
Haidar mulai merasakan kepalanya berdenyut dan sakit pada tenggorokannya sesaat setelah transit di Dubai. Rupanya kerja ugal-ugalan yang dilakukan di dua puluh empat jam lalu mulai berimbas pada kondisi fisik yang tak bisa didustai. Demi bisa mengejar tambahan waktu dua puluh empat jam di Swiss, ia benar-benar telah memforsir tenaganya untuk bisa menyelesaikan seluruh persiapan lawatan bisnisnya kali ini. Walaupun sebenarnya semua itu demi sebuah pertemuan dengan gadis yang telah membuat hidupnya lebih berwarna, yang telah dirancangnya sedemikian rupa. Tapi rasa sakit di tenggorokan dan perubahan suara serta demam yang mulai menjalar, rupanya cukup membuat pria gagah itu sedikit limbung. Padahal masih ada tujuh jam lagi dari total tiga belas jam perjalanan yang harus ditempuhnya.
Haidar memanfaatkan waktu tiga jam transitnya ini dengan sebaik mungkin. Mengunjungi mini market yang ada tak jauh dari lounge tempatnya kini menunggu untuk melanjutakan perjalanan. Mendapatkan obat untuk meredakan gejala ringan sakitnya dan juga multivitamin untuk menguatkan imun tubuh biar bisa lebih cepat menaklukan selesma atau cpmmon cold yang lebih dikenal dengan batuk pileg atau flu ringan sih sebenarnya. Kemudian menikmati sup asparagus panas serta beberapa potong garlic bread. Terasa sedikit pahit, namun ia tak memperdulikannya, tetap ia telan dengan cepat. Demi bisa sehat kembali dan segera melayang menembus awan untuk segera bertemu si cantik itu.
Hingga berjam-jam kemudian , pada akhirnya ........
" Lah, kenapa nggak bilang dari tadi-tadi sih bang kalau datangnya siang ini juga ". Suara Keanu terdengar penuh gerutu karena ia terganggu istirahat siangnya. " Elo dimana sekarang ? ".
" Depan pintu kamar 'lo. Buruan bukain ".
Melesat cepat Keanu menuju pintu, dan mendapati Haidar dengan koper nya yang lumayan besar, masih dengan memegang telepon genggam seperti dirinya. Pria gagah menjulang itu nampak sedikit kuyu dengan hidung yang memerah. Suara sedikit sengau dan serak menandakan si boss ini sedang sakit tenggorokan.
" Nggak mau rugi banget kayaknya nih ". Keanu mulai tertawa-tawa melihat hidung Haidar kembang kempis menahan pileg yang mulai aktif menyerang. " Sampai flu kayak gitu ... hi..hi..hi.. ".
" Halaaah... kayak yang nggak pernah dimabuk cinta. Belum saatnya aja kalee baaaang ... ". Haidar langsung menghempaskan tubuhnya di kasur empuk begitu masuk ke dalam kamar hotel. " Si cantik di kamar sebelah ?, bareng calon anak - istri lo'?".
" Iya ... aamiiiin .... ". Jawab Keanu efektif. Tapi ia lantas teringat sesuatu. " Tapi si cantikmu itu sekarang baru jalan-jalan, sekalian cari oleh-oleh buat orang-orang di Indo ".
" Oh, kemana mereka katanya ? ".
" Sendiri aja. Terjadi drama menyedihkan tadi, gegara obyek transisinya Leil ketinggalan. Setelah selesai nangisnya, Leil tidur Sellam juga ".
" Ya ampuuun, kemana Hanin?. Kok nggak kamu kawal sih ?, kalau kenapa-kenapa gimana ?, mau tanggung jawab lo' ". Haidar tersentak bangkkit dan mulai nyerocos mengalahkan pidatonya seorang ibu ketika sedang khawatir.
" Hwiidiiiih .... yang over wory orang cuma disekitar sini, cari toko coklat dan toko boneka. Paling juga udah pulang, udah sejam lebih ".
" Yakin lo' ? ".
" Nggak ".
' Burgh!! ', dan sebuah bantal pun melayang tepat menimpa Keanu.
" Buruan tanyain ke Sellma ! ". Haidar yang semula sudah mulai membaringkan badannya, kini kembali duduk tegak dengan sepasang mata waspada yang juga mengguratkan ke khawatiran.
" Nggak diangkat .. ", Keanu menunjukan layar telepon pintarnya pada Haidar. " Lo' buruan samperin ke kamarnya aja, di sebelah ini... ".
" Pala' lo peyang .... ya elo lah. Iya kalau yang bukain Hanin, kalau Sellma gimana ?. Ntar dia pikir aku naksir dia lagi .... atau malah dia yang naksir duluan ke gue ".
'Brugh !!', dan bantal tak bersalah itupun kembali melayang walaupun kali ini tidak bisa mendarat tepat di wajah Haidar seperti maksud hati Keanu.
" Ayo ikut ... ", pemuda itu bangkit dan melangkah cepat ke luar dari kamar dengan Haidar yang mengekor tentunya. " Orang baru datang dari jauuuh ... aturan kan mandi dulu, dandan dulu biar gantengan dikit bang .. ".
" Okay ... gue mandi. Lo' cari info si cantik, tapi ingat ... rahasiakan kedatanganku yang lebih cepat ini. Mau ku bikin klepek-klepek dia ".
__ADS_1
Tapi rencana tinggal rencana, Haidar justru mendapati Hanin yang tak bergeming sedikitpun menatapnya. Alih-alih mendapat sambutan hangat dengan cara si cantik itu melemparkan diri ke pelukannya, ia malah mendapatkan omelan kecil. Nasib ya mas bro ... sabaaaar.
" Harusnya tidak memforsir diri seperti itu, jadi sakit'kan. Lagian, ngapain pake ikut nyusul kemari ?. Harusnya istirahat saja dulu di kamar. Bukan bang Key 'kan yang minta mas nyari aku ? ".
Haidar mengangguk perlahan, sambil kembali menyesap nikmatnya coklat panas. Sesaat ia terdiam begitu juga dengan Hanin Hanania yang duduk tepat disampingnya. Entah siapa yang memulai, perlahan keduanya saling memalingkan muka untuk kemudian bertemu pada satu pandangan yang sama.
Sesaat terkunci oleh tatapan masing-masing, tapi Hanin memilih untuk menunduk ketika Haidar mengulas senyuman untuknya.
" Aku rindu .... ", kata pemuda gagah itu lirih tapicukup jelas dan berdentam-dentam menghantam lubuk perasaan Hanin Hanania.
" Maaf aku mengomeli mas tadi. Aku ...... ", dan Hanin menjeda kalimatnya cukup lama. " ....khawatir ".
Kau pasti tahu apa yang dirasakan si mas Haidar ?. Ia seperti species di laboratorium yang mendapatkan suntikan
booster energi serta zat aktif yang membuatnya seolah mampu mengangkasa. Ia menjelma menjadi pria yang paling bahagia. Ternyata bukan cokelat panas yang mampu melelehkan hatinya, tapi cukup satu tutur kata dari si cantik yang kini menunduk dalam menyembunyikan rona malu di wajah.
" Nania,..... ", dan Haidar pun memberanikan diri merapat, mendekat dan perlahan mengangkat wajah Hanin Hanania nya untuk kembali segaris pandang dengannya. " Terimakasih ... ". Kemudian menangkup pipi anggrek bulannya yang putih lembut, berharap mampu menyampaikan rasa sayang yang mendalam melalui sentuhan.
Bagi Hanin, dari awal ia mendengar suara si pria ini, sel-sel di hatinya sudah mulai berlompatan penuh semangat . Walaupun suara berat yang khas itu sedikit berubah, tapi ia tahu benar jika itu dia, si mas gagah yang menjulang dengan tatapan hangat dan senyuman menawan yang selalu memicu debaran tak karuan. Hanin hanya butuh memastikan saja, jika yang di hadapannya ini adalah nyata, bukan bayangan semu karena ia terlalu rindu. Dia hanya takut keliru dan berakibat malu, kalau-kalau sampai ia berhalusinasi saja. Bukankan si mas gagah ini baru besok siang datang dan baru keesokan harinya akan menghabiskan dua puluh empat jam bersamanya seperti kesepakatan yang telah direncanakan.
Tapi kemudian yang nampak dia sudah hadir lebih cepat, dengan hidung kemerahan karena pileg. Sepasang bola matanya tampak memancar redup dan wajah itu terlihat lesu. Walaupun semua itu segera tersapu oleh senyuman menawan yang dirindukannya. Lalu genggaman tangan itu, ah ... ini bukan hangat, tapi terasa panas, pasti dia demam. Lalu bagaimana mungkin Hanin tidak menjadi khawatir dan juga kesal. Pasti si mas gagah ini begitu memaksakan diri, kebut-kebuatan menyelesaikan pekerjaan, tak menghiraukan waktu makan dan juga istirahat.
Jadi kesal ya Hanin ?. Tapi sekarang, dia sedang menatapmu begitu lembut. Apa kau masih kesal Hanin ? Bukankah garis rahang persegi yang begitu tegas ini yang selalu kau ingat pertama kali saat mengeja namanya?, Lalu barisan gigi putih yang berjajar rapi itu, kau juga sangat menyukainya juga ' kan ?, apalagi saat ia tertawa. Terlalu sempurna, terlalu tampan, terlalu mempesona... begitu bukan ?.
" Tapi mas masih demam 'kan ". Hanin awalnay bermaksud menepis perlahan kedua telapak tangan yang tengah menangkup pipinya itu, tapi entah kenapa ia justru menahannya seolah memberikan kesempatan pada seluruh pori-pori di pipinya untuk lebih menyesap panas telapak tangan Haidar.
" Nania ku ... ", gumam Haidar tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Mendekatkan wajahnya perlahan dan merasakan hembusan hangat nafas Hanin Hanania yang mulai membelai wajahnya.
" Aku tidak mau tertular ". Tiba-tiba saja kedua telapak tangan Hanin bergerak cepat menahan laju wajah Haidar yang mendekat. Membuat jemari yang ramping itu begitu leluasa merasakan bekas cukuran yang mengitari area dagu dan tepi rahang Haidar. tapi justru dirinya sendirilah yang tersipu.
" Flu cinta itu akan sembuh jika sudah menularkan pada kekasihnya ". Sahut Haidar sambil tertawa.
" Gombal !! ".
" Mau bukti ? ". Tanpa menunggu jawaban pesetujuan dari gadis cantik itu, Haidar menurunkan kebua telapak tangannya. Dari pipi yang lembut melewati tulang selangka dan berakhir pada pundak ramping itu, lalu menariknya perlahan. Tapi kemudian ia merasakan tahan telapak tangan si cantik ini terasa menguat menghalau gerakan wajahnya.
Haidar terkekeh manakala raut wajah jelita di hadapannya itu berubah panik. Pasti karena manuver yang dilakukannya. Ya, gadis ini selalu panik dan malu-malu saat ia akan menciumnya. Tunggu !!!!... sepertinya baru satu kali saja mereka berciuman. Ah Haidar tidak ambil pusing dengan kusut ingatannya tentang berapakali moment romantis itu sudah terjadi. Yang terpenting sekarang, ia bisa menggoda si cantik ini dengan tetap sedikit mekasa mendekat.
" Dokter sableng ... ", jerit Hanin tertahan karena tidak mau jadi pusat perhatian.
Tapi Haidar malah terkekeh-kekeh bahagia menikmati kemenangannya. Ia tetap memaksa, tapi tidak lagi berusaha mendaratkan ciuman di wajah jelita itu. Ia mendekat seraya menarik pinggang Nania nya, lalu membenamkan wajah yang sangat dirindukannya itu tersembunyi nyaman dalam rengkuhan.
" Kau tahu, aku merindukan semua tentangmu ", bisiknya kemudian. Sementara itu, Hanin mulai tenang dalam rengkuhan hangatnya, hingga wangi rambut gadis itu mulai bisa tercium oleh hidung Haidar yang masih agak mapet, samar tapi pasti.
__ADS_1
Sementara itu Hanin yang sudah tiba lagi mengendalikan pikirannya, sudah terdiam pasrah menikmati kehangatan dan keharuman aroma kayu-kayuan yang lembut dan maskulin dari bidangnya dada Haidar. Ia menyembunyikan wajahnya, berharap waktu berhenti saja dan ia tak terlihat oleh orang-orang lalu-lalang yang mungkin saja kini tengah menatap mereka.
" Mau lebih lama menemaniku di sini ?, atau ikut saja dengan ku ya, kita keliling Eropa ... walaupun nggak seluruh Eropa sih ... ".
" Jangan coba-coba merayu !!! ". Hanin menyalak cepat sambil menancapkan kekuatan ujung ibu jari dan telunjuknya di pinggang Haidar. Menghadiagi pemuda itu sebuah cubitan.
" Aduuuuh .... ", tapi Haidar tergelak-gelak kemudian sebelum akhirnya ia mendaratakan kecupan panjang di ujung kepala yang berambut hitam dan menguarkan aroma harum apple segar itu.
" Dapat salam kangen dari mamah, calon mertuamu ". Kata Haidar lagi tanpa ada maksud sedikitpun melepaskan pelukannya dari Hanin.
" Mas bilang-bilang ? ", Hanin mendorong tubuh tegap yang masih memeluknya. " Ih ... aku kan jadi malu banget ini. Mas gitu sih, payah ".
" Hei .... doa restu dari seorang bunda itu yang paling penting. Bagaimana mungkin aku nggak cerita sama beliau. Dan kau tahu ?, mamah nggak sabar buat ketemu kamu ".
" Hah ?! ", Hanin terlongo tak percaya.
" Nggak percaya nih, aku telpon ya ".
" Eits ..nggak!, nggak usah dulu. Malu ah .. mas ".
Dan Haidar tergelak-gelak melihat kepanikan Hanin. Ia pun lalu memasukan kembali telepon genggamnya ke saku mantel. Lalu duduk bersandar dengan nyaman, diikuti pula oleh Hanin yang perlahan menyandarkan kepala di pundaknya.
" Kita nikmati dua hari ke depan dengan bahagia ya. Sebagai permulaan ribuan hari berikutnya, ehm.... jutaan hari berikutnya ", bisik Haidar sambil kembali mengecup ujung kepala gadis cantik di sebelahnya.
" Pulang yuk, mungkin Leil sudah bangun dan sedang merengek lagi meminta Boby Ingo nya ", ajak Hanin seraya berdiri perlahan sambil mulai membereskan dua kantung bawaannya. " Dan nanti wafel ini keburu dingin ".
" Boby Ingo ? .... Oh ya yang jadi triger heboh tadi ya. Dapat ? ".
" Dapat dua, beda jenis sih tapi masih species burung. Nih ... ", Hanin mengangkat tas besar berwarna coklat dengan riang. " Semoga Leil suka. Yuk !! ".
Haidar menyambar cepat tas besar dan satu tas lagi yang tergeletak diatas bangku. Lalu mengedipkan sebelah matanya dan melemparkan sebuah senyum manis, seraya berbisik menggoda. " Lengan ku masih bisa kau peluk looh ... ".
Hanin membalas dengan tawa, tapi ia tidak keberatan sama sekali untuk bergelayut manja di lengan kekar yang menantinya itu. Sesaat menengadah, menatap mesra pria yang tak henti memayungi dengan sinar kemesraan yang terpancar dari mata kelamnya itu. Pria gagah yang hangat dan harum, perlahan ia tahu pasti jika seluruh sel tubuhnya telah terpapar betapa adiktifnya aroma wangi si gagah ini.
Berjalan bersama menembus senja yang mulai berganti petang, saling merapat untuk menghangatkan rasa yang berpendar nyaman. Jika ada yang bertanya bagamaina bahagia, lihatlah dua insan itu. Tak perlu saling berkata, hanya cukup merasakan saja. Bahkan langkah mereka pun seperti nyanyian hati yang bercerita tentang indah, dengan ritme selaras, walaupun tak sama namun begitu nyaman untuk keduanya. Mungkin frekwensi kedua jiwa itu telah selaras dan beresonansi dengan mesra menciptakan sebuah romansa.
Ah.... cinta....
********************** not THE END ********************
Aouthor Corner :
Terimaksih buat teaman-teman yang selalu setia mensuport, mendoakan, memberikan kritik dan saran yang luar biasa menguatkan. Jangan pernah lelah meminta pada othor ndablegh .. yang kadang suka menyublim ini. Komentar kalian .... adalah nyawa literasi ku.
__ADS_1
Semoga cinta dan doa dari teman-teman dear readers berbalas limpahan krbaikan dari Allah Tuhan YME.