahu Delia... aku tidak pernah memaksamu untuk percaya. Kau sangat mengerti bukan, jika tidak ada wanita yang mampu dua kali menginap bersama ku. Bukan karena aku yang sangat brengsek dan sangat bejat ..... hingga tidak mau lagi bercinta dengan orang yang sama. Tapi ...... mereka yang tidak mau lagi bercinta dengan orang yang payah seperti ku. Orang yang tidak .....pria... yang ... ".
" Raka .... pulanglah .... aku percaya pada mu ". Dan Ardelia dengan kelembutannya itu, kembali menjadi penyelamat seorang Raka. Setidaknya menyelamatkan pria itu dari ketakutan, rasa muak dan juga rasa jijik yang menyelimuti dirinya sendiri.
" Aku tidak pernah bisa .... bercinta dengan mereka ... ". Ujar Raka kemudian, terjeda cukup panjang dengan raut wajah pias yang kentara.
" Tapi dengan mu .... bahkan aku nyaris merusak mu.... maafkan aku Delia. Maafkan aku .... ". Pria itu berucap setengah berbisik.
" Pulanglah Raka .... sungguh, aku malu ... sangat malu mengingat semua itu ". Ardelia menundukkan wajahnya yang mulai merona dan terasa panas.
" I Love You ..... so much ".
Mungkin karena ia menunduk, atau mungkin karena ia terlalu sibuk berkonsentrasi mengatasi rasa malunya. Ardelia tak menyadari jika Raka sudah bergerak cepat namun lembut, mendekat dan kemudian merengkuhnya erat.
" I Love you.... walaupun aku tidak mengerti bagaimana caranya mengungkapkan itu padamu. Tapi aku tahu, pasti .... aku membutuhkan mu .... Ardelia ku ".
Hingga tubuh Ardelia itu tenggelam dalam rengkuhan yang hangat, dan gadis itupun sama sekali tidak menolak. Terlebih dada bidang yang keras namun terasa nyaman milik Raka, kini bisa menjadi tempat sempurna untuk wajahnya yang merona karena sangat malu.
" Aku pulang dulu.... ya ", Raka berbisik tepat dengan datangnya sebuah mobil menghampiri mereka.
Lampu depan kendaraan yang menyoroti tubuh keduanya, membuat Ardelia tersadar dan buru-buru melepaskan diri dari kenyamanan itu. Handphonenya bergetar dengan suara gemerincing sesaat sebagai tanda dari masuknya sebuah pesan. Ia pun buru-buru membalas pesan itu dengan langsung menelpon si pengirim.
" Mba Ardelia ya ?". Kaca depan mobil itu turun perlahan dan menyembulkan seraut wajah pria empat puluhan yang tersenyum ramah.
" Iya pak ... ".
" Mari silahkan .. ", pria itu mempersilahkan dengan ramah.
" Bukan saya pak. Tapi teman saya ini ... ".
" Pacar... calon suami !", Raka meralat dengan cepat.
" Ya.. ya.. ya.. mari mas silahkan ". Kali ini pria pengemudi itu tersenyum simpul.
" Sampai ketemu besok ". Dengan cepat Raka menyambar ujung kepala Ardelia dengan sebuah kecupan lembut yang membuat gadis itu kembali membeku karena malu.
" Love you ... trust me ". Dan Raka pun masih sempat melambai dengan tutur kata semanis madu yang melenakan.
Ardelia tersipu dan resah menerima semua kemesraan itu. Ia tidak sempat membalas lambaian tangan Raka, bahkan hingga pemuda itu menghilang terbawa lari oleh laju kendaraan. Ardelia terpaku, membisu dan tenggelam oleh debur-debur perasaan yang bergolak di samudera jiwanya.
Hingga kemudian gerimis yang membesar dengan jatuhan rinai air menjadi hujan, menyadarkannya dengan dingin. Ardelia pun kemudian tergesa melangkah kembali ke rumahnya. Tapi ada sesudut perih yang mencengkeram, yang bahkan gerimis dan hujan pun seolah tak bisa menghapusnya.
Berlari, seolah mencoba mengingkari grafitasi
Berdiri, angkuh tak perduli dengan bayu yang merengkuh
__ADS_1
Terdiam, tak perduli cerita hati yangj terbungkam
Berbisik, pada rasa sakit yang kian mengusik
Benci, pada cinta ku sendiri .......
Sepatah hati yang masih bernyawa
Senafas harapan yang tak mengerti kenapa
Seandainya bisa mengulang masa
Aku hanya ingin bertanya .... mengapa ?
Tak pernah kupinta, gerimis ini menemani tangis
.......................
Dua pria saling bersitatap dalam diam yang membekukan syaraf. Membuat tak mampu lagi berfikir jernih, atau mungkin karena sudah terlalu keras untuk berfikir. Yang jelas, semua rentetan peristiwa itu bagai hantaman sebuah merteor yang membara karena efek gesekannya dengan atmosfer. Sungguh menyesakkan.
" Yang seharusnya tahu .... mama dan papa dulu, itu menurut ku kak ". Suara Haidar yang berat dan dalam memecah sunyi.
" Awalnya... kupikir Om Juna dulu yang akan kuajak bicara dari hati ke hati. Tapi ...... ", Namu mendesah risau sambil sesekali menggelengkan kepalanya dengan frustasi. " Raka telah terlebih dahulu datang .... ".
" Dengan segala kekacauan ini ? ", Haidar cepat menimpali. " Aku .... ah' mungkin perasaan ku saja. Tapi sepertinya ada yang sangat aneh. Sebulan yang lalu .... dia meminta kita untuk menyelidiki keluarga Arya Sanjaya, untuk Ardelia. Lalu .... sekarang gadis itu sudah dihamilinya. Menurut mu .... sebegitu putus asa 'kah dia ? ".
" Entahlah .... otakku sudah beku ".
" Maaf .. ", sesal Haidar sambil menepuk pundak kakaknya. " Di saat seperti ini, aku justru sudah harus segera berangkat ke Jerman.
" Benar kata orang-orang, bahwa semua masalah itu akan datang beruntun... terkadang juga bersamaan, seperti ombak yang bergulung-gulung.... lalu menghempas tanpa ampun ".
" Apakah kau takut kak ? ".
" Ini .... ", Namu terhenti sesaat, wajahnya tersaput mendung. " ... yang kedua ... aku merasa sangat takut, cemas dan .... bodoh ".
Haidar tak bergerak dari samping Namu, keduanya masih tetap menatap ke kejauhan dari atas balkon kamar. Tempat favorit Haidar saat datang ke kamar Namu untuk membicarakan masalah yang pelik. Di tempat ini, sepertinya ia hampir selalu menemukan solusi untuk setiap masalah yang membelit hatinya. Tapi kini, sang problem solver lah yang sedang terbelit masalah, dan ia sungguh menyesal karena tidak bisa berganti memberikan bantuan. Setidaknya ada di sisi sang kakak mendampinginya, walaupun hanya bisa sedikit menguatkan.
" Saat tahu aku bukan anak kandung keluarga Mandala... aku juga takut seperti ini. Kau tahu ?... langit seperti runtuh menimpa ku ".
" Aku diam terpaku tak percaya ... tapi mama kemudian memelukku dengan sangat erat. Lalu papa juga melakukan hal yang sama. Kau tahu apa yang mereka katakan padaku ? ".
Haidar menggeleng perlahan, memberikan jawaban pada kakaknya yang masih menerawang menatap malam dan kejauhan.
" Mereka membuat ku merasa sangat dibutuhkan. Kata mama, aku adalah obat penyembuh untuk rasa sakit mereka. Kata papa... aku adalah penjaga keluarga ini. Itu membuat seorang anak kecil merasa menjadi pahlawan..... ".
" Kak.... ", suara Haidar terdengar penuh lonjakan semangat, memotong kalimat kakaknya yang sendu. " Mama... kita harus bicara dengan mama... ".
" A-apa.... tapi... aku ... ".
" Lupakan rencana awal kalian. Kita harus bicara dengan mama.... sekarang !. Aku bantu ".
Tubuh Haidar memang duplikasi sempurna dari ayahnya, yang tinggi dan besar. Walaupun hanya beberapa sentimeter saja selisihnya dari tinggi Namu, tapi jelas kekuatan Haidar lebih unggul. Terlebih saat ini Namu dalam keadaan sangat tidak stabil, sehingga ia tidak bisa melawan saat sang adik setengah menyeretnya.
" Dar... bagaimana aku harus mengatakannya ? ", masih terdengar cemas.
" Itu urusan ku.... ".
" Tapi kalau mama... terus papa..... ".
" Alaaaaah.... belum dicoba ini. You know mom so well, trust me ".
" Baiklah .... ", akhirnya Namu pasrah.
Wanita itu masih sangat cantik diusianya yang sudah sangat matang. Tubuh mungilnya semakin membantunya terlihat awet muda. Orlin baru saja selesai menseting waktu dari alat masak otomatis khusus untuk membuat roti, ketika kedua orang anak laki-lakinya datang menghampiri.
" Hei... belum tidur rupanya, lapar ? ", sapa Orlin lembut yang dijawab dengan gelengan kepala dua pria muda itu.
" Ma... bisa kita bicara sebentar, bertiga saja ".
" Ada apa ? ". Orlin menatap Haidar yang kini mengambil tempat duduk di seberang meja. Namu pun terlihat mengikuti adiknya. Ada yang penting dan cukup rumit, begitu batin Orlin. Ia pun mengikuti kedua putranya duduk berhadapan. " Ada masalah apa ? katakanlah ".
" Ma .... maaf sebelumnya. Ini tentang kakak ". Haidar sedikit menyikut Namu yang rapat mengatupkan bibirnya. Lebih tepatnya belum mampu membuka mulut.
" Namu ?!... kenapa ? ". Orlin menatap lembut pada pria muda berparas menawan dengan kulit secerah pualam, yang kini nampak begitu gelisah.
__ADS_1
" Ma... syarat untuk menjadi menantu keluarga Mandala Arsenio .... ? ", tanya Namu sedikit lirih.
Orlin terdiam sesaat, sejurus kemudian ia tersenyum sambil menatap lembut pada kedua putranya.
" Seorang wanita .... berakhlak mulia yang shalehah, bebas tidak terikat suatu hubungan dan mencintai dengan tulus. Kau sudah menemukannya Namu ? ".
Namu mengangguk perlahan. Orlin tersenyum lembut melihatnya.
" Lalu.... ada masalah apalagi ?. Segera perkenalkan pada kami ".
" Keluarga wanita ini 'Ma ?. Bukan keluarga baik-baik?, atau..... keluarga yang memusuhi keluarga kita ? ". Orlin berusaha menebak.
" Bu-bukan begitu .... hanya saja... ", Namu terlihat semakin gugup.
" Keluarga yang sudah sangat mama kenal ", Haidar yang merasa gemas menyerobot cepat. " Dan pasti tidak pernah terpikirkan oleh mama ".
Orlin mengernyitkan keningnya dan semakin intens menatap kedua putranya bergantian. Sementara itu Haidar terlihat kembali memberikan isyarat dengan menyikut kakaknya. Meminta Namu untuk segera melanjutkan kalimatnya.
" Kalau kelamaan..... aku yang bilang loh ", ancamnya.
" Iya ... sebentar, sabar !!! ".
" Namu .... Haidar... mama menunggu dengan sabar, katakanlah ", Orlin melerai dua pemuda dihadapannya.
" Iya Ma ... maaf ", ucap Haidar.
Namu terlihat menarik nafas panjang, lalu menoleh kesamping menatap adiknya sesaat. Setelah mendapatkan anggukan, ia pun kembali menatap sang mama yang masih menunggunya, dan tetap dengan sorot mata teduh menenangkan.
" Aku .... jatuh cinta .... pada Cinta ".
Kalimat itu terdengar indah dan penuh makna, jatuh cinta pada Cinta. Membuat Orlin terdiam dan menegaskan pada dirinya sendiri atas apa yang baru saja didengarnya. Tapi sinar mata pria muda dihadapannya ini, serupa dengan sinar mata suaminya hampir tiga dasawarsa yang lalu. Seperti lautan bintang di kolam galaksi, bening berkilau, indah memukau dan terasa hangat penuh hasrat. Itu artinya, Indra dengarnya tidak salah.
" Pada Cinta ? ", tegasnya kemudian.
" Iya mah... jadi giniloh... sebenarnya sudah sejak lama kak Namu dan mba Cinta itu saling jatuh cinta. Tapi deklarasinya baru pas di Korea kemarin ".
Dan dialah Haidar yang bertindak sebagai sang jembatan makna. Mempertegas arti dari menyampaikannya dengan lugas.
" Maafkan aku Ma' .... belasan tahun aku menyembunyikannya dan selalu mencari cara mematikannya. Tapi tidak pernah bisa.... dan ternyata Cinta.... juga seperti itu ".
" Namu..... tidak ada yang salah. Kenapa baru sekarang kau katakan ? ".
Namu tidak menjawab, ia menunduk dalam. Saat itulah Orlin berdiri dan kemudian berjalan menghampiri putranya. Lalu membelai lembut rambut lebat milik Namu, kemudian mengecupnya perlahan.
" Mama selalu berharap jadi orang pertama yang tahu perasaan cinta kalian .... tapi rupanya terlalu berat ya untuk mu bisa menceritakan dengan mama ".
" Ya iyalah Ma.... yang dicintai ini seorang kakak sepupu gitu loooh. Yaaa... walaupun sebenarnya tidak ada hubungan darah, tapi kakak ganteng ku ini 'kan .... sangat memikirkan bagaimana opini publik, jangan sampai menjadi buah bibir .... apalagi jika ini adalah masalah keluarga. Dia selalu membuktikan jiwa seseorang pelindungnya ... tak terbantahkan ".
Orlin tersenyum mendengar selorohan panjang Haidar. Ia pun lalu melakukan hal yang sama pada anak keduanya itu seperti pada Namu tadi.
" Berarti besok .... mama jadi yang pertama tahu kisah cinta mu loh ya ".
" Pasti Ma... eh' kembali ke masalah kak Namu. Menurut mama ? ".
" Ehmmm.... Namu harus bilang sendiri pada papa. Ya... walaupun nanti mama sudah bantu ngasih 'clue dulu ke papa. Kau tahu bagaimana papamu bukan ? .... apalagi ini masalah yang berkaitan dengan performa pria sejati ... ehm! ... gitu katanya. Mama mau bicara empat mata dengan Tante Hana. Pasti saat ini Cinta juga sangat pusing ya ... ".
Namu tersenyum getir sambil menyandarkan kepalanya pada bahu sang mama, begitu juga dengan Haidar. Orlin tersenyum penuh kebahagiaan.
Ini adalah dua bocah yang dulu selalu berlari menyongsongnya. Yang tak ragu bercerita sambil menangis, yang tak segan memberikan kecupan sayang bertubi-tubi padanya. Kini keduanya sudah sangat dewasa, sungguh tak terasa masa-masa seperti itu telah jauh terlampaui. Meskipun sebenarnya Orlin serasa masih bisa mencium harum minyak telon dan bedak bayi yang menyenangkan itu.
" Semoga Cinta bisa sabar ya Ma... dan tidak berselisih dengan Tante Hana ".
" Besok pagi kita selesaikan semuanya ". Orlin kembali menenangkan dengan bahasa cinta terlembutnya.
Bagaimanapun..........
Anak tetaplah seorang anak
Dan aku bahagia mempunyai anak-anak seperti kalian
Saat kalian menemukan cinta pada wanita
Tahukah kalian betapa bahagianya aku, walaupun kini ada wanita lain di hati kalian
Inilah cinta seorang ibu pada anak lelakinya
__ADS_1