PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Sebuah Janji (4)


__ADS_3

Ini adalah pertama kalinya dia datang memasuki sebuah cafe yang sangat terkenal. Sering ia lewat bersama beberapa orang teman di depan cafe ini, tapi hanya sekedar lewat saja tanpa punya keinginan untuk masuk ke sana. Mendengar harga-harga minuman yang bisa untuk enam kali jatah makan orang-orang seperti dirinya, benar-benar menghilangkan keinginan untuk sekedar mencoba tempat yang baru. Apalagi melihat bagaimana penampilan para pelanggan tempat ini, sungguh Yulia tidak pernah membayangkannya, sama sekali.


Tapi kini kenyataan membawanya terduduk dengan sedikit canggung di sebuah meja yang sangat strategis. Berada di lantai dua dekat dengan jendela dan terasa sangat nyaman. Karena ternyata lantai dua itu digunakan untuk para VIP members. Terbiasa digunakan untuk meeting kecil, bahkan juga sebuah mini party.


Saat ini hanya ada Yulia bersama Wisya ditempat itu. Alunan musik yang lembut serta suasana yang nyaman pada akhirnya membuat gadis itu tidak lagi merasa canggung. Tanpa terasa hampir satu jam berlalu, dan dua orang itu masih belajar dengan penuh semangat.


Ketika pelayanan datang kembali untuk menanyakan apakah membutuhkan tambahan pesanan lagi, saat itulah Wisya baru menyadari sesuatu. Rupanya sudah hampir dua jam dirinya bersama gadis ini. Mungkin inilah pertama kali dalam hidupnya ia merasakan belajar itu sangat menyenangkan.


" Kau mau tambah minum lagi ? atau mungkin makanan kecil ?.... coba dimsum ya, enak sekali loh ", Wisya menawarkan penuh semangat.


" Tidak... terimakasih, ini sudah sangat cukup. Oh ya, masih ada yang sulit kau pahami ? ", Yulia menolak dengan halus.


" Sepertinya cukup jelas, baru kali ini aku merasa tertarik dengan pelajaran ini ".


" Memang siapa yang memaksa mu kuliah kedokteran ? ".


Pertanyaan itu tersampaikan dari mulut seorang gadis yang tidak terduga. Wisya terlihat sedikit terkejut, lalu ia pun tersenyum.


" Apakah aku begitu transparan di matamu ya ? ", Wisya membalas pertanyaan itu dengan pertanyaan.


" Karena sebenarnya enggak sangat cerdas .... maaf, seharusnya kau harus mulai serius sekarang ini. Tidak peduli bagaimana awalnya bisa sampai mengambil jurusan ini, tapi .... kita sudah hampir menyelesaikan separuh perjalanan .... bukan waktunya untuk menyesal atau bersikap tidak peduli untuk sekedar protes .... Wisya ".


Pemuda itu terdiam, tapi apa yang disampaikan oleh gadis ini sangatlah tepat dan telak menembus lapisan kebohongannya. Seolah gadis ini mampu mengetahui rasa sakit yang ditutupinya, dan juga mampu mengetahui rasa marah yang dipendamnya. Hingga ia kembali tersenyum, dan memberanikan diri meraih jemari si ayu yang lugu dan penuh pesona.


Yulia terlihat begitu gugup dan salah tingkah. Tapi sentuhan lembut yang ternyata kuat menahan tarikannya untuk lepas, tanpa kentara itu pada akhirnya membuat Yulia terdiam pasrah dan menunggu.


" Mau berjanji satu hal pada ku ? ", tanya Wisya di sela tatapannya.


" Berjanji apa ? ", Yulia kebingungan.


" Jangan katakan rahasia tentang ku pada siapapun ".


" Hah ?!!! ", Yulia semakin kebingungan. " Rahasia apa ? ".


" Yang kau katakan semua adalah benar. Aku dipaksa kuliah di sini oleh orang tuaku.... sebenarnya aku sangat tertarik pada mesin. Tapi mereka tidak pernah mau mendengarkan keinginan ku. Dan .... ya... tingkah ku selama ini adalah bentuk protes. Aku bosan dan muak selalu dibanding-bandingkan .... " .


Baru pertamakali inilah Yulia menyadari tatapan Wisya yang tajam mengerikan. Imbas dari ketidakmampuan, keputusasaan dan rasa sakit yang begitu dalam. Kini ia terlihat seperti setajam pedang yang mengkilat bersiap mengoyak apapun di depannya. Yulia tercekat dan merasakan dingin menusuk hatinya. Tatapan Wisya yang begitu mengerikan ini membuatnya merasa kembali tidak mengenal pemuda ini.


Hubungan itu terjalin perlahan dalam senyap dan sepi. Ada begitu banyak hal kedekatan saat kedua orang itu bersama, berbagi cerita dan juga bertukar canda. Semester selanjutnya yang penuh dengan praktek langsung di rumah sakit dan laboratorium mengharuskan keduanya semakin intens bertemu saat harus membuat laporan. Sebenarnya Yulia tidak selalu membantu Wisya menyelesaikan tugasnya, pemuda itu cukup bisa mengerjakannya sendiri. Hanya saja ia beralasan jika bersama Yulia, otaknya seperti ternutrisi dan menjadi lebih pandai lagi.


Wisya tidak pernah menyapa Yulia saat berada di kelas, terutama jika sedang banyak orang. Apalagi jika Wisya sedang bersama teman-teman dekatnya. Yulia pun tidak peduli dan tetap bersikap biasa saja, toh ia terbiasa diabaikan oleh para golongan atas itu, dan dirinya juga tidak butuh mereka. Tentu saja dengan kemampuan otaknya yang luar biasa', ia sangat bisa menyelesaikan semua tugas itu sendiri.


Namun jika Wisya tak henti memberikan perhatian pada gadis itu, selalu ada sekotak jus buah, coklat susu atau juga sebatang cokelat yang diberikannya sembunyi-sembunyi pada Yulia. Lalu pemuda itu akan menunggu Yulia yang terbiasa berlama-lama di perpustakaan. Hingga pada akhirnya, beberapa teman mulai sering memergoki dua orang tengah bersama.


Pengumuman hasil ujian semester tujuh itupun keluar. Wisya dengan hati berbunga-bunga akhirnya berhasil menemui Yulia yang sedari tadi pagi dicarinya. Kali ini gadis itu duduk di teras masjid kampus, sendirian dan nampak sedang menunggu seseorang. Wisya menghampirinya dengan senyuman lebar.


" Hai ..... aku mencarimu kemana-mana ", terdengar riang suara pemuda itu. " Terimakasih ya .... terimakasih banyak ... berkat kau nilaiku meroket ".


" Selamat ya.... itu berkat kerja keras mu kok ", Yulia tersenyum mendengar hal itu. Tapi entah mengapa ada kesedihan tersirat di pancaran mata gadis itu.

__ADS_1


" Kau kenapa ? ", tak urung Wisya pun menangkap rona sedih itu.


" Kenapa memangnya ? ", balas Yulia sambil membuat ekspresi seolah bingung.


" Kau habis menangis... ada apakah ? boleh aku tahu... siap tahu aku bisa membantu mu ".


" Tidak... tidak apa-apa ", Yulia menggeleng perlahan. " Aku hanya sedikit capek, pulang duluan ya .... ". Gadis itupun bergegas pergi meninggalkan Wisya yang termenung bingung. Beberapa hari kemudian Yulia menjadi sangat sukar ditemukan.


Hingga akhirnya Wisya memahami satu alasan kenapa gadis itu menjadi sangat sukar ditemukan. Dan kini ia berjalan menghampiri seorang pemuda dengan perasaan bergemuru.


" Haidar ... ", sapa Wisya dengan suaranya yang berat dan khas. " Selamat ya, kau kini jadi yang terbaik ".


" Terimakasih ... ".


Wisya menatap Haidar yang seolah-olah hanya basa-basi membalas ucapannya. Hatinya perlahan menjadi geram dengan perilaku teman seangkatannya ini. Ia tahu betul bagaimana latar belakang keluarga Haidar. Bahkan kedua orang tuanya adalah teman satu angkatan dari mamanya Haidar. Dan karena pemuda ini jugalah, ia selalu menerima omelan panjang-pendek dari mamanya, terlebih setelah Haidar berhasil menjadi yang terbaik. Kini setiap pembicaraan selalu diselipi dengan nama Haidar, dan itu membuat Wisya semakin muak.


" Hei.... tidak bisakah kau berbaik hati sedikit? bukankah peringkat kedua itu sudah cukup baik ".


" Apa maksudmu ? ", Haidar kebingungan.


" Kau ini.... pura-pura tidak tahu atau memang tidak perduli sama sekali. Selisih nol koma mu itu telah menghancurkan impian seseorang.... seharusnya kau bisa bermurah hati sedikit. Keterlaluan !!!!! ", nada suara Wisya meninggi.


" Hei ... ", Haidar menunjukkan raut tidak sukanya. " Kita tidak ada masalah apapun ya... dan aku tidak mengerti apa maksud mu. Kenapa kau berteriak pada ku ? ".


" Masih belum paham juga ????!.... kau seharusnya membiarkan Yulia tetap di posisi pertama. Paham ?!!!!! ".


Dua pasang mata itu saling tatap dengan kilatan tajam. Seolah genderang perang telah ditabuh.


" Cih !!!.... yang lebih buruk lagi, orang tanpa toleransi dan belas kasih seperti mu ".


Tanpa menunggu jawaban dari Haidar yang mulai terlihat menanggung beban emosi, Wisya segera berlalu meninggalkan pemuda itu. Saat itulah sebuah bendera perang telah saling dikibarkan, seiring percikan permusuhan. Wisya sudah tidak akan menahan diri lagi. Ia hanya akan menunggu saat yang tepat.


" Mamanya dulu seangkatan dengan kami, cukup pintar, tapi sebenarnya hanya sangat beruntung saja. Ya.... bisa menikah dengan seorang pewaris Ars Group ", begitulah dokter Fransiska atau ibu dari Wisya Damara mulai bercerita.


" Ku dengar dia juga satu angkatan dengan mu. Namanya Haidar .... siapa... Mandala gitu. Kau carilah dan usahakan berkawan baik dengannya ".


" Bagaimana ? benar ada Haidar ? ", dan sang Mama pun terlihat bersemangat.


" Kalau sudah ketemu Haidar, tolong sampaikan salam kami berdua ya.... ", pesan dokter Pradipta sang Ayah.


Wisya hanya tersenyum kecil tapi tidak pernah menyampaikan apa yang diminta oleh kedua orangtuanya. Suatu ketika ia tidak bisa lagi membendung rasa kesalnya. Dengan suara yang tertahan ia mengungkapkan semua yang dirasakannya tentang Haidar.


" Ma... kenapa sih papa begitu bersemangat jika sudah tentang Haidar?. Mama juga ikut-ikut.... asal mama tahu saja ya, si Haidar itu tidak mau bergaul dengan teman-teman ... ia pemilih. Selesai kelas langsung menghilang, berdiam diri di bangku depan dan tak berbicara dengan siapapun. Dia sangat sombong.... sepertinya kami itu sesuatu yang menjijikkan ... sehingga ia memilih untuk tidak berinteraksi. Dan ... bohong, aku tidak pernah menyampaikan salam kalian berdua untuk orang tuanya. Karena aku tidak pernah bisa mendekatinya.... dan aku... tidak Sudi !!!!!! ".


Wisya mengucapkan semuanya dengan hati yang kesal sehingga membuat nafasnya terengah-engah. Sepasang matanya yang tajam itu menyiratkan rasa tidak suka yang menyala.


" Begitukah ? ... oooh... sungguh berbeda dengan ibunya, dia pasti seperti ayahnya yang dingin dan kejam itu ".


Wisya menatap mamanya, ia meyakinkan bahwa apa yang baru saja ia dengar adalah benar berasal dari perkataan sang bunda.

__ADS_1


" Aku nggak ngerti, kenapa papah selalu memuji-muji keluarga si Haidar itu ", tukas Wisya lagi dengan tidak mengubah raut wajahnya.


" Karena papa mu ... adalah cinta pertama dokter Orlin. Hanya saja papa mu tidak pernah menyadarinya ... hingga mama yang memberitahu, tapi itu sudah sangat terlambat.... karena kami sudah menikah. Dan .... terkadang, seraut rindu dan penyesalan itu masih sering terlihat di pelupuk mata papa mu. Sebenarnya ... aku benci hal itu ".


" Kalau mama membencinya... kenapa terlihat begitu bersemangat juga menanggapi cerita papa tentang dokter Orlin itu '', protes Wisya.


" Harus begitu.... mau bagaimana lagi. Itu strategi supaya bisa memantau mereka .. ".


Dan begitulah benih kebencian itu mulai ditanam. Tidak memperdulikan apakah itu benar atau salah, yang ditiru adalah bagaimana benci itu menuntun hati untuk menyakiti. Atau sebenarnya benci itu sendiri yang melahirkan sakit hati. Satu nama tercatat di hati Wisya dengan tinta merah, Haidar Mandala Wirayudha ... musuh yang harus diwaspadainya.


..................


Sepertinya sudah menjadi sebuah pelengkap wajib dalam sebuah episode hidup seorang manusia, bahwa rasa sakit, kepedihan dan kesusahan itu pasti akan datang bersamaan. Sepertinya semesta itu sudah sangat selaras dengan sang waktu untuk menghilangkan rasa manisnya hidup secara bersamaan. Demikian juga yang dirasakan Yulia.


Ia terpuruk oleh rasa bersalah karena tidak bisa mempertahankan predikat juaranya, dan membuatnya kehilangan beasiswa. Ditambah dengan kondisi kesehatan ayahnya yang mulai memburuk, hasil panen di kampung yang justru membuat rugi serta ditambah satu lagi ketidakberuntungan yang dialaminya dalam pembagian kelompok untuk praktek di rumah sakit .


Yulia menatap tidak percaya, ia masih berharap jika dirinya salah baca. Tapi berulang kembali ia membaca papan pengumuman itu, tetap tidak berubah seperti yang diharapkannya. Gadis itu pun menghela nafas panjang.


" Hai.... beruntung kita satu kelompok ya. Pasti akan lebih mudah karena dua orang pintar ada dalam satu tim ".


" Ya.... semoga saja demikian ".


Yulia membalas sapa dari gadis cantik bak foto model itu dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Entah mengapa sapa itu terdengar seperti : .... beruntung kami bersama kalian, nanti kau saja yang mengerjakan ya. Walaupun si cantik Anelis tersenyum, tapi Yulia melihatnya seperti sebuah seringai licik.


Saat itulah dua gadis lainnya datang menghampiri mereka berdua. Tentu saja itu adalah Sarah dan Tiffany. Di belakang mereka berdua mengekor dua pemuda, Wisya dan Dony. Berarti kurang satu lagi dan itu adalah Haidar.


Fiiuuuh.... Yulia menghembuskan nafas dengan perasaan tak menentu. Apa jadinya kelompok ini, ia tak berani membayangkan. Sudahlah... jalani saja, hiburnya pada diri sendiri.


" Kurang satu orang lagi bukan ? ", sela Wisya kemudian. " Apakah dia akan datang ? ", tanya itu teriring dengan senyum sinis.


Sebenarnya tidak hanya Wisya yang mempunyai pertanyaan sama. Semua anggota kelompok itu juga mempunyai pikiran yang tidak berbeda. Tapi hanya Wisya saja yang terlihat sangat geram.


" Pasti datang..... seandainya tidak pun, pasti dia juga akan tetap menghubungi salah satu dari kita bukan ? ", kali ini Yulia yang berkata. Terdengar seperti sebuah pembelaan.


" Seyakin itu ? ", tanya Wisya lagi. Tatapan mata pemuda itu terasa menusuk tepat di dada Yulia.


" Dia orang yang bertanggungjawab ..... aku ... aku pernah bekerja sama dengannya ... ", kata Yulia lagi.


Apa, yang disampaikan oleh Yulia adalah sebuah kenyataan yang sudah dirasakannya. Beberapa bulan yang lalu dia pernah merasakan satu tim dengan Haidar, dan pemuda itu sangat bertanggungjawab. Tidak pernah meninggalkannya sendirian ketika harus menyelesaikan tugas, bahkan Haidar selalu memilih bagian tersulit untuk dikerjakan.


Tapi rupanya suatu kekeliruan mengungkapkan kenyataan itu saat ini. Keempat orang rekan satu timnya ini sudah terlanjur menatap nya seolah sedang menghakimi. Yulia tidak bisa menarik ucapannya lagi, karena itulah yang sebenarnya ia rasakan. Namun sepertinya diantara semua anggota Tim nya baru dia yang sudah berinteraksi cukup intens dengan Haidar si topik pembicaraan .


" Sudahlah, kita tunjuk saja siapa yang akan jadi ketua kelompok, sekarang ", tiba-tiba saja Wisya berkata seolah dia mengetahui perasaan Yulia yang merasa terpojokkan.


" Menurut ku kau saja ketuanya ", Dony menyela.


" Aku setuju ", tiba-tiba sebuah suara terdengar menghampiri mereka.


Seiring dengan mendekatnya sosok Haidar yang melangkah pasti dengan sebaris senyuman di wajahnya. Semua yang ada berpaling menatap kehadiran pemuda itu. Laksana perputaran lambat dalam sebuah film, kehadiran pemuda ini seperti menjerat dengan pesonanya.

__ADS_1


Entah mengapa ada sedikit perasaan damai yang menyusup perlahan di hati Yulia dengan hadirnya Haidar. Tapi bagi seorang Wisya yang kini mengeras dalam diamnya, rasa benci itu seperti gumpalan bola salju yang menggelindingkan... semakin membesar.


__ADS_2