
Aku lelah.......
Mencoba berdamai dengan risau yang menggulung nurani
Resah yang bersahutan berseru dalam kalut kemelut hati
Aku sungguh benci .......
Seandainya aku bisa membunuhmu
Telah kutancapkan belati amarah ini .... tepat di jantung mu itu
Kau tahu ? karena degup jantungmu lah yang telah menghancurkan ku
Aku sangat benci ........
Tidak bisakah kau enyah saja seperti debu tersapu badai ?
Apakah engkau pernah mengerti ?
Bagaimana aku terseok, terjerembab, dan terinjak demi untuk membalut luka ini
Demi untuk melupakan mu
Demi belajar memaafkan mu
Tapi engkau hadir kembali seperti mimpi buruk yang menghantuiku
Haruskah aku benar-benar membunuh mu
Atau ...... aku yang mati saja ??????
........................................ Amarah Sang Dara
Sore itu belum mulai beranjak senja saat Haidar menemukan Yulia yang tengah termenung menatap batas cakrawala. Wajah ayu yang penuh kelembutan itu terlihat muram. Ia menatap cakrawala yang mulai jingga itu dengan tatapan kosong. Sementara angin laut yang mulai dingin mempermainkan hijabnya. Di hadapannya, ombak itu masih menggulung cukup tinggi. Yulia tak bergeming, ia tetap bersandar pada pintu mobilnya. Sama sekali tak ada cahaya ceria di raut wajah ayunya.
" Sebentar lagi senja, tapi keindahan itu sepertinya hanya sesuatu yang kosong di matamu ".
Yulia sedikit tersentak kaget, kehadiran Haidar yang tiba-tiba telah menarik kembali kesadarannya. Ia pun tersenyum dan sedikit bergeser memberikan tempat untuk pria ini bersandar bersama. Lalu kembali menatap ke laut lepas.
" Kau tahu, aku dulu hanya setahun sekali melihat laut. Setelah hari raya lebaran, bapak akan membonceng aku dan Rio adikku untuk melihat laut. Awalnya saat kami masih kecil, ibu juga ikut serta. Tapi kemudian dua tubuh kami yang membesar ini.... membuat ibu cukup senang bisa mendengar bagaimana laut dari riuhnya cerita kami saja. Tidak menyangka ya ? kini aku bisa melihat laut kapan saja ".
Yulia bercerita dengan tatapan yang mulai menghangat, dan Haidar tersenyum melihatnya. Wanita ini akan selalu berbinar-binar saat menceritakan tentang keluarganya .
" Laut itu..... seperti perasaan. Terlihat tenang namun menggelora, terkadang terlihat mengamuk namun tertaklukan . Dan terkadang .... sangat indah ".
" Aku ingin seperti laut .... ", seloroh Yulia. Haidar sekilas menatapnya yang tak melepaskan pandangan dari gulungan ombak yang berkejaran. " Dia menelan semua ..... semuanya ..... tanpa pernah berkeluh kesah, lalu memurnikannya lagi. Seandainya hati manusia bisa seperti itu...... tentu tidak akan ada rasa sakit hati dan dendam ya ?".
" Apakah ini masih tentang Wisya ? ".
Yulia terdiam, ia tetap menatap laut lepas. Hembusan nafasnya terdengar seperti sedang melepaskan semua beban.
" Kau sudah tahu bukan ?, besok dia akan kemari untuk kunjungan bersama para petinggi. Aku yakin .... seharusnya dia tidak ikut, tapi dia memaksakan kehendak dengan koneksinya itu. Mau apa coba ? ".
" Tentu saja untuk memeriksa kita. Bukankah kita sudah sangat terkenal sebagai duet pelanggar SOP ? ", Haidar tertawa di akhir kalimatnya. Kali ini Yulia pun ikut tertawa.
" Apakah kau sedikit .... takut ketemu Wisya lagi ? ". Haidar bertanya dengan hati-hati.
" Ya ... ".
" Kenapa ? ".
Yulia menegakkan berdirinya, beralih menatap Haidar dengan tatapan resah. " Aku takut tidak bisa menahan diriku ..... untuk tidak mencabik-cabiknya ".
" Sebesar itu'kah dendam mu padanya ? ... bagaimana dia dulu menyakitimu ? hingga kau jadi seperti ini ".
" Aku .... hidup dari puing-puing kehancuran karena perbuatannya. Aku .... adalah ..... bentuk baru dari pecahan kristal..... tidak sempurna ".
__ADS_1
" Jadi ..... semua gosip yang kudengar itu benar ? ", Haidar mengucapkannya tanpa mengubah ekspresi.
" Aku tidak mengerti gosip yang mana... bukankah terlalu banyak gosip tentangku dulu ", kalimat itu terasa perih mengoyak perasaan sang penyampai, Yulia menelan kepahitan itu kembali.
Sementara Haidar terdiam beberapa saat, ia ragu untuk memulai sebuah pembicaraan kembali. Karena hal ini akan menyakiti wanita disebelahnya. Seperti sebuah luka setelah operasi yang kembali terinfeksi, maka ia harus menyayat dan membukanya kembali. Membersihkan nanah, memberikan obat lalu menjahitnya ulang. Luka lama yang dibuka kembali, tentunya lebih menyakitkan. Tapi jika tidak dilakukan reparasi, tentu akan membuat infeksi itu semakin terpajan dengan luas. Haidar pun menoleh menatap Yulia, ia meyakinkan dirinya untuk tetap melakukan reparasi hati wanita ini.
" Aku tidak memperdulikan kedekatan mu dengan Wisya..... hanya saja.... pasti itu sangat menyakitkan untuk mu. Gadis yang menjual tubuhnya ..... aku yakin, kau bukan wanita seperti itu ". Haidar menggeleng perlahan, pada akhirnya ia harus mengucapkan kalimat tersebut. Sesuatu terasa sangat memuakkan dan setengah mati dihindarinya. Haidar perlahan kembali menatap Yulia, menunggu bagaimana reaksi gadis itu.
" Ooh..... ironis bukan ? ... dan bagaimana jika yang kau yakini itu salah Haidar ? ". Tapi Yulia tersenyum dengan miris yang kental.
" Perlu hal yang lebih besar lagi untuk mengubah pandangan ku tentang mu. Bagiku .... kau tetap orang yang baik, yang tulus ..... ".
Yulia tersenyum lagi, kali ini kegetiran itu tidak tertutupi. Ingatan yang selama ini berusaha digulung dan di kuburnya dalam sepi, perlahan mulai muncul kepermukaan. Pasti ini saatnya untuk menghadapi, melawan rasa takut itu dengan menantang kenangan buruk. Menceritakan sebuah petikan kisah terkelam dari hidupnya.
" Haidar .....".
" Ya..... ".
" Apakah kau bisa membantu ku untuk menyimpannya sendiri .... hanya untuk mu.... tentang kisah kelamku ", Yulia berpaling dan menatap sepasang mata Haidar, tatapan memohon yang menyayat.
" Seperti keyakinan ku padamu, maka kau juga bisa mempercayai ku .... demi Allah aku berjanji Yulia ". Tegas Haidar mengucapkannya, terpancar juga dari sinar mata yang lembut namun menjanjikan sebuah kesungguhan.
Kemudian Yulia pun memulai kisah sedih dan penuh lukanya itu dengan sebuah senyuman. Wanita itu bertutur lembut, tapi hatinya tengah berseteru hebat dengan sang masa lalu yang kelabu dan menyakitkan. Ia sedang melakukan penyembuhan untuk dirinya sendiri. Dengan berbagi cerita dan perasaan pada seseorang yang dipercaya. Dan cerita itupun mengalir, terkadang bergulir lambat karena berpacu dengan buliran air mata.
Kisah bagaimana tentang seorang gadis yang berjuang menggapai impiannya. Seperti dara lainnya, iapun mulai merasakan debaran hati saat sebuah kerlingan mata sekilas menatapnya. Tidak hanya itu, ia pun mulai merenda mimpi saat sang pemilik mata elang itu mulai memberikan seulas senyuman padanya saat berpapasan.
Hari itu hujan deras mengguyur dan senja sudah mulai tergelincir menemui malam. Gadis itu adalah Yulia muda yang baru berusia sembilan belas tahun, ia menunggu dengan resah di depan laboratorium biologi. Ia tidak membawa payung dan tidak mau juga buku-bukunya menjadi basah. Tapi ua harus segera pulang, atau ia terpaksa harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar taksi atau ojek, karena sebentar lagi angkutan umum menuju tempat kostnya sudah habis jam operasi.
" Tin.. tin.. tin.. ", suara klakson sebuah mobil tiba-tiba membuyarkan kegelisahannya. Tapi ia menjadi kebingungan.
Belum lagi kebingungan itu memudar, tiba-tiba saja turun sesosok pemuda yang cukup dikenalnya. Dia berpayung biru, mengulas senyuman yang ramah. Berjalan turun menghampirinya.
" Kenapa belum pulang ? ayo bareng aku ".
Yulia terdiam, ia tak mempercayainya yang dilihat dan dengarnya. Pemuda ini adalah Wisya Damara, satu dari deretan mahasiswa tampan di kelasnya. Suatu hal yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya. Cukup tahu nama pemuda itu saja, ia tidak pernah berpikir atau bahkan berharap lebih.
Yulia tersadar dan pemuda dihadapannya adalah nyata. Tapi ia terlalu kaget dan bingung, sehingga untuk bernafaspun ia nyaris saja melupakannya caranya.
" Yulia..... ", sapa itu terdengar ramah.
" Ya... ah, tidak ... aku sedang tidak menunggu siap-siapa. Hanya menunggu hujan reda ", akhirnya Yuliapun mampu merangkai kata.
" Tapi hujan ini sepertinya akan lama, keberatan jika aku mengajak mu bersama ? ", dan Wisya pun tetap mengulas senyuman sambil bertanya.
" Maaf ... terimakasih... biar ku tunggu hujan reda saja. Maaf ... aku tidak ingin merepotkan mu ", tolak Yulia.
" Bagaimana jika aku memaksa ? ".
" Hah ?!!! ".
Belum lagi Yulia tersadar dari keterkejutannya, tangan yang lebar itu telah menariknya dan membuat berada di bawah satu payung. Lalu lengan itu sedikit melingkar pada pundaknya dan membawanya berjalan menghampiri mobil yang masih menyala.
Senyuman pemuda ini meyakinkan Yulia untuk masuk kedalam kendaraan itu. Hingga iapun tersadar saat kini kendaraan itu telah melaju menembus hari yang mulai malam. Bersama hujan yang tak kunjung usai, dua insan muda itu saling membuka pembicaraan. Walaupun sang dara lebih hanya pada menjawab pertanyaan, dan itu sebatas sepatah dua patah kata saja. Tapi itulah awal dari sebuah jalinan peristiwa.
Dan keesokan harinya, Yulia yang terbiasa duduk di bangku depan saat perkuliahan, menunggu kehadiran Wisya. Ia hanya bertujuan untuk mengembalikan payung biru milik pria muda itu. Sayup terdengar suara dan derai tawa Wisya, pasti ia sedang berjalan menuju kelas ini bersama genk bangsawan-nya .
Benar saja, dari sudut matanya Yulia menangkap kehadiran Wisya, Anggara, Sarah dan juga sicantik blasteran Jerman, Anelis. Terlihat Wisya terlalu sibuk bercanda dengan para temen dekatnya, pemuda itu bahkan sama sekali tidak memperhatikan keadaan di kelas itu. Dunia anak-anak bangsawan itu memang tidak membutuhkan apapun lagi.
Hanya sebuah payung, pasti ia akan segera melupakannya. Sebuah benda yang cukup mudah untuk dibelinya lusinan dalam sehari. Akhirnya Yulia pun menyimpan kembali benda itu, seperti ia menyimpan senyuman yang sebenarnya adalah untuk menertawakan dirinya sendiri. Sudahlah Yulia.....
Namun terkadang sang waktu dan sang takdir seperti sepakat untuk menuliskan sebuah cerita bersama. Berawal dari tugas parasitologi kedokteran, yang mengharuskan para mahasiswa itu menghafal tentang parasit multiseluler yaitu cacing dan arthropoda. Saat itu mereka harus mengfalkan dan membuat ulasan berbagai nematoda dalam pengelompokan siklus paru, usus baik semasa telur, larva hingga dewasa. Tentu saja lengkap dengan gejala yang ditimbulkan, organ yang diserang dan obat yang harus diberikan. Mengharuskan para mahasiswa itu tergabung dalam satu kelompok yang beranggotakan empat orang.
" Yulia Rahma, Aditya Sanusi, Mahendra, Wisya Damara ..... ", baca si ketua kelas dengan lantang.
Yulia tidak bisa memprotes peraturan dari dosennya. Pengelompokan itu dilakukan secara acak. Dan kini ia menjadi perawan di sarang penyamun. Dari ketiga pria itu, ia hanya mengenal satu saja dari mereka.
" Hai... kau pasti tidak mengenalku. Adit... ", pemuda hitam manis itu mengulurkan tangannya ramah. Yulia pun menyambutnya dengan sebuah senyum tipis.
__ADS_1
" Beruntung gabung yang terpintar.... Hendra. Kau harus ingat namaku ya ".
Temen kedua dalam kelompoknya ini pun terlihat ramah dan baik. Sepertinya Yulia tidak perlu terlalu merasa khawatir. Saat itulah sebuah tangan menyentuh pundaknya. Yulia pun dengan serta-merta menoleh, dan ia mendapati si mata elang itu tersenyum.
" Bagaimana ibu ketua kelompok ? ", Widya berkata sambil menarik kursi dan menggesernya mendekat pada Yulia.
" Aku tidak setuju .... kita belum menentukan itu. Bagaimana jika salah satu dari kalian saja ", protes Yulia.
" Terserah, aku ikut saja.... ", Wisya terlihat cuek.
Pada akhirnya yang menjadi ketua adalah Wisya, Yulia menjadi sekretaris dan dua orang pemuda lainnya bertugas mencari literatur yang dibutuhkan. Kemudian waktu tiga hari selanjutnya, keempat orang itu secara intens bertemu dan mengerjakan tugas mereka. Hingga akhirnya tugas itupun selesai dengan membuahkan raut wajah puas pada keempat mahasiswa itu.
" Kita makan malam bersama, aku yang traktir ", Wisya terlihat bersemangat.
" Aseeeek.... ayo, tau' aja orang lapar ", Hendra terlihat bersemangat. " Ayo Dit ", ajaknya pada Aditya.
" Sebentar, ini 'kan harus diprint dan dijilid dulu .... besok pagi jam pertama loh ", Adit terlihat sedikit gusar.
" Soft file... serahkan padaku ", sergah Wisya cepat.
" Sudah ku kirim ke email kalian semua ... silahkan cek ", tiba-tiba Yulia menegahi.
" Fix.... ayo makan dulu ", Wisya terlihat sumringah.
Tak berapa lama keempat orang itu nampak sudah berada di sebuah warung nasi goreng kebanggaan para mahasiswa. Namun sesaat setelah mereka berempat duduk dan memesan makanan serta minuman, Yulia berpamitan sebentar. Ternyata ia menyebrang ke ruko seberang jalan, ketempat rental komputer merangkap pengetikan dan penjilidan. Wajah gadis itu terlihat sumringah sekembalinya dari sana.
" Sudah beres.... tugas kita sudah jadi, sebentar lagi ", ucapnya dengan berseri-seri.
" Good job .... ", Aditya mengacungkan dua jempolnya.
" Kelompok terefisien yang pernah ku temui ", Hendra pun menimpali.
" Ayo makan .... kita rayakan keberhasilan kita hari ini ", ajak Wisya penuh semangat.
Dan tiga piring nasi goreng jumbo spesial itupun datang mengepulkan aroma yang menggelitik indra penciuman dan berimbas meningkatkan rasa lapar. Yulia tersenyum menatap tiga orang pria kelaparan yang terlihat sibuk menikmati hidangan mereka. Sementara ia masih menunggu paklay pesanannya.
" Ini mba ... silahkan ". Akhirnya sepiring tumis sayuran berbumbu merica dan bawang putih itupun terhidang. Irisan bakso sapi, daging ayam dan aneka sawi serta wortel dan tomst segar itu terlihat sangat menggoda. Yulia perlahan menyendok dan menikmati.
" Yulia, ternyata ini ya resep jadi pinter ", seloroh Wisya tiba-tiba. Yulia mengangkat wajahnya dan mendapati Wisya yang duduk dihadapannya tengah tersenyum menatapnya.
" Ih ... apaan sih ", dan pipinya bersemu merah karena malu. Pujian seperti itu cukup sering mampir di telinganya, tapi hal sama yang diucapkan pemuda ini ternyata mampu membuat Yulia merona malu, dan ada getaran lembut yang merayap di hatinya.
" Itu .... si Haidar, dia juga pinter. Makannya apa ya dia ? ", sela Aditya sambil sibuk mengunyah kerupuk dan menimbulkan suara gemeretak renyah di telinga.
" Kalau dia siiih.... belajar terus, sampai nggak ada waktu buat ngomong sama temen ". Dan selorohan Hendra disambut tawa oleh dua orang teman prianya, sementara Yulia hanya tersenyum kecil.
Waktu itu sudah hampir jam sepuluh malam saat Wisya kembali mengantar Yulia ke kos-kosannya. Seperti beberapa hari yang lalu, gadis itu tidak banyak bicara saat berada di dalam mobil. Wisya sengaja memutar musik, sebuah lagu berbahasa Korea dengan nada yang lembut mengalun.
" Kau tahu lagu ini ? ", tanya Wisya kemudian.
" Lee Seung Gi ... Return " .
" Daebak .... ternyata update juga ya nona profesor ini ", Wisya terkekeh.
" Sangat terkenal.... menceritakan tentang cinta pertama dari seorang remaja yang kemudian terpisah justru disaat mereka menyadari tentang perasaannya masing-masing ".
" Waaah.... jangan-jangan kau pun hafal liriknya ", Wisya terbelalak.
” Sunganmada nega tteoolla....
Joyonghi natge ullideon geu moksori.
Bomeul darmeun haessal gatatdeon neoui moseupkkaji.
Aju jageun gieokdeul jocha yeojeonhi seonmyeonghae ", dan Yulia pun bersenandung pelan diikuti oleh Wisya.
" Urin eodijjeum isseulkka?
__ADS_1
Urineun haengbokhaetdeon geolkka?.... itu bagian akhir yang paling menyentuh .... saat bertanya, kau ada dimana dan apakah kau bahagia ? ", Wisya nampak bersemangat, hingga lagu itupun berakhir.