PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Bagaimana Dengan Cemburu (5)


__ADS_3

Ia menatap melalui kaca jendela, memperhatikan sosok yang masih terbaring dia atas ranjang dengan segala atribut penopang hidupnya. Kemudian ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu melihat dengan jijik ke dalam dirinya. Manusia kotor yang tak mengerti cara bersyukur, manusia lemah yang begitu mudah untuk disesatkan. Tapi lebih dari itu, ia adalah manusia kejam yang pernah ada.


" Beberapa hari yang lalu sensor menangkap ada gerak motorik dari nyonya Sellma, akhir-akhir ini semakin sering malah ".


" Oh ya ... apakah itu kabar yang bagus ? ", tanya David pada perawat jaga yang melaporkan saat di depan tadi.


" Tentu saja. Tadinya kami berfikir itu hanya refleks saja, tapi dokter mengatakan itu adalah sebuah perkembangan bagus. Oh ya ... apakah anda suaminya ?. Maaf ... saya baru satu minggu bertugas disini ".


" Bukan ... saya hanya ... seorang temannya ".


" Oh ... maaf ".


Ada harapan yang mulai membumbung di angannya, perlahan David mulai melantunkan doa, Hal yang sudah terlalu lama tidak dia lakukan. Ya ... berdoa, memohon pada Yang Maha Kuasa. Dan doa ini untuk sosok lemah yang masih terbaring, serta untuk sosok cantik yang kini kerap menari-nari di angannya, Hanin.


" Apa ... yang kau lakukan di sini ? ". Sapa itu terdengar seperti sebuah hantaman keras yang membuatnya kembali terlempar pada kenyataan. Dan ia menatap tak percaya ada seseorang dengan mata bulatnya yang menatap dengan sinar mata menusuk, tapi entah mengapa seperti sinar mentari yang mampu memekarkan kuntum-kuntum bunga di hatinya.


" Ha-hai.... aku... aku ... hanya ingin menjenguk Sellma dan meminta maaf .. ". David terlihat gugup namun tak dapat menutupi senyum bahagianya. " Tidak bermaksud .... dengan sengaja menemui mu. Tapi Tuhan sepertinya sangat baik padaku ". David tersenyum terlihat sangat senang, tapi tidak sedikitpun dengan gadis cantik dengan kulitnya yang ptih nyaris kepucatan ini.


Hanin yang hari itu dengan sengaja menyempatakan diri untuk berkunjung ke rumah sakit. Sekaligus untuk mengkalrifikasi tentang notifikasi pembayaran. Hanya saja saat dia menemui bagian administrasi, seorang perawat yang sudah sangat hfal dengannya, memberikan informai yang mengejutkan.


" Dilakukan oleh Santoso, David Bharata.... sudah di deposit untuk tiga bulan ke depan. Apakah dia suami nona Sellma ? ".


Hanin saat itu masih ternganga tak percaya, dan Edith namap perawat itu mentapnya dengan kebingungan. " Tadi .. ada seorang pria Asia yang juga berkunjung. Mungkin masih di sana ".


Informasi itu membuat Hanin melesat cepat menuju ruang perawatan Sellma. Dengan berjuta perasaan yang membunca, bercampu aduk, saling memilin dan membuatnya tersengal-sengal. Hingga kemudian ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam, mempersiapakan dirinya sendiri,


Saat ia sudah merasa siap, ia pun menyeret langkahnya sendiri dengan sedikit bersusah payah. Menemukan sosok yang sangat dihafanya tengah berdiri mentap dari luar jendela. Ia sungguh benci, tapi ia harus menyapanya. Yang benar mungkin menanyakan maksud kedatangan pria ini.


" Jadi ini maksud dari surat mu ?. Mengambil tanggung jawab atas Sellma. Apakah ini permintaan suami mu ? ". Tapi suara Hanin tak terdengar sedikit bergetar, tak setegar yang diharapkannya.


" Tidak ... ".


" Kalau begitu, kau tidak harus melakukannya .. bukan tanggung jawabmu ".


" Hanin... kalau ini bukan tanggungjawabku.... berarti juga bukan tanggung jawabmu ".


" Apakah kau merasa bersalah ? ".


David menatap Hanin, membuat gadis itu mencelos dengan wajah yang kaku.


" Ya... walaupun ini semua tidak berguna sekarang ", suara David terdengar tanpa keraguan sedikitpun.


" Terimakasih atas kepedulian mu... tapi itu tidak perlu. Aku akan mengembalikannya padamu ...segera ".


" Hanin ... ". Tapi gadis itu mundur dengan cepat saat David merangsek mendekat. " ma-maf ... kau tidak perlu mengembalikannya. Ku mohon... beri ruang untukku .... untuk ... meringankan ... sedikit meringankan ... dosa-dosa ku ".


" Lalu bagaimana dengan suami mu ? ..... apakah dia juga punya sedikit rasa seperti mu?. Harusnya dia ... yang lebih merasa bersalah ".


Tapi Hanin tidak mendapatkan sebuah sangkalan atau pembelaan yang mungkin akan didapatakan sebagaim sebuah jawaban dari mulut David. Pria itu berdiri membatu dengan tangan yang terlingat mengepal erat.


" Seharusnya .... dia yang menanggung semua beban ini. Tapi .... oh ya, untuk saat ini ... kurasa Sellma dan kakak-nenek Leil pun pasti tidak menginginkannya. Ah sudahlah ..... terimaksih atas kepedulian dan kebaikanmu. Kau bisa pergi sekarang ".


" Hanin.... ", David hanya bisa mengeja nama itu. Ia mengerti tenantang luka dan sakit hati, dan apa yang telah diperbuatnya pada gadis ini adalah sesuatu hal yang lebih dari sekedar membuat sebuah luka. Wajar jika ia sekarang menerima semua kebencian itu.


" Hanin.... rasa bersalah rasa tanggung jawab ... itu mungkin tidak bisa dipaksakan pada seseorang. Dan juga tidak bisa ditolak. Aku pergi dulu Hanin.... semoga kau bahagia ".


Hanin tak bergeming, ia menatap pria itu sesaat lalu membuang muka dan mengalihkan pandangannya pada sosok Sellma yang masih terbaring. Tapi ia tahu dengan pasti, pria inbi berjalan mendekat kerahnya. Melewatinya dengan perlahan, hingga ia bisa mencium aroma wangi segar citrus dengan aneka kayu-kayuan. Dan tiba-tiba ia merasa hatinya teriris perih oleh wangi yang dulu sangat disukainya ini.


" Oh ya.... siapa dia ?. Terlihat sangat tampan dan baik padamu .... sampai bertemu lagi Hanin ".


 


............................................................


 


Haidar sejak awal sudah membeli tiket pulang-pergi dan memilih menggunakan jadwal siang hari, tidak di minggu pagi seperti sebelumnya. Tentu karena ia berharap untuk bisa bertemu kembali denganan Nania-nya. Tapi kedatangan si cecunguk heboh pagi ini ternyata cukup merasahkan. Tentu saja karena bayangan hanya menikmati saat berdua dengan si canti itu menjadi terganggu.

__ADS_1


" Sebegitu kangennya kau dengan ku ? ". Haidar terlihat enggan saat harus menemui Keanu yang penuh percaya diri langsung merebahkan diri di sampingnya.


" Cariin pacar dong ... biar waktu santai mu nggak ke ganggu ", rengek Keanu.


" Bukannya udah mider lo' tiap malam minggu. Masak iya belum dapat target  sasaran  ".


" Yang bening dong kayak neon .... kayak si mba itu. Gile' bener ... dia cantik banget ternyata ya. Eh ... gimana rasanya dipeluk sambil boncengan ? ".


" Heh !!!!! ". Haidar yang tadinya bergelung nikmat kini beranjak duduk. " Alih profesi lo' ... spy sekaraang ? ".


" Nggak usah sekaget itu laaah .... 'kan tau agenda cowok kesepian kalau pas malam minggu ".


" Koq nggak nyapa kita ?. Di El Reda kan' lo kemarin ? ".


" Lah ... gimana mau nyapa ... elo cabut terlalu cepat ".


" He...he...he... untung saja ", Haidar terkekeh dengan lega. " Jangan samapi kau menganggu ke mesraan kami yang baru terjalin ".


" Udah jadian ' lo ? ".


" Belum ".


Dan ... bug!!!, timpukan dengan bantal telak menghantam Haidar. Membuat pria itu tergelak-gelak, dan menyisakan Keanu dengan wajah konyol tak terperi.


" Hei .... gwa masih inget solidaritas sama elo' lagi .... untuk sementara biar ada temennya, jomblo ". Haidar masih tertawa-tawa. " Kamis besok aku balik Indo, mau nitip apa ? ".


" Nggak ! ".


" Nggak kangen lo' sama orang-orang tanah air ... sama keluarga ? ".


" Keluarga yang tak pernah menganggap elo ada ..... bagian mana yang akan dikangenin ". Tapi sesaat kemudian Keanu seperti tersadar akan sesuatu, ia menatap Haidar sekilas untuk kemudian membuang muka seperti berusaha menutupi persaaannya sendiri.


Haidar jelas melihat sebuah kilatan serupa petir di  awan mendung saat Keanu mengucapkan kalimatnya. Walaupun ia tak tak sepenuhnya mengerti, tapi ia dapat sedikit meraba rasa sedih dan juga amarah dari pria ini. Lalu ia pun memberikan sebuah tepukan persahabatan di punggung Keanu.


" Mau pergi jalan-jalan dengan ku pagi ini ? '. Berusaha mengalihkan rasa sedih Keanu.


" Cari kado buat kakak dan kakak sepupu yang mau nikah ".


" Nggak ngajak Hanin ? ", balas keanu dengan tanya.


" Dia kerja siang ini, nanti kita mampir sekalianke cafe nya, trus berangkat ... gimana ? ".


" Kau tidak mengajakku sarapan dulu ? ".


" Lah .... laper lo' ... hua.. ha..ha... ha... ayo..ayo.. aku mandi dulu kalo' gitu ". Haidar tertawa dan segera beranjak ke kamar mandi,


" Hwiidiiih,,,, mau junub lo' .. katanya belum jadian. Ngempet semalam lolos di subuh ya .... ha..ha..ha.. ". Keanu jelas tertawa dengan sangat lepas, merasa sukses menggoda Haidar.


" Junub ?!!... sialan lo' ", dan Haidar pun mendelik kesal pada Keanu yang sedang tertawa-tawa diatas pembaringannya.


" Bau feromon-nya dahsyat abang ... hua..ha..ha..ha... ".


Brugh !!!!! dan sebuah kaos melayang tepat ke muka Keanu. Haidar melemparnya dengan sangat akurat.


" Adaw !!!... ampuuuun ... abang... ha.. ha..ha.. ". Keanu tergelak ketika kaos abu-abu itu menutup mukanya secara mendadak dan sangat tidak sopan. " Lah... kalau nggak habis mimpi basah, ngapain harus mandi pagi-pagi. Ini Jerman bro' ... negeri empat musim ".


" Dasar jorok ... pantes nggak laku-laku ". Lalu pintu kamar mandi tertutup dengan sedikit keras dan tetap masih diiringi tawa Keanu yang mengantarkan Haidar membersihkan dirinya, mandi di pagi hari awal musim gugur yang cukup dingin.


" Key ... Haidar mana ?, mandi ? ". Tiba-tiba seraut wajah lembut menyembul dari ambang pintu yang terbuka sedikit. Sabrina nampak menilisik isi kamar Haidar.


" Iya bu, baru mandi dia ", jawab Keanu cepat.


" Ayo sarapan dulu, biar babang Haid nyusul nanti. Sudah ditunggu mas Arya dan anak-anak dibawah. yuk ".


" Ah ibu, bikin saya tambah bahagia aja .... jadi malu juga nih, mari bu ". Keanu tentu saja dengan senyum bulusnya segera bergegas mengikuti langkah Sabrina


" Om Keay... ada sambal nih ". Seruan Rama menyambut Keanu yang baru saja tiba di ruang makan. Remaja itu nampak tertawa lebar sambil mencomot satu paha ayam yang nampak lezat menggiurkan. " Buruan, sebelum ada om Haidar .... bisa nggak kebagian kita ".

__ADS_1


Tentu saja selorohan itu berbalas tawa renyah dari Keanu. Ia pun duduk menyebelahi remaja tampan itu. Lalu mengangguk hormat pada pak duta besar yang terlihat sangat menikmati sayap ayam goreng. Arya mendesis kepedasan, tapi tidak terlihat jika ia akan segera mengalihkan diri dari menu sambal terasi di pagi itu.


" Kami titip Rama dan Celia ya, kunjungi mereka atau kau menginap di sini saja. Hanin juga kuminta menginap disini ". Kata Sabrina.


" Oh .. lah.... kalau saya nginep disini ... bakal ada yang nggak tenang pulang ke Indonesia dong bu ".


" Loh? bagaimana bisa ?. Oh .... maksudmu Haidar ? ".


" Apa lo' ... nggak usah usaha buat nikung ya ". Tiba-tiba saja Haidar sudah masuk ke ruangan itu dengan wajah segar dan rambut yang terlihat sedikit basah.


" Bener 'kan ... ", Keanu meringis sambil menyendok sambal terasi.


" Biarin lah ... kalau jodoh nggak akan kemana Haid ", seloroh Sabrina.


" Pasang detektor aja om ... kalau Om Keay mendekat ke kak Hanin ... jarak kurang dari dua meter... langsung 'ctarrr!!!.... kena setrum ". Si kembar Celia menimpali. " Atau kalau nggak infra red yang nembak langsung ... keren pasti ", kali ini ditambahi oleh Celine.


Dan suasana pagi itu menjadi semakin hangat dengan tawa yang berderai-derai dari semua yang ada di ruang makan.  Haidar dan Keanu terlihat saling sindir dan melemparkan joke' tak jelas, tapi sukses menghangatkan pagi yang mulai ditingkahi angin dingin awal musim gugur itu.


" Kau langsung berangkat ? ", tanya Sabrina saat melihat Haidar yang juga mengemas tas punggungnya.


" Iya mb, kereta jam tiga sore... biar tidak tergesa-gesa. Nanti mau mampir ke cafe-nya Hanin dulu, Sekalian makan siang di sana. Mumpung ada sopir ganteng ini .... ". Haidar mnerling, mengedipkan mata pada Keanu.


" Kau harus menjadikanku Groomsmen mu' nanti .... si saksi perjalanan cinta kalian. Dan bayaranku cukup mahal loh, kau persiapan dari sekarang ". Keanu tersenyum-senyum licik, sementara Haidar hanya berdecih membalasnya.


" Sudah sejauh apa hubungan kalian? ", Sabrina menatap Haidar penasaran, " Ingat... jangan permainkan dia ya ".


" Masih jauh .... cukup jauh ". Haidar terlihat sedikit menerawang. " Oh ya ... bisa kasih saran, kado untuk kak Namu dan mba Cinta ? ", terdengar seperti sebuah pengalihan topik pembicaraan


Sabrina tersenyum kecil, sesaat ia saling berpandangan dengan Keanu yang juga bertingkah  gokil seperti sebelumnya.


" Memang masih butuh barang apa lagi mereka ? ", Sabrina beranjak berdiri. " Kau kasih trip bulan madu saja ... Heidelbergh ... kota yang romantis ".


" Waah.... jauh dari jangkauan ku itu mba, ku beliin bantal sama kasur aja deh. He..he..he.. " . Haidar terkekeh.


" Kalo' gitu ... kenapa harus minta saran Nartoooo... ". Sabrina mendelik, dan Haidar semakin terkekeh.


" Berangkat dulu mba ... aku nyusul hari kamis ya. Yok Key .. ". Keanu pun segera mengikuti langkah Haidar setelah berpamitan dengan mengangguk hormat pada Sabrina.


...........................................


Salah besar jika mempercayai apa yang dilihatnya, keliru besar jika yakin bahwa ia telah benar-benar meninggalkannya. Hanin terpaku dan menatap dengan sengit, Dave ternyata masih berdiri menunggu di luar pintu masuk. Walaupun pria itu tidak tersenyum seperti yang dulu selalu dilakukan saat menunggunya, tapi keberadaanya cukup membuat kecamuk perasaan Hanin.


" Aku tidak meminta belas kasihanmu ... tapi aku memohon padamu. Biarkan aku mengantarmu untuk yang terakhir kalinya ".


" Jika masih ada yang kau ingin bicarakan, katakanlah sekarang ". Terdengar kaku, tapi memang begitu adanya yang dirasakan Hanin.


" Hanin... apakah pantas jika kita membicarakannya di tempat terbuka seperti ini ? ". Sepasang mata yang dulu sempat menghiasi mimpi indahnya tentang sebuah rencana masa depan itu, kini menatap penuh pengharapan. " Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya ... bisakah kita menepi sesaat ke sana .. ", David menunjuk sebuah restorant yang baru saja buka sepertinya.


" Masih adakah hal yang perlu kita bicarakan ? ".


" Untukmu ... sepertinya tidak. Tapi ini untukku Hanin... beri kesempatan, kumohon... kali ini saja ". Dave mendekat perlahan, tapi saat Hanin mundur beberpa langkah, ia pun segera berhenti.


" Ku mohon ... ". Brugh ... dan David pun bersimpuh, sambil menatap dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


" Apa-apaan kau ini ?..... bangun !!! ", Hanin menyalak dengan keras.


" Ku mohon Hanin .... ", tapi David bertahan.


" Kau membuatku .... ah ... kau  !!! bangun .. ", Hanin menggertak dan menggeretakan giginya menahan rasa marah dan juga rasa malu.


Sementara sikap David yang seperti itu mulai menuai perhatian dari orang-orang yang lalu lalang. Bahkan mulai ada yang dengan terang-terangan merekam kejadian itu. Hanin bergerak gelisah, dan ia berfikir cepat.


" Bangun !!!.... kita pergi dari sini, sekarang !! ".


" Benarkah Hanin... ", David terdengar riang.


" Cepat !!... sebelum aku berubah pikiran ".

__ADS_1


__ADS_2