PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
In Your Eyes I See The Missing Piece Of Peace (3)


__ADS_3

Pernah berfikir yang tidak-tidak tentang gadis yang sedang duduk dengan tidak tenang di hadapannya ini ?, tentu saja jawabannya tidak. Gadis ini terlalu manis dan terlihat sangat baik sangat sopan juga. Jadi hampir bisa dipastikan, semua kesalahan ini pasti karena putra bungsunya. Ya... Raka-nya yang sangat ia manjakan selama ini, tetapi ternyata hal itu adalah kesalahan besar. Raka yang sejak kecil memang selalu bertindak diluar pikiran banyak orang, ternyata salah menerima semua sikapnya yang lebih menyayangi bocah itu. Bukan apa-apa, ia hanya melihat dirinya kecil pada sosok putra satu-satunya ini. Sedangngkan putri sulungnya... yaaah, diadalah turunan sempurna dari suaminya yang sangat penuh kehati-hatian dan sangat penuh perhitungan pada setiap hal.


Gadis ini, yang memukau dengan mata kucingnya yang indah, yang sejak lama sudah dikenalnya sebagai teman baik Raka.... ternyata juga akhirnya menyerah dan bertekuk lutut pada putra bungsunya itu. Pasti karena pesona tampan Raka, ah ... bukankah wajah anak itu seperti ayahnya masa muda dulu. Wajah tampan penuh kelembutan sang Arjuna, yang mampu membuatnya menunggu belasan tahun. Bertahan menunggu kepastian akan terbalasnya rasa cinta yang rapi tersembunyi. Waktu itu ia hanya menggantungkan segalanya pada keyakinan pada Sang Maha Daya Cinta, berdoa dalam lirih dan sunyi. Serta hampir setiap saat berkubang dalam rasa gelisah.


Lalu gadis ini, Ardelia.... yang saat ini duduk di sebelahnya, ia genggam kedua tangannya. Bukankah ia tidak perlu merasaakn kegelisahan seperti dirinya dulu?. Hanya saya... gadis ini harus merasakan betapa kurang ajarnya seorang pemuda bernama Raka. Arghhh.... rasanya ingin segera menjitak kepala bocah itu.


" Dia pasti sehat-sehat ya ... kau terlihat segar dan ceria ". Kata Hana mencoba mencairkan suasana sambil tetap menggenggam kedua belah tangan Ardelia.


" Raka rutin menelpon mu 'kan ? ", tanya Hana lagi.


" Iya tante... tapi saat akan ujian terakhir kemari, dua hari absen ".


" Oh... begitu ya. Kau tidak mencoba menghubunginya dahulu ?. Bonding seorang ayah dengan anaknya itu harus sedari si baby di dalam kandungan. Selain untuk mood booster ibunya.... juga untuk mengeratkan hubungan perasaan ayah dan anak ".


Glek !...... terasa seperti sebongkah batu gunung ikut bersama ludah yang sengaja ia telan untuk membasahi kerongkongan. Ardelia benar-benar merasa dalam suasana yang sangat canggung dan sungkan, hatinya menjerit-jerit menyangkal. Tapi mulutnya tetap terbungkam, tidak mampu sama sekali untuk menyangkal.


Ini pasti adalah sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Raka, entah dengan maksud apa. Tapi salah satunya, pasti untuk dirinya. Ardelia jadi teringat kegilaan dan kenekatan yang beberapa minggu lalu sempat dilakukannya. Dengan sangat bodoh, membuka diri, menyuguhkan jiwa dan raga seutuhnya pada pria itu. Karena saat itu .... dia sedang sangat putus asa.  Seandainya saat itu, Raka benar-benar tak bisa menahan diri. Bisa jadi, saat ini dirinya juga sudah mengandung buah perbuatan itu.


" Tante Hana... ".


" Mulai sekarang, kau harus belajar memanggilku mama, seperti Raka, tapi... ibu juga boleh ", Hana menatap Ardelia dan kembali menghentikan deretan kata-kata yang tadi sudah bersiap meluncur ke luar dari bibir gadis itu.


" Iya... iya... Tante, tapi... ".


" Tidak usah terburu-buru ... biarkan mengalir saja. Oh ya Ardel, mumpung disini .... apa sebaiknya tidak memeriksakan kandungan sekarang saja ? ".


Dan Ardelia semakin menjadi pucat pasi. Sementara dari dalam hatinya, sesuatu seperti mendorong-dorong, memberontak keluar dengan keras. Tapi bibirnya benar-benar kelu. Semua hal itu tidak pernah luput sedikit pun dari pengamatan Hana. Wanita itu lantas tersenyum.


" Maafkan Raka ya.... sudah membuat  mu jadi menenggung hal  seperti ini. Kalian yang jadi menderita begini ya ". Dan tangan Hana pun membelai perut Ardelia perlahan, dengan penuh kelembutan.


Semua yang dilihatnya adalah warna ketulusan yang sangat indah, tapi membuat hati seperti terajam sembilu. Dia memang belum pernah menjadi seorang ibu, tapi wujud kasih sayang yang seperti ini, siapapun pasti bisa merasakannya, walaupun dengan mata terpejam. Tapi ini adalah buah dari sebuah kebohongan, dari sebuah kepura-puraan. Bagaiaman jika ... seandainya wanita ini mengetahui keadaan yang sebenarnya ?, apakah kasih sayang, ketulusan dan cinta yang seperti ini masih bisa dirasakannya ?.


Ardelia merasakan seperti menelan bongkahan batu gunung, membuatnya tercekik. Menghalangi jalan nafasnya, sungguh menyiksa.


" Seharusnya Raka tidak perlu memaksaan hal itu padamu ... akau tahu pasti dia memaksamu, membuat tipu muslihat untukmu. Anak itu... ", terlihat nada geram dalam kalimat penghakiman yang diucapkan oleh Hana. " Aku... sudah sangat meyukaimu dari dulu.... dulu... sejak awal melihatmu yang manis, imut dan sangat kalem. Tapi ardelia yang seperti inilah yang mampu mengalahkan jiwa berandal seorang Raka ".


Senyum Hana perlahan berubah menjadi tawa kecil, tapi nada ironis tak tertutupi lagi. Tawa itu pun bahkan berhasil membuat dua butir air mata berlompatan dari sepasang matanya yang sayu. Tentu saja membuat ardelia semakin membatu, diam dalam  kegelisahan dan rasa bersalah.


" Kau, seperti dikorbankan ya nak .... ", penuh rasa bersalah Hana menuturkannya. Menatap tajam dan lembut ke dalam sepasang telaga bening milik gadis yang masih duduk terpaku di hadapannya. " Seandainya tidak ada peristiwa ini... tentu Namu dan Cinta tidak segera menyemai hubungannya. Kau ... membawa banyak kebahagiaan sayang ... kalian berdua ".


" Tante Hana ... maaf ... ".


" Bukan dirimu yang harus minta maaf  sayang.... kami... Raka dan aku ibunya .. ".


" Tante Hana... maaf... tapi ... aku tidak hamil ". Lirih Ardelia mengucapkannya.


" Sayang ... , kau ? ". Tentu saja Hana terbelalak tidak percaya.


" Maaf tante .... aku tidak tahu apa yang telah dikatakan oleh bang Raka. Tapi ... aku menangkap maksudnya dari apa yang disamapaikan mba Cinta ".


Hana masih tak kerdip menatap Ardelia. Tiba-tiba pintu ruangan di ketuk tiba-tiba, lalu terdengar suara seorang perempuan mohon ijin untuk masuk. Suara yang dikenali Ardelia sebagai seorang wanita asisten dokter Hana, yang tadi menjemput dan mengantarnya ke ruangan ini.


" Silahkan ... ". Dan dua cangkir teh hangat yang mengepul wangi tersaji di atas meja.  " Saya permisi dulu ", dan wanita itupun berlalu pergi.


Hana langsung meraihnya, menyesap perlahan. Sementara Ardelia masih terdiam melihat bagaimana wanita di hadapannya ini mengatasi keterkejutan.


" Jadi ... maksudmu, Raka telah berbohong  ? ".


" Sepertinya begitu ..... kemarin mba Cinta dan Kak Namu datang ke cafe mami ku. Tidak sengaja semua hal itu terungkap ... maaf tante... seandainya dari awal aku mengerti ..... maaf ... ".

__ADS_1


" Ardelia .... ah... Raka.... apa yang dipikirkan anak itu?. Ya Allah .... bagaimana dia bisa berbuat begitu padamu ? ". Hana terlihat sangat terkejut dan juga kecewa.


" Ta - Tante.... bang Raka ... dia memperlakukanku dengan sangat baik, menjaga ku dengan sangat baik. Bang Raka tidak pernah .... melakukan ... ", Ardelia menelan ludah. " Kami .... bisa menjaga diri ".


Yang didapatkan oleh Ardelia adalah sebuah pelukan, kemudian. Membuat gadis itu benar-benar semakin salah tingkah.


" Sayang ... apakah ibu mu juga tahu hal ini. Maksudku .... kabar bohong kehamilan mu ? ". Pertanyaan Hana ini dijawab Ardelia dengan sebuah gelengan kuat.


" Akan remuk bocah itu jika sampai ibu mu tahu kebohongan ini. Kau berencana memberitahukannya ? ", tanya Hana lagi .


" Tidak Tante .... tapi, aku bermaksud membalas perbuatan bang Raka ".


" Tentu !!!... kita harus membuatnya bersimpuh dan merangkak dihadapan mu ".


" Tidak seekstrim itu juga sih ... ".


" Oh .... harus!!! ... enak saja, mempermainkan perasaan seorang ibu, seorang gadis .... aku sedih, ternyata jalan untuk menimang cucu masih terbentang panjang ".


Ardelia memilih untuk tidak tersenyum begitu melihat ekspresi kecewa Hana yang membelah ekspresi kesalnya.


" Mba Cinta 'kan sebentar lagi juga menikah... pasti segera bisa dapat cucu kok Tante ", hibur Ardelia akhirnya.


" Ya ... eh!. Bukan berarti karena kamu tidak hamil, rencana pernikahan mundur loh ya ..... kalian juga harus segera menikah ".


Glegkh!!!....., " I- iya .... iya Tante. Nanti biar dibahas dulu dengan bang Raka ".


" Yang terpenting sekarang kita balas dendam dulu ".


Akhirnya Ardelia terkekeh-kekeh, disusul Hana yang juga tertawa. Sepertinya sebuah persekutuan baru sudah kokoh tercipta. Maka bersiaplah kau Raka........


.................


" Ha... ha... ha... ". Haidar tak mampu menahan tawanya. Walaupun mereka berbincang saling bertatapan, tapi Haidar sangat yakin jika kakak perempuan yang cantik dan smart ini juga memiliki tingkat kepekaan hati yang sudah mumpuni. So ..... jujur aja deh. " Kebaca banget ya mba ? ".


" Heeem .... serius kau sama dia ? . Mba akan jadi orang pertama yang akan menghajar mu kalau kau macam-macam .... apalagi bikin Hanin terluka lagi ".


Tentu saja hal itu bukan hanya sekedar ancaman. Haidar tahu betul bagaimana watak dari Sabrina.


" Hei ...... seloowww dong mba, dengerin dulu deh. Masih ingat Bu Rury ?. Yang setiap keluarga kita bikin acara, selalu kebagian urusan hidangan nya ? ".


" Ya ... kenapa memangnya ? ".


" Nania itu putri bungsunya ".


" Oh ya ampun ....... hei!!!!! jadi dia si kecil putih mulus yang sering di culik Rana sama Cinta dulu buat dijadiin model ..... percobaan salon konyol mereka sih ". Suara Sabrina tiba-tiba meninggi dengan nada ceria.


" Yup ..... ".


" Ya ampuuuuuuun........ kok bisa nggak tau gitu ya aku ".


" Naaah...... ibunya nitip pesen padaku. Tapi ternyata, ada hal besar yang terjadi disini. Mungkin ini yang bikin Nania tidak pulang dua tahun terakhir ini ".


" Ya ...... ", terdengar suara Sabrina yang menghela nafas panjang. " Dave itu anak seorang pengusaha kuliner terkenal di tanah air. Dari awal sepertinya hubungan mereka sudah ditentang. Lalu peristiwa itu ..... ".


" Apa yang sebenarnya terjadi mba ? "


" Hanin...... gadis baik', ramah, mandiri yang sangat lugu. Ia nyaris menjadi korban keegoisan dua pria tak tahu diri. Kau tahu 'kan jika negara ini sudah melegalkan perkawinan sejenis ? ".


" Ya ".

__ADS_1


" Hanin yang lugu nyaris terjebak... ditipu untuk bersedia mengandung bayi yang nantinya akan diadopsi oleh Dave dan Garret, pasangan gay-nya ".


" Ya Allah ........ astaghfirullah ....... apa yang sudah dilakukan dua bajin-gan itu pada Na' ? ".


" Hasil visum ..... tidak mendapati adanya bekas kekerasan seksual dan juga inseminasi buatan belum sempat dilakukan. Beruntung ada seorang wanita bernama Sellma yang menyelamatkan Hanin ".


Di detik berikutnya, Haidar mendengarkan dengan dada penuh kecamuk tak menentu. Otot lengannya menonjol karena tekanan pada kepalan tangannya. Sementara itu rahangnya pun mengeras oleh amarah yang membuncah.


" Hal umum dilakukan para pasangan LGBT di sini untuk mendapatkan ibu yang mau mengandung anak dengan salah satu benih yang berasal dari mereka. Tapi apa yang dilakukan oleh Dave dan Garrett itu tidak legal ".


" Tapi kenapa Hanin kemudian memutuskan untuk mencabut laporannya ? ", terlihat Haidar yang menggeram tidak sabaran.


" Oh ..... kau sudah baca berita itu juga rupanya ?. Aku tidak tahu ....... tidak ada yang tahu alasan nya. Tapi Garrett tetap menerima hukuman, sayang nya cuma satu tahun penjara. Dan belum lama ini mereka sudah menikah ".


" Lalu ..... ada Seorang anak .... siapa dia ? ".


" Kau tahu juga hal ini rupanya ".


" ya s... seorang kawan memberi tahukan ", jawab Haidar cepat.


" Itu anaknya Garrett dan Sellma ".


" Dia .... bersama Nania ? ".


" Tidak.... bocah lucu itu dirawat neneknya. Sellma saat ini masih koma, karena kecelakaan .... dan Hanin yang merasa berhutang budi , saat ini ikut merawatnya dan juga membiayai pengobatan Sellma. Sebenarnya banyak yang curiga tentang kecelakaan itu, tapi sampai saat ini polisi bahkan tidak bisa menemukan bukti keterlibatan Garret. huuuffff..... sesak dadaku kalau ngat cerita itu. untung Janin gadis yang kuat " .


Haidar termenung panjang saat mendengarkan semua penutur an Sabrina tentang kisah menyesakan yang dialami oleh Nania nya. Bagaimana dulu dulu gadis mungil yang terlihat beg rapuh itu menjalani semua nya seorang diri. Pastilah dia sangat terluka, kecewa, sedih dan juga marah. dan saat itu dia sendirian, merendamnya seorang diri. . Nania nya yang cantik, bagaimana ia menyeka air mata itu ?.


" Berita besar begini bagaimana bisa tidak terendus oleh media tanah air ? ", gumam Haidar dengan sangat keheranan.


" Ya itulah salah satu kehebatan mas mu tow'. ia masih punya nama besar di dunia pewarta. belum lagi kucuran dana dari keluarga David yang pastinya sudah sangat lebih dari cukup untuk membungkam dan membuat media disini membuat pengalihan berita ".


" Ini tidak adil untuk Nania ".


" Lantas ? kau mau apa ? ".


Haidar terdiam, karena ia sendiri pun belum menemukan sebuah ide brilian yang tepat untuk menuruti egonya sendiri dengan dalih membalas perbuatan atas kesengsaraan yang dialami oleh Nania. padahal sebenarnya ia masih kebingungan saja berkapasitas sebagai siapa dirinya yang berniat membalas dendam ini.


" Ibu nya merindukan dan ...... menginginkan kepulangan Nania ". Haidar menarik nafas panjang. ' Ibu merestui nak, tolong sampaikan pada na '. kalimat Bu Rury terngiang. Tapi hatinya tercengkeram perih.


" sepertinya Nania mu itu punya alasan yang kuat untuk tidak pulang dahulu ".


" Apakah ada seseorang ... maksudku seseorang yang dekat dengan Nania, yang mungkin tahu ada apa sebenarnya dengan di cantik itu ? ".


" Kau mau ap ? ".


" Tentu saja membantu nya dong mba Sa' ku yang cantik ..... ".


" oOh.... eh, kau ada hatinya dengan nya ? ".


" Kalau iya ... emangnya kenapa ? ".


"Hua... ha..ha..ha Haidar ..... syukur deh.... kupikir lo' nggak kebagian hasrat bercinta karena udah habis diembat si Raka semua ... hi..hi..hi.. syukur vdeh. Alhamdulillah ternyata adik ku yang ini tiba juga masa pubertas nya ... hi...hi..hi.. "


" Sekata-kata mublah mba...... yang jelas akubini a man yang manly banget loh. Cuma waktu vdan kesempatan dan kontrol diri yang besar menaungiku dengan sangat baik ... he..he..he.. ".


" Halah ... kumat, tapi syukurlah kalau begitu. hanya saja kau punya saingan besar untuk mendapatkan Hanin ".


" Oh ya ? siapa ? ", Haidar terlonjak dengan hati yang berdebar dan bertalu.

__ADS_1


" Tentu saja rasa sakit dan trauma nya. Wanita itu.... mereka adalah mahluk dengan kelembutan hati yang begitu mudah untuk memaafkan.... tapi terlalu sulit untuk melupakan ".


__ADS_2