
Mengambil waktu rehat dua hari, siangnya Haidar justru memilih menganggu para kakak dengan kunjungan makan siangnya. Kini ia sedang mengetuk pintu ruangan tempat Cinta bekerja. Setelah terlebih dahulu ia menyabotase paket makan siang yang dibawa tukang ojek online. Tentu saja dengan memberikan bayaran lebih. Ia juga meminta si mba Dewi asistennya Cinta untuk berahasia dengannya.
" Ya ... masuk ", sahut suara dari dalam.
Haidar nyengir dan membuat tanda 'nice' dengan membuat lingkaran menggunakan tautan ujung ibu jari dan jari telunjuknya. Yang kemudian dibalas juga dengan hal sama oleh Dewi. Kemudian Haidar membuka pintu itu perlahan.
" Pesenannya mba ..... ".
Sontak wanita muda yang masih asyik mengamati layar laptopnya langsung mengalihkan pandangan. Keterkejutan itu berubah menjadi sebuah senyuman lebar.
" Heeeeiiii..... si anak hilang. Bagaimana kabarmu ? ", suara Cinta terdengar riang. Tapi wanita itu sama sekali tidak beranjak dari q. Bahkan ia kembali menekuni layar laptopnya.
" Wah.... ternyata kalian semua sudah terinfeksi cukup parah ya ".
Komentar yang dilontarkan Haidar pada akhirnya bisa mencuri perhatian Cinta. Wanita itu lalu beralih menatap adik sepupunya yang masih berdiri.
" Ah kau ini.... ayo duduklah. Maaf tidak ada meja - kursi tamu..", pada akhirnya Cinta menyerah dan berganti memperhatikan sepupunya ini, lalu mempersilahkan Haidar untuk duduk di hadapannya.
" Kau bawa apa ?.... ehm... aku tahu dari baunya, rujak cingur perempatan ya ".
" Tepat... aku juga bawa buat kak Namu. Eh, apa kita ke ruangan dia saja ya ", Haidar melontarkan idenya.
" Kau belum mengahadap bapak WaDir ? .... ish ... kau nih. Aku telpon sebentar ". Dan Cinta pun segera meraih pesawat telpon yang ada di mejanya.
" Ya, ini Cinta... bapak ada di tempat mba ? ... ah ya.. ya... tidak usah kami langsung ke sana saja ". Begitulah Cinta menelpon sekertaris Namu.
" Kita ke sana ? ", tanya Haidar tidak sabaran.
" Ayo ".
Lalu dua orang itu bergegas keluar dari ruang kerja Cinta, menaiki lift untuk menjeda dua tingkat jarak ruangan Cinta dan Namu. Sambil tetap berbincang-bincang santai berbagai cerita dan juga canda.
" Jadi kau benar-benar sudah akan melepaskan dunia mu .... kau yakin ? ".
" Janji adalah janji mba.... aku sudah mendapatkan janji papa dan kini aku harus memenuhi janji ku. Walaupun sebenarnya ..... aku lebih memilih diatas meja operasi bersenjata pisau bedah. Tapi aku yakin akan ada banyak jalan dan kesempatan yang bisa ku tempuh ... seperti kata mamah ".
" Ya... ya.. dan lagi bisnis yang kau pegang nanti juga tidak jauh-jauh dari dunia kesehatan yang kau cintai itu 'kan ".
Percakapan mereka terhenti saat langkah telah membawa mereka sampai di depan ruang Namu. Dua orang wanita sekertaris Namu yang duduk di depan ruangan menyambut dengan senyuman ramah.
" Maaf Bu Cinta, pak Haidar... pak Namu masih menerima tamu ... tadi saya belum sempat bicara, ibu sudah keburu menutup telponnya ". Sekertaris yang terlihat lebih tua itu menyampaikan pada Cinta.
" Oh... tidak apa-apa... kami tunggu sebentar. Biarkan saja dulu ".
" Terimakasih bu Cinta .... mari silahkan duduk ". Dengan gesture yang sangat ramah kedua wanita itu mempersilahkan Cinta dan Namu untuk mengambil tempat di sebuah sofa yang nyaman.
Kedua orang itupun kembali melanjutkan obrolan mereka sambil menghabiskan waktu menunggu si boss kecil yang masih menerima tamu. Sekitar sepuluh menit kemudian pintu ruangan itu terbuka.Keluar dari sana seorang wanita muda berbaju merah yang terlihat elegan bersama seorang pria muda juga. Di belakang mereka nampak Namu ikut mengantarkan keduanya keluar ruangan.
" Kita tunggu kabar baiknya pak Namu ... kami permisi dahulu ". Kata wanita itu dengan ramah seraya menyodorkannya pipinya.
Dengan gerakan yang halus, Namu menghindari manuver yang dilakukan wanita itu. Kemudian menggantinya dengan sebuah jabat tangan. Wajah si wanita sedikit menunjukkan bias malu. Tapi terlihat Namu tidak memperdulikannya dan memilih berbicara dengan si pria satunya.
" Anda bisa menghubungi Clarisa atau Yuniar sekertaris ku... untuk meeting atau email lainnya ".
" Baik pak Namu ... kami permisi dahulu ", jawab pria itu dengan hormat.
Lalu keduanya membalikkan badan dan segera berlalu dari tempat itu. Si wanita berbaju merah berjalan dengan dagu sedikit terangkat, semaki mempertegas garis rahang dan tulang pipi yang membingkai wajahnya yang lumayan cantik. Sepertinya dia adalah salah satu petinggi sebuah perusahaan. Sikapnya yang dingin, terlihat angkuh berbalut elegansi yang terlihat wah' ... menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa menjadi teman wanita ini. Ia bahkan sama sekali tidak menoleh dan memberikan sedikit senyum pada orang-orang disekitarnya, walaupun untuk sekedar basa-basi.
Cinta tak sedikit pun melewatkan setiap moment yang mengalir dihadapannya. Sedikit banyak ia mengenal rekan bisnis perusahaan ini, sang pemilik dan juga para putra atau putri calon pewarisnya. Tapi wanita ini, yang mungkin berusia sebaya dengan dirinya, ia merasa sangat asing. Apalagi dengan sikap dingin yang menusuk tanpa keramahan, membuat Cinta semakin mengerutkan keningnya karena penasaran.
" Heiiii... ayo masuk ", seru Namu kemudian.
Tanpa menunggu lebih lama, Haidar dan Cinta pun bangkit dari duduknya. Melangkah beriringan masuk kedalam ruangan yang lega, sejuk dan nyaman. Lalu duduk dengan tenang dan mulai pembicaraan.
" Katamu mau libut dulu seminggu ".
" Ini juga masih liburan kok. Hanya mengamati situasi saja .... dan ternyata aku menemukan mu terjebak tadi ". Haidar menggoda kakaknya sambil mengeluarkan tiga bungkusan rujak cingur yang membaurkan aroma khas yang nikmat.
" Kau ini.... mengada-ada. Siap yang terjebak ? ", Namu mengelak sambil mengambil satu porsi makan siangnya.
" Mba... kamu lihat 'kan tadi... ada yang berkelit mengelak dari sebuah .....muah... muah...", Hida Haidar lagi sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
" Heeem....ya... pasti orang lain jug melihat ", sahut Cinta cuek.
" Apaan sih... makan aja dulu ", Namu sebenarnya memang menghindari pembicaraan itu. Tentu saja karena dia tahu bagaimana pencemburunya Cinta. Hubungan asmara keduanya yang masih ditutup dengan rapat, membuat Namu tidak bisa bebas mengekspresikan perasaan sayang, bahkan tatapan cemburunya harus diredupkan sedemikian rupa.
__ADS_1
Sebenarnya Cinta juga melakukan hal yang sama dengan Namu. Namun sebagai seorang wanita, dia selalu tidak bisa mengendalikan rajukannya jika termakan cemburu. Akan terjadi pembicaraan panjang melalui telepon yang pasti berbuntut rasa kesal. Kemudian wanita itu seperti seorang remaja yang baru saja mengenal rasa kasmaran ia akan ngambek dan mendiamkan Namu berhari-hari. Kalau sudah begini, pria kasmaran itu yang tidak bisa menahan rindu dan gelisahnya. Duh... duh... duh... love at backstreet yang sungguh merepotkan.
" Lumayan cantik... walaupun judes dan sombong. Kelihatannya dia juga pintar. Siapa dia kak ? ".
" Uhuk... uhuk... uhuk... " Namu terbatuk-batuk. Itu karena ia sedikit gugup dan kesal dengan Haidar yang terlihat sangat bahagia saat mencecar dengan rasa ingin tahu yang tajam.
" Dia .... Caroline, adiknya Mario. Pernah satu kampus dengan ku di Inggris ", akhirnya Namu bisa menjawab. " Mendapat tugas dari kakaknya untuk mengajukan proyek kerjasama dengan kita untuk distributor produk dari Jerman. Seorang manajer di perusahaan keluarga mereka. Untuk selanjutnya .... proyek itu akan dikerjakan Haidar ".
" Looh... koq jadi aku ? "
" Kenapa ? ada yang salah ?... kau sendiri yang minta kerja di kantor pusat ".
" Iya siiiiih .... ", Haidar menggaruk-garuk rambut di kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
" Bukan karena si nona itu terlihat bersemangat mengejarmu ? ".
" Uhuk.... ". Pertanyaan yang dilontarkan Cinta membuat otot kerongkongan Namu menjadi korban. Karena keterkejutan dan rasa tak nyaman yang sangat impulsif itu membuat gerak peristsltik menjadi terhenti sesaat, dan membuat tersedak si empunya kerongkongan.
" Pelan-pelan.... minum nih ", Haidar menyodorkan air mineral yang langsung disambut baik oleh Namu. " Kau ini kenapa sih, tersedak berkali-kali ?".
Untung Haidar tidak memperpanjang pertanyaannya. Dan beruntungnya lagi, Dewi asisten Cinta menyela dan memberi tahu jika tamu yang ditunggu hari itu sudah menunggu untuk ditemui, membuat Cinta bergegas kembali ke ruangannya. Sehingga Namu merasa sedikit lega, tidak terhakimi oleh tatapan dan celutukan Cinta. Paling tidak di depan Haidar, ia masih bisa terselamatkan...fiiiuuuhh....
" Kak ... kau sudah punya pacar ya ?", tiba-tiba Haidar bertanya. Dan hal tersebut membuat Namu yang sesaat tadi sudah merasa sedikit bebas, kini merasa seperti kembali terpergok.
" Heeii... muka pucatmu sudah tidak bisa berbohong ", Haidar terlihat bersemangat mengetahui prosentase kebenaran tebakannya begitu besar.
" Nggak usah ngaco deh ", Namu masih saja berkelit. " Kau mau apa sekarang ? ".
" Sebentar ... sebentar, aku tetep yakin kalau kamu sudah punya pacar... emmmhh, bisa jadi dia kerja di sini ... dan pastinya, mba Cinta kenal baik dengan calon kakak ipar ku itu. Makanya... kau takut mba Cinta nanti akan laporan... Iya kan ? ".
Namu mengeluarkan ekspresi tak tertebak yang memang sengaja ditampilkannya. Jauh di lubuk hati, ia bersorak dan bersyukur karena tebakan Haidar yang keliru. Tapi ia lebih memilih untuk pura-pura saja kalau tebakan Haidar banyak benarnya.
" Asal kau bisa jaga rahasia ..... kau selalu akan selalu jadi yang pertama tahu ".
' Yes !!!!!!.... kita ini 'kan a good and efektif team ... tenang saja kak, amaaan. Asal kau juga tolong aku ... ". Haidar mengepalkan tinjunya seiring seringai lebar penuh kepuasan.
" Bantu aku mengakses informasi tentang ibu Ruri Kartinia.... ibu kantin ... ehm!!! ", Haidar terlihat sedikit salah tingkah.
" Apa ?!!! ..... ha..ha..ha.... jangan bilang kalau kau jatuh cinta dengan anak bu Ruri... heiiii dia sudah menikah .... ".
" Oh iya .... ", Namu segera menyadari kekeliruannya. " Berarti yang nomer dua ya ... ".
Haidar mengangguk memberikan jawaban. " Kau minta tolonglah .... Carikan aku data lengkapnya ... putrinya yang kedua itu.... aku terakhir ketemu ... ehmm ... tiga tahun yang lalu. Dia sepantaran Rana bukan ? ".
" Ya... ya... aku ingat, dulu ada gadis berseragam SMA yang terlihat sering membantu ibunya di kantin ..... aku tidak begitu memperhatikan ... tapi kalian saling kenal ? ".
" Aku ... dulu sering mengobrol dengannya. Dia gadis yang manis... selalu tersenyum, dan penuh semangat. Mirip sifat mama kita ya ... ".
Namu tersenyum kecil mendengar penuturan adiknya. Seorang pria dewasa yang sedang jatuh cinta. Tetap saja menjadi terlihat seperti remaja dengan kerjapan sepasang mata yang penuh aura asmara. Adik nya ini, walaupun dia adalah seorang dokter spesialis bedah yang mempunyai tingkat kecerdasan luar biasa, tetap saja menjadi imut-imut begini jika sedang kasmaran. Hei... tunggu, bukankah kau juga demikian ? .
" Apa yang kau suka darinya ? ", tanya Namu.
" Ehm, semua .. tapi aku paling suka kulitnya yang putih bersih serta tawanya yang lepas. Seolah-olah.... dia memang dilahirkan untuk tertawa. Dan kau tahu..... setiap dia berbicara, kedua bola matanya itu seolah-olah memperoleh kosa kata sendiri.... begitu mempesona ...", Haidar tersenyum sendiri membayangkan sosok manis itu seolah ada dihadapannya.
" Ya.. dan kau, pasti menjadi sangat bersemangat jika bertemu dengan hal-hal yang berkaitan dengannya. Bukankah .... terkadang kita seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri ? ".
" Benar kak.... tapi aku sangat menikmatinya... menjadi gila karena memikirkannya ".
" Itulah cinta .... satu rasa yang bisa membuat kita menjadi orang lain, bahkan melakukan hal yang selama ini kita hindari .... ", sambung Namu dengan binaran di matanya.
" Kau tahu kak ? .... aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Saat itu aku masih kelas dua SMA dan dia..... mungkin baru kelas satu SMP. Aku jatuh cinta pada tawanya yang lepas dan tulus ".
" Waaah... cukup lama juga kau jatuh cinta. Apakah dia tahu ? ".
" Tentu saja ....... tidak !!!!!! ".
" Pffft.... he.. he.. he... ", Namu tak bisa membendung tawanya. Bukankah itu seperti melihat dirinya sendiri kemarin-kemarin. Bedanya, adiknya ini lebih beruntung karena bisa berbagi cerita. Sedangkan dirinya dulu, hanya bisa sesak menahan rasa rindu, sayang, cemburu dan takut itu seorang diri.
" Kalau dia juga ternyata .... bisa menerima cinta ku. Menurut mu bagaimana ?".
" Ya baguslah, berarti gayung bersambung dong. Beres itu sudah ... ".
" Kak... masalahnya... apa ... ehm menurut mu bagaimana dengan orang tua kita ? ".
Deg ?, bukankah hal ini juga yang selalu bertalu-talu bergaung di relung hati Namu. Dan kini dia juga mendapatkan pertanyaan yang sama dari adiknya.
__ADS_1
" Papa ya... mungkin sedikit sulit. Tapi kalau mama.... pasti dia akan memeluk dan tersenyum bahagia ", jawab Namu pada akhirnya.
" Begitu ya ?, menurut ku juga begitu kak ".
" Kapan kau akan mendekatinya lagi ? ".
" Aku harus tahu sekarang dia ada dimana ".
" Kau tidak tanya saja langsung ke bu kantin ? ".
" Ehm !!! ... ", Haidar terlihat sedikit mulai kesal, tapi lebih kepada dirinya sendiri. " Salah satu bagian tidak enak menjadi putra pak Mandala ... ya ini. Hai bu ... mau tanya dong, putri ibu yang nomer dua itu sekarang dimana ya? oh ya ... ngomong-ngomong saya naksir loh sama dia ".
" Hua..ha..ha..ha... ", Namu tergelak.
" Aneh bukan ?... putra pak direktur yang lama tidak kelihatan, tahu-tahu datang ke kantin dan bertanya seperti itu. Tadi aku datang ke sana saja..... orang-orang sudah menatap ku dengan tatapan aneh ... ".
" He... he... he... iya juga ya. Aku sebenarnya suka banget sama rawonnya... tapi tatapan aneh dari karyawan juga membuat ku tidak leluasa sering-sering kesana... ".
" Yaah.. kutukan putra sang bossmand ".
Dan kakak beradik itu pun saling tertawa, tepatnya saling menertawakan diri mereka sendiri. Ke-ironisan yang mengiringi hidup mereka, saat tidak bisa leluasa melakukan banyak hal seperti orang kebanyakan. Walaupun ibu mereka selalu mengajarkan kemandirian, bersikap rendah hati saat di rumah, namun kenyataan di luar yang pada akhirnya tetap menempatkan keduanya pada posisi spesial.
" Mungkin kita sebaiknya meniru Raka ya.... berkamuflase.... menyamar dan menyembunyikan identitasnya ", kata Haidar.
" Aku tidak mau !!!.... jika harus jauh-jauh dari mama .. ".
" Ah kau ini .... ".
" Walaupun aku tidak bisa mengingat bagaimana papa dan mama kandung ku.... tapi kenyataan kalau aku bukan anak kandung mama dan papa ini... membuat ku benar-benar tidak mau kehilangan mereka ... ".
" Lalu... tiga tahun di Inggris itu ? ... kupikir kau sedang belajar sedikit melepaskan ... aku sempat marah padamu ", Haidar menatap dengan rasa ingin tahu.
" Aku lari dari perasaan cinta ku... ".
" Hei... kau tidak cerita. Melarikan diri dari siapa kak ? ".
Ups!!!!.... Namu tersentak, ia tersadar akan sedikit lengahnya kontrol diri. Hampir saja ia membuka sebuah rahasianya sendiri. Tapi, kini pria dihadapannya ini sudah menatapnya dengan selidik yang tajam. Dan pasti dia akan kesusahan untuk berkelit dan menutupi.
" Saat ini..... aku belum bisa bercerita banyak padamu. Nanti kalau sudah pasti saja... kau akan jadi orang yang pertama tahu "
" One clue .... apakah ada hubungannya dengan mba Cinta ? ".
" Maksudmu ? ", Namu merasakan jantungnya berdebar lebih keras.
" Temennya mba Cinta.... or someone that she know ? ".
" Yeeeah.... yes !!! ". Aku tidak bohong'kan ?, Namu menyakinkan hatinya sendiri.
" Kelihatan banget dari sikap mu tadi. Kau harus bicara jujur dan terus terang sama mba Cinta... jangan sampai dia salah paham dan melaporkan ke calon kakak ipar soal aksi sosor menyosor si ..... siapa tadi ? ... Car... Car ... whatever lah ".
" Okey.... kau juga harus membantu ku meyakinkan Cinta ya... kalau aku setia ".
" Apa sih yang tidak untuk mu kak... asal kau bantu aku juga ".
Dan dua pria itupun saling melempar senyum. Saling mendukung seperti yang selalu mereka lakukan selama ini. Dua kakak beradik yang tidak disatukan dengan hubungan darah, tapi kasih sayang mereka telah begitu erat dan merasuk hingga ke setiap inti atom dalam tubuh mereka.
...🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛🔛...
...Author Corner...
Putri Anggrek Bulan..... temukan kisahnya di BIDADARI BIRU Very Spesial Episode yang akan terbit di tanggal 10-15 Mei. Sebagai hadiah untuk kerinduan para OrMan Lovers........
...*****...
Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial
IG : @renitawei_
FB : Reni Yusnita
Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.
Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.
@renita_wei
__ADS_1