PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Belantara Rasa (7)


__ADS_3

Suara dengingan halus dari alat pengubah energi listrik menjadi energi gerak yang menghasilkan angin hangat itu rupanya membuat Cinta tidak mengetahui jika Namu telah membuka pintu. Ia masih sibuk mengaplikasikan hawa hangat itu pada bagian dada blouse-nya. Mengusahakan secepat mungkin agar air yang membasahi dan membuat rasa lengket itu segera menguap. Ia tersenyum saat mendapati blouse warna Nila itu sudah tidak lagi transparan dan mengespose lekuk 'bahaya' di dadanya.


" Sudah selesai ? ". Sebenarnya suara itu begitu di kenal, sudah seperti bayangan dari dirinya. Tapi kemunculan yang tidak terprediksi itu, membuat Cinta sangat terkejut.


" Aah ... ", pekiknya.


Tentu saja Cinta terlonjak, hingga nyaris menjatuhkan hairdryer yang dipegangnya. Semua Karena Namu yang dengan sengaja berbicara tepat disebelah telinga gadis itu. Pastinya dengan maksud menggoda, dan hal itu berhasil. Sukses besar bang bro, mangsa anda kini kelabakan.


" Widiih ... segitu kagetnya ", kata Namu dengan cuek tanpa mengindahkan Cinta yang mengurut dadanya sendiri untuk mengurangi efek kejut.


Baru saja terbebas dari keusilan pria berkulit putih bersih itu, ternyata penderitaan jantung Cinta tidak cukup. Namu yang hanya mengenakan handuk terlilit manis di pinggang, melangkah dengan santai ke depan Cinta. Tentu saja bermaksud untuk mengambil pakaian di almari besar itu. Tapi justru membuat Cinta semakin kalut dan salah tingkah.


' Dasar!! ... enak saja kau berkeliaran hanya menggunakan handuk seperti itu. Mentang-mentang seksi. Seksi ? .... s*hit ... kau sekarang ketularan mesum Cinta '. Gadis itu memalingkan wajah, menghindari pemandangan indah menggoda yang membuat aliran darahnya tidak stabil dan menggelegak. Tentu saja masih sambil memaki dirinya sendiri, dalam hati.


Namu yang tahu pasti bagaimana merona wajah gadis tercintanya, tersenyum penuh kemenangan. Ia malah dengan sengaja menahan tangan Cinta saat gadis itu akan berjalan menjauh, menghindar.


" Lepaskan !! aku mau keluar...", salak Cinta walaupun masih dengan wajah merona.


" Bukannya ada yang penting ? kenapa tidak menunggu ... atau kita bisa bicara di sini ".


Tentu saja Cinta tahu hal yang baru saja dikatakan Namu adalah penawaran versi monopoli, yang hanya menguntungkan satu pihak. Sayangnya pihak beruntung ganda itu bukanlah dirinya. Tentu saja ia akan segera menolak, tapi .....


" Sekalian training sebagai istri ". Tiba-tiba saja kalimat itu terdengar menggelitik.


Cinta memberanikan diri menoleh perlahan, menatap dengan sedikit menengadah, mengabaikan hasutan syetan yang melambai di bawah sana. Dengan telapak tangan yang sedikit gemetar, berusaha menjauhkan lengan yang mulai menarik dirinya. Tapi ternyata ia meleset sedikit, justru menyentuh dada dengan otot liat dan terasa lembab basah. Membuat kedua pipinya semakin memerah.


Namu menyadari benar bagaimana posisi nya yang kini berada di atas angin. Dengan sigap ia justru menarik pinggang gadis itu. Membawanya lebih dekat, merapat pada tubuhnya.


" Ja-jangan macam-macam !!! ", bentak Cinta walaupun dengan suara sedikit gemetar.


" Aku cuma mau satu macam kok ", dan Namu kembali menyeringai penuh kemenangan. Semakin berniat menggoda, tak ragu-ragu lagi mendekatkan wajahnya pada rona pipi gadis ini.


Cinta masih terus berusaha menahan jarak diantara mereka. Bahkan kali ini tangan kanan yang memegang hairdryer pun sudah ikut berpartisipasi aktif, menahan serangan mendadak dari pria tercinta yang mulai .... Ehm! kebablasan.


" Aku bilangin papah ", ancam Cinta dengan sepasang bola mata yang membulat.


" Mau bilang apa ? ", Namu justru semakin merangsek dengan gaya menggoda. " Bilang kalau .... aku memaksa mencium gadis yang menerobos masuk ke kamar ku sendiri?. Paling kamu yang disalahkan juga ".


" Ish !!! ... itu juga karena ulahmu. Kau bikin bajuku basah ... 'kan jadi transparant ", Cinta mengucapkannya dengan kesal dan masih tetap berusaha sekuat tenaga mendorong Namu. " Nanti kamu ...... ah mesum... ".


" Lah ?! ", Namu kebingungan sesaat. " Hua ...ha.. ha.. ha... ", tapi kemudian meledaklah tawanya. " Bener juga ya .... ".


Pria itu langsung memahami maksud Cinta. Antara geli, gemas dan juga .... ah, tentu saja yang satu ini adalah perasaan pria dewasa manakala berdekatan dengan wanita pujaannya. Tapi saat ini Namu tak berniat melepaskan Cinta begitu saja, tentu saja sebelum mendapatkan secuil keinginannya. Urusan kantor yang menguras pikiran dan tenaga, membuatnya tidak mempunyai waktu berdua dengan gadis cantik tercinta ini.... padahal mereka satu kantor, satu gedung... haaaaah.


Hanya melihat kelebat tubuhnya yang semampai, sekilas melirik wajah cantiknya. Saat berpapasan... dia bahkan hanya bisa sesaat mencuri jeda untuk bisa menikmati keharuman yang selalu membuat jantungnya berdegup dengan lebih bersemangat lagi. Karena saat itu mereka berdua saling tergesa, atau sedang bersama tamu penting. Lalu saat ia mendapati apa yang dirindukannya hadir dihadapan, dengan lekuk menggoda ..... bagaimana lagi seorang pria yang sedang jatuh cinta ini akan bisa menahan diri lagi.


" One Kiss ... please , I Miss you ... ".


Namu mengucapkannya dengan sepasang bola mata yang berkabut. Tapi belum sempat berada argument, hembusan nafas yang panas itu telah membelai daerah telinga dan pipinya. Yang kemudian membuat kedua otot tangan yang tadi mengeras karena menahan dada pemuda itu, tiba-tiba saja seperti kehilangan kekuatannya. Walaupun tidak terkulai, tapi perubahan dari menahan menjadi bertumpu itu begitu cepat. Secepat Namu yang menyatukan diri dengan kelembutan luar biasa.


" Ssshhh.. ". Suara desah itu, entah siapa yang lebih dulu mengeluarkannya. Mungkin keduanya bersamaan mendesah.


Jelas Cinta sudah tidak bisa lagi menahan kedua lengannya untuk tidak terkulai. Tapi ia tak berani mengalungkan lengannya pada kedua bahu Namu, seperti biasa saat mereka tengah saling mencecap penuh hasrat seperti ini. Tentu karena saja masih ada sedikit akal sehat yang membisikinya untuk tidak melakukan hal itu.


Karena hal itu akan sangat berbahaya, double impact-nya. Kulit dada telanjang Namu begitu harum oleh segarnya wangi sabun, lembab namun hangat dan keras tapi sangat nyaman. Jemari dari kedua lengan yang terkulai itu mulai mengepal, sekuat tenaga menahan agar tidak terbuai lebih dalam.

__ADS_1


Tapi lihatlah sang pencinta yang sudah terbakar oleh gelora ini. Namu tidak pernah kehabisan akal, walaupun mungkin hanya sekedar mengikuti naluri dasarnya sebagai pria. Tapi ia sudah berhasil membuat Cinta tak menolak atau memprotes. Ketika ia hanya memberikan jeda kurang dari lima detik untuk sekedar gadis itu mengambil nafas. Lalu menyatukan kembali, kali ini dengan lebih berani. Karena dengan sadar.... ia telah menekan dan menahan tubuh belakang Cinta, untuk semakin erat menempel padanya. Toh ... sudah tidak ada perlawanan lagi dari gadis ini.


Semula ia hanya berpusat pada belaian di sekitar leher dan pundak gadis itu. Tapi saat suara kecipak hasrat itu semakin merajai heningnya kamar itu, kedua telapak tangan Namu telah merayap turun. Membelai seluruh punggung, dan dengan gerakan erotis semakin menuruni lekuk sempurna itu. Hingga menemukan dua buah bongkahan yang sangat menyenangkan untuk digenggam. Bahkan tanpa disadari, ia telah me_remasnya perlahan-lahan.


Cinta yang nyaris sepenuhnya terhanyut dan tenggelam, mendadak terbelalak karena terkejut. Tentu saja saat kedua telapak tangan yang besar dan panas itu melakukan sesuatu pada bokongnya. Ehm..... walaupun rasanya sedikit menyenangkan. Tapi sungguh ia sangat tidak menyangka, jika hal seperti ini ternyata juga bisa dilakukan oleh seorang Baskara Namu Perkasa yang kalem, pendiam dan sedikit dingin itu. Bahkan pria ini mengulang kembali gerakan itu.


Lalu dengan sekali sentakan menggunakan kedua sikunya, Cinta pun berhasil melepaskan diri. Walaupun tidak sepenuhnya terlepas, kedua telapak tangan Namu masih berpegang erat padanya.


" Auw ... ". Namu sedikit mengaduh. " Sorry... ", pria itu nyengir tapi masih tetap menggenggamkan tangannya di sana. " Again .... once again .. ".


Saat Namu dengan tidak tahu diri bersikeras untuk menyatukan kembali. Tiba-tiba sebuah terpaan angin yang cukup panas menghantam wajahnya. ' Hwiiiing'.... diiringi suara berdesing yang keluar dari alat pengering rambut itu.


Cinta telah dengan tepat sasaran dan tepat waktu menggunakan senjata tak terduga di tangannya. Membuat Namu yang tak menyangka sama sekali, begitu terkejut lalu mundur selangkah dengan refleks.


" Thats was two..... enough !!! ".


" Hwiiing ... ", dan alat itupun kembali berdesing menembakkan udara panas, menghantam telak wajah Namu dan membuat rambutnya yang halus lurus itu sedikit terbang.


Di detik berikutnya, meledaklah tawu Namu. Setelah sesaat tadi ia sempat terlongo karena kaget. Sementara Cinta dengan bibir merah merekah nya yang nampak lembab, tentu karena ulahnya tadi, sudah kembali dengan ekspresi merengut menggemaskan.


" Ini ! ", Cinta menyerahkan hairdryer dengan gerakan sedikit kasar. " Ku kembalikan .... keringkan dulu sifat mesum mu yang luber-luber itu ".


" Hei .... tunggu .... ", Namu yang masih tertawa-tawa berseru saat Cinta berbalik dengan cepat dan menuju arah pintu. " Aku mau pakai baju nih .... tidak mau membantu ku ".


Tapi ..... brak !!!, pintu kamar itupun ditutup dengan keras. Dan tubuh Cinta sudah tidak tampak lagi, karena terhalang oleh selembar kayu yang tebal itu. Tapi kemudian terdengar suara melengking nya dari luar kamar


" Cepetan !!.... aku tunggu di bawah ".


" Okay .... ", masih dengan sisa tawa Namu pun ikut berseru


' Ya Tuhan .... satu bulan lagi aku akan jadi apa nanti ...'.


Bahkan ia bergidik ngeri membayangkan hal-hal ... ehm! yang iya-iya dan tidak-tidak itu. Setelah acara sedemikian tanpa seremonial apapun, hanya Tante, Om dan juga adik sepupunya, Haidar yang datang mengantarkan Namu untuk berbicara secara resmi pada kedua orangtuanya. Meminta dengan baik-baik untuk bisa menjadikannya sebagai menantu. Cie..... sudah dilamar nih. Sejak saat itu, ia semakin kesulitan mengendalikan perilaku pria tercinta itu. The King of 'nyosor' ...... haaissh!!!.


Jika bukan karena telpon pagi-pagi buta dari adiknya, Raka dan juga adik sepupunya, Haidar, ia tidak akan terperosok dalam situasi berbahaya seperti tadi. Situasi yang sebenarnya belakangan ini sering dinasehatkan oleh ibu dan juga tantenya ... ehm' calon ibu mertuanya ding'.


" Pria-pria keluarga Arsenio itu.... sebenarnya sangat posesif. Namu, walaupun dia tidak ada hubungan darah sama sekali .... tapi dia seorang Arsenio sejati. Lihat saja semua gayanya... jika kulitnya sedikit hitam, pasti orang tidak akan mengernyitkan kening dan bertanya-tanya .... putra pak Mandala ?... saking miripnya ". Kata Tante Orlin sore itu, saat acara sederhana itu berlangsung. Untung saja pas hanya ada mereka bertiga.


" Hati-hati juga .... tipe kalem kayak Namu itu menghanyutkan. Pengalaman pribadi nih.... kalau tidak segera menikah .... kau akan kerepotan sendiri menjaga diri ".


" Waah .... seratus persen bisa dipertanggung jawabkan tuh ... true story' ya mba Hana ".


" Iya lah ", mama nya membenarkan. Sementara ia sendiri tertunduk dan tersipu malu. " Untung.... dulu papah mu nggak menunda lama ... nggak tahu deh kalo' harus nunggu dua-tiga bulan lagi ".


" Hi.. hi.. hi... bang Juna padahal kelihatannya alim ya mba ".


" Halah !!!... pria sih sama saja dimana-mana. Namu juga kelihatannya alim dan kalem..... tapi .... heiii.... wajah mu semerah itu. Sudah berani juga ya si Namu itu ".


Dan saat itu bully serta nasehat begitu berbatas tipis, hingga semakin membuatnya merona malu. Padahal dua wanita ini adalah ibu dan tantenya, tapi justru karena hal inilah mereka bisa menebak dengan tepat hampir semua hal-hal romantis yang telah terjadi antara dirinya dan Namu.


" Masih tersipu-sipu begitu .... ".


" Ah ", Cinta terpekik kaget.


" Masih mau lagi ? ".

__ADS_1


' Brugh !! ', dan bantal sofa itu mendarat tepat di muka Namu yang baru datang. Langsung bersambut dengan tawa dari pemuda yang mengenakan t-shirt hijau lumut itu.


" Haidar menelpon mu berkali-kali, Raka juga. Ternyata dari semalam kau sudah me-non aktif kan HP mu ..... ada apa? Jangan bohong !!!! ".


" Hei .... belum-belum kau sudah menuduhku bohong ", suara Namu berubah menjadi sedikit meninggi.


" Aku tidak menuduh ".


" Lah itu tadi ...".


Lalu keduanya saling diam beberapa saat. Tidak berbincang intens hampir satu minggu, ternyata bisa sedikit membuat kedua orang yang sudah dua puluh tahun lebih saling mengenal itu, berubah menjadi sedikit sensitif.


" Maaf "


" Maaf ".


Tapi di detik berikutnya, keduanya sudah saling menatap dan tersenyum. Kemudian Namu menggeser duduknya, mendekat pada Cinta. Membuat gadis itu bersandar pada lengan yang dipanjangkannya pada sandaran sofa. Lalu mengecup sekilas rambut lebat gadis itu.


" Kau pasti tahu 'kan ..... ada yang mencoba bermain-main dengan perusahaan kita ?. Aku harus mengikuti permainannya untuk mendapatkan bukti dulu ".


" Ya ... tapi, kau bisa berbagi bebannya dengan ku. Ehm..... walaupun mungkin.... aku hanya bisa sedikit memijit kepala mu saja ".


Namu terkekeh, hatinya menghangat oleh ucapan sederhana itu. Membuatnya tak perlu menahan diri lagi untuk kembali mengecup rambut seharum mawar itu.


" Bukan'kah ..... besok kita harus berbagi apapun itu?. Susah dan juga sedih ", kata Cinta lagi .


" Tapi aku tidak mau kau juga ikut menanggung yang jadi tanggung jawab ku ".


" Kata mama ku .... walaupun seorang istri tidak bisa membantu masalah pekerjaan suaminya. Jika ia sedikit banyak mengetahui ..... maka doa seorang istri yang tepat dan tulus.... itu akan menjadi kekuatan besar untuk suaminya ".


Saat engkau berada di tengah terik yang mengeringkan kerongkongan mu, dan panas yang menyengat itu juga membuat darah mu seperti mendidih sehingga engkau tidak bisa berfikir jernih. Saat itu datanglah sebentuk kelembutan yang teduh dengan secawan besar embun penyejuk penghilang dahaga. Seperti inilah yang dirasakan oleh Namu. Mendengar kata-kata dari wanita yang sangat dicintainya. Terasa seperti kembali di tengah taman rindang dengan kolam yang mengalirkan air sejuk.


" Aku hanya sekali berbohong padamu .... ".


" Oh ya ?.... masa kapan itu ? ", kata Cinta sambil mencibir tak percaya.


" Saat dulu, ketika kita masih amat bodoh... berbohong .... bahwa aku baik-baik saja tanpamu ".


Cinta tersenyum, manis sekali bukan kata-kata itu. Dan ia pun pernah melakukan hal yang sama. Membohongi diri sendiri di siang hari, tapi menangis karena rindu di malam hari.


.............


Saat terkelam dalam hidup ku


Adalah ketika melarikan diri dari indahmu


Saat tersuram dalam langkahku


Adalah ketika mencoba berpaling darimu


Dan saat-saat seperti itu ....


Biarlah kini jadi bagian terindah cerita kita


Karena aku tahu, kau takkan ku lepas lagi

__ADS_1


__ADS_2