PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
In Your Eyes I See The Missing Piece Of Peace (10)


__ADS_3

' Mungkin sudah saatnya ku ucapkan selamat tinggal untukmu. Aku memilih patuh pada seorang ibu yang sakit hati karena anak gadisnya di fitnah hamil di luar nikah '.


Raka memijit pangkal hidungnya dengan helaan nafas yang merefleksikan betapa penat pikirannya. Ia marah pada dirinya sendiri, tapi juga kesal dengan seorang gadis cantik yang sudah beberapa hari ini sangat dirindukannya. Seharusnya ia mendapatkan pembelaan, bukan malah dipojokan seperti ini. Semua juga karena situasi yang mendesak. Ia terpaksa harus melakukan sebuah kebohongan fatal ini.


Seandainya ia tidak mengarang cerita dahsyat itu, apakah mungkin kisah cinta kakak dan kakak sepupunya akan segera menemukan muara?. Lalu dengan Ardelia sendiri ... jika ia tidak bermanuver cepat walaupun dengan sebuah kecurangan, apakah itu artinya gadis itu akan menjerumuskan dirinya sendiri dalam jurang penderitaan, karena dikawinkan dengan paksa dengan seorang brengsek yang kebetulan juga pernah satu SMA dulu. Bukankah seharusnya mereka semua itu bisa sedikit saja berterimakasih, atau setidaknya memberikan sedikit kesempatan padanya untuk menjelaskan dan meminta maaf. Bukan malah mendiamkan seperti ini ...


" Yang kau lakukan itu seratus persen salah, walaupun lebih besar membawa manfaat untuk semua. Tapi hati wanita itu adalah kristal nak. Kau harus membelainya dengan lembut, menjaganya dengan sepenuh hati, tapi jangan kau cengkeram terlalu kuat... akan retak bahkan pecah dia. Dan hati wanita itu.... bukanlah sesuatu yang bisa kau pastikan suasananya setiap saat. Terkadang ... apa yang biasa bagi mereka, bisa jadi hal buruk seketika. Tapi tak jarang sesuatu yang mereka benci, tiba-tiba kan menjadi sesuatu yang diinginkan. Pahami 'iya' dalam 'tidaknya' seorang wanita .... kau harus bisa melihat dalam.... tak jarang dalam senyumannya tersimpan tangis, dan tangisnya adalah senyuman. Kau tahu ... karena mereka itu terbuat dari sempalan tulang iga pria... yang melengkung tak bisa diluruskan dengan paksa ".


Raka merasa sangat bersalah pada ayahnya, selama ini ia sudah berpikir jika pria itu adalah orang yang lemah, terlalu takut dan penurut pada istrinya. Satu hal yang kemdian digaungkan di relung jiwanya sendiri, pasti karena papa merasa minder dengan perbedaan status sosialnya. Keliru... dia sudah sangat keliru ternyata selama ini. Arjuna, papa nya adalah sosok pria pemenang hati yang sesungguhnya. Bisa mengalahkan egonya sendiri sebagai seorang pria dan seorang suami, menuntun sang istri yang keras kepala tanpa wanita merasa diatur untuk mengikuti arah yang diciptaknnya.


" Pada dasarnya semua wanita itu sama.... mereka lemah terhadap kelembutan. Hampiri, tatap langsung kedua matanya, peluklah, jangan berkata apa-apa ... maka semua akan selesai dengan sendirinya ".


Huffftttt.... dan Raka kembali mengela nafas panjang. Yang bicara itu tadi adalah sang Arjuna yang penuh keberanian berbalut kelembutan. Lalu bagaimana dengan dirinya ini, apakah ia berani mengambil langkah seperti itu ?. Bagaimana jika Ardelia akan mengamuk saat tiba-tiba saja ia memeluk erat. Tapi .... boro-boro memeluk... dihubungi saja sekarang tidak bisa.


" Anak gadis... pagang dulu emaknya, pasti beres. Lo' minta maaf dulu lah sama maminya Ardel ". Ide lain yang disampaikan oleh Haidar.


" Kalo' lo nggak baikan sama Ardelia.... siapa yang bakal wakilin gue' dtang ke kawinannya Yulia - Wisya ? ".


" Ahhh... kampret lo'. Yang sini masih kacau .... kawinan orang lain lo' pikirin ".


" Hei.... kawinan meraka hanya berjarak dua hari lebih awal dari pemberian Brevet Spesialis lo'. Lali kowe ? ". Tapi di seberang sana Haidar seperti tanpa perasaan malah menertawakannya. " Nggak mau di dampingi nona Ardelia pas Breveting nanti ... pak dokter Raka Sp.OT.... huh' ". 


Apa yang dikatakan Haidar memang benar, dan sekarang ia harus benar-benar memanfaatkan waktu tak longgarnya disela mengurus segala keperluan administrasi untuk syarat wisuda dokter spesialisnya nanti. Membuat perencanaan matang untyk pulang ke Ibu Kota, bersimpuh memohon ampunan pada sang calon ibu mertua, lalu merayu lembut untuk merebut kembali hati sang cinta yang kini sedang mengabaikannya. Ah perjuang cinta ... semoga kelak akan menjadi salah satu kisah terindah untukmu Raka.


Selepas keluar dari lambung si burung besi, ia pun melesat dengan secepat yang ia mampu menuju cafe tempat mami nya Ardelia biasa bekerja pada jam-jam seperti ini. Dengan penuh harap ia memohon agar bisa segera bertemu dengan keduanya. Melafalkan semua pujian dan doa pada Yang Maha Baik, agar berkenan membantu dirinya.


" Raka... ", wanita bermata sipit dengan sorot mata yang begitu lembut itu  terkejut. Tapi tidak ada raut wajah yang penuh kebencian seperti yang sangat ditakutkan oleh Raka.


" Tante ... ". Ia mendekat perlahan, meraih tangan wanita yang kini masih terpaku dengan keterkejutannya itu. Saat Raka kemudian mencium dengan takzim punggung tangan seputih awan itu, terlihat ada senyum yang mengembang.


" Maafkan Raka tante ... tidak ada maksud sedikitpun untuk merendahkan apalagi menghina Ardelia. Itu semua ... ".


" Tapi bagaimana dengan keluargamu ?. Bukankah mereka menerima Delia karena terpaksa ... karena kebohongan yang kau buat ? ".


" Tidak !, tidak benar demikian tante ... sudah sejak lama mama sangat menyayangi Ardelia. Mama ... papa dan kak Cinta ... mereka menerima Ardelia apa adanya, hanya melihat dia sebagai gadis yang kucintai ... itu saja. Ini sepenuhnya salah ku .... ku mohon, maafkanlah ... ".


" Lalu ... apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaan Ardelia  ".


Glegkh !... Raka hanya mampu menelan ludah dengan getir. Membuat jakun bergerak turun naik sesaat itu, entak kenapa terlihat begitu seksi dan pas dengan raut wajahnya yang nampak innocent. Tapi sesungghunya Raka sangat gugup dan penuh ketakutan.


" Memulai suatu hubungan suci .... jangan pernah mengawalinya dengan dusta ya nak. Apapun alasan mu, apapun sebabnya... jagalah keterbukaan antara kalian kelak. Tidak ada hal yang tidak bisa diselsaikan dalam keluarga, selama kalian saling berpegang erat  ".

__ADS_1


" Tante ... ".


" Ardelia... dia baru saja dijemput mama mu. Kau bisa menyusulnya... di toko bunga langganan keluarga mu ".


Bukankah itu sudah lebih dari cukup sebagai pemberitahuan, bahwa wanita anggun ini telah merestui kau yang mencintai putrinya, Raka?. Lihatlah senyuman lembut dan sinar mata teduh itu, dan rasakan bagaimana tjemari itu menyisir rambutmu perlahan. Sudah cukup untuk membuatnu tersenyum lagi 'kan Raka ?.


" Kau susul dia .... minta maaflah ".


" Terimakasih tante ". Dan Raka pun terlonjak dengan gembira. Meraih kembali punggung tangan wanita yang masih tersenyum padanya. Sebelum ia beralalu dengan tergesa untuk menemui cintanya.


" Raka ... ". Tapi seruan itu sesaat membuat langkahnya terhenti.


" Ya tante ... ".


" Titip anak tante ... sayangi dan jaga dia... cintai dia dengan sepenuh hati, jangan pernah membuatnya terluka ya Raka ....".


Raka tersenyum dan mengangguk dengan penuh khidmat, mengiyakan permintaan sang ibu dari cintanya. Tanpa suara, tapi ia mengumandangkan janji dengan gegap gempita di hatinya. Janji untuk mencintai sepenuh hati, untuk melindungi dengan seluruh asa yang ia punya, juga untuk tetap menjaga sepanjang deru nafasnya di dunia. Janjinya untu wanita tercinta pada Sang Maha Cinta, dan begitulah kemudia Raka segera berlari melaju dengan sepasang mata yang terasa mengahangat oleh semangat.


Dan kini ia berdiri menatap dua orang wanita pemilik hatinya di dunia ini. Ibu yang sangat disayanginya, dan gadis yang menjadi tujuan hatinya kemanapun ia beranjak. Hatinya seperti kembang sepatu yang merekah perlahan, terasa ringan dan berkilauan indah tersaput sinar matahari musim semi. Dua hal tercantik di dunia ini memenuhi seluruh indra pengelihatannya. Ia tersenyum bahagia, badai sesaat lalu seolah-olah telah terhapus. Melihat mama nya dan Ardelia nya sedang tetawa bahagia.


Cukup lama Raka berdiri dari balik jendela kaca yang besar, ia seolah lupa untuk masuk dan menghapiri dua mahluk cantik itu. Hingga saat seorang pria yang datang tergesa menyenggol sedikit lengannya, ia tersadar. Perlahan ia pun melangkah menapaki lantai, mendorong perlahan pintu putar itu yang membawa nya masuk kedalam sebuah ruangan seperti sebuah taman kecil.


" Amit-amit nakalnya ... pokoknya duo little devil itu huh !!!. Moga-moga nggak nurun ke anaknya deh ".


" Kasihan ya mba Cinta ... ".


" Makanya ... Cinta juga jadi galak begitu, hasil dinakalin Raka sama Haidar terus.... eh '... Raka ".


Dan yang menyadari kehadirannya pertama kali adalah sang mama. Disusul kemudian Ardelia yang refleks membalikan badan mengikuti arah tatapan mata wanita cantik di hadapannya. Di sana, ia menemukan searut wajah yang terlihat kuyu dan lelah, tapi ada senyuman tergaris di bibir dengan dagu penuh bulu tak beraturan. Wajah yang sebenarnya sangat dirindukan beberapa hari ini. Sosok Raka yang tersenyum tanpa kata, padahal hati kecil Ardelia begitu mengharapakan terdengar suara serak yang khas dan sangat menentramkan hatinya itu.


" Apakah kehadiran ku menganggu ? ". Raka tersenyum kembali, berjalan perlahan menghampiri sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Seolah sedang menahan diri dengan sekuat tenaga, untuk tidak mengulurkan lengan dan meraih tubuh indah itu kedalam pelukannya.


Seperti rajawali yang berjalan dengan gagah dengan melipat kedua sayapnya. Seolah mengingkari keinganannya sendiri untuk menyentuh lembutnya sang angin. Tapi sinar mata yang tajam penuh dengan cinta itu tak bisa tertahan, melesatkan kejujuran hatinya sendiri yang berseru ..... aku sunggung-sungguh merindukan mu.


 


.................................................................................


 


Menikmati angin yang membelai lembut perlahan rambutnya, berjalan dengan tenang menikmati senja yang tergelincir. Beberaha hari ini, dia sungguh sangat menikmati suasana seperti ini. Bahkan ia bisa tersenyum-senyum sendiri. Membuat Mr. Hover yang ramah menyapanya juga  mengernyit keheranan.

__ADS_1


" Kau lebih cantik jika tersenyum begitu sayang ",  ucap pria paruh baya yang bertempat tinggal di lantai paling bawah flat yang ditempatinya. Pria yang juga adalah penjaga dan penanggungjawab rumah tangga kawasan flat ini.


" Ah tuan Hover ... terimakasih banyak, anda membuatku semakin bahagia saja ", Hanin tersenyum dan berhenti sesaat untuk sekedar mengobrol dengan pria paruh baya yang masih terlihat cukup tampan itu.


" Sudah seharusnya kau berbahagia anak muda. Ayo ... tambah semangat ya ! ".


" Terimaksih tuan, oh ya ... apakah hari ini nyonya Hover sudah kembali ? ", tanya Hanin kemudian, seiring ingatnnya dengan sambal pecel yang belum lama ini diterimanya.


" Dua hari yang lalu sudah sampai di sini. Kau tahu ?... dai tak pernah bisa berhenti membanggakan kecantikan cucu baru kami, yang katanya...ehm' sangat mirip dirinya. Dasar narsis !!!! ".


" Ha..ha..ha.. ", kali ini Hanin benar-benar tak bisa menahan tawanya. " Tapi nyonya memang cantik kok. Oh ya .. masih ingat salad dari Indonesia, tuan ? ".


" Ah ... tentu saja ... dengan saus kacang sedikit pedas, manis dan gurih yang adiktif itu. Apa kau akan membuatnya ? ", tuan Hover terlihat bersemangat, sepasang bola mata birunya berbinar cerah.


" Bagaimana kalau makan malam nanti ... biar aku saja yang memasak. Kebetulan baru dapat kiriman saos ajaib itu langsung dari Indonesia ".


" Woouw.... tentu saja, dengan senang hati sayang. Hei ... apakah itu ... pria tampan tempo hari yang membawakannya untuk mu ?. Dia dari Indonesia ? .... kelihatannya pria yang baik ya ".


Pasti yang dimaksud adalah Haidar, yang tempo hari mengantarnya pulang. Memaksa dengan halus untuk dibuatkan makan malam.


" Sudah saatnya kau beralih sayang ... jangan terpaku pada kisah lalu yang menyedihkan itu. Pria itu... dari sinar matanya ... ia menyayangimu ".


Tentu saja ada sulur-sulur hangat yang kemudian membelai lembut pipi Hanin, lalu menyapukan rona merah lembut pertanda gadis seputih mutiara itu tengah tersipu menahan malu. Benarkah demikian ?, bisik Hanin dengan ragu pada dirinya sendiri.


" Dia seorang kawan dari tanah air, kebetulan kami sudah mengenal sejak kecil. Baginya ... aku hanya adik kecilnya, tuan ".


" Oh ya ... benarkah ?. Tapi ku lihat tatapannya begitu mengkhawatirkanmu ".


Hanin kembali tertawa, ia sungguh kehabisan kata penyangkalan. Sejujurnya ia ... ragu.


" Sampaikan pada nyonya Hover ... nanti akan ku kirimi salad dari Indonesia untuk makan malam. Saya masuk dulu ya tuan... mari ".


Dan Hanin melambaikan tangan sebelum menaiki tangga menuju lantai flat tempat tinggalnya. Seperti biasa, ia lebih memilih untuk tidak menggunakan lift saja, sekalian melatih otot-otot kaki dan juga pernafasan... toh cuma dilantai tiga.


Kehadiran pria Asia tamapan itu rupanya cukup mencolok dengan postur tubuh seratus delapan puluh enam sentimeternya, bola mata sekelam malam dan rahang tegas mempesona beberapa hari yang lalu, rupanya tak luput dari perhatian pasangan Hover. Sepasang suami istri yang sangat sangat menyayangi Hanin, yang juga menjadi penopang ketika dia terpuruk, tentu saja akan selalu memperhatikan apa yang terjadi disekitar gadis itu. Gadis kecil manis yang tangguh, hanya saja ia kurang beruntung. Tangisnya tersembunyi dengan baik oleh kebaikan hatinya. Kebetulan saja ia bertemu orang yang salah, yang hanya memanfaatkan ketulusan pemilik wajah seputih mutiara itu.


Tuan dan nyonya Hover kehilangan senyuman indah yang menghiasi wajah Hanin selama beberapa lama. Tapi mereka telah menemukan kembali senyuman indah dan tawa ceria gadis mungil itu, semenjak beberapa hari yang lalu. Tepatnya setelah kehadiran sosok pria menawan dengan wajah hangat dan ramah yang juga menyapa suami-istri itu. Walaupun mereka tidak sempat berkenalan, tapi tatapan pria muda yang terlihat tak rela untuk segera berlalu dari tempat itu cukup menegas jika pria muda itu mengkhawatirkan Hanin.


Lihatlah gadis mungil itu, kini dia begitu ceria. Langkahnya seperti lompatan-lompatan ringan tanpa beban. Dan semua itu terjadi setelah kehadiran si pria muda berwajah hangat itu. Ini adalah hal yang baik, sudah saatnya gadis itu memperoleh kebahagiannya lagi. Meninggalkan cerita sedihnya, mengubur luka hatinya yang bernanah.


Seperti itu cantik... kau nampak bersinar dengan senyumanmu yang indah

__ADS_1


__ADS_2