
Dua pasang mata menatap tanpa berkedip, dengan mulut ternganga mengekspresikan rasa percaya menyaksikan apa yang terhampar dihadapan. Mereka adalah Tria dan Rian, sepasang kekasih yang kini terbungkam oleh pemandangan penuh kemesraan dari sepasang insan yang salah satunya adalah kawan mereka, Kirana.
Bagaimana bisa ?, gadis yang tadi terlihat sangat ogah-ogahan saat diajak untuk berenang. Pada akhirnya harus berangkat karena ia sudah terikat oleh sebuah janji. Dan tentu saja karena usaha keras dari Tria.
" Kau kan sudah berjanji pada ku..... setelah ini, kapan lagi kita bisa pergi berama-sama. Kau pasti dapat tempat indah untuk 'isip' (internsip) mu ". Bahkan pagi itu sepasang mata Tria nampak sedikit berkaca-kaca.
" Tapi janji ... nggak ada yang lain selain kita bertiga. Awas kalau ada yang lain... apalagi gerombolan selebriti mesum tanpa akhlak yang .... "
" Iya .. iya.. ", dengan cepat Tria menyetujui dan membungkam mulut Kirana dengan kedua tangannya. " Aku sudah konfirmasi sama abang sayang, hanya ada kita bertiga kok. Please ... bantu aku kasih saran-saran untuk pilih paket wedding ya ".
" Oooh... jadi nggak renang doang nih ".
" He'eh... yups ". Dan Tria tersenyum sambil melancarkan aksi imut-imutnya mengedipakan mata penuh permohonan, meniru gaya empus kecil yang menggemaskan. " So.. I need my best friend ".
" Okay, and you must comply with applicable terms and conditions ". Membuat Kirana yang walaupun masih terlihat enggan, pada akhirnya tetap mengaguk. Tentu saja membuat Tria terlonjak dan langsung memeluk sahabatnya ini
Dan Tria pun masih ingat bagaimana sepasang alis Kirana yang hitam dan tebal itu nyaris menyatu saat mewanti-wantinya. Dan sesiang tadi gadis itu juga nampak terdzalimi saat harus ditarik-tarik olehnya, kesana kemari demi membandingkan aneka pilhan paket pernikahan yang cukup membuat dirinya bingung.
" Terserah elo' ... mau jadi princes Yasmin, Cinderela atau Moana... yang penting 'kan udah prince-nya. Jadi mermaid juga boleh ... ".
Sama sekali tidak membantu, tapi setidaknya Tria merasa cukup senang karena ditemani kawan sedari Taman Kanak-kanaknya ini. Tapi lihatlah Kirana sekarang, nampak sangat bahagia, berkali-kali tertawa saat air yang ditampar oleh sepasang tangan itu memciprat mengenai wajah ayu nya. Dan si penampar air itu ... Oh My Good... siapa pria tampan itu ?. Jangan-jangan bocah itu sudah kena pelet ...
" Siapa pria itu ? ", Rian pun tidak bisa membendung rasa penasarannya. Tria hanya balas menatap sambil mengangkat bahu.
" Kita meleng sedikit saja, sudah dapat barang bagus dia ", komentar Rian lagi. Ini sih kelewat bagus, tapi Tria memilih tidak mengungkapkannya. Akhir-akhir ini sang calon suami ini sedang pada level cemburu tingkat begawan, ya... lumayan merepotkan juga sih.
" Hei .... ", Kirana berseru saat menyadari Tria dan Rian kini sedang mengawasinya. " Sudah mesra-mesraannya ? ", pertanyaan songong yang membuat sepasang sejoli itu gelgapan.
Akhirnya Tria dan Rian pun berenang mendekati Kirana yang kini terlihat cerah ceria. Pasti karena si tampan ini, begitu pikir Tria. Dan Pria itu tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka berdua.
" Ini nih mas ... calon pengantin nggak tahu diri yang njadiin aku obat nyamuk. Tria dan Rian ... teman sejak SMA, TK malah kalau dengan Tria ".
" Tria ..".
" Rian.. ".
" Syailendra ... ah, Alend saja ".
Pada dasarnya Syailendra adalah orang yang sangat humble, ramah dan juga menyenangkan. Saat bertemu dengan Rian yang juga bersifat hampir sama, tentu saja keduanya langsung bisa menemukan obrolan menarik. Hal ini membuat Tria segera mengajak Kirana untuk beradu sampai ke ujung. Padahal sebenarnya hanya untuk sedikit memisahakan diri dari dua orang pria itu.
Jelas Tria yang terlebih dahulu mencuri start telah berenang sampai diujung kolam, dan menunggu Kirana yang tidak samapi setengah menit kemudian telah menyusulnya. Lalu dengan segera menahan gadis itu dan menatapnya penuh selidik.
" Siapa dia ?, baru kenal lo' ? ... gegabah amat,he looks like a profesional player ".
" Apaan sih ... ngaco !!!. Daripada kawan-kawan mesum nya Rian ... yang ini aku kenal baik. Dia anak kawan papaku, temen kak Namu, juga partner bisnis. Apa nya yang profesional player sih ? ".
" Rana ... aku hanya khawatir. Dia terlihat sudah sangat dewasa... dan sendirian di sini, lalu mendekati daun muda sepertimu.... ", Tria masih terlihat khawatir.
" Tua maksus lo' ? ".
" Hem ... dan seksi .... ". Tria mengucapkannya setengah berbisik.
" Hua..ha..ha..ha..ha... ", Kirana langsung terbahak. " Yang kayak gitu sih.... pemandanagn sehari-hari di rumah, dua lagi. Mata lo' itu yang harus ikut les kepribadian tambahan... biar makin sopan, sudah mau punya laki' juga ".
" Tapi bener 'kan ?... he is so sexy. Dan ... hati-hati loh... feeling gwa' nggak enak ". Tria berusaha mengeluarkan argumen untuk mempertahankan pendapatnya. " BIar kata kalian, bahkan keluarga kalian berteman baik .... tapi ... tetep saja dia sangat tampan, dan .... dia pasti juga seorang playboy. Tuh ... buktinya, dia datang sendirian dan langsung menargetkanmu ".
Tak !... Kirana langsung menyentil kening Tria. Tentu saja membuat gadis itu menjerit kecil.
" Adoooh ".
" Dia duda, istrinya meninggal enam tahun yang lalu. Dan kau tahu .... dia itu putra sulung dari putra Prof.dr. Kamal Zachary SPOG.... yang rumah sakitnya kau incar sepanjang hidup ".
" Hah ?! ... serius lo' ".
" Nggak percaya ya sudah ". Dan Kirana pun segera berbalik meninggalkan Tria dengan gaya kupu-kupu andalannya, melesat membelah air berwarna kebiruan jernih itu.
__ADS_1
" Oh My Goodness....... ". Meninggalkan Tria yang masih ternganga tak percaya. " Ranaaa... tunggu ".
" Aku sudah melunasi janji ku ya ", kata Kirana begitu Tria sudah menyusulnya. Kini mereka berdua nampak bergabung dengan Syailendra dan Rian. " Kalian... nikmatilah saat-saat masih pacaran ini. Nanti kalau udah nikah ... katanya gregetnya beda ".
" Adik manis tahu dari mana ?. Emang udah pernah nikah ? ". Jelas itu adalah nada menggoda yang disampaikan Syailendra.
" Hwiih... nggak perlu menjadi pelaku untuk tahu. Jadi pengamat pun bisa sedikit mengerti. Ah, mas Alend nggak CS ". Kirana merengut, membuat Syailendra tersenyum simpul. " Intinya ... gwa' pulang duluan ya ".
" Loh ?... mana bisa begitu Rana. Kita belum makan ... terus gimana lo' pulang nya ?. Ngaco !, ada-ada saja ah...nggak! nggak!... pulang bareng, harus ! ", protes Tria.
" Halah ... timbang pulang doang, pake' taxi ... gampang kok. Yan ... ", salk Kirana pada Rian. " Jagaiin no' calon bini ... jangan ganggu orang lajang menyalurkan hobi ".
" Ha.. ha.. ha.. ha.. Okay Rana siaaap !!!! ".
" Nah bahagia 'kan Lo'. Tria .... tuh liat, kamunya aja yang kurang peka ".
" Ranaaaa..... ", tentu saja itu suara Tria yang setengah menjerit karena sedikit kesal. " Lo' juga kurang peka, kan' mau ku ada kamu ikut terlibat disaat-saat terpentingku ", Tria memperlihatkan sedikit ada rasa sedih.
Kirana yang menyadari hal itu tertawa-tawa lalu memeluk sahabatnya ini. " aku nggak akan kemana-mana kok... selalu ada di hatimu ... my best friend ever ".
Tapi hal melo' itu tak beralngsung lama, karena saat Kirana sudah naik kepermukaan dan berjalan dengan santai, ia sempat melirik. Rian sudah langsung menguasai dunia calon istrinya, dan membuat Tria teratawa-tawa bahagia. Kirana tersenyum saja, ah .... sepasang merpati yang sedang kasmaran.
" Cantik... jangan terlalu lama memperlihatkan keindahan untuk para mata setan ".
Dan selembar kain tebal lembut berbentuk kimono berwarna putih, tiba-tiba saja sudah menyelubungi diri seorang Kirana. Membuatnya sedikit terkejut, menoleh ke samping dan mendapati senyuman menawan dari pria itu. Syailendra menatapnya dan membuat gesture yang begitu kentara, .... aku menjagamu.
" Kita pulang bareng ya ". Jelas nada itu bukan untuk meminta persetujuan, tapi terdengar seperti sebuah perintah. Kirana menghentikan langkahnya dan menatap sepasang mata kelabu serupa warna senja di saat hujan.
" Aku ingin tahu apa hoby seorang gadis lajang ini ".
" Ooh... kau yakin mas ? ". Kirana mengembangkan senyum kecil penuh kelicikan
" Tentu saja ". tapi Syailendra mengangguk meyakinkan.
" No regrets? ".
" Okay ... lets go ". Dan Kirana pun tertawa ceria, bahkan tanpa sadar ia pun meraih tangan Syailaendra yang berbulu seksi. Setengah menyeret pria itu untuk segera berlalu..... melaksanakan hoby seorang gadis lajang.
Syailendra tertegun, tapi kakinya seperti terhipnotis dan melangkah dengan pasti mengikuti adik manis ini. Lalu tiba-tiba saja .....Dug dug ... dug dug... dug dug. Debaran di dada kirinya telah berkata dengan lebih jujur lagi. Inin adalah untuk pertama kalinya .... dia ... berdebar-debar seperti ini.
..............................
Kedatangan sejoli yang baru saja hangat-hangatnya ini tentu saja membuat Ardelia sangat bahagia. Apalagi sikap Cinta yang sangat terbuka dan menyenangkan untuk diajak bicara ini, sungguh membuat hati Ardelia jadi seringan kapas. Kakak yang ramah, cerdas, cantik dan sangat perhatian padanya. Seperti mimpi rasanya, mendapatkan sesuatu yang sering diangankannya sejak dulu.
Ardelia tersenyum dalam hati, seperti sedang memadukan rasa syukur dan juga rasa geli terutama pada dirinya sendiri. Bertahun-tahun diombang-ambingkan gelisah, seperti seorang pengelana di tengah samudra dengan sampan kecilnya. Padahal dari samping samudra hidupnya, seorang pemuda dari atas kapal besar terus memanggil, mengulurkan tangan dan memintanya untuk naik. Berkali-kali meminta agar dirinya mau mengarungi samudera hidup itu bersama dalam satu bahtera. Tapi ia sangat ketakutan, pada kenyataan akan dirinya sendiri.
Ardelia memilih menjauhkan sampan rasanya, dengan tetap memegang impian indah. Kelak akan ada sebuah keluarga yang bahagia, dimana aku berada di dalamnya. Begitu ia selalu meyakinkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia benar-benar merasa tidak berdaya dan memutuskan untuk menyerah, terhisap dalam pusaran hitam. Sang pemuda bernama Raka itulah yang tetap berseru memanggil, bahkan tidak lagi sekedar mengulurkan tangannya, tapi juga segera meraih dan menyelamatkan. Dan saat ia memutuskan menerima uluran tangan itu, walaupun masih dengan sisa ketakutannya. Ia baru tersadar, semua yang diimpikannya ada pemuda itu.
Ya ... sebuah keluarga yang harmonis. Keluarga yang saling mendukung, tanpa pamrih apapun. Seolah-olah mereka hanya mengenal cinta dan kasih sayang saja. Tidak ada iri, dendam, bahkan tipu muslihat menjijikkan demi untuk saling menjatuhkan.
Ardelia masih tertawa-tawa saat mendengar lelucon yang diceritakan oleh Cinta. Walaupun sebenarnya itu seperti menelanjangi Raka. Menceritakan bagaimana tingkah nakal dan absurd-nya pria itu saat masih bocah. Sangat kompak dengan saudara sepupunya, terutama saat membuat kekacauan.
" Iya ... duo little devil itu nggak ada kapok-kapoknya deh. Kalau mereka berdua terlihat tenang dan diam ... itu artinya ada yang tidak beres ", masih Cinta yang bercerita dengan penuh semangat.
" Terakhir .... pas ulang tahun kakek ya... kau ingat tragedi kue ulang tahun itu... ", kali ini Namu menyela.
" Oh ya... duo itu baru masuk kelas satu SD dulu ya ", sepasang mata Cinta terlihat berbinar. " Benar-benar deh .... tapi mau bagaimana lagi ya... ha.. ha.. ha... ".
" Kenapa memangnya ? ", Ardelia penasaran.
" Mereka yang tidak sabaran ingin segera mencicipi kue tart setinggi gunung itu ... dengan sangat pintarnya membagi-bagikan pada orang-orang. Membuat koki panik, EO tak kalah bingungnya .... tapi kita semua hanya bisa ternganga tak percaya ", kali ini Namu yang menambahkan dengan tawa yang mulai merekah. Padahal biasanya pria ini sangat irit tersenyum.
" Maksudnya ? ", Ardelia masih kebingungan.
" Jadi ... ulang tahun kakek itu diselenggarakan di panti jompo sekaligus panti rehabilitasi untuk penyakit jantung. Waktu itu ngundang warga di sekitaran juga. Nah ... biasa... acara sambutan 'kan lama tuh, apalagi untuk duo belut macam Raka dan Haidar. Menyelinap'lah mereka ke bagian makanan... lalu dengan cerdiknya berhasil mengelabui para koki ... ".
__ADS_1
" Mengalihkan tempat si kue ... dalih mereka ", potong Namu.
" Ya ... di bawalah kue yang sedianya mau jadi kejutan itu. Terus mereka pesta bersama anak-anak warga di sekitar situ.... ha.. ha.. ha... ".
" Jadi itu kue dimakan mereka duluan ", Ardelia memperjelas.
" Iya... dan cerdasnya mereka, agar tidak kena marah... seluruh tamu kecil yang ada disitu di bagi sepotong-sepotong ", lanjut Cinta lagi.
" Otomatis .... nggak ada yang bisa memarahi mereka. Sang Jendral perang roti di hari itu... bisa kau bayangkan bagaimana situasi nya ?. Aku dan Cinta geraaaam sekali saat itu.... karena nggak bisa ikut ambil bagian ".
" Yaah... dari dulu kami selalu jadi anak yang manis ... hidup sangat teratur... haaaah ", Cinta menghela nafas panjang. " Resikonya anak pertama mungkin ya ".
Tentu saja Ardelia ternganga, tapi sejurus kemudian diapun ikut tertawa terbahak-bahak.
" Aku ... aku ... sangat iri dengan kalian .. ", masih dengan sisa tawanya Ardelia berkata. Sepasang matanya menyiratkan kejujuran. " Aku ingin punya adik, punya kakak ... yang bisa seperti kalian ".
" Hei... kami akan segera jadi kakakmu ya ", Cinta yang duduk di sebelah Ardelia segera merangkul bahu gadis itu. " Kau juga akan segera punya adik cantik yang keras kepala loh ".
" Benarkah ? ".
" Kau akan kaget saat tahu bagaimana wajah dan sifat Kirana sangat bertolak belakang. Wajah sih lembuuut... tapi ngeyelnya.... poll ", Namu kembali menyambung.
" Oh ... iya 'kah. ? ", Ardelia tersenyum sambil membelalakkan mata seolah sangat tidak percaya.
" Haidar ... he is the best of mom & dad. Tapi Rana ... heeem, sok ngaturnya mama dan keras nya papa ".
:" Waah... kak Namu sungguh perhatian ya sama adik-adiknya ". Ardelia terlihat bertambah bersemangat, " Hafal... betul sifat-sifatnya ".
" Hloo jelas, Abang sayang ini .... jelas adalah pawang dari kami semua ". Kata Cinta sambil bergelayut manja pada lengan pria disebelahnya.
" Semoga nanti dia tidak ikut sifat nakal ayahnya... semoga dia akan manis seperti mu ".
Itu adalah kalimat penuh harapan yang sama sekali tidak di pahami oleh Ardelia. Ia terdiam, tak mengerti dan menatap Cinta yang mengucapkannya dengan penuh kesungguhan.
" Sebenarnya mama .... sangat ingin bertemu dengan mu. Beliau sangat mengkhawatirkan kondisi mu ... tapi Raka melarang dan memintanya untuk besok... besok... Minggu depan... setelah selesai ujian. Maka akhirnya kami dahulu yang bertunangan ".
" Maaf ya Delia.... ".
Ada apa ini ?, Ardelia mengerutkan kening. Ia masih berusaha mencerna kalimat panjang lebar dari Cinta. Tapi kemudian permohonan maaf Namu malah semakin membuatnya tidak memahami.
" Maaf ya sayang ..... kau harus bersabar menunggu ayah mu selesai ujian dulu ".
Cinta perlahan mengulurkan tangannya, membelai dengan lembut pada perut Ardelia yang masih mematung dengan ekspresi bingung.
" Nenek mu sangat ingiiiin bertemu .... tapi ayahmu melarang. Bagaimana kalau kalian berdua berinisiatif untuk temui nenek di Rumah Sakit. Biar Tante Cinta yang atur jadwalnya.. sekalian periksa .... ".
" Hah????... ".
" Sudah USG ? ".
Seperti keledai yang membatu, begitulah Ardelia saat ini. Ia dari awal tadi sungguh tidak memahami kenapa dua orang ini sangat berhati-hati dan juga menambah konsentrasi perhatiannya menjadi begitu pekat. Tangan kakak cantik ini masih berada diatas perut ratanya. Bahkan dia berbicara seolah-olah tidak hanya kepada dirinya saja.
" Ardelia ? ", kali ini Cinta menatap heran pada gadis yang terdiam membisu dengan ekspresi kosong itu.
" Ba-baiklah.... hanya .. hanya mamah saja yang terlalu bahagia dan bersemangat akan kehadiran cucunya. Kalau Delia tetap akan menunggu Raka juga nggak apa-apa kok. Yang penting kamu sehat ... ya ".
Cucu ?.... Ardelia termenung, tapi tiba-tiba saja buliran air bening mengalir perlahan dari kedua sudut matanya.
" Loh ... Delia... maaf ... maaf .... ". Cinta langsung panik melihat Ardelia yang terdiam dan mulai menangis.
" Kata mama ku ... orang hamil tidak boleh sedih sedih ... nanti berpengaruh kurang bagus untuk janinnya ". Akhirnya Namu pun ikut berbicara.
" Begitu ya ? ". Ardelia perlahan menyusut air matanya. Mencoba untuk tersenyum, tapi ada rasa perih yang sedikit mengiris. Bercampur dengan rasa marah yang juga mulai meronta.
Tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Karena perhatian dan kasih sayang dari dua orang dihadapannya ini, tidak seharusnya ternodai oleh amarah. Raka.... ia mendedikasikan nama itu perlahan. Entah apa yang harus dilakukannya pada pemuda itu. Pasti semua salah paham ini... berasal dari Mr. Litltle Devil
__ADS_1
** ' Arghhhhh..... aku harus membuat perhitungan dengan mu. Dengan sangat... terperinci !!!!!! '**