PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Aral Yang Mengeratkan (2)


__ADS_3

Hanin berusaha melepaskan diri dari Kirana dan Ardelia yang seolah menyanderanya. Tentu saja karena ia tidak mau membiarkan ibunya kerepotan sendirian. Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh sesuatu diluar bayangannya. Dua dokter cantik itu malah ikut berjibaku dengannya. Padahal sebenarnya angat tidak perlu, karena beberapa pegawai catering sudah datang membantu.


" Heeh ... biarin, aku juga biasa bantu-bantu yang beginian ", begitu Ardelia beralasan.


" Males ah' kalau harus ketemu tetamu ribet temennya papah ... rese' ". Lain lagi dengan alasan Kirana.


Akhirnya mereka bertiga malah asyik sibuk ikut menata kue-kue cantik special request mba Cinta yang lagi jadi bintang kali ini. Walaupun yang sesungguhnya bekerja cuma Hanin, tepatanya . Kirana sibuk icip-icip sementara Ardelia sibuk dengan Raka yang akhirnya juga menyusul.


" Abang aku bisa tumbuh segede raksasa nih nanti ... ", komentar Kirana sambil mengunyah perlahan sepotong puff pastry bertoping aneka berry. " Masakan kamu seenak ini .... ".


" Udah telpon belum si Haid ? ", sela Raka sambil mengikuti Kirana yang comot sana-sini.


" Yang khusus untuk kalian ada disini ..... maaf ya, biar selesai dulu ", pinta Hanin sambil memberikan sebuah kota yang cukup besar pada Kirana dan Raka.


" Wouuw ... nggak bilang dari tadi sih Nin ", Raka bersemangat dan langsung meraih apa yang disodorkan Hanin dengan penuh semangat.


" Ini yang khusus buat mba Cinta.. bisa tolong disimpankan ? ". Kali ini Hanin meyodorkannya pada Kirana, yang langsung diterima gadis itu penuh semangat.


" Maklum, sama-sama baru lulus jadi anak kost ", bisik Ardelia sambil terkikik.


Sementara itu Raka mengikuti langkah Kirana yang berjalan menuju tangga ruang tengah untuk bisa mencapai lantai atas. Meninggalkan Hanin dan Ardelia yang masih asyik menata kue-kue cantik itu sambil berbincang santai.


" Haidar banyak cerita tentang kamu ".


Hanin membalas dengan tersenyum saja, padahal hati kecilnya sangat ingin mendengar apa yang diceritakan Haidar pada Ardelia. Tapi ia memilih menunggu saja sambil berharap kalau-kalau Ardelia akan bercerita untuknya.


" Sebenarnya, begitu kamu pulang ke Indo, ia langsung memintaku menemui mu. Tapi kau tahu 'kan ... bang Raka baru sibuk-sibuknya. Nggak mungkin to' kalau aku nyariin kamu ... padahal kita belum pernah ketemu sebelumnya ".


" Iya mba, nggak apa-apa. Mas Haidar juga memintaku segera ketemu mba. Tapi ya itu tadi ... ada banyak hal yang harus diselesaikan dulu. Untung akhirnya kita bisa segera ketemu ya ".


" Lah ... ?, ngapain dia juga pesen kayak gitu ke kamu Nin ? ", Ardelia terlihat sedikit bingung. " Kalau dia minta aku yang segera ketemu kamu ... tujuannya biar ada yang jagain gadisnya. Lah ini ? ".


" Kata mas Haidar , suruh bantuin mba Ardelia sama mas Raka persiapkan pernikahan kalian ".


" Ooooh .... iya juga sih ".


" Memang rencananya kapan sih mba ?, terus apa yang bisa kubantu ? ".


Terlihat Ardelia menarik nafas panjang dan segera menghembuskannnya perlahan. Gadis itu seperti tengah berusaha mengurai masai dalam hatinya, dan menghempaskan beban yang menghimpit pikirannya.


" Menjadi bagian dari keluarga Arsenio, bukan hal mudah untuk dilakukan. Justru penghalang terbesar adalah dari segala sesuatu yang berada di luar lingkaran. Kau pasti akan segera merasakannya .... bersiaplah ".


Hanin tertegun, ia hanya berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Ardelia. Tapi gadis itu buru-buru tersenyum-senyum sambil menepuk-nepuk pundaknya. Seolah mengerti kebingungan yang sedang dialami oleh Hanin.


" Maunya bang Raka secepatnya, seperti keinginan papi ku juga. Tapi aku ...ahh... lain kali kita cerita-cerita ya. Sebagai sesama calon mantu keluarga Arsenio ".


" Ah, mba Ardel ini. Yang calon mantu itu mba... ", Hanin berusaha mengelak.


" Kamu ... soon to be. Haidar udah yakin seratus persen, tinggal nunggu waktu yang tepat saja. Lagian perjuangannya yang sabaaar dan tegaaaar itu, sudah sepatutnya berbuah bahagia. Bukankah kamu juga tersentuh dengan penantian nya ? ".


" Oh, begitu ya ", terdengar bodoh tapi begitulah Hanin yang tak memahami sepenuhnya. " Tapi aku hanya ... ah entahlah. Pasti karena mas Haidar terlalu baik pada ku ".


" Tepatnya karena dia sangat mencintaimu sayang ", dan Ardelia merangkul perlahan pundak gadis mungil di sebelahnya. " Yakinlah, dia sangat ... sangat mencintaimu ".


" Perbedaan kami, terbentang begitu lebar dan dalam. Aku tidak yakin pada diriku sendiri mba. Sejujurnya, aku sangat takut ".


" Kau pikir aku tidak ? ". Ardelia menaikan kedua alisnya sesaat, pertanda ia sedang menagskan sesuatu.


" Oh ya ?. Tapi mba Ardelia kan' orang hebat ... dokter ahli jiwa juga. Sebandinglah dengan mas Raka. Lah aku ... cuma tukang masak ... ".


" Jadi itu yang kau takutkan' ? ". Ardelia mentap, berusaha menelisik lebih dalam.


" Salah satunya ... ".


" Masih ada yang lain ?. Waah ... kita harus ngobrol berdua saja lain kali ya. Sesegera mungkin, kita janjian, tapi nggak boleh ketahuan anggota keluarga Arsenio ".


" He...he..he... mba Ardelia ini, untung ketemu mba. Jadi berasa nggak sendiri deh ". Hanin terkekeh.


" Nah tuh, salah dua keluarga Arsenio datang. Keep the secret ya Nin ".


Terlihat Kirana bersama dengan Raka datang beriringan sambil sesekali tertawa cekikian. Rupanya kedua sedang melakukan panggilan jarak jaug dengan seseorang.


" Nih orangnya. Ganti video call ya kak... ", suara Kirana.

__ADS_1


" Si mas ganteng ya ? ", tanya Ardelia berbinar. Padahal tujuannya jelas menggoda Hanin yang mulai tersipu.


" Niiiiiih ... si cantik yang kau rindukan ", kata Kirana girang sambil menghadapkan layar ponselnya pada Hanin.


" Hai ... ", suara berat yang khas itu terdengar seiring terkembangnya senyuman dari seraut wajah tampan yang mulai dirimbuni oleh bulu-bulu halus. " I miss you ... ".


" Ciiiieeeee.... aduuuh jaga hati jomblo macam adikmu ini dong bang ", Kirana mulai bertingkah,  menggoda Hanin dan Haidar.


" Raka ... ".


" Siap boss .. ", tak kalah absurdnya Raka menanggapi. Bersikap seperti seorang serdadu yang menerima perintah atasan.


" Singkirakan para pengganggu  ".


" Siap laksanakan  !!! ".


" Termasuk 'elu ... ".


" Weeeeh .... nggak tahu diri lu ya. Yang buat nelpon Hp gue nih  ".


Protes Raka pada Haidar disambut gelak tawa. Namun pada detik berikutnya dengan cukup tahu diri Raka memberikan tempat yang lapang untuk dua sejoli itu. Tak lupa sambil menarik Kirana dan juga Ardelia yang sangat tahu diri segera mengkuti tanpa perlu dikomando.


" Loh, kok nggak pakai gamis atau kaftan ... atau gaun yang cantik ?. Belum sempat beli ya ? ". Tentu saja karena Haidar melihat Hanin yang terlihat sangat manis dengan stelan celana jeans dan atasan semi formal berwarna coklat muda.


" Tadi habis meeting dengan manajer, belum sempat ganti ... ibu udah langsung telpon buat langsung nyusul. Jatahku sih sebenarnya yang nanti malam ... nggak apa-apa 'kan ? ".


" Its okay ... you always look beautifull. I love it .. ".


Hanin tersipu. " Bagaimana Jerman?, ini masih dimana ? ".


" Jerman... kehilangan satu wanita cantik nih, gegara kamu pulang ke tanah air ".


Hanin kembali tersipu, Haidar sepertinya benar-benar citra dari sang perayu ulung yang sesungguhnya. Selalu saja pria itu mampu melambungkan hatinya ke angkasa dan melayang bersama mega-mega.


" Besok balik ke Berlin, lusa sudah harus terbang ke Paris. Andai saja kau bisa ada di sini ya .. ", Haidar terlihat mengusap dagunya yang mulai dilebatkan dengan barisan halus bulu-bulu hitam.


" Hati-hati ya, Mas ".


" Nania ... minggu depan aku pulang ya, sehari saja. Kangen niiih ... ".


" Mas pikir ini antara tanah abang sama pasar minggu ... nggak yang aneh-aneh ah !!!!, ngaco ".


" Ha..ha..ha.. ", tawa iu terdengar getir. " Sepi di sini .... nggak ada teman ".


" Kan ada tim support mu tow mas. Bisa dong berinteraksi dengan mereka ... ".


"  Iya sih ..... ".


" Hai cantik.... eh ada kakak tow ", suara riang tiba-tiba menyeruak. Itu adalah Orlin yang melangkah dengan riang dan ringan.


" Halo kakak ganteng, gimana kerjaan.. aman ? ", sapa Orlin pada Haidar sambil merangkul Hanin.


" Hai mom' .... alhamdulilah, doa kan terus ya mamah ku yang cantik ".


" Pasti sayang, selalu. Eh bisa pinjem si cantiknya sebentar ? ".


" Okay ... tolong jagain dia ya mah, untukku ".


" Pasti sayang, pasti. Pinjem sebentar ya ... ".


" Kasih Raka lagi aja Na' telponnya ", pinta Haidar kemudian pada Hanin.


" Mas Raka ... ", Hanin mendekat pada Raka yang amsih asyik berbincang dengan Kirana dan Ardelia.


" Siap !!.. oh udahan ya ".


" Hanin nya mau dipinjem dulu bentar Ka' ", kali ini yang menyahut Orlin.


" Oh iya tante, monggo ", Raka tersenyum mempersilahakan dan langsung beralih dengan Haidar yang masih di panggilan. " You is mine now, bro ... ".


Sementara itu, Orlin langsung mengajak Hanin menuju ruang keluarga yang baru saja disulap jadi prifacy bufet.


" Adek ... ayo ikut ", ajaknya pada Kirana. " Mba Ardel juga, bisa minta bantuannya ? ".

__ADS_1


" Oh, iya tant ". Bergegas Ardelia mengikuti langkah Orlin yang meluncur cepat menjinjing Hanin. Karena gadis mungil itu hanya terlihat pasrah tak berdaya.


" Hei, sono lu ... mamah mu buru-buru tuh ". Raka menyikut Kirana yang tak bergeming.


" Males ... ".


" Adik lo' Dar... tuh kumat ", Raka menunjukan wajah Kirana yang cemberut.


" Mau dikenalin sama siapa ? ". Tebakan yang jitu dari Haidar.


" Mbuh mas ... males aku ", Kirana masih bersungut-sungut.


" Rana ... ", tiba-tiba Orlin melongokkan kepalanya sambil sedikit berseru. " Om Rayhan dan keluarga sudah hampir sampai loh. Ayo buruan bantuin mamah ".


" Oh ... salam buat Alend ya. Buruan !!! ... keburu mama teriak lagi loh ".


" Alend sia pa sih, Dar ?. Oh ya... boss alkes itu ya ", Raka ikut menimpali. " Eh jomblo' ... buruan !!! ".


" Yeee... ". Walaupun cemberut, tapi Kirana akhirnya melangkah pergi.


" Dia terlalu kenyang dengan orang-orang ganteng, sampai gak bisa naksir cowok ".


" Yang elo' maksud orang ganteng, pasti gue 'kan ? ", Haidar tergelak dan membuat Raka ikut mencibir seperti Kirana yang sudah menghilang.


........................................


Dia adalah Astrid, seorang model yang cukup terkenal dan juga putri seorang pejabat. Kehadirannya bersama sang ibu, cukup menyita perhatian beberapa hadirin yang masih menikmati segarnya rujak atau sedapnya gulai sapi panas beserta aneka hidangan istimewa lainnya. Tentu karena wajah sang ibu yang familiar karena sering terlihat wira-wiri silih berganti di media sosial dan media masa lainnya, mendampingi sang suami dalam aksi sosial atau juga acara-acara partai lainnya.


Gadis dengan tinggi... mungkin hampir seratus tujuh puluh senti itu nampak sangat mencolok diantara para tetamu lainnya. Riasan nude' yang semakin menonjolkan kecantikannya, sungguh memikat dan membuat pandangan terasa nikmat saat menatapnya berlama-lama. Definisi sempurna dari kecantikan masa kini yang kemilau. Menjadi target manis untuk juru kamera yang berseliweran.


Seolah tidak terganggu, Astrid tetap melangkah santai mengikuti ibunya. Wanita dengan gamis biru lembut serta aksesori yang glamour. Dua orang wanita yang langsung menyeruak, merangsek mendekat pada sang nyonya rumah yang nampak baru saja memastikan kelengkapan di private area.


Seolah telah lama menjalin kedekatan dengan keluarga Mandala, si ibu terlihat riang dan langsung menjabat tangan Orlin. Tak lupa pula memberikan cipika-cipiki ala sosialita. Jika dilihat oleh orang lain, pasti mengira mereka adalah dua sahabat lama yang baru ketemu lagi.


" Jeng Orlin, waduh senengnya ya bakalan punya cucu ". Itu adalah Lita, sang tetangga baru yang juga adalah ibu dari Astrid. " Nggak nyangka loh, ternyata jodohnya Namu sangat dekat... saya sempat sangat kaget. Waduuuh .... nyesel juga nih, nggak bisa besanan sama jeng Orlin ".


Seterus terang itu ?, hanya basa-basi saja. Ah ... Orlin hanya tertawa kecil membalasnya.


" Terimakasih loh sudah bisa hadir. Padahal baru sibuk-sibuknya 'kan . Eh ini  Astrid 'kan... sukses ya, makin bersinar saja kamu ".


" Halo tante ", Astrid pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ibunya. Bersikap akrab seolah-olah telah menjadi bagian penting kelurga ini.


" Dia sempat sedih loh, putus harapan ... nggak bisa kenal lebih dekat sama mas Namu ", sela Lita seperti alap-alap.


Orlin terkekeh, tapi karena ia merasa jengah. Dari sekian banyak orang-orang yang berniat menjalin hubungan lebih dalam dengan cara menawarkan perjodohan untuk anak-anak mereka, keluarga ini yang termasuk paling getol. Atau mungkin karena mereka bertetangga ?.


" Lin... ", suara seorang wanita memanggil. Dia adalah Hana, sang kakak ipar dan juga sang besan. " Keluarga Rayhan sudah datang... eh maaf jeng Lita, pinjam Orlin sebentar ya ".


" Oh iya..iya ...silahkan jeng Hana ".


" Maaf ya jeng Lita, monggo loh ... silahkan dinikmati hidangannya ". Orlin buru-buru berpamitan.


Sepeninggalan Orlin dan Hana, terlihat Lita menggedikkan pundaknya. Sambil menghembuskan nafas, seolah membuang rasa kesal.


" Yang penting 'kan mamah udah usaha ". Terdengar seperti menyemangati, tapi sebenarnya Astrid sendiri juga merasa kesal.


" Apa momentnya yang kurang tepat ya ? ".


" Mah, mereka spesial. Cara yang sudah-sudah ... nggak bakal mempan untuk keluarga ini ".


Lita terlihat manggut-manggut, sepertinya ia sependapat dengan apa yang dikatakan putrinya.


" Anak-anak keluarga ini tidak hobi pesta. Kamu yang harus ubah imej . Mulai sekarang kamu harus rajin ikut acara-acara sosialnya papah mu ".


" Yah, sebegitunya.... kalau ganti target aja gimana, Mah ? ".


" Astrid !!!!! .... ", hardik Lita pada putrinya. " Baru seperti ini saja sudah menyerah. Ada dua cucu keluarga Arsenio yang masih lajang. Kesempatan kamu besar ... sabar dikit, usaha lebih keras lagi dong ! ".


" Terserah mamah aja ", dan Astrib berbalik dengan cepat bermaksud meninggalkan sang mama.


Namun gadis yang memutar tubuh dengan tumpuan salah satu kakinya itu terlupa satu hal. Bahwa manuver yang biasa dilakukannya saat berada di atas run away  saat peragaan busana itu, sangat tidak tepat jika dilakukan sekarang.


' Prang ' .

__ADS_1


__ADS_2