
Telepon dari Keanu yang membombardir, dan juga Sellma yang berkali-kali memastikan keadaan mereka baik-baik saja. Akhirnya membawa dua sejoli itu untuk segera kembali ke Hotel. Tentu saja hal ini memicu kekecewaan Andran dan Adeline, jelas sekali pasangan muda itu sangat mengaharapkan jika Hanin dan Haidar benar-benar menginap.
" Sungguh aku minta maaf, besok Hanin harus pulang ke Indonesia dan teman-teman kami sudah menunggu di hotel saat ini ", sesal Haidar.
Hanin tersenyum dan membalas pelukan Adeline, Sejujurnya ia merasa sangat lega, apalagi kalau bukan karena terbebas dari perasaan seperti terayun-ayun dalam badai yang hangat dan melenakan setiap menghabiskan waktu bersama Haidar, dalam satu ruangan yang tiba-tiba saja seperti tak mengenal korelasi jarak dan waktu. Ia tahu jika hal itu berbahaya, tapi rasa penasaran berbalut rasa nyaman yang membuatnya terus mencari, seolah menyurutkan kewapadaannya.
Memang Haidar sangat bisa menjaga diri dan juga dirinya. Tapi bagaimanapun mereka adalah dua pasangan cinta yang sedang membara. Percikan kecil sangatlah memicu terjadinya kebakaran asmara yang ia sendiri tidak bisa membayangkan akan menjadi bagaimana. Yang jelas, itu sangat tidak aman dan lebih baik dihindari.
" Wajahmu seperti seseorang yang bisulnya sudah pecah ".
" Tentu saja. Memang siapa yang biasa menjamin aku akan aman-aman saja ", balas Hanin ketus.
Haidar terbahak dan mengacak rambut hitam panjang yang lembut dan wani itu dengan gemas. Sementara mobil yang dikendarai salah satu sopir keluarga Pouzas itu telah memasuki kota Zurich yang benderang. Andrean dengan tegas menentang Haidar yang akan memesan taxi, lalu memrintahkan sopir pribadinya untuk mengantarkan dua sahabat barunya itu.
" Kalian lupa pada kami ", Sellma cemberut saat menyambut mereka di sebuah restourant. Sementara itu si kecil Leisel langsung menghabur pada Hanin dan Haidar.
" Maaf ya bro'.... ku halangi kau merasakan kenikmatan hakiki. Tungguuuuu... sampai halal. Atau malah jangan-jangan ... ". Keanu terkekeh, menyikut iga Haidar yang meringis.
" Pala' lo peyang .... " . Dan sebuah jitakan jitu mendarat di jitu di kepala Keanu. Haidar mendelik kesal, sementara si sipit manis itu tertawa-tawa puas.
" Ini dari Leil.. untuk tante tercantik, terbaik di dunia ". Sellma memberikan sebuah kotak kado yang tidak terlalu besar berpita keperakan cantik pada Hanin.
" Hei .... apa ini ?, aku tidak ulang tahun loh ", Hanin terbeliak tapi senyumnya menuturkan kebahagiaan.
" Biar tante Hanin ingat Leil dan mama. Biar tante Hanin cepet balik lagi ke Jerman. Terus kita main lagi sama Boby Ingo, Co-Owl, Cranies ... ".
" Oh ... para boneka ya. Wah, kau sudah memberi mereka nama ". Bola mata Hanin yang bulat dan besar, terbeliak dengan indah.
" Iya, malah tante Hanin mau pulang .. ", wajah bocah itu terlihat sedikit muram. " Kata mom, tante mau ketemu ibunya ya disana ?. Kalau begitu nggak apa-apa. Pasti ibunya tante juga sudah kangen sekali ".
Oh manisnya.... lalu Hanin memeluk Leisel dengan sayang. Menciumi pipi gadis kecil itu bergantian, sambil sesekali menggelitiki. Leisel tertawa senang dan kegelian.
" Apa ini isinya ?. Boleh dibuka sekarang ? ", tanya Hanin penuh semangat yang dijawab anggukan kuat dari bocah bermata biru itu.
" Wooow .... cantik sekali... ", gaun berwarna kuning lembut dengan potongan sederhana dan aksen mutiara berbentuk anggur yang manis. " Kapan kalian membelinya ? ".
" Tadi pagi. Uncle juga beli buat momy.... warnanya coklat ".
" Oh ya ? ", Hanin melirik Keanu yang sudah dulu di sikut Haidar. " Waaah ... berarti uncle sayang momy Leil ya ? ".
" Iya... kemarin malam aku lihat uncle peluk momy, Terus momy nangis... eh habis itu mereka ciuman ". Lolos tanpa beban dari mulut seorang anak . " Itu artinya... uncle sudah boleh jadi dady Leil ... horeeee .... ".
Entah itu sebuah blunder, atau sebuah kabar bahagia yang meluap bagai air bah, atau bisa jadi adalah terbongkarnya sebuah rahasia yang manis. Yang jelas penuturan tanpa beban seorang Leisel bak boomerang yang menguntungkan Haidar dan Hanin. Setelah beberapa hari lalu sampai dengan seper-sekian detik tadi mereka masih menjadi bulan-bulanan Keanu, kini mereka sudah menemukan senjata rahasia, yang mutakhir, sudden death ..... bang Key.
Sementara itu Hanin tekikik-kikik sambil sambil tak henti menciumi pipi montok bocah bermata biru itu, Haidar mulai bertingkah tidak karuan antara bahagia dan puas.
" Ohhh... aahhh... wooouw... siapa yang nikmat, siapa yang teriak siapa. Selamat bang Key... elo emang bang-ke bener .... ha..ha..ha..ha.. ".
" Nggak semesum pikiran elo' .... masih waras gue' ". Keanu mendorong Haidar yang terus memitingnya tanpa bisa menghentikan tawa.
" Nggak ada orang waras kalau udah kena virus cinta abang sayang ... ". Dengan gaya yang menggemaskan, Haidar membelai wajah Keanu
" Hiiiy ... jauh-jauh 'ah. Geli' gue ... ".
" Kalian berdua ngomong apa sih ?. Awas ya!!!! ... jangan bikin gosip ", Kali ini Sellma yang menggerutu dan mengancam.
" Oh itu, mas Haidar mengucapakan selamat dan mendoakan kebahagiaan kalian ... ", Hanin buru-buru menjawab di sela tawanya.
" Ah, tidak terlihat seperti itu ". Sellma melengos, justru membuat Hanin semakin terbahak.
" Kami ikut berbahagia ... ", Haidar dengan lantang berusaha meruntuhkan keraguan Sellma.
......................................
Hanin berdiri seolah mematung, tapi ia sebenarnya tengah terpana. Menatap pria yang kini telah menguasai separuh hati dan jiwanya. Saat berbicara serius pun ia sangat mempesona apalagi ketika senyumannya terkembang .... tampan.
__ADS_1
" Ayo, kita naik layanan hotel saja. Masih cukup waktu ". Pria itu menghampirinya dan mengulurkan tangan kanan meraih dirinya. Sementara tangan kiri menarik koper besar, tak mengijinkan dirinya sedikitpun membawa barang kecuali tas punggung kecil yang manis ini.
Genggaman telapak tangan Haidar yang lebar dan besar terasa sangat hangat. Seperti menciptakan rasa mencandu yang berputar-putar dalam ingatan tak mampu tersingkirkan. Sempat dirinya meragukan semua ucapan pria ini. Menganggap jika pria ini hanya tersesat sementara dalam ketidakpahaman antara rasa iba, sayang dan cinta yang saling berkejaran. Tapi kini ia mengerti, dirinyalah yang sesungguhnya telah tersesat ....
I get lost in your eyes
And I feel my spirits rise
And soar like the wind
Is it love that I am in?
' Aku akan sangat rindu '. Bisik Hanin saat sambil membalas menggenggam lebih erat, meruntuhkan sekat diantara jemari yang saling terpaut. Ketika akhirnya tiba saat untuk kembali berpisah, rasanya seperti tidak ingin mendengar apapun selain hembusan nafas yang lembut dan hangat serta suara berat yang khas itu. Sepertinya tidak ingin melihat apapun selain kilau indah binar mata yang cemerlang itu.
I get weak, in a glance
Isn't this what's called romance?
And now I know
'Cause, when I'm lost I can let go
I don't mind not knowin' what I'm heading for
You can take me to the skies
It's like being lost in heaven
When I'm lost in your eyes
" Kenapa ? ", Haidar berhenti dan segera menyelami tatapan Hanin yang terasa memanas karena genangan hangat yang kian menumpuk di setiap sudut bola mata gadis itu.
" Aku pasti akan sangat rindu padamu mas ".
" Aku kok jadi nangis sih mas ? ... ".
Pertanyaan konyol yang terasa begitu manis, belum lagi gesture tanpa penolakan dari gadis itu yang tentu saja membuat Haidar menjadi lebih merasa tersanjung. Bunga-bunga bermekaran di taman hatinya.
" Kalau begitu, ikut saja dengan ku. Dampingi aku, kita keliling Eropa ".
" Issh... ", disusul dengan satu pukulan kecil di dada Haidar. Namun Hanin sepertinya belum berniat melepaskan diri dari pria ini. Hidungnya masih terus menuntut untuk bisa memenuhi setiap neuron pada indra penciumnya dengan aroma wangi kayu-kayuan maskulin yang lembut melenakan pria itu.
" Kau harus menghalalkan aku dulu mas, meminta baik-baik pada ibuku. Baru kau bisa membawaku ke- ... mana.... sa -ja.... ". Hanin tersadar pada beberapa kata di penghujung kalimatnya. Ia merasa sangat malu dan tiba-tiba saja jadi sangat membenci dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan lidah.
'Aduuuuuuh ...... pasti mas Haidar pikir aku yang ngebet. Mati aku ... ngejar-ngejar banget kesannya. Bodoh kamu Hanin !!!!!!!!!!!!.... jual mahal dikit kenapa ?'.
Tapi tidak demikian dengan apa yang dirasakan Haidar. Ia seperti baru saja mendatkan jackpot. Kedua alisnya yang tebat itu terangkat, seiring membesarnya pupil mata yang mengikuti ledakan arus bahagia. Haidar mengendurkan pelukannya untuk kemudian sedikit menjauhakan tubuh gadis itu tanpa berniat melepaskannya, hanya demi untuk bisa menatap sepasang mata bola mata yang mempesona itu. Meyakinkan kembali pendengarannya.
" Hei .... ". Tapi ia mendapati gadis itu memalingkan pandangan. " Aku ingin mendengarnya sekali lagi ... please ... ".
" Apa sih ? ". Hanin mendorong tubuh Haidar lebih jauh lagi, bertepatan dengan hadirnya kendaraan yang akan membawa mereka. Ia pun segera melangkah mendekati SUV hitam metalik yang terlihat elegan itu.
" Hei ... please, tell me once more ". Haidar menuntut dengan tatapannya yang menikam, dengan satu langkah lebar telah mendahului gadis itu. Memberikan koper untuk disimpan di bagasi pada petugas hotel yang membantu, lalu masuk dan duduk menyebelahi si cantik yang kini terlihat sibuk mengalihkan rasa malunya sendiri. Tapi Haidar sungguh menikmati hal tersebut. " Please ... ", tuntutnya lagi sambil mengerling menggoda.
" Mas.... jangan membuatku malu. Aku tadi kelepasan ", elak Hanin sambil sedikit menggeser duduknya.
" Tapi aku ingin dengar lagi. Please .... ", mohon Haidar. Dan mobil pun mulai melaju perlahan meninggalkan hotel. " Tiga kata saja, sebagai kesimpulannya ... ".
" Apa sih ... ", Hanin masih saja mengelak.
" Nania ku .... please !! ". Dan Haidar kembali menuntut dengan lebih tegas. Kali ini sambil menahan wajah Hanin agar tidak berpaling darinya. Kembali dengan telak menghujam iris kecoklatan yang mempesona itu. " Tiga kata .... dan itu akan memperjelas tujuan hidupku, kumohon ... ".
Hanin tertunduk dan masih dengan wajah yang memerah hangat oleh rasa malu dan juga rasa tersanjung. Seperti dilambungkan ke langit ke tujuh. Entah terbuat dari apa hati dan seluruh materi pembentuk pria ini, kenapa bisa selalu seromantis itu ?. Apapun yang dilakukannya, apapun yang diucapkannya, bahkan kerlingan mata sesaatnya pun terasa begitu manis. Atau jangan-jangan karena ia yang sydah tidak punya pertahanan diri lagi untuk setiap serangan sayang dari si mas gagah ini ?.
" Hanin Hanania... ", dan Haidar masih mendesak, menuntut serta memojokkannya dengan tegas.
__ADS_1
" Mas.... ", Hanin menjeda dengan menelan ludah sendiri untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa begitu kering.
Haidar masih menatap penuh harap, menunggu dengan gelora kalbu. Tapi ia tetap bersabar, dan membiarkan gadis cantik itu menghirup udara senyampangnya.
" ... halalkan aku .... untukmu ". Akhirnya Hanin bisa menyelesaikan satu permintaan yang dituntut dengan tegas oleh Haidar.
I just fell, don't know why
Something's there we can't deny
And when I first knew
Was when I first looked at you
And if I can't find my way
If salvation is words away
Oh, I'll be found
When I am lost in your eyes
I don't mind not knowin' what I'm heading for
You can take me to the skies
It's like being lost in heaven
When I'm lost in your eyes
(Debbie Gibson)
....................................
Mengangkasa bersama kecamuk perasaan yang telah terlebih dahulu melesat menembus lapisan-lapisan atmosfer bumi, Hanin masih sibuk untuk mengingatkan dirinya agar tidak lupa bernafas. Menuntun kembali nalarnya agar kembali memahami jika ia masih seorang manusia, bukanlah seorang ratu yang di puja, atau bidadari bersayap yang tengah melesat ke angkasa.
Tak butuh waktu lama dari saat ia masih mengungkung perasaannya dalam lapisan troposfer untuk langsung melesat menembus stratosfer dan lapisan ozone. Setiap kali pria gagah itu menyentuhnya dengan lembut, maka ia akan segera mengangkasa, tak memerlukan roket pendorong untuk segera mencapai mesosfer.
Beberapa saat lalu, dirinya benar-benar telah melayang-layang menapaki jenjang ionosfer bahkan mungkin telah ikut ambil bagian dalam terbentuknya warna-warni indah aurora di langi belahan kutub utara dan kutub selatan. Tepatnya saat Haidar menunduk, membenamkan kehangatan pada wajahnya.
Satu sengatan yang langsung membuat kedua tangannya terkulai tak berdaya. Mungkin akan begiu juga dengan tubuhnya, jika saja pria itu tidak menahan dengan rengkuhannya yang melenakan. Ia hanya mampu memejamkan mata, merasakan panasnya sengatan manis yang menjalar dari bibirnya. Bahkan ia pun seolah lupa bagaimana caranya bernafas.
" Hati-hati... doakan aku, doakan kita... ". Haidar hanya melepaskan pertautan mereka sesaat, sambil tetap menyatukan kening mereka.
" Entah kenapa, yang kali ini .... rasanya berat sekali ". Dan setiap pria itu berbicara, nafas yang hangat dan harum itu seolah menampar-nampar wajahnya dengan mesra.
" Tidak ada larangan untuk meneleponku kapan saja. Jangan buat aku kelimpungan karena mencari suaramu. Telepon aku kapanpun, kalau kamu tidak sibuk ".
" Heeii..... kenapa harus aku yang menelpon duluan ? ".
" Okay ... siapapun yang longgar, harus telepon. Paling tidak harus berkabar setiap hari. Janji !!! ".
Dan ia tertawa kecil sambil mengangangguk mengiyakan. tapi gerakan kepalanya langsung tertahan saat Haidar kembali menyergap dengan hangat. Seolah hanya memberikan sejenak kesempatan untuknya memenuhi alveoli paru-parunya dengan oksigen. Untuk kemudian kembali melesatkan jiwanya mengangkasa meninggalkan ionosfer menuju hot layer atau lapisan eksosfer yang sangat luas seolah tak berbatas.
Bahkan hingga beberapa saat setelah Haidar melepaskan pagutannya yang terasa lembab, hangat namun menyengat itu, ia masih tetap merasakan jiwanya melayang mengangkasa. Melihat pria itu tak beranjak, tetap berdiri mengawasinya, lalu membuat tanda cinta dengan memukul-mukul pelan dada kirinya sendiri. Hanin hanya mampu tersenyum dan menyusut sedikit air bening yang mulai luruh perlahan.
Sekarang ia telah terbang bersama sang burung besi, membelah jarak di jagat bumi. Tapi hatinya masih tertinggal di Zurich, sementara jiwanya tetap mengangkasa bersama segala rasa yang tak ingin dipupuskannya. Hanin membasahi bibirnya perlahan, seperti ingin merasakan kembali rasa menyengat yang nikmat itu. Tapi ia tak bisa menahan laju air bening yang juga hangat perlahan mengalir dari sudut-sudut matanya.
'Aku tidak mengerti, bagaimana engkau dapat membuat ku tertawa, menangis, bahagia, khawatir dan takut secara bersamaan ?.
Kita sudah pernah melewati waktu yang terentang panjang, dimana hanya engkau yang mengerti tentang hatimu.
Kita juga baru saja melewati jarak dan waktu saat aku memupuskan ragu
*Tapi aku belum pernah sesedih ini, saat aku telah mengerti hatiku sendiri*'
__ADS_1