
Ardelia duduk membisu di samping Raka yang mengantar pulang menjelang tengah malam. Tidak jauh berbeda dengan maminya yang juga diam tak banyak bicara. Suasana terasa begitu canggung. Bahkan untuk Raka sekedar memutar lagi yang manis.
" Biar aku nggak ngantuk. Boleh ya tante, aku putar musik ? ". Tentu itu bukan permintaan ijin, karena alunan nada dengan petikan gitar akustik yang manis segera terdengar memenuhi atmosfer mobil ini.
" Ya... biar kita juga tegang begini ", sahut Palupi. Sementara Ardelia benar-benar tak bersuara.
Gadis itu bersandar pada jendela, menatap kosong pada hamparan jalan di depannya. Raka mencoba untuk tetap berkonsentrasi pada kemudinya. Walaupun ia sangat, sangat mengkhawatirkan kondisi gadis itu. Sementara itu, suara bariton dari Victor Lundberg mulai terdengar mengalun merdu.
Raka memutuskan untuk ikut bersenandung pelan. Mengikuti lirik lagu berjudul I Remember, Grown Apart, dan Where You Are. Hingga akhirnya mereka telah sampai di halaman rumah.
" Terimakasih ya nak, maaf selalu merepotkan mu ". Palupi tersenyum sambil menepuk pundak pemuda itu saat berpamitan dengan mencium punggung tangannya. "Cici ". ia menegur putrinya yang berlalu tanpa berbasa-basi dengan sang pengantar. " tidak bilang terimakasih dulu sama Raka ".
Sangat canggung bukan ?. Raka pun jadi sedikit kebingungan bagaimana harus mengambil sikap. Tapi kemudian ia memberikan isyarat pada Palupi. Sementara Ardelia terpaku sesaat setelah membuka pintu pagar rumahnya.
" Ibu masuk dulu nak ", akhirnya Palupi mendahului, meninggalkan kedua oarang muda itu. Raka sesaat mengangguk dan menyampaikan isyarat jika semua akan baik-baik saja.
"Delia ", ia menyentuh pundak kekasihnya yang masih terpaku.
"Mungkin kita memang harus segera menikah ".
Satu suara yang terdengar parau namun tercitra jelas di indra pendengaran Raka. Ia pun lalu menjajari Ardelia, meraih pergelangan tangan gadis itu perlahan. Lalu membawanya melangkah, menyusul Palupi sang ibu yang sudah menghilang masuk ke dalam rumah, walaupun pintu masih dibiarkan terbuka.
" Dulu, ada seseorang yang selalu menasehatiku sambil menatap tajam dengan mata sipitnya yang indah. Katanya, tidak baik memutuskan segala sesuatu dalam keadaan perasaan ..... yang sedang kacau ". Balas Raka kemudian sambil membimbing Ardelia untuk masuk ke dalam rumah.
" Dia selalu memintaku untuk tidak menurutkan emosi, tidak gegabah, tidak mengikuti amarah ". Kemudian Raka menghentikan langkah dan juga dukungannya sesaat setelah keduanya sampai tepat di depan pintu. Dengan lembut menghadapakan wajah cantik yang kuyu itu padanya. Lalu membenahi sulur rambut yang hitam dan lembut dengan sangat lembut.
" Istirahatlah, bersandarlah pada Sang Maha Tahu, mohon petunjuk. Yang jelas .... aku selalu mendukungmu ". Dan sebuah kecupan lembut seolah menyampaikan perasaan peduli yang tak terperi, memperjelas rasa sayang yang tak membutuhkan balasan. Raka menyerukan kejujuran perasaannya dengan sepenuh hati, melalui belaian lembut bibirnya di kening Ardelia.
" Selamat malam sayang ".
Begitu lembut, hingga Ardelia tak kuasa menolak apapun yang dilakukan Raka padanya. Pria itu mendukungnya masuk, lalu menutup pintu rumah itu perlahan diiringi dengan salah satu senyuman termanis yang sering kali ia rindukan.
Dan malam pun bergulir menapaki jalan dunia seperti milyaran tahun sebelumnya, tapi dengan membawa cerita yang selalu berbeda. Kali ini malam seolah menghantarkan satu lagi pemuda pada tekad bulatnya. Pemuda yang tidak lagi memikirkan bagaimana dengan dirinya, namun ia hanya selalu mencari cara bagaimana agar senyum bahagia itu tak memudar dari wajah wanita terkasihnya.
**************************
Sebenarnya Keanu lebih suka menyantap hidangan nusantara. Apalagi tidak lebih dari dua minggu ia berada di tanah air. Segala tentang sate, rendang, soto, gado-gado dan tentu saja aneka sambel yang kawin dengan segala lalapan, menghiasi isi kepalanya saat menjelang jam makan.
Tapi kali ini, ia ditemani dengan salad sayuran dan salmon grill. Terpaksa ?, oh tentu tidak, karena hidangan itu cukup nikmat. Dan lagi ia pun sedang menunggu kedatangan Hanin. Sedikit meleset dari perkiraannya, mungkin gadis itu harus mengganti seragam chef nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Tepat ketika ia selesai menghabiskan sisa brown saus yang delight itu, sosok gadis mungil dengan kulit putih yang hampir seperti pucat itu muncul. Sambil berjalan sedikit tergesa, ia mengikat rambutnya dan mengembangkan senyum.
" Sorry, lama ya ", sapa Hanin dengan ceria.
" Nggak, nggak kok. Apalagi kalau yang nemenin seenak ini ". Seloroh Keanu sambil menunjuk sisa jejak keberadaan salmon grilled nya.
Hanin tertawa kecil sambil mendudukkan dirinya dengan nyaman di hadapan Keanu. Lalu beralih dengan cepat menerima panggilan yang meraung-raung dari gawai nya.
" Halo mas ", sapa nya masih dengan senyum ceria. Tahukan siapa yang menelpon?
" Dia aman, bersamaku.... tenaaaang. Oh ya, kalau rindu sudah tak tertahan, mending buruan pulang. Dari pada jadi kudisan.. ".
Yaelah si bang Key, hobi banget menimpali dua insan yang sedang kasmaran sih. Mau bagaimana lagi, bakat dari lahir sih.
Tentu saja Hanin semakin terkikik kecil, sementara Haidar di seberang sana terdengar melenguh gemas. Dan sepertinya keseruan akan segera berlanjut....
" Katanya mau buru-buru balik, dah ngebet kawin... ", Haidar tak mau kalah.
" Tenang, *soon to be * laah, ini dah dapat restu dari mama tersayang. Makanya, harus lebih getol cari tambahan penghasilan. Oh ya, boleh dong bantuin ngasih job tambahan ... ha..ha...ha.. ".
" Dasar bang 'Key lu. Aku aja masih status kuli ".
"Diiih ... kuli di perusahan sendiri ini. Ayolah bang ... jangan pelit-pelit gitu dong ".
Namun begitulah, ketika sebuah ikatan itu bisa begitu cepat menjadi solid karena pengaruh ruang dan waktu yang tepat. Kedua pria yang dipertemukan saat sama-sama jauh dari keluarga, saat sama-sama baru mulai membangun karier. Jatuh bangun dengan cepat untuk demi bisa bertahan dengan kerasnya rasa sakit. Pada akhirnya mampu mengeratkan rasa persahabatan dengan cepat. Begitulah Keanu dan Haidar, yang bertemu untuk pertama kalinya diatas pesawat yang membawa keduanya kesebuah negeri di benua biru.
" Bang Key beneran mau nikahin Selma ? ". Hanin bertanya sesaat setelah keduanya mengakhiri panggilan video dengan Haidar.
" Yesssss... kau pikir aku main-main ? ".
" Bukan begitu bang, maksudku sudah urus semua keperluannya ?... ehmm.... kedua orang tua kalian ? ".
" Nikah di Jerman bukannya enak banget ya. Cukup datang ke kantor catatan sipil ... dah selesai. Tapi aku tetap menyertakan kedua orang tua Selma, juga ibu ku. Karena hanya beliau yang aku punya ". Keanu tiba-tiba saja nampak meredupkan tatapannya. " Tapi aku tetap akan mewujudkan pernikahan impian Selma ".
" Mengenakan gaun putih dan berjalan seolah melayang menghampirimu di altar ? ".
" Iyups ..., ", Keanu mengiyakan penuh semangat. " Sayangnya kau tidak bisa ikut menyaksikannya *live * ya. Balik bentar aja Nin, tiga hari aja .... bisa ya ? ".
Hanin melotot sambil meruncingkan bibirnya demi melihat gara Keanu yang memelas. Tapi pemuda itu justru semakin getol pasang mimik wajah polos serupa baby mpus yang ngajakin jalan-jalan sore.
__ADS_1
" Nggak berani lah, masih anak baru. Belum ada dua bulan kerja, mosok sombong banget minta cuti tiga hari... mo'ke Jerman lagi. Diiiih .... bisa dirujak orang se dapur ".
" Nasib kaum pekerja ya, Nin "
" He' eh ".
*************************************************
Hari ini terasa cukup berat untuk seorang Raka, beberapa kali ia membuat gerakan peregangan untuk leher dan bahunya yang terasa kaku. Ia melirik sesaat pada dua orang perawat yang membantunya hari itu.
" Joko masuk kapan ? ", tanyanya kemudian.
" Lusa dok, sore ini baru berangkat dari Sragen katanya :, jawab perawat berhijab yang bertubuh sedikit gempal.
" Ada jadwal operasi untuk besok ? ", tanya Raka lagi.
" Kosong dok, tapi lusa ada dua. Mas Joko sudah konfirmasi bisa ", sahut perawat yang terlihat lebih muda cepat.
" Oh, okay. Antrian sudah habis ? ", tanya Raka lagi.
" Ini yang terakhir. Pejuang Kecil kita ", dan perawat muda itu membawa masuk seorang anak berusia tujuh tahunan dengan armsling yang mendukung tangan kirinya. Dari atas kursi roda, bocah laki-laki itu mengembangkan senyuman dengan wajah sumringah.
" Dokter Raka ", serunya ceria. " Lihat ... aku dapat kata-kata sayang dari teman-teman ... ". Sambil menunjukan coretan-coretan di gips kaki kanannya.
" Wuuuuuiiih .......... keren ". Raka pun terlihat sumringah menyongsong pasien kecil terakhirnya hari ini.
Hanya setidaknya tiga puluh menitan untuk Raka menyelesaikan memeriksa pasien terakhirnya. Untung saja tidak terjadi drama seperti sebelumnya, si kecil pasiennya itu mulai terbiasa dan tidak merasa takut lagi. Sehingga ia bisa lebih berkonsentrasi dan mempercepat semua penangan. Bahkan Raka pun memutuskan untuk ikut serta keluar bersama si kecil dan keluarganya itu, karena ia memang sudah membuat janji dengan tante Orlin tercintanya untuk makan siang bersama hari ini.
Beberapa perawat yang berpapasan nampak menganguk hormat padanya. Raka tersenyum tips sambil terus melanjutan langkah panjangnya menuju ruangan kantor tantenya. Dan ia pun berhenti di depan sebuah pintu dengan papan bertuliskan dr. Mesya Adonia Orlin SpA. Tepat saat ia akan meraih engsel, saat itu juga pintu dibuka dari dalam.
Raka sedikit terkejut, bukan karena momentum itu. Tapi karena melihat siapa yang baru saja keluar dari ruangan itu. Seorang wanita yang mungkin seusia diatas umur tantenya, dengan perawakan tubuh yang kecil, lebih tepatnya kurus. Ia pun membalas anggukan wanita itu dengan hal yang sama dan seulas senyum menyampaikan rasa hormat.
Pasti wanita ini salah satu teman tante Orlin, begitu pikirnya. Raka menyisih memberikan jalan untuk wanita berpenampilan sederhana namun sangat elegan itu. Wanita itu tidak berhijab, namun mengenakan scarf untuk menutupi kepalanya, dan ia tahu betul berapa harga kain lembut berwana coklat dengan corak floral itu. Simple but rich.
" Grandma ... ", tiba-tiba terdengar d belakangnya terdengar suara anak kecil yang ceria. " Are you finish ? . let's buy ice cream now ... ". Bocah itu datang entah darimana bersama wanita pengasuhnya, mungkin Raka terlalu penat hingga tak bisa konsentrasi dengan sekelilingnya. Raka menatap sekilas pada mereka. Seorang anak yang tampan dengan warna rambut kecoklatan alami, seperti sepasang irisnya. Kulit putih Asia yang pastinya akan jadi aset ketampanan masa depan si kecil itu.
Pria itu masih menahan pintu saat wanita itu tersenyum melewatinya. Raka pun segera masuk kedalam ruangan tante Orlinnya tanpa mengetuk pintu lagi. Saat sudah berada di dalam ruangn dengan wangi vanila yang lembut dan berhawa sejuk itu, ia justru tidak menemukan sosok tante Orlin tersayangnya. Tapi terdengar suara dari arah kamar mandi, Raka pun yakin jika tante nya berada disana.
Ia pun lalu memutuskan untuk duduk menunggu di sofa tamu. Sambil sesekali melihat gurauan di WA group sejawatnya. Tentu saja sudah mulai ramai, karena ini sudah jam istirahat siang, pastilah jadi kesempatan untuk melepaskan penat setelah berkonsetrasi penuh sesiang ini.
__ADS_1
Tak lama kemudia suara pintu dibuka terdengar, Raka mengalihkan pandangannya. Tapi pemuda itu mengernyitkan kening, memicingkan mata dan terpaku menatap keadaan wanita yang baru saja keluar itu. Wajah cantik keibuan itu tampak masih basah, tapi sepasang mata yang memerah dan juga cuping hidung yang berwarna senada itu jelas-jelas menunjukan sisa tangis yang belum mereda.
" Tante .... tante kenapa ? ".