
Keberangkatan kereta malam itu adalah pukul 21.10 WIB. Raka sengaja mengambil perjalanan malam, tentu saja agar ada cukup waktu untuknya bersama Ardelia. Ia bahkan dengan sengaja menutup akses rapat-rapat untuk seluruh keluarganya agar tidak mengetahui kepulangannya yang sesaat dan cuma setempat ini. Bisa dipastikan bagaimana akan ngamuk hebat sang mama jika tahu ia pulang, tapi sana sekali tidak menyempatkan diri pulang ke rumah.
Mungkin inilah yang namanya gila karena cinta. Cinta ? .... yakin sudah benar-benar jatuh cinta dengan gadis ini Raka ?.
Pastinya demikian !. Coba pikir... ada gitu tindakan seimpulsif ini jika bukan karena energi cinta yang menggelegak. Membeli tiket pesawat di akhir pekan yang tentunya harganya pun melangit. Lalu berlari menuju florist dan berdebat dengan seorang pemuda karena sama-sama menginginkan kuntuman pink rose yang banyak untuk buket mereka. Walaupun akhirnya si ibu pemilik florist bisa mendamaikan dan memberikan solusi yang adil untuk dua orang muda yang sedang jatuh cinta itu.
Dan kini dia juga harus rela membayar tiket kereta yang harganya juga jadi berlipat, lagi-lagi karena sudah akhir pekan. Yaaah .... sudahlah ... demi cinta itu.
So ... yakin ya Raka, kalau kamu sudah benar-benar menemukan cinta ?. Pastinya begitu.
Raka tersenyum simpul sambil mengawasi gerak-gerik gadis yang sedang memesan nasi Padang lengkap untuknya. Tentu saja dia adalah Ardelia yang bersikeras membawakan bekal untuknya. Walaupun bukan hasil masakan gadis itu sendiri.
" Kalau beli di kereta mahal banget... dan porsinya se_iprit ", begitu alasannya yang tidak bisa dibantah Raka.
Satu kotak nasi Padang dan dua botol air mineral tampak sudah tersimpan manis di kantong kertas dengan bagian depan yang berlapis plastik bening. Ardelia menentengnya penuh semangat lalu menghampiri Raka yang kini masih duduk santai menunggunya di salah satu kursi pengunjung dekat pintu keluar.
" Ayo.. lebih baik menunggu di stasiun kereta daripada beresiko ketinggalan .. ".
Raka tersenyum dan mengikuti langkah gadis itu. Bergegas menuju mobil sejuta umat milik mama Ardelia yang mereka pinjam malam ini. Raka duduk manis dan mulai membawa mobil itu dengan santai menuju kestasiun kereta.
Sesiang tadi, tepatnya setelah peristiwa menyebalkan yang dialami Ardelia, dirinya sama sekali tidak beranjak dari sisi gadis itu. Menemani si cantik yang ternyata hari itu baru ditinggal ibunya karena ada kepentingan ke Bandung. Mengabaikan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para karyawan ibu Ardelia dan juga tak mengindahkan anjuran gadis itu untuk menemui atau sekedar menelpon mamanya.
" Kasihan 'kan Tante Hana... telpon laaah. Atau ku antar yuk ... biar cepat ".
" Aku bilang nggak usah ... ribet nanti malah. Kau memang sudah siap untuk segera ditasbihkan jadi menantu keluarga Arjuna-Hana ? ".
Ancaman itu terbukti sangat efektif. Walaupun dengan bibir manyun tiga senti, Ardelia akhirnya menghentikan bujuk rayunya. Tentu saja Raka tersenyum penuh kemenangan.
" Boleh bertanya sesuatu ? ". Tanya Raka kemudian saat mereka memutuskan untuk mengisi waktu luang dengan nongkrong di sebuah taman. Tentu saja sambil menikmati sepiring ketoprak dengan kuah kacang yang menggiurkan.
" Tentang tadi ? ". Sahut Ardelia dengan sangat memahami arah pembicaraan Raka
" Tebakan tepat ... Ngapain si drakula itu ? ".
Ardelia tidak segera menjawab, gadis itu buru-buru menghabiskan porsi ketoprak di piringnya.
" Pertanyaan mu itu membuat ketoprak ini akan segera menguapkan kelezatannya ".
" Ho... ho... ho ... Maaf ... ".
Dan satu tegukan es teh mengakhiri tindakan impulsif Ardelia yang melahap hidangan dihadapannya seperti kesetaraan. Gadis itupun segera menatap tajam pada Raka yang masih terlihat santai menikmati manis pedas gurihnya saus kacang.
" Kau pasti sudah bisa menebaknya .... Hubungan dari semua peristiwa yang sudah kau lihat dari semenjak di Jogja.... ".
" Apa yang bisa kulakukan untukmu ? ", Raka memotong cepat dan kali ini membuat Ardelia menarik nafas panjang .
" Aku... pasti terlalu pengecut untuk semua ini ... Aku .... ".
" Bukan kau .... tapi mereka yang terlalu breng_sek ... Dan sudah saatnya kau melawan ".
Ardelia tertegun, diam dan tak mampu membalas perkataan Raka. Pikirannya berkecamuk, hatinya riuh rendah oleh dendam dan amarah yang saling menjerit. Tapi mengingat sosok wanita lembut yang telah begitu menderita selama ini, Ardelia pun semakin menjadi tak berdaya.
" Yang dijodohkan dengan ku .... Keanu yang nomor tiga, tapi Yesi menginginkannya. Kau tahu ... siapa yang nomor dua ... ?".
" Sakala ? ". Nada geram itu sangat kentara pada kalimat dan wajah Raka.
" Dracio... meminta ku lebih memilih Sakala .. " .
" Kau menolaknya .... Pasti!!. Lalu pecahan kaca itu ? Kau mengancamnya juga... Pasti!!! Aku bisa melihat wajah pengecutnya ang pucat pasi ".
" Itu kau sudah tahu ... Kenapa harus bertanya padaku sih ? ".
" Delia....aku bukan dukun, aku hanya menebak alur selanjutnya ". Raka yang terlihat mulai emosi lalu menyunggar rambutnya. Meletakkan piring yang telah kosong, meminum habis setengah botol air mineral dan kemudian menatap Ardelia dengan tatapan tajam.
" Sudah waktunya bukan jika kita harus melawan... Membeberkan semua kebenaran ... dan menguak semua hal yang sudah kita tutupi selama ini ... ".
" Raka.... ". Ardelia balas menatap ke dalam sepasang mata Raka yang kelam berkabut dendam itu. " Aku mohon..... Biarkan aku memikirkannya caranya ... agar... baik untuk semua ".
" Sampai kapan Delia? .... Sampai kapan kau akan bersabar dan diam... Apa ada yang masih kau sembunyikan dariku? ".
Ardelia terdiam, dalam hatinya pun berkecamuk sejuta tanya yang memojokkan dirinya sendiri. Benarkah itu Delia ? , bukannya kau masih perlu waktu dan senjata yang lebih dahsyat lagi untuk membalas dendam ?. Tapi saat ini musuh bergerak lebih cepat, manuver apa yang akan kau lakukan?. Tidak kau terima saja bantuan dari sekutumu ini ???.
" Masih ada satu nama lagi yang harus kita seret .... Untuk mempertanggungjawabkan semua kebusukan mereka ". Ardelia menggeram, seolah melampiaskan dendamnya pada alam.
" Kau masih menunggu kemunculan Gery ? ".
" Pasti .... Pasti dia akan muncul... Seandainya dia tidak mau muncul, dua kawan se_nerakanya itu tentu tidak akan tinggal diam. Pasti akan menyeretnya ... ".
" Ya..... ". Pada akhirnya Raka pun mengangguk, menyetujui. " Ingat !!... Jangan pernah meninggalkan ku untuk rencana balas dendam ini. Kita punya rasa sakit yang sama... Kau harus berjanji.... ".
Lihatlah, kini gadis manis itu tengah berjalan kearahnya sambil menenteng bungkusan. Lalu dengan satu isyarat mengajaknya segera bangun dan beranjak dari tempat itu. Bergegas memasuki mobil dan kemudian meluncur menuju stasiun kereta.
__ADS_1
" Setelah ini langsung pulang saja ya, tidak usah menungguku sampai naik kereta ".
" Seyakin itu aku akan mengantarmu dan menungguimu sampai naik kereta ? ".
" He... he.. he... jangan rusak suasana romantisnya dong nona ... Kau ini !!!!. Sekali saja, tunjukkan jika kau punya rasa sayang padaku. Setidaknya ini saat yang tepat ... he.. he...he.. "
Entah apa yang dipikirkan oleh pria disebelahnya ini. Ardelia sejak dulu telah membuat pembatas dengan hatinya jika berkaitan dengan pria bernama Raka. Ratusan kali ia selalu meyakinkan dirinya sendiri untuk tahu diri, untuk memahami ... bahwa hubungan mereka selama ini hanya teman satu tujuan dendam, kawan sepenanggungan luka, pria dan wanita dengan obsesi yang sama, pribadi dengan kilasan kelam masa lalu. Mereka bersama untuk saling menopang, saling mendukung dan saling melindungi. Tidak pernah menjadi sebuah hubungan yang lebih intim dengan mengikutsertakan perasaan tulus.
" Apa hati mu tidak bergetar sedikit pun melihat semua usaha ku ini ... untuk sekedar bertemu dan melihat mu ? ".
Ardelia tetep diam tak bergeming, kendati semua kata yang diucapkan Raka begitu memprovokasinya hatinya.
" Aku konyol .... ya!, memang. Tapi kau adalah hal terserius yang kepertahankan dan kuperjuangkan selama ini. Bahkan aku telah terang-terangan dengan semua perasaanku .... tapi kau tetap saja abai. Katakanlah !!! .... aku harus bagaimana ? .... agar .... kau mau menerima ketulusan ini ".
" Kita sudah sampai ". Tapi Ardelia seolah tak terpengaruh dengan semua kata-kata manis Raka. Ia setengah berteriak seperti mengomando pada pria disebelahnya ini untuk segera memasuki area parkir yang benderang.
Raka mengeraskan rahangnya, dengan gesit memutar kemudi dan membuat kendaraan itu berbelok, meluncur sempurna memasuki halaman parkir. Suasana malam yang benderang oleh lampu bercahaya putih neon, memperjelas rintik gerimis yang mulai turun perlahan. Sementara Raka masih dengan rahang yang mengeras ketika ia menatap Ardelia dengan tajam.
" Seandainya tidak ada peristiwa itu ... apakah kau bisa menanggapi semua yang aku katakan ini dengan serius ? ".
Terdengar seperti sebuah bentakan, apalagi Raka menanyakannya sambil memegang bahu Ardelia. Mencengkeram bahu gadis itu dan menghujamkan kilatan matanya dengan telak pada sepasang manik bening yang membalas dengan air tenang.
" Kau tau betul aku ... kau mengerti betul bagaimana sesungguhnya aku, tapi kapan kau akan berhenti abai padaku ?. Seharusnya .... kau yang paling mengerti, siapa sesungguhnya yang ada ... di ....sini ... ".
Raka menarik telapak tangannya Ardelia dan menekankan pada dada sebelah kirinya. Membiarkan gadis itu merasakan jantungnya yang berdetak.
" Peristiwa itu ... hanya awal yang buruk... tapi aku semakin jatuh cinta padamu ... setiap hari. Aku... aku.... kau tujuan hidupku ... Ardelia ".
Ia mendapati sepasang mata itu perlahan seperti tersaput halimun yang menyesatkan. Serupa kabut yang baru saja turun perlahan dari puncak gunung saat gerimis mulai bertandang. Sementara telapak tangan kanannya masih tertahan di dada kiri sang pria, merasakan gelanyar aneh yang mendera seiring detak sirama dari dada kiri dalam tekanannya. Ardelia seperti berdiri diambang batas senja dengan cakrawala. Ia tak mampu bergerak, karena jika ia melakukannya pasti akan terjatuh dalam lena.
" Peristiwa itu.... menyatakan kita... untuk menjadi lebih kuat. Bukan hati kita... ".
" Kenapa ? ", salak Raka dengan ekspresi wajah mengeras dan tatapan tajam yang baru kali ini dilihat Ardelia.
" .... ", tapi Ardelia terdiam dalam bisu. Tak mampu sedikit pun menjawab.
Dalam samar, Raka mampu melihat bibir itu bergetar. Sebersit rasa bersalah tiba-tiba menyusup perlahan kedalam sanubarinya.
" Sungguh .... aku mencintaimu Ardelia .... seutuhnya .... dirimu. Aku akan tetap menunggu mu ".
Dan ia pun merengkuh tubuh yang mulai bergetar itu. Ungkapan cinta dengan kesungguhan yang baru pertamakali ini dia sampaikan. Entah mengapa ada rasa haru dan kelegaan luar biasa yang menyelimuti hatinya. Tidak lagi memikirkan bagaimana reaksi atau jawaban dari gadis dalam dekapannya ini, Raka benar-benar telah sangat lega karena berhasil mengungkapkannya.
" Kau yang paling mengerti bagaimana rapuhnya aku, kau yang paling tahu bagaimana buruknya aku .... kau juga harusnya yang paling mengerti bagaimana aku mencintaimu ".
" Delia.... "
" I- iya..... "
" Jadilah istri ku ... kumohon ".
.............................
Dua orang yang berjaga di pos keamanan mengangguk hormat begitu melihat kehadirannya. Salah satunya bergegas membuka gerbang sehingga ia tidak perlu turun dari sepeda. Ketika ia memasuki halaman yang lumayan luas itu sebuah mobil keluar dari garasi.
" Cinta... ", sapa seorang wanita yang duduk disebelah kursi pengemudi.
" Tante sama Om mau kemana ? ".
" Kita mau ke Lembang ... ngadem di sana. Mau ikut ? ".
" Nggak tant... mau ketemu kak Namu .. ada ? ".
" Ada ... masuk aja ya ".
" Ya Tante ... Om... selamat bermalam Minggu ".
" Bye Cinta ".
Cinta tersenyum sambil membalas lambaian tangan Om dan Tante nya yang terlihat sangat bersemangat. Dua orang favoritnya sejak dulu, tentu saja selain anggota lima sekawan lainnya. Ia pun bergegas menyusuri kembali halaman itu dengan sepedanya.
" Hai non.... ", sapa itu sedikit mengejutkan.
Cinta mendongak keatas dan mendapati seraut wajah tampan yang sangat dikenalnya. Namu ada di balkon kamar, menatap kehadirannya.
" Haidar ada ? ".
" Belum pulang ... ada perlu dengannya? sudah janjian belum ? ".
" Tidak kau biarkan aku masuk dulu ? ".
" Ayo ... aku mau berenang ". Namu tertawa dan segera menghilang dari batas pandangan Cinta.
__ADS_1
Tapi tidak seperti informasi awal yang didengar dengan jelas oleh Cinta. Saat ia sudah sampai di rung tengah kediaman om dan Tante nya itu, nampak Namu justru sedang menunggunya berdiri di dekat tangga.
" Katanya mau berenang ? ".
" Bersama mu ? ayo... ", penuh semangat ajakan itu terdengar
" Ehm... tidak! ... aku ingin bicara sebentar dengan mu ". Tapi Cinta langsung menolaknya dengan dalih sempurna.
Namu mengernyitkan keningnya, ia mengerti arti jalinan jemari Cinta yang yang berkutat resah.
" Kita keluar ? ". Dan ajakan itu bersambut dengan anggukan Cinta.
Disinilah mereka saat ini, di tepi pantai menikmati senja yang mulai temaram. Mendengar deburan ombak yang ditingkahi riuhnya kicauan burung camar. Sementara di garis cakrawala sana, nampak bola besar berwarna oranye bersinar ... matahari yang mulai tergelincir perlahan.
Namu menyadari kegelisahan Cinta sejak keduanya masih berada di rumah tadi, hingga di dalam mobil disepanjang perjalanan. Tapi sedikitpun Namu tidak berani bertanya. Ia memilih menunggu gadis ini akan mendekat dan menceritakan semuanya.
" Kak.... aku takut ".
" Kenapa ? ".
" Kita kalah berpacu dengan waktu ".
" Maksudmu ? ".
" Kau pasti mengerti bagaimana keras kepalanya mama.... kau pasti sangat tahu ".
" Ya... sama seperti mu ...".
" Kak... aku serius ... ".
" Maaf ... ". Dan perlahan Namu menggeser berdirinya semakin merapat pada Cinta. Mengalungkan lengannya disepanjang bahu gadis itu. Lalu menariknya lembut dan mengecup perlahan rambut lebat yang harum itu.
" Ada apa ? ... katakanlah ....".
" Mama terang-terangan .... akan mengundang mas Alend dan keluarganya .... dengan dalih ... ".
" Kerjasama dua rumah sakit ? ", Namu menyergah cepat membuat Cinta terlihat sedikit terkejut.
" Kau sudah tahu rupanya ".
" Om Juna... sempat menyinggung permasalahan ini ... sepertinya beliau kurang setuju ".
" Iya... papa ... papa sedikit beradu argument dengan mamah ... menurut papa, kurang pantas dari pihak perempuan jika terlihat terlalu dominan ".
" Lalu ..... apa yang kau khawatirkan ? ". Tanya itu tersampaikan oleh Namu dengan mulus seperti mendaratnya sebuah kecupan lembut di pipi Cinta. Membuat gadis itu sedikit tersipu.
" Pagi tadi... masih ada perang dingin antara papa dan mama .... karena masalah ini ".
" Ada yang sudah kau katakan pada Om Juna...... tentang kita ? ".
Cinta merasakan hatinya berdesir, seolah Namu berhasil menyingkap tabir di hatinya. Bahkan kini sepasang mata kecoklatan itu menatapnya, serasa tengah menguliti hatinya.
" Aku hanya bilang sama papa .... aku... ada cinta yang kujaga ... dan ku tunggu ".
" Lalu ? ".
" Papa tidak berkata apapun ... ia hanya membelai rambut ku dan tersenyum ".
" Lantas ? ", cecar Namu lagi.
" Aku berkata .... hubungan cinta kami rumit, tapi kami saling mencintai ... dan papa ... berfikir ... aku mencintai pria yang sudah beristri ".
" Hah ?!!! ". Kali ini Namu yang terperangah.
" Aku .... dinasehati panjang-pendek ... dan aku belum berhasil menjelaskannya ".
" Mungkin .... ini sudah saatnya kita harus segera berterus terang. Apa kau sudah siap ? ".
" Dengan kakak bersama ku .... aku tidak pernah tidak siap .... ".
Namu tersenyum, lalu menjalankan jemarinya pada jemari gadis di sebelahnya. Lalu menatap lurus pada cakrawala yang semakin jingga.
Kita .... hanya harus saling berpegangan tangan, satu sama lain.
Tak melepaskan, dengan keyakinan atas dasar perasaan tulus yang kita miliki.
Ada saat engkau tersendat karena rasa takutmu.
Demikian juga dengan ku, kadang aku ragu dengan keberanian ku.
Namun genggaman tangan kita yang menghangat.
__ADS_1
Meyakinkan kembali ....
Untuk kita tetap melangkah bersama.