
Pada akhirnya, semua menyadari satu hal yang perlahan berkembang menjadi sesuatu seperti kuntum bunga yang mulai merekah. Wajah bahagia Haidar benar-benar tidak tersamarkan, dan pria itu juga sama sekali tidak berusaha menyembunyikan atau menutupinya . Wangi bahagia perasaan pria itu benar-benar menguar bersama udara disekitarnya, sehingga orang lain pun mampu membauinya.
" Assalamualaikum ... ", sapa Haidar saat memasuki living room rumah sepupunya.
" Wa'alaikumsalam ", jawab Sabina dan Arya bersamaan.
" Pasti sudah makan malam ", tebak Sabina, yang dijawab dengan sebuah cengiran berarti 'iya' oleh Haidar.
" Sama Nania ... Hanin ", sambung Haidar kemudian.
" Dar ... ".
" Ya mas ".
" Bisa duduk sebentar, ada yang ingin mas tanyakan ".
Haidar beranjak mendekat dan duduk di ujung sofa seraya meletakkan tas punggung yang disandangnya.
" Sudah ada rencana untuk pulang ke Indo ...kamu tidak mungkin melewatkan pernikahan Cinta dan kakak mu 'kan? ". Arya langsung bertanya serius begitu Haidar duduk dan bersandar.
" Sudah mas... aku tetap pulang, setidaknya bisa ikut nungguin pas ijab-kabul. Kalau resepsi ... mungkin lewat. Kantor baru tidak bisa lama-lama ku tinggal ".
" Kau pulang ... ehm, kau ajak pulang juga Hanin ?", sambung Sabina.
" Ku ajak pulang ... tapi sepertinya dia tidak bisa. Dan lagi ... aku juga tidak lama kok. Pulang Kamis, Sabtu malam sudah berangkat lagi ".
" Kalau begitu ... biar hari Sabtu sampai Senin , Hanin menginap disini. Rama dan Celia tidak bisa ikut, mereka ada event di sekolah yang tidak bisa ditinggal ", kata Sabina lagi .
" Oh.... begitu ya ".
" Kenapa ? ... kau menyesal, atau iri dengan dua keponakan mu itu ? ". Jelas ini adalah pertanyaan jebakan. Lihatlah Sabina dan suaminya yang tersenyum-senyum simpul itu.
" Bagaimana perkembangan hubungan kalian ? ". Dan Arya pun to the point.
" Pelan-pelan ngapa' mas... biar aku puas nggodain dia ", protes Sabina.
Haidar tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Menghadapi pasangan dubes yang aslinya gokil abis. Seperinya karma itu sudah mulai menghampirinya.
" Baru juga satu bulan ... belum ada lima-enam kali baru bertemu. Terlalu jauh untuk membina sebuah hubungan ". Maksud Haidar tentu sebuah hubungan cinta. " Kentara banget gitu ya.... sinar mataku yang penuh cinta ini ? "
" Heeemh ... ", Sabina mencibir.
" Setiap weekend kau pulang, lalu seharian menghilang .... kemana lagi kalau bukan dengan Hanin. Beberapa staff ku ... melihat kalian, di rumah sakit, di supermarket... juga ..di cafe tempat Hanin bekerja ". Arya mencecar Haidar.
" Kami tidak melarang mu, itu hakmu dan kau juga sudah dewasa. Pesan kami hanya satu ... jangan permainkan hati yang baru saja menyatu itu... ya ", Sabina menimpali sambil menatap adik sepupunya dengan tatapan bersungguh-sungguh.
" Hanin..... dia... terlalu sulit untuk mendekat pada hatinya. Aku masih diluar pagar ... masih mencoba menarik perhatiannya. Ia .... hanya menerima ku sebagai kakak ".
" Oh ya? tapi kau kelihatan sangat bahagia.... seperti seorang pemuda yang kasmaran "
" Memang aku kasmaran mba .... tapi tidak dengan Hanin, dia masih melihatku sebagai big brother ... kakaknya Kirana, teman masa kecilnya ".
__ADS_1
" Bukan tidak, Dar .... tapi belum. Kau hanya perlu bersabar dan memperlihatkan ketulusan, itu saja ". Kali ini Arya yang menambahkan.
" Heeem.... keluar deh jurus andalannya ". Sabina menyikut pinggang suaminya perlahan.
" Loh ... iya dong, ilmu yang bermanfaat itu harus dibagi. Nyatanya.... aku sukses 'kan dapetin nona muda keluarga Arsenio. Nggak usah pake bawa-bawa perusahaan besar. Cukup bawa perhatian kecil berbalut ketulusan..... langsung terkinthil-kinthil ... he.. he...he... ".
" Waah ... aku nanti private lesson ya mas ", Haidar berseloroh penuh semangat. " Ada lagi yang mau dibicarakan ? ... kalau nggak aku mau mandi, terus istirahat ".
" Jadi lupa 'kan. Tolong kamu bilang sama Hanin ya. Yang tadi .... aku juga nanti telpon dia. Tapi kamu langsung, ya.... biar ada alasan ketemuan 'kan ? ".
" Ha..ha..ha... that's it ... I like it. Siiiap mba ... apa sih yang nggak buat mba ku tersayang ini ".
Sabina hanya mencibir saja yang di sambut oleh ledakan tawa oleh Haidar. Pria itupun kemudian berpamitan dan segera berlari kecil menyusuri tangga dan menempatkan dirinya dengan nyaman di bawah guyuran air hangat, segera setelah memasuki kamar. Menyegarkan diri dan mengisi ulang tenaga, mempersiapan cerita indah yang akan diukirnya esok hari.
Sementara itu di bawah naungan langit yang sama, dalam bentangan cakrawala yang mulai mengitam karena matahari sudah terhalang sinanrnya. Hanin Hanania baru saja menyeduh coklat panas untuk dirinya sendiri. Sambil mengeringkan rambutnya yang terlihat menjuntai hingga melewati bahu. Ia meraih sebuah buku bersampul colkat dengan corak leaf print nan manis. Membuka lembar demi lembar perlahan, mengamati satu persatu coretan tangan. lalu tersenyum-senyum sendiri.
Sampul buku itu tertulis .... 'DREAM'. Yang sudah menemaninya hampir separuh usianya, atau nyaris dua windu. Menjadi media semua khayalan daan mimpinya, setidaknya tidak akan ada orang yang menertawakannya saat ia sedang mengungkapkan semua yang sangat diimpikannya. Termasuk dia menulis sebuah kata pada halaman pertama buku itu ... 'Bapak'
....................................
Pasti senang sekali punya seorang bapak seperti teman-teman lainnya. Kalau hari hujan ada yang menjemputmu sepulang sekolah. Kata Selfi, aku bisa punya bapak kalau ibuku menikah lagi. Tapi kata Bayu, itu namanya bapak tiri, dan biasanya jahat, karena ia hanya akan sayang dengan ibu mu saja.
Hanin tersenyum dan kembali membuka halaman, demi halaman. Membaca sepintas, tapi terkadang juga membacanya penuh perhatian. Seolah menyerap informasi perasaannya saat sedang menulis semua hal itu.
...................................
Kata ibu, bapak dan ibu Mandala boleh menganggap mereka seperti ayah dan ibu ku sendiri. Tapi kata ibu lagi, aku tidak boleh terlalu bermanja kepada mereka. Tapi Kirana dan kak Cinta baik sekali, tidak seperti teh' Raya yang galak.....
......... tapi aku tetep sayang teh' Raya kok. Punya kakak laki-laki seperti Kirana pasti menyenangkan sekali ya. Satu kakak laki-laki saja sudah cukup untukku. Yang seperti kak Namu boleh, yang seperti kak Haidar juga boleh. Oh ya, kalau kak Namu itu terlalu pendiam, kak Haidar lebih lucu. Tapi keduanya sama-sama menynangkan. Kalau punya dua kakak lelaki seperti itu.... mungkin aku tidak ingin bapak lagi.
Kali ini ia melewati beberapa halaman dengan cepat, hingga ia terpaku pada sebuah foto. Seorang gadis kecil dengan satu gigi tengah yang tanggal, nampak tersenyum lebar. Sementara dalam dekapannya nampak sebuah piala dengan pita merah putih, tampak cantik secantik yang membawa. Di depannya, diatas sebuah meja kecil terlihat puding dengan bentuk kelinci dengan garnis aneka manisan.
.......Princes Of Puding....
Begitu Hanin menuliskan, dengan tinta hitam yang memagari tinta emas. Hari itu adalah titik balik untuk dirinya, gadis kecil yang menemukan cita-citanya. Lalu dengan pasti semua yang terjadi padanya, mengarah pada mahkota seorang juru masak yang berbakat dan selalu menambahkan bumbu penuh cinta di setiap masakannya.
...... Congratulation for join with Germany Ausbildung ....
Demikain menandai sebuah foto tiga orang wanita beda usia yang tengah tertawa lebar. Itu adalah ibu dan kakaknya, mengapit dirinya yang nampak ceria. Ini adalah titik awal dari sebuah loncatan besar untuk impiannya. Akhirnya langkah untuk yang membawanya untuk semakin dekat dengan impian, semakin terarah dan pasti.
Lembar-lembar berikutnya.... berisi tentang foto-foto kenangannya dua hingga tiga tahun terakhir. Ia yang tertawa ceria bersama teman sesama siswa ausbildung, atau candid camera yang memperlihtakan betapa serius dirinya mengikuti pelajaran atau bekerja dibawah arahan para koki terkenal. Hanin tersenyum-senyum menatap wajah-wajah yang sebagian besar kini sudah pulang kembali ke tanah air. Hanya ada satu, dua wajah yang masih menetap disini. Mereka semua adalah kawan, yang mendukung dan saling menopang seperti matriks tulang rawan yang akhirnya membentuk susunan tulang padat. Tertawa, menangis bersama, berdiri dan mendukung saling menguatkan. Begitu jalinan persahabatannya tercipta, dan Hanin menyentuhkan ujung jemarinya perlahan pada wajah-wajah ... yang mulai ia rindukan.
' Ting - tong.... ting tong...'. Itu adalah suara klasik dari bel di flatnya. Membuat Hanin teralih, menatap pada arah pintu yang masih tertutup. Tapi belum lah lagi ia beranjak dari duduknya.
' Niiiit ... jglek! ', suara beruntun itu begitu dikenalnya. Bulu kuduknya meremang... ia menatap nanar pada arah pintu, lalu berjalan melesat cepat menghampirinya. Sambil terus merutuki dirinya sendiri yang terus-terusan lupa untuk mengganti kode aksesnya, hingga akhirnya ia terlupa. Satu tahun lebih menyepelekannya... kau begitu ceroboh.
Dan ia tidak mau berspekulasi lagi tentang siapa yang kini sudah membuka pintu flatnya. Febi, Tuan dan nyonya Hover.... lalu .....
" Apakabar Hanin.... ku harap aku tidak mengganggu mu ".
Dia, berdiri disana dengan wajah yang sangat ingin dilupaknnya. Dia tersenyum, tapi istri perutnya terasa teraduk-aduk melihat tarikan sempurna dari dua ujung garis bibir itu. Saat sosok itu perlahan mendekat, Hanin pun refleks memundurkan dirinya. Seluruh cadangan oksigen di ruangan ini terasa begitu menipis, ia sesak.
" Hanin... aku tahu rasa bencimu padaku. Tapi ..... ada hal yang ingin kuminta darimu. Boleh kah aku duduk sebentar ? ".
__ADS_1
Hanin merasa lantai yang dia pijak langsung berubah menjadi seperti puding kebanggaan buatannya, ia mulai terhuyung. Seperti seorang gadis lugu yang dicekoki arak, kepalanya pusing, telinganya berdenging, tubuhnya ringan tak berbobot yang membuatnya terhuyung, sementara perutnya serasa teraduk-aduk.
" Hanin... kau sakit ? ". Sosok itu perlahan mulai maju mendekat.
" Stop !!!.... berhenti di sana ", ia menyentak sambil menahan udara dengan hentakan telapak tangannya. ' Untuk apa kau datang lagi ? belum cukupkah ? ', desisnya dalam diam menahan gejolak di perutnya yang mulai merangkak naik hingga ke tenggorokan.
" Maafkan ... aku Hanin ".
" Pergilah ... aku sudah memaafkanmu ... ". Bahkan Hanin berteriak.
" Hanin... aku ingin ... sekali lagi mendengar ..... tolong beri kesempatan ". Tapi sosok itu tidak memperdulikan, ia justru perlahan maju mendekat.
" Sudahlah ..... aku mohon.... pergilah.... kita jalani hidup ini masing. Tidak ada dendam.... kita awali lagi semua ... sendiri-sendiri... biarkan aku dengan hidup ku ". Dan Hanin semakin tidak tahan dengan rasa mualnya, ia pun mundur terhuyung-huyung.
" Hanin... kau sakit ... ? ".
Hanin sungguh-sungguh tidak memperdulikan lagi denagna wajah khawatir yang menatapnya penuh ketulusan murni itu, ia terlalu sibuk mengatasi dirinya. Berbalik dengan cepat dan berlari dengan membekap mulutnya sendiri. Tidak memperdulikan bagaimana sosok itu mengikutinya dengan rau wajah sangat khawatir.
" Hueeeekk...... huuueek ". Semua makan malam itu tertumpah kembali. Hanin berpegang erat pada bibir closet. Bahunya terguncang hebat, ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Hingga cairan kuning yang terasa pahit itupun ikut keluar.
" Hanin... kau sakit ".
Seketika Hanin tersentak, sentuhan di pundaknya membuat bulu kuduknya meremang. Dengan satu gerakan cepat ia menepis dan berdiri menjauh. Wajah dan hidungnya memerah, sementara sepasang matanya berkaca-kaca. Ia menggigil, bibirnya gemetaran.
" Kau ! .... masih berani kau datang ?.... pergi brengsek!!!! ". Tuan Hover sudah berdiri diambang pintu dengan sebuah tongkat base ball di tangannya. Pria paruh baya itu menatap penuh amarah.
" Beraninya kau Dave .... menjauh !!! ". Hardiknya kembali.
" Tuan Hover ... aku ... aku minta maaf... aku hanya ", dia, Dave .... beringsut perlahan. " Aku hanya ingin bertemu Hanin .... sekali lagi saja ... "
" Kau pikir masih pantas ? !! ", dan Tuan Hover mulai mengancam dengan tongkat base ball nya. Tiba-tiba seorang wanita dengan rambut pirang yang mulai berwarna keemasan yang mulai nampak beruban datang menghampiri. Dia adalah nyonya Hover yang tergopoh-gopoh mengikuti suaminya.
" Dave .... pergilah dulu. Aku akan berbicara dengan mu .... nanti. Pergilah !!!! ".
Satu sentakan tegas dari wanita paruh baya yang baru saja muncul itu membuat David akhirnya beranjak pergi. Wajah pemuda itu menggurakan rasa sedih, khawatir dan juga rasa bersalah yang begitu besar. Tapi ia akhirnya membalikan badan dan berjalan menuju pintu keluar kamar mandi di kamar Hanin itu.
" Baik nyonya .... aku pergi .... aku menunggumu. Sungguh aku tidak bermaksud membuat kekacauan ini ".
" Sudahlah ... pergi dulu. Kau tidak dengar ya ", kali ini tuan Hover yang kembali menggertak.
Sementara itu nyonya Hover memeluk Hanin, membantu gadis itu membersihkan diri. Lalu membawanya untuk keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi living room dengan nyaman. Memberikan pelukan hangat, sementara suaminya mengambilkan segelas air mineral.
" Maafkan aku sayang .... aku terlambat menyadari kehadirannya ", kata tuan Hover sambil memberikan segelas air itu pada Hanin.
" Terimakasih tuan... ", Hanin menerimanya, dan langsung menghabiskan setengah isi gelas itu. " Aku yang salah ... akan segera ku ganti pass code nya ".
" Sayang .... kau pasti sangat ketakutan ... ", Nyonya Hover membelai-belai punggung Hanin berusaha memberikan rasa nyaman.
" Honey, apa benar kau perlu menemui si brengsek itu ? ", Tuan Hover terlihat gusar dan tidak menyetujui isttrinya.
" Tentu saja ... harus ku pastikan dia tidak menganggu Hanin kita lagi. Dan .... kita harus tahu apa tujuannya kesini. kau tidak keberatan kan sayang ?. Serahkan semuanya padaku ". Nyonnya Hover membelai rambut Hanin dan menatap wajah gadis itu demi mendapatkan sebuah persetujuan.
Hanin menghela nafas panjang, perlahan ia mengangguk. Tapi ada rasa khawatir dan nyeri yang menyerang ulu hatinya. Bagaimanapaun dia harus berjuang sendiri, mengalahkan rasa takut, rasa marah dan benci berbalut kecewa yang membuatnya trauma. Dia ..... tidak boleh kalah oleh semua perasaan beracun itu.
__ADS_1