PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Relung (3)


__ADS_3

Pernah mendengar tentang atomic clock?. Ya benar, jam atomic yang dipasangkan pada satelit, yang berjalan empat puluh lima juta detik lebih cepat setiap harinya daripada waktu di Bumi. Bukan karena jam di satelit kurang akurat ketika berada di ruang angkasa, melainkan waktu berlalu dengan kecepatan yang berbeda dengan di Bumi. Jika kita adalah salah satu komponen detik pada jam itu, mungkin melihat lajunya waktu dibumi terlihat begitu lambat pastinya.


Dan saat ini Raka merasa benar-benar seperti berada di tengah-tengah batas ruang waktu antara bumi dan atomic clok itu, bergerak dalam momentumnya sendiri. Menjadi suatu senyawa yang melayang-melayang dalam atmosfer lembayung serta biru, serta berlatar belakang angkasa tak terbatas yang gelap pekat.


Menyaksikan betapa lengkungan ruang dan waktu itu tercipta. Persis sama seperti yang dibayangkannya saat dulu mempelajari tentang teori relativitas Einstein. Dimana dikatakan jika ruang dan waktu itu beriringan, sejalan atau sebanding. Tapi terkadang, ketidaksetaraan antara keduanya terjadi dan membuat sebuah lengkungan.


Walaupun dalam hukum fisika akan selalu konstan dimanapun, namun sesuatu yang terjadi pada ruang dan waktulah yang membuatnya berbeda. Melalui pandangan yang berbeda akan menghasilkan ruang dan waktu kejadian secara berbeda pula. Semua hal tersebut sifatnya relatif. Peristiwa yang terjadi pada saat yang sama untuk satu pengamat dapat terjadi pada waktu yang berbeda untuk yang lain.


" Dia berubah ... atau memang aku yang benar-benar tidak memahami sepenuhnya tentang putraku sendiri. Padahal aku ibunya ... yang melahirkan dan yang membesarkannya. Tapi sungguh ..... ". Dan raut sedih sang mama membuatnya urung untuk melanjutkan langkah memasuki ruang tengah rumahnya. Perlahan Raka berbalik pergi meninggalkan rumah itu kembali dalam senyap yang menyimpan sejuta rahasia.


Langkahnya yang cepat melesat dalam sepi senyap, seperti sayatan yang dibuat oleh pisau bedahnya selama ini. Tak teraba tapi menghadirkan nyeri. Membawanya duduk menikmati malam yang masih menyisakan gerimis sambil menghisap dalam-dalam sebatang sigaret yang membara kecil diujungnya. Namun saat beberapa kali hisapan panjang yang beruntun dengan hembusan asap putih setelahnya, akhirnya membuat ia terbatuk-batuk. Raka pun mematikan ujung nyala bara pada benda kecil itu.


Raka tersenyum kecil, karena hatinya sedang tertawa keras mengejek dirinya sendiri. Menyedihkan, ia kini tak mampu bertemu muka dengan kedua orangtuanya. Padahal sebelumnya, ia telah begitu bertekad bulat untuk menerjang apapun. Tapi kini ia melarikan diri dan duduk terpuruk di gazebo rumahnya. Sementara ia tahu pasti, seisi rumah itu pasti sedang menunggunya.?


Mungkin sebenarnya ia tetaplah konstan seperti hukum fisika itu... tak pernah berubah, atau hanya nampak berubah saja. Nyatanya, Ardeli tidak pernah menganggapnya demikian. Padahal gadis itulah yang sangat mengetahui sisi kelam dirinya. Atau mungkin dirinya sendiri yang sangat piawai dalam berkamuflase ?, hingga sang bunda tak mampu merabanya lagi.


Tapi, bukankah hal ini yang diinginkannya?. Menyimpan rapat-rapat semua rahasia kelam.


Ruang dan waktu yang saling erat terhubung dan berpaut: ketika ruang membengkok atau meregang maka akan memengaruhi waktu. Sementara membengkoknya atau meregangnya ruang-waktu menjadi penyebab atas terjadinya gravitasi di alam semesta. Dan gravitasi hidupnya kini adalah pada sosok Ardelia.


Begitulah Teori Relativitas dalam Fisika Cinta seorang Narendra Raka Dipa.


Tapi malam ini, seorang Raka berdiri diambang gelisah dan gundah. Ada banyak kata yang tertelan oleh pusaran rasa dan tenggelam dalam palung hatinya. Sementara kemudian terjadi sebuah pergeseran dari dua lempeng yang berbeda di kerak kehidupannya, akhirnya menimbulkan patahan yang memicu tsunami besar. Saat lempeng kepentingan pribadi berbenturan dan lempeng kepentingan keluarga besar saling bertubrukan, hal terimpulsif yang dilakukannya adalah sebuah kebohongan. Dan itu adalah tsunami bagi kehidupan seorang Ardelia, yang perlahan sedang bergulung merayap mendekat.


Gadis cantik itu, yang seharusnya ia lindungi ya sebenarnya sangat ia cintai, kini harus tercemar namanya. Dia telah membuat sebuah kebohongan. Dengan dalih apapun.... kebohongan tetaplah sebuah kesalahan.


Raka termenung cukup lama, hingga bara kecil dari sigaret yang terjepit kedua belah jarinya meletik. Menghantarkan panas yang cukup mengagetkan. Membuatnya tersentak sadar dari lamunan panjang.


Hembusan nafasnya yang menghempaskan beban berat terdengar sebelum kemudian ia bangkit. Melangkah dengan pasti kembali kedalam rumah besar itu.


Apa yang sedang dihadapi Ardelia lebih berat dari apa yang harus kau hadapi Raka. Kau ini pria.... lihat dirimu, tidak seharusnya kau berbuat seperti ini. Jadilah seorang Raka, pria gagah dengan sikap ksatrianya. Pasti ini adalah saatnya, membuka semua tabir.... dan menghadapi kenyataan. Jangan pernah lari lagi. Hadapilah !!!!!


Raka tersenyum, memberikan pukulan kecil dengan kepalannya ke dadanya sendiri. Memberi semangat pada hatinya.


Kamu pasti bisa Raka.....


" Assalamualaikum ", suaranya sedikit lirih. " Mah ... Pah ". Dan sang Raka pun kini berdiri diambang pintu ruang keluarga rumah besar itu.


“ Wa’alaikum salam “. Suara berbeda warna itu terdengar seirama, sungguh jauh berbeda dari ketakutannya, ayah dan ibunya menoleh serempak menyambut.


“ Mah… Pah… “. Raka mengulas senyum dan berjalan mendekat. Tapi belumlah sampai ia pada jarak terdekat dengan kedua sosok yang tampak tengah berbincang serius di ruang keluarga itu, sebuah pelukan tepatnya tubrukan hangat dari mamanya telah menyambut.


“ Kau kenapa selalu membuat mama khawatir… kenapa tidak pernah cerita apa-apa… kenapa selalu mengambil keputusan sendiri …. “.


“ Maaf Ma' “.


“ Sudah berapa bulan ?, bagaimana Delia? Sehat? …. ah Raka….. kau sungguh keterlaluan… “. Hana yang memeluk putranya dengan perasaan tak menentu terlihat seperti tenggelam dalam rengkuhan bahu bidang itu.


“ Maaf mama…. maafkan Raka “. Rasanya seperti tersedot dalam lautan pasir hisap, begitulah Raka merasakan dirinya saat ini. Ia seperti kesulitan bernafas, bukan hanya karena pelukan sang mama yang begitu erat, namun juga atmosfer yang terasa menipis.


" Biarkan dia duduk dan beristirahat dulu sayang ".


Suara yang berat dan lembut itu teriring dengan sebuah sentuhan yang kemudian disusul terlepasnya pelukan dari sang mama. Tak lama kemudian mereka telah duduk melingkari meja di ruangan itu. Dan sang papa, Arjuna kini tengah menatap Raka dengan tatapannya yang selalu lembut namun kental akan misteri. Tak berbeda, tak berubah, masih sama seperti yang dulu.


" Jadi Raka..... ", akhirnya Arjuna membuka percakapan setelah sebelumnya ia sibuk menggenggam jemari sang istri di bawah meja, mengisyaratkan agar Hana untuk menahan diri terlebih dahulu. " Apa rencana mu sekarang ? ".


" Tentu melamar dan segera menikahi Ardelia ". Suara Raka terdengar mantap dan tegas, walupun sebenarnya hatinya terremas.


" Maaf ... aku tidak bermaksud mendahului kak Cinta, tapi .... ini serius .... ".


Pada akhirnya Raka pun tak mampu berkata-kata.


" Nak .... ", suara Hana terdengar lembut, menyapa dan membelai sisi hati Raka.


" Mama sering mendengar tentang reputasi mu sebagai seorang pemuda .... yang kerap bergonta-ganti pasangan. Yaaah... tidak jauh beda dengan Om mu dulu. Tapi memang hanya ada satu orang gadis yang sampai menginjakkan kakinya di rumah ini. Ehm... maksud mamah... gadis yang secara tidak langsung sudah kau kenalkan pada kami. Dan mamah... tidak pernah tidak suka, atau tidak menyetujui .... Ardelia. Hanya saja ........ ".

__ADS_1


" Waktu mu itu loh Raka... sungguh sangat kurang tepat. Begitu maksud mamah mu ", Arjuna menyambung perkataan istrinya. Begitu kentara jika pria paruh baya ini sedang berusaha meredam suatu hal yang nyaris meledak dari hati sang istri.


" Maaf Raka ... tentu ini masalah reputasi ... kakakmu. Kau pasti mengerti konsekuensinya. Kami tidak bisa mengadakan pesta pernikahan untuk mu .... walaupun sebenarnya kami sangat tidak ingin membuat perbedaan ... pada kalian berdua ". Kembali Arjuna bertutur dengan tanpa melepaskan pandangannya dari si bungsu dan genggaman tangannya dari sang istri.


" Kakak perempuan mu .... kita harus menjaga hatinya, persaannya dan juga reputasinya...... seorang wanita yang dilangkahi adik laki-lakinya. Itu... itu ... sangat .... ".


" Ya Mah, aku mengerti ", Raka menyela cepat. Mengangkat wajahnya menatap kedua orangtuanya dan menyunggingkan sebuah senyuman. " Aku hanya butuh untuk bisa segera menikahi Ardelia .... itu saja ".


" Baiklah .... kapan kita akan kesana ? ".


" Lusa Pah. Lalu dua minggu lagi .... pernikahan itu harus sudah terlaksana ".


" Residensial mu ? ", Hana menyela cepat.


" Dua minggu lagi ujian terakhir, setelah itu .... langsung ke pernikahan ".


Silih berganti Raka menatap sepasang insan terkasih yang telah membuatnya berhutang begitu banyak cinta dan kebaikan. Sebuah perbuatan yang meskipun terlihat ringan, namun membuat Raka nyaris menghabiskan seluruh keberanian dan kekuatan hatinya.


Ia merasa akan lebih baik jika ia menerima ledakan kemarahan dari sang ibu. Bahkan juga tatap tajam yang serasa menguliti dari sang ayah. Tapi semua kelembutan yang memeluknya kini, seperti suatu mahluk yang tengah menyedot seluruh oksigen disekitarnya dan membuat dadanya sesak.


Mahluk itu adalah ....... rasa bersalah.


....................


" Kita lapor polisi ", desis gadis itu sambil terus memapahnya dengan nafas yang mulai memburu.


" Tidak .... cari tempat untuk bersembunyi dulu. Kepala ku masih pusing ... ". Buru-buru ia menolak ide yang sebenarnya paling cemerlang itu.


" Tapi mereka ... ".


" Ku mohon ... ", dan ia pun menatap wajah Ardelia remaja itu dengan tatapan menghiba.


" Ini sudah yang kedua kalinya .... ". Dengan suara yang sedikit dipelankan tapi penuh penekanan karena Ardelia berniat memaksa sebenarnya.


Wajah putih bersih yang mempunyai sorot mata tajam itu pun akhirnya menyiratkan kekecewaan beserta rasa marah yang bergelayut, tapi kemudian tetap mengangguk. Ardelia remaja menuruti permintaan Raka, tanpa memprotes lagi. Membawa tubuh yang limbung itu segera menjauh. Tersarug-sarug dengan langkah dan nafas yang memburu karena bahaya ada dibelakang mereka.


" Aku 'kan sudah bilang padamu, jangan percaya apapun yang dikatakan Dracio dan cecunguknya. Kau tidak baca pesanku ku ? ".


" Bukan saatnya berdebat lagi nona .... kita harus segera kabur, cari selamat dulu... ". Raka mengalihkan topik yang mulai digelar oleh Ardelia. Tapi ia memang mendengar deruman kendaraan dan juga suara beberapa pria.


" Mereka mengejar .... kita sembunyi lagi. Jangan ! ", namun Delia segera menghentak tangan Raka saat pemuda itu akan berbelok arah. " Itu terlalu mudah ditemukan ... jangan disana ". Pos satpam yang dulu juga pernah mereka gunakan untuk bersembunyi, urung digunakan kembali. Sepertinya Ardelia punya rencana yang lebih jitu.


Pada akhirnya, mereka berdua memang selamat malam itu. Dengan bersembunyi bersempit-sempitan berbaring di dalam sebuah gerobak dan menutupi tubuh mereka dengan karung-karung. Sepertinya itu adalah gerobak milik seorang pemulung, yang malam itu berubah menjadi malaikat penolong mereka.


Ibu setengah baya dan seorang cucunya, walaupun pada awalnya raut wajah keduanya sangat terkejut, namun sinar mata mereka yang lembut tak membuat Raja dan Ardelia khawatir sedikit pun saat memohon dengan tatapan mereka. Terkadang pertolongan memang datang melalui seseorang tak terduga.


" Ya... dua orang pemuda dan gadis yang lari lewat sini ". Itu adalah suara Dracio. Raka menggenggam erat jemari Ardelia. Degup jantung mereka berdebar kencang.


" Tahu tidak nek?!??? ", suara lainnya terdengar membentak.


" Nenek....... ", gadis kecil itu terdengar takut-takut.


" Cepat katakan !!! ", kali ini suara bentakan itu disusul dengan sesuatu yang membentur gerobak.


Raka yang menyadari bahwa Dracio dan teman-temannya itu mulai menggunakan kekerasan, nyaris saja keluar dari tempat pengap persembunyiannya. Hingga ia mendengar suara gadis kecil itu terisak dan bertutur.


" Mereka lari kesana... lalu naik ojeg yang kebetulan lewat. Jangan pukul nenek ku .... dia gagu ".


Dan ternyata gadis kecil melindungi mereka. Seperti jelmaan malaikat yang turun dari langit, gadis kecil itu menyelamatkan mereka berdua. Gadis kecil yang terlihat manis dengan kulitnya yang coklat gelap.


Dan gadis kecil itu kini telah menjelma menjadi remaja yang ayu. Berdiri dengan raut wajah yang berbinar-binar menyambut kedatangannya pagi ini. Ia berlari menyongsong sambil merentangkan kedua lengannya.


" Kakak Ardel.... akhirnya ... aku rinduuuuu... ".


" Wuuiidiiih.... sok rindu. Padahal paling susah kalau ditelpon ".

__ADS_1


" He..he..he... Anda melakukannya disaat yang tidak tepat ". Dara manis itu tertawa sambil mengungkapkan alasannya.


" Heleeh... mana nggak segera telpon balik ... ketahuan ... pacaran terus ya ".


" Ish !! nggak lah. Maunya langsung nikah aja. Tapi nanti kalau udah Nemu yang 11-12 sama kak Raka ".


" Kenapa nggak kak Raka aja ? ", sambar Ardelia secepat kilat.


" Bener ????? ". Kerlingan menggoda itu jelas-jelas disampaikan dengan keseriusan tingkat tinggi, dan dara manis itupun masih mengingkahinya dengan tawa kecil. " Nanti menyesal tiada ujung .... nanti berduka... ".


" Haish... ambil saja. Nanti cari lagi yang baru ". Dan Ardelia memberikan jitakan kecil sambil tetap merangkul pinggang si dara remaja itu. Membawanya melangkah masuk ke sebuah bangunan menyerupai rumah panggung yang memanjakan, melewati halaman yang cukup luas.


Ini adalah salah satu tempat yang nyaman dan hangat untuk seorang Ardelia. Rumahnya yang lain, dimana seluruh penghuninya adalah keluarga baginya. Sebuah rumah singgah dan juga panti asuhan untuk anak-anak terlantar. Berada ditempat ini, membuatnya merasa jauh lebih beruntung, merasa jauh lebih bahagia. Setidaknya dia tahu siapa kedua orangtuanya, dan juga masih ada seorang ibu yang sangat mencintainya.


" Lusi .... ", sapaan terdengar lembut walaupun sangat jelas. " Ada nak Ardel tow... koq nggak diajak masuk ? ".


" Iya bunda... baru aja datang kok. Ini mau masuk ".


" Selamat sore bunda Tari ". Ardelia meraih jemari wanita paruh baya itu, lalu mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat. " Bunda sehat ? ".


" Alhamdulillah sehat nak. Kau makin cantik saja ya ". Dan wanita itupun membelai kepala Ardelia dengan lembut sebelum kemudian memberikan pelukan dengan hangat, walaupun hanya sesaat.


Wanita ini adalah Astari, yang bersama almarhum suaminya mendirikan rumah singgah serta panti asuhan untuk anak-anak kurang beruntung. Merawat dan mengasuh mereka semua dengan penuh cinta. Mendedikasikan diri untuk mengabdi, menjadi orang tua asuh bagi siapapun anak-anak yang datang atau diserahkan kepadanya.


Akrab disapa dengan panggilan bunda Tari, kita akan langsung merasakan bagaimana aura keibuan yang lembut, penuh kasih sayang namun juga tegas ini menguar sempurna saat bersamanya. Hal inilah yang membuat Ardelia begitu nyaman berada di tempat ini. Dan juga begitu dipercaya untuk menitipkan Lusi, si gadis kecil yang dulu sudah menyelamatkannya.


" Sekarang semakin sering datang sendirian ya. Apa sudah jarang bertemu mas Raka ? ".


Ardelia mencoba tersenyum untuk menutupi kegugupannya. Tanya dari bunda Tari serasa tepat menohok ulu hati. Kini mereka berdua duduk di serambi rumah panggung sambil memperhatikan beberapa remaja yang sedang mengajari anak-anak berusia dibawah mereka belajar mengeja huruf.


" Tidak kok bunda... kita masih sering bertemu. Hanya saja.... belum sempat kemari bersama. Raka masih sibuk dengan akhir residensi nya ".


" Mami bagaimana kabarnya, sehat ? ".


" Alhamdulillah ... sehat ".


" Syukurlah. Nak .... ".


" Ya bunda ", Ardelia mengangkat kepala dan menatap wanita yang duduk bersila dihadapannya. Dan ia mendapati sorot mata teduh itu seolah sedang menelanjangi dirinya.


" Ada masalah apa nak ? ".


.................


***Kita yang membuatnya terlalu rumit.


Padahal mungkin itu hanyalah tentang keyakinan yang sekelumit.


Kita yang mengkhawatirkannya terlalu berlebih-lebihan.


Padahal mungkin itu hanyalah masalah sedikit keraguan.


Terkadang hati terlalu mereka-reka untuk berdalih.


Walaupun sebenarnya telah tergenggam yang menjadi terpilih


Relung kalbu terlalu dalam, menjelma bagai palung jiwa yang pekat.


Seperti ketakutan dan rasa cemas yang merapat dan mengikat erat.


Saat itulah....


Pejamkan matamu, rasakan dengan hatimu


Biarakan hati yang akan menuntunmu***

__ADS_1


__ADS_2