PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merangkai Rasa Menjembatani Cinta (3)


__ADS_3

Kamar itu seperti etalase untuk kuntum-kuntum mawar yang di susun rapi. Berderet cukup panjang, dari yang hanya berjumlah satu, dua tangkai, lalu menjadi belasan dan puluhan. Hanin kembali memandanginya satu persatu, menyentuh perlahan dan membaca setiap pesan yang ada berserta kuntum merah itu.


Aku merindukan wangi segar aromamu


yang mengingatkan untuk pulang.


Aku juga tak pernah bisa melupakan


Gemulai ayunan kelopak mu yang putih suci.


Bahkan tawa ceriamu tak pernah berhenti terngiang.


Saat ku pejamkan mata.....


Maka kurasakan engkau semakin kuat menarikku dalam khayalan.


Sepanjang waktu, ku lukis indah mu dengan sapuan kuas rindu.


Selama itu pula mengalun doa agar aku bisa kembali menatap mu.


Anggrek Bulan dalam rimba hatiku ......


(Ku tuliskan tentang rindu itu saat pertama tiba di tempat ini. Sambil memikirkan bagaimana cara untuk menemuimu. Di  27 hari menggapai cinta mu)


Si cantik yang memendarkan cahaya mentari dengan bias kemilau yang lembut.


Berjalan membelah keramaian dengan kaki kecilnya, seperti putri angin timur yang melompat dengan ringan.


Saat ia tersenyum, seolah-olah dunia pun ikut merasa bahagia.


Putri yang bersinar dengan kilaun yang menelusup perlahan,


menyentuh hati seseorang yang kini termenung tak percaya.


Aku adalah seorang pria yang hanya mampu diam terpaku.


Yang  terbungkam oleh rasa kagetnya sendiri.


Ataukah sang waktu dan sang ruang yang belum memberinya kesempatan.


Saat tanganku yang ragu mulai terulur ...... ternyata, aku telah kehilangan kembali.


" Hanin .... Hanania ..... ",


Dan sepasang mata kelamku pun menjadi sendu.


Sepasang tanganku pun mengepal erat, meredam perasaan yang berkecamuk.


Aku ingin berlari mengejar ... tapi bumi memaku ku dengan rasa sakit yang tidak dimengerti.


Hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Akulah sang pria yang terhempas dengan kecewanya


(Kesalahpahaman ku tentang air mata yang kau teteskan. Ku kira aku telah kehilangan dirimu. Di 28 hari menggapai cintamu )


" Aku berangkat ya .... jangan nangis lagi. Kalau ada yang menganggu mu lagi... bilang saja. Aku akan menghajarnya ".  Suara yang berat dan khas itu masih terngiang hangat memenuhi gendang telinganya. Itulah Saat pertamakali sang pengirim ratusan kuntum bunga ini memberikan pelukan hangat yang sangat melenakan.


Dan semenjak hari itu, hidupnya yang sempat terkubang dalam kelam dan kesedihan mulai berubah perlahan. Seperti ada suara gemerincing lonceng yang menemani semilir angin harum menyenangkan. Membuat ia mulai menantikan hari Jumat sore. Menunggu kereta dari Heidelbergh yang membawa sosok nyaman menyenangkan itu.


" Kau mencuri ciuman pertamaku !!! ". Dan Hanin menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bergidig karena malu, mengingat bagaimana ia menjerit kecil saat itu. Dan dia, si gagah itu justru terlihat sangat bahagia menatap dan memegang kedua pundaknya.


Hanin menggeleng-gelengkan kepalanya berakali-kali, berharap semua bayangan itu akan sirna seperti koyaknya citra diatas air tenang karena sentuhan. Tapi percuma saja. sepertinya setiap neuron di tubuhnya telah mengingat memori itu dengan sangat sempurna.


" Aku akan menjadi suami mu ". Dan mata yang indah itu mengungkungnya dalam kelembutan melenakan.


" Enak saja !!!... kenapa kau yang memutuskan hidupku. Memang kau siapa ? ". Hanin tertaw, tepatnya menertawai dirinya sendiri yang menjerit seperti itu, tapi tanpa melepasakan diri dari Haidar. Dasar bodoh !!!!


" I luve you ... so much. Will you marry me ? ".

__ADS_1


" Huaaaa....... Ku pasti sedang menghiburku saja ... aku benci. Sejak dulu kau selalu begitu ".


" Karena aku sudah mencintai mu sejak dulu. Kau pikir .... apa sebanya Dave' ku tinju ?. Lalu dulu ... kenapa aku selalu menikmati hari jumat dan sabtu sore di kantin kantor ?.  Pertimbangkan aku ... untuk menjadi suami mu. Beri kesempatan untukku membuatmu jatuh cinta .... padaku ... ".


Dan semenjak hari itu ........ sudah terlalui dua puluh sembilan hari tanpa mendengar suara berat yang khas dan selalu berhasil membuat hatinya menghangat seketika.


' Kau !!!! bodoh .... bagaimana mungkin kau pikir cukup hanya dengan sekedar mengirim kuntuman-kuntuman bunga itu saja ?!. Padahal kau ingin hatiku,mas .... tapi sama sekali kau tak menelponku. Kau pikir aku cewek gampangan apa ?....  cuma pake kiriman bunga tiap hari aja. Cih !!!..... nggak lah ya'.


Hanin menghempaskan diri di sofa ruangan yang terasa sendu ini. Ketika tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di pintu depan.


" Ya ", serunya.


" Ini kami Hanin ". Terdengar suara yang lembut dari luar sana. Ia cukup mengenal suara itu. Astaga.....


" Mba Cinta, ya ampun ... ".


Dia pun segera melonjak dari duduknya, melesat dengan cepat dan membukakan pintu. Nampaklah dua wajah sumringah di hadapannya kini. Namu dan Cinta berdiri dengan senyuman mengembang.


" Ta Da.... surprie... mawar ke-29  ", Cinta menyodorkan kuntuman besar itu tepat di hadapannya. " Teriring permohonan maaf dari sang pangeran yang sedang kasmaran, karena ia bakal tak bisa datang tepat waktu. Masih sibyuuuk di Indo ".


" Ah terimaksih, ayo masuk dulu mba, mas ".


" Maaf Nania ... sepertinya kita harus menolaknya. Ada janji makan malam dengan koleganya abang suami, malam ini ".


" Yah ... ", Hanin kecewa.


" Sebagai gantinya, besok malam kamu akan jadi undangan spesial buat kami. Datang ya ... ". Kali ini Namu yang memberikan sebuah undangan yang sangat elegan berwarna hitam dengan golden printing dan berbau wangi nan lembut.


" Kau harus datang ya ",  Cinta tersenyum namun menegaskan permintaaanya. " Kau tamu istimewa, jangan berangkat sendiri. Ada yang akan menjemputmu nanti. Eits... nggak boleh nolak ".


Belumlah lagi Hanin menyampaikan keterkejutannya dan juga keberatannya, tiba-tiba saja Cinta sudah mengulurkan sebuah kotak berwarna abu-abu dengan pita ungu sebagai hiasannya.


" Ini wajib dipakai ya .... biar seragam, biar kembaran dengan yang lain ya ".


" Okey Nania ?. Sekarang kita pamit duluan ya ", sambung Namu cepat.


Hanin masih tak bisa berkata-kata, karena benar-benar kebingungan. Cinta memeluknya dengan erat sambil membisikan kata-kata yang membuatnya semakin diayun oleh angin kebingungan.


Hanin masih diam sambil melambaikan tangan dengan pandangan mata yang kosong, sementara dua sejoli pasangan Cinta dan Namu sudah beberapa detik lalu menghilang dengan kendaran mereka. Ia merasakan berdiri diantara gemintang dan berenang di lautan debu kosmik cincin saturnus. Merasa sangat ... entahlah.


' Mas !!!!, apakah begitu susah untuk sekedar menelpon ku. Kau rela berpayah-payah dari Indonesia untuk mencariku, berkereta setiap Jumat sore dan minggu pagi, pernah tertinngal juga gara-gara ciuman pertama kita. Lalu .....  kau menghilang begitu saja. Pulang ke Indo nggak pamitan, nggak telpon sama sekali. Mas Haidar.... kau itu jahat !!!!!!. Kau menyiksaku ..... '.


Dan gadis itu berbalik dengan cepat, dengan wajah kusut dan kesal. Menendang pot bunga yang tak bersalah di depan pintu ruang security.


" Auch ... ", Hanin meringis nyeri.


" Kenapa Hanin ?. Kau tersandung ", seraut wajah ramah menyembul keluar dari ruangan dan memperhatikannya yang tengah mendesis kesakitan.


" Iya.... tapi tidak apa-apa tuan, aku baik-baik saja. Selamat malam ... ". Dan dia melambaikan tangan sambil berusaha tersenyum manis pada bapak penjaga itu. Tapi hatinya menggerutru berkepanjangan.


' Aku benci kamu, mas!!!!!. Kau menyiksaku ... aku rindu padamu '


..................................................


Haidar mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim, sementara ia pun mendapatkan belaian di rambutnya yang lebat. Malam ini, dengan sengaja ia mengunjungi bu Firman di rumah kediaman wanita itu. Rumah yang harum dengan aroma wangi manis lezat, khas kue yang sedang di panggang.


" Lebih baik kau minta restu dari bu Firman, seandainya Nania menolakmu paling tidak ibunya merestui. Pasti akan ada jalan lain untuk mu ".


Dan disinilah dia sekarang, menuruti nasehat mama Orlin yang cantik dan baik hati. Satu restu dari surga di dunia sudah diterimanya, kini ia berharap untuk satu restu lagi. Di rumah keluarga Firmansyah, dimana tidak hanya ibunda si cantik itu yang sedang menyambutnya, tapi juga kak Narila yang ikut menyambutnya.


" Waaah.... serius ?. Aku tidak sedang mimpi'kan ? ". Narila beberapa jam yang lalu masih ternganga tak percaya. Saat Haidar meneceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Hanin Hanania.


" Tapi kau sudah tahu cerita dia dengan David ? ".


" Ternyata kau juga sudah tahu 'mba ?. Ku pikir Na' merahasiaknnya dari mu dan ibu ".


" Dia memang merahasiakannya dari kami. Tapi aku berhasil tahu alasan yang sebenrnya. Kau tahu ... seoarang sahabat baiknya menceritakan semua. Tapi... aku memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Karena aku mengerti betul anak itu ".


" Kami sempat beradu hantam ...aku dengan David ".

__ADS_1


" Oh ya ?. Kenapa tidak kau bunuh saja sekalian ". Sepasang mata Narila berkilat. " Eh jangan ding ... nanti malah Na' kehilangan kamu juga. Balas dendam yang indah adalah dengan kesuksesan. Kesuksesan mendapat yang berlipat baiknya ... seperti mu contohnya ".


" Ha..ha..ha..ha... ", dan ia sungguh tak bisa menahan tawa mendengar semua yang diucapakan kakak si cantik ini.


" Tapi ibu... cukup tahu kalau Na' dan Dave sudah tidak bersama saja. Lain tidak!!!, okey brother ?".


" Siaaap kakak ....".


Bu Firman atau yang juga dipanggil dengan bu Rury itu, terlihat tersenyum bahagia sambil menggandeng tangan pemuda yang sangat menjulang itu. Membuatnya harus sedikit menengadah saat mereka masih berbincang sambil berjalan.


" Duduklah nak, kau tinggi sekali. Sini dekat ibu ".


Haidar menuruti, duduk dengan nyaman di sebelah sang calon....ehm semoga, calon ibu mertua.


" Kau dulu pertama kali ke rumah ini, kau meminta barter. Meminta tukeran adek, Kirana yang baru berumur dua minggu ditukar dengan Nania yang sudah hampir tiga bulan. Katanya karena lebih putih dan sudah bisa bunyi .... ha..ha..ha.. ada-ada saja ".


" Iya 'kah ?. Berarti memang sudah mempesonaku sejak bayi ya,ibu ".


" Mungkin .... ah, Narila sudah cerita sedikit tadi. Ibu ... rasanya seperti kejatuhan rembulan nak ".


" Tapi si cantik itu belum menerimaku, ibu. Karenanya aku datang kesini untuk meminta restu dari ibu. Semoga niatku ini, untuk mengikat hati kami dalam pernikahan suci.... bisa terkabulkan. Semoga Nania, mau menerima cintaku,bu. Aku mohon doa restu dari mu ".


" Kalau ini lamaran resmi, jawaban ibu pasti 'iya'. Tapi kau masih dengan sabar menunggu anak itu membukakan hatinya untukmu ya ?".


Haidar mengangguk, mengiyakan. Tentu saja dengan sebuah senyuman lebar yang terkembang.


" Pesan ibu, jangan mudah menyerah. Jika saat nanti dia belum bisa menerimamu..... bertahanlah dengan ketulusanmu yang sesabar tetesan air di langit-langit goa, membentuk gugusan stalaktit yang kuat. Segigih air laut yang membelai karang hingga terkikis. Kau tahu nak, wanita itu adalah tulang iga yang tersempal dari dirimu.... dia bengkok, sehingga tak bisa dipaksa. Dia juga rapuh, jadi harus kau jaga. Mungkin kau terkesan seperti kalah, tapi sesungguhnya.... saat kau berhasil mengalahkannya dengan memahkotainya kemenangan, saat itulah sang wanita menjadikanmu raja di hatinya ".


**Cinta itu ......... **


Berbatas tipis dengan benci


Terkadang keduanya malah saling bergandengan


Seperti dengan sengaja mengacaukan hati


Cinta itu .......


Tidak ada matematika yanng mampu menghitung prosentase kemungkinannya


Tidak ada Fisika yang mampu menentukan arah momentumnya


Tidak ada Kimia yang bisa menghentikan laju reaksinya


Cinta itu ....


Terkadang waktu pun bisa salah membuat perkiraan


***Karena cinta ... ia bernafas dengan nyawa nya sendiri  ***


.......................................................


Dua puluh sembilan mawar di hari ke-dua puluh sembilan


Sang Nararindu


Tak berlebihan jika menyebutmu begitu


Karena hatiku terus menyeru memanggil namamu


Mungkin aku berada jauh diseberang benua


Dimana samudra raya pun ikut membuat jarak untuk kita


Tapi senyumanmu tak pernah pergi dari pelupuk mataku


Tetaplah menjadi yang kurindu 


Walaupun ada saatnya nanti akan berlabuh

__ADS_1


Kuharapkan akulah muaranya


Sang Nararindu yang kutunggu


__ADS_2