
Konsentrasi ...... konsentrasi ...... konsentrasi !!!!. Haidar melecut dirinya dengan keras memagari pikirannya yang mulai bergerak meloloskan diri. Ia menekuni lembaran-lembaran yang terpampang dihadapannya, menelusuri satu demi satu setiap kata yang tertulis. Menyandingkan tiga kata dalam tiga bahasa sekaligus, membandingkannya dan mencari kemungkinan celah yang bisa mengakibatkan kesalahan.
" Jangan mudah percaya dengan siapapun. Kunci pertahanan seorang pebisnis adalah kewaspadaan ".
Begitulah yang sering didengungkan ayahnya. Dan kini dia harus benar-benar menerapkan pada tipe pekerjaan seperti ini. Tidak memperdulikan bagaimana kesan tidak suka yang ditunjukan oleh dua orang pria yang duduk sedikit gelisah di hadapannya.
Toh aku bossnya, begitu ujarnya pada diri sendiri. Haidar pun mulai mencengkeramkan kekuasaannya. Hingga sampai pada kalimat terakhir, ia menutup tiga bendel berkas itu bersamaan. Lalu menatap tajam pada dua orang yang duduk menunggu dengan tidak tenang dihadapannya.
" Saya memang orang baru di bisnis ini. Tapi hal tersebutlah yang membuat saya lebih teliti dari siapapun. Apalagi dengan reputasi perusahaan ini sebelumnya.... keterpurukannya yang begitu mencolok sebelum ter-akuisisi dan juga... maaf, rumor sebagai perusahaan cangkang.... tentu membuat saya harus lebih berhati-hati dari siapapun. Jadi ..... saya minta, jangan main-main .... seperti dengan yang sebelumnya ".
Kali ini Haidar mengucapkan deretan kalimat itu dengan perlahan, menggunakan bahasa internasional yang fasih dengan nada yang penuh wibawa. Tentu saja membuat dua orang pria yang mungkin hanya selisih beberapa tahun di atasnya itu menjadi sedikit mengurangi bias rasa tidak sukanya.
" Saya tidak akan meminta untuk yang kedua kalinya, tapi .... tetap saya berikan kesempatan kedua. Silahkan ... besok siang, saya harap sudah mendapatkan realitanya. Jangan tutupi apapun itu. Walaupun mungkin .... kalian terlibat dalam keburukan itu. Setidaknya kejujuran dan keinginan untuk memperbaiki diri... itulah yang membuat saya mempertimbangkan anda berdua ".
Dua orang itu adalah manajer perencanaan dan manajer keuangan. Wajah keduanya mendadak menjadi bersemangat, seperti mayapada yang nampak cerah karena tersibaknya kabut dingin. Perkataan panjang seorang Haidar yang awalnya mereka remehkan, dan juga penguasaan bahasa pria ini, ternyata mampu dengan cepat menghilangkan keraguan dan rasa meremehkan dari keduanya. Ternyata mereka telah keliru.
" Mr. Haidar .... maafkan kami sebelumnya. Kami paham apa yang anda maksudkan ", si pria manajer perencanaan yang berambut pirang dengan sepasang bola mata biru itu tersenyum dan mengulurkan tangan pada Haidar. " Tuan bisa memanggilku Jhon .... dan aku ada dipihakmu ".
" Saya juga tuan Haidar ", susul pria yang satunya. Wajah dengan jambang yang tipis yang membuat kesan macho itupun menyuguhkan senyuman optimis. " Oh ya, panggil saya Stan... Stanislav ".
" Ha... ha... ha... baiklah tuan Stan, tuan Jhon ", Haidar pun sepertinya sudah kembali pada mode' ramahnya. Ia bergantian menjabat tangan dua orang itu. Jhon dan Stanislav yang berambut keabu-abuan.
" Besok pagi tuan Haidar .... besok pagi anda akan mendapatkannya ", janji Jhon sebelum menutup pintu dan meninggalkan Haidar yang kembali termenung sendirian.
Tugas pertama yang dipanggulnya kali ini, cukup berat. Walaupun kau putra sang kaisar, jangan harap memperoleh banyak fasilitas tambahan. Seorang asisten pribadi misalnya.... pfiiiuuuh..... nyaman amat bang'. Itu bukan gaya seorang ayah bernama besar Mandala Arsenio. Haidar menghempaskan dirinya di atas sandaran sofa. Seolah-olah berniat menanggalkan semua beban berat itu sejenak.
" Orang kepercayaan, kau akan menemukannya seiring perjalanan waktu. Mereka ... tumbuh bersama etos kerjamu, bukan timbul karena faktor membutuhkan ".
Dan semua nasehat itu seperti kilas balik yang terpampang kembali. Ia mulai menemui kenyataan, satu demi satu persis seperti apa yang sering dituturkan oleh ayahnya.
Dulu, mungkin dia kurang paham atau bahkan sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dimaksudkan oleh ayahnya. Tapi dalam dua bulan terakhir ini, ia mulai benar-benar bisa menemukan arti dari semua hal yang sering dituturkan pria bersorot mata tajam itu.
Baru empat malam di negara ini, tapi Haidar sudah harus melakukan marathon. Berlarian, berkejaran dengan target yang sudah terperinci dalam mapping dan schedule nya sendiri. Yang paling harus segera diraihnya adalah, membangun kepercayaan dan rasa percaya diri dari para karyawan di tempat ini. Tentu saja dengan cara dan gayanya seorang Haidar. Oh no ..... tidak seratus persen seperti itu. Ia banyak menduplikasikan gaya ayahnya yang keren itu. Tidak mengapa, karena dalam akhir minggu ini ada satu hal yang harus segera dikejarnya, tidak boleh terlewat.
Semua berawal dari sepotong Apfelstudel dan Bienenstich atau kue manis yang adonannya terbuat dari krim vanilla, kacang almond dan madu sebagai pelapis diatasnya. Keduanya adalah hidangan penutup yang disajikan pada saat makan malam di kediaman keluarga kakak sepupunya. Lebih tepatnya adalah cerita yang berhasil diuliknya, tentang si pembuat dua kue manis dessert malam itu.
" Kayaknya ini pesenan spesial, edisi menyambut ku ... iya 'kan mba ? ", pancing Haidar.
" Tauuuk' aja lo' ... emang iya sih ". Sabrina tetap sibuk meladeni dua putri kembarnya yang menjelang remaja. Sementara anak sulungnya yang bernama sama dengan sang ayah, terlihat lebih antusias mendiskusikan acara olimpiade musim gugur dengan ayahnya.
" Kan' mba Sa' anti masak yang ribet-ribet begini ", Haidar menyeringai dan berbalas cibiran sang kakak. " Pesen dimana nih? bakery terkenal kayaknya ".
" Uhmm ... salah. Ini buatan orang Indonesia loh ".
Yups .... kemakan deh umpannya.
" Bener nih ?. Jangan-jangan yang punya gerai apelstrudel di Malang ya ? ", korek Haidar lagi.
" Ngarang ... ngaco' ah ", Sabrina tertawa.
" Namanya kak Hanin .... iya 'kan bunda ? ", si kembar Celine yang berpenampilan lebih tomboy tapi sangat imut itu menyela, ia bertutur dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata dan diakhir kalimat meyakinkan dirinya sendiri dengan meminta pendapat ibunya. Sabrina menjawabnya dengan anggukan yang kemudian disertai acungan jempol.
" Dia.... ", kali ini Celia yang angkat bicara. " ...schön und nett.... ah... cantik dan ... baik. Betul ya bunda ? ".
" Pinter... ", Sabrina kembali mengacungkan jempolnya, kali ini untuk Celia yang lebih kalem dan manis.
" Gut im Kochen.... pinter ... masak ", lanjut Celia dengan mengembangkan senyum puas.
Haidar tersenyum juga, jika para keponakannya merasa puas karena bisa berbahasa ibu mereka, dirinya karena merasa cukup puas dengan informasi yang telah berhasil didapat. Tapi kemudian telinganya menangkap sesuatu hal yang sangat mengejutkan, dimana rasa kecewa dan harapan saling berhimpitan satu sama lain.
" Kak Hanin .... mana?, kuenya ada ... orang nya mana ? ". Celia bertanya masih dengan terbata-bata. Tapi bagi Haidar .... itu seperti sebuah genta yang dipukul bertalu.
__ADS_1
" Oh .... dia nggak bisa ikut datang malam ini sayang. Ada kepentingan mendesak sore ini, mungkin sampai malam. Makanya kak Hanin mengantarkan desert lezat ini tadi siang ".
" Yaaah ... ", dan koor kompak itu mengalun dari dua bibir imut Celia dan Celine yang cemberut.
" Eits ... tapi weekend nanti kak Hanin janji tetep datang untuk acara masak-memasak kita ... ".
" Hurra... Spaß...". Si kembar itu pun bersorak riang serta saling ber-high five. Seketika wajah mereka menjadi begitu riang.
" Schwester Hanin will herkommen, Bund ? Bedeutet der Kochkurs.... ist geöffnet ", Si sulung Rama akhirnya tertarik. Dia bertanya dan berseloroh, " Kak Hanin mau datang, Bund ?. Berarti kelas memasak di buku lagi dong .... ".
Belum lah lagi bundanya menjawab, dua adik kembarnya telah memelototi remaja tanggung itu. Rama terkekeh-kekeh, ia menyadari kesalahannya.
" Maaf ... harus bahasa Indonesia ya ", ujarnya sambil terkekeh.
Tapi suasana sudah terlanjur menjadi riuh oleh suara si kembar yang menuntut hukuman untuk kakak sulungnya itu. Sementara si sulung yang bernama Rama Putra Buana Mahardika itu terkekeh-kekeh senang dan tetap berusaha berkelit. Membuat dua saudari kembarnya, Celine Putri Pertiwi Mahardika dan Celia Putri Pertiwi Mahardika memekik-mekik dengan kesal.
" Sudah .. sudah.. jangan ribut ", lerai Sabrina.
" Biar saja ... itu tandanya mereka sehat ibu ... ".
" Ah ... mas ini, nggak bising apa ? . Sudah bukan anak-anak lagi, tapi kelakuan mereka ... ish... mas 'sih terlalu memanjakan mereka ". Sabrina bersungut-sungut karena Arya sang suami justru terlihat menikmati suasana itu.
" Kau ... akan sangat merindukan keriuhan yang seperti ini. Sebentar lagi ... tunggu saja ". Arya membelai lengan istrinya dengan lembut. " Aku bahkan sudah sering rindu tangisan mereka saat bayi ... ".
" Kenapa nggak nambah satu atau dua lagi saja ? ", kini Haidar yang menyela.
" Nggak usah jadi provokator ' Haid ..... tahun depan aku sudah empat puluh dua.... resiko tinggi ".
" Kalau Allah menghendaki .... apa yang tidak mungkin, sayang ? ".
Begitu lembut mas Arya memperlakukan mba Sabrina, begitulah yang tertangkap oleh seorang Haidar. Pria sederhana yang sebenarnya datang dari keluarga para begawan ilmu di Nusantara. Dia sangat bisa menghandle sifat dan sikap istrinya. Membuat seorang Sabrina yang pada dasarnya adalah seorang yang manja, bisa bertekuk lutut tanpa syarat saat sang suami telah sedikit membelainya.
Haidar tersenyum tipis, ia pun ikut merasakan bagaimana kemesraan pasangan itu. Hatinya yang tadi sempat kecewa, kini terasa seperti berada di penghujung musim dingin. Saat salju mulai mencair, matahari mulai bersinar hangat dan menumbuhkan berjuta harapan.
.......................
Haidar baru saja menutup panggilan dari Keanu, setelah hampir dua puluh menit keduanya berbincang. Walaupun sepasang kaki yang membuatnya menjulang seratus delapan puluh empat sentimeter itu telah membuatnya mempunyai langkah yang cukup panjang, tapi ia masih tetap berlari. Sesekali melirik jam yang berdetak melingkar elegan di pergelangan tangannya.
" Biar kuantar ke Heidelberg Train station, tuan sudah memesan tiketnya ? ".
" Ini baru kulakukan Mr. Stan ", jawabnya pada Stanislav yang mulai mengendalikan kemudi mobilnya.
" Kalau tidak memesan terlebih dahulu, biasanya akan sangat merepotkan, tuan. Apalagi ini hari Jumat.... weekend ".
" Iya.... ini tinggal kelas satu. Harga nya... wouuw...", sepasang mata Haidar membeliak saat melihat nominal yang harus dikeluarkannya untuk sebuah perjalanan kelas satu dengan kereta jika di-rupiahkan sekitar satu juta dua ratus ribu. " Hampir dua kali lipat. Tapi tidak mengapa, yang penting aku bisa sampai ke Berlin ".
" Fasilitas free WiFi dan tempat tidur... untuk perjalanan selama lima jam lebih, sepertinya cukup sepadan ". Katanya lagi seolah menghibur dirinya sendiri.
" Jangan lupa pesan untuk tiket untuk kembali nanti. Nah ..... tinggal satu belokan lagi kita sudah sampai di Heidelberg Station ".
" Untung ada kau Mr. Stan. Terimakasih banyak ... ".
" Ha... ha... ha... apapun itu, untuk seorang boss dan maaf ... teman sepertimu ... aku akan senang hati memberikan bantuan, semampuku tentunya ".
" Thanks brother .... ". Haidar menepuk pundak Stanislav menunjukkan ia pun tak keberatan atas hubungan pertemanan yang ditawarkan oleh pria itu.
Dengan sedikit berlari setelah menukarkan tiket virtual yang belum lama didapatkannya, Haidar akhirnya berhasil duduk dengan nyaman di dalam gerbong kelas satu, ber-AC dengan fasilitas pemandangan indah sepanjang sungai Rhein dengan bebukitan menghijau, serta Wi-Fi gratis... tentunya. Harga yang menurutnya cukup mahal, ternyata memang sepadan dengan elegansi fasilitas yang didapatkan.
Ketika telepon genggamnya menggelepar meminta perhatian .....
" Halo... assalamualaikum bang Key' .... ", sapanya setengah berkelakar.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam bro' Haid. Sudah 'OTW ? ".
" Ini baru mau bersandar di kursi ".
" Oh... naik kereta? bus? ".
" Absolutly ... Train. Tapi muahaaaaal.... ".
" Hua... ha.. ha.. ", Keanu tergelak-gelak. " Seorang Haidar mengeluhkan mahal... lalu bagaimana dengan aku ? ".
" Kau 'kan tidak perlu jauh-jauh apalagi harus naik kereta. Eh .. bang Key', tapi kau harus ke sini ... rugi kalau ke Jerman cuma ngubek Berlin doang ".
" Iya.. iya... iya... eh' mo' tanya nih, hari Sabtu sore... jadikah aku diundang ? ", kali ini terdengar sok imut.
" Jadi doooong.... kau 'kan belum jadi kuperkenalkan dengan trio yahoo ... anaknya mba Sa' ".
" He.. he.. he.. anak kost... biasa ... cari makan gratis. You know laaaah... ".
" Big Porsions .. special for you ".
" Oukay mister Haid'... aku pasti datang ", renyah suara Keanu menyambutnya.
" Sampai ketemu bang 'Key ...".
" One request ... Key saja ... jangan pakai bang, please. Dikupingku seperti ... ****** ".
" Oke... oke... siiiiap Key. Ah nggak enak ... tetep bang Key .... ha..ha..ha... ".
" Haiiiidd !!!! ", dan suara Keanu terdengar melengking ditelinga Haidar yang masih tertawa-tawa.
Sementara kereta yang ditumpangi Haidar sudah mulai melaju dengan momentum yang memang dikhususkan untuknya sendiri. Tanpa hambatan, menyusuri panel rel listrik yang panjang hingga enam ratus dua puluhan kilometer. Menjaga ketepatan waktunya agar tetap pada kisaran lima jam tujuh belas menit, membawa orang-orang yang sebagian besar pulang untuk menemui keluarga mereka. Sama seperti seorang pemuda yang kini masih saja berkutat dengan laptopnya.
Haidar seolah tak kunjung lelah, tetap kembali membuka lembaran demi lembaran elektronik berisi pekerjaan yang tadi dipaksa selesai dengan tergesa. Menekuri kalimat demi kalimat, menyandingkan dengan kepingan diagram berbentuk cookies terkadang juga batang warna-warni. Sering ia harus memejamkan matanya sebentar untuk menggali memori manakala ada istilah dalam dunia bisnis yang ia sendiri ragu mengartikannya. Pada akhirnya, ia akan meminta bantuan si 'mbah di sebuah laman pencarian semesta. Hi... hi... hi.... cemungud pak dokter.
Sepasang pasangan manula berkali-kali menatap kearahnya, lalu saling berbisik. Sepertinya sang wanita memuji ketampanan pria asing yang baru mereka amati itu. Dan berbalas selorohan sang suami yang menganggap ketampanannya waktu masih dulu, pastinya sebanding dengan pemuda itu. Lalu keduanya saling terkekeh bahagia, berseling dengan pelukan hangat. Sementara pemuda Haidar yang mereka jadikan topik pembicaraan, sama sekali tidak menyadari dan tetap asyik dengan dunianya sendiri.
Dan kereta cepat itupun terus melaju, membelah kabut di akhir musim hujan yang menuruni bukit Königstuhl dan membelai lembut udara di sepanjang sungai Neckar. Meninggalkan kota tua Heidelberg yang syarat dengan keromantisan. Membawa hati seorang pria yang berdenyut tak menentu, menyimpulkan senyuman karena ia membayangkan pujaan hatinya.
...........
Bukankah setiap kita adalah pejuang ?
Apapun yang sedang kita upayakan untuk terengkuh dalam genggaman...
Pasti akan menjadi inti energi yang mampu menggerakkan nalar.
Sempat aku sedikit merelakan,
Engkau yang cantik itu, menjauh dari angan
Hingga akhirnya ku tersadar,
Bodoh !!! .... bahkan kau belum melakukan apapun.
Mungkin aku terlalu takut untuk sakit dan kecewa.
Tapi aku bukan seorang pengecut
Jika kini aku kembali menjadikan mu sebagai poros hatiku .....
Itu karena aku memang telah mengikat rasa ini padamu ..... sejak dulu.
__ADS_1
Aku ..... hanya seorang pria yang mengejar hatinya.