PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
The Silent White Knight (4)


__ADS_3

" Ooooh .... si cantik dan manis yang pinter itu... ingatlah aku ", suara itu terdengar begitu meyakinkan. " Bukannya dia wanita milik Wisya ya ? " .


" Jangan hanya melihat dengan kedua mata mesummu itu. Cobalah selami dengan hatimu... kau ini ".


" Heeeiiii..... kenapa sensitif begini sih ??? jangan-jangan kau sudah lama ya naksir dia . Yeeeee.... ", tawa itu terdengar lepas kemudian. " Fix nih ... naksirnya pasti sudah dari jaman kuliah KU dulu ... ha... ha..ha.. ".


" Sak karepmu .... Sudah dapat barangnya belum ?. Itu yang penting. Oh ya, kakakmu sudah sampai rumah ? ".


" Waduuuuh.... aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Kau 'kan tahu.... salah nanya anda ... ", kembali terdengar kekehan menggoda.


Haidar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Menelpon saudara sepupunya yang agak sableng ini memang butuh pengkondisian hati yang nyaman berlapis. Rakadipa yang biasa dipanggil Raka adalah salah satu anomali langka penyimpangan genetik, terlahir dari seorang ibu yang cerdas dan tegas serta ayah yang lembut dan berwibawa, tapi dia sungguh pribadi yang hanya punya keinginan satu hal saja .... bersenang-senang. Untung saja beberapa sifat dominan dari kromosom ayah dan ibunya ada juga yang nempel, berwajah rupawan dan otak sedikit tinggi diatas level rata-rata. Tapi sableng dan hura-hura nya.... luaaar biasa.


" Kenapa memangnya ? ", tanya Raka lagi.


" Dengar-dengar ... kak Cinta sudah sadar ".


" Maksudnya ? ", sergah Raka cepat.


" Itu... dia kini dekat dengan orang yang rencananya memang mau dijodohin buat dia. Bahkan orang ini sampe nyusul kak Cinta ke Korea looh... dan kau tahu siapa orang ini ? ".


" Siapa memangnya ? ".


" Tuan Syailendra Thoriq Zachary .... pengendali dan pemasok import peralatan medis dan juga obat-obatan di negeri ini ... ".


" Huaaaah .... amazing ... cocok itu. Terus ... terus ...", suara Raka terdengar tidak sabaran.


" Baru itu yang Qirun bagi informasinya ke aku ... makanya aku tanya sama lo', kirain tau' update kakak tercinta ". Haidar mempunyai panggilan sayang untuk Kirana dengan sebutan Qirun, walaupun selalu mendapatkan cibiran dan juga wajah penuh emosi dari si punya nama. Tapi ia tidak perduli, menggoda adik manisnya itu merupakan mood booster untuk dirinya. Akhirnya panggilan sayang itu juga diikuti oleh seluruh anggota Sedulur_koplaxs'.


" Yeeeee.... sebagai dokter residen yang baru sibuk-sibuknya... mana bisa aku sering-sering pulang ke rumah ".


" Halaaah!!!! .... dasar aja males pulang. Nggak bosen tuh gaul over dosis ?!! ", cibir Haidar. " Back to the topic ... ".


" Mba Cinta ? ".


" Iya ... tapi plus barang-barang yang mau kita beli juga. Aku pesanannya sama mas Alend itu ... maksudnya Syailendra. Do you thinking what I'm thinking ? ".


Sesaat hening tidak ada suara terdengar, tapi kemudian terdengar tawa Raka yang berderai-derai. Haidar bahkan sampai tersenyum lebar mendengar tawa dari saudara sepupunya yang punya bulan dan tahun kelahiran sama dengannya, hanya selisih dua belas hari saja dengannya.


" Oh Cupid ..... I understand. Emang kamu itu paling cerdik ... setuju aku ", kata Raka masih dengan sisa tawanya.


" Terus masalahnya sekarang mba Cinta dan mas Namu belum bisa dihubungi ....... padahal mereka berdua donatur terbesar pastinya. Dan aku butuh segera ".


" Gimana doooong ... ".


" Ya kau bantu akulah untuk hubungi dua kakak itu. Sementara aku hubungi mas Alend ... oh ya kalau kau tidak sempat... minta Qirun yang ikut antar barang-barang itu.... bisa'kan ? ".


" Iya... iya... iya... secara kau 'kan sedang berada di dunia dengan fluktuasi sinyal yang menggemaskan ... ".


" Laah... itu tahu ", Haidar menyambar cepat.


" Iya ... kau tahu, suaramu terdengar seperti berada di dalam mesin cuci yang sedang bekerja. Beruntung saja yang kau telpon ini orang yang baaaiiiik..... ".


" Bleeeh... sesukamu lah. Yang penting itu tadi.... segera !!!!! ".


" Oke bosssss..... ".


" Udah dulu ya 'Ka ... segera kabari aku ".


" Siaaaaaap boss ".


Begitulah percakapan panjang antara Haidar dan Raka beberapa hari yang lalu. Dan kini ditengah hari yang lumayan terik dengan matahari yang memancarkan sinarnya setelah beberapa hari ini tertutup oleh badai dan awan, Haidar tampak menunggu di dermaga kecil. Ia menanti kedatangan kapal feri yang sudah mulai beroperasi lagi.


Di dalam kapal yang sedang ditunggu nya itu, ada peralatan-peralatan medis untuk disumbangkan ditempat dokter Yulia bekerja. Datang juga bersama peralatan itu adiknya yang manis, bungsu dari keluarga Mandala. Putri Bungsu itu mempunyai senyuman yang sangat manis dan juga tubuh mungil seperti mamanya, mungkin hanya tiga sentimeter sedikit lebih tinggi. Tapi dia memiliki sifat dan tatapan mata yang dingin serta setajam sembilu salju warisan sang papa. Tapi bagi Haidar, gadis itu tetaplah adik kecil cantik yang menggemaskan.


" Q- ruuuuuuun... " Haidar berseru dengan riang.


Kapal feri itu mulai bersandar dan seorang gadis cantik menuruni tangga dengan riang. Namun ekspresi cemberut itu langsung menyeruak saat suara berat yang khas Haidar menyeru menyambutnya. Haidar tertawa terbahak-bahak dan dengan gemas memeluk serta mengacak-acak poni gadis ini. Kirana adiknya, semakin cemberut dan mulai mencubiti perut kakaknya.


" Sebel ... ", Kirana bersungut-sungut.


" Hi... hi... hi... adik manis yang pemarah ", Haidar masih saja menggoda. " Gimana? mabok laut nggak ? ".

__ADS_1


" Oh ... tentu hampir..... katanya ombaknya tidak sedang besar, tapi tetep aja bikin mual dan kleyengan. Tapi gak sampai muntah kok... hi..hi..hi ", Kirana nyengir sambil mengacungkan dua jempolnya.


" Hebaaaat.... dokter Kirana Safeea Putri Manorin.... alis Q_run ".


" Maaasss!!!!... ihhh!!! kubawa balik nih semua barangnya .... ".


" Ha.. ha.. ha... ampun... ampun ... Oh ya mana ? ". Haidar akhirnya menyerah dan menghentikan menggoda sang adik.


" Itu... dari supplier juga kirim dua orang teknisi buat setting ... tuh ". Dua orang pria yang baru saja selesai menurunkan beberapa kotak besar mengangguk dengan hormat pada Haidar.


" Waaah.... harus dua kali angkut nih ", gumam Haidar sambil menggaruk-garuk kepalanya.


" Ayooo buruaaan.... aku kebelet pipis nih ", Kirana merengek.


" Oke.... dua kali angkut ya mas. Satu orang nanti di tunggu di sini dulu, nggak jauh kok tempatnya ".


Dua pria muda itu mengangguk. Tapi pada kenyataannya, hanya Kirana yang bisa ikut duluan duduk di samping kakaknya. Bagian belakang terisi penuh oleh separuh kardus besar yang dibawa gadis itu.


" Nanti aku minta tolong staff yang ada di sana buat bawa satu mobil lagi. Kasihan mas-mas nya kalo harus nunggu lagi. Mana tau' pada kebelet pipis juga ... ", seloroh Haidar.


" Laki-laki sih enak...... bisa nyaman dimana aja.... ", balas Kirana dengan cueknya.


" Widiiih....sok tahu' ".


" Bukan rahasia umum lagi. Kemudahan untuk para pria, tidak hanya dari urusan perasaan yang membuat mereka selalu lebih mudah... tapi juga karena karunia bentuk juga ".


" Huaa.. ha..ha... emang sudah tau gimana bentuknya? sudah pernah megang ? ", Haidar sengaja menggoda adiknya.


" Heiii... kakak tengil !!!! ... Koas ku tinggal dua bulan lagi. Bagaimana mungkin aku belum pernah memegangnya .... ", Kirana mendelik kesal. " Menganiaya nya sudah dua kali ".


" Hua... ha... ha... sudah sukses rupanya jadi dukun sunat ".


" He..... he.... iya dong. Mau ku sunat juga ? ", Kirana mengedipkan matanya menggoda dengan usil pada sang kakak yang langsung manyun.


" Ish !!!!!!! jangan dong ...... ini baru bisa menjalankan fungsinya untuk pipis saja kok... jangan dipangkas lagi. Kasihanilah kakak jomblo mu ini dek .... ".


Dan Kirana pun tertawa terbahak-bahak. " Iya... iya.... nasiiiiib punya dua kakak ganteng ... tapi jomblo semua..... ha.. ha.. ha... ".


Dokter Yulia, kali ini begitu anggun dengan rok A-line yang panjang berwarna hitam. Riasan bergaya nude membingkai wajahnya yang memang sudah sempurna. Ia nampak sangat bahagia menyaksikan peralatan-peralatan medis yang sangat dibutuhkan itu mulai ditempatkan dan di setting.


" Tidak kusangka..... peralatan bernilai seratus juta ini adalah hibah, donasi.... bahagianya ya jadi orang mampu ... bisa sedekah sebanyak ini ". Kata dokter dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.


" Karena mungkin ini yang mereka bisa, kau tahu orang-orang ini sangat iri loh padamu ... yang punya kemampuan luar biasa dan bisa menggunakannya untuk membantu orang banyak ".


" Kau ini ... selalu menghiburku. Sungguh berbeda dengan Haidar yang ku kenal ketika di KU dulu "


" Ooh... itu Haidar yang belum hijrah Yul, kalo yang ini ... ".


" Yang sudah hijrah ? ", sambar Yulia dengan cepat.


" Bukan ... ini Haidar yang nekat .. he.. he.. he ", Haidar terkekeh dan Yulia pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Mba Yulia.... lapeeer niiih... ", tiba-tiba Kirana datang menyeruak. " Jauh nggak warung ikan bakar yang mba ceritain tadi ? ".


" Tenang saja... khusus siang ini sudah dipesankan. Kita makan disini saja, nanti malam kita langsung ke warung pinggir pantai itu ya ".


" Es kelapa mudanya juga mba ? ".


" Tentu dong ".


" Asyiiiiiiik..... ", Kirana kegirangan.


" Hei .... enak aja lo' main palak Bu dokter. Kuwalat loooh nanti ", Haidar pura-pura marah.


" Yang kuwalat itu mas ... seenak udel nyuruh-nyuruh adik yang tidak berdaya ini ".


Haidar kembali dengan gemas mengacak-acak poni adiknya. Yulia yang melihat tingkah polah kakak beradik ini tersenyum saja.


" Kalian dua bersaudara ya ? selalu dekat seperti ini ... aku iri ", kata Yulia.


" Ooh... nggak mba. Masih ada mas Namu kakak pertama yang gannteeeng kaya oppa-oppa gitu. Masih jomblo loh kak... dari pada sama mas tengil ini, mending sama mas Namu ", Kirana melirik sekilas pada Haidar.

__ADS_1


" Heeeiii... nggak usah jadi makcomblang... sendirinya juga masih jomblo.. ", Haidar mendelik pada Kirana yang tersenyum-senyum menggoda.


" Loh... bukannya dokter Raka ya kakakmu itu ? ".


" Ooh ya... Raka ... dia kakak sepupuku. Mamahnya Raka itu kakaknya papa ", Haidar menjelaskan.


" Oh ", Yulia ber-oh pendek.


" Mba .... masih singgle juga 'kan ? ", tanya Kirana lagi. Dan Yulia menjawab dengan mengangguk serta tersenyum kecil. " Siiiiip.... cocok..... pasti cocok dengan mas Namu.. "


Kirana mengacungkan kedua ibu jarinya dengan kegirangan. Membuat Yulia hanya tersenyum lebar saja. Saat itulah seorang staff Yulia masuk dan berbisik.


" Rana... es kelapa muda, ikan bakar dan pindang serani nya sudah siap .. ayo kita makan dulu ", ajak Yulia dengan ramah.


" Waaah... di kupingku saja sudah terdengar sangat lezat ", Kirana berbinar-binar.


" Ayo semua ... istirahat dulu, kita makan siang bersama-sama dulu. Nanti kita lanjutkan lagi .... ayo....ayo ... semuanya ".


Yulia yang dengan sangat ramah mengajak dan mempersilahkan para tamunya untuk segera beristirahat. Memandu mereka semua menuju kesebuah ruangan yang sepertinya adalah aula kecil dari kantor itu.


Aroma gurih manis ikan bakar serta pedas segar sup ikan yang disebut juga pinang serani itu segera memenuhi Indra penciuman sesaar setelah memasuki ruangan. Ternyata tidak hanya kedua masakan itu saja yang tersedia, sejenis salad khas yang disebut kuluban atau dibeberapa daerah juga terkenal dengan nama urap atau urapan juga tersaji. Ada satu lagi hidangan yang menyita perhatian Kirana selain es kelapa muda yang sudah terlebih dahulu disambarnya.


" Ini nasi apa mba ? ", tanya Kirana dengan penasaran. Hidangan itu berbentuk buliran-buliran seperti nasi, namun terlihat lebih kenyal dan bentuknya lebih bulat daripada buliran nasi.


" Oh ..... ini horok-horok. Khas sekali dari sini, terbuat dari tepung pohon aren, dan mulai langka. Dimakan dengan sup atau bakso cocok sekali. Langsung dimakan pun .... lezat. Cobalah..... baik untuk diet loh ".


" Waaaah.... " sepasang mata Kirana langsung berbinar-binar ceria. " Heeeemmmm..... sedap .... gurih ada manisnya juga ".


Haidar menggeleng kecil melihat tingkah adiknya. Sementara ia pun mulai bersiap mengambil piring dan akan memulai mengisinya dengan nasi, ketika tiba-tiba saja Yulia sudah memberinya sepiring nasi.


" Ah.... terimakasih ", Haidar segera menerimanya. " Cukup.... pas ", ia memberikan isyarat kecil pada Yulia saat dengan isyarat juga wanita itu bertanya, apakah kurang ?.


" Ini sambal kecap dengan ekstra bawang merahnya Bu ". Seorang wanita berpakaian perawat memberikan sebuah mangkuk kecil berisi cairan kental kehitaman dengan potongan bawang merah yang banyak serta irisan tipis cabai rawit.


" Terimakasih ya ", Yulia menerimanya. " Kesukaan mu ..... ".


Haidar kembali tersenyum sambil menerima sodoran mangkuk itu. Dengan sedikit menelan ludahnya, ia pun segera menuang dalam jumlah banyak si sambal hasil olahan fermentasi kedelai itu keatas ikan bakar yang sudah tergeletak manis di piringnya. Perlahan iapun mulai melahap hidangan itu. Sama dengan semua orang yang ada di ruangan itu, semua sangat menikmati menu makan siang yang spesial ini.


Udara pantai yang hangat lembab itu menciptakan suasana keakraban yang juga hangat. Yulia merasa tidak sendirian lagi, ia memiliki seorang teman yang sangat baik. Ia merasa sangat beruntung dengan keadaannya sekarang. Walaupun di luar sana, ada banyak hal yang sebenarnya sungguh sangat dikhawatirkan. Tapi setidaknya saat ini ia bisa tersenyum dengan lega sesaat.


Mungkin hanya Haidar yang mampu membaca susi resah, takut dan juga sedih dari senyuman dan tawa lepas wanita ini. Dan ia tahu, jika ia mempunyai bagian krusial sebagai penyebab dari sisi lain itu. Haidar lalu menuliskan sebuah janji pada hatinya sendiri, janji ..... yang sama dengan lima tahun yang lalu.


Aku melihat diriku telah mengalahkan


Tapi sesungguhnya akulah pecundang itu


Dan aku tak sanggup menerima kemenangan ini


Karena ini telah menyakitimu


Aku hanya pria lemah yang tak punya pendirian


Tapi aku telah dengan jahat membuat mu menangis di sudut ruang itu


Seperti Anyelir yang merunduk tertimpa hujan


Sungguh aku tak mampu lagi menatap mu


Demi Tuhanku aku berjanji


Akan melindungi mu dengan sayap lemahku


Demi kodrat ku sebagai pria


Aku bersumpah, akan membuat mu tersenyum selalu


Saat engkau sudah bahagia.....


Maka saat itulah janjiku terpenuhi


Dan ku lepaskan engkau

__ADS_1


__ADS_2