
Seraut gelisah membalut dalam kemelut. Bahkan resah pun ikut meronta dari jiwa. Berjuang dengan akal sehat yang masih bertahan dengan kejernihan. Tapi rasa sedih dan putus asa itu, merayap perlahan seperti sulur-sulur hitam. Dengan muslihatnya, melingkupi dan mencengkeram hati. Menggoyahkan nurani, mengawal dan memenangkan naluri dasar yang kelam. Seorang anak Hawa terperangkap dalam dilema.
Masih berdiri menatap cahaya gemerlap yang berkelip indah di kejauhan dibawah sana. Ardelia mengusap setitik air mata yang jatuh perlahan dalam keheningan. Menarik nafasnya dengan serat-serat luka yang kembali menganga. Terasa pedih, dan ini harus diakhiri. Ah tidak !!! tepatnya ... harus dibunuh, dicabut hingga ke akarnya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri.
Aroma segar mint dan Citrus itu menyeruak perlahan, seperti menyergap dan menguasai seluruh sel-sel syarafnya. Ardelia tak perlu menoleh, ia telah tahu pasti semua aroma yang menenangkan jiwanya itu berasal dari seorang Raja yang kini dengan perlahan mendekat, berdiri menjajarinya.
" Bagus ya.... seperti berlian di kotak beludru hitam ".
Tapi Ardelia keliru, pria itu tidak berdiri menjajarinya. Sepasang tangan dengan lengan kekar nan hangat melingkari pinggangnya perlahan. Menciptakan sensasi bergelanyar yang aneh tapi menyenangkan. Ia tak menepis seperti yang sudah-sudah, hanya terdiam dan tetap berusaha bernafas dengan normal.
" Tapi itu imitasi, permata sesungguhnya ada di genggamanku ".
Nada itu membuai Ardelia, dibumbui dengan kecupan panjang di ubun-ubunya. Raka melakukan penuh dengan kelembutan, tapi nafasnya yang berhembus hangat terasa menyapu dengan tergesa.
Ardelia masih diam tak bersuara, kini kedua telapak tangannya mulai terasa berkeringat. Ia juga tak berani bergerak, mengeras dan kaku dengan kegugupan bertalu-talu. Terlebih saat Raka memutar tubuhnya, membuat keduanya saling berdiri berhadapan. Menatap begitu lekat, saling menampar dengan deru hembusan nafas, karena mereka berdiri begitu dekat.
" Boleh aku menciummu ? ".
Hah??? .... please Raka, apa itu perlu kau tanyakan?. Apakah ini gayamu jika dengan yang lugu dan bodoh sepertiku.... kau melukai hati.
" Kenapa saat di stasiun kau tidak permisi dulu ? ". Ardelia menjawab tanpa berusaha sedikit pun menjauhkan tubuh Raka.
" He... he... he... aku terlalu bahagia saat ini, sehingga kewarasan ku pada titik maksimal "
" Pffft....., apa itu ?, dasar Playboy. Begini rupanya caramu pada yang belum berpengalaman ". Tawa tertahan Ardelia terdengar penuh ironi.
" Mungkin ..... tidak. Ini pertama kalinya aku menjadi pria yang sangat bahagia, seorang pria yang benar-benar jatuh cinta ".
Ardelia menyunggingkan senyum tipis. Sementara Raka menyusuri garis hidungnya dengan ujung jari yang bergerak perlahan, dan kemudian berakhir dengan sentuhan di bibir Ardelia yang merekah. Menciptakan sesuatu yang meronta perlahan namun pasti, menjadi lebih besar dengan gelanyar aneh yang mendesak. Membuat detakan di dada gadis itu seperti tak terkendali.
" Ini kuartikan boleh ". Lembut Raka mengucapkan, seraya menarik pinggang Ardelia untuk lebih merapat.
Nafas itu terasa sangat hangat, dan Ardelia pun memejamkan matanya. Ia tak berani membuka mata, karena takut pada sisi lain dirinya sendiri. Yang pasti akan mendorong pria ini sekuat tenaga, dan segera menjauh. Bukan 'kah ini keputusan yang sudah dipikirkannya masak-masak, setidaknya ..... harus dengan orang yang dicintainya. Dan Ardelia pada akhirnya tidak mampu lagi menahan dua bulir air matanya yang bergilir.
Masih seperti saat pertama dulu, ah... beberapa hari yang lalu maksudnya. Bibir itu begitu lembut, manis seolah mempunyai zat adiktif khusus untuk seorang Raka. Awalnya ia berhati-hati dan sedikit ragu saat memulai merasakan kelembutan yang memabukkan itu. Tapi sikap Ardelia yang terdiam, seolah seperti mempersilakan, bahkan gadis itu memejamkan mata, sepertinya benar-benar menikmati setiap putaran detik yang mulai diambil alih oleh Raka.
Tunggu... apa ini ?... aaah dia menangis. Raka !!! ... kau harus segera menghentikannya.
Dan seruan dari dalam diri Raka itupun memampatkan seluruh energi yang menggelora. Membuat Raka menghentikan gerakan setangkup bibirnya yang sebenarnya sudah mulai menuntut dan menjelajah. Kemudian iapun mengendurkan dekapannya dan mulai mengangkat wajahnya dari wajah Ardelia.
" Maaf ", ucap serupa bisikan.
" Ah... ", dan Ardelia pun seperti masih terbungkam. Ia membuka kedua matanya yang tadi terpejam, dihadapan nya seraut wajah tampan yang nampak mengeras namun berselimut penyesalan. Dan sepasang mata itu menatapnya penuh dengan rasa bersalah.
" Bersihkan dirimu ... kita istirahat. Aku janji ... tidak akan terjadi lagi ".
Dan senyuman itu begitu tulus seiring hangatnya jemari Raka yang menyelipkan anak rambut nakal kembali ke belakang telinga Ardelia. Pun kemudian kedua telapak tangan yang lebar dan hangat itu juga meremas pundak Ardelia memberikan rasa nyaman.
" Kita harus istirahat ... ".
Kerlingan mata Raka mengisyaratkan untuk dirinya segera membersihkan diri di kamar mandi dan segera bersiap untuk tidur. Seperti gadis kecil mendengar perintah ayahnya, Ardelia menurut dan segera menuju kamar mandi.
Raka berdiri termangu, sesaat seperti tak bertumpu pada bumi. Lalu kesadarannya terpelanting telak, dan membuat rasa pengap yang menyakitkan di ulu hatinya.
'Arrrgghhhh... '. Pemuda itu frustrasi, hingga ia pun menyunggar rambutnya dengan ekspresi marah dan bingung.
Ardelia, selalu gadis itu yang membuat naluri pria nya bangkit cukup hanya dengan mengucapkan namanya saja. Benarkah ? ... tentu saja. Wanita muda yang begitu sederhana, tak perlu mengenakan pakaian yang membuat lekukan tubuhnya terlihat nyata, tak perlul memoles wajahnya untuk terlihat lebih cantik, bahkan sikap judesnya...... aaah... tak sebanding dengan sikap gemulai dan senyum menggoda para wanita yang selama ini mengelilinginya. Tapi Ardelia ... memang tidak butuh semua hal itu. Selama ini, Raka lah yang berjuang menahan dan menjaga sisi liarnya.
__ADS_1
Karena dia.... Ardelia Asmara Sani, adalah wanita termurni, tertulus dan juga satu-satunya yang telah menempati hatinya. Sejak ...........
" Raka ..... ".
Sentuhan itu begitu lembut, melingkari pinggangnya perlahan. Sesuatu yang hangat dan lembut terasa menyender di punggungnya. Raka bahkan tidak menyadari, kapan Ardelia selesai dari kamar mandi. Kini ia merasakan tak ada batas antara dirinya dengan gadis yang kini memeluk dirinya dari belakang. Padahal ia baru saja memenangkan pertarungan dengan hawa nafsunya, dan itu...... nyaris menghabiskan seluruh kekuatan akal sehatnya. Tapi kini .... ronde kedua ???? . Oh my God.....
" Boleh aku meminta satu hal padamu ? ".
Pertanyaan itu ...... kenapa terdengar seperti seseorang yang seperti sudah kehilangan harapan ?. Tapi Raka tidak berani membalikkan badannya untuk memastikan. Hingga .....
" Kau mau 'kan ? ". Dan Ardelia pun kini bergerak hingga akhirnya kembali berdiri tepat di hadapan Raka.
Ardelia menengadah dan menatap sepasang manik mata Raka yang kembali berkerjap gelisah. Perlahan sepasang tangan yang tadi melingkari pinggang Raka, kini merayap menyentuh dada yang berdegup kencang, lalu menyusuri garis rahang yang mengeras itu. Membelainya dengan sentuhan yang sangat lembut.
Dan Raka ..... iapun memejamkan mata, menikmati sentuhan yang memabukkan itu.
" Untuk mu .... aku akan berusaha sekuat tenaga.... ".
.........................
Sumpah mati tidak akan lagi mau mengikuti acara pesta walaupun dengan dalih apapun .... syukuran lah, perpisahan lah, ucapan terimakasih lah ..... yang pada akhirnya dihadiri oleh para gadis hedonis itu. This is first and last too, never again !!!!!!.
" Rana ... tunggu ... tunggu dong ".
Kirana hanya menoleh sekilas pada Tria yang tergesa menyusul langkahnya. Kini gadis manis itu berjalan menjajarinya dengan raut wajah menyesal.
" Aku nggak tau' kalau trio rubah itu ternyata juga ikut ... kupikir hanya anak-anak tim kita ".
" Tidak masalah !!!!... aku saja yang nggak sepaham ...ohh... maksudnya sewarna dengan mereka ". Cuih... Kirana mendecih dengan kesal .
Apa itu tadi ? .... ini pesta perpisahan karena mereka telah selesai menjadi dokter koas. Tapi seharusnya Kirana tahu, jika yang dimaksud dengan 'merayakan' ... jika itu berasal dari mulut seseorang seperti Glen dan Dony ... yaa.. seperti yang terjadi di dalam sana tadi.
Dan pada puncaknya adalah permainan 'true or dare' yang sepertinya telah dengan sengaja dibuat sebagai perangkap untuk dirinya. Lihat' lah bagaimana trio rubah yang kini masing-masing sudah berada dibawah ketiak Glen dan Dony serta ... entah siapa itu namanya si tampang mesum yang lain, begitu bersemangat mengompori 'si tukang kunci' dan dirinya untuk saling berciuman.
Just a Game ..... pala' lu peyang !!!!!!!. Kalian pikir karena aku lajang, nggak laku .... terus seenaknya saja kalian permainkan. Okay ... ku tunjukkan siapa yang sebenarnya bisa dengan mudah dipermainkan.
Dalam keadaan normal saja, Kirana begitu yakin bisa membuat cowok mesum ini keok' dengan satu kali serangan. Apalagi ia sudah beberapa kali minum alkohol, tentu ini satu keuntungan besar untuknya.
" Cium.... cium... cium... cium... ", suara tiga pasangan mesum itu membahana membuat 'si tukang kunci' ini semakin nyalang dan penuh semangat.
" Sudah !!!... hentikan !! ". Rian pacar Tria sahabatnya mencoba menahan. Tapi sepertinya 'si tukang kunci' ini sungguh sudah terobsesi dengan dirinya. Rian terhempas oleh dorongan kasar pemuda menjijikkan yang terus mendekat pada dirinya.
" Fair Game ... nona ", seringainya
" Kalau kau bisa ... ", tenang Kirana menjawab.
Uluran tangan itu ditepis dengan sigap dan berbalik dicekal olehnya. Teknik menangkis dan melumpuhkan lawan dalam satu gerakan.
" Braakk .... Brugh !! ", suara berdebam itu terdengar dua kali beruntun.
Dan yang nampak kini, tubuh 'si tukang kunci' itu jatuh tersungkur dilantai setelah sebelumnya menghantam pinggiran meja. Tentu saja hal ini sengaja di lakukan oleh Kirana untuk memberikan rasa sakit ganda .
" Akh.... akh... akh.... ", rintih 'si tukang kunci' itu, masih dengan tubuh dalam penguasaan Kirana yang mengunci tangannya.
" Kiss the floor.... kau salah memilih mangsa. Dan kalian .... ", Kirana menatap tajam pada dua orang Don Juan di kelasnya yang kini terperangah tak percaya. " Kalian yang memulai .... ingat!!!!! jika memperpanjang urusan ini... aku pastikan... para orang tua kalian ... ", Kirana membuat gerakan menyayat dengan dua jarinya pada leher. Membuat Glen dan Dony ternganga tak percaya.
Kirana, memang berkepribadian sangat mandiri dan tidak suka jika latarbelakang keluarganya diketahui oleh orang banyak, termasuk teman-temannya. Hanya Tria dan Rian yang mengetahui bahwa dirinya adalah putri kesayangan dari pemilik Ars Group dan juga keponakan kesayangan dari direktur Ars Internasional Hospital, tempat orang tua kedua duo mesum itu bekerja sebagai dokter senior.
__ADS_1
Tapi kelakuan anak-anaknya yang keterlaluan ini membuat Kirana memutuskan untuk mengeluarkan taringnya. Ia pun segera beranjak keluar dari private room yang disewa itu. Tidak memperdulikan teriakan dua orang konyol tak tahu diri yang kini sepertinya tengah dihardik oleh Rian. Ia yakin, pasti pacar sahabatnya itu langsung memarahi habis-habisan duo mesum tak ada otak itu.
" Rana... maaf ya... aku benar-benar nggak tau'... kalau.... ", Tria terlihat menyesal sekali.
" Sudahlah ... sana bantu Rian.... ajak dia segera pulang. Aku juga akan pulang .... sudah sanaaaa... ". Kirana membalikkan badan Tria dan mendorong tubuh gadis itu.
" Tapi kamu .... ".
" Cepetan ... kau mau Rian mu dicaplok trio Rubah itu ???? ".
Dan kini Kirana tengah berdiri menunggu lift terbuka. 'Tring' ... suara itu terdengar disusul dengan terbukanya pintu geser berwarna platinum itu. Kirana pun masuk, di dalam sana tampak ada seorang pria yang berdiri menyandar. Rupanya tujuan pria ini juga sama dengan tujuannya... parking base'.
Keduanya tak saling bicara, bahkan Kirana memilih menyibukkan diri dengan telepon genggamnya. Hingga lift itupun berhenti di tempat yang dituju. Kirana pun bergegas keluar dan menuju tempat ia memarkir kendaraannya.
" Mba... ".
Sebuah tangan memegang pundaknya, Kirana nyaris saja dengan refleks membuat gerakan yang sama dengan yang dilakukannya pada 'si tukang kunci' tadi.
" Maaf mba ... ". Pria ini adalah pria yang tadi berada satu lift dengannya.
Entah mengapa tiba-tiba saja pria ini sudah berada di dekatnya, padahal seingatnya tadi sekeluar dari lift, arah mereka berbeda. Ah... mungkin dia saja yang terlalu asyik dengan telepon genggamnya.
" Boleh saya minta tolong ... ".
" Ya ampun ... ".
" Sssttt... ".
Semua terjadi begitu cepat. Kirana melihat darah di bagian perut pria itu. Tapi pria itu buru-buru membuat tanda agar dirinya tetap diam. Kirana membeku.
" Pria-pria berperawakan tinggi besar itu.... mereka mengincar ku. Tolong bawa aku keluar dari sini ".
Kirana baru menyadari, ada banyak pria yang bergerombol dua - tiga orang dengan postur tegap dan berotot, yang entah darimana tiba-tiba saja sudah berada disekitar area ini.
" Mba ... tolong ".
Entah apa yang membuat Kirana kemudian mempersilahkan pria itu untuk ikut masuk di kursi penumpang mobilnya. Bahkan ia juga melindungi keberadaan pria itu dengan baju-baju ganti yang memang selalu tergantung manis di mobilnya.
Kini kendaraan yang dikemudikan Kirana melaju perlahan, melewati barikade para bodyguard yang bergerombol dititik tertentu. Bahkan hingga mobilnya telah keluar dan menyusuri jalan yang mengarah keluar area hotel, barisan bodyguard itu pun masih nampak.
" Pak... kita sudah aman sekarang. Saya akan masuk tol ... luka bapak ? ".
" Ah... ini hanya tergores sedikit. Bisa antar saya ke alamat ini ? ". Pria itu tiba-tiba saja dengan sigap melompat pindah duduk disamping Kirana.
" Ini... kenapa tidak ke rumah sakit dulu... atau ke kantor polisi ? ". Sebenarnya, Kirana mulai khawatir, jangan-jangan yang ditolongnya ini adalah penjahat.... buronan polisi. Waduuuh....
" Mba... ini KTP saya... ini kartu nama saya... ". Seperti mengetahui kekhawatiran Kirana, pria itu memberikan dua buah kartunya.
Kirana sekilas menatap kartu tanda pengenal itu, lalu ia beralih menatap pria disampingnya. Wajah di foto dan orang disebelahnya ini identik, berarti si bapak ini tidak berbohong.
" Alamat ini, rumah asisten saya. Sesampainya disana ... saya akan ceritakan semua apa yang terjadi. Saya benar-benar minta tolong mba ... ".
Bukankah pria ini cukup muda untuk sebuah jabatan yang tertulis pada kartu namanya ?. Mungkin sesuai dengan kak Namu nya. Apa yang sebenarnya terjadi pada pria ini ?.
Dan rasa penasaran dari seorang Kirana, membuat gadis itu mengangguk dengan yakin. Mengiyakan permintaan si pria ini.
" Baik pak ... ".
__ADS_1
Dan kendaraan itupun meluncur membelah malam. Seperti sebuah anak kunci yang tengah membuka sebuah jalan cerita yang baru.