
Udara masih terasa sedikit hangat walaupun tidak seterik saat siang. Angin semilir yang datang dari arah lereng Merapi ternyata masih mampu menyelusup melalui hamparan padang, ladang dan meliuk cantik melewati gedung-gedung hingga akhirnya bisa membelai kulit pipi Ardelia.
Sementara Raka perlahan mulai mengambil batang sigaret dari kemasan kotak yang tersimpan di saku celana kargonya. Tapi dia mengurungkan niat itu saat gadis disebelahnya ini mulai melotot.
" He... he... maaf, refleks ".
" Kapan tobatnya ? ".
" Udah tobat kok... ini ternyata, ada sisa masa lalu yang kelam disini ... ". Dan Raka pun beralibi.
" Memang berapa lama celana itu belum kau cuci ? ", Ardelia mencecar persis reserse ketemu bandit kambuhan.
" Dua .... tiga... minggu mungkin. Bisa jadi lebih ". Raka terlihat berusaha mengingat-ingat.
" Haiiis... kasihan kecoak di kamarmu ". Ardelia pun bergidik, " Dokter kok jorok tingkat dewa ".
" Dokter juga manusia ... punya bad habit dong ", Raka terkekeh sambil tetap membela diri.
" Yaaah .... rame banget ". Sepasang mata Delia terlihat kecewa melihat pemandangan di seberang jalan.
Warung tenda yang lumayan besar itu lumayan penuh, bahkan tempat lesehan yang disediakan di luar juga sudah full booking.
" Ah ... nggak apa-apa, tuh... yang di dalam sudah mulai pada selesai makannya ".
" Bagi tugas ? ". Dan tawaran Delia pun di jawab dengan anggukan oleh Raka.
Detik berikutnya dua orang itu melesat ke arah yang berbeda. Raka segera menerobos masuk kedalam warung tenda. Mendekati empat orang gadis yang sudah hampir menyelesaikan makannya. Lalu dengan sedikit saja menguarkan aura tampan dan keahliannya sebagai penakluk wanita tingkat dewa, ia pun beraksi.
" Nona-nona cantik..... boleh ya habis ini kursinya buat saya .... ".
Dan seperti biasanya, para gadis akan langsung menjadi riuh begitu sang Raka mengeluarkan salah satu jurus rayuan gombalnya. Ardelia sudah sangat terbiasa melihat hal seperti itu, ia tetap melangkah menuju para pelayan untuk memesan makanan.
" Mas, komplit dua porsi ya.... es teh krampul (sebutan lain es teh jeruk) manis satu, es teh tawar satu. Komplit di bungkus tiga ya sama es jeruknya juga tiga ".
" Ada lagi mba ? ... jamur krispi nya masih ada loh ", si mas yang luwes dengan celemek itu menawarkan.
" Oh ya ... boleh, di sini satu di bungkus satu ya ".
" Siap mba .... tunggu sebentar, silahkan cari tempat duduk dulu ". Si mas luwes itupun memberikan sebuah papan kecil bernomer delapan pada Delia.
Sementara itu Raka nampak sedang tertawa-tawa bersama empat orang gadis muda di meja yang sengaja diincar untuk tempat makan nanti. Ardelia menahan langkahnya dan beralih menuju ke depan kasir terlebih dahulu. Tak diindahkannya tatapan sekilas dari Raka yang bermaksud melarang. Ia tetap membayar semua makanan yang telah dipesan.
" Dadaah mas Fadli .... sampai ketemu lagi ... " .
" Byeeee.... see you ... ".
Riuh empat orang gadis muda itu berpamitan dan melambaikan tangan pada Raka. Ardelia menunggu sejenak, lalu menghampiri Raka setelah celoteh empat wanita muda itu sudah tidak terdengar lagi.
" Kali ini siap? .... Fadli ? ".
" Iya ", mantap Raka menjawabnya.
Fadli adalah temannya sesama residen di rumah sakit. Pemuda yang pemalu dengan wajah yang sebenarnya cukup lumayan, tapi ketidakmampuannya untuk mengangkat wajah saat berbicara dengan lawan jenis membuat Raka berinisiatif untuk menolongnya. Begitulah alasan yang selalu disampaikan oleh Raka setiap kali meminjam nama-nama temannya.
" Kau juga kasih nomor telponnya .... ? ", cecar Ardelia lagi.
" Tentu saja ....".
" Ish !!!! ".
" Eh.... siapa tahu memang ada yang jodohnya Fadli ". Raka kembali berkilah.
" Dokter 'gendeng ..... "
" Tapi ganteng .... ".
" Monggo .... ini pesanannya ". Pelayan yang datang membawa senampan penuh aneka pesan Ardelia, berhasil mengakhiri debat kusir tiada akhir itu.
Empat ikan lele asap yang dimasak dengan kuah santan pedas itu datang dengan aromanya yang menggoda. Wangi harum lezat perpaduan aroma asap, daun jeruk purut dan juga kencur sukses meningkatkan seluruh enzim pencernaan di perut dua orang sahabat itu. Ditambah lagi tampilan menggiurkan dari jamur tiram goreng krispi yang coklat keemasan mengkilap, telah benar-benar sukses mengalihkan dunia Ardelia dan Raka.
" Terimakasih mas... ", jawab Delia dengan sopan.
" Mas ... tambah nasinya satu lagi ya ", pesan Raka kemudian.
" Siaaap ... mas.. ".
Dan mas-mas pelayan itupun segera kembali ke arah datangnya. Tak berapa lama sepiring nasi putih sudah datang kembali bersamanya.
" Monggo mas... mba . Yang di bungkus sudah siap di kasir ya ".
__ADS_1
Ardelia dan Raka hanya mengangguk memberikan jawaban, karena kini mulut keduanya telah mulai sibuk mengunyah dan bedesis-desis kepedasan. Tak berapa lama, Raka pun telah sukses menghabiskan dua porsi nasi dan dua ikan lelenya. Sementara Delia baru akan memulai melibas lele yang kedua.
" Bantuin ... ".
Raka tersenyum girang, sebenarnya ia hanya menunggu kata itu keluar dari bibir gadis ini. Hal biasa yang selalu terjadi saat makan bersama di luar. Membantu menghabiskan porsi yang dipesan Ardelia, dengan senang hati tentunya.
" Lelenya aja ya... nasinya 'kan tadi aku sudah pesan dua porsi ".
" Iya deh.... tapi kayaknya aku bakal kenyang banget niih... ".
" Habis ini buat jalan juga ilang separo ", sambil mencomot bagian kepala lele dan memindahkan ke piringnya. Raka pun mulai menikmati.
" Tadi .... aku sempat papasan dengan dua mobil itu. Tapi tidak tahu kalau itu papa mu ". Raka memberanikan diri untuk memulai pembicaraan saat Delia sudah menyelesaikan makannya dan beralih pada sepiring jamur krispi.
" Kamu ..... baik-baik saja ? ", tanya Raka perlahan.
" Tidak ada yang menjadi baik-baik saja saat mereka datang ".
Raka terdiam, seolah-olah dia tidak bisa lagi menemukan kosakata yang tepat. Tatapan penuh amarah yang bercampur dengan serta kesedihan di mata gadis ini, membuat Raka harus berhati-hati bertutur.
" Tapi .... jangan harap ... aku menyerah .... sampai kapanpun ".
" Good..... aku mendukungmu ". Raka tersenyum, perkataan penuh nada optimis dari Delia membuatnya sedikit lega.
" Tapi......", suara itu mengambang tersangkut pada rasa penuh keraguan. Dan sepasang mata Ardelia tiba-tiba saja menyorotkan kekhawatiran yang tidak terbendung. " Mama... mereka pasti akan mengancam mama ".
Deg' , Raka merasakan satu hentakan keras di dadanya. Terlintas dengan cepat sosok anggun seorang wanita yang mungkin usianya sebaya dengan mamanya. Mawar Dyah Palupi, Tante Mawar begitu Raka lebih suka memanggilnya. Dia adalah ibu dari gadis dihadapannya, istri pertama dari seorang pengusaha properti bernama Sultan Syahreza. Seorang wanita lembut yang sangat tangguh dan mempunyai senyum menawan seperti putrinya.
" Aku .... besok akan pulang. Ijin dua hari ".
" Maaf ... aku tidak bisa mengantarmu ", sesal Raka.
" Bukan tugas mu lagi ", sergah Ardelia. " Tugas mu .... jadi residen yang bener, rajin ... biar cepat selesai ... cepet jadi Spesialis tulang... bukan tulang ikan ... nggak pacaran terus ... ".
" Yeee.... siapa juga yang pacaran terus. Jelas-jelas aku perginya sama kamu terus ".
" Halaaah... Abang ganteng ngeles aja. Jelas-jelas Minggu kemarin juga habis nginep di Kaliurang sama anak sospol yang body nya macam gitar spanyol itu .. ".
" Oh...itu ... ha.. ha... ha.. ". Raka tertawa. " Nginep doang di vila nya... nggak ngapa-ngapain kok ".
" Heeemhhh!!!! ... per-ca-ya... yuk pulang ".
" Delia .... ", ia menahan lengan gadis yang kini sedikit berada didepannya. " Tidak ada yang ingin kau katakan pada ku ? ".
Ardelia terdiam, benar-benar terdiam, tanpa menoleh, tanpa bersuara. Ia hanya menarik nafas dan juga menghembuskannya secara perlahan. Bagi yang baru mengenal gadis lembut ini tentu serasa biasa, normal-normal saja. Tapi untuk Raka, ia bisa melihat bahu yang sedikit bergetar, ia tahu jika gadis ini sedang menahan sesak di dadanya.
" Tidak ", jawab Delia dengan tegas pada akhirnya.
" Kau pasti tahu... aku akan selalu ada untukmu. Kapanpun kau butuhkan .... jangan pernah sungkan. Aku benar-benar menunggumu .... untuk apapun.... ".
Dan Ardelia pun memutar badannya, memberikan sebuah senyuman yang manis.
" Aku tahu... terimakasih ", lirih terdengar namun tulus terasa.
................
Ardelia : ' Tolong cari info keluarga Arya Sanjaya, bisnis dan anak laki-laki mereka '.
Raka : ' Butuh secepatnya non ? '
Ardelia : ' Ya... so fast so good '
Raka : ' Tunggu ya 1-2 hari ini '
Ardelia : ' Okey .... terimakasih. Besok malam aku pulang pake kereta '
Raka : ' Aku sudah di Semarang non... maaf nggak bisa mengantarmu '
Ardelia : ' Nggak apa, yang penting itu tadi ya... toloooong '
Raka : ' Pasti nona manis... insyaallah '
Ardelia : ' Terimakasih Raka... '
Raka : ' Salah tuh.... Kenapa bukan terimakasih cinta ?... 😁😁😁'
Ardelia : ' Heeeeem..... 😎😎😎😎😠😠😠 '
Dan Raka pun mengulum senyum membaca balasan pesan terakhir dari chat-nya dengan Ardelia. Bersamaan dengan itu muncullah seorang gadis mungil dengan sepasang mata yang dinaungi alis tebal, semakin mempertegas sorot matanya yang tajam. Seandainya bibir dan garis hidungnya tidak sempurna, pastilah yang nampak adalah kesan angkuh, galak dan juga cerdas, mengiringi kecantikannya yang elegan. Tipikal yang banyak dihindari oleh pria, wanita cerdas, mandiri dan nampak tak membutuhkan apapun lagi, karena dia sudah memiliki segalanya. Dialah Kirana Safeea Putri Manorin, si bungsu kesayangan ayah dari keluarga Mandala.
__ADS_1
" Mainan baru ya kak ? ".
" Bukan .... yang ini bukan mainan kok. Yang ini mau diajak seriusan. Tapi susaaah .... ".
" Kena karma 'lo ... ".
" He... he... he... bisa jadi 'Ran ".
" Masih kakak cantik jago judo yang jadi psikologi itu ? ".
" He'eh... kami ingat dia ? ".
" Tentu saja.... orangnya ramah, sederhana ... aku suka. Karena dia nggak ganjen kegatelan, bukan tipikal yang blingsatan cari muka ketika bertemu trio Arsenio yang terkenal kegantengannya seantero negeri ... ".
" Aaah...... terimakasih.... terimakasih ... atas pujian adik cantik ... ".
Gerakan Raka mengikuti tata cara berterimakasih ala para pendekar kungfu di film Mandarin, membuat Kirana mencibir.
" Kok nggak kau tembak aja sih dia ? ".
" Sudah sering 'Ran...... nggak pernah mau dia. Malah dikira main-main ".
" Cara lo' kali yang gak jelas ... keliru cara mu pasti kak ".
Kirana meletakkan potongan buah pir yang baru selesai di kupasnya diatas piring lalu menyajikan pada kakak sepupunya ini. Sore itu Raka yang sudah selesai mempersiapkan untuk acara seminar nasional nya, sengaja mengunjunginya Kirana. Kebetulan si bungsu keluarga Mandala itu juga belum berangkat ke rumah sakit, karena hari ini dia kebagian sift malam.
" Ehm .. iya juga kali ya ". Raka mengiyakan dengan mulut yang masih mengunyah potongan buah manis berair dengan aroma yang khas itu.
" Berhenti main-main dengan para cewek dungu' itu.... kejar yang satu ini. Ngomong cinta dengan cara yang romantis, halus dan tulus .... ".
" Halah!!! gaya mu .... kayak yang udah pernah ditembak cowok aja ".
Tentu saja selorohan Raka yang terlalu jujur itu membuat Kirana mengeluarkan aura turunan sang papa Mandala, dingin ... menghunjam sanubari. Tak pandang bulu, ditikamkan walaupun pria di hadapannya ini adalah kakak sepupunya.
" Terlepas dari semua itu.... aku ini wanita, sama dengan si mba psikolog itu ", ketus Kirana mengucapkannya. " Punya sense yang sama .... sekata-kata 'lo kak ".
" He... he... he... iya deeeeeh, maaf ".
" Terus gimana nih ?. Mau lanjut nembaknya nggak ? ".
" Setelah di tolak berkali-kali .... aku jadi tidak yakin ... jangan-jangan emang dia udah mati rasa sama aku. Mungkin baginya .... aku ini cuma teman baiknya ".
Raka terlihat pasrah dengan wajah yang tidak dibuat-buat. Kirana tersenyum kecil melihat ekspresi kakaknya ini.
" Fix.... 'lo beneran jatuh cinta ".
" Emang iya ", sergah Raka cepat dan terlihat ada sedikit emosi pada kilatan matanya. " Kan' aku sudah bilang tadi ".
" Kalau begitu blokirlah semua akses cewe' gaje' itu ke kehidupan mu. Tunjukkan kesungguhan mu pada si mbak .... katakan cinta dengan kesungguhan dan ketulusan. Bukan sambil lalu ... "
" Kok 'lo tau sih kalo' aku ngomong cinta'nya sambil lalu ? ".
Kirana benar-benar dibuat kesal dan sebal oleh kedunguan Raka. Ia pun menarik nafas panjang untuk meredakan ledakan ekspresif nya .
" Ya ... iyalah 'bambaaaang.... dan wanita normal manapun juga akan menolak mentah-mentah ungkapan cinta murahan mu itu.. ".
" Eh !!!!.... yang menerima banyak koq ".
" Yang nerima itu.... kurang dua sendok. Mba psikolog itu normal, wanita bener... jadi ngerti mana yang serius, tulus dan mana yang main-main. Kenapa siiiiih .... kau mendadak bego' begini .... hadeeeh. Ada yang nikung ... baru tau rasa lo' kak ".
" Udah ada mau dijodohin sama papa nya... dengan anak sesama pengusaha ".
" Naaaah .... beneran 'kan ", salak Kirana masih dengan ekspresi gemas. " Nggak gercep sih lo' kak ... cinta nggak sih sebenarnya sama si mbak ? ".
" Namanya .... Ardelia Asmara Sani .. "
" Nah itu... kakak cinta mati nggak sama mba Ardelia ? ".
Raka tak segera menjawab, ia menyandarkan punggungnya di kursi rotan sambil berbantal kedua telapak tangan yang diletakkannya di belakang leher. Tatapannya lurus seolah menembus jarak, ruang dan waktu.
" Mba Ardelia yang pintar, cantik dan baik.... kakak rela dia dimiliki orang lain ", tanya Kirana terdengar lebih lembut.
" Kakak rela.... dia dijodohkan dengan orang lain ?. Bagaimana kalau dia mau menerima dengan terpaksa ? ... kakak rela melihatnya bersedih ? ... Kakak tega melihatnya terpenjara seumur hidup dalam penyesalan ?. Dan saat itu sudah tidak bisa lagi bisa berbuat apa-apa .... karena sudah terlambat. Bagaimana jika ia terpaksa menerima perjodohan itu ... karena lelah menunggu kepastian dari mu. Kalau benar demikian ... apakah kakak masih punya hati dan muka untuk menatap mba Ardelia kelak ? ".
Karena cinta dalam persahabatan itu terkadang begitu halus dan lembut
Bagai partikel-partikel mikro yang seolah tak kasat mata
Walaupun cinta itu tersirat bukan tersurat
__ADS_1
Tapi hati seorang wanita tetap butuh ketegasan