PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Cinta Itu ..... (3).


__ADS_3

Suasana di kamar itu nampak sangat cantik dan penuh keanggunan. Berhias melati, mawar, sedap malam serta penuh taburan daun adas manis dan juga kenanga. Sementara rangakian bunga-bunga yang penuh dengan warna lembut di vas-vas aneka ukuran juga ikut menambah kesan romantis. Sementara itu, sang putri terlihat sangat cantik dengan untaian melati yang dirangkai menjadi sebentuk kain yang menutupi punggung dan dadanya.


Dialah Aurora Kanaya Cinta, yang kini sedang bersiap untuk prosesi siraman. Duduk menanti dengan sabar, meskipun hatinya sangat berdeba-debar. Ia mengulas senyuman yang sangat manis ketika pintu kamarnya terbuka perlahan. Menampakan dua orang wanita yang datang menghampiri dengan sebuah senyuman lebar.


" Tante Hayu ... mba Sa ... ", gembira Cinta meyambutnya. Kemudian wajahnya makin berbinar ketika melihat sosok remaja cantik yang mengekori dua wanita itu. " Celia ..... ".


" Tante Cinta ... cantik sekali ".  Celia dengan girang melompat dan memeluk Cinta yang masih duduk rapi. " Oh ..oh .. maaf .. ", tapi segera melepaskannya begitu menyadari sikap over antusias itu bisa memicu kekacauan.


" Sudah nggak jetlag lagi nih ... ", goda Cinta.


" Dikit .... dah' sembuh begitu liat tante yang cantik ".


Cinta tertawa dan langsung memeluk keponakan nya yang manis.


" Sudah siap lahir batin sayang ? ", yang bertanya adalah Hayu, anak pertama keluarga Arsenio. Seorang wanita di usia yang sudah melewati umur enam puluh tahun tapi tak menyurutkan kecantikan alami di wajahnya.


" Innsyaalah tante ", jawab Cinta mantap. " Loh ... mas Arya mana mba Sa' ? ".


" Tadi masih bicara dengan Om Juna. Kau ini .... ah kalian ini, aku benar-benar nggak nyangka loh ".


Tentu saja Cinta hanya bisa tertawa saja, ia paham betul apa yang di maksud oleh Sabrina. Ia sudah mulai biasa dengan berbagai ekspresi dan juga komentar penuh nada keterkejutan yang luar biasa , jika sudah memabhas tentang hubungan asmaranya dengan Namu.


" Sebenarnya  tante sudah pernah bercanda dengan mama mu. Waktu itu kau baru lukus dari Leiden, kalau nggak salah si Namu .... baru aja berangkat ke England ", kata Hayu.


" Oh ya .. apa itu tante Hayu ? ", Cinta sepertinya tidak tahan dengan desakan rasa ingin tahu.


" Aku sempat bilang ... Cinta dan Namu koq kaya kaya main petak umpet gitu ya ?


".Gara-gara .. escape-nya kak Namu itu ... aku ... kesal..marah  dan juga sedih sekali saat itu. Kesel' abiz sama kakak .... sempet nangis juga .. sembunyi-sembunyi di kamar ... malu kalau sampai ketahuan ". Cinta tertawa sambil sedikit tertunduk mengingat bagaimana kacaunya dirinya saat itu.


" Jadi udah mulai sadar kalau cinta nih rupanya ? ", sela Sabrina.


" Entahlaah kak .... yang jelas ... aku dengan sengaja nggak telpon kak Namu buat marah-marah, gue cuekin dia... nggak 'say hi' juga walaupun dia pura-pura telpon papa atau mama .... ".


" Yeeeey ... tarik ulur nih ceritanya... tapi kelamaan banget nggak sih  itu ? ", Sabrina menimpali.


" Persis emak dan bapaknya ... ". Selorohan Hayu langsung di sambut dengan tawa.


" Kalau tante Hana dulu 'kan mamh nih yang jadi cupid-nya ... kalau kamu sama Namu ? ".


" He..he..he ... nggak akan nyangka deh pokoknya . Raka yang jadi dewa cinta kami ".


" Hah ?.. ", Sabrina terkaget-kaget sepasang matanya membulat. " Si tengil itu ... bagaimana bisa ? ".


" Loh ... kamu belun tahu to ?. Ya si Raka itu ... yang minta ijin kawin duluan. Hana nggak terima ...buru-buru *'ngungah-ungahi' ** *buat Cinta. Eh ... nggak tahunya ... Raka -nya ngebohong. Tapi yang untung ya Cinta dan Namu .. ".


" Aduh ... gimana ceritanya sih ini ... Haidar cerita katanya ... ", terlihat Sabrina kebingungan.


Cinta tertawa-tawa melihat betapa kebingungannya sang kakak sepupu.  Lalu ia pun mulai menceritak tentang sepak terjang Raka. Adik yang dari dulu dikenal usil, jahil dan nakal justru dengan kebohongan impulsif-nyalah yang bisa segera menyatukan kisah asmaranya dengan Namu. Seperti sebuah katalisator yang juga mensuspensi kekuatan bagi mereka berdua untuk memperjuangkan sebuah cerita cinta.


" Ya ampuuun ..... anak itu. Terus ceweknya nggak marah tuh di fitnes .. tek dung gitu? ". Sabrina penasaran.


" Ardelia .. dia memiliki stok kesabaran yang luar biasa. Baik, cantik, lembut ... dan satu-satunya wanita yang tidak bisa ditinggalkan oleh bocah itu. Satu-satunya wanita .... yang bersikap biasa .. tidak terobsesi pada kutu kupret palyboy itu ".


" Tapi dialah yang memenangkan hati Raka. Membuat bocah nakal itu bertekuk lutut tak berdaya ", sahut Hayu dengan tawa terkembang. Lalu di ikuti oleh derai tawa yang lainnya.


" Sekarang dimana dia ?.. aku tidak melihatnya sejak di luar tadi ".


" Hari ini dia Pengambilan Sumpah untuk Dokter Spesialisnya . Aku sebenanrnya ... merasa bersalah mba Sa, dia ... di acara sepenting itu .. tidak ada pendamping dari keluarga ".


" Oh .... kadang memang ada saat seperti ini Cinta ". Sabrina mengusap punggung sepupunya yang terlihat sedikit murung. " Kita telpon dia sekarang ... apa acaranya sudah selesai ? ".


" Ide bagus mba Sa’.  Celia ... tolong ambilin 'hape tante di meja itu ya “.


Permintaan Cinta langsung disambut dengan cepat oleh remaja yang mengenakan kebaya modern berwarna nila

__ADS_1


dengan sanggul simple itu. Celia yang manis bergerak lincah, sewarna dengan kerlingan matanya yang mempesona.


“ Video call aja ya .. “, kata Cinta mengesakhan, bukan meminta persetujuan.


Kemudian komunikasi itu mulai terhubung, menampilkan dominan warna putih yang awalnya seperti sedang memblocking kamera. Kemudian secara perlahan, berangsur-angsur menampilkan seraut wajah tampan dengan dagu alur jambang keabu-abuan. Senyumannya lebar dengan wajah berbinar, dialah Raka dengan jas putih kebanggaannya. Tertawa lebar dengan latar belakang auditorium yang masih nampak riuh dengan orang-orang yang sibuk mengabadikan moment.


“ Hai … calon pengantin … busyeeet dah !!!... cantik banget. Beneran ni’ elo mbak ? “.


“ Ye … pak dokter tulang belulang .. selamat ya. Gimana hadiah yang ku kirim … seneng ‘kan lo ? “.


“ Pastinya .. eh itu bu dubes ya ?.. tante Hayu juga disitu “.


“ Halo dokter ganteng … “, Sabbrina ikut nimbrung.


“ Ponakan tante yang paling usil … berhasil juga jadi dokter spesialis. Selamat ya … eh mana itu calon nya ? “,


kali ini Hayu yang bertanya.


“ Halo tante ku yang paling cantik dan baik … bentar ya .. “. Kemudian gambar di layer itu nampak blur untuk sesaat karena terpengaruh pergerakan si pembawa.


“ Tante … nih kenalin, Ardelia … psikolog paling cantik di dunia ini “. Raka nampak merangkul dengan sedikit


paksaan seorang gadis cantik  bergaun


warna jingga yang entah kenapa begitu pas untuk gadis berkulit putih itu.


“ Hai … Ardelia .. ini tante nya Raka .. “.


“ Hai Ardelia … salam kenal ya, ini kakak sepupunya Raka “


“ Halo tante Ardelia … aku Celia… “.


“ Halo semua … salam kenal ya  “, gadis beramata sipit itu melambai. Tiba-tiba saja nampak seraut wajah cantik dan manis yang lain ikut memenuhi layer.


“ Tante Hayu ….. mba Sabrina … Celine … “, jerit Kirana dengan riang.


“ Oh Celia…. Halo … sorry ketuker   hi.. hi..hi..“.


“ Loh … kirain di rumah, ikut ke Jogja  juga ternyata ? “.


“ Iya nih mba Sa’ … dapat tugas negara ngawal calon kakak ipar satunya. Biar tidak dianiaya ….. aduh !!! “. Tapi sebuah jitakan di kepala Kirana menghentikan gadis itu memberikan keterangan.


“ Halah !!!!.. fitness lo’ .. “, Raka menyela dengan cepat. “ Mana ada yang tersayang dianiya .. paling di’ena-ena


juga “.


“ Nah kan ‘…. tuh!, gitu tante, mba Sa… berbahaya ‘kan ? “.


Lalu tawa itu pun bersahut-sahutan. Tiba-tiba pintu kamar diketuk, dan menyembulah seraut wajah. Dia adalah ibu Diah, sang perias pengantin dan juga coordinator untuk acara siraman hari itu. Dengan satu isyarat, meminta Cinta untuk bersiap.


“ Sudah dulu ya Raka, Delia, Rana … sampai ketemu besok “. Cinta pun segera mengakhiri panggilan


Cinta pun berdiri, setelah kain yang dikenakannya dirapikan oleh Sabrina, iapun mulai melangkah ke luar kamar dalam bimbingan Hayu. Sementara itu Sabrina dan Celia mengikuti di belakangnya.


Melintasi selasar yang kini berhias cantik aneka bunga, Cinta pun kemudian menuruni tangga yang juga berhias aneka bunga, lalu menuju halaman sampaing rumahnya melalui pintu di ruang keluarga yang kini dibikin gerbang mawar putih. Sementara itu para tamu undangan yang terdiri dari kerabat dekat dan para tetangga yang masuk jajaran ‘poro pini sepuh’** nampak sudah duduk menunggu di halaman samping yang kini sudah berubah sedemikian rupa untuk acara siraman.


Ada satu kejadian hectic saat Mandala dan Arjuna harus berbagi undangan untuk acara siraman siang itu. Tentu


saja mereka harus membagi undangan yang isinya para tetangga yang dituakan dan juga para kerabat. Tetannga mereka dalah orang-orang yang sama, kerabat juga adalah orang-orang yang sama juga. Akhirnya di putuskan unuk benar-benar membagi rata … tidak berebut.


Bahkan untuk menjemput air siraman dari pihak pengantin putri untuk pengantin pria, yang seharusnya juga


dilakukan oleh pihak keluarga pengantin pria. Kali ini Arya dan Sabrina yang akan mengantarnya…. toh mereka juga adalah keluarga pengatin pria ‘kan?. Semua bisa daitur lah…. . Acara siang itu pun dipandu oleg dua orang MC, bilingual version. Menggunakan Bahasa Jawa Kromo Inggil dan Bahasa Indonesia tentunya. Jadi semua bisa memahami dengan sangat gamblang.


“ Mba Cinta … sekarang acara Sungkeman … sebelumnya\, mba Cinta boleh menyampaiakan apa yang dirasakan … juga meminta restu dari Papa dan mama “\, begitu instruksi dari bu Diah sang 'dukun maten'***

__ADS_1


Cinta pun mengangguk setuju. Ia perlahan berjalan dengan cara berjalan dalam posisi jongkok, atau yang dikenal


dengan sebutan ‘mlaku jengkeng’. Menghampiri ayah dan ibunya yang duduk bersanding dan menatapnya penuh dengan cinta. Gadis itu berhenti di tempat yang sudah ditentukan oleh bu Diah. Tanpa melakukan sembahan atau menyatukan kesepuluh jarinya dan menyembah, gadis itu lalu duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.


Cinta terenyum, menatap bergantian pada ayah dan ibunya. Sementara Arjuna dan Hana nampak berkali-kali menarik nafas Panjang, menahan luapan rasa haru yang sepertinya kan segera meledak dari dada mereka. Anak gadis mereka terlihat menggengan erat mic, tersenyum sesaat untuk kemudian memulai bertutur.


“ Assalamu’alaikum wr,wb …. Terimkasih untuk semua hadirin yang telah berkenan hadir pada kesempatan indah kali ini “. Cinta nampak terdiam sejeanak, menarik nafas panjang, untuk kemudian menatap kedua orang tuanya penuh rasa … yang dia sendiri tidak bisa mendefinisikannya.


“ Dua puluh tujuh tahun … bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula … anakmu ini telah sangat merepotkan papa dan mama. Masih lekat dalam ingatan bagaiman ananda berdebat dengan papa, atau bagaimana sikap berapi-api ananda yang membuat mama menangis. Tapi …. Papa dan mama selalu hanya memeluk dan menyayangi … bagaimana pun nakal dan kerasnya ananda … selalu berakhir dengan ciuman lembut “.


Cinta kembali terdiam, menarik nafas panjang dan mulai terlihat air menggenang di kedua boal mata beningnya. Ia


menunduk sesaat, lalu kembali menatap wajah sang ayah.


“ Papa … “.


Arjuna mengangguk mantap, walupun air matanya mulai tak tertahankan. Gadis kecil itu kini telah menjelama menjadi wanita yang sangit cantik. Padahal masih lekat dalam ingatannya, bagaimana gemetaran dirinya ketika pertama kali menggendong bayi merah yang malam itu lahir dengan sedikit huru-hara. Tatapan mat aitu masih sama seperti saat gadis kecil itu sedang memohon untuk sebuah hadiah. Tapi kini … yang diminta adalah sesuatu


yang lebih besar.


“ Maafkanlah semua kenakalan dan sifat buruk Cinta ….. maafkanlah Cinta, Pah … yang tidak lagi menjadikanmu


satu-satunya pria tercinta di hidup ini .. “.


Terdengar sedikt riuh tawa para hadirin. Sementara itu Arjuna pun juga tertawa kecil sambal sekilas menyusut air matanya.


“ Ya nak … tidak apa-apa “, jawab Arjuna kemudian


“ Mama …. “, kali ini Cinta langsung menatap mama nya yang berekspresi tak jauh berbeda dengan sang papa. “


Kau wanita terhebat, wanita tertangguh yang tak pernah menyerah dengan sifat keras kepala ku. Terimaksih telah melahirkan dan membesarkan ku. Ijinkalah …..aku… untuk tetap menjadi …. anak kecilmu yang bisa bemanja kapan saja … sampai kapan pun …. “. Dan air mata Cinta pun luruh perlahan, berderai-derai walaupun tanpa isakan. Membuat bu Diah segera turun tangan dengan cepat menyusut dengan kertas tissue yang lembut.


Pemandangan tak berbeda nampak pada Hana, yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Wanita itu benar-benar tak bisa bertahan, walaupun suaminya kini me-remas dengan erat jari jemarinya.


“ Papa.. mama… ananda mohon ampunan atas segala salah dan khilaf, ananda mohon doa restu dari mama dan papa… untuk ananda memulai hidup yang baru …. nanti.. “.


Maka pecahlah semua isak tangis yang sebenarnya sudah merembes sedari tadi. Arjuna membelai punggung putrinya lalu mengangkat wajah cantik itu dan menciuminya berubi-tubi. Kemdian Cinta melanjutkan acar sungkeman itu pada sang mama. Hana pun tak jauh berbeda dengan suaminya, apa lagi Cinta begitu lama menenggelamkan diri di pangkuan sang ibu ini.


Sekarang Cinta sudah duduk dengan cantik disebuah kursi dan menerima guyuran pertama dengan air bertabur kembang tujuh rupa yang dilakukan oleh sang ayah. Di susul kemudian oleh Hana ibunya, yang berkali-kali menciumi wajah putrinya ini. Seperti sedang mengenang cerita indah dua dekade lalu. Saat memandikan gadis kecil yang sibuk berceloteh dengan riang. Yang menolak untuk segera menuntaskan mandinya, justry sibuk bermain dengan sang ayah yang juga ikut berendam di bath tube.


" Kita masih mau naik kapal selam ya papa ? ", celoteh Cinta kecil  dengan riang, terngiang-ngiang dengan sangat jelas.


Hana dan Arjuna berkali-kali saling beradun pandang. Seolah sedang memastikan bahwa mereka sedang mengulang kisah yang sama. lalu saling tersenyum, berbagi bahagia dan juga saling menguatkan untuk dentaman rasa haru yang mendesak.


Acara siraman itu dilanjutakan dengan dipecahkannya sebuah kendi berisi air kembang oleh Arjuna. Pria itu nampak terbata-bata saat mengucapakan kalimat dalam bahasa Jawa sebelum ia menjatuhkan kendi itu di hadapan Cinta.


" Niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku Aurora Kanaya Cinta ”. Pemecahan kendi tersebut menjadi simbol pecahlah pamor sang anak sebagai wanita dewasa dan memancarlah sina pesonanya.


Selajutnya acara dialjutakan dengan prosesi 'potong rikmo'  atau memtong sedikit rambut sang calon mempelai. Dengan maksud untuk memotong atu mebuang semua hal negatif atau keburukan yang masih tersisa.  Setelah semua selesai, prosesi siraman adat Jawa akan diakhiri dengan sang ayah menggendong calon mempelai wanita menuju kamar.


" Lihat ... papa masih cukup kuat menggendong mu bukan  ? . tapi untuk naik tangga ... nggak janji ya.... ", Canda Arjuna dan membuat Cinta tertawa-tawa.


Begitulah salah  satu prosesi pernikahan adat Jawa ini melambangkan betapa kasih sayang orang tua senantiasa mengiringi anaknya sampai detik terakhir menjelang lembaran baru dalam kehidupan sang anak. Memperlihatkan sebuah ikatan abadi termurni atas dasar kasih sayang sejati. Betapa ayah dan ibu ... menyayangimu nak.


 


 


 


 


**************************************************


** poro pinisepu   = yang dituakan atau para sesepuh

__ADS_1


*** ngungah-ungahi  = kondisi dimana pihak perempuan melamar pihak laki-laki terlebih dahulu


**** dukun manten   = perias penganten adat Jawa Tengah\, Yogyakarta


__ADS_2