
Pagi itu matahari masih bersinar lembut, berpayung gerimis yang melapisi mayapada. Terasa sedikit dingin namun menyegarkan. Secangkir teh hangat yang tersaji begitu pas dan terasa sungguh nikmat.
Di sebuah aula kecil, nampak Yulia sedang duduk bersama beberapa orang karyawan di kantornya. Walaupun suasana begitu santai, tapi ada ketegangan dan keseriusan yang tersamar di suasana itu. Secangkir teh hangat dan sepotong kue tradisional yang terhidang, cukup efektif untuk merilekskan jantung yang berdebar sedikit lebih cepat dari ritme biasanya.
" Tetap bekerja seperti biasanya. Ungkapan apapun .... jangan ada yang disembunyikan... jangan takut .. ", ucap Yulia menutup briefing pagi ini. " Semuanya sempatkan sarapan dulu, berganti-ganti ya " .
" Baik Bu ... ", serempak ditanggapi oleh para staff.
Lalu tanpa dikomando kembali, mereka secara bergantian menikmati sarapan pagi itu. Sementara itu Yulia kembali ke ruangannya. Saat hendak membuka pintu, ia mendengar suara beberapa orang yang sedang naik tangga sambil bercakap-cakap. Itu suara Haidar dan juga Sapto si perawat anastesi yang mumpuni. Yulia memutuskan untuk menunggu keduanya.
" Sarapan dulu ... sudah disediakan di aula ".
" Ya Bu ", Sapto mengiyakan.
" Aku sudah sarapan kok ... kamu saja 'To ".
Sapto mengangguk dan meninggalkan Haidar yang terlihat dengan sengaja menunggu Yulia.
" Kau baik-baik saja 'kan ? ", tanya pria itu sambil memandang intens.
" Tentu saja... aku siap, luar biasa. Melihat semua teman-teman juga penuh semangat di sini..... bagaimana aku tidak siap ? ". Yulia tersenyum penuh percaya diri.
" Ya... akan ada banyak pertolongan untuk orang baik seperti mu. Tapi ... kalau boleh aku tahu. Seandainya kau boleh memilih ... kau akan pergi atau tetap tinggal di sini ? ", Haidar bertanya dengan serius .
" Yang harusnya bertanya seperti itu aku ... padamu. Sejak aku diterima menjadi abdi negara, apa aku pernah punya pilihan ? ", Yulia tersenyum. " Ah ... sudahlah, nasib orang-orang seperti ku itu transparan ..... sangat mudah ditebak. Ayo ... kita cek ulang semuanya ".
" Hei .... jangan alihkan pembicaraan. Aku tahu kau pasti resah dengan pertemuan kembali ini. Apakah mungkin Wisya akan mengintimidasi mu ? " .
" Bisa saja.... hidup ini penuh kemungkinan. Tapi... heiii... kau yang terlihat lebih tidak percaya diri ".
" Ha.. ha.. ha... ketahuan ya ". Haidar tertawa. " Mungkin ini akhir dari perjalanan ku .... akhir dari waktu yang diberikan untuk ku. Dan aku harus segera kembali ".
Yulia mengerutkan keningnya, namun saat akan bertanya lebih jauh, telepon selulernya berbunyi. Ia buru-buru menerima panggilan itu.
" Ah ya ... selamat pagi. Baik... baik ... kami akan menjemput segera ".
" Mereka sudah tiba ? ", tanya Haidar yang melihat perubahan ekspresi Yulia.
" Ya ... dua jam lebih cepat. Sebentar lagi mereka merapat ". Yulia menganggukkan kepala, ia pun melangkah menuruni tangga, membatalkan niat semula yang akan masuk ke dalam ruangannya.
" Aku akan menjemput mereka, kau di sini saja ", sergah Haidar cepat.
" Dua mobil sudah bersiap di dermaga ... aku hanya akan menunggu di bawah. Kita menunggu di luar saja ".
" Baiklah ", akhirnya Haidar mengikuti langkah Yulia.
__ADS_1
Kedua orang itu terlihat cemerlang dengan jas putih yang mereka kenakan. Senyuman ramah dan hangat mereka sampaikan pada para pelanggan pusat kesehatan tempat mereka bekerja yang juga tersenyum dan mengangguk dengan hormat. Sikap dua orang dokter ini pun diikuti oleh para staff lainnya, menciptakan kedekatan emosi yang hangat dan beraroma kekeluargaan. Seperti menciptakan kepingan dunia yang hangat dan menyenangkan, walaupun terhimpit oleh keras dan rakusnya persaingan.
Keramahan dan sikap kekeluargaan penduduk pulau kecil ini yang membuat Yulia mampu bertahan dan dengan cepat beradaptasi sehingga merasa nyaman. Jika pada akhirnya ia nanti akan menerima sangsi yang mungkin mengharuskannya meninggalkan tempat yang hangat ini, pasti dia akan merasakan rindu. Yulia hanya bisa tersenyum saja, walaupun dalam hatinya ada kegelisahan mendera.
" Senyuman mu itu terlihat miris ", Haidar berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja menjadi sedikit beku.
" Ah .... hanya perasaan mu saja. Kau tahu? ... semua komentar mu sejak tadi .... justru membuat ku semakin ..... down ".
" He... he... he... maafkanlah, kalo begitu ". Haidar terkekeh.
Saat itulah terdengar suara deruman mobil memasuki halaman parkir. Sepertinya para tamu itu sudah datang. Yulia menegakkan badannya sekilas melirik ke arah Haidar dan kemudian melangkah keluar untuk menyambut para tamunya.
Mereka semua berjumlah enam orang, beberapa diantaranya sudah sangat dikenal oleh Yulia. Dan satu orang diantara mereka adalah orang yang sudah sangat dikenal oleh dirinya dan juga Haidar. Hampir enam tahun sama sekali tidak melihat keadaannya, wajah itu sedikit berubah dengan jejak abu-abu bekas bercukur di sekitar pipi dan dagunya. Tubuhnya tampak semakin tegap. Wisya Damara, pria itu mengulas senyuman pada Haidar dan Yulia, dua orang yang masih mempunyai jalinan kedekatan masa lalunya. Yang dibalas dengan hal sama juga oleh Haidar dan Yulia.
" Aku beruntung bisa bertemu kalian lagi disini ", Wisya menjabat tangan Haidar dengan erat. Namun sepasang matanya berkilat berusaha menyayat senyuman Haidar.
" Kau pasti sudah sangat lama mencari kami ya ", Haidar membalasnya.
Entah mengapa hawa disekitar keduanya tiba-tiba saja menjadi dingin dan pengap. Setidaknya begitulah yang dirasakan Yulia. Hingga akhirnya ia buru-buru mempersilahkan seluruh tamu-tamunya untuk mengikuti masuk di aula kecil.
' Pesta segera di mulai .... kau harus tampil percaya diri dan jangan lengah ', bisik Yulia menguatkan hatinya sendiri.
.......................
Tidak seperti kebanyakan orang-orang terutama yang saat ini sedang bersamanya, Wisya justru mengharapkan badai itu benar-benar datang. Sedikit harapan akan hal itu muncul saat pagi tadi gerimis tidak juga berakhir. Tetapi menjelang siang langit begitu cerah dan udara terasa segar bersih tanpa muatan uap air yang berlebihan. Bahkan ombak pun begitu bersahabat.
" Pak Wisya benar-benar serius bersedia ditempatkan di sana ? ", tanya salah satu anggota tim yang datang bersamanya.
" Saya rasa tidak masalah, dalam satu mingu toh cuma selama tiga hari berada di sana. Setidaknya kita tidak kehilangan muka.... ".
" Maksud pak Wisya ? ... tentang adanya pihak luar yang menghibahkan berbagai peralatan itu ? ".
Wisya mengangguk sambil tetap menatap hamparan biru kehijauan yang beriak tenang. Kapal feri yang membawa rombongan itu sudah mulai berlayar kembali dan telah menempuh hampir setengah perjalanan. Tapi separuh hati Wisya masih tertinggal di daratan sana bersama sebentuk kisah masa lalunya.
" Peralatan ini adalah hibah dan donasi dari salah satu perusahaan distributor Farmasi dan peralatan medis. Kami sangat bersyukur ... masih banyak pihak yang memberi perhatian pada kami ". Kalimat itu disampaikan dokter Yulia dengan kilatan mata yang tajam menyayat walaupun senyuman tak pupus dari wajah manisnya.
" Kami tahu apa yang sudah kami lakukan itu adalah hal yang tidak semestinya dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti ini... tentu saja saya bertanggungjawab untuk menerima segala konsekwensinya. Tapi.... satu hal yang saya harapkan, tolong solusinya. Jangan hanya mengikat kami dengan aturan ... dimana kondisi di lapangan terkadang mengharuskan kita menerjang aturan itu .... demi harapan hidup yang lebih panjang. Kami menghadapi masyarakat secara langsung.... tolong pikirkan beban kami saat harus berkata pada mereka ... maaf kami tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan di rumah sakit ... padahal mereka datang penuh dengan pengharapan. Jika tidak ada halangan seperti ganasnya kondisi alam .... Kami tentu tetap akan patuh dan sesuai aturan. Tapi.... jika itu sudah faktor alam , apakah kami juga harus tetap sekaku itu demi tetap on the rule...... ".
Kalimat yang panjang dan lebar itu terasa menguliti persaan orang-orang yang berkumpul di aula kecil ini. Tidak sepenuhnya salah, bahkan hampir seratus persen benar. Apa yang disampaikan oleh seorang dokter umum itu seperti sedang mengingatkan kembali pada sumpah para dokter dan juga paramedis lainnya.
Wisya termenung dengan kagum, melihat bibir yang menari dan bola mata yang bergerak harmonis mencerminkan perasaan. Yulia yang tak lekang dalam ingatannya, kini tampil sebagai sebuah kenyataan yang mempesona berlipat ganda. Kecantikannya sebagai wanita dewasa membuat Wisya tak mampu mengalihkan pandangan. Hanya saja saat sesaat tatapan keduanya saling bertubrukan, ia merupakan energi impuls yang menghantam.... menyakitkan.
' Begitu besarnya kebencian mu padaku.... padahal aku sangat merindukanmu ', bisik hati Wisya.
Tidak ada tanggapan yang bernada menghakimi, padahal sebelumnya para anggota tim sudah bersiap dengan serentetan pertanyaan bernada investigasi. Kini mereka terbungkam dengan kenyataan. Seperti dipermalukan oleh kenyataan yang ada. Bagaimana ketika sang pemangku kebijakan dan sang pembuat aturan tidak memahami keadaan di lapangan. Bagaimana aturan itu sangat tidak relevan untuk diterapkan. Serta tuntutan yang tidak disertai dengan fasilitas dan akses yang memadai. Semua itu justru menjadi sebuah boomerang.
__ADS_1
Dan lihatlah bagaimana segelintir orang ini tetap berjuang dan bertahan, bertanggungjawab dengan sumpah profesi mereka. Jiwa pengabdian mereka menjadi api penyemangat abadi.
Wisya mengulum senyum mengingat seorang Yulia yang begitu mempesona. Ia tak mampu menyembunyikan bunga-bunga yang mulai bermekaran di dalam hatinya.
' Tunggu aku Yulia.... aku akan berada didekat mu lagi seperti dulu. Kita akan memulainya lagi ... dan aku pasti akan mendapatkan mu '.
Wisya membulatkan tekadnya, sama seperti sewindu yang lalu. Sayangnya tekad dan niat baik dulu, ternodai oleh amarah, serta rasa iri yang menggilas bisikan hati nurani. Wisya muda yang saat itu baru saja memahami perasaannya sendiri menjadi sangat marah dengan kenyataan yang seolah tidak berpihak pada harapannya.
Semula ia sangat ingin meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi, ya ... tentang dirinya yang sebenarnya tidak pernah membayarkan uang semester Yulia itu. Satu hal yang sudah dilakukannya berkaitan dengan materi, hanya membelikan tiket pesawat pulang pergi untuk gadis itu.
Tapi kesalahpahaman itu sangat menguntungkannya, hingga ia terlena. Ya .... mereka menjadi lebih dekat. Saling bercerita dan juga saling mendukung. Sehingga Wisya mulai mempertimbangkan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya pada gadis itu. Ah... lebih tepatnya menunda menceritakan kebenaran tentang semua kesalahpahaman itu. Hingga saat yang tepat, yaitu saat ia sudah memeluk hati gadis itu.
Hingga kejadian di depan laboratorium kedokteran forensik itu tak terelakkan lagi. Satu kejadian yang kemudian menjadi pemicu rentetan peristiwa kehidupan seorang Wisya dengan Yulia. Seperti efek domino, atau mungkin seperti membuka kontak Pandora.
" Orang tua kita sudah sepakat .... seharusnya kau menghormati keputusan mereka. Kau ini keterlaluan !!!.... hentikan main-mainmu dengan si Upik abu itu ".
" Anelis !!!! ... kau tidak sepantasnya berbicara seperti itu ", Wisya menyentak gadis itu dan menepiskan tangannya dengan keras.
" Apanya yang tidak pantas ?!!! ... kita sebentar lagi resmi bertunangan. Selama ini aku sudah cukup membiarkan mu bermain dengan Yulia.... tapi kau ... ".
" Cukup !!! hentikan !!! ".
" Kenikmatan macam apa yang sudah diberikan gadis itu untuk mu ? .... kau pikir aku tidak bisa melakukannya juga ? ".
" Anelis !!!! ", rahang Wisya bergemeretak saat gigi-giginya bertautan erat dan kedua telapak tangannya mengepal erat. Amarah itu sudah seperti gelegak lahar di kawah gunung berapi. " Jaga kata-kata mu ".
" Kenapa kau selalu membelanya ?!!! .... gadis yang menjual tubuhnya pada mu demi bisa membayar kuliahnya .... mungkin tidak hanya padamu ...".
Plak!!!! ... tamparan itu terdengar menyayat malam. Anelis terhuyung sambil memegang pipinya yang terasa panas. Sementara Wisya berdiri sambil mengatur nafas dengan tatapan yang masih menyala.
' Brugh ', suara tumpukan benda terjatuh. Membuat Wisya dan Anelis mengalihkan perhatiannya. Di sana, dari tempat suara itu berasal. Yulia berdiri dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, menatap dengan pandangan penuh luka. Lalu dengan sekali gerakan, ia berbalik dan berlari meninggalkan penyebab luka dihatinya. Ia berlari dengan kedua bahu yang terguncang hebat, gadis itu menangis karena sayatan luka dihatinya.
" Yulia !!! ... tunggu !!". Wisya hendak mengejar gadis itu.
Tapi satu cekalan kuat di lengannya menahan. Pemuda itu menatap tajam pada Anelis yang mencengkram lengannya.
" Kau !!!! .... jangan pernah bermimpi bisa bersamaku ... ", hardik Wisya dengan amarah yang menguasai. Satu hentakan kuat membuat Anelis jatuh terduduk dan Wisya pun segera memunguti tumpukan buku yang tadi di bawa Yulia dan segera menyusul gadis itu.
Malam itu ia bertekad akan mengungkapkan yang sebenarnya, tentang segalanya. Meluruskan kesalahpahaman itu dan juga mengungkapkan isi hatinya. Menceritakan bagaimana separuh jiwanya telah terisi dengan pesona seorang Yulia yang menurutnya begitu sempurna. Ia akan bersimpuh memohon agar diperbolehkan menjadi sang penjaga bagi gadis itu. Wisya sungguh bertekad akan membisikan satu janji .... aku akan menjagamu, karena aku mencintaimu.
Wisya tersenyum sambil terus berjalan dan sesekali setengah berlari dengan tergesa. Tujuannya satu, menemui Yulia yang pasti saat ini sedang kembali menuju tempat kos-kosannya. Pemuda itupun segera menuju tempat parkir kendaraan.
Namun sedikit senyuman yang tadi sempat merekah seiring tekad dan rasa percaya dirinya yang sesaat tadi membuncah, kini surut seketika. Langkahnya terhenti, ia terpaku menatap kenyataan yang terbentang menggores hatinya, menciptakan lelehan cemburu tak terbendung.
Di depan sana, gadis tercinta itu ada dalam rengkuhan pemuda yang semakin dibencinya. Dalam tangisan yang sedang berusaha diredakan, ia melihat bagaimana kelembutan Haidar pada Yulia. Mengelus pundak gadis itu dan perlahan menuntunnya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
' Seharusnya aku yang melakukan itu... kau!!!! kenapa selalu seperti benalu kebahagiaan ku '