PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Than You Look At Me (2)


__ADS_3

Menatap wajahnya sendiri yang nampak seperti tak ada aliran darah kehidupan, seperti pualam  dingin ditengah lautan. Kokoh tapi,  tak tersembunyikan sepinya dan begitu sedih. Ia jadi mengerti tentang betapa rasa sakit itu telah menghantui dengan sangat masiv di kehidupannya selama ini. Ternyata, saat ia tak bersama orang lain, guratan wajah dan gesture tubuhnya tak pernah bisa berdusta, ia sangat terluka.


Entah bagaimana pria itu bisa mengumpulkan kepingan-kepingan kenyataan tentang dirinya yang sangat menyedihkan itu. Pria yang seharusnya saat ini ada disini menemuinya. Pria kuntum mawar, yang seharusnya menepati janji untuk membawakan secara langsung seikat mawar berjumlah tiga puluh tangkai. Yang dibayangkannya akan menatapnya dengan lembut, memperlihatkan sebaris senyuman yang akhir-akhir ini sering membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Bahkan mampu membuat pipinya memerah, dan ia tersipu malu karena khayalannya sendiri. Tapi pria itu tak menepati janjinya.


Kau menyiksaku . Desis Nania tanpa melepaskan pandangannya dari layar putih yang berpendar dengan putaran slide tentang dirinya.


.................


Ku janjikan padanya, bahwa kita


Akan Saling Jatuh Cinta


Pada 30  hari penuh warna mawar yang mawar


Tapi aku terhadang oleh dimensi yang menjauhkan


Yang menghalangi seikat yang ke-30


Yang menghadang kuntuman yang 465


Yang membendung cinta ku yang sebenarnya


Hatiku ....


Berseru rindu


Kau membuatku seolah tersesat pada dimensi ruang waktu


yang tak kumengerti


...............


Aku, mungkin juga rindu. Tapi aku butuh kehadiranmu saat ini. Aku butuh menatap sepasang matamu, agar aku tahu tentang perasaan ku sendiri. Ini tentang apa ?, aku takut terluka lagi.


Dan Hanin Hanania tak menyadari jika tiba-tiba saja dua buliran air bening meluncur perlahan, lalu menjadi lepas tak terkendali saat terbebas dari lembah sudut matanya. Sementara slide itu kini bergerak dalam guyuran hujan kelopak mawar.


" Halo cantik.... ". Sapa itu terdengar seperti gemerincing lonceng yang tiba-tiba saja menenangkannya. Suara berat yang sangat khas dan entah sejak kapan sudah jadi suara favorit yang begitu dirindukan oleh setiap inti sel di dalam tubuhnya.


" You know how I miss you ? ".


Aaah.... huuuu, dan suara disekitarnya bergemuruh. Tentu itu adalah lengkingan penuh semangat dan tendensi iri dari orang-orang di ruangan ini. Nania tertunduk perlahan, tersenyum malu sambil memaki dirinya sendiri. Keterlaluan !!!!, kenapa harus malu begini, toh orangnya nggak ada di sini. Begitu ia mencoba menguatkan diri sambil berusaha menengadah kembali, menatap layar putih yang kini menampilkan sosok gagah itu.


" Maafkan aku tak bisa menepati janji. Kau tahu, betapa besar keinginanku untuk bisa langsung memberikan ini padamu .... ".


Seikat mawar merah yang segar, walaupan itu hanya nampak di bentangan layar putih, tapi cukup mampu membuat Nania tersenyum. Bahkan ia pun kembali tersipu-sipu karena tingkah para penonton yang tidak lain tidak bukan adalah orang-orang baik yang sangat menyayanginya. Suara suitan dan teriakan heboh mereka, membuat Nania merona.


" Watching as you deeply in sadness. What I'd give if I could keep. Just this moment, if only time stood still. But the colors fade away. And the years will make us grey. But baby in my eyes., You'll still be beautiful........ always beautiful ... and i'm falling ini love with you.... forever ".


Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Keanu sudah berdiri di hadapan Hanin sambil membawa telepon genggam yang menampakan wajah tampan. Haidar terlihat melambaikan tangan, tersenyum dan menatap dengan sepasang bola mata indahnya. Nania merasakan telapak tangannya kebas, dan ia tak dapat bebas bernafas.


" Halo cantik ... ", sapa yang kembali terdengar. " Walaupun tidak seratus persen, aku tetap menepati janjiku ".


Haidar di layar ponsel itu nampak menyodorkan seikat mawar merah yang segar, bersamaan dengan Namu yang datang dan memberikan kuntuman-kuntuman bunga cinta itu secara nyata.

__ADS_1


" Jika yang kau rasakan telas sama dengan yang aku rasakan... terimalah. Jika kau masih ragu... aku akan sangat bisa bersabar menunggunya ".


" Terima.. terima.. terima ... ', dan para anggota genk pemersatu cinta itu pun lebih heboh lagi memprovokasi. Membuat Nania menatap berkeliling seperti sedang mencari dukungan untuk meyakinkan dirinya sendiri.


" Kalau nggak diterima, nanti Indonesia berkabung loh Nin. Karena kehilangan satu dokter muda penuh dedikasi, yang tiba-tiba saja jadi mati suri tanpa semangat hidup ".


Hanin Hanania akhirnya terkekeh, celutukan Keanu itu mampu mencairkan hatinya yang penuh rasa asing menyesakkan. Ia menatap Namu yang masih setia menyodorakan kuntuman mawar itu.


" Nin... aku mulai pegel nih. Buang aja .. atau gimana nih ? ". kali ini Namu yang mendesaknya.


" Terima... terima ... terima... ", sementara teriakan provokator bucin itu makin membahana.


Pria yang kini jauh diseberang sana itu, adalah lembaran kisah hidup yang sempat terlupa olehnya. Bahkan ia sama sekali tak pernah membayangkan akan bertemu lagi. Ah, tepatnya ia akan ditemukan kembali oleh pria itu. Dirinya yang sedang berpayah-payah bangkit dari rasa sakit, membangun kembali kehidupan yang sempat luluh lantak. Pria bermata tajam tapi akan berubah menjadi sangat lembut ketika menatapnya.


Senyuman yang sangat hangat tersungging untuknya, setiap kali mereka berbicara. Pria yang datang memungutnya dari sudut dingin yang kelam, merengkuhnya dengan hangat dan menatapnya dengan lembut. Dan ia rindu, sangat rindu dengan semua kebersamaan sesaat itu. Rindu saat pria itu mentapnya, rindu saat angain hangat yang lembut itu menyentuh pipinya ketika pria itu berbicara dari jarak yang sangat dekat. Rindu bagaimana telapak tangan lebar itu menggenggam jemarinya, erat namun sangat nyaman. Sangat rindu saat seperti berada di awang-awang, ketika pria itu medekapnya dengan erat. Ia bahkan merindukan wangi segar aroma kayu dan hutan tropis yang hadir bersama sosok kekar itu. Ia bahkan rindu jahilnya, rindu usilnya ...... ia sangat rindu pria itu.


" Nin.... ". Kini sosok Cinta yang cantik perlahan menyentuh punggung Hanin Hanania, dan membuat gadis itu menoleh sesaat.


" Aku .... ". Nania berdiri, menarik nafas perlahan dan menghembuskannya seolah sedang membuang keraguan yang menggelayut.


" Aku sebel sama kamu mas .... ". Berbicara dengan ketus pada pria yang nampak di layar. Tangan kanannya dengan penuh keyakinan meraih setangkai mawar dari genggaman Namu. Membawanya dengan cepat mendekat, lalu menenggelamkan wajahnya di kuntum-kuntum merah segar itu. Menyembunyikan rona merah di pipinya, menyembunyikan rasa malu yang menjalari seluruh tubuhnya.


" Ciyeeee..... alhamdulilaaaah ..... yuuuhuuuu..... horeeeee.......". Tentu saja itu adalah sorak-sorai dari para anggota provokator bucin.


...................................


Setelah terjaga dari tengah malam, hingga dini hari tadi, lalu berlanjut subuh, yang pada akhirnya membuat  ia sedikit terlambat untuk joging di pagi hari. Lalu harus buru-buru mandi dan sarapan, kemudian bersiap untuk meeting penting dengan para klien yang sudah terlanjur menaruh rasa percaya padanya. Hadeeeeeh ......  sampai terpaksa harus mengabaikan keinginan pribadinya untuk menelpon 'ayank' . Halah !!!! sok iyee banget sih.


Haidar melepaskan penat, dengan menghempaskan punggunggnya di sandaran kursi. Meregangkan otot pundaknya, sehingga terdengar suara gemeratak persendiannya. Terbayang 'kan ? bagaimana penat dan lelahnya sang putra mahkota kerajaan bisnis Ars Group itu.


" Halo ... ", terdengar sapa di seberang sana.


" Halo cantik .... I miss you ".


Sesaat senyap, tanpa sahutan diseberang sana. Membuat Haidar terlihat salah tingkah diatas kursi kerjanya, seolah dia sedang berhadapan dengan ribuan pasang mata yang menatap menghakiminya. Membuatnya menegakan duduk, bersikap sempurna seperti seoarang tentara.


" I miss you too ".


Dan dada pria itu seperti mau pecah karena tak mampu menahan luapan bahagianya, saat sapanya berbalas dari si cantik yang ada diseberang sana ... jauuuh. Saking bahagianya, Haidar meninju-ninju udara kosong di hadapannya penuh dengan ekspresi kemenangan.


" Ini masuk pagi atau malam ", bukan pertanyaan basa-basi sebenarnya, tapi entah mengapa terdengar demikian. Bahkan oleh Haidar sendiri sebagai si penanya.


" Masuk pagi, ini baru pulang ". Suara Nania terdengar bening dari seberang sana.


" Oh, berarti bisa dong video call ? ".


" Ah jangan !! ", terdengar sedikit panik suara Nania. Membuat haidar mengernyitkan kening dan dipenuhi dengan rasa penasaran yang tak tertahan. "Aku ... aku baru saja selesai mandi ".


" Oh ... ma-maaf ... ", dan Haidar pun menjadi tersenyum-senyum. Ia yakin, gadis itu kini pasti tengah tersipi malu. Ah seandainya bisa melihat sepasang pipi yang merona karena malu itu, apa lagi ia habis mandi. Pasti kulit pundaknya terlihat sangat putih mempesona.


" Apa yang kau pikirkan, Mas ?. Kau diam terlalu lama ".


" Ah ... enggak, enggak kok. Maaf ya... nanti masuk angin. Berpakaianlah dulu ", tapi Haidar tetap tersenyum simpul dengan wajah merona pula. Lihat !, siapa yang kini tersipu-sipu malu.

__ADS_1


" Kau pikir aku tidak mengenakan apapun ya ?. Dasar mesum !... aku hanya berpakaian yang tidak pantas saja, apalagi untuk kau lihat ".


" He..he..he.. "


Tentu saja suara si cantik itu berubah sepertia uaman singa betina, dan Haidar hanya mampu terkekeh-kekeh sambil menggaruk-garuk ujung hidungnya yang tidak gatal.


" Habis ini mau langsung bobo' ya ? ". Tanya Haidar sambil masih tersenyun-senyum simpul.


" Iya, memang mau ngapain lagi. Sudah hampir jam sebelas malam ".


" Bisa minta satu hal... satu saja,  ya cantik, boleh ? ".


" Apa ? ". Tentu saja Nania diseberang sana menjadi sangat penasaran.


" Boleh nggak ?, boleh ya ... please ".


" Iya, boleh "


" Let me kiss you, in your dream ".


..................................................


Padahal sebelumnya ia mengharapkan kantuk itu akan menyerang dengan hebat, tentu saja setelah tubuhnya disegarkan oleh guluran air hangat. Setelah seharian mengurus stock bahan pokok untuk satu bulan, melakukan evaluasi untuk distributor sayuran dan buah-buahan segar, lalu melakukan training tipis-tipis untuk menu baru di cafe. Semua bayangan indah tentang hangat, nyam dan empuknya kasur serta aroma rempah yang akan langsung membuatnya terlelap itu ternyata tak terbukti kebenarannya.Semua gara-gara telepon seorang pria yang telah sukses mengaduk--aduk perasaannya di hampir satu bulan ini. Apa itu tadi ?, permintaan macam apa itu.


" Let me kiss you, in your dream ".


Padahal sebelumnya, pria itu tidak pernah meminta ijin. Dengan semena-mena mencuri ciuman pertamanya, dan itu di alam nyata, tidak sekedar di alam mimpi.


" Kau ini .... ", hanya dua kata itu yang bisa keluar dari bibirnya. Sementara suara tawa terdengar jelas dari seberang sana. Pasti sepasang mata di wajah tampan itu kini sedikit menyipit.


" Tadi sudah janji boleh loh, nggak baik kalau harus ingkar ", masih dengan sisa tawa yang menggoda Haidar mencecarnya.


" Iyaaaa.... ".


" He..he..he.. thank you so much. I miss you ... ". Suara itu kini terdengar melembut hingga tarikan nafas beratnya terdengar begitu jelas.


Hanin Hanania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, pipinya terasa panas, rasa malu itu benar-benar menginvasi seluruh bentuk rasa di hatinya. Walaupun sang inavator kini tak berada dekat dengannya, tapi seluruh alam sepertinya benar-benar telah menjadi mata-mata untuknya. Membuat Nania tak berdaya, seperti tawanan perang yang tak bisa berbuat apa-apa.


" Kau itu mas, bisa berhenti menyiksaku ? ". Gumam Nania sambil menarik selimut, memiringkan tubuhnya dan mencari titik nyaman untuk dirinya. Berharap akan segera terlelap dalam mimpi. Tapi pipi seputih pualamnya kembali merona merah, dan sesungging senyuman tipis kembali tergurat di sudut bibirnya.


Membiarkan lelap yang membelaimu


Telah kutitipkan pada gemintang segenap rindu


Biar saja awan yang membisikannya padamu


Aku terlalu rindu untuk menuturkannya padamu


Jika ada yang bertanya bagaimana aku bernafas


Tentu saja disetiap tarikan dan hembusannya ada dirimu


Menjalin erat hati untuk membuatmu bebas

__ADS_1


Karena telah kutambatkan pencarianku pada hatimu


***                                                         (Haidar_)***


__ADS_2