
Melepaskan diri dari hal yang sudah dipelajari dan digeluti selama hampir satu dasawarsa dan sudah menjadi nyawa dalam setiap tarikan nafasmu karena sudah menjadi warna yang dipilih untuk dasar aura kehidupan mu .... rasanya pasti sangat sulit dan sakit. Mungkin seperti mencabut papiloma yang tumbuh di telapak tangan mu.
Haidar tersenyum kecut sambil mengalihkan konsentrasinya, ia kembali pada batang-batang kurva dengan warna berbeda yang nampak memenuhi layar laptop. Mencoba memperhatikan aneka diagram dan membuat korelasi antara satu dengan yang lainnya. Sesuatu yang belum terbiasa dilakukannya, sehingga membutuhkan kepekatan konsentrasi tingkat tinggi. Ini adalah tentang analisa keuangan, saham perusahaan, permintaan pasar, trend yang sedang berlaku dan probabilitas yang mungkin terjadi.
Well Haidar..... ini tidak jauh beda dengan yang disampaikan dokter Annete tadi. Tentang sesuatu yang kau khawatirkan.
" Pria kecil umur 8 tahun, jatuh dari pagar dan tertusuk besi tajam di dadanya.... bersyukur tidak ada organ dalam yang terkena. Tapi ..... perdarahannnya sangat hebat, sudah bisa ku hentikan ..... ".
" Waspadai Komplikasi Efusi Perikardium ", potong Haidar cepat.
" Itu yang aku khawatirkan .... nafasnya sudah mulai tidak stabil.... lantas bagaimana ? ". Suara wanita diseberang sana terdengar cemas dengan getaran yang tak bisa disembunyikan.
" Sudah hubungi spesialis bedah dan bedah jantung ? ", tanya Haidar lagi.
" Sudah ... pediatric juga ".
" Good !!!! pertahankan kondisi vitalnya .... komplikasi efusi perikardial bisa ditangani dengan aman asalkan kau tenang dan tepat waktu. Ini anak... ingat !!!!! harus lebih teliti ".
" Seandainya .... mereka tidak datang tepat waktu bagaimana ? ". Suara dokter Annette semakin terdengar penuh kekhawatiran.
" Terpaksa ..... lakukan sendiri perikardiektomi ... kalau perikardiosentesis sudah tidak mampu menyelamatkan lagi ... ".
" Gila..... ", desis dokter Annette. " Aku bukan kau ..... ".
" Kenapa ambil spesialis kegawatan .... ya begini resikonya ".
" Haiiiis ..... salah ngomong aku. Aku telpon lagi nanti .... langsung angkat !!!!! ".
" Siaaap..... ". Haidar tertawa kecil.
Efusi perikardium adalah situasi dimana terjadi penumpukan cairan dengan cepat pada lapisan perikardium yaitu selaput yang melapisi jantung, yang terdiri dari dua lapisan tipis menyelubungi jantung. Efusi perikardium yang berlangsung cepat dan jumlah cairannya banyak dapat mengganggu fungsi jantung dalam memompa darah. Kondisi ini disebut dengan tamponade jantung dan bisa menyebabkan gagal organ, syok, bahkan kematian. Dan yang dihadapi dokter Annete saat ini lebih pelik lagi karena terjadi pada anak kecil.
Perdarahan berat karena luka di dada si kecil tadilah yang pastinya menyebabkan syok dan memicu efusi perikardium pediatric. Organ pada anak-anak itu sangat spesial, selain lebih kecil ukurannya juga lebih sensitif terhadap perubahan mendadak. Yang seharusnya mungkin hanya akan terjadi dalam hitungan jam, bisa menjadi hanya beberapa menit saja. Dan ini adalah mimpi buruk jika tidak diwaspadai sejak awal.
Haidar melirik teleponnya, sudah hampir sepuluh menit berlalu dan benda itu tergeletak nyaman tanpa bergetar. Ia mulai sedikit menarik nafas lega, namun masih dengan harap-harap cemas. Semoga dokter Annete berhasil melakukan perikardiosentris atau tindakan memasukkan jarum melalui dada ke dalam efusi perikardial yang dilanjutkan dengan kateter untuk menyedot cairan keluar dari perikardium. Atau para dokter bedah dan ahli jantung itu tepat waktu untuk melakukan perikardiektomi.
Prosedur perikardiektomi ini harus dilakukan oleh dokter bedah serta dilakukan dengan anestesi umum. Pada perikardiektomi, dokter akan membuat sayatan di dada dan memotong bagian perikardium, sehingga menguras efusi perikardial. Untuk kasus yang ditangani oleh dokter Annette ini seharusnya tidak perlu sampai dengan prosedur ini. Tapi kembali lagi, ini adalah pasien anak-anak dengan kompleksitas resiko yang yang saling terpilin begitu masiv .... aaahh... semoga semua baik-baik saja.
Resiko yang mungkin saja bisa dialami oleh si pasien anak itu tadi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan resiko yang bisa dialami oleh anak perusahaan yang baru saja di akuisisi oleh ayahnya ini. Perusahaan yang terluka pada pusat manajemennya yang kemudian mendapatkan suntikan dana segar serta kesempatan untuk mengerjakan proyek besar juga. Harus benar-benar memperhatikan seluruh aspek sumberdaya yang ada di sana.
Selain kapasitas dan kemampuan perusahaan juga karakteristik para sumber daya manusianya yang ada di sana. Walaupun negara tembok Berlin itu terkenal dengan kecerdasan dan dedikasi pekerja yang penuh disiplin, tapi bersikap hati-hati dan waspada tentu tetap menjadi kunci utama untuk sebuah keberhasilan. Tidak ada salahnya untuk mempelajari secara spesifik karakter masing-masing manajerial yang ada di sana.
Haidar tersenyum, seolah memberi semangat sekaligus menertawakan dirinya sendiri.
" Organ tubuh manusia itu sangat unik.... tapi tidak bisa berdiri sendiri, mereka adalah universal yang saling bergantung satu sama lain. Apalagi pada bayi dan anak-anak .... they are so special ". Begitu yang selalu dikatakan ibunya, mama Orlin sang dokter spesialis anak yang terkenal pintar dan lembut.
" Perusahaan itu bukan hanya sekedar bagaimana mendirikan, memperbesar dan menjaga sebuah aset. Tapi memahami bagaimana komponen di dalamnya ..... dekati, pahami.... perkuat dari dalam... mau kau akan mampu bertahan " . Demikian sang ayah, Mandala Runako Arsenio selalu berpesan. Walaupun terkenal dengan sifatnya yang dingin dan sangat tegas, tapi pria itu sebenarnya adalah pribadi yang sangat hangat dan penuh kasih sayang.
Suara telepon selularnya yang kembali berdering mengalihkan konsentrasinya dari file-file yang berisi tentang information detail tentang orang-orang perusahaan yang sedang ditelitinya. Haidar kembali tersenyum saat membaca nama si pemanggil. Mungkin hampir tiga puluh menit, pada akhirnya dokter Annette kembali menelponnya.
" Huuaaa.... nggak mau lagi jadi spesilis kegawatan ...... huuaaa.... ".
Suara diseberang sana dengan sedikit raungan yang memekakkan telinga, tapi Haidar menangkap ada nada lega yang kentara .
" Ha... ha... ha... akhirnya perikardiosentris atau
perikardiektomi ? ".
" Dua - dua nya.... huuuaaa..... aku nggak bisa bangun .... dengkul ku lemes ".
__ADS_1
" Cup.... cup... cup..... tapi berhasil'kan ".Ia membayangkan kalau di nonik blasteran Belanda Sunda ini pasti sekarang sedang duduk dipojokkan sambil mengatur nafas. Tampang garangnya pasti sedikit luntur disapu air mata yang sedari tadi tertahan oleh ketegangan. Saat sudah berakhir baik... pasti kelegaan itu tak mampu lagi membendung buliran air yang berloncatan dari sudut mata si nonik ini.
" Iya.... " .
" Selamat ..... selamat .... anastesi nya ? ", tanya Haidar lagi.
" Nggak sempat liat namanya...". Suara ... srrrtt, pasti Annette menyeka ingusnya. " Tapi ganteng ... kayaknya pernah ketemu ... kakak tingkat kali ".
" Lupa lo' .... si Dave' itu.... iya kakak tingkat. Masih singgle'... buruan kejar ".
" Ngaco!!!!.... iya kalo bener ... Dave'. Kalau bukan? .... eh .... dia kesini ".
" Dave ' kan ? ", Haidar tetap menyela cepat bahkan kini ia mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video.
Benar saja, si cantik dengan rambut kecoklatan dan kulit putih kemerahan serta sepasang mata abu-abu itu saat ini duduk bersandar di kursi pojok ruangan. Masih dengan sisa air mata yang mulai disusutnya tergesa. Membuat Haidar tak mampu lagi menahan tertawanya.
" Tuh ... orangnya.. ".
" Bener itu si Dave .... kasih hp mu .. aku mau ngomong sama dia ".
" Awas !!!!! jangan macam-macam .... ". Annette masih sempat mengancam.
" Nggak janji !! ".
Tampilan gambar di layar itu terlihat sedikit bergoyang, karena dibawa untuk berjalan. Haidar menunggu beberapa saat hingga akhirnya yang muncul kemudian seraut wajah yang nampak sumringah menyapanya.
" Bro ..... lama tak jumpa, apa kabar nih... the next dr. Lie ... ", sapa itu terdengar sangat ramah dan bersahabat.
" Hushh!!!!!!..... nggak bisa dibandingkan aku ini dengan dr. Lie A Dharmawan.... ngawur kamu. Beliau dokter besar berhati mulia.... jangan asal ah. Piye' kabarmu 'rek ? ... wis entuk bojo urung koen iku? ".
" Ha.. ha.. ha.. gak nyandak utekku mikir bojo. Lagi mari 'ae residen .... Ono calon po'o ? ". Belum kepikiran cari istri, baru saja selesai jadi residen, ada calon untuk ku ?. Begitu balas Dave dengan gaya yang medok.
" Lah... pas iki. Arek wedok iku mau... nonik Londo Sunda sing mari nangis iku .... sak iman ambe' awakmu. Wis ta'lah ..... ndang comot gowo gerejo kono. Ojo kesuwen .... limited edition iku .... ". Lah pas ini, gadis yang tadi... nonik Belanda Sunda yang habis nangis itu, satu iman dengan mu... segera bawa ke gereja, jangan terlalu lama, limited edition dia. Begitu kata Haidar yang disambut gelak tawa Dave.
" Sudah kenalan belum ..... tuh Mr. Dave Filantropi Setiawan ... arek Suroboyo. Jarang ada loh yang paket komplit macam dia .... kayaknya kalian memang ditakdirkan untuk ketemu deh 'Net ".
" Whiiiiy .... kumat sok dukunnya ", Annette mencibir dan Dave terkekeh berusaha menghilangkan rasa malunya.
" Tadi ada yang nangis looh .... kamu tahu Dave' ? ".
" He... he... he... untung tumbangnya pas udah selesai perkardiektomi .... dia hebat koq.... ".
Pujian spontan yang dilontarkan Dave membuat Annette tak bisa menutupi rasa malu yang menjalar di wajahnya. Terlihat gadis itu tersipu-sipu. Haidar semakin tertawa lebar melihat semua yang terpampang di layar teleponnya. Lalu setelah sedikit berbasa-basi dan saling mengucapkan selamat bekerja kembali, panggilan itupun benar-benar berakhir.
Haidar masih menyimpan sebuah senyuman kecil saat kembali menekuri layar dan dokumen di hadapannya. Okay.... back to the real life man, pacunya pada diri sendiri.
Inilah yang sekarang harus kau hadapi. Jika biasanya adalah organ manusia yang sedang sakit, ini pun tak jauh beda. Organisme besar bernama perusahaan yang kini sedang sakit. Harus mengetahui betul seperti sakitnya, bagaimana keadaan sebenarnya di dalam tubuh perusahaan itu, lalu menentukan apa yang sebenarnya membuatnya menjadi sakit.
Tapi ada satu hal yang membuat Haidar benar-benar tak habis pikir dengan tindakan yang diambil oleh papahnya. Yaitu mengakuisisi perusahaan sekarat itu. Memang sih kalo tidak sekarat, mana mungkin juga perusahaan itu akan dengan mudah dapat diakusisi. Dan ini adalah teka-teki yang harus dipecahkannya sendiri.
Bertanya pada kakak Namu tersayang ??? .... oh no.. no.. no !!!!!!!. Itu pilihan terakhir dan tanda ia menyerah kalah jika sampai pada tahap itu. Lihat saja seringai puas si kakak kulit lobak tadi pagi saat Mr. bossmand memberinya setumpuk file. Kelihatannya puaaaaaas... banget dia.
" Kalau kerepotan .... bisa kok ku bantuin. Tentu dengan tarif per-menit ... yang sesuai .... ".
Seandainya saat itu mereka berdua tidak sedang berjalan keluar dari ruangan direktur utama, dan kedua tangan Haidar tidak sedang serepot ini membawa file. Pastilah tidak hanya sundulan dengkul Haidar yang mendarat di bokong Namu.
" Aduuuh ". Namu mengaduh
Padahal sundulan dengkul itu tidak setelak dan semulus yang diharapkan Haidar. Tapi kakaknya ini memang sangatlah lihai jika sudah mengeluarkan jurus cari perhatian. Terbukti kecepatan suaranya sebanding dengan kecepatan mengelaknya. Dan kini, ia tertawa terkikik-kikik.
__ADS_1
" Bahagia banget .... ".
" Ooh... tentu dong dek'. Welcome to this world ", masih dengan seringai penuh kepuasan khas Baskara Namu Perkasa. " Dan lo' .... tetep harus ke Jerman ".
" So... nggak kasih kesempatan buat ku mengejar cinta niiih ? ".
" No debat .... sudah jadi maklumat dari Mr.Boosmand ... ada gitu yang bisa menyangkal ? " .
" Biarpun itu mamah ? ".
Dan Namu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Haidar. Lebih tepatnya untuk meyakinkan Haidar bahwa dia hanya bisa menerima saja saat ini.
Beginilah akhirnya. Kini Haidar berkutat dengan segala informasi perusahaan yang baru saja di akuisisi oleh 'Ars Group'. Sebuah perusahaan farmasi yang sebenarnya lumayan kuat, tapi dalam tiga tahun terakhir entah mengapa mengalami penurunan yang cukup drastis, hingga menempatkannya pada posisi kritis. Kecurigaan yang paling mendasar tentu saja mafia obat atau monopoli distribusi pada negara-negara tertentu. Atau bahkan ... mungkin kedua-duanya. Bisa jadi diperburuk karena korupsi di dalam perusahaan.
" Butuh bantuan ?? ".
Suara yang lembut dan terdengar ramah itu hampir bersamaan dengan suara pintu terbuka. Sosok cantik tinggi semampai dengan dress dari kain batik warna biru yang cantik berpadu dengan setelan blazer hitam, terlihat memperanggun tampilan kakak yang ayu ini.
" Mba Cinta nggak ada kerjaan ?. Nanti dimarahi pak Wadir loh .... ".
" Jam makan siang ... kalau dia berani marah-marah... kita kempesin ban mobilnya ".
" Ha.. ha.. ha.. ". Haidar tertawa, tentu saja sejak dulu hanya kakak cantik nya inilah satu-satunya yang paling berani beradu bantah dengan kakak Namu nya. " Ya deeeeh..... boleh ... boleh... ".
" Kapan berangkat ke Jerman ? ", tanya Cinta kemudian.
" Satu Minggu lagi... tapi kata papa ... lebih cepat lebih baik ".
" Heeem... ". Cinta menarik kursi mensejajarkan duduknya dengan Haidar di ruang konferensi mini itu. Dengan cepat ikut larut dalam semua informasi yang tersaji dihadapan mereka.
Jika ada pepatah, ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Kali ini Haidar benar-benar merasakan arti dari pepatah itu. Dengan bantuan kakak cantiknya ini, yang semula memusingkan dan terlihat terbelit sedemikian rupa, perlahan-lahan ia mulai bisa memahaminya. Lalu membuat sketsa, menuangkan semua hipotesanya, mengelompokkan faktor penyebab, langkah-langkah yang akan diambilnya. Bahkan hingga sampai milestone nya pun berhasil dia buat.
" Siiiip.... tinggal kau mantapkan itu ".
" Okay mba ", Haidar terlihat lebih sumringah. " Masih ada waktu .... ayo kutraktir makan siang ".
" Halaah .... delivery lagi? ".
" Nggak laaah.... yang lebih berkelas dong ", bangga Haidar sambil beranjak berdiri.
" Di mana ? tinggal lima belas menit lagi ... waktunya mana cukup ??".
" Ada..... Rawon Legit Kantin Bu Firman ".
" Ha... ha... ha... sudah kuduga ". Cinta tertawa dan melangkah mengikuti adik sepupunya.
Menuruti tuntutan dari para demonstran di perut keduanya, membuat mereka bergegas melangkah menuju lantai dimana kantin favorit berada. Bayangan nikmatnya kuah rawon yang hitam segar dengan irisan daging nan melimpah, serta taburan bawang goreng yang bersanding dengan taoge pendek, berkawan dengan sambal terasi, kerupuk udang dan juga telor asin..... duuuuh... bikin perut semakin riuh. Haidar dan Cinta pun kompak mempercepat langkah mereka.
.....................
***ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Author Corner...
Ini*** adalah episode dengan rentang waktu terpanjang yang pernah ditulis otor..... Gila!!!!!! 5 hari... padahal ceritanya cuma standar 2000 kata.
Ternyata .....covid-19 benar-benar mengalahkan ku.
Dari tanggal 6 sudah mulai bergejala, tgl 7 tambah parah, tgl 8 Swab PCR dan masih bertugas sd tgl 9.... tgl 10 isolasi mandiri di rumah dengan seluruh keluarga, total berjumlah 5 orang. Terkonfirmasi (+) tiga orang termasuk othor.
Loooh ??? otor kena ?....
__ADS_1
Iyes ... bahkan sampai saat menulis ini pun masih dengan nafas yang sesak, nyeri dada pada saat menarik nafas, keringat dingin dani juga ..... ***dunia ku tanpa aroma ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
So..... sorry coz I'm so late upload this episode***