
Pertama kali mengetahui tempat ini, tentu saja dari kakak kelas tengil bernama Raka. Pemuda dari keluarga berada yang memiliki sifat berbeda jauh dari saudara-saudaranya yang terkenal elegan, kalem dan seperti pribadi ningrat yang nyaris tak tersentuh. Tentu saja untuk kalangan umum seperti dirinya. Tapi beberapa pertemuan yang menempatkan keduanya dalam kondisi bak telur diujung tanduk, akhirnya mampu mendekatkan. Bahkan ia pun mulai memahami apa yang tersembunyi dibalik sikap urakan dan semaunya sendiri seorang Narendra Rakadipa.
Dan iapun mulai jatuh cinta dengan apa yang ditawarkan oleh tempat ini. Kesederhanaan, ketulusan dan sebuah perasaan ingin melindungi serta membahagiakan yang tak pernah surut. Semua hal itu membuatnya berhenti mengasihani diri sendiri. Perlahan yang awalnya ia hanya sangat kagum dengan sosok bunda Tari, akhirnya iapun berusaha menduplikasi sikap wanita itu. Hingga ia merasakan hidupnya lebih berarti.
" Ibu kandung Lusi datang tiga hari yang lalu ". Bunda Tari mulai bertutur, seolah mengalihkan pertanyaan inti sesaat tadi. " Bersama seorang pria, yang katanya suami barunya. Tapi aku khawatir dengan sorot mata yang licik itu. Aku mengkhawatirkan Lusi ".
" Kenapa baru datang sekarang ?. Apakah untuk pamer pria barunya? Lalu .... dia mau membawa Lusi ? ". Ardelia terlihat gusar.
" Ya .... sepertinya begitu. Tapi Lusi menolak dengan tegas. Dia tetep menunggumu dan Raka. Bagi Lusi , kalian berdualah keluarga yang sesungguhnya ".
" Syukurlah, tapi pasti ibunya akan datang dan membujuk lagi ".
" Sepertinya begitu. Dan kita.... hanya bisa berharap dan berdoa memohon kebaikan untuk Lusi. Nak..... bukankah ada yang ingin kau sampaikan pada bunda ? ".
Ardelia bergerak gelisah, karena tanya yang tersampaikan dengan lembut itu tepat menghunjam perasaannya. Walaupun bunda Tari bukan apa-apanya, tapi wanita ini seperti dikaruniai sepasang mata batin hingga mampu menembus rahasia yang tersimpan di hati.
" Ada kalanya .... kita sama sekali tidak bisa bercerita dengan orang yang paling kita sayangi ". Bunda Tari tersenyum dan menatap sekilas Ardelia yang terlihat menerawang. " Walaupun bunda mungkin juga tidak bisa membantumu, setidaknya kau sudah membagi sedikit bebannya ".
" Ya ...", jawab Ardelia lirih.
" Tidak ada paksaan..... hanya saat kau sudah merasa tepat waktu saja ".
" Iya bunda ", kali ini terdengar sedikit lebih keras Ardelia menjawabnya. " Ini........... tentang keluarga ".
Bunda Laras memberikan waktu tak berbatas untuk Ardelia menghirup nafas panjang. Seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menaklukkan ketakutannya sendiri. Hingga akhirnya gadis itu menatap dengan kilatan amarah, kesedihan yang berbaur dengan cinta bernuansa jingga, seperti langit sore yang beranjak senja kala itu.
" Mana yang akan bunda pilih ?.... menuruti kata hati sendiri atau membungkam kebenaran ..... demi seseorang yang paling kita sayangi ".
" Apakah orang yang paling kau sayangi itu ..... seorang wanita yang selama ini menjadi nafas hidup mu ? ".
Ardelia mengangguk.
" Kau takut dia kenapa-kenapa ? ".
" Aku tidak mau kehilangan dia bunda. Satu-satunya yang aku miliki ". Ardelia menyergah cepat dengan emosi yang kembali membuncah.
" Ma- maaf... ", namun kemudian suaranya terdengar penuh penyesalan.
Tapi Bunda Tari hanya tersenyum seraya menggenggam jemarinya dengan lembut. " Begitu berat yang harus kau sandang sendiri, bersandarlah nak ".
Saat wanita paruh baya itu beringsut dari posisi duduknya, mendekati Ardelia, perlahan membelai kepala si cantik itu. Tanpa bisa dicegah lagi, satu persatu air mata berlompatan keluar. Lalu meluncur dengan deras seperti rinai-rinai hujan. Ardelia menumpahkan tangisnya, menguras seluruh residu kesedihan dan kemarahan itu dari hatinya.
" Sudah sedikit lega ? ". Akhirnya setelah beberapa saat membiarkan Ardelia menangis. " Jika belum bisa cerita sekarang .... atau memutuskan untuk tidak bercerita..... tidak mengapa. Setidaknya kau tidak mengambil keputusan saat dikuasai emosi ".
" Delia .... mau menikah dengan ... dengan orang yang dijodohkan papi. Tapi .... ada orang lain yang Delia cintai ... tapi ..... ".
Awalnya terbata-bata, seperti masih tertahan oleh sesuatu. Tapi semua itu tidak berlangsung lama, mungkin karena Ardelia hanya butuh sedikit rasa percaya saja.
Sikap wanita bernama lengkap Sri Lestari itu, entah mengapa membuat Ardelia begitu merasa nyaman. Tidak hanya Ardelia saja tapi juga seorang pria yang kini tengah bersembunyi di dalam sebuah ruangan. Merapatkan tubuhnya pada pintu, bersandar dengan segala beban dihatinya.
" Kenapa seperti itu nak? ... ah, seharusnya kau tidak perlu membohongi keluarga mu ".
" Saya tahu bunda.... otakku termampatkan, aku tidak bisa berfikir jernih. Hanya hal itu satu-satunya yang terbersit cepat ".
" Pasti mamah mu kecewa sekali. Lalu Ardelia ... apakah kau tidak berfikir bagaimana reaksinya nanti saat tahu.... aaaah, kau ini Raka .... memberitakan seorang gadis telah kau hamili. Bagaimana marahnya gadis itu?, gadis baik-baik seperti Ardelia ".
" Aku tahu bunda.... karenanya, aku mohon bantuan bunda ".
Dan permohonan bantuan Raka itu, tak disangka begitu cepat harus dipenuhi oleh Tari. Bagaimana ia bisa menolak permohonan pemuda baik hati yang notabene adalah putra dari sahabat dan juga saudaranya sepanti dulu. Ya, Arjuna ayah Raka adalah sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri. Masa anak-anak, remaja hingga dewasa mereka lalui bersama di panti asuhan yang kini sudah semakin besar.
Tepatnya, Arjuna adalah pria yang dari dahulu sudah sangat dikagumi oleh Tari. Jatuh cinta ?, tentu saja. Tari muda terlalu lama memendam perasaan itu, hingga akhirnya ia membuat satu keputusan tepat. Mencoba menerima mas Pramudya, putra tunggal dari ibu panti terdahulu. Dan itu adalah pilihan yang paling bijaksana, karena tidak ada sedikitpun perasaan selain rasa sayang sebagai saudara dari Arjuna untuk dirinya.
Menatap Raka yang memohon bantuannya dengan sinar mata yang redup, rasanya seperti Dejavu dua dasawarsa yang lalu. Ketika Arjuna bertutur tentang sebuah nama 'Cinta'. Hanya saja keraguan di mata Arjuna saat itu, tidak ada pada sepasang mata Raka yang mengerjap gelisah.
" Ardelia tidak pernah mau menceritakan kenapa. Tapi aku yakin.... dia sangat tertekan, dia menderita. Hanya bunda satu-satunya orang yang mungkin .... ah' bukan, pasti!!! ... ya pasti akan ditemuinya ".
" Begitukah? seyakin itu ? ".
" I know she so well ".
__ADS_1
Dan prediksi dari pemuda berwajah tampan dengan senyuman lembut menawan itu, tepat!!!. Bahkan Raka belumlah pamit, saat terdengar seruan Lusi yang mengabarkan kehadiran Ardelia. Beruntungnya tadi saat Raka datang, anak-anak panti tengah sibuk melakukan cek kesehatan rutin. Sehingga tidak ada orang lain yang mengetahui kehadirannya selain Tari tentunya.
" Aku tidak tahu, pria mana yang akan dijodohkan dengan ku. Yang jelas salah satu dari dua orang kakak beradik itu. Yang jelas lagi... salah satu dari mereka adalah pria brengsek itu ".
" Yang pernah membuat kalian .... maaf, kasus pemerkosaan itu... video asusila itu ? ".
" Raka tidak pernah melakukan perbuatan dosa itu. Mereka yang melakukannya, dan gadis itu juga bukan gadis baik-baik. Dan semua itu sudah terbukti ".
" Lalu apa yang kau takutkan ? ". Suara bunda Tari yang lembut seperti pisau tajam yang sedang menguliti sisi hatinya. Setidaknya begitulah yang dirasakan Ardelia. Kini ia merasakan sakit karena sedang membuka luka lamanya sendiri.
" Ada... ada... satu foto-foto lagi... yang masih belum terungkap ".
" Nak ..... ".
" Dan itu ... aku bunda ".
" Kau ?, apa maksudmu nak ?". Nada tidak terpercaya penuh dengan keterkejutan melompat keluar dengan cepat dari mulut bunda Tari.
Tapi perasaan yang sama itu tidak hanya dialami oleh bunda Tari. Raka yang masih bersembunyi dibalik pintu pun mengalami hal yang sama. Ketika dengan terbata-bata Ardelia bertutur dengan sesekali ditingkahi oleh isak tertahan, ia hanya bisa mengetatkan rahangnya dan mengepal erat menahan amarah.
Membuat adiknya sendiri walaupun terlahir dari perempuan yang berbeda, menjadi senjata pamungkas untuk bisa memenuhi ambisinya sungguh perbuatan yang sangat licik. Saat itu pasti Ardelia masih remaja yang baru saja akan beranjak dewasa, ketika diberikan obat bius, dilucuti dan kemudian .... aaah, Raka menggeram dalam diam. Ia tidak sanggup membayangkannya.
" Aku tidak tahu.... apa yang mereka lakukan padaku. Tapi foto-foto itu.... pasti... pasti mami akan sangat terpukul jika melihatnya ... ".
" Dan kakak serta ibu tirimu itu mengancammu ? ".
Tidak terdengar suara jawaban dari Ardelia, namun Raka begitu yakin jika gadis itu pasti menjawabnya dengan sebuah anggukan lemah. Raka memutuskan untuk keluar dari tempatnya bersembunyi, berjalan masuk lebih dalam ke arah pintu belakang. Lalu keluar dari sana dengan tidak memperlihatkan diri sama sekali pada Ardelia. Beruntung dia tidak membawa kendaraan sama sekali. Hingga kini ia sudah sampai dipinggir jalan besar di belakang panti. Dan menunggu Taxi online pesanannya.
Jika sudah seperti ini, hanya satu tempat yang ditujunya. Tentu saja, siapa lagi jika bukan saudara-saudara tercintanya yang pasti akan bahu membahu membantunya.
" Setelah dari semalaman kau menghindari ku ..... akhirnya sadar juga ". Begitu komentar pedas yang diterima Raka dari sang kakak.
" So sorry.... aku takut kau akan meledak-ledak ".
" Tepatnya meledakkan mu ".
" Ke kantor sekarang. Kami bertiga menunggu ".
" Terima kasih kakakku yang cantik . Engkaulah Dewi Cinta yang sesungguhnya .... muuuaaah... tengke'yu... ".
" Lebay, buruan .... keburu bos besar rapat lagi ".
" Eh, ngomong-ngomong... sekarang siapa bos besarnya ? ".
" Yang jelas masih bukan aku broh' ". Sebuah suara berat menyela pembicaraan Raka dan Cinta kakaknya. Walaupun terdengar sedikit jauh dan tak terlihat siapa si empunya suara, tapi Raka sangatlah yakin jika itu suara sepupunya, Haidar.
" Oh... dokter gendeng sudah beneran pindah haluan nih ", akhirnya ia pun lebih memilih menggoda sepupunya itu.
" You ... soon to be ", seru suara itu lagi.
" Nggak lah .... aku tetap setia pada yang satu. Bersenjatakan pisau bedah dan jarum suntik ".
" Hua.. ha.. ha... kita lihat saja nanti ".
Raka pun akhirnya ikut tertawa, walaupun hatinya diliputi berbagai perasaan yang bercampur aduk seperti kabut yang bergulung-gulung. Namun ada setitik terang, harapan yang masih memancarkan sinarnya. Setidaknya dia tahu kemana harus melangkah saat limbung dan nyaris kehilangan arah seperti ini.
.........
Sebuah keputusan yang sangat tepat, membawakan dua porsi jumbo lotis atau rujak buah yang bumbu gula Jawa asam pedasnya terpisah. Lihatlah bagaimana ketiga saudaranya itu seperti orang kalap menyambar hidangan itu.
Hei... yang benar saja, ini sore hari menjelang senja, malah menyuguhkan hidangan yang sebenarnya lebih cocok di siang hari. Tapi Raka benar-benar memahami bagaimana saudara-saudaranya itu.
" Jadi kami ketinggalan berita apa nih ... tentunya selain kesuksesan mu membuahi itu ".
Akhirnya Haidar buka suara, walaupun pilihan kata yang digunakan sepertinya memicu helaan nafas panjang dari Namu kakaknya.
" Aku tidak mengira ... nona cantik itu akhirnya benar-benar masuk kedalam perangkap buaya mu ", kembali Haidar mengusik.
" Sudah kau ajak periksa ? ", kini Cinta yang bertanya.
__ADS_1
" Aku akan mengatakan satu hal pada kalian .... ", dan Raka menjedanya dengan menatap satu persatu saudara-saudarinya itu. " Ardelia.... dia ... tidak hamil... aku tidak pernah menyentuhnya ".
" Apa ?!!! ".
" Gila ... ".
" Hah ???!!!".
Nyaris bersamaan dan semua itu adalah ekspresi keterkejutan dari Cinta, yang disusul Haidar dan terakhir Namu. Wajah-wajah tolol penuh keterkejutan dan rasa kaget itu seperti sebuah hidangan prasmanan yang tersaji dihadapan Raka.
" Aku melakukannya... agar mama bisa menerima keputusan ku untuk segera menikah Ardelia ", kata Raka kemudian.
" Dan kau membuat aku menjadi yang paling tolol dan terkena imbas besar ", suara Cinta terdengar geram.
" Maaf kan aku kak. Aku tidak akan begini jika tidak darurat ", Raka terlihat sedikit menunduk.
" Apa alasan mu ", Namu menyela dengan gayanya yang sangat dewasa.
" Dia... terpaksa menyetujui akan dinikahkan dengan orang lain ".
" Karena alasan mulai terpuruknya perusahaan ayahnya ? ", tanya Namu lagi.
" Ya... dan juga alasan lain. Maminya Ardelia ... ". Raka terlihat ragu.
" Apakah masih berhubungan dengan masa lalu ? ", tebak Namu lagi.
" Tunggu !, ini .... ini.... ada hubungannya dengan peristiwa itu?. Dracio ? ", kini Cinta yang menyela.
" Secara tidak langsung ... ya ".
" Bukankah sudah terselesaikan? kau tidak terbukti melakukan pemerkosaan dan Ardelia adalah saksi kunci. Ada apa lagi ini ? ", Haidar yang kali ini diliputi rasa penasaran.
" Imbas dari kesaksian dan pembelaan Ardelia padaku..... sungguh aku tidak mengira sama sekali. Yang dihadapi Ardelia adalah sekawan ular berbisa yang licik dan mematikan. Dracio.... tentu saja dengan liciknya telah membuat Ardelia terjebak. Membuatnya....
menjadi bintang ... dengan foto-foto adegan mesum ".
" Bagaimana bisa ? ", kali ini Cinta yang memekik dengan geram.
" Aku ... aku tidak tepatnya. Tapi dari cerita Ardelia... dia dibius lalu .... ditelanjangi, dan di... ", Raka tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
" Lebih dari sekedar dibuat berpose mesum dan nudis tentunya...... apa Ardelia juga dilecehkan ? ... seksual maksud ku ". Haidar menyampaikannya dengan hati-hati. Ia tahu betul bagaimana kalutnya Raka.
" Aku tidak tahu, Ardelia juga tidak tahu ".
" Dia .... masih ... maaf ... virgin ? ", tanya Haidar lagi.
" Aku tidak tahu. Hei... jangan kau berfikir kalau aku sudah pernah menyentuhnya ", tiba-tiba Raka menyalak yang tentu saja berbalas cengiran dari Haidar.
" Iya kaleee.... secara elo' kan playboy kelas paus ".
" Untuk yang satu ini aku menjaganya 'Dar. Tapi lebih dari sekedar virginitas... Ardelia dibawah ancaman saat ini. Dracio ..... ".
" Mengancam akan mempublikasikannya? ... bagaimana dengan ayah Ardelia? apakah orang itu hanya mampu diam saja .... atau malah bersekongkol dengan anak haramnya itu ". Cinta kali ini tidak mampu lagi menahan diri untuk memperlihatkan sifatnya yang meledak-ledak.
" Ardelia..... sebenarnya, Tante Palupi sudah lama mengalami gangguan psikologis. Ia hidup dengan mengkonsumsi obat-obatan... jika terjadi sesuatu yang memicu stresnya, dikhawatirkan dia akan kembali mengalami delusi. Dan itulah yang sangat dikhawatirkan Ardelia. Jadi bagaimanapun bentuk ancaman Dracio, jika benar-benar dilakukan..... pasti imbas besarnya adalah pada kesehatan mental Tante Palupi. Dan itu yang sangat dikhawatirkan Ardelia, sehingga memutuskan untuk menerima perjodohan itu ".
" Dan membuat mu kelimpungan begini. Lalu .... apa yang bisa kami lakukan untuk mu ? ".
Mendengar perkataan Namu, ia merasakan seperti tertimpa gerimis di hari yang terik. Terasa sedikit menyegarkan dan membuatnya mampu kembali tersenyum.
" Kau memang kakak kami yang sempurna ", Raka mengulas sebuah senyuman.
" Satu yang kau juga harus tahu ..... dia juga menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dengan kekacauan yang kau buat ini ".
" Maksudnya 'Dar ? ", Raka menatap Haidar yang tersenyum penuh misteri.
" Eh .... ralat. Tepatnya.... dia dan dia ... adalah pihak yang beruntung karena cerita bohong mu itu. Tadaaaa..... perkenalkan .... pasangan bucin.... ".
" Haaaaah ?????".
__ADS_1