PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merenda Romansa (4)


__ADS_3

Mengangkasa bersama harapan dan impian. Tapi ada rasa sesak yang nampak lebih peran. Haidar menyandarkan punggungnya perlahan, mencoba menikmati fasilitas penerbangan eksekutif yang cukup memanjakan. Walaupun tak dapat dipungkiri, ada yang bergeletar-geletar di dalam hatinya.


Perlahan ia membuka daftar kontak di telepon selularnya. Lalu menyentuh layar yang kini menampilkan 'DIA' sebagai tajuk yang sengaja diterakannya. Untuk beberapa saat, lalu kembali benda itu di matikan, disimpan rapi dalam sakunya. Untuk kemudian mencoba kembali bersantai.


" Maaf menggangu... ",sapa sebuah suara dari arah sebelahnya.


Haidar tersenyum pada pria yang juga tersenyum ramah dan menyapanya itu.


" Kalau tidak keberatan .... boleh kita ngobrol ?. Aku sendirian juga ... ".


" Ah ... tentu saja. Haidar ... ", dia mendahului mengulurkan tangannya.


" Ha... ha... ha... Keanu. Senang mengenalmu Haidar.. ".


Pria berkacamata dengan kulit putihnya yang sedikit terlihat pucat, tertawa saat menerima uluran tangan Haidar. Sepertinya mereka seumuran. Dan Keanu nampaknya adalah orang dengan kepribadian menyenangkan.


" Ke Berlin.... tugas atau belajar ? ", tanya Keanu kemudian.


" Tugas negara ... negara kecil tepatnya ".


" Keluarga ? bisnis ? ".


" Yups... kau sendiri ? ", balas Haidar.


" Escape ".


" Wow !!! ... are you serious ? ".


Tapi Keanu tidak segera menjawab, ia tertawa kecil terlebih dahulu.


" Ya ... sangat serius ", jawab Keanu kemudian.


" Waah... buronan dong ".


" Makanya.... tolong rahasiakan ya.. ha..ha..ha.. ", Keanu tergelak kemudian. " Kau tahu ... dua Minggu terakhir ini, kaulah orang pertama yang membuat ku bisa tertawa.


" Bagus dong kalau begitu. Jangan bawa-bawa namaku dalam sejarah pelarian bro' .... aku tidak mau jadi saksi nanti ", kata Haidar berkelakar.


" Tenang saja.... aku orang yang tahu balas budi kok. Semua bisa dibicarakan secara adat ".


" Kalau boleh tahu nih ... orang setampan dan secerdas kau ... kelihatan sih, sebenarnya lari dari apa ? ". Tiba-tiba saja Haidar tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


" Heeeem.... bukan sesuatu yang mengerikan sebenarnya. Hanya muak saja... maksudku, ada satu hal yang harus ku kejar, walaupun itu artinya harus lari .... dari keluarga ".


Haidar termenung sesaat, ia memperhatikan pemuda di sebelahnya ini. Mengamati gesture juga raut wajahnya.


" Menyedihkan ya ?", tanya Keanu lagi sambil tersenyum penuh ironi.


" Pasti ada alasan yang kuat yang membuat mu seperti ini. Dan mungkin kau hanya butuh orang yang bisa memahaminya ".


" Sepertinya kau benar Haidar.... ya..ya.. sepertinya memang begitu ". Terlihat Keanu seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.


" Kalau boleh tahu... kau seorang bisnisman ? ", tanya Keanu lagi.


" Tidak ... ".


" Psikolog ? ".


" Ha..ha..ha... dari mana kau dapat tebakan seperti itu?. Aku bukan psikolog ".


" Lalu ? ... engineer ?. Aku salah lagi ... nyerah deh ".


" Tidak berminat menerka-nerka lagi ?", goda Haidar yang dibalas gelengan kepala oleh Keanu.


" Aku seorang spesialis bedah ", kata Haidar pada akhirnya.


" Hah ? ". Sepasang mata Keanu terbelalak. " Semuda ini.... sepertinya kita seumuran .... waaah... pasti kepandaian mu jauh diatas rata-rata ".


" Ah tidak... hanya memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar bisa memenuhi sebuah janji dan keinginan sendiri ", jawab Haidar merendah.


" Ini ... sangat menarik ", gumam Keanu. " Seandainya aku seorang wanita ... pasti aku sudah klepek-klepek .... setengah mati jatuh cinta padamu ".


" Ha... ha... ha... ", Haidar terbahak hingga harus menutup mulutnya. " Kau ini .... justru saat ini aku sedang patah hati loh ".


" Benarkah ?... bodoh sekali wanita itu. Jadi tugas negara mu ini juga sekalian melarikan diri ?".


" Sepertinya tidak.... hanya ada perubahan rencana yang sangat besar justru disaat aku sudah bersiap melakukan start ".

__ADS_1


Keanu mengernyitkan keningnya, ia berusaha memahami apa yang sedang disampaikan Haidar. Dan wajah bingung Keanu membuat Haidar berhenti berteka-teki. Ia memusatkan untuk bercerita sedikit pada teman barunya ini, toh juga tidak mengenal siapa yang dia maksud nantinya. Begitu pikir Haidar.


" Ada gadis yang sudah lama masuk dalam pengawasan radar ku. Hingga saat ini tiba, dimana aku akan datang ke kota tempat berada kini.... disaat menjelang keberangkatan ku, akhirnya aku tahu ... aku telah kalah start. Ha.. ha.. ha... padahal aku sudah sangat bersemangat sebelumnya ".


" Jadi ... kau belum menyatakan cinta ? ", tanya Keanu dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Haidar.


" Dan kau sudah menyerah 'Dar ? ".


" Karena orang tua gadis ini sudah memberikan restu padanya. So ..... aku hanya bisa berkata: semoga bahagia ".


" Dia bahkan belum tahu perasaan mu ... dan kau memutuskan menyerah. Ini tidak adil untuk mu. Setidaknya kau harus memastikan kalau gadis itu juga memahami perasaan mu padanya ".


" Aku ... hanya takut Key' ... dia malah akan menjauh atau membenciku setelah mengerti perasaan ini ". Haidar terlihat menerawang.


" Apakah selama ini... kau tidak berusaha menunjukkan perasaan mu padanya ? Setidaknya ... kepedulian mu ".


" Aku bertemu terakhir dengannya.... enam tahun yang lalu. Saat itu ia hanyalah gadis remaja yang ... polos, cantik dan ... mengagumkan ".


" What ???..... lalu kemana kau selama ini Haidar ? ".


" Mengejar mimpi ku bro'. Heiii.... ", Haidar tiba-tiba saja seperti diingatkan oleh sesuatu. " Aku sudah cerita banyak nih... lalu bagaimana dengan mu? . Tidak ingin berbagi dengan ku ? ".


" Ha..ha..ha ... ", kali ini Keanu yang terbahak. " Cerita ku ya.... ah, sangat membosankan. Hanya tentang perebutan kekuasaan dalam keluarga. Dan aku sudah bosan.... lalu memilih menyingkir. Membuka lembaran baru, mencoba peruntunganku sendiri ... tidak membawa nama keluarga lagi ".


Dua orang pria sebaya yang baru saling mengenal itu, kini nampak berbincang dengan sangat akrab. Terkadang dimensi ruang dan waktu yang menempatkan mu dalam kesendirian, akan mampu membuat sebuah ikatan dengan orang-orang yang tak pernah kau duga sebelumnya. Begitulah yang terjadi antara Haidar dan Keanu.


Mengakasa bersama selama hampir lima belas jam, menuju benua lain. Transit di kota Istanbul beberapa jam, dan menyempatkan untuk sekedar mengisi perut dengan hidangan Mediterania yang lezat, lalu kembali terbang menuju kota Berlin.


" Berjanjilah untuk kita bisa bertemu lagi pak dokter ", kata Keanu saat mereka saling bertukar kartu nama.


" Tentu saja.... kau akan ku undang ke rumah kakak sepupuku. Dia pasti akan sangat senang menerima satu lagi orang Indonesia menjadi kerabatnya ".


" Oh ya.... waaah harus dijadwalkan itu, tidak boleh dilewatkan. Beruntungnya aku menemukan mu Haidar ".


" Kau ini Key' ... bisa saja ".


" Semoga kau juga masih ternaungi oleh bintang keberuntungan .... si cantik itu... semoga saja akan segera jatuh cinta padamu. Semoga dia jodoh mu bro' ".


Dan Haidar tertawa-tawa mendengar penuturan Keanu. Tapi dalam hatinya bergemuruh seruan mengaminkan harapan yang dilangitkan kawan barunya ini.


Dan perjalanan panjang ini pun pada akhirnya telah dilalui dengan menyenangkan. Tujuh belas jam lebih yang ternyata bisa semenyenangkan ini. Haidar pun sangat bersyukur dalam hati. Keyakinan dan semangatnya yang sempat memudar, kini seperti kembali pada level maksimal.


Kau hanya harus memohon dengan yakin, dan Berusaha Keras dengan Ikhlas.


.....................


Tiga hari yang sangat melelahkan, menempatkan otak pada mode konsentrasi tinggi, akhirnya hari ini sedikit mulai memetik hasil yang memuaskan. Raka yang baru saja tiba kembali ke kamarnya, melangkah dengan gontai.


Melemparkan dirinya keatas kasur, seperti sedang membiarkan susunan rangka dan tulangnya terlena di atas benda empuk itu. Merasakan rileks yang mula membelai otot-ototnya.


Saat kedua matanya mulai terasa berat dalam ketenangan yang menghadirkan kantuk. Tiba-tiba saja sekelebat wajah cantik melintas di benaknya.


" Ardelia ... ", desisnya.


Ia melompat bangun dari tidurnya, melesat meraih kemeja yang tadi di taruh sembarangan. Mengambil kembali sebuah telepon selular. Tapi saat benda itu berada dalam genggamannya, ia terlihat sedikit ragu.


Saat ini, tinggal beberapa menit lagi saja sudah menjelang tengah malam. Apakah Ardelia masih terjaga?, desis hatinya. Ia menimang-nimang benda persegi itu sambil terus didera rasa bimbang.


Tiba-tiba saja sebuah notifikasi pesan masuk membuatnya nyaris terlonjak. Senyuman sumringah seperti kembang sepatu berwarna ceria merebak menghiasi wajahnya, tentu saja karena si pengirim pesan itu. Ya ..... siapa lagi kalau bukan Ardelia.


' Jaga malam ?. Apa aku menganggu ?'.


Raka tidak menjawab pesan itu, ia memilih segera menjawabnya langsung dengan menelepon saja.


Semangat di dadanya terasa membuncah, membuat Raka merasa sangat tidak sabar menunggu orang di seberang sana mengangkat panggilannya. Hingga akhirnya....


" Halo ... ", suara lembut itu terdengar begitu bening.


" Delia ... I miss you so much ", Raka memberondong langsung. Ia berharap bisa melihat wajah cantik itu bersemu merah.


" Miss You too ".


Dan betapa berbunga-bunganya Raka. Ia bahkan begitu kegirangan dan nyaris melompat kesana kemari.


" Bagaimana keadaan di sana ? aman ? ", tanya Raka kemudian.


" Alhamdulillah aman ".

__ADS_1


" Drac' nggak ganggu kamu 'kan ? ".


" Belum ... sepertinya belum ", jawab Ardelia.


" Semoga saja tidak ... aku sudah meminta bantuan beberapa orang kepercayaan ayahku. Kak Namu dan kak Cinta juga akan membantu mu .... jangan ragu untuk telpon mereka meminta bantuan ya ".


" Semoga saja aku... kami maksudnya, bisa menyelesaikan masalah ini tanpa merepotkan orang lain ya ".


" Tunggu .... kami? ... maksudnya kita ? ", Raka mempertegas.


" Kami ... aku dan mamih ku ", sela Ardelia cepat.


" Mamih mu.... Tante Palupi, tapi beliau .... depresi dan delusinya? ... lalu ancaman Dracio ? ", suara Raka berubah menjadi sedikit panik.


" Tidak usah khawatir ..... Dracio.... bukan hal menakutkan lagi. Lalu mamih ... kau pasti akan sangat terkejut mendengarnya ".


Raka semakin kebingungan, terlebih saat suara Ardelia terdengar begitu ceria dan bersemangat.


" Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan Ku sampaikan. Mami selama ini ... belasan tahun lamanya, telah berhasil menipu semua orang dengan berpura-pura depresi dan memiliki kelainan mental sehingga harus berobat dan terapi terus-menerus ".


Tentu saja Raka ternganga sesaat setelah Ardelia bertutur dengan sangat bersemangat. Ia benar-benar tidak memahami dengan apa yang disampaikan Ardelia.


" Maksudmu ? ", cecar Raka kemudian.


" Mamih ku itu dan Tante Bella selama inilah yang telah bersiasat, mengelabui keluarga ayah ku..Demi bisa keluar dari lingkaran setan keluarga itu ".


Raka sungguh-sungguh membutuhkan waktu dan ruang yang lebih luas, agar ia bisa segera menahami apa yang dimaksud oleh Ardelia..


" Ya ... selama ini mamih dan Tante Bela yang mengatur sandiwara itu. Dan mengenai ancaman Dracio...... ternyata mamih juga sudah mengetahui semuanya .


" Benarkah ? ", Haidar terbelalak. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum hingga tertawa.


" Kau harus menceritakan detailnya .... besok saja saat aku kembali. Aku akan sangat sabar menunggu saat itu ".


" Sebenarnya .... aku sudah sangat ingin menelpon mu dari kemarin ".


" Delia..... kenapa tidak kau lakukan ", sesal Raka.


" Aku takut mengganggumu tentunya ", Ardelia berusaha membela diri.


" Aku tidak akan pernah terganggu oleh telepon mu ", sambar Raka dengan cepat dan suara sedikit kesal.


" Iya deh... maaf ya. Mulai sekarang ....... aku akan cerita apapun pada mu ".


" Iya dong ... harus itu. Aku tidak rela jika mendengar segala sesuatunya tentang mu ..... justru dari orang lain. Terutama saat kita sudah menikah nanti ".


" Iya... baiklah. Sekarang, konsentrasi lah dengan akhir pendidikan mu. Jadi yang terbaik dengan nilai sempurna ya. Aku .... menunggumu ".


Dan Raka menjadi begitu berbunga-bunga. Ini adalah untuk pertama kalinya mengucapkan kata-kata yang baginya terdengar begitu mesra dan romantis. Membuat Raka dengan konyol mengayuh-kayuhkan kedua kakinya di udara, begitu ia berbaring dengan seringai penuh kemenangan. Yesssss.... teriak hatinya.


" I love you my angel ... ", suara Raka terdengar seperti berbisik.


" Love you too ", balas Ardelia. " Beristirahatlah .... aku tutup teleponnya ya ".


" Ya ..... muuuuuuach .... muaaach... ", dan Raka pun memberikan kecupan sayang itu seolah-olah Ardelia benar-benar serasa ada di hadapannya.


Tapi Raka kembali termenung, ada rasa khawatir yang bergelayut kembali di hatinya. Karena ia paham betul bagaimana Dracio. Dan ia mengerti betul bagaimana ayah Ardelia.


Informasi yang diberikan Om Bramastya nya begitu detail, hingga pada akhirnya membuat rasa khawatirnya semakin bertumpuk. Semua tentang keluarga Ardelia, tepatnya tentang ayah kandung gadis itu. Seorang pria breng-sek yang tega menendang keluar istri sahnya, tentu saja setelah mendapatkan seluruh harta kekayaan sang istri. Laku membawa seseorang wanita yang sudah dinikahi dibawah tangan dan sudah mempunyai seorang anak juga.


Dengan tidak tahu malu kedua orang itu menggunakan harta rampasan itu seolah-olah merekalah sang pemilih sah. Hingga akhirnya mereka yang serakah itu tak mampu mempertahankan apalagi mengembangkan bisnis rampasan itu. Di saat kritis seperti inilah, dengan licik dan jahatnya mereka kembali membuat Ardelia dan ibunya menjadi tameng.


Merencanakan perjodohan Ardelia untuk ditukarkan dengan suntikan dana dari keluarga kaya relasi bisnis mereka. Bahkan dengan sangat berani, mengancam ibu dan anak itu.


Dan Raka .... ia tahu betul bagaimana seorang Ardelia. Ia pun telah menyusun sebuah rencana, tentu saja untuk melindungi dan menyelamatkan Ardelia serta ibunya. Beruntung ia banyak mendapatkan bantuan dari saudara-saudaranya dan juga para Om sahabat ayahnya.


Tapi rasa khawatir itu tidak bisa serta-merta terhapus begitu saja. Tak sekejap pun rasa khawatirnya berkurang. Meskipun baru saja ia mendengar sebuah fakta yang cukup melegakan. Namun saat tidak bisa berada dekat orang tercinta .... rasa khawatir itu merebak tak tertahankan, apalagi ditimpali oleh sulur-sulur rindu. Benar-benar membuat Raka seperti sang pecinta tak berdaya dalam deraan rasa. Duh sang Raka.........


................


...Author Corner :...


Yang pingin ngintip serunya bagaimana mas Alend 'ngemong' Kirana........ sabar ya.


Kisah cinta dua sejoli itu akan seperti rollercoaster......


Bisa bayangkan bagaimana si sulung ketemu si bungsu 'kan ?

__ADS_1


Tapi pada akhirnya ...... keduanya memang tak bisa lepas, terlalu dalam sudah jatuh cintanya.


Pokoknya sabar ya .......


__ADS_2