PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
The Silent White Knight (3)


__ADS_3

'Ada yang mau nyicil bahan bangunan lagi untuk satu rumah di surga ? ' : _Hai@duar. (07.30)


' Ayooo ..... jangan pura2 sibuk @ba2ngArdy @mba'_Sa @Namuboy @ci2Cinta @Raka_cool @Q_rana.... ketinggalan sorga loh.... 😠👍👌😲😚🤣😂😁😫🤢🥴🤐😵👻' : _Hai@duar (07.35)


' Disini masih tengah malam buta ..... 😠 ' : mba_Sa (07.37)


' Maaaaaf kakak cantik... 🙏🙏🙏😂😂😂.... sekalian bangunin tahajud dong he..he..he ' : _Hai@duar (07.38)


' Menerima sumbangan dengan segera ... ayo donasikan sebagian kecil (harapannya siiih ... yang besar) rizki dan isi tabungan saudara2ku yang unlimited itu..... demi sumbangan beberapa biji ventilator dan inkubator ..... dimohon dengan segera !!!!!!.... awas kalau tidak ... Allah murka looh ... ditunggu... secepatnya dan sebanyak-banyaknya ..... 😊😊😊😊👌👌👌👌' : _Hai@duar (07.39)


' Dasar !!!!! dokter gendeng ' : Raka@cool (07.40)


' Hai broooooo..... masih hidup kau 😂😁.... Nyumbang yang banyak ya..... daripada duit lo' abis cuma buat cewek2 matre' tuh. Ku tunggu ya..... 😘😘😘 ' : _Hai@duar (07.42)


' Sudah ya, baru aja .... 20'benjut ... mau buat bayar semesteran si sulung dulu ' mba_Sa (07.42).


' Matur suwun ibu desainer kondang ..... semoga makin laris jualan kainnya dan barokah 😘😘😘😘 . Yang lain mana niiiiiih..... boRak ..... nggak malu lo' sama yang dari Jerman ???? kutunggu .... wooiiiii ' : _Hai@duar (07.45)


' Sudah ya .... 10'benjut ... baru ngirit, mau buat bayar kos-kosan ' : Raka@cool (07.46)


' Okay trims... btw, tugas tambahan beliin dan nganterin loooh bro ' : _Hai@duar (07.47)


' Weeeeh.... koq ???....aku masih residen di Yogya loh sampai Minggu depan ' : Raka@Cool (07.48)


' Lah iya.... sekalian dooong dokter Rakadipa yang guanteng .... ' : _Hai@duar (07.49)


' Nggak janji ' : Raka@Cool (07.50)


' 🏃🏃🏃🏃🏃🏃 ... kaboooooor ' : Raka@Cool (07.50).


' Sudah ya dek .... silahkan cek rekening mu ' : @ba2ngArdy (07.50)


' Alhamdulillah .... pak profesor..... 👍👍👍👍😊😊😊😊.... matur suwun. Bagaimana Jepang ? .... masih musim sakura mekar 'kah ? ' : Hai@duar (07.51)


' Sudah lewat .... sudah dulu ya, undur diri dulu dari obrolan .... 🙏🙏🙏😂 ' : @ba2ngArdy (07.52)


' Okay ... okay bang Ardian. Cicitegal @ci2Cinta dan masbro @Namuboy mana ya ? ' : Hai@duar (07.53)


' Masih pada di Korea mas. Aku 5'benjut aja ya.... (*_*)(*_*) ' : Q_rana (07.53)


' Oke Eko... adik cantik... kalau longgar jadwal mu, bantu mas nyari barangnya ya ' : _Hai@duar (07.54)


' Siiiiiaaaaap... ' : Q_rana (07.54)


' Haaai yang di Korea.... tinggal anda berdua yang belum loooh ... ' : _Hai@duar (07.55)


^^^.................^^^


Haidar pun menghentikan percakapan di WAG dengan nama : Sedulur_koplaxs'. Sebuah group yang hanya beranggotakan cucu-cucu keluarga Arsenio. Ada Ardian yang paling tua, kini berada di Jepang sebagai dosen untuk sebuah universitas ternama di negara itu. Lalu adik kandung Ardian yaitu Sabina yang meneruskan jejak ibunya sebagai seorang desainer di Jerman. Dan tentu saja ada saudara-saudara Haidar yang lain. Namu, Kirana dan juga Cinta beserta adiknya, Raka.


Haidar pun mengulas senyum lebar saat menghitung jumlah tambahan yang baru saja masuk di rekening tabungannya. Tinggal menunggu dari Namu dan Cinta serta dari dirinya sendiri. Semoga target untuk masing-masing dua ventilator dan juga inkubator itu benar-benar bisa tercapai. Ia pun memutuskan untuk menghubungi seseorang.


" Halo .... Assalamualaikum. Ini Haidar mas ... ".


" Aaah... dokter Haidar. Lama ya tidak ketemu, ada apa nih ? ada yang bisa kubantu ? ", sahut suara itu dari seberang sana.


" Iya Mas, mau ngerepotin nih .... bisa minta rekomendasi untuk ventilator dan inkubator ?, yang kualitasnya bagus tapi.... harga bersaing ".


" Oooh .... okay. Tidak sekalian dengan defribrilator- nya ? ", tanya seseorang itu lagi.


" Sebenarnya sih ..... butuh juga. Tapi .... ", Haidar terlihat dan terdengar ragu.


" Soal pembayaran gampang.... kita ' kan sudah biasa kerjasama ", sahut suara diseberang sana dengan nada yang sangat meyakinkan. " Bisa kita atur nanti. Rumah sakit milik keluarga mu itu rumah sakit besar, dengan antrian pasien yang seolah tidak ada habisnya...... ".


Tapi Haidar tersenyum kecut saat mendengar pujian itu. Seperti ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas hatinya.


" Pasti tidak akan ada peralatan yang menganggur terlalu lama ", sambung suara di seberang itu lagi.


" He.... he.... he ... tapi ini bukan untuk Ars Internasional Hospital .... ini mau dihibahkan. Dan juga masih nunggu tambahan bantuan dana lagi ".


" Oooh..... rencananya mau untuk bantuan. Okay... okay ... masih nunggu donatur lagi ya ?"


" Ini ...... dari keluarga saja kok. Masih nunggu dua kakak yang belum ada kabarnya ".


" Loooh.... ini satu kakak mu ada di sampingku ".


" Hah ?!!!! benarkah ?.... jadi mas Alend juga di Korea ? ", Haidar terkejut.


" Hei.... aku baru saja sarapan ", tiba-tiba suara ditelpon itu berganti dengan suara yang sangat dikenalnya.


" Wiiiih...... mas Namu ku tersayang ternyata, pantes dari tadi nggak respon. Baru ngunyah ternyata mas ? ".

__ADS_1


" Ngunyah sambil nyetir..... nanti aku liat di WAG. Hari ini Cinta balik ke Indonesia ..... paling sore sudah sampai ".


" Oke deh... nanti aku telpon mba Cinta. Bisa berikan lagi sama mas Alend ? ".


Suara berderak terdengar sesaat, pasti karena Namu sedang memberikan kembali pesawat telpon selular nya pada Syailendra.


" Ya halo .... aku nanti ikut nyumbang satu defribrilator kalau gitu "


" Waaah ... terimakasih banyak mas Alend ", suara Haidar terdengar sumringah. " Saya tunggu rekomendasinya ya mas... ".


" Okay Haidar ".


" Saya tutup dulu ... terimakasih, Assalamualaikum ".


Dan baru saja Haidar menutup sambungan telponnya dengan Syailendra, sebuah notifikasi pesan masuk menyergah cepat. Itu pesan dari Yulia.


' Katamu mau berkirim nomor WA temanmu orang SAR .... mana ? '. Pesan dari dokter Yulia.


' Maaf ... ini ya, namanya Isa ', balas Haidar.


' Terimakasih .... aku telpon dia, sambil nunggu pesanan soto ku datang '.


Dan Haidar hanya memberikan ikon jempol untuk menjawab pesan dari dokter Yulia. Di detik berikutnya, ia pun sudah melesat menuju kamar mandi. Untuk segera menghilangkan gerah dan penat dari tubuhnya. Sementara itu di luar sana gerimis masih sangat betah mencucurkan airnya perlahan dan bertempo panjang. Seperti seorang anak yang merajuk pada ibunya, saat permintaannya tidak terkabul.


.................


" Bisa kita bicara sebentar ? ".


" Waaaah.... ibu kepala memanggil ku .... ada yang gaswat rupanya ini ".


Haidar dengan gayanya cengar-cengir menggoda dokter Yulia. Saat itu ia diminta menghadap di ruangan. Dan raut wajah dokter Yulia nampak gelisah. Haidar segera duduk dan menyingkirkan sedikit keusilan dari wajahnya.


" Ada apa ? ..... apakah sanksi indisipliner itu sudah mulai sampai ke telinga mu ? ", Haidar mendahului dengan menebak. Tapi Yulia menggeleng perlahan.


" Tidak ... tepatnya.... belum !!!!!. Ini tentang kejadian di rumah sakit kemarin ".


Haidar menegakkan duduknya dan sedikit mencondongkan badan untuk mencoba lebih dekat dengan wanita dihadapannya ini. Kegelisahan dari wajah ayu itu semakin kentara terlihat.


" Kenapa ? ada apa ? ".


" Aku ......", Yulia mengambil jeda dengan menarik nafas panjang terlebih dahulu. " Kemarin .... aku bertemu Wisya Damara... di sana, di rumah sakit itu ".


" Dia sekarang seorang SPOG.... dan sepertinya kita sudah menabuh genderang perang dengannya ".


" Kau takut ? .... padahal yang kau lakukan itu hal yang tepat ... setidaknya untuk keadaan darurat ".


" Aku bukan takut dengan hal itu...... tapi .... aku takut.... takut dengan kenyataan tentang dia ".


" Kau ..... masih menyayanginya ? masih mengharapkan dia ? ". Haidar tidak hanya mencecar dengan pertanyaan, tapi juga dengan tatapan yang menghakimi.


" Ti-tidak ..... bukan seperti itu ", Yulia menyanggah.


" Lalu ?.... lalu kenapa kau harus takut. Pada kenyataan yang seperti apa ? ......pada seorang Wisya Damara yang beruntung karena putra dari seorang dokter terkenal dan juga terlahir dalam kondisi kaya itu ?. Yulia ......... ini bukan seperti dirimu yang kukenal ..... ada apa ? ".


" Memang kau mengenal ku ? .... apa yang kau kenal tentang aku ? ".


Haidar bukannya tidak memahami maksud dari pertanyaan itu. Wanita dihadapannya ini hanya sedang berusaha mengalihkan kewajibannya untuk menjawab pertanyaan Haidar.


" Kamu ....... manis, cerdas, supel, baik dan satu-satunya saingan beratku dulu, kamu terlalu pintar untuk ditumbangkan ", Haidar sedikit menerawang untuk mengingat kembali seluruh memori tentang gadis muda yang lugu dan sederhana itu, walaupun kini sudah menjadi dewasa dan sangat cantik.


" Oh ya.... kamu .... apa kamu masih ingat seperti apa aku ini ?. Aku jadi penasaran tentang pendapat mu mengenai aku dulu ". Haidar berusaha sedikit mencairkan kegelisahan dengan di wajah Yulia dengan sedikit mengalihkan topik pembicaraan.


" Kau ......heeem.... penuh misteri. Terlalu pendiam.... terlalu baik .... aku tahu, kau pernah dua kali membayarkan uang semesteran ku yang tidak seberapa itu ... iya "kan ?!!! ".


" Ha.. ha.. ha... ngaco!!! ", Haidar berkelit.


" Terima kasih ya... ", suara Yulia lirih.


" Terima kasih apa ? ".


" Untuk semua bantuan mu setahun ini..... dan juga uang semesteran itu ".


" Ish !!! kau ini ", Haidar masih saja berkelit.


" Hei... kau bilang aku cukup cerdas. Setelah yang kedua kalinya, aku mulai mencari fakta .... dan ternyata itu memang bukan dibayarkan oleh Wisya ... tapi oleh mu pak dokter ".


" Ooh.... begitu ya ? ... ha... ha ... ha... lalu setelah itu... maaf, hubungan kalian jadi renggang ya ? ".


" Heeeem..... ada cerita dibalik itu semua ".


" Boleh aku tahu ? .... apa ada kaitannya dengan pertemuan kalian kembali kemarin ? ".

__ADS_1


" Itu.... ", Yulia menyandarkan punggungnya dan terlihat seperti sedang memilih kata-kata pembuka yang tepat.


" Kalau kau keberatan.... tidak mengapa. Toh semua orang berhak punya sesuatu yang hanya untuk dirinya sendiri ", Haidar menyela kemudian karena menyadari keragu-raguan Yulia.


" Dia.... dia.... ah, kemarin kami bertemu. Dan dia mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar operasi itu. Aaaah... tapi intinya bukan hal itu saja ... ", Yulia terdengar ragu mengatakannya.


" Lalu.... ? ", Haidar tak sabar dan dipenuhi rasa penasaran.


" Dia..... tidak menyukaimu ... sejak dulu. Dan semakin tidak menyukai mu ".


" Sejak dulu ? ... atas dasar apa seperti itu ? ". Haidar terlihat mulai terseret dalam arus kebingungan.


" Dia sangat cemburu padamu .... sejak dulu ".


Haidar termenung, ia tak menyangka akan mendengar pemberitahuan seperti itu. Dengan kaku ia pun mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa serba salah yang mulai bergelayut di harinya.


" O-ooh .... jadi kalian dulu benar-benar jadian ya? ", tanya Haidar kemudian mencoba merobek suasana canggung.


" Aku tidak tahu apa namanya ..... hanya saja .... aku sempat berfikir kalau dia ... tulus pada ku ".


" Nyatanya dia cemburu .... itu artinya memang ada perasaan cinta padamu ".


" Cemburunya....... karena rasa iri. Dia cemburu dengan segala apa yang ada padamu ..... dia... ", Yulia menggantungkan segala ucapannya dan kedua bola matanya bergerak dengan resah.


" Ada apa Yulia ? .... katakanlah pada ku ".


" Aku mengenal tatapannya yang seperti itu. Aku tahu kenekatannya .... Aku... ".


" Apa yang terjadi diantara kalian kemarin dan juga sebelumnya "


Yulia kembali menghela nafasnya, terasa betul beban berat yang tersandang di tatapannya yang gelisah dan tercekam. Haidar menatap tak berkedip pada sepasang mata kelam yang berkerjap resah itu.


" Tidak ada apa-apa, hanya saja.... Saat namamu muncul di kronologi kejadian... Ia langsung terlihat sangat tidak suka. Kau tahu 'kan kebiasaannya yang suka menghasut ? " .


Haidar terdiam, radar kecil di hatinya menangkap ada sesuatu bagian penting yang dihilangkan. Dan itu adalah sebuah bagian krusial dari sebuah peristiwa. Tapi ia tidak bisa mendesak Yulia, wanita ini pasti punya alasan yang sangat kuat untuk tidak mengungkapkan semuanya. Sementara ini Haidar hanya bisa menunggu saja dulu.


" Mungkin sebentar lagi akan dibentuk kembali tim audit untuk kita ".


" Audit ya ?. Kenapa tidak audit untuk sistem yang tidak luwes ini ?.... sudahlah !!!! kita hadapi saja seperti dulu ya. Toh ... tidak ada yang sudi bukan ? ditempatkan di pulau kecil yang indah ini ". Haidar begitu kentara memberikan penghiburan. Membuat Yulia perlahan tersenyum .


" Ini adalah tempat terbaik untuk mengabdi ", gumam Yulia.


Saat itulah terdengar suara telepon genggam Haidar berbunyi. Pria itu sesaat menatap layar benda itu, lalu memberikan isyarat kecil pada Yulia.


" Kakakku ... aku terima dulu ya ". Tanpa menunggu persetujuan dari Yulia, iapun bergegas meninggalkan ruangan.


Kini nampak Yulia memilin jemarinya sendiri sepeninggalan Haidar. Sayup-sayup ia masih mendengar suara pria itu tengah bercakap-cakap di depan ruangannya.


Entah apalagi yang akan dihadapinya nanti, tapi apa yang dikatakan Haidar itu sangat tepat. Kita hadapi saja ..... terdengar begitu sederhana. Namun pasti akan melibatkan banyak perasaan dan pastinya juga semua kerumitan yang pelik. Apalagi ada Wisya yang kembali menemukan peluang untuk mencengkeramnya. Ah..... rasanya baru bisa bernafas dengan lega beberapa hari yang lalu, ternyata mimpi buruk itu datang lagi. Dan semua itu karena seseorang bernama Wisya Damara yang dulu pernah sangat disayangi.


Seorang jelmaan dari serigala berbulu domba. Seorang titisan dari dewa neraka. Seseorang yang mungkin tidak pernah datang saat Tuhan tengah membagikan bibit kasih sayang di hati. Atau karena memang dia adalah orang yang tidak punya hati.


Yang jelas, kini Yulia harus kembali berurusan dengan pria itu. Dan posisinya belum berubah dari dahulu. Sebagai seorang gadis yang lemah. Hanya saja, saat ini ia telah mengetahui bagaimana rupa asli yang mengerikan berkedok kebaikan dan keindahan. Namun apakah itu akan mengubah sesuatu ?, sepertinya tidak. Karena seorang Wisya tetaplah dengan kelebihan-kelebihan yang mampu untuk menyingkirkan halangan apapun.


Yulia kembali menarik nafas panjang. Saat itulah Haidar masuk dengan wajah tampan nya dan kelihatan lebih sumringah.


" Minggu depan .... defribilator 1 unit, inkubator 2 unit dan ventilator 2 unit akan sampai ke mari ", kata Haidar penuh semangat.


" Apa ?! ", Yulia ternganga tak percaya. Ia menatap Haidar menuntut penjelasan.


" Heiiii.... malah mangap-mangap kayak ikan mas koki ".


" Droping dari pemerintah ? ... kok aku belum dapat pemberitahuan ..? ". Yulia masih kebingungan.


" Bukan ".


" Lantas ? ", cecar Yulia.


" Dari beberapa orang yang tidak mau diketahui identitasnya ..... yang membantu dengan ikhlas, karena mereka merasa malu padamu... ".


Yulia terpaku tak percaya, ia hanya menatap Haidar yang tersenyum lembut padanya. Sesungguhnya ia tak mengerti dengan apa maksud dari pria ini. Dan ia pun begitu kesulitan mencerna maksud dari semua percakapan Haidar. Hingga kemudian sebuah sentuhan lembut terasa mengalirkan kehangatan dari punggung tangannya dan melingkupi hatinya perlahan.


" Ada banyak orang yang menyayangimu dengan tulus. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kebaikan mu .... jangan pernah merasa sendiri. Akan ada banyak bantuan datang untuk orang-orang seperti mu Yulia ".


Haidar menepuk-nepuk punggung tangan Yulia seolah sedang meyakinkan wanita itu. Sementara Yulia tiba-tiba saja merasakan kehangatan yang menyelimuti hatinya itu membuahkan rasa nyaman dan terlindungi. Perasaan yang lama menghilang dari ruang kalbunya. Tak terasa air matanya bergulir pelan, tapi sudut bibirnya menyunggingkan senyuman.


" Kau tahu ? ", tanya Haidar sambil menyeka air mata di pipi Yulia dengan buku jarinya.


" Apa ? ".


" Senyuman mu itu sangat cantik Yulia .... walaupun air matamu meleleh "

__ADS_1


__ADS_2